P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X Effectiveness of Gratitude Training on Caregivers' Emotion Regulation in X Intitution Iyulen Pebry Zuanny1. Karjuniwati2. Barmawi3. Siti Rahmah4 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Lorong Ibnu Sina No. Darussalam. Kopelma Darussalam. Kec. Syiah Kuala. Kota Banda Aceh. Aceh 23111. Indonesia Universitas Syiah Kuala. Jln. Teuku Nyak Arief. Darussalam. Banda Aceh. Aceh, 23111. Indonesia e-mail: karjuniwati@ar-raniry. ABSTRACT Institution X are non-profit organizations that provide alternative care for orphaned children. Institution X in Aceh shows complaints from agency managers and children, one of which is related to the ability to regulate the emotions of caregivers which ultimately has an impact on foster children. Therefore, this study aims to see the effectiveness of the effect of gratitude training on caregivers' emotion regulation. This study used a mix-method approach, namely quantitative methods using simple regression analysis and qualitative methods through observation, worksheets and evaluation. The subjects of this study consisted of 25 caregivers at Institution X in Banda Aceh and Meulaboh. The results of this study indicate an increase in gratitude training on emotional regulation with an increase in score of 1. 24 points with posttest results (M = 72. SD = 6. higher than pretest (M = 71. SD = 6. This is reinforced by the magnitude of the contribution of gratitude to emotional regulation from the value of R2 = 0. 081, which means that there is as much as 8% of the influence of gratitude on emotional regulation. Keywords: Gratitude Training. Emotion Regulation. Caregivers ABSTRAK Lembaga X di Banda Aceh dan Meulaboh merupakan lembaga nirlaba yang memberikan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yatim maupun piatu. Lembaga X di Aceh menunjukkan adanya keluhan dari pengelola lembaga dan anak-anak salah satunya terkait kemampuan meregulasi emosi pengasuh yang pada akhirnya berdampak pada anak-anak asuh. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas pengaruh pelatihan kebersyukuran terhadap regulasi emosi pengasuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-methode yaitu metode kuantitatif menggunakan analisis regresi sederhana dan metode kualitatif mellaui observasi, lembar kerja dan evaluasi. Subjek penelitian ini terdiri dari 25 pengasuh di Lembaga X di Banda Aceh dan Meulaboh. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatkan pelatihan kebersyukuran terhadap regulasi emosi dengan peningkatan skor sebesar 1,24 poin dengan hasil posttest (M=72,24. SD=6,. lebih tinggi dibandingkan pretest (M=71. SD=6,. Hal ini diperkuat dengan besarnya sumbangan kebersyukuran terhadap regulasi emosi dari nilai R2 = 0. 081 yang artinya ada sebanyak 8% pengaruh kebersyukuran terhadap regulasi emosi. Kata Kunci: Pelatihan Kebersyukuran. Regulasi Emosi. Pengasuh FIRST RECEIVED: 2024-10-03 REVISED: 2024-11-25 ACCEPTED: 2025-01-14 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-04-11 Corresponding Author: Karjuniwati AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 PENDAHULUAN Aceh memiliiki beberapa lembaga nirlaba yang menaungi anak yatim piatu dan kurang Salah satu organisasi nirlaba atau yayasan terbesar yang menampung anak-anak tersebut yaitu Lembaga X. Lembaga tersebut membangun desa ramah anak sejak tahun 1972 di 8 lokasi di Indonesia, yaitu: Banda Aceh. Meulaboh. Medan. Jakarta. Bandung. Semarang. Bali dan Meumere . id, 2. Hasil asesmen yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa ibu asuh yang bekerja di Lembaga X di Aceh baik di Banda Aceh dan Meulaboh mengalami tantangan dalam mengasuh dimulai dari kesulitan beradaptasi dan membangun kedekatan dengan anak, gaya pengasuhan yang ototiter atau permisif, kurang memahami perkembangan psikologis tiap anak dan sulit mengontrol emosi. Hasil asesmen ini diperkuat oleh wawancara pada salah satu konselor di Lembaga X Banda Aceh pada bulan 31 Juli 2023 yang menyatakan beberapa permasalahan pada ibu asuh seperti gaya pengasuhan yang kurang efektif, kurangnya komitmen dan keilkhlasan dalam bekerja, ada yang mengalami stress dan tekanan serta sulit mengontrol emosi. Berdasarkan fakta di atas, permasalahan utama yang menghambat optimalisasi ibu asuh dalam merawat anak-anak di Lembaga X adalah kurangnya kemampuan dalam meregulasi emosi. Berdasarkan pandangan fungsionalisme, regulasi emosi adalah proses pengambilan inisiatif dengan mempertahankan, mengatur dan memodifikasi stimulus atau kejadian (Thompson, 1. Adapun aspek penting dalam regulasi emosi yaitu memiliki strategi dalam meregulasi emosi, tidak cepat terpengaruh, mengeskpresikan emosi dengan wajar dan menerima emosi tersebut (Gross, 2. Hal ini menunjukkan ketimpangan antara fenomena dengan konsep regulasi emosi. Pengasuh masih mengalami kesulitan dalam mengatur emosinnya, menampilkan emosi yang kurang wajar seperti kemarahan dan mood yang kurang baik serta kurang strategi meregulasi emosi. Kegagalan melakukan regulasi emosi yang baik dianggap sebagai faktor resiko bagi munculnya berbagai gangguan psikologis (Berking & Whitley, 2. Individu dengan regulasi emosi yang baik dapat mengalihkan situasi, pikiran, perasaan dan perilaku negatif menjadi positif (Makmuroch. Dalam meregulasi emosi pada situasi tertentu, individu sering menetapkan tujuan sehingga memerlukan adanya kemampuan dalam menghadapi situasi agar mengurangi emosi negatif (Shaffer, 2. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi adalah dengan meningkatkan rasa syukur. Kebersyukuran memiliki hubungan dan peranan terhadap regulasi emosi (Hartanti, 2. Gross . juga berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi regulasi emosi adalah religiositas dengan bersyukur (Gross, 2. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Hapsari dan Herwanto . yang menunjukkan terdapat hubungan antara Penelitian Amalia . menunjukkan bahwa kebersyukuran menyumbang efektivitas sebesar 22,6% terhadap regulasi emosi (Amaliah, 2. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kebersyukuran memiliki peranan sebanyak 13% terhadap regulasi emosi (Hartanti. Orang yang bersyukur menunjukkan nilai religiositas yang tinggi. Individu yang Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 memiliki religiositas yang tinggi cenderung menampilkan emosi yang wajar, tidak berlebihan dan mampu meregulasi hal yang memicu tersulutnya emosi (Krause, dkk, 2. Alasan peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai kebersyukuran dan regulasi emosi pengasuh di Lembaga X Banda Aceh dan Meulaboh untuk mengetahui tingkat kebersyukuran dan regulasi emosi serta efektivitas pelatihan kebersyukuran terhadap regulasi emosi pada pengasuh di Lembaga X Banda Aceh dan Meulaboh. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran . ix-metho. yaitu metode kuantitatif sebagai metode utama melalui analisis regresi sederhana yang didukung dengan metode kualitatif melalui observasi, lembar kerja dan evaluasi (Creswell, 2. Penelitian dilaksanakan dengan metode pelatihan yang merujuk pada modul kebersyukuran dalam meningkatkan regulasi emosi yang dilakukan dengan 5 sesi yang terdiri dari Psikoedukasi tentang Kebersyukuran dan Regulasi Emosi. Menulis Pengalaman Psikologis. Restrukturisasi Kognitif. Mengambil Hikmah dan Menulis Ucapan Terimakasih. Kelima sesi ini dijalankan melalui metode ceramah, lembar kerja, sharring dan evaluasi. Adapun untuk melihat perubahan regulasi emosi setelah diberikan pelatihan maka akan di ukur menggunakan skala kebersyukuran dan skala regulasi emosi. Skala kebersyukuran menggunakan skala GQ-6 (Gratitude questionaire-. yang sudah diadaptasi dan skala regulasi emosi merujuk pada aspek-aspek regulasi emosi yang dikemukakan oleh (Gross, 2. Kemudian analisis data menggunakan analisis regresi sederhana untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Disebut regresi linier sederhana apabila menggunakan satu variabel bebas (Azwar, 2. Analisis deskriptif sebagai penunjang untuk memberikan Gambaran mengenai subjek penelitian melalui hasil observasi, lembar kerja dan evaluasi (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian melalui Pelatihan Kebersyukuran untuk meningkatkan Regulasi emosi berjalan dengan lancar. Sebelum pelatihan dimulai, subjek sudah terlihat antusias terlebih ketika diberikan ice breaking. Para subjek terlihat senang dan bersemangat bahkan meminta tambahan permainan. Kemudian saat memasuki pengantar pelatihan, beberapa subjek menyatakan bahwa mereka sudah lama tidak mendapatkan kegiatan seperti peningkatan keterampilan sehingga mereka merasa bersemangat. Saat diberikan lembar kerja, terdapat beberapa subjek yang kesulitan mengisi karena tidak membawa kacamata, selain itu ada yang bingung cara pengisian sehingga diarahkan Kembali oleh trainer dan dibantu oleh mahasiswa sebagai co fasilitator. Selain itu ada pula subjek yang berharap agar yang ia tulis dapat diceritakan secara langsung agar mendapatkan masukan dari trainer. Sebanyak lima sesi pelatihan dilaksanakan melalui pengisian lembar kerja, sharring dan diskusi. Banyak subjek yang antusias untuk mengutarakan lembar kerja yang sudah ia tulis, bahkan terdapat salah seorang subjek yang menumpahkan keluh kesah dan mengeluarkan air mata saat bercerita khususnya pada sesi I yaitu menulis pengalaman Pada sesi 2, 3 hingga 5 para subjek terlihat lebih cerita terutama saat memasuki Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 sesi menuliskan ucapan terimakasih. Berikut dokumentasi kegiatan pelaksanaan penelitian melalui pelatihan kebersyukuran baik di lokasi Banda Aceh dan Meulaboh. Gambar 1. Dokumentasi Pelatihan Kebersyukuran di Lembaga X Banda Aceh Gambar 2. Dokumentasi Pelatihan Kebersyukuran di Lembaga X Meulaboh Setelah diberikan pelatihan kebersyukuran, terdapat peningkatan Regulasi Emosi sebelum dan sesudah diberikan pelatihan kebersyukuran. Perubahan skor dari pretest ke postest pada ke 25 subjek dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Skor Pengukuran Regulasi Emosi Nama Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4 Subjek 5 Subjek 6 Subjek 7 Subjek 8 Subjek 9 Subjek 10 Subjek 11 Subjek 12 Subjek 13 Subjek 14 Subjek 15 Subjek 16 Subjek 17 Subjek 18 Subjek 19 Lokasi Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Banda Aceh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Pretest Postest Keterangan Meningkat Meningkat Menurun Menurun Meningkat Meningkat Menurun Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Menurun Tetap Menurun Menurun Meningkat Menurun Meningkat Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 Subjek 20 Subjek 21 Subjek 22 Subjek 23 Subjek 24 Subjek 25 Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meulaboh Meningkat Menurun Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa terdapat perubahan skor Regulasi Emosi setelah dilakukan pelatihan kebersyukuran dengan perubahan skor yakni sebesar 1,24 poin dengan hasil posttest (M=72,24. SD=6,. lebih tinggi dibandingkan pretest (M=71. SD=6,. Lebih lanjut, kebersyukuran juga memberikan sumbangan atau pengaruh terhadap regulasi emosi dengan nilai besarnya sumbangan (R2=0. , artinya sebanyak 8 % pengaruh kebersyukuran terhadap regulasi emosi yang selebihnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat peranan kebersyukuran terhadap regulasi emosi, hal ini menunjukkan bahwa pelatihan kebersyukuran cukup efektif dalam mempengaruhi regulasi emosi pengasuh di Lembaga X Banda Aceh dan Meulaboh. Pengaruh ini diperkuat dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas peranan kebersyukuran terhadap regulasi emosi sebesar 13% (Hartanti, 2. dan ada pula yang berpengaruh sebesar 24,6% (Amaliah, 2. Kebersyukuran merupakan salah satu aspek atau dimensi yang penting bagi Kebersyukuran merupakan pemahaman, kesadaran akan berbagai kebaikan atau hal positif dalam hidup (Arif, 2. Bersyukur memiliki banyak manfaat bagi perasaan, pikiran dan perilaku. Dengan bersyukur seseorang akan merasa senang, tenang. Ikhlas serta akan berpikir secara positif dan berperilaku dengan baik. Individu yang sehar-harinya menjalani tantangan dan permasalahan, tentu membutuhkan kemampuan regulasi emosi yang Salah satu faktor penting untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi tersebut adalah kebersyukuran yang merupakan bagian dari religiositas (Gross, 2. Bersyukur tidak hanya mempengaruhi kondisi emosional jangka pendek, tetapi berkontribusi untuk kesejahteraan jangka panjang (Wood, et al, 2. Berdasarkan penjelasan di atas, penting sekali melakukan kebersyukuran agar menguatkan keterampilan regulasi emosi. Dimensi penting dalam kebersyukuran (Emmons & McCullough, 2. , yaitu seberapa sering individu mampu melakukan kebersyukuran . , selanjutnya berapa kali setiap hari . , apakah seseorang bersyukur di setiap situasi atau kejadian . , serta pada siapa saja individu mengarahkan rasa syukurnya . Bila dilihat dari dimensi tersebut, kebersyukuran harus dilakukan secara disiplin dan konsisten. Oleh karena itu pelatihan kebersyukuran menjadi salah satu program pengembangan diri yang efektif, tidak hanya meningkatkan kebesyukuran namun dapat menyasar aspek psikologis lain salah satunya regulasi emosi. Hasil studi menunjukkan bahwa pelatihan kebersyukuran memiliki efektivitas untuk meningkatkan aspek psikologis seperti Kesehatan mental, kesejahteraan psikologis dan aspek psikologis lainnya (Oktaviani & Uyun. Pelatihan ini diterapkan pada kelompok yaitu ibu asuh yang bertujuan untuk membangun relasi dan timbal balik antar individu dalam kelompok. Yalom . menjelaskan bahwa melalui terapi berbasis kelompok, seseorang akan mendapatkan keuntungan karena dapat belajar dan berlatih perilaku yang baru dan kelompok merupakan Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 tempat belajar (Yalom, 1. Pelatihan kebersyukuran pada pengabdian masayarakat ini dilakukan dengan pendekatan kognitif. Beck . menyatakan bahwa pendekatan kognitif perilakuan efektif untuk mengatasi gangguan emosi dan pola pikir negatif. Hal ini sangat sesuai dengan sasaran pelatihan yaitu perasaan dan pikiran negatif yang menghambat regulasi emosi (Beck, 2. Metode penyampaian dalam pelatihan kebersyukuran ini terdiri dari psikoedukasi, ceramah, sharring, feedback, diskusi, penugasan. Latihan . elaksasi nafas dan doAo. , refleksi dan evaluasi. Pelatihan kebersyukuran dilaksanakan selama 6 jam dengan 5 sesi. Sebelum memasuki sesi pelatihan, dilakukan building rapport dan ice breaking untuk membangun hubungan yang baik serta memecah suasana antara trainer dengan subjek (Komalasari. Wahyuni & Karsih , 2. (Soenarno, 2. Selanjutnya subjek diminta untuk memberikan harapan mengikuti pelatihan sehingga terdapat satu visi output pelatihan antara subjek dengan trainer. Memasuki sesi pelatihan, sesi pertama diawali dengan psikoedukasi mengenai pentingnya kebersyukuran terhadap regulasi emosi. Trainer memberikan gambaran tentang pentingnya kebersyukuran dan regulasi emosi untuk kehidupan sehari-hari. Psikoedukasi menjadi metode penting karena bertujuan untuk memberikan pengetahuan, pembelajaran, keterampilan dan kemampuan untuk mengendalikan stresor negatif dari lingkungan dengan kontrol diri yang adaptif (Dobson & Dobson, 2. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu penugasan yakni pengisian lembar Penugasan ini diberikan pada setiap sesi. Penugasan mempermudah subjek dalam memantau perubahan dan perkembangannya, serta membantu subjek untuk mengingat bagaimana keterampilan yang didapatkan dapat digunakan kembali di masa depan (Wilding & Milne, 2. Pada sesi ini subjek diminta untuk menuliskan mengenai pengalaman psikologis yang tidak menyenangkan selama menjalani pekerjaan sebagai ibu Selanjutnya subjek diminta menilai intensitas pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut dengan menscalling antara 1-10. Lebih lanjut subjek diminta mengisi upaya yang dilakukan Ketika mengingat atau menghadapi pristiwa tidak menyenangkan tersebut. Pada sesi ini subjek mampu memahami kondisi dirinya serta sharing pengalaman psikologisnya. Sharing merupakan komponen penting untuk mengajak subjek untuk saling terbuka dan berbagi pengalaman. Subjek kemudian difasilitasi untuk bertanya. Selanjutnya pada sesi ketiga yaitu restrukturisasi perasaan dan pikiran bertujuan untuk mengubah perasaan dan pikiran negatif menjadi positif melalui kebersyukuran. Pada sesi ini subjek mampu menuliskan bentuk perasaan dan pikiran syukur yang pernah Trainer kemudian menjelaskan subjek bahwa syukur merupakan alternatif yang mampu mengubah perasaan dan pikiran negatif serta meningkatkan regulasi emosi. Subjek kemudian mampu menilai besarnya keyakinan terhadap kebersyukuran dengan scalling 110 dimana mayoritas menunjukkan keyakinan besar . terhadap kebersyukuran sebagai alternatif untuk mengubah perasaan dan perilaku. Diakhir sesi, subjek juga terlihat mampu membedakan dampak dari bersyukur dibandingkan dengan tidak bersyukur baik ke perasaan dan pikiran. Dengan bersyukur, perasaan dan pikiran menjadi lebih positif. Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Pada sesi keempat yaitu mengambil hikmah, subjek dimnta menuliskan hikmah yang diperoleh dari pengalaman psikologi yang tidak menyenangkan. Menulis hikmah bertujuan untuk membuka pikiran subjek mengenai manfaat dengan rutin bersyukur baik untuk saat ini maupun untuk masa depan sebagai motivasi agar subjek konsisten melakukan Dalam sesi ini subjek mampu menuliskan hikmah yang diperoleh melalui bersyukur baik hikmahnya untuk saat ini dan untuk masa depan. Subjek menyatakan hidupnya lebih tenang, fokus. Ikhlas dan meningkatkan regulasi emosi terhadap kemunculan perasaan an pikiran negatif. Selanjutnya pada sesi terakhir yaitu menuliskan ucapan terimakasih . embar kerja . , subjek terlihat antusias dan senang karena menulis bak surat cinta kepada seseorang baik untuk diri sendiri, orang lain dan pencipta sebagai wujud Syukur terhadap yang sudah diperoleh saat ini. Pada sesi ini seluruh subjek diberikan kesempatan untuk mengekspresikan wujud syukurnya. Subjek menuliskan ucapan terimakasih kepada diri sendiri, orang lain yaitu anak asuh, teman, pengelola Lembaga X trainer pelatihan dan kepada sang pencipta. Setelah mengeskpresikan rasa syukur tersebut, subjek kemudian dilatih keterampilan untuk meregulasi emosi dengan relaksasi nafas dan doAoa. Relaksasi ini dipandu oleh trainer selama lebih kurang 10 menit untuk membuat subjek lebih mendalami kebersyukurannya serta mengurangi perasaan dan pikiran negatif. Subjek mengakui bahwa setelah relaksasi tubuh, perasaan dan pikirannya menjadi jauh lebih nyaman dan tenang. Menurut Relaksasi dapat meringankan pikiran dan merelakskan otot-otot dan dapat membawa seseorang merasakan perasaan dan pikiran positif (Friedman, 2. (Benson. Setelah relaksasi, subjek melakukan evaluasi terhadap perubahan yang dirasakan setelah mengikuti sesi pelatihan. Dari angka 1-10 mayoritas subjek menunjukkan perubahan cukup besar . dari pelatihan yang sudah dijalani. Evaluasi ini bertujuan untuk menumuhkan kemampuan subjek untuk memonitoring proses pembelajaran yang sudah diikuti melalui pelatihan kebersyukuran. Selain evaluasi melalui scalling, subjek juga diberikan postest yang bertujuan untuk mengukur perubahan kebersyukuran dan regulasi emosi setelah pelatihan. Melalui pelatihan kebersyukuran subjek menujukkan perubahan yang cukup realistis. Mayoritas subjek mengalami peningkatan skor kebersyukuran dan regulasi emosi bila dibandingkan saat sebelum mendapatkan pelatihan. Meskipun pada beberapa subjek tidak mengalami peningkatan, namun berdasarkan rerata skor menunjukkan peningkatan 0. 72 poin pada kebersyukuran dan pada regulasi emosi meningkat 1. 24 poin. SIMPULAN Kebersyukuran menjadi salah satu alternatif penting untuk meningkatkan berbagai aspek psikologi salah satunya pada regulasi emosi. Selain itu juga menjadi salah satu prediktor yang berperan dalam regulasi emosi. Kebersyukuran dapat dilatih agar konsisten melalui pelatihan. Kebersyukuran dapat dilakukan menggunakan beberapa metode yang cukup efektif seperti psikoedukasi, sharring, penugasan, feedback dan refleksi. Iyulen Pebry Zuanny. Karjuniwati. Barmawi. Siti Rahmah: Efektivitas Pelatihan Kebersyukuran Terhadap Regulasi Emosi Pengasuh di Lembaga X Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 DAFTAR PUSTAKA