Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DI SEKOLAH DASAR Agustinus Tanggu Daga*1 . Aprilio Setia Budi2 1,2Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Katolik Weetebula. Indonesia * Corresponding Author: agus_daga@yahoo. Abstrak Masalah rendahnya capaian dalam penguasaan materi pelajaran menunjukkan perlunya model pembelajaran yang lebih efektif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penggunaan model inkuiri dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa sekolah dasar. Penelitian didesain sebagai kuasi eksperimen. Subyek penelitian berjumlah 36 siswa kelas V SD Negeri Pogo Lede. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes sebelum dan sesudah intervensi, sedangkan data dianalisis secara deskriptif dan uji-tguna mengetahui perbedaan antara kelompok model inkuiri dan kelompok metode pembelajartan langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan model inkuiri mempengaruhi peningkatan hasil belajar IPA siswa SD. Pada kelompok model inkuiri, rata-rata nilai pretest sebesar 15. meningkat menjadi 76. 11 pada posttest. Sebaliknya, pada kelompok metode pembelajaran langsung, rata-rata nilai pretest sebesar 12. 17 hanya meningkat menjadi 62. 76 pada posttest. Peningkatan yang lebih tinggi pada kelompok model inkuiri menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil uji-t diperoleh skor sebesar 0,003 < 0,05 sehingga disimpulkan ada perbedaan signifikan hasil belajar IPA siswa yang mengalami model inkuiri dengan siswa yang mengalamimetode pembelajaran langsung. Bagi guru temuan ini mendorong penggunaan model inkuiri dalam pembelajaran IPA. bagi sekolah menjadi pijakan pengembangan metode pembelajaran aktif. bagi penelitian selanjutnya dapat dijadikan rujukan untuk menguji efektivitas model inkuiri pada mata pelajaran atau jenjang berbeda di SD Kata Kunci: Pembelajaran berbasis inquiry, hasil belajar. IPA, siswa SD. SD Negeri Pogo Lede. Abstract The problem of low achievement in mastering subject matter shows the need for a more effective learning This study aims to determine the effectiveness of the inquiry model in influencing the science learning outcomes of V Grade students at Pogo Lede Public Elementary School. The study used a quasiexperimental design with 36 students as subjects. Data were collected through learning outcome tests before and after treatment, and analyzed using descriptive statistics and t-tests. The results showed a significant increase in the experimental group from an average of 15. 22 to 76. 11, while the control group only increased from 12. 17 to 62. A significance value of 0. 003 (<0. indicates a significant difference between the two groups. The inquiry model has proven to be effective and relevant to be implemented by teachers, supported by schools, and studied further in further research. Keywords : Inquiry-based learning, learning outcomes, science, elementary students. SD Negeri Pogo Lede. PENDAHULUAN Pendidikan memberi akses kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai yang relevan dan berguna dalam kehidupan mereka. Pendidikan juga berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran sosial, membentuk karakter, dan mendorong terciptanya keadilan serta kesetaraan di tengah masyarakat (Baker. Agustinus Tanggu Daga1. Penerapan Model PembelajaranA Jurnal Genta Mulia . Sandlin & Schultz, 2023. OAoNeill & Brown, 2. Pendidikan berkualitas harus dijamin ketersediaannya dan diperluas cakupannya oleh pemerintah guna memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara berkeadilan oleh seluruh anggota masyarakat. Pemerintah Indonesia melalui berbagai kebijakan dan regulasi berupaya untuk menjamin kesetaraan akses terhadap pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara. Berbagai regulasi dalam bidang pendidikan menetapkan tujuan pendidikan nasional yang tidak hanya mengembangkan dimensi intelektual dan akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter bangsa dan persiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan global (Fadillah, 2. Berbagai kebijakan pemerintah juga mencakup program-program strategis untuk mengatasi kesenjangan pendidikan, seperti program wajib belajar 12 tahun (Hasanah & Jabar, 2. , bantuan pendidikan untuk daerah tertinggal (Rahmadi, 2. , serta pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan peserta didik dan dinamika zaman (Sumantri. Selan itu pengarahan pada pendekatan berdiferensiasi oleh guru guna merangkul kemampuan siswa yang bervariasi sangat penting untuk dikembangkan melalui berbagai model pembelajaran yang sesuai (Oktavia, 2. Pendidikan IPA pada jenjang sekolah dasar dirancang untuk menekankan kegiatan penemuan atau pembelajaran berbasis inkuiri untuk mendorong keaktifan dan partisipasi siswa selama pembelajaran IPA berlangsung. Kegiatan penemuan yang dirancang secara khusus ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan siswa (Jampel et , 2. Melalui model inkuiri maka siswa lebih diberikan kebebasan untuk memilih topik yang diminati, merumuskan pertanyaan, serta menggunakan informasi yang diperoleh untuk memecahkan permasalahan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA di sekolah dasar diarahkan pada pendekatan berbasis inkuiri guna mendorong siswa memperoleh pemahaman yang lebih kompleks mengenai lingkungan sekitarnya (Twizeyimana et al. , 2. Pendidikan IPA di SD banyak menerapkan model inkuiri untuk untuk mengembangkan kemampuan abad 21 siswa (Diniya, 2. Pendekatan inkuiri merujuk pada proses belajar yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam merumuskan pertanyaan, menyelidiki, dan mengeksplorasi konsep-konsep ilmiah melalui eksperimen atau observasi langsung (Reiss, 2. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya sebagai penerima pasif berbagai informasi pembelajaran melainkan didorong untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul dari rasa ingin tahunya sehingga proses pembelajaran menjadi lebih penuh makna dan mendalam (Martin, 2. Berbagai tantangan dihadapi dalam pembelajaran pada jenjang sekolah dasar yang dapat menghambat perkembangan keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif siswa, khususnya dalam konteks pendidikan IPA. Masalah yang kerap dijumpai adalah masih dominannya metode pembelajaran tradisional di mana guru menjadi pusat pembelajaran sehingga siswa menjadi lebih pasif (Major & Mulvihill, 2018. Moges, 2. Minimnya penerapan pendekatan inkuiri dapat membatasi kemampuan dalam berpikir secara kritis (Khalaf & Zin, 2. Kurangnya kesempatan untuk bekerja sama dalam kegiatan kelas juga mengurangi ruang bagi siswa untuk berbagi ide serta mengembangkan keterampilan berdiskusi dan berdebat (Khanifah et al. , 2. Keterbatasan keterampilan sosial siswa menjadi penghambat lain, karena sebagian siswa merasa canggung dalam berinteraksi secara kolaboratif (Lohmann et al. , 2. Sejalan dengan fenomena tersebut hasil observasi pendahuluan menunjukkan bahwa guru-guru di SD Negeri Pogo Lede belum banyak memanfaatkan model pembelajaran yang efektif guna meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan capaian belajar siswa, khususnya dalam pengembangan keterampilan abad Sebagian besar guru lebih nyaman menerapkan model pembelajaran langsung yang berfokus pada penyampaian materi dan metode ceramah sebagai pendekatan utama. Padahal, penerapan kurikulum merdeka lebih menuntut guru untuk merancang dan menerapkan strategi pembelajaran untuk mendorong menguasai keterampilan abad 21 yang sangat penting dewasa ini. Guru memiliki kesempatan lebih luas untuk menerapkan model inkuiri dalam rangka menstimulasi keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa (Ndruru & Harefa. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 108 Agustinus Tanggu Daga1. Penerapan Model PembelajaranA Jurnal Genta Mulia . Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan sejumlah studi sebelumnya yang membahas topik ini. Misalnya, penerapan model inkuiri terbukti dapat meningkatkan capaian belajar siswa sekaligus mengembangkan keterampilan proses sains mereka (Jundu et al. , 2. meningkatkan hasil belajar IPA baik selama proses pembelajaran maupun setelah metode diterapkan (Arini et al. , 2. , bahkan pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa kelas V (Supratiknyo, 2021. Chornelia et al. , 2. , serta mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa (Henthis, 2. Namun perbedaan utama penelitian ini terletak pada metode yang digunakan. Jika studi sebelumnya umumnya menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini mengadopsi desain eksperimen. Meskipun penelitian sebelumnya juga menyoroti aspek lain seperti berpikir kritis dalam pembelajaran, namun penelitian ini secara khusus difokuskan untukmengetahui perbedaan capaian belajar IPA siswa dalam pembelajaran model inkuiri dan siswa yang mengalami metode pembelajaran langsung. Penelitian dilaksanakan guna memaparkan sejauhmana model inkuiri dapat mempengaruhi capaian belajar siswa. Model inkuiri banyak diterapkan dalam Kurikulum Merdeka untuk mendorong pengembangan keterampilan berpikir abad 21. Fokus penelitian adalah menjabarkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran inkuiri dan pembelajaran langsung, serta membandingkan hasil belajar IPA siswa yang mengikuti kedua model pembelajaran tersebut. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan implikasi yang berguna bagi guru dan sekolah dalam meningkatkan hasil belajar siswa, berimplikasi bagi penelitian selanjutnya untuk penerapan dalam cakupan yang lebih luas di sekolah dasar METODE PENELITIAN Kuasi eksperimen digunakan sebagai desain penelitian ini. Pemilihan partisipan tidak dilakukan secara acak sebagai kelompok kontrol maupun eksperimen karena pembagian kelas telah ditetapkan di sekolah (Daga, 2. Kelompok eksperimen memperoleh tindakan berupa penerapan model inkuiri, sedangkan kelompok kontrol menerima pembelajaran melalui metode langsung . irect instructio. Desain penelitian ditampilkan pada Tabel 1. Kelompok Eksperimen Kontrol Tabel 1 Desain Kuasi Eksperimen Tes Sebelum Intervensi T1e T1c Tes Sesudah T2e T2c Data dikumpulkan menggunakan tes yang berupa soal esai. Pemilihan soal esai bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa mejjawab soal-soal tentangdengan materi yang diajarkan selama proses perlakuan. Tes esai terdiri dari 10 soal yang diambil dari topiktopik IPA yang sesuai dengan kurikulum kelas V sekolah dasar. Analisis data memanfaatkan analisis deskriptif, uji prasyarat, dan uji-t. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan capaian belajar sebelum dan sesudah intervensi. Uji prasyarat terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Analisis normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk karena sampel kurang dari 50 responden (Quraisy et al. , 2. Bila nilai Sig. > 0,05 maka data dideskripsikan memenuhi asumsi tentang normalitas dan homogenitas. Bila nilai Sig. < 0,05 maka data dideskripsikan tidak memenuhi asumsi tentang normalitas dan homogenitas (Mangangantung et al. , 2. Sedangkan untuk mengetahui signifikansi perbedaan hasil belajar siswa setelah intervensi digunakan uji-t. Ketentuannya adalah jika nilai signifikansi < 0,05 maka terdapat perbedaan signifikan hasil belajar siswa yang mengikuti model inkuiri dengan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung. Namun jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua model pembelajaran tersebut (Widiastuti & Nindiasari, 2. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 109 Agustinus Tanggu Daga1. Penerapan Model PembelajaranA Jurnal Genta Mulia . HASIL DAN PEMBAHASAN Pendeskripsian capaian hasil belajar dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Deskripsi Hasil Belajar Kelompok Minimal Maksimal Nilai Pretest Eksperimen Nilai Posttest Eksperimen Nilai Pretest Kontrol Nilai Posttest Kontrol Valid N . Std. Deviasi Rata Berdasarkan Tabel 2, kelompok eksperimen memiliki skor pretest sebesar 15. 22 dengan standar deviasi 9. 422, sedangkan skor posttest mencapai 76. 11 dengan standar deviasi 9. Skor maksimum pretest pada kelompok ini adalah 37, sementara skor maksimum posttest Sementara itu, pada kelompok kontrol, skor pretest adalah 12. 17 dengan standar 278, dan skor posttest sebesar 63 dengan standar deviasi 14. Skor maksimum pada pretest adalah 27, sedangkan skor maksimum posttest adalah 81. Dari hasil tersebut, terlihat bahwa skor posttest kelompok model inkuiri lebih tinggi daripada kelompok merode pembelajaran langsung. Hasil analisis asumsi prasyarat dilihat pada Tabel 3. Posttest Eksperimen Posttest Kontrol Tabel 3 Hasil Analisi Prasyarat Normalitas Homogenitas Shapiro-Wilk Based on Mean Levene Statistic Sig. Statistic Sig. Berdasarkan Tabel 3 analisis normalitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi skor posttest kelompok eksperimen adalah 0. 189 > 0,05, sedangkan kelompok kontrol adalah 0. < 0,05 sehingga disimpulkan data tidak berdistribusi normal. Analisis homogenitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi berdasarkan nilai rata-rata adalah 0,155 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan kedua data tersebut homogen. Selanjutnya, hasil uji hipotesis dapat dilihat pada Tabel 4 berikut: Kelompok Eksperimen Tabel 4 Uji Hipotesis Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Sig. Sig. Equal variances assumed Equal variances not P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 110 Agustinus Tanggu Daga1. Penerapan Model PembelajaranA Jurnal Genta Mulia . Hasil pada Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,003 < 0,05, yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan rata-rata nilai siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model inkuiri dan yang menerima pembelajaran langsung dalam mata pelajaran IPA di SD Negeri Pogo Lede. PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa model inkuiri lebih efektif dalam mempangaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Efektivitas tersebut dapat dipahami dari beberapa perspektif: . model pembelajaran berbasis penemuan terintegrasi dalam pelaksanaan pembelajaran pada Kurikulum Merdeka, sejalan dengan kebijakan pemerintah. model pembelajaran ini disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan beragam gaya belajar dan konteks lokal. model pembelajaran ini dikombinasikan dengan pendekatan pemecahan masalah yang memungkinkan siswa mengaitkan pengalaman belajar di kelas dengan situasi kehidupan riilnya. SD Negeri Pogo Lede telah menerapkan Kurikulum Merdeka yang mendorong adopsi berbagai model pembelajaran yang bertujuan mengembangkan keterampilan abad 21 pada Dalam konteks integrasi pendekatan inquiry dalam Kurikulum Merdeka Ekayogi . menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri berkontribusi bagi guru dalam mendorong peningkatan capaian belajar siswa. Model inkuiri juga berperan dalam memaksimalkan keterlibatan siswa, rasa percaya diri, dan berpikir kritis, khususnya dalam pemecahan masalah secara mandiri dalam situasi kehidupan nyata. Sejalan dengan hal ini Ayuningtias et al. mengungkapkan bahwa penerapan model inquiry dapat mendukung guru dalam mengembangkan LKPD untuk pendidikan IPA di tingkat sekolah dasar. Hasil penelitian ini menunjukkan pemanfaatan LKPD berbasis inkuiri efektif dalam mendorong meningkatnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Pemanfaatan LKPD tersebut telah memberikan kontribusi positif dalam menciptakan lingkungan belajar yang berorientasi pada pendekatan inquiry, sekaligus memengaruhi peningkatan hasil belajar siswa. Pelaksanaan pembelajaran inkuiri perlu disesuaikan dengan pola belajar siswa dan kondisi kehidupan nyata (Abdullah & Boleng, 2. Dalam hal ini Warmadewi . menunjukkan bahwa model inkuiri terpadu berdampak positif pada peningkatan literasi Sementara Suarmika et al. juga menemukan bahwa penerapan model inkuiri yang didukung dengan penggunaan media interaktif dapat meningkatkan keterampilan literasi sains dan berdampak positif pada hasil belajar siswa dalam pendidikan IPA. Dalam pembelajaran inkuiri siswa dapat belajar sesuai dengan gayanya, menggunakan media interaktif seperti PhET yang terintegrasi dalam proses pembelajaran inkuiri. Penerapan model yang didukung dengan media pembelajaran yang tepat terbukti efektif mempengaruhi capaian belajar siswa dalam mata pelajaran IPA di SD Negeri Pogo Lede. Pendekatan inkuiri dalam pengajaran dapat diintegrasikan dengan berbagai pendekatan dan metode lain, khususnya metode pemecahan masalah yang terkait dengan situasi kehidupan nyata (Hidayat et al. , 2. Dalam konteks pendidikan IPA di SD Negeri Pogo Lede, metode pemecahan masalah yang relevan dengan pengalaman sehari-hari siswa dapat dimanfaatkan secara efektif. Integrasi model inkuiri dengan metode pemecahan masalah berpotensi memberikan dampak yang signifikan dan kontribusi positif dalam meningkatkan capaian belajar siswa. Hal ini didukung oleh Ernawati et al. yang menyatakan bahwa model inkuiri yang diterapkan untuk memahami dan menganalisis masalah kehidupan nyata dapat meningkatkan berpikir kritis, khususnya kemampuan menginterpretasikan, menganalisis, menjelaskan, dan mengevaluasi isu yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya Siringoringo . menemukan bahwa pendidikan IPA di sekolah dasar yang menggabungkan model pemecahan masalah dengan model inkuiri memiliki mempengaruhi capaian belajar siswa, baik dalam aspek pengetahuan dan sikap. Penelitian ini juga menunjukkan pengaruh pada keterampilan dasar proses sains siswa. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 111 Agustinus Tanggu Daga1. Penerapan Model PembelajaranA Jurnal Genta Mulia . sebagaimana terlihat dalam peningkatan capaian belajar mereka di ranah psikomotorik dalam pendidikan IPA SIMPULAN DAN SARAN Penerapan pembelajaran berbasis inquiry dalam pendidikan IPA terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran langsung di SD Negeri Pogo Lede. Bukti ini dapat dilihat secara deskriptif maupun statistik melalui uji hipotesis. Hal ini menunjukkan bahwa model inkuiri lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA daripada model pembelajaran langsung yang umumnya dipraktikkan guru dalam pengajaran di kelas. Peningkatan ini memiliki implikasi signifikan baik bagi guru maupun sekolah dan penelitian selanjutnya. Disarankan agar guru perlu menerapkan model inkuiri dalam pendidikan IPA. Pihak sekolah diharapkan mendukung penerapannya baik melalui pelatihan guru maupun menyediakan fasilitas pendukung. Penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan penelitian dengan melibatkan banyak sekolah atau kelompok siswa, bahkan mengkaji efektivitas penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi dalam pembelajaran inkuiri di berbagai sekolah. DAFTAR PUSTAKA