Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x RELEVANSI KEPEMIMPINAN PERSPEKTIF ISLAM DENGAN DUNIA MODERN (The Relevance of Islamic Leadership Perspective to The Modern Worl. Zaenal Abidin Riam Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara Bogor email: abidinriam@gmail. Selfi Adheleni Putri Universitas PTIQ Jakarta email: slfiadhlnip5@gmail. Abstract Leadership in the Islamic context is not only an organizational or political responsibility, but also has a profound spiritual and moral dimension. This concept includes principles that can guide leaders to lead fairly, accountably, and empathically towards their leaders. This paper explores various aspects of leadership from an Islamic perspective, focusing on core values such as justice, honesty, openness and accountability to create trustworthy and anti-corruption leadership. This article also describes how the characteristics of leadership that the Prophet Muhammad saw as the primary model of the leadership in Islam. The ideal leader in the Islamic perspective is expected to lead with a noble example and morality, as well as integrity to be able to make decisions based on the principles of Islamic Shariah. In addition, this paper explores the concept of shura as the foundation of consensus-based leadership in Islam, which emphasizes the importance of listening to opinions and paying attention to common interests. The focus in this paper also covers the practical application of Islamic leadership concepts in contemporary contexts, including how these values can be applied in organizational, political, and social Thus, this article not only provides a deep understanding of leadership in Islam, but also provides insights into how Islamic universal values may contribute to the construction of a just, harmonious, and sustainable society. Keywords: Leaders. Leadership. Islamic Perspective. Abstrak Kepemimpinan dalam konteks Islam tidak hanya merupakan sebuah tanggung jawab organisasional atau politik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan moral yang mendalam. Konsep ini mencakup prinsip-prinsip yang dapat memberikan panduan bagi para pemimpin dalam memimpin dengan adil, bertanggung jawab, dan berempati terhadap yang dipimpinnya. Tulisan ini menyelidiki berbagai aspek kepepimpinan dalam perspektif Islam, dengan fokus pada nilai-nilai utama seperti keadilan, kejujuran, keterbukaan dan tanggung jawab agar menciptakan kepemimpinan yang amanah dan anti korupsi. Tulisan ini juga menguraikan karakteristik kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw yakni pemimpin yang baik memiliki karakter yang baik sebagai model utama kepemimpinan dalam Islam. Pemimpin yang ideal dalam perspektif Islam diharapkan untuk memimpin dengan teladan dan akhlak yang mulia serta berintegritas sehingga mampu mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip syariat Islam. Selain itu, tulisan ini mengeksplorasi konsep shura . sebagai pondasi dari kepemimpinan berbasis konsensus dalam Islam, yang menekankan pentingnya mendengarkan pendapat dan memperhatikan kepentingan bersama. Fokus dalam tulisan ini juga mencakup aplikasi praktis dari konsep-konsep kepemimpinan Islam dalam konteks kontemporer, termasuk bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam manajemen organisasi, politik, dan sosial. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya memberikan pemahaman mendalam tentang kepepimpinan dalam Islam, tetapi juga memberikan pandangan tentang bagaimana nilai-nilai universal Islam dapat menyumbang pada pembangunan masyarakat yang adil, harmonis, dan Kata kunci: Pemimpin. Kepemimpinan. Perspektif Islam. PENDAHULUAN Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan kepemimpinan dalam konteks Islam dan bukan sekadar pengelolaan kekuasaan, tetapi sebuah tanggung jawab moral yang mendasar pada prinsip-prinsip etika dan spiritualitas Islam. Konsep ini berakar dalam ajaran Al-Quran dan Hadis, yang menetapkan standar tinggi bagi sifat-sifat seorang pemimpin, termasuk kejujuran, keadilan, dan keteladanan. Merujuk pada dinamika dan perjalanan roda pemerintahan saat ini banyak menjadi perbincangan di kalangan elit politik bahkan dalam lingkungan masyarakat. Pada pemilu 2024, film dokumenter berjudul "Dirty Vote" menyoroti tantangantantangan yang dihadapi dalam menjaga integritas pemilihan umum. Film ini memperlihatkan beragam praktik curang yang terjadi selama proses pemilu, termasuk penipuan suara, intimidasi pemilih dan manipulasi hasil sehingga dari hal seperti itulah yang akan mengundang pemimpin yang tidak bertanggung jawab dan berintegritas sehingga dapat memicu terjadinya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kepemimpinan seperti korupsi. Meskipun demikian dalam film tersebut tidak hanya menyoroti masalahmasalah yang terjadi selama proses pemilihan umum, tetapi juga memberikan ruang untuk mengeksplorasi solusi-solusi yang mungkin untuk mengatasi tantangan tersebut. Di sisi lain, masyarakat sipil dan media memainkan peran kritis dalam mengungkap dan menantang pencalonan pemimpin yang tidak beretika. Sering kali masyarakat disuguhkan dengan menyaksikan figur-figur politik yang muncul ke permukaan meski memiliki catatan negatif dalam hal etika dan moral. Mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pelanggaran hak asasi manusia. Isu-isu ini tidak hanya merusak citra pemimpin tersebut tetapi juga menimbulkan keraguan serius terhadap sistem yang memungkinkan mereka untuk mencalonkan diri Kepemimpinan yang tidak etis dapat mengikis kepercayaan publik terhadap institusi dan menghambat kemajuan sosial dan Dalam perspektif Islam, kepemimpinan menjadi penting untuk diketahui dan Dalam al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang berkaitan dan mengajarkan kita tentang pemimpin dan kepemimpinan. Dan pada era moderen saat ini, kita sesungguhnya sedang mengalami krisis keteladanan baik dari orang tua, guru, tokoh masyarakat bahkan krisis keteladanan ini dipertontonkan oleh para pemimpin Seperti munculnya kasus korupsi, narkoba yang sudah menyentuh hampir semua lapisan masyarakat, dan masih banyak lagi. Sarkawi dan Ahmad Fadli. AuMemilih Pemimpin dalam Islam. Ay Idarotuna: Jurnal Kajian Manajemen Dakwah 3, no. 3 (Oktober 2. : 198-199. Angelica Nathaniell dan Irwan Triadi. AuPengaruh Film Dokumenter AuDirty VoteAy Pada Saat Masa Tenang Pemilihan Umum Tahun 2024 di Indonesia. Ay Indonesian Journal of Law and Justice 1, no. 4 (Juni 2. : 2. Arif Sugitanata. AuUrgensi Pemilihan Pemimpin Beretika dalam Perspektif Maqashid Syariah Menuju Tatanan Sosial dan Politik yang Sehat. Ay Jurnal Multidisiplin Ibrahimy 1, no. 2 (February 2. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . Oleh karena itu, melalui tulisan ini dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang signifikansi konsep kepemimpinan dalam Islam serta kontribusinya terhadap pembangunan masyarakat yang adil, berkeadilan, dan berkelanjutan secara global serta sesuai dengan konteks Al-Quran yang memandang manusia sebagai wakil atau khalifah Allah di bumi, untuk memfungsikan kekhalifahannya Tuhan telah melengkapi manusia potensi intelektual dan spiritual sekaligus agar mampu menjalankan fungsi kepemimpinan di tengah lingkungan. UU RI Nomor 23 Tahun 1997 menyatakan pengertian lingkungan hidup yang didalamnya telah melibatkan peranan manusia dan perilakunya dalam menyejahterakan makhluk hidup dan dirinya. Karena secara etika manusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab terbesar terhadap lingkungan dibandingkan dengan makhluk lainnya. METODE Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka. Metode penelitian ini dipilih karena memudahkan dalam mencari bahan penelitian. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kajian pustaka yaitu mula-mula dengan mengumpulkan beberapa sumber referensi berupa jurnal dan buku bacaan dalam bentuk online yang terkait dengan masalah yang diteliti lalu diolah kembali dengan menganalisis bahan penelitian. Pada penelitian ini penulis memfokuskan kepemimpinan dalam perspektif islam berdasarkan al-QurAoan dan mengambil contoh kasus yang terjadi belakangan ini, kemudian hasil penelitian tersebut akan dijadikan sebagai bahan terkait masalah yang diteliti lalu dipaparkan kembali secara ringkas dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi Kepemimpinan Dalam Islam Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan sebenarnya bukan sesuatu yang mesti menyenangkan, tetapi merupakan tanggung jawab sekaligus amanah yang amat berat yang harus diemban dengan sebaik- baiknya. Kepemimpinan dan pemimpin merupakan salah satu objek dan subjek yang banyak menjadi bahan kajian dewasa ini. Keberadaan pemimpin merupakan orang-orang yang penting dalam menentukan tujuan, pemberi motivasi, dan melakukan ragam tindakan ke Sehingga kehadiran pemimpin akan selalu menjadikan dirinya sebagai orang yang memimpin, pemimpin yang tidak diangkat dengan surat keputusan atau diangkat oleh kelompok non formal biasa disebut dengan pemimpin non formal. Hal ini sebagaimana peran pemimpin dalam lembaga kependidikan Islam, yakni keberadaan pemimpin dalam suatu lembaga diharapkan mampu membawa lembaga yang dibawa terutama lembaga pendidikan Islam ke arah yang berkualitas dan efektif. Kepemimpinan adalah unsur yang tidak bisa dihindari dalam hidup ini. Sudah merupakan fitrah manusia untuk selalu membentuk sebuah komunitas. Dan dalam sebuah komunitas selalu dibutuhkan seorang pemimpin. Pemimpin adalah orang yang Watsiqotul. Sunardi. Leo Agung. AuPeran Manusia Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi Perspektif Ekologis dalam Ajaran Islam. Ay Jurnal Penelitian 12, no. 2 (Agustus 2. : 360. Kurniawan. Defri Nof Putra. Afdal Zikri. Nurkamelia Mukhtar AH. AuKonsep Kepemimpinan Dalam Islam. Ay PRODU: Prokurasi Edukai Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2, no. 1 (Desember 2. Muhammad Fatih Rusydi Syadzili. AuModel Kepemimpinan dan Pengembangan Potensi Pemimpin Pendidikan Islam. Ay CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman 4, no. 2 (Desember 2. : 129. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . dijadikan rujukan dalam komunitas tersebut. Pemimpin adalah orang yang memberikan visi dan tujuan. al-QurAoan banyak membahas masalah kehidupan sosial dan politik, salah satunya adalah kepemimpinan. Dalam al-QurAoan, kepemimpinan diungkapkan dengan berbagai macam istilah antara lain: Khalifah. Imam, dan Uli al-Amri. Istilah pertama. Khalifah. Kata Khalifah disebut sebanyak 127 kali dalam al-QurAoan, yang maknanya berkisar diantara kata kerja: menggantikan, meninggalkan, atau kata benda pengganti atau pewaris, tetapi ada juga yang artinya telah AumenyimpangAy seperti berselisih, menyalahi janji, atau beraneka ragam. Adapun ayat yang menunjukkan istilah khalifah baik dalam bentuk mufrad maupun jamaknya, antara lain terdapat pada QS. Al-Baqarah ayat 30: AyDan . ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. AuAku hendak menjadikan khalifah di Ay Mereka berkata. AuApakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?Ay Dia berfirman. AuSungguh. Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Ay Menurut Quraish Shihab, kata khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini kata khalifah ada yang memahami dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, namun hal ini bukan berarti Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. 8 Dalam Bahasa Arab kata kepemimpinan sering diterjemahkan dengan almayah, alimnarah, alqiyadah, dan alza'amah. Namun untuk menyebut kepemimpinan pendidikan, para ahli menggunakan istilah qiyadah tarbawiyah. Kata al-ri'ayah atau ra'in diambil dari hadis Nabi SAW: kullukum ra'in wa kullukum masulun 'an ra'iyyatihi yang artinya setiap orang di antara kamu adalah pemimpin . ang bertugas memelihar. dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Sedangkan pemimpin merupakan seseorang yang menggunakan kekuatannya, perbuatannya, kata hatinya, dan karakter diri yang mampu menciptakan suatu keadaan sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Seorang pemimpin tentulah harus memiliki kepribadian baik dan karakter yang beragam, agar ketika memimpin para anggota yang memiliki berbagai karakter pemimpin bisa mengetahui karakteristik dari para anggota ataupun bawahan sehingga lebih memudahkan pemimpin dalam membina, mengarahkan, dan memerintahkan para anggota. Nilai-Nilai Kepemimpinan Profetik Profetik berasal dari kata prophet yang berarti nabi. Istilah AuprofetikAy merujuk pada istilah kenabian. Sedangkan dalam Oxford Dictionary AupropheticAy adalah Auof, pertaining or proper to a prophet or prophecyAy. Auhaving the character funcion of a prophetAy. Ayhaving the characterized by, containing, or of the nature of prophecy. predictiveAy . Sehingga pengertian profetik identik dengan seseorang yang memiliki sifat atau ciri layaknya seorang nabi atau orang yang diperkirakan memiliki sifat seperti seorang nabi. Istilah Dawam Raharjo. Ensiklopedi Al-QurAoan: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci. Jakarta: Paramadina, 2002. Quraish Sihab. Membumikan Al-QurAoan. Bandung: Mizan, 1994. Sukatin. Andri Astuti. Zahratul Afiyah. Septia Ningsih. Agus Pranata. Ridho Tawakkal Jannah. AuKepemimpinan Dalam Islam. Ay Educational Leadership: Jurnal Manajemen Pendidikan 2, no. 1 (Februari Ae Juli 2. : 74. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . profetik di Indonesia sendiri diperkenalkan pertama kali oleh Kontowijoyo melalui gagasannya mengenai pentingnya ilmu sosial transformatif yang disebut ilmu sosial Ilmu sosil profetik tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi dilakukan, untuk apa, dan oleh Ilmu sosial profetik mengusulkan perubahan berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu . alam hal ini etik Isla. , yang melakukan reorientasi terhadap epistimologi, yaitu reorientasi terhadap made of tought dan made of inquiry bahwa sumber ilmu pengetahuan tidak hanya dari rasio dan empirik, tetapi juga dari wahyu. Kepemimpinan profetik adalah kemampuan mengendalikan diri dan mempengaruhi orang lain dengan tulus untuk mencapai tujuan bersama sebagaimana dilakukan oleh para nabi, dengan pencapaian kepemimpinan berdasarkan empat macam yakni, sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Selain itu. El Syam berpendapat bahwa Auprophetic leadership is a model of leadership played by a choice of God (Prophe. , to help mankind from the path of darkness . , which means: ignorance, humiliation, backwardness, arbitrariness, monopoly, oligopoly, anarchy, instability, materalism, religious blasphemy, and others, toward the path of light . , which means truth and science, for the development of human lifeAy. Artinya kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan yang diperankan oleh seseorang pilihan Tuhan (Nab. , untuk membantu umat manusia dari jalan kegelapan . , yang berarti ketidaktahuan, penghinaan, keterbelakangan, kesewenang-wenangan, monopoli, oligopoli, anarki, ketidakstabilan, materialism, penistaan agama, dan lain-lain, terhadap jalan cahaya . , yang berarti kebenaran dan sains, untuk pengembangan kehidupan Maka pada intinya, kepemimpinan profetik merupakan suatu cara memimpin guna mempengaruhi seseorang dengan merujuk pada prinsip dan sifat kenabian. Di tengah terbelenggunya nilai-nilai kemanusiaan akibat kecenderungan masyarakat Barat yang mendewakan rasio dan anti ketuhanan. Islam hadir dengan pengakuannya akan eksistensi wahyu yang dibawa oleh seorang nabi. Wahyu menjadi sumber pengetahuan bagi umat Islam dan nabi merupakan penjelas melalui ucapan sikap dan perbuatan-nya. Wajar jika masyarakat muslim menjadikan misi profetik sebagai petunjuk arah transformasi dalam kehidupan mereka. Seorang cendekiawan muslim Kuntowijoyo menangkap misi profetik ini dan merumuskan sebuah konsep yang disebut Ilmu Sosial Profetik. Menurut Kuntowijoyo, terdapat tiga cita-cita profetik hakikatnya merupakan misi historis Islam seperti dilakukan nabi sebagai sebagai misi Ketiga cita-cita tersebut yaitu: humanisasi atau emansipasi, liberasi. Konsep ini muncul dari penafsiran beliau atas surah Al-ImrAn . : 110 AyKalian adalah umat terbaik yang terlahir untuk manusia, menyuruh berbuat kebaikan, dan melaran dari kejahatan, dan beriman kepada Allah. Jika ahlul Kitab . beriman, pasti itu baik bagi mereka, sebagian dari mereka ada yang beriman, namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik. Ay Dalam sebuah kegiatan pengelolaan, pemimpin harus tetap berpegang teguh pada kepedulian terhadap sumber daya daya. Sumber daya manusia tidak boleh dieksploitasi tanpa batas. Sebaliknya, orang pemimpin yang harus dapat memfokuskan pada pemberdayaan potensi pengikut sekaligus memberikan teladan melalui perilakuperilaku yang konstruktif, menebar kebaikan melalui amal sholeh. Tindakan pemimpin yang memperhatikan sisi humanistik pengikutnya tercermin dari perilaku seperti adil, sabar, kasih sayang, pengertian, dan sebagainya. Sebaliknya, pemimpin harus menjauhi Elitya Rosita Dewi. Cechen Hidayatullah. Dwi Oktaviantari. Maulidya Yuniar Raini. AuKonsep Kepemimpinan Profetik. Ay Al-Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman 5, no. : 150. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . sikap-sikap yang tidak menghormati bawahan, membenci, mengekspoitasi dan Liberasi bermakna membebaskan. Kepemimpinan profetik harus memiliki sifat membebaskan atau mencegah segala tindakan yang bersifat destruktif. Pemimpin harus berupaya membebaskan manusia dari segala bentuk eksploitasi, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan serta kezaliman. Meski bertumpu pada kalimat mencegah dari yang mungkar, tidak berarti pencegahan tersebut bermakna kekerasan. Pembebasan tersebut tetap harus bertumpu pada landasan nilai-nilai transedensi, yang mengedepankan kedamaian. Pengendalian emosi menjadi hal yang penting. Hal ini telah diajarkan Rasulullah Muhammad saw, pada saat peristiwa fatu Makkah. Pada saat penaklukan kota Mekah. Muhammad berusaha membebaskan kaum muslimin dari tindak kemunkaran kafir Quraisy, dengan tanpa tindak kekerasan. Bahkan sepanjang hidup Rasulullah telah memberikan teladan kebaikan, kemanusiaan, keteguhan menepati janji, serta kebesaran jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapapun. Transedensi bermakna ketuhanan. Artinya mengakui adanya otoritas Tuhan, dan mengembalikan segala urusan kepada Tuhan. Nilai ini menjadi dasar dari nilai humanis dan liberasi, agar tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin tidak hanya dimaksudkan untuk tujuan dunia, tetapi juga tujuan akhirat. Kepemimpinan yang bernilai transedensi harus dapat membersihkan diri dari arus materialisme dan hedonisme. Sifat materialis dan hedonis seringkali membuat pemimpin melakukan tindakan-tindakan yang mengorbankan nilai-nilai kebajikan. Hal ini disebabkan karena jauh dari nilai-nilai Pola pikir materialistik menjadikan manusia termotivasi untuk melakukan segala cara, yang berakibat pada hilangnya nilai-nilai keadilan, keterbukaan, kebersamaan, kejujuran, empati, simpati dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut di atas, telah tercermin pada diri Rasulullah saw dalam kepemimpinan-nya. Muhammad saw menjadi teladan sempurna atas semua perbuatan, sikap, dan perilaku yang dimilkinya. Sifat-sifat yang dimilikinya menjadikan beliau sukses baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Terdapat empat sifat utama yang beliau miliki: idq, amAnah, tablgh, dan faAnah. idq berarti benar, lurus, dan jujur. Jujur meliputi jujur kepada Tuhan, diri sendiri atau nurani, orang lain, dan jujur terhadap tugas dan tanggung jawab. Sabar dan konsisten juga termasuk idq. AmAnah memiliki makna profesional, bisa dipercaya, loyal committed terhadap nurani, terhadap Tuhan, terhadap pemimpin, pengikut, dan rekan kerjanya, selama pimpinan, pengikut, dan rekan kerja loyal kepada Tuhannya. Tablgh berasal dari kata balagha yang berarti sampai, maksudnya menyampaikan informasi seperti adanya. Tablgh dalam kepemimpinan juga bermakna open management, serta ber-amar tablgh antara lain ialah berani menyatakan kebenaran dan bersedia mengakui kekeliruan. Apa yang benar dikatakan benar, apa yang salah dikemukakan salah. Jika tidak tahu menyatakan tidak tahu. FaAnah berarti cerdas yang dibangun dari ketakwaan kepada Tuhan dan memiliki keterampilan yang teruji. Perilaku pemimpin yang faAnah terekspresi pada etos kerja dan kinerja pemimpin yang memiliki skill yang teruji dan terampil, serta mampu memecahkan masalah secara cepat dan tepat. Impelementasi sifat-sifat Rasulullah di atas tidak dapat dipisahkan satu dengan Sifat tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan saling berkaitan satu dengan Kesuksesan yang diraih oleh Nabi Muhammad selama kepemimpinannya Binti Nasukah. Roni Harsoyo. Endah Winarti. AuInternalisasi Nilai-Nilai Kepemimpinan Profetik di Lembaga Pendidikan Islam. Ay DirAsAt: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam 6, no. 1 (Juni 2. : 56-47. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . diduga kuat karena pola yang dibangunnya berbasis kasih sayang. Pola ini menyebabkan orang-orang yang dekat dengannya berani mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Datangnya Nabi Muhammad tidak hanya dirasakan oleh manusia manfaatnya bahkan makhluk-makhluk yang lain pun turut merasakan arti kasih sayang dari Nabi Muhammad saw. Pola kepemimpinan yang berbasis kasih sayang seperti yang ditampilkan Nabi Muhammad ini yang sudah kita rindukan selama berabad-abad. Karakter Kepemimpinan Ideal Di dalam islam pemeran utama kepemimpinan adalah Nabi Muhammad, dengan sifat kepemimpinan yang dibawanya antara lain: disiplin mulai dari diri sendiri, memberikan keteladanan, komunikasi yang baik kepada masyarakat, bermusyawarah dengan tutur kata yang baik. Dengan sifat kepemimpinan di atas Nabi Muhammad sukses di dalam memimpin umat Islam. Keteladanan yang dicontohkan kepada umatnya mampu menjadikan Islam berjaya hingga saat ini. Di dalam Islam akhlak menjadi hal utama dalam memimpin, dengan akhlak perkataan akan terjaga, perbuatan akan terbatasi, tingkah laku akan terkendali. Model kepemimpinan yang dicontohkan Nabi Muhammad saw dimulai dari diri sendiri, hal tersebut dapat dilihat dari sifat nabi di antaranya:13 Jujur Bagi seorang pemimpin Islam memiliki sifat jujur sangat penting, dapat memberikan kepercayaan bagi orang lain. Nabi Muhammad mencontohkan bagi seorang pemimpin harus memiliki tutur kata yang baik, akhlak mulia, kepribadian yang baik. dengan menerapkan sifat-sifat di atas akan terbentuk pemimpin yang Jika seorang pemimpin titak jujur akan merusak suatu organisasi yang dipimpin, suatu organisasi tidak bisa berdiri sendiri . Seorang yang menjadi kepala sekolah pasti membutuhkan staf dalam memimpin suatu lembaga sekoalah tersebut. Dengan bantuan para staf kerja sama akan berjalan dengan baik, sehingga menimbulkan keharmonisan, kekompakan di dalam organisasi. Dalam memimpin umat Islam. Rasulullah mendapatkan gelar al-amin sebagai orang paling di percaya, tidak ada kebohongan dan kedustaan dalam diri Nabi Muhammad. Amanah Di antara sifat kepemimpinan Nabi Muhammad saw adalah amanah. Bagi seorang pemimpin sifat amanah wajib dimiliki dan ditanamkan dalam hati. Dengan menanamkan sifat tersebut keburukan seperti tamak dengan kekuasaan akan hilang, jika sifat amanah tidak dihidupkan dalam diri seorang pemimpin, korupsi, menghukum dengan tidak adil akan terus terjadi, tidak akan ada Ketahuilah menjadi seorang pemimpin adalah sebuah Amanah, maka hendaklah menunaikannya dengan sebaik mungkin, seadil mungkin. Adil Sebagai seorang pemimpin sifat adil harus dimiliki, ketidakadilan akan diminta pertanggungjawaban di hari akhir, semua tindakan yang dilakukan akan Heri Khoiruddin. Hasbiyallah. Moh Sulhan. AuKajian Tematik Al-Quran Tentang Pemilihan Pemimpin. Ay Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam 12, no. 02 (Mei 2. : 1625. Fatimah Nur Rahma. Jaka Andika. Tia Natifa. Ulfa Aqilia FMarhani. AuPenerapan Kepemimpinan Nabi Muhammad Pada Pendidikan Islam. Ay PANDAWA : Jurnal Pendidikan dan Dakwahl4, no. 1 (Januari 2. : 146-149. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . mendapat balasan adil di akhirat. Memutuskan perkara orang yang berselisih hendaknya dilakukan dengan adil. Seorang pemimpin dilarang memutuskan perkara secara tidak adil hanya karena keluarga, saudara, teman dekat atau Musyawarah Menyelasaikan masalah bagi seorang pemimpin hendaknya dikomunikasikan dengan baik, diselesaikan secara bersama, dengan meminta pendapat masyarakat luas, dan menyelidiki masalah yang terjadi. Dengan menjalin komunikasi yang baik maka masalah akan terselesaikan dengan baik, masyarakat akan lebih puas dan lebih menerima keputusan. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Beliau selalu mengedepankan prinsip musyawarah dalam menyelesaikan masalah, sehingga melahirkan solusi terbaik yang diterima semua pihak. Amr maAoruf nahi mungkar Di dalam dunia Islam amr maAoruf sangat diutamakan, terlebih untuk menjadi seorang pemimpin Islam, dengan mengerkan amr maAoruf nahi mungkar akan menciptakan suasana yang tenang, stabil, dan harmonis. Oleh sebab itu tindakan menyeru pada kebbaikan dan mencegah kemungkaran wajib dilakukan seorang pemimpin demi menciptakan stabilitas pada komunitas yang dipimpinnya. Kriteria pemimpin yang baik dalam Islam adalah pemimpin yang memiliki akhlak Dengan kata lain. AuA good leader, has a good caracterAy artinya seorang pemimpin yang baik, memiliki karakter yang baik. Pemimpin juga harus mampu menjaga diri dari godaan dunia dan menjaga martabat dirinya sebagai pemimpin. 14 Kepemimpinan juga dapat dipandang sebagai suatu instrumen dalam upaya mempengaruhi dan mengendalikan orang atau sekelompok orang agar mau bekerjasama dalam mencapai tujuan tertentu. Pemimpin yang ideal dalam perspektif Islam adalah seoseorang yang mampu memimpin dengan teladan dan akhlak yang mulia, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan prinsip -prinsip syariat Islam. Selain itu juga kepemimpinan sangat diperlukan dalam menggerakkan aktivitas suatu organisasi. Suatu organisasi akan berjalan dengan baik, apabila kepemimpinan mempunyai rasa tanggung jawab dan kejujuran yang tinggi. Rasa tanggung jawab seorang pemimpin merupakan salah satu karakter dari kepemimpinan ideal. Tapi tidak kalah penting, sorang pemimpin harus cerdas, agar senantiasa dapat memilih dan memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya, sebagaimana yang telah disebutkan di atas mengenai model kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Kepemimpinan yang ideal sedikitnya mempunyai 8 . karakter, yaitu: cerdas, bertanggung jawab, jujur, dapat dipercaya, lugas, konsisten, tegas, adil, inisiatif dan berintegritas. Hal lain yang perlu dimiliki seorang pemimpin adalah integritas, kepemimpinan tidak akan bisa berjalan baik tanpa hadirnya integritas. Jika mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas didefinisikan sebagai mutu, sifat, keadaan yang menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Dalam kaitannya dengan jati diri Addurorul Muntatsiroh dan Risman Bustamam. AuKriteria dan Akhlak Pemimpin Yang Baik dalam Islam. Ay Jurnal Economic Edu 4, no. 1 (Juli 2. : 5. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . seorang muslim, integritas muslim diejawantahkan dalam tujuh hal berikut:15 hadirnya aqidah yang bersih, akhlaq yang kokoh, melaksanakan ibadah dengan benar, melawan hawa nafsu, mandiri dari segi ekonomi, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dan pandai menjaga waktu. KESIMPULAN Kepemimpinan dalam Islam dapat didefinisikan sebagai suatu konsep yang menggambarkan cara seorang pemimpin mengemban tanggung jawabnya dalam memimpin dan mengelola suatu komunitas atau umat dengan mematuhi prinsip -prinsip ajaran Islam. Kepemimpinan dalam konteks ini tidak sekadar menjadi pemimpin yang memerintah, tetapi juga berfungsi sebagai teladan moral dan spiritual bagi komunitas. Seorang pemimpin Islam diharapkan memimpin dengan memegang teguh prinsipprinsip kejujuran, amanah, adil, konsistensi, dan berintegritas, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang terkenal dengan pemimpin yang sangat mengedepankan akhlak. Karena pada dasarnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki akhlak yang baik. Kepemimpinan profetik dalam Islam juga menekankan pentingnya transedensi atau pengembangan spiritualitas dalam memimpin, yang membedakannya dari sekadar kepentingan duniawi semata. Dengan demikian, pemimpin ideal dalam Islam tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengikutnya secara praktis, tetapi juga bertanggung jawab moral dan spiritual di hadapan Allah Swt. DAFTAR PUSTAKA