Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 14 No. 4 Desember 2025 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 1237 Ae 1245 LEVERAGE MULTIPLIER. INTEREST EXPENSE RATIO. BANKING RATIO: DAMPAKNYA TERHADAP RETURN ON ASSET Deni Saeful Rizal* Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Ali jamaludin Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Yulianto Hadi Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Fitri Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Vita Evelini Handayani Sinaga Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Mega Sukmawati Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Iman Sidik Nusannas Manajemen. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia Siti Cintya Aprillia Akuntansi. Universitas Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta. Indonesia *Penulis Korespondensi Yulianto Hadi yuliantohadi32@gmail. ARTIKEL INFO Article history : Received: 14 October 2025 Revised: 26 November 2025 Accepted: 01 December 2025 ABSTRACT The purpose of this study was to examine the effect of Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio. Banking Ratio on Return on Assets at BPR in Central Java in 2019-2023. The analytical method used is multiple regression analysis of panel data. The research results show that the average value of the Leverage Multiplier has decreased, which is balanced by a decrease in Return On Assets, which indicates that BPR has experienced a decrease in efficiency in generating profits from the assets it owns, despite reducing debt. The Interest Expense Ratio shows that interest costs are increasing, while the company's ability to generate profits is decreasing. Banking Ratio is decreasing in balance with ROA continuing to decline, this reflects a situation where BPR is more focused on increasing liquidity but this is not managed well. Keywords : Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio. Banking Ratio. Return On Assets This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Perbankan memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang perekonomian suatu negara. Hampir setiap aspek kehidupan berhubungan dengan jasa perbankan. Perkembangan teknologi dan globalisasi, dunia perbankan mengalami kemajuan yang Peran perbankan semakin penting, baik bagi pemerintah maupun masyarakat, karena sektor perbankan sering menjadi indikaor utama dalam menilai kondisi perekononomian suatu Negara (Rerung, 2. Salah satu komponen penting dari sistem perbankan Indonesia adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yang memiliki peran tersendiri dalam mendukung inklusi keuangan terutama bagi masyarakat di daerah pedesaan dan sektor usaha kecil. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diatur dalam UndangUndang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, menempatkan BPR sebagai salah satu pilar penting dalam sistem perbankan Indonesia. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) lebih terbatas pada komunitas tertentu, terutama di daerah pedesaan yang kurang terlayani oleh bank umum (Lubis & Tipa, 2. Sektor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menghadapi sejumlah tantangan serius. Pada awal tahun 2024, terjadi fenomena kebangkrutan di sektor Bank Perkreditan Rakyat (BPR), 12 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mengalami kesulitan keuangan yang berujung pada pencabutan izin usaha oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Disebabkan oleh kelemahan dalam manajemen dan integritas internal yang menyebabkan bank-bank tersebut berada dalam kondisi tidak sehat (CNBC Indonesia, 2. Menekankan pentingnya analisis kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) secara mendalam terutama melalui laporan keuangan yang menjadi indikator kinerja bank, salah satunya adalah Return On Asset (ROA), yang mencerminkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh bank dari aset yang dimilikinya. Dalam penelitian ini, tiga faktor diduga mempengaruhi adalah Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio & Banking Ratio. Berikut data mengenai rata-rata nilai Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio & Banking Ratio terhadap Return On Asset di Jawa Tengah tahun 2019-2023. Tabel 1. Rata-rata nilai Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio. Banking Ratio dan Return On Asset di Jawa Tengah tahun 2019-2023 Tahun Leverage Interest Banking Return On Multiplier Expense Ratio Ratio Asset 8,39x 0,27% 9,7% 2,74% 8,87x 0,34% 8,9% 2,62% 9,82x 0,17% 15,4% 2,50% 8,42x 0,18% 17,2% 2,46% 7,84x 0,24% 23,8% 2,32% Sumber : Data diolah peneliti, 2024 Leverage Multiplier adalah analisis tidak langsung mengenai penggunaan utang perusahaan untuk membiayai total aset yang dimiliki. Rata-rata nilai dari rasio Leverage Multiplier menunjukan kenaikan dari tahun 2019 hingga 2021, namun mulai mengalami penurunan pada tahun 2022 dan 2023. Penurunan ini menunjukan adanya ketidakselarasan, yang dimana pada tahun 2022-2023 Leverage Multiplier mengalami penurunan tetapi tidak diikuti dengan kenaikan Return On Asset (ROA). Maka terjadi fenomena pada Leverage Multiplier karena tidak selaras dengan pernyataan (Satria, 2. bahwa jika Leverage Multiplier menurun maka Return On Asset (ROA) meningkat. Adanya research gap penelitian oleh Satria . menunjukkan bahwa Leverage Multiplier berpengaruh positif signifikan yang artinya variabel Leverage Multiplier memiliki dampak yang kuat dan konsisten terhadap Return On Asset (ROA). Interest Expense Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya biaya bunga yang harus dibayar oleh bank kepada deposan dibandingkan dengan total deposito yang ada di bank. Rata-rata Interest Expense Ratio mengalami fluktuasi. Rasio ini mengalami kenaikan dari 2019 ke 2020, mengalami penurunan di 2021, dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2022 hingga 2023. Menurut (Suputra, 2. jika Interest Expense Ratio naik, maka Return On Asset (ROA) akan turun, karena perusahaan menghabiskan lebih banyak pendapatannya untuk membayar bunga atas utangnya. Jika Interest Expense Ratio menurun, maka Return On Asset (ROA) naik. Karena perusahaan mengeluarkan lebih sedikit biaya untuk membayar bunga utang dan lebih banyak sisa keuntungan dari pendapatan operasional yang pada akhirnya meningkatkan Return On Asset (ROA). Terdapat penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Suputra, 2. menunjukkan bahwa Interest Expense Ratio tidak berpengaruh dan tidak signifikan karena perubahan dalam biaya bunga yang dibayar perusahaan tidak mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Banking Ratio adalah rasio untuk mengukur tingkat likuiditas bank. Rata-rata dari Banking Ratio menunjukan penurunan dari 2019-2020 dan mengalami kenaikan pada tahun Menurut (Ruwanti, 2. jika Banking Ratio naik, maka Return On Asset (ROA) Jadi, meskipun Banking Ratio meningkat dan dapat menghasilkan pendapatan lebih tinggi tetapi risiko yang menyertainya bisa mempengaruhi laba bersih pada akhirnya menekan Return On Asset (ROA). Namun, jika Banking Ratio menurun, maka Return On Asset (ROA) bisa naik atau tetap, tergantung pada bagaimana bank menyesuaikan strateginya untuk meningkatkan profitabilitas. Penelitian terdahulu oleh (Ruwanti, 2. mengenai Banking Ratio menyatakan bahwa Banking Ratio berpengaruh yang artinya memiliki hubungan searah terhadap variabel Return On Asset (ROA) karena banking rationya (Liabilita. dikelola dengan baik yang dapat meningkatkan ROA. Return On Asset mengalami penurunan dari periode 2019-2023. Penurunan Return On Asset (ROA) ini menjadi indikator kinerja bank yang kurang baik, karena menunjukkan bahwa pengembalian atas aset yang diinvestasikan semakin menurun. Hal ini dapat menjadi sinyal bagi para pemangku kepentingan bahwa strategi manajemen bank perlu ditinjau kembali untuk meningkatkan profitabilitas. Rumusan masalah yang dirumuskan . Bagaimana Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio, dan Banking Ratio berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) baik parsial maupun secara simultan? KERANGKA TEORITIS DAN STUDI EMPIRIS Teori Perbankan Menurut Vives. Xavier . , mendefinisikan teori perbankan dalam bukunya Competition and Stability in Banking. Teori ini merupakan analisis tentang interaksi antara kebijakan regulasi, stabilitas keuangan, dan kompetisi di pasar perbankan. Bagaimana regulasi mempengaruhi fungsi bank dalam sistem keuangan. Teori perbankan mencakup berbagai aspek penting dari operasional perbankan. Elemen tersebut termasuk manajemen risiko, intermediasi keuangan, regulasi, dan hubungan antara bank dan Elemen tersebut termasuk manajemen risiko, intermediasi keuangan, regulasi, dan hubungan antara bank dan nasabah. Berikut adalah beberapa elemen dari teori a. Likuiditas dan Solvabilitas Elemen ini berfokus pada kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya. Manajemen Risiko Elemen ini mencakup cara bank mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko. Risiko yang dimaksud termasuk risiko kredit, operasional, pasar, dan likuiditas. Intermediasi Keuangan Peran bank sebagai perantara antara pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana menjadi fokus elemen ini. Mohan dan G. Elangovan . dalam Banking: Theory and Practice menjelaskan bahwa fungsi intermediasi adalah inti dari operasi bank, yang mencakup penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan penyalurannya dalam bentuk kredit. Kepercayaan dan Stabilitas Sistem Keuangan Elemen ini menjelaskan pentingnya kepercayaan nasabah terhadap sistem perbankan dalam menjaga stabilitas keuangan. Teori Agency Teori keagenan pertama kali diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling . Teori ini merupakan salah satu teori utama yang digunakan untuk memahami hubungan kontraktual antara principal . dan agent . Dalam konteks perbankan, principal diidentifikasi sebagai investor, sementara agent adalah manajer bank yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset bank. Merupakan beberapa kajian dan Arwani . dalam bukunya Grand Theory: Esensi Ilmu Sosial dan Ekonomi menyatakan bahwa konflik kepentingan sering kali muncul ketika manajemen bank, yang bertindak sebagai agen, memiliki akses ke informasi yang lebih luas dibandingkan Hal ini dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan investor. Penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governanc. di sektor perbankan bertujuan untuk memitigasi risiko yang terkait dengan konflik ini. Teori keagenan dapat diterapkan dalam konteks perbankan untuk memahami hubungan antara investor dan manajer bank. Return On Asset (ROA) Return On Asset (ROA) adalah rasio untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Return On Assets (ROA) memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan efektivitas manajemen dalam memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan pendapatan. Rumus menghitung Return On Asset (ROA): Laba Bersih ROA = ycu 100% Total Asset Leverage Multiplier (LM) Leverage Multiplier adalah analisis tidak langsung mengenai penggunaan utang perusahaan untuk membiayai total aset yang dimiliki. Rasio menggambarkan nilai seluruh aset dibandingkan dengan nilai ekuitas perusahaan, yang dihitung membandingkan total aset dengan total ekuitas yang dimiliki. Semakin tinggi Leverage Multiplier semakin perusahaan bergantung pada utang untuk membiayai asetnya. Rumus menghitung Leverage Multiplier (LM): Total Aset yayceycyceycycayciyce ycAycycoycycnycyycoycnyceyc = ycu 100% Total Ekuitas Interest Expense Ratio (IER) Interest Expense Ratio atau Rasio Beban Bunga merupakan ukuran biaya dana yang dihimpun oleh bank dan dapat menunjukkan efisiensi bank dalam mengelola sumber Rumus menghitung Interest Expense Ratio (IER): yaycuycyceycyceycyc yaycuycyyceycuycyce ycIycaycycnycu = yaycuycyceycyceycyc yaycuycyyceycuycyce ycu 100 Total Deposito Banking Ratio (BR) Banking ratio adalah rasio untuk mengukur tingkat likuiditas bank yang banyak digunakan dan mencerminkan sifat kegiatan bank secara lebih murni. Semakin tinggi rasio ini, tingkat likuiditas bank akan semakin kecil karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit meningkat. Rumus menghitung Banking Ratio (BR) : Total Liabilitas yaAycaycuycoycnycuyci ycIycaycycnycu = ycu 100% Total Deposito Hubungan Leverage Multiplier dengan Return On Asset Menurut Satria . Leverage Multiplier berpengaruh positif signifikan terhadap Return On Asset (ROA) yang artinya bahwa variabel Leverage Multiplier memiliki dampak yang kuat dan konsisten terhadap Return On Asset (ROA) dan pengaruh tersebut cukup besar atau jelas secara statistik. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik hipotesis H1: Diduga Leverage Multiplier Berpengaruh Terhadap Return On Asset (ROA). Hubungan Interest Expense Ratio dengan Return On Asset Menurut (Suputra, 2. menunjukkan bahwa Interest Expense Ratio tidak berpengaruh dan tidak signifikan karena perubahan dalam biaya bunga yang dibayar perusahaan tidak mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dan peneliti akan mengkaji kembali mengenai Interest Expense Ratio terhadap Return On Asset (ROA). Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik hipotesis yaitu: H2: Interest Expense Ratio Berpengaruh Terhadap Return On Asset (ROA). Hubungan Banking Ratio dengan Return On Asset Menurut Ruwanti . mengenai Banking Ratio menyatakan bahwa Banking Ratio berpengaruh yang artinya memiliki hubungan searah terhadap variabel Return On Asset (ROA) karena banking rationya (Liabilita. dikelola dengan baik dapat meningkatkan ROA. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik hipotesis dalam penelitian ini yaitu: H3: Banking Ratio Berpengaruh Terhadap Return On Asset (ROA). Hubungan Leverage Multiplier. Intetrest Expense Ratio dan Banking Ratio terhadap Return On Asset (ROA) Semakin tinggi leverage multiplier, semakin besar potensi untuk meningkatkan Return On Asset karena perusahaan dapat mengoptimalkan aset untuk menghasilkan laba. Interest Expense Ratio yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki utang besar, yang dapat mengurangi laba bersih dan menurunkan Return On Asset. Semakin efisien sebuah bank, semakin besar Banking Ratio kemungkinan untuk meningkatkan laba, yang dapat meningkatkan Return On Asset. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik hipotesis yaitu: H4: Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio, dan Banking Ratio Berpengaruh Terhadap Return On Asset (ROA). METODE PENELITIAN Metode penelitian ini memiliki karakter yang spesifik, yaitu: Berbasis data sekunder terstandarisasi dari laporan keuangan, menggunakan sampel jenuh seluruh BPR dalam wilayah Jawa Tengah tahun dan periode tertentu, menggabungkan dua dimensi data melalui teknik regresi data panel. Berfokus pada deskripsi empiris yang objektif dan Hal ini membedakannya dari penelitian kualitatif, survei, eksperimen, studi kasus, maupun penelitian kuantitatif lain yang hanya memakai cross section atau time HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis regresi data panel didasarkan pada penentuan model estimasi regresi dari data yang diolah menggunakan eviews versi 13 dengan hasil estimasi yang diperoleh yaitu menggunakan Random Effect Model (REM). Tabel 2 Dibawah ini menunjukan hasil persamaan regresi data panel dalam penelitian ini Tabel 2. Hasil Uji Regresi Data Panel Variabel Koefisien Std. Error t-Statistic Prob IER Ae3. Sumber: Eviews 13 . ata diola. Diketahui bahwa rumus dari persamaan regresi data panel dengan random effect model sebagai berikut: Yit= 1LMit 2IERit 3BRit Ait Yit = 3. 5070 - 0. 0087 (LM) 0. 0177(IER) - 0. 0428(BR) Ait Hasil Uji Hipotesis Uji t ini digunakan untuk menguji pengaruh antara seluruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Berdasarkan hasil analisis regresi data panel. Dibawah ini menunjukan kesimpulan dari hasil uji t Tabel 3. Hasil Uji t Variabel t-Statistic t-tabel Prob IER Keterangan Tidak Tidak Berpengaruh Negatif Sumber : Eviews 13 . ata diola. Uji F digunakan untuk menguji pengaruh antara seluruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan. Berdasarkan hasil analisis regresi data panel. Tabel 4. hasil uji F Variabel LM. IER, dan BR berpengaruh terhadap ROA F-Statistic t-tabel Prob Keterangan Berpengaruh Sumber : Eviews 13 . ata diola. Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil F-Statistic menunjukkan nilai sebesar 4. 154136 dan nilai F-tabel sebesar 2,117 hal ini menunjukkan bahwa nilai F- F-Statistic lebih besar dari F-tabel sehingga artinya Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio, dan Banking Ratio secara simultan atau serentak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset. Sedangkan pada hasil prob (F-Statisti. menunjukkan nilai sebesar 0. 002074 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Maka hal tersebut menunjukkan bahwa variabel Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio, dan Banking Ratio secara simultan, serentak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset pada perusahaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jawa Tengah tahun 2019-2023. Tabel 5. Koefisien Determinasi Model R-Square Adjust R Square Std. Error of the Estimate Sumber : Eviews 13 . ata diolah penelit. Tabel 5. diatas menunjukkan bahwa nilai Adjusted R-Square sebesar 0. 705 menunjukkan bahwa 70,5% variasi ROA dapat dijelaskan oleh LM. IER, dan BR, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain di luar model. Pembahasan Pengaruh Leverage Multiplier terhadap ROA. Hasil uji t menunjukkan bahwa LM tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA. Probabilitas sebesar 0. 898>0. serta nilai t-statistic -0. 127<1. 663 t-tabel, sehingga perubahan LM tidak terbukti memengaruhi kemampuan BPR menghasilkan laba. Diskusi Teoritis. Hasil ini selaras dengan penelitian terbaru yang menyatakan bahwa leverage perbankan daerah tidak selalu berkorelasi kuat dengan profitabilitas ketika kualitas aset tidak stabil. Studi oleh Rerung . dan Satria . menemukan bahwa leverage tingkat tinggi tanpa manajemen risiko yang memadai tidak mendukung peningkatan ROA, terutama pada bank skala kecil. Menurut teori Agency (Jensen & Meckling, 1. , leverage dapat meningkatkan tekanan biaya keagenan jika bank tidak mampu menggunakan dana berbasis utang secara produktif. Kondisi ini sangat mungkin terjadi pada BPR yang menghadapi keterbatasan kapasitas ekspansi kredit. Implikasi Teknis. BPR perlu memastikan bahwa setiap peningkatan leverage diikuti peningkatan kualitas aset Penguatan manajemen risiko kredit harus dilakukan untuk menjaga efektivitas penyaluran dana. Perlu ada evaluasi berkala terkait kecukupan modal dan struktur pendanaan agar leverage tidak membebani kinerja jangka panjang. Pengaruh Interest Expense Ratio terhadap ROA. Interest Expense Ratio juga tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Dimana nilai t-statistic 0. 353 < t-tabel 1. serta nilai Probabilitas 0. 724 < 0. Implikasi Teknis. BPR perlu memperbaiki struktur Dana Pihak Ketiga agar biaya bunga lebih efisien. Diversifikasi sumber pendanaan diperlukan agar tidak bergantung pada deposito berbiaya tinggi. Digitalisasi layanan tabungan dapat menurunkan cost of fund jangka panjang. Temuan ini mendukung hasil penelitian Suputra . yang menunjukkan bahwa beban bunga bukan faktor dominan penentu profitabilitas pada lembaga keuangan kecil karena margin bunga bersih lebih dipengaruhi oleh kualitas aset produktif dan efisiensi operasional. Literatur perbankan modern menegaskan bahwa struktur biaya bunga lebih berpengaruh pada bank umum skala besar (Vives, 2. Pada BPR, porsi pendapatan bunga relatif lebih stabil sehingga sensitivitasnya terhadap biaya bunga menjadi lebih kecil. Pengaruh Banking Ratio terhadap ROA. Banking Ratio terbukti berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t-statistic -1. 718 > 1. t-tabel, serta nilai probabilitas 0. 001 <0. Implikasi Teknis. BPR perlu memperkuat proses analisis kelayakan kredit, terutama pada sektor UMKM berisiko tinggi. Penerapan early warning system dapat mengurangi lonjakan kredit bermasalah. Pengelolaan likuiditas perlu diperbaiki agar tidak terjadi tekanan likuiditas yang menurunkan ROA. Hasil ini konsisten dengan penelitian Ruwanti . dan Lubis & Tipa . yang menyatakan bahwa peningkatan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga dapat menurunkan ROA jika risiko kredit tidak terkendali. Secara teoritis, tingginya banking ratio mencerminkan agresivitas penyaluran kredit. Namun tanpa mitigasi risiko yang kuat, kondisi tersebut dapat menurunkan profitabilitas karena kenaikan NPL dan biaya cadangan kerugian kredit (Mohan & Elangovan, 2. Pengaruh Simultan LM. IER, dan BR terhadap ROA. Hasil uji F-Statistic 4. > 2. 117 F-tabel, sedangkan hasil Prob (F-statisti. menunjukan nilai sebesar 0. 002 < 0,05. Leverage Multiplier (LM). Interest Expense Ratio (IER) dan Banking Ratio (BR) Secara Bersama-sama (Simulta. berpengaruh signifikan terhadap ROA. Hal ini menegaskan bahwa struktur pendanaan, efisiensi biaya, dan kualitas kredit saling berinteraksi dalam menentukan profitabilitas BPR. Temuan ini sesuai dengan prinsip CAMEL dan penelitian Arwani . yang menyatakan bahwa kinerja bank dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal yang berjalan bersama, bukan oleh satu faktor secara terpisah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Leverage Multiplier tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Return on Asset sehingga perubahan dalam struktur leverage tidak secara langsung berdampak pada kemampuan BPR menghasilkan laba. Interest Expense Ratio juga tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, sehingga fluktuasi beban bunga belum menjadi faktor penentu kinerja keuangan. Sebaliknya. Banking Ratio terbukti berpengaruh negatif signifikan terhadap Return on Asset, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat penyaluran kredit terhadap dana yang dihimpun semakin tinggi pula tekanan yang muncul terhadap profitabilitas akibat meningkatnya risiko kredit atau pengelolaan likuiditas yang kurang efisien. Meskipun secara parsial hanya Banking Ratio yang berpengaruh signifikan, ketiga variabel terbukti memiliki pengaruh signifikan ketika diuji secara simultan sehingga keseluruhan struktur pendanaan, biaya bunga, dan kualitas penyaluran kredit tetap berperan penting dalam menentukan tingkat profitabilitas BPR di Jawa Tengah. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah variabel yang diteliti, karena hanya mencakup Leverage Multiplier. Interest Expense Ratio, dan Banking Ratio sehingga masih banyak faktor lain seperti kualitas aset, efisiensi operasional, risiko kredit, dan kondisi makroekonomi yang belum dianalisis. Selain itu, penelitian ini hanya menggunakan data sekunder yang bergantung pada kualitas laporan keuangan BPR serta terbatas pada cakupan wilayah Jawa Tengah dan periode lima tahun sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi untuk wilayah lain atau periode yang lebih panjang. Saran Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel seperti NonPerforming Loan. BOPO. Net Interest Margin, dan rasio risiko lain agar model lebih komprehensif dalam menjelaskan profitabilitas BPR. Perluasan wilayah penelitian dan penambahan periode observasi dapat meningkatkan validitas eksternal hasil penelitian. Penggunaan metode analisis yang lebih kompleks seperti data panel dinamis juga dapat memberikan hasil yang lebih akurat. Bagi industri BPR, diperlukan penguatan manajemen risiko, peningkatan efektivitas penyaluran kredit, dan pengelolaan biaya bunga serta leverage secara lebih efisien agar profitabilitas tetap terjaga. DAFTAR PUSTAKA