Diterima: 03 Januari 2026 VOLUME 2 NOMOR 4 DESEMBER 2025 Direvisi: 08 Januari 2026 Disetujui: 15 Januari 2026 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI DI KALANGAN GENERASI MUDA Freddy Marbun1. Alam Akbar2. Ristian Wahyu Aldiaz3. Aswari4. Iwan Armawan5 S1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular e-mail: freddymarbun27@gmail. com1, ar. alamakbar@gmail. com2, ristianaldiaz@gmail. aswariari98@gmail. com4, iwanaradea84@gmail. ABSTRACT As we all know, corruption is a common problem in Indonesia that has damaged the social, economic, and political order. One of the most effective prevention strategies is through character education, especially for the younger generation in Indonesia. This paper will discuss the broad aspects of character education in preventing criminal acts of corruption among the younger generation in Indonesia. The research method used in this study is a literature review through a qualitative approach. The results of the study indicate that character education can build integrity, honesty, and responsibility in the younger generation in Indonesia, thus becoming a bulwark against the temptation of corruption. This paper also recommends strengthening character education, especially in the family, school, and community KEYWORD: Character Education. Corruption. Young Generation. Prevention. Integrity ABSTRAK Seperti yang telah kita ketahui bersama. Korupsi merupakan masalah umum di Indonesia yang telah merusak tatanan sosial, ekonomi, dan Salah satu strategi pencegahan yang paling efektif salah satunya adalah melalui pendidikan karakter, terkhusus bagi para generasi muda di Indonesia. Jurnal ini akan membahas mengenai secara garis besar mengenai pendidikan karakter dalam mencegah tindak pidana korupsi di kalangan generasi muda Indonesia. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur melalui pendekatan kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan karakter mampu membangun integritas, kejujuran, dan tanggung jawab pada diri generasi muda di Indonesia sehingga mampu menjadi benteng diri para generasi muda dalam melawan godaan korupsi. Jurnal ini juga merekomendasikan penguatan pendidikan karakter khususnya pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. KATA KUNCI Pendidikan Karakter. Korupsi. Generasi Muda. Pencegahan. Integritas. INFO ARTIKEL CORRESPONDING AUTHOR Sejarah Artikel: Diterima: 03 Januari 2026 Direvisi: 08 Januari 2026 Disetujui: 15 Januari 2026 Freddy Marbun Universitas Mpu Tantular Jakarta freddymarbun27@gmail. PENDAHULUAN Korupsi merupakan kejahatan luar biasa . xtraordinary crim. yang berdampak luas bagi kemajuan suatu Di Indonesia, masalah korupsi telah berlangsung secara terstruktur dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat pemerintah hingga masyarakat. Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan bahwa kasus korupsi tidak hanya melibatkan kalangan tua, tetapi juga para generasi muda, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini tentunya menunjukan bahwa terdapat krisis karakter terutama dalam hal penegakan integritas dan kejujuran bagi kalangan masyarakat Indonesia. Vol. No. Desember 2025 Halaman | 1 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI DI KALANGAN GENERASI MUDA Pendidikan karakter menjadi salah satu solusi strategis yang diyakini mampu membangun pondasi moral dan etika generasi muda. Pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan nilai-nilai dasar seperti kejujuran dan tanggung jawab, tetapi juga membiasakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendidikan karakter, diharapkan para generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang berperan aktif dalam pencegahan tindak pidana korupsi. Rumusan Masalah Bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam konteks pencegahan tindak pidana korupsi di Indonesia? Apa peran pendidikan karakter bagi generasi muda dalam membentuk sikap antikorupsi? Apa saja tantangan dan strategi dalam pelaksanaan pendidikan karakter untuk mencegah tindak pidana Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: Mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter dalam mencegah korupsi di kalangan generasi muda. Menganalisis peran pendidikan karakter dalam membentuk sikap antikorupsi pada generasi muda. Mengidentifikasi tantangan dan merumuskan strategi efektif dalam pendidikan karakter untuk pencegahan TINJAUAN PUSTAKA Pendidikan karakter adalah suatu kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai moral pada individu, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari yang tentunya akan menjadi suatu budaya di masyarakat. Menurut Lickona . , pendidikan karakter meliputi penanaman nilai-nilai inti seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kepedulian sosial. Sedangkan Korupsi menurut Transparency International, adalah penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dimana dampak dari korupsi sendiri sangat luas, mulai dari menurunnya kualitas pelayanan publik, meningkatnya biaya pembangunan, hingga hilangnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat efektif dalam membangun integritas dan sikap antikorupsi. Pendidikan ini dapat dilakukan melalui pembelajaran di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Integrasi nilai-nilai antikorupsi dalam kurikulum menjadi salah satu langkah nyata yang telah diupayakan oleh Kementerian Pendidikan. Selain melalui integrasi kurikulum sekolah, terdapat beberapa alternatif lain dalam hal Pendidikan anti korupsi yang telah dikembangkan salah satunya platform pembelajaran daring memungkinkan penyelenggaraan pendidikan antikorupsi dilakukan secara fleksibel dan inklusif. Melalui kelas virtual, aplikasi edukasi, atau learning management system, materi dapat disampaikan dengan cara yang interaktif. Sebagai contoh, aplikasi digital bertema antikorupsi dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang nilai integritas dan pencegahan korupsi. Studi menunjukkan bahwa pemanfaatan aplikasi Say No to Corruption menjadi sarana efektif dalam mendorong keterlibatan mahasiswa dalam upaya pencegahan korupsi (Zahari & Ab Halim, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sumber data diperoleh dari jurnal, buku, dokumen kebijakan, serta laporan lembaga yang membidangi seperti KPK. Kemendikbud, dan Bappenas. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan fokus pada pelaksanaan, tantangan, dan strategi pendidikan karakter dalam mencegah korupsi di kalangan generasi muda. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pencegahan Korupsi Implementasi pendidikan karakter di Indonesia telah diupayakan melalui berbagai program, seperti penguatan pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah. Nilai-nilai antikorupsi, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, mulai diajarkan sejak dini. Pada momen ini guru memiliki peran sangat penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran siswa, baik melalui mata pelajaran secara klasikal maupun kegiatan ekstrakurikuler. Di lingkungan keluarga, pendidikan karakter dilakukan melalui pembiasaan perilaku jujur, menghormati hak orang lain, dan tidak mengambil yang bukan haknya, dimana kehadiran orang tua merupakan peran terpenting dalam pembiasaan budaya ini. Sementara di masyarakat, peran tokoh masyarakat, organisasi pemuda, dan Vol. No. Desember 2025 Halaman | 2 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI DI KALANGAN GENERASI MUDA lembaga keagamaan sangat penting dalam membangun budaya antikorupsi karena dapat menjadi role model para generasi muda dalam bertingkah laku. Peran Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda Generasi muda merupakan aset strategis bangsa sekaligus agen perubahan yang menentukan arah masa depan. Dalam konteks pencegahan korupsi, mereka memegang peranan yang sangat penting karena perilaku yang terbentuk sejak dini akan memengaruhi integritas para generasi muda tersebut di masa dewasa sehingga perlu diciptakan budaya antikorupsi sejak dini. Pendidikan karakter berfungsi sebagai fondasi moral yang menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan keberanian moral. Nilai-nilai ini tidak hanya membentuk pola pikir, tetapi juga menginternalisasi kebiasaan positif yang menjadi benteng pertahanan terhadap perilaku koruptif. Karakter yang kuat akan memberikan ketahanan moral, yaitu kemampuan untuk menolak berbagai godaan korupsi meskipun berada dalam situasi yang penuh tekanan atau peluang. Resiliensi ini lahir dari proses pembiasaan nilai melalui kurikulum, budaya sekolah, dan keteladanan pendidik. Generasi muda yang terbiasa dengan praktik transparansi, keadilan, dan akuntabilitas akan mengembangkan moral reasoning yang matang, sehingga mampu mengambil keputusan etis dalam berbagai situasi. Selain itu, pendidikan karakter mendorong kesadaran kritis terhadap dampak korupsi, baik pada level individu maupun sistem sosial. Kesadaran ini mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam gerakan antikorupsi, misalnya melalui kampanye integritas, pengawasan sosial, dan partisipasi dalam organisasi yang menjunjung nilai Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya membentuk individu yang berintegritas, tetapi juga menciptakan kebiasaan sosial yang mendukung budaya antikorupsi. Tantangan dan Strategi dalam Pendidikan Karakter Tantangan terbesar dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah kurangnya keteladanan bagi generasi muda, pengawasan yang lemah, kurangnya integrasi nilai-nilai antikorupsi dalam kurikulum, dan kurangnya inovasi dalam mengembangkan budaya antikorupsi di era teknologi saat ini. Disamping itu, pengaruh budaya permisif terhadap praktik korupsi juga menjadi hambatan tersendiri. Strategi yang dapat dilakukan antara lain: A Penguatan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan karakter. A Integrasi nilai-nilai antikorupsi secara sistematis dalam kurikulum pendidikan. A Peningkatan kapasitas guru dan tenaga pendidik dalam mengajarkan nilai-nilai karakter. A Penyediaan media pembelajaran yang menarik dan sesuai perkembangan zaman. Studi Kasus Implementasi Pendidikan Karakter Antikorupsi di Indonesia Implementasi pendidikan karakter antikorupsi di beberapa SMA Negeri di Jakarta dilakukan melalui integrasi nilai-nilai antikorupsi dalam proses pembelajaran. Misalnya, pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. , guru secara aktif mendiskusikan bentuk-bentuk korupsi yang sering terjadi di lingkungan sekitar peserta didik, seperti mencontek saat ujian, menitip absen, hingga penggunaan fasilitas sekolah untuk kepentingan pribadi tanpa izin. Selain itu, sekolah juga menerapkan program AuSekolah JujurAy, di mana siswa diajak untuk membudayakan kejujuran dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Salah satunya kantin kejujuran, di mana siswa membeli makanan tanpa ada penjual, melainkan membayar sendiri sesuai harga yang tertera dan mengambil uang kembalian sendiri. Dengan cara ini, siswa dididik untuk bertanggung jawab dan jujur meski tanpa pengawasan langsung. Dan cara ini telah di adopsi di beberapa daerah di Indonesia. Studi Kasus di Perguruan Tinggi Di tingkat perguruan tinggi, implementasi pendidikan karakter antikorupsi dilakukan melalui seminar, kuliah umum, dan organisasi. Banyak kampus yang bekerjasama dengan KPK untuk menggelar sosialisasi bahaya korupsi serta pelatihan integritas bagi mahasiswa. Beberapa universitas juga mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti mata kuliah Etika Profesi, di mana nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan antikorupsi menjadi bagian dari penilaian. Kegiatan organisasi mahasiswa, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), turut menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk mengelola anggaran secara transparan dan akuntabel. Adanya pelaporan keuangan yang terbuka dan dapat diakses seluruh anggota organisasi menjadi bukti konkret penerapan nilai antikorupsi. Vol. No. Desember 2025 Halaman | 3 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENCEGAH TINDAK PIDANA KORUPSI DI KALANGAN GENERASI MUDA Studi Kasus di Lingkungan Keluarga Pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan perguruan tinggi, tetapi juga keluarga. Dalam beberapa keluarga di Indonesia, upaya penanaman nilai kejujuran dilakukan melalui pemberian contoh nyata oleh orang tua, seperti tidak memberikan uang saku berlebih dan selalu mengajarkan mengenai pentingnya kejujuran dan tanggung jawab. Keluarga yang konsisten memberikan keteladanan dalam perilaku sehari-hari sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Studi Kasus di Masyarakat Di dalam masyarakat, pendidikan karakter yang menentang korupsi dilakukan melalui gerakan sosial seperti "Gerakan Indonesia Tanpa Korupsi" yang melibatkan para pemuda, pemimpin agama, dan tokoh masyarakat. Aktivitas seperti penyuluhan, kompetisi pidato, dan kampanye di media sosial tentang bahaya korupsi menjadi cara yang efektif untuk menanamkan nilai anti-korupsi kepada generasi muda. Evaluasi Program Pendidikan Karakter Antikorupsi Keberhasilan Program Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Pemerintah, sekolah-sekolah yang secara konsisten melaksanakan pendidikan karakter anti-korupsi menunjukkan penurunan jumlah pelanggaran disiplin siswa, seperti menyontek, tidak hadir, atau pungutan ilegal. Siswa-siswa tersebut menjadi lebih berani dalam menyampaikan pendapat dan menolak tindakan tidak jujur di sekolah. Di tingkat universitas, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif dalam program pendidikan karakter memiliki kesadaran terhadap anti-korupsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak ikut. Selain itu, partisipasi mahasiswa dalam organisasi dengan cara yang terbuka juga meningkat, menandakan bahwa nilainilai anti-korupsi telah diinternalisasi dengan baik. Peluang Penguatan Program Peluang penguatan program pendidikan karakter antikorupsi cukup besar seiring dengan semakin luasnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap isu korupsi. Penggunaan teknologi digital, seperti aplikasi pembelajaran nilai karakter, media sosial, dan video edukasi, dapat menjadi solusi untuk menjangkau lebih banyak generasi muda secara efektif. KESIMPULAN Pendidikan karakter adalah dasar penting dalam menciptakan budaya anti korupsi yang berkelanjutan, terutama di kalangan muda. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, keadilan, dan kepedulian sosial tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk perilaku, tetapi juga sebagai cara untuk mencegah godaan korupsi. Pelaksanaan pendidikan karakter yang baik membutuhkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, sehingga terbentuk lingkungan yang mendukung integritas secara konsisten. Walaupun ada tantangan seperti kurangnya sumber daya, budaya, dan minimnya proses evaluasi, ada banyak kesempatan untuk memperkuat program pendidikan karakter anti korupsi. Dukungan dari pemerintah, peningkatan kemampuan guru, dan penggunaan teknologi digital untuk pembelajaran secara interaktif serta kampanye integritas adalah faktor penting untuk mencapai keberhasilan. Teknologi yang ada saat ini dapat dikembangkan untuk menciptakan platform pendidikan, simulasi kasus, dan sistem pemantauan perilaku. Generasi muda yang mendapatkan pendidikan karakter sejak awal akan memiliki ketahanan moral dan kesadaran kritis mengenai dampak korupsi, sehingga dapat menjadi pendorong perubahan sosial. Dengan komitmen bersama dan pelaksanaan yang terencana, pendidikan karakter dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia yang bersih, berintegritas, dan terbebas dari korupsi. REFERENSI