Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review PENGARUH KOMPETENSI AUDITOR. TEKANAN WAKTU. BEBAN KERJA, DAN PENGALAMAN AUDIT TERHADAP KEMAMPUAN AUDITOR DALAM MENDETEKSI KECURANGAN JESSICA GRATIA NAIBAHO. CHRISTINA DWI ASTUTI Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti cdw_astuti@trisakti. Abstract: The purpose of this research is to determine the effect of auditor competence, time pressure, workload, and auditor experience on the auditor's ability to detect fraud. The population in this research are junior auditors at Public Accounting Firms (KAP) in Jakarta. The type of data used in this study is quantitative data. The sampling technique used convenience sampling with a sample of 138 respondents. The analysis method used in this study is multiple linear regression. The results of the analysis show that the variables of auditor competence and time pressure do not affect the auditor's ability to detect fraud, while workload and auditor experience has a positive effect on the auditor's ability to detect fraud. Keyword : Auditor Competence. Time Pressure. Workload. Aditor Experience. AuditorAos Ability to Detect Fraud Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompetensi auditor, tekanan waktu, beban kerja, dan pengalaman auditor terhadap kemampuan auditor dalam mendetelsi kecurangan. Populasi pada penelitian ini merupakan junior auditor yang di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data Teknik pengambilan sampel menggunakan convinience sampling dengan sampel yang digunakan sebanyak 138 responden. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukan bahwa variabel kompetensi auditor dan tekanan waktu tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan, sedangkan beban kerja dan pengalaman auditor berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecuramgan. Kata Kunci : Kompetensi Auditor. Tekanan Waktu. Beban Kerja. Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan Pendahuluan Tujuan auditor menjalankan proses audit atas laporan keuangan ialah guna memastikan bahwa tidak adanya salah saji pada sebuah laporan keuangan yang dibuat oleh sebuah perusahaan. Salah saji yang terjadi dalam laporan keuangan dapat diakibatkan oleh adanya kekeliruan . ataupun kecurangan. Kekeliruan . ialah salah saji yang tidak disengaja, namun kecurangan . ialah salah saji yang disengaja. Satu diantara contoh tindakan kecurangan yang sering terjadi adalah korupsi. Berlandaskan survey yang dijalankan oleh Transparency International (TI) secara global terhadap 180 negara, yang bermaksud guna mengevaluasi persepsi kalangan profesional dan pelaku bisnis terhadap praktik korupsi. Indonesia memperoleh skor Corruption Perception Index (CPI) sebesar 34 pada tahun 2023, menempatkannya di peringkat ke-115. Sebagai perbandingan, pada tahun 2021. Indonesia berada di posisi ke110. Secara keseluruhan, rata-rata global skor CPI ialah 43, dengan lebih dari dua pertiga negara yang dianalisis mencatat skor di bawah 50. Temuan ini mengindikasikan bahwasanya hanya sedikit negara yang memperlihatkan perbaikan berkelanjutan dan transformasi signifikan dalam menurunkan tingkat korupsi. Kecurangan merupakan masalah serius yang memiliki dampak luas terhadap ekonomi, organisasi, dan masyarakat. Dalam konteks global, kerugian akibat kecurangan diperkirakan mencapai triliunan dolar setiap tahunnya. P-ISSN 2567-0319 E-ISSN 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review mengganggu stabilitas pasar dan merusak reputasi perusahaan. Fenomena ini tidak hanya menyebabkan kerugian finansial langsung, tetapi juga mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi dan sistem keuangan. Salah satu contoh fenomena kecurangan di Indonesia terjadi pada PT. Indofarma (Perser. Tbk. Diawali dengan isu tunggakan gaji karyawan sejak Maret 2024, kemudian kementrian BUMN melaporkan kasus kecurangan PT Indofarma Global Medika (IGM) ke Kejaksaan Agung (Kejagun. pada Mei 2024. Sebagai respons darurat terhadap krisis finansial yang mengemuka, perusahaan mengambil keputusan untuk melepaskan sebagian Hasil dari pelepasan aset tersebut akan dialokasikan sepenuhnya guna memenuhi kewajiban terhadap karyawan, mencakup gaji tertunda, tunjangan, hingga kompensasi pemutusan hubungan kerja. Dalam proses ini, dukungan dari holding, yaitu Biofarma, menjadi bagian integral agar seluruh karyawan terdampak dapat memperoleh hak-haknya. Lebih lanjut, langkah transformasional dilakukan dengan merombak pendekatan operasional Bila semula Indofarma melakukan produksi obat-obatan dalam jumlah besar tanpa memperhitungkan kebutuhan pasar, kini fokus perusahaan dialihkan ke produksi berbasis pesanan demi menciptakan efisiensi dan relevansi pasar yang lebih baik. Kasus yang melibatkan Indofarma mencuat akibat terungkapnya dugaan kecurangan yang memberi kerugian pada negara hingga Rp436 miliar. Direktur Utama Bio Farma. Shadiq Akasya, selaku pemimpin Holding BUMN Farmasi, memaparkan sepuluh modus kecurangan di Indofarma yang berdampak signifikan pada kondisi keuangan perusahaan. Pertama, ditemukan potensi kerugian sebesar Rp157,33 miliar dari unit bisnis fast moving consumer goods (FMCG) di IGM (Indofarma Global Medik. , menjadi satu diantara penyebab pokok keterpurukan finansial. Kedua, adanya indikasi kerugian Rp35,07 miliar akibat pengelolaan deposito dan pencairan bunga. Ketiga, kerugian Rp38,06 miliar terindikasi dari penggadaian deposito di Bank Oke. Keempat, uang muka senilai Rp18 miliar tidak tercatat dalam rekening IGM. Kelima, pengeluaran dana tanpa dasar transaksi yang jelas, mengakibatkan kerugian Rp24,35 miliar. Keenam, kerja sama distribusi alat kesehatan TeleCTG dengan PT ZTI yang minim perencanaan mengakibatkan kerugian Rp4,50 miliar, diperparah dengan pembayaran melebihi invoice hingga Rp10,43 miliar akibat stok yang tidak terjual. Ketujuh, pinjaman fintech untuk kebutuhan non-perusahaan mengakibatkan kerugian Rp1,26 miliar. Kedelapan, aktivitas bisnis masker yang tidak direncanakan optimal memperlihatkan indikasi kerugian Rp2,67 miliar, ditambah penurunan nilai persediaan masker, piutang macet PT Promedik senilai Rp60,24 miliar, dan sisa masker senilai Rp13,11 miliar. Kesembilan, potensi kerugian Rp56,70 miliar timbul dari pembelian dan penjualan rapid test panbio yang tidak direncanakan dengan baik, juga terkait piutang macet PT Promedik. Terakhir, kerugian Rp5,98 miliar berasal dari pembelian dan penjualan PCR kit Covid-19 yang kedaluwarsa, disertai piutang macet Rp9,17 miliar. Apabila diakumulasikan, total estimasi kerugian akibat praktik-praktik tersebut mencapai Rp436,87 miliar, memperlihatkan kompleksitas masalah keuangan yang melibatkan Indofarma dan entitas anak perusahaannya. Arief Pramuhanto, yang menjabat sebagai Direktur Utama Indofarma periode 20192023, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi (Kejat. DKI Jakarta pada Kamis . Arief diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi bersama dua pihak lainnya, yakni GSR, mantan Direktur IGM periode 2020-2023, serta CSY yang menjabat sebagai head of finance di IGM. Direktur Utama PT Indofarma (Perser. Tbk. Yeliandriani, mengungkapkan bahwasanya ketiga individu tersebut diyakini memiliki andil dalam Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review tindakan korupsi yang ditaksir menimbulkan kerugian negara sebesar Rp371 miliar. Estimasi kerugian ini didasarkan pada hasil audit yang dijalankan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) . Kompetensi auditor menjadi satu dari faktor yang memengaruhi kapasitas auditor dalam mendeteksi kecurangan. Kompetensi ini dimaknai sebagai kebutuhan mutlak bagi auditor untuk mengantongi pendidikan formal di bidang audit dan akuntansi, memiliki pengalaman praktis yang relevan dengan pekerjaan yang tengah diemban, serta secara aktif mengikuti pelatihan profesional yang berkelanjutan. Esensinya, kompetensi auditor berkorelasi dengan standar kualifikasi yang diperlukan, meliputi latar belakang pendidikan, keahlian teknis, wawasan teoritis, pengalaman praktis, serta keterampilan spesifik lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas pengawasan dengan tingkat efektivitas yang optimal. Prasetya et al. Tekanan waktu ialah kondisi yang mengharuskan auditor untuk mengoptimalkan alokasi waktu yang telah ditentukan bagi proses audit. Situasi ini menempatkan auditor dalam fase aktivitas intensif, di mana mereka dituntut untuk menyelaraskan beban kerja dengan keterbatasan durasi yang tersedia. Elfia & NR . Menurut Ode et al. beban kerja ialah satu diantara elemen fundamental dalam mendorong produktivitas entitas serta mutu layanan yang dihasilkan. Dengan demikian, alokasi beban kerja perlu diselaraskan dengan kapasitas individu atau tim dan menjadi perhatian utama bagi setiap organisasi agar aktivitas operasional dapat terlaksana secara optimal dan hasil layanan yang diberikan memiliki standar kualitas yang unggul. Pengalaman audit merupakan sarana pembentukan wawasan praktis bagi auditor, baik internal maupun eksternal, yang memperkaya pemahaman mereka terhadap berbagai pendekatan dan metodologi pemeriksaan. Semakin panjang durasi pengalaman seorang auditor, semakin terampil dan cakap ia dalam menguasai tanggung jawabnya sendiri serta mendalami aspek-aspek aktivitas yang menjadi objek pemeriksaannya. Putri . Penelitian ini menggabungkan penelitian terdahulu yang dijalankan oleh Prihantoro & Kuntadi . Prasetya et al. , dan Akbar et al. Objek penelitian menjadi pembeda antara penelitian ini dengan penelitian penelitian terdahulu. Objek penelitian ini ialah Junior Auditor pada KAP di wilayah Jakarta. Melalui pemaparan diatas, maka penulis akan menjalankan penelitian berjudul AuPengaruh Kompetensi Auditor. Tekanan Waktu. Beban Kerja, dan Pengalaman Auditor terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi KecuranganAy. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini digunakan untuk menganalisa pengaruh antara variabel bebas . ndependent variabl. yakni kompetensi auditor, tekanan waktu, beban kerja, serta pengalaman kerja terhadap variabel terikat . ependent variabl. yaitu kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Unit analisis penelitian ini difokuskan pada Junior Auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Data yang dimanfaatkan penggunaannya pada penelitian ini ialah data primer. Data yang diperlukan pada penelitian ini didapat melalui survei dengan memanfaatkan teknik kuisioner, dimana peneliti memberikan kuisioner secara online kepada auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Rentang waktu yang dibutuhkan untuk penyebaran kuisioner kepada Junior Auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah dua bulan. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah covinience sampling. Penelitian ini menggunakan analisis regresi P-ISSN 2567-0319 E-ISSN 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review linier berganda, dengan pengujian statistik menggunakan perangkat lunak SPSS. Operasional variabel dimanfaatkan guna menjelaskan berbagai variabel yang hendak diteliti. Variabel yang dilibatkan pada penelitian ini ialah tiga variabel bebas . ndependent variabl. diantaranya kompetensi auditor, tekanan waktu, beban kerja, serta pengalaman auditor. Sementara, variabel terikat . ependent variabl. yang dilibatkan yaitu kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Pengaruh Kompetensi Auditor terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan. Berdasarkan hasil penenlitian, kompetensi auditor tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Solichin et al. Andini et al. Prihantoro & Kuntadi . , dan Prasetya et al. yang menyatakan bahwa kompetensi auditor berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Namun, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rafnes & Primasari . Kompetensi yang dimiliki oleh seorang auditor, tidak dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendeteksi kecurangan yang terjadi dalam sebuah perusahaan. Namun, kompetensi seorang auditor dapat dijadikan acuan tentang bagaimana auditor tersebut dapat bersosialisasi di lingkungan pekerjaan dan seberapa banyak pengalaman dalam menemukan tanda-tanda kecurangan. Rafnes & Primasari . Kompetensi yang dimiliki oleh seorang auditor tidak dapat menjamin kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Karena kecurangan yang dilakukan oleh sebuah pihak bisa saja lebih kompleks dibandingkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh auditor tersebut. sehingga auditor membutuhkan pengetahuan yang lebih spesifik terkait kecurangan yang dilakukan oleh oknum tersebut. Pengaruh Tekanan Waktu terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan. Berdasarkan hasil penenlitian, tekanan waktu tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maribu & Arief . Masnur et al. Mandalika & Janrosl . Prasetya et al. , dan Andini et al. yang menyatakan bahwa tekanan waktu berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Namun, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Pramawastika & Primasari. Elfia & NR . , dan Muslimin et al. Setiap penugasan yang telah diberikan kepada auditor memiliki tengat waktu yang sebelumnya telah dicocokan dengan tingkat kerumitan tugas yang diberikan. Elfia & NR . Auditor mampu melakukan tugas audit sesuai dengan waktu ditetapkan, agar dalam melakukan tugas dapat lebih efektif dan efisien, sehingga kualitas audit yang dihasilkan pun akan lebih baik. Pramawastika & Primasari . Tenggat waktu yang diberikan kepada auditor untuk melakukan prosedur audit tentu sudah dipertimbangkan dengan sedemikian rupa, sehingga tidak akan melebihi kapasitas. Jika auditor harus melakukan prosedur audit dengan waktu yang relatif sedikit, pekerjaannya pun tidak akan sebanyak yang memilki tengat waktu lebih Pengaruh Beban Kerja terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan. Berdasarkan hasil penenlitian, beban kerja berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pramawastika & Primasari . Muslimin et al. Solichin et . , dan Muzdalifah & Syamsu . yang menyatakan bahwa beban kerja tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Namun, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Arifudin et al. dan Rafnes & Primasari . Beban kerja yang dimiliki oleh seorang auditor berpengaruh terhadap Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan, karena sejatinya tugas utama seorang auditor adalah mendeteksi kekeliruan ataupun kecurangan sebuah perusahaan meskipun banyaknya beban kerja yang diemban oleh auditor tersebut. Semakin besar beban kerja mendorong auditor menyelesaikan beban kerja tersebut. Tingkat penyelesaian beban kerja auditor mencerminkan kualitas auditor. Semakin tinggi penyelesaian beban kerja yang dimiliki auditor akan menunjukan semakin tinggi penyelesaian tugas auditor. Beban kerja yang banyak maupun sedikit tidak menjadi kendala bagi seorang auditor. Seorang auditor harus memiliki profesionalitas kerja yang sesuai dengan peraturan dan seorang auditor dituntut harus bekerja sesuai bukti yang ada dalam laporan klien sehingga ketika ada sesuatu yang dirasakan tidak wajar maka kecurangan tersebut harus dideteksi dengan cepat. Auditor memiliki kepekaan jika mendapati sesuatu yang mencurigakan. Auditor tetap akan menemukan indikasi kecurangan sekecil apapun dan tidak akan menghiraukan hal tersebut. Kaitan dengan teori agensi, auditor merupakan pihak ketiga antara agen dan prinsipal. Jika beban kerja yang diperoleh seorang auditor semakin banyak, maka kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan akan semakin baik. Kecurangan yang terjadi dalam sebuah perusahaan bersumber dari konflik kepentingan yang terjadi anatara prinsipal dan agen. Tingkat keyakinan auditor terhadap laporan keuangan yang telah diaudit bisa menjadi bertambah, karena auditor telah melakukan banyak prosedur audit. Kecenderungan informasi yang disajikan oleh auditor kepada prinsipal bisa menjadi lebih baik, karena auditor telah banyak melakukan audit laporan keuangan, sehingga dapat mencegah terjadinya asimetri informasi. Sedangkan kaitan dengan teori atribusi yaitu beban kerja menjadi salah satu kekuatan eksternal auditor. Kekuatan eksternal yang berkaitan dengan beban kerja ini adalah situasi. Beban kerja mempengaruhi proses pendeteksian yang dilakukan oleh auditor sehingga auditor dituntut untuk mengendalikan beban kerja agar menghindari lemahnya kemampuan mendeteksi kecurangan. Pengaruh Pengalaman Auditor terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan. Berdasarkan hasil penenlitian, pengalaman auditor berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pramawastika & Primasari . yang menyatakan bahwa pengalaman auditor tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi Namun, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rafnes & Primasari . Ode et al. Arifuddin et al. Muslimin et al. dan Maribu & Arief . Seseorang yang melakukan pekerjaan yang sama berulang kali, akan meningkatkan keterampilan maupun pengalamannya sehingga waktu yang dibbutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut relative akan menjadi lebih singkat. Auditor yang memilki pengalaman diasumsikan dapat mendeteksi adanya kecurangan lebih baik dibandingkan dengan auditor yang belum memiliki pengalaman. Karena baik secara psikis maupun teknis, keahlian seseorang terbentuk melalui pengalaman. Berbagai indikasi kecurangan juga akan lebih banyak ditemukan oleh auditor yang berpengalaman Rafnes & Primasari . Jika seorang auditor sudah memilki banyak pengalaman dan memiliki jam terbang yang tinggi, auditor tersebut berarti sudah banyak mengahadapi berbagai macam masalah. Dan memilki berbagai macam solusi untuk beragamnya masalah yang pernah dihadapi. Auditor lebih handal juga dalam mengerjakan prosedur audit dan lebih peka terhadap sinyalsinyal adanya kecurangan pada sebuah perusahaan. Sehingga seorang auditor yang memilki jam terbang terbang tinggi akan meningkatkan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Kaitan dengan teori agensi yaitu, auditor merupakan pihak ketiga antara agen dan prinsipal. Dimana. P-ISSN 2567-0319 E-ISSN 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor menandakan bahwa auditor tersebut memiliki jam terbang yang tinggi pada bidang audit. Jika auditor berpengalaman, maka hal tersebut dapat mencegah terjadinya asimetri informasi antara pihak agen dan prinsipal. Auditor yang berpengalaman dapat mengkomunikasikan informasi yang dibutuhkan terkait laporan keuangan dengan mudah kepada prinsipal, sehingga prinsipal dapat memahami informasi tersebut untuk melakukan pengambilan keputusan. Sedangkan kaitan dengan teori atribusi adalah pengalaman auditor menjadi kekuatan internal yang berasal dari diri auditor Kekuatan internal yang dimiliki seorang auditor yang berkaitan dengan kompetensi auditor adalah kemampuan. Dimana pengalaman auditor merupakan kemampuan yang terdapat dalam diri auditor, sehingga jika seorang auditor berpengalaman dalam melaksanakan peosedur audit atau jam terbangnya yang sudah tinggi, maka auditor tersebut dengan mudah bisa mendeteksi kecurangan yang terjadi pada perusahaan tersebut. Penutup Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kompetensi auditor, tekanan waktu, beban kerja, dan pengalaman auditor terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah junior auditor yang bekerja pada KAP di Jakarta. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 138 responden. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Kompetensi auditor tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Tekanan waktu tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Beban kerja berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Pengalaman auditor berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Penelitian ini memiliki keterbatasan yang mungkin dapat mempengaruhi hasil penelitian. Keterbatasan yang ada pada penelitian, yaitu: Pengisian kuisioner yang dilakukan oleh junior auditor membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dikarenakan saat mengirim tautan kuisioner tidak semua mengisi kuisioner yang telah diberikan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, hasil penelitian dapat berimplikasi pada perusahaan, diantaranya adalah: Kantor akuntan dapat mengadakan pelatihan bagi auditor-auditornya agar kompetensi para auditor menjadi semakin terasah. Perusahaan senantiasa melakukan pembukuan atas transaksi perusahaan sesuai agar dapat dipertanggung jawabkan saat prosedur audit dilakukan. Prinsipal dan agen sebaiknya senantiasa menjalankan praktik akuntansi yang sehat agar proses audit dapat berlangsung efektif dan efisien. Berdasarkan keterbatasan yang dialami penulis, maka saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel independen selain kompetensi auditor, tekanan waktu, beban kerja, dan pengalaman auditor, seperti profesionalisme, independensi, dan whistleblower. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan objek penelitian yang berbeda dari junior auditor, seperti senior auditor. Daftar Pustaka