1133 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 EDUKASI DAN PEMICUAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN MUBAROKUL ULUM DESA PENANGGAPAN KABUPATEN BREBES Oleh Tati Nuryati1. Sarah Handayani2. Andryani3. Erfita Anasha W4. Chyntia Nurul Adha5. Dela Amelia6. Rifia Apriami7. Rr. Yuliani Hendraswari8. Anita Priska9. Karunia Dwi10 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Jakarta. Indonesia E-mail: 1nuryatidr@uhamka. Article History: Received: 01-08-2025 Revised: 27-08-2025 Accepted: 02-09-2025 Keywords: Handwash. CTPS. Education. Pemicuan. School Age Abstract: Proporsi Perilaku Cuci Tangan yang benar pada penduduk usia 15-19 tahun berdasarkan lima waktu efektif mencuci tangan masih rendah, yaitu sebesar 48,4%. Cuci tangan merupakan salah satu bentuk personal hygiene yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyakit akibat infeksi atau mencegah perpndahan bakteri. Tingginya tingkat efektifitas perilaku cuci tangan pakai sabun dalam mencegah penularan penyakit, maka sangat penting adanya upaya promosi kesehatan tentang cuci tangan. Pendidikan kesehatan pada anak sekolah dengan menggunakan pendekatan yang mengubah perilaku hygiene dan sanitasi. Metode pemicuan CTPS dilakukan dengan Demo mengenal Penjahat Hitam dan edukasi tentang CTPS. Data diperoleh menggunakan lembar kuisioner Pre dan Post test. Hasil yang didapatkan, adanya peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku tentang pentingnya CTPS. PENDAHULUAN Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan fondasi penting dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu indikator PHBS yang paling sederhana namun berdampak besar adalah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Cuci tangan merupakan salah satu bentuk personal hygiene yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyakit akibat infeksi atau mencegah perpndahan bakteri serta salah satu langkah pencegahan dan penanggulangan penyakit yang merupakan bagian dari program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Selain itu mencuci tangan juga prioritas utama dalam upaya meningkatkan kesehatan. Praktik CTPS masih kurang diterapkan secara konsisten, terutama di kalangan anakanak dan remaja di lingkungan pendidikan. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia . menunjukkan bahwa proporsi Perilaku Cuci Tangan yang benar pada penduduk usia 15-19 tahun berdasarkan lima waktu efektif mencuci tangan sebesar 48,4% anak sekolah berperilaku cuci tangan. Hal ini masih dibawah target, rendahnya perilaku cuci tangan pada anak ini disebabkan oleh kurangnya informasi atau pendidikan kesehatan (Zulfa, 2. Penelitian Chau dan Budiarso . ,6%) siswa-siswi memiliki pengetahuan buruk terkait cuci tangan. Selain itu perilaku cuci tangan pakai sabun tergolong buruk yaitu 44 orang . ,4%). Rendahnya perilaku cuci tangan pakai sabun dan tingginya tingkat efektifitas perilaku cuci tangan pakai sabun dalam mencegah penularan penyakit, maka sangat penting adanya upaya promosi kesehatan tentang cuci tangan (Maryunani, http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Menurut data dari (WHO, 2. Pada 2019, 740. 180 orang meninggal karena penyakit pernafasan . , lebih lanjut berdasarkan data dari United Nations Children's Fund (UNICEF, 2. , ada 802. 000 anak di seluruh dunia yang meninggal karena penyakit bronkopneumonia. Selain itu jumlah kasus pada penyakit pernafasan (COVID) pada tahun 2023 di Jawa Tengah adalah 7. 261 kasus dengan 4. 159 kasus berusia 15-59 tahun. Pada kasus yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia atau kesulitan Gejala-gejala ini mirip dengan flu . atau pilek biasa, yang jauh lebih umum daripada COVID-19. Virus flu ini ditularkan melalui kontak langsung dengan percikan dahak dari orang yang terinfeksi . elalui batuk dan bersi. , dan jika menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus. Salah satu cara masuknya bakteri dari udara maupun debu ke dalam tubuh yakni melaui tangan (Tulak dkk, 2. Perilaku yang kurang menjaga kebersihan dan tidak membiasakan cuci tangan akan meningkatkan risiko penyebaran perpindahan virus dan bakteri di tangan kita. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang biasa terjadi adalah flu, batuk (ISPA), thypoid, diare bahkan keracunan makanan. Sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Cuci Tangan Pakai Sabun atau CTPS dikenal luas sebagai teknik dasar terpenting yang dapat menurunkan penyakit mematikan seperti diare hingga 30% dan ISPA hingga 20% (Kemenkes, 2. Perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan cara yang paling efektif, sederhana dan murah untuk mencegah penyakit - penyakit tersebut. Mencuci tangan menjadi protokol kesehatan untuk menghentikan penularan virus (Fitri et al. , 2020. Istiatin et al. , 2. Pembiasaan jika dikombinasikan dengan peningkatan pengetahuan, pelaksanaan cuci tangan pakai sabun merupakan pendekatan kesehatan preventif yang efektif dan telah terbukti menurunkan risiko penyakit (Wandhani, 2. CTPS dikenal luas sebagai teknik dasar terpenting pencegahan penyebaran penyakit menular, dengan tingkat keberhasilan 80% untuk pencegahan infeksi umum dan 45% berkaitan dengan pencegahan penyakit yang lebih berat (USAID, 2. Berdasarkan survei pendahuluan pada Pondok Pesantren Mubarokul Ulum, bahwa rata-rata anak Ae anak tidak melakukan perilaku kebiasaan cuci tangan dengan benar, yaitu tidak menggunakan sabun saat cuci tangan dan belum menerapkan lima waktu efektif dalam mencuci tangan. Upaya pembiasaan dan perubahan perilaku cuci tangan dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada anak sekolah dengan menggunakan pendekatan yang mengubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan Pendidikan kesehatan ini dapat dilakukan melalui metode dan media yang bisa diterima dengan baik oleh anak-anak. Salah satu metode yang dapat digunakan pada anak yaitu melalui Demo Mengenal si Penjahat Hitam dan Tarian Tangan. Metode Demo ini merupakan kegiatan dengan mengabungan unsur dari role play dan diskusi kelompok dimana terdapat unsur pesan tentang kesehatan. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini ini dilaksanakan di Pesantren Mubarokul Ulum. Desa penanggapan, kabupaten Brebes pada hari Sabtu, 26 Juli 2025. Mitra pada kegaiatan ini adalah santri di Pondok Pesantren Mubarokul Ulum. Desa Penanggapan. Kabupaten Brebes. Jawa Tengah. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan melakukan pemicuan CTPS kepada santri Pesantren Mubarokul Ulum. Pemicuan CTPS dengan menggunakan metode si Penjahat Hitam, dimana santri diberi pemicuan untuk memicu rasa malu, menimbulkan rasa jijik, dan memicu harga diri, sehingga diharapkan santri Pesantren Mubarokul Ulum mengerti manfaat CTPS dan mampu mengubah perilaku mereka untuk selalu melakukan cuci tangan pakai sabun dalam lima waktu kritis CTPS. Kegiatan ini melibatkan 8 orang mahasiswa Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka sebagai anggota dalam kegiatan ini, sebagai bentuk praktik lapangan tugas mata kuliah Community Organization and Community Development (COCD) dan dihadiri oleh 30 santri Pesantren Mubarokul Ulum HASIL DAN DISKUSI Persiapan Kegiatan Kegiatan pengabdian Masyarakat ini melalui beberapa tahap, yaitu tahap awal kegiatan dimulai dengan melakukan studi pendahuluan dengan melakukan wawancara secara daring dengan pihak Yayasan Pesantren Mubarokul Ulum untuk mendapatkan data pendukung terkait masalah STBM secara umum, dan kebiasaan santri CTPS secara khusus. Data ini dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan Pemicuan CTPS di Pesantren Mubarokul Ulum. Dari data ini didapatkan informasi bahwa samtri Pesantren Mubarokul Ulum sudah terbiasa melakukan cuci tangan, nambun untuk melakukan cuci tangan pakai sabun belum menjadi kebiasaan para santri. Gambar 1. Koordinasi Pendahuluan Mahasiswa Uhamka dengan Pengurus Yayasan Pesantren Mubarokul Ulum Pelaksanaan Proses Pemicuan CTPS Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2025, dihadiri oleh seluruh stakeholder yang terdiri dari Kepala Puskesmas Bandung Sari yang diwakili oleh Kepala TU. Bapak Hadi Saputra. Kepala Kecamatan Banjarharjo yang diwakili oleh Bapak M. Rifai selaku Kepala Seksi PMD Kantor Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes. Kepala desa Penanggapan. Bapak H. Sangwar. Pd. Kepala Yayasan Mubarokul Ulum dan guru, kader posyandu yang terlibat. Dosen dan Mahasiswa magister Ilmu Kesehatan Masyarakat UHAMKA. Kegiatan ini dimulai dengan registrasi peserta, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, kata sambutan dan ucapan selamat datang dari Kepala Desa Penanggapan, dilanjutkan sambutan dari Perwakilan Puskesmas Bandung Sari, http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 kemudian sambutan dari Dr. Tati Nuryati. SKM. Kes sebagai Dosen pengampu MK COCD, dan perwakilan mahasiswa S2 Prodi IKM SPs UHAMKA, serta sambutan sekaligus pembukaan oleh Bapak M. Rifai (Kasie PMD) yang mewakili Kecamatan Banjarharjo, kemudian rangkaian kegiatan berupa penandatanganan MOU antara pesantren Mubarokul Ulum dan Uhamka, dan ditutup dengan doa bersama. Gambar 2. Penandatanganan MoU Pesantren Mubarokul Ulum dengan Uhamka Setelah pembukaan kegiatan maka dilanjutkan dengan Pemberdayaan Masyarakat berupa Pemicuan CTPS di Pesantren Mubarokul Ulum. Pemicuan ini dilakukan dengan menggunakan bubuk kopi dan minyak goreng. Tahap awal pemicuan adalah memberikan kuesioner pre test yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, sikap dan perilaku santri tentang cuci tangan pakai sabun. Kegiatan berikutnya adalah bina suasana, kegiatan ini bertujuan untuk mengubah santri dari pendengar menjadi peserta aktif, melakukan diskusi terkait alur terjadinya kontaminasi diare, dan melakukan penelusuran dengan mengajak santri untuk melihat kondisi sarana CTPS musholah, kantin, kelas dan Gambar 3 Pretest, diskusi alur kontaminasi diare, dan iIdentifikasi penelusuran kondisi sarana CTPS Tahap selanjutnya yaitu Pemicuan CTPS dengan metode si Penjahat Hitam. Pada tahap ini dilakukan roleplay dengan santri, dimana mahasiswa menjelaskan kepada santri mengenai tujuan, aturan dan skenario yang akan dimainkan oleh santri sebgai peserta Dalam roleplay ini peserta dibagi menjadi 4 kelompok, yang masing masing berisi 7 sampai 8 orang. Setiap santri dibaluri tanggannya dengan minyak goreng, kemudian ditaburi dengan bubuk kopi. Fasilitator . memberitahukan kepada santri bahwa bubuk kopi yang berwarna gelap itu adalah kuman, dan minyak goreng yang lengket itu adalah sumber penularan. Sebagian santri diminta untuk mencuci tangan hanya dengan menggunakan air dan sebgaian lagi diminta untuk mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun. Kemudian santri diminta pendapatnya dan berdiskusi tentang apa yang diraskan ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 mereka ketika mereka mencuci tangannya hanya dengan menggunakan air saja, disitu timbul rasa malu dan jijik ketika mereka hanya mencuci tangan dengan menggunakan air saja. Dan santri yang mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir juga diminta pendapatnya dan berdiskusi tentang apa yang diraskan mereka ketika mencuci tangan dengan air dan sabun, disitu timbul pengetahuan dan memicu harga diri mereka bahwa mencuci tangan dengan menggunakan sabun membuat tangan menjadi bersih dan kuman akan hilang. Santri juga melakukan 6 langkah cuci tangan sesuai dengan pedoman Kemenkes. Gambar 4. Demo Pemicuan CTPS dan diskusi pasca CTPS Setelah role play, santri kembali ke ruang aula, kemudian dilanjutkan ice breaking dengan tujuan mencairkan suasana dan menambah keakraban antara santri dan mahasiswa. Ice breaking dengan memutar video berupa lagu CTPS. Kemudian dilanjutkan dengan penandtanganan komitmen oleh pihak Yayasan. Kepala sekolah SMP dan SMA Mubarokul Ulum dan dilanjutkan penandatanganan komitmen oleh para santri. Kegiatan dilanjutkan dengan pemilihan 4 orang Duta CTPS dan Pemberian pin Agent of CTPS untuk santri. Dilanjutkan kegiatan evaluasi hasil belajar berdasarkan hasil pretest dan post test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang CTPS. Sesi terkhir penandatanganan komitmen tindak lanjut kegiatan pemicuan CTPS oleh pihak Pondok Pesantren dan Santri Mubarokul Ulum, serta perwakilan mahasiswa. Kemudian dilanjutkan pengukuhan Duta CTPS dan Agent of Change CTPS. Gambar 5. Rencana Aksi Komitmen dan pengukuhan duta CTPS DISKUSI