Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . Penerapan Sanitasi Ramah Lingkungan pada Rumah Panggung di Wilayah Pedesaan Sulawesi Barat Rahmansah1. Bakhrani A. Rauf2. Andi Yusdi Dwiasta R3. Irma Aswani Ahmad4. Armiwaty5 Fakultas Teknik. Universitas Negeri Makassar1,3,4,5 Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar2 Email: rahmansah@unm. Abstrak. Rumah panggung sebagai warisan arsitektur tradisional Indonesia banyak ditemukan di wilayah pedesaan, termasuk di Sulawesi Barat. Meskipun bentuk dan konstruksinya sesuai dengan kondisi geografis setempat, rumah ini kerap kali belum dilengkapi dengan fasilitas sanitasi yang Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membangun jamban keluarga yang sehat dan ramah lingkungan di rumah panggung. Kegiatan dilakukan melalui tahapan persiapan, edukasi dan pelatihan, pembuatan jamban, serta monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam membangun dan mengelola sanitasi berbasis rumah tangga yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara mandiri. Partisipasi aktif masyarakat dan dukungan pemerintah desa menjadi faktor kunci keberhasilan kegiatan ini Kata Kunci: Sanitasi. Rumah Panggung. Ramah Lingkungan. Jamban Keluarga. Pemberdayaan Masyarakat PENDAHULUAN Rumah panggung merupakan salah satu warisan arsitektur tradisional di Indonesia yang banyak ditemukan di wilayah pedesaan. Meskipun desainnya telah terbukti efektif dalam menghadapi kondisi geografis tertentu, seperti banjir dan iklim tropis, fasilitas sanitasi keluarga di rumah panggung sering kali belum memadai, khususnya jamban keluarga. Banyak masyarakat masih menggunakan jamban tradisional yang tidak memenuhi standar kesehatan atau bahkan tidak memiliki jamban sama sekali. Hal ini berdampak pada pencemaran lingkungan serta meningkatkan risiko penyakit berbasis air seperti diare, tifus, dan cacingan, yang sering ditemukan pada wilayah dengan sanitasi buruk (WHO, 2018. Kementerian Kesehatan RI, 2. Rumah panggung merupakan tradisional yang umum dijumpai di Sulawesi Barat, khususnya di daerah pedesaan. Rumah panggung biasanya terbuat dari kayu dengan konstruksi panggung yang tinggi dari tanah untuk melindungi rumah dari banjir, binatang liar, dan serangan serangga. Atap rumah panggung umumnya terbuat dari daun rumbia dirapatkan, sirap kayu, seng gelombang, atau aluminium. Dinding rumah panggung terbuat dari kayu, bambu, atau anyaman kulit pelapah rumbia. Lubang-lubang kecil ditempatkan untuk ventilasi Lantai rumah panggung terbuat dari bambu dan papan kayu yang diletakkan di atas konstruksi panggung (Sutanto, 2005. Rapoport, 1. Rumah panggung umumnya memiliki ruang tamu atau ruang keluarga di bagian bawah, sementara ruang tidur dan dapur sering kali berada di lantai atas. Tantangan utama dalam sanitasi rumah panggung adalah sistem konstruksi yang pembuangan limbah yang memadai. Beberapa rumah belum dilengkapi dengan toilet yang layak atau sistem pengolahan limbah domestik yang ramah lingkungan. Rumah panggung biasanya dihuni oleh keluarga besar atau beberapa keluarga dalam satu lingkungan dekat, yang memperburuk risiko pencemaran bila sanitasi tidak ditangani dengan baik (Adisasmito, 2. Pengelolaan limbah domestik, terutama yang terkait dengan jamban keluarga, menjadi tantangan besar. Sebagian besar limbah manusia dibuang langsung ke saluran air, tanah terbuka, atau sungai, yang menyebabkan pencemaran Selain itu, keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya jamban yang sehat dan ramah lingkungan sering kali menjadi penghambat dalam implementasi sistem sanitasi yang memadai. Faktor ekonomi juga memainkan peran penting, karena banyak keluarga tidak mampu membangun atau memperbaiki fasilitas Penerapan Sanitasi Ramah Lingkungan pada Rumah Panggung. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . jamban sesuai standar kesehatan (Pratiwi, 2016. Syafrudin, 2. Permasalahan yang dihadapi Masyarakat dalam menyediakan sanitasi ramah lingkungan pada rumah panggung adalah: Kurangnya pengetahuan tentang bahan dan alat yang dibutuhkan dalam menyediakan jamban keluarga yang ramah lingkungan pada rumah Kurangnya pengetahuan tentang konstruksi jamban keluarga yang ramah lingkungan pada rumah panggung. Kurangnya keterampilan membuat konstruksi jamban keluarga yang ramah lingkungan pada rumah panggung. METODE PELAKSANAAN Metode ditawarkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Masyarakat dalam menyediakan sanitasi ramah lingkungan pada rumah panggung dilakukan dengan tahapan senagai berikut: Tahap Persiapan Survey Lokasi Dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi rumah panggung, fasilitas sanitasi yang ada, dan kebutuhan masyarakat terkait jamban keluarga. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan masyarakat, dan diskusi dengan tokoh lokal. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana kerja dibuat berdasarkan hasil survei, mencakup pemilihan desain jamban sehat yang sesuai dengan kondisi lokal, penggunaan material lokal, dan anggaran biaya. Edukasi dan Sosialisasi Penyuluhan Sanitasi Dilaksanakan kepada masyarakat tentang pentingnya jamban sehat, dampak buruk sanitasi yang tidak memadai, dan cara mengelola limbah rumah tangga secara ramah lingkungan. Penyuluhan dilakukan dalam bentuk diskusi Memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang bahan dan alat yang dibutuhkan dalam menyediakan jamban keluarga yang ramah lingkungan pada rumah panggung dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Pelatihan Pembuatan Jamban Sehat Masyarakat dilibatkan dalam pelatihan teknis membangun jamban sehat, termasuk instalasi septik tank sederhana. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sehingga dapat membangun atau memperbaiki jamban mereka secara mandiri. Memberikan pelatihan tentang konstruksi jamban keluarga yang ramah lingkungan pada rumah panggung dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Pelaksanaan Pembuatan Jamban Pembangunan Jamban Demonstrasi Dibangun jamban percontohan di salah satu rumah panggung yang dipilih sebagai model. Jamban ini dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah seperti septik tank ramah lingkungan. Pendampingan Pembangunan Jamban Keluarga Pendampingan diberikan kepada keluarga yang berkomitmen untuk membangun jamban sehat di rumah mereka. Tim pendamping membantu dalam proses konstruksi, mulai dari pemilihan material hingga instalasi. Praktik pembuatan konstruksi jamban keluarga yang ramah lingkungan pada rumah panggung dengan metode demonstrasi dan tanya jawab. Monitoring dan Evaluasi Monitoring Dilakukan untuk memastikan keberlanjutan penggunaan dan pemeliharaan jamban yang telah Tim akan memantau kebiasaan masyarakat dalam menggunakan fasilitas jamban. Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak kegiatan, baik dari segi peningkatan kesadaran masyarakat, jumlah jamban yang terbangun, maupun perbaikan kualitas lingkungan. Hasil evaluasi ini akan digunakan sebagai dasar untuk perbaikan program di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim pelaksana melaksanakan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan praktis dalam menyediakan jamban keluarga yang ramah lingkungan, sesuai dengan kebutuhan rumah panggung di daerah tersebut. Penyuluhan dimulai dengan pemaparan materi tentang pentingnya sistem sanitasi yang baik untuk kesehatan dan lingkungan. Dijelaskan bahwa jamban yang ramah lingkungan tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Konsep dasar yang diperkenalkan meliputi sistem sanitasi pada rumah Penerapan Sanitasi Ramah Lingkungan pada Rumah Panggung. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . panggung closet jongkok bahan fiber, septic tank sederhana dengan teknologi lokal, dan pengelolaan limbah cair agar tidak mencemari sumber air tanah. Dalam pelatihan, masyarakat diperkenalkan pada berbagai bahan yang dapat digunakan untuk membangun jamban ramah lingkungan, seperti: kayu, bambu, dan batu yang tersedia di lingkungan sekitar untuk mendukung konstruksi rumah panggung, . material tambahan: Bata, semen, pasir, dan pipa PVC untuk sistem pembuangan limbah, . komponen teknologi sanitasi: Bak penampung limbah dengan closet jongkok bahan fiber sederhana, yang dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan. Selain bahan, masyarakat juga diajarkan menggunakan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan, seperti cangkul, sekop, gergaji, palu. Penggunaan didemonstrasikan dalam sesi praktik langsung, di mana masyarakat diajak untuk menggali lubang untuk septic tank, merangkai pipa pembuangan, dan memasang sistem closet jongkok bahan fiber. Pelatihan berlangsung secara partisipatif, dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam setiap tahapan. Pendekatan ini bertujuan agar mereka tidak hanya memahami konsep tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara mandiri di rumah masing-masing. Selama sesi praktik, masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi, dengan banyak yang mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan untuk menyesuaikan desain jamban dengan kebutuhan rumah panggung Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya sanitasi yang baik dan kemampuan mereka untuk membangun jamban keluarga ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Beberapa rumah panggung telah berhasil memiliki prototipe jamban yang berfungsi sesuai dengan konsep yang diajarkan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu menyebarkan pengetahuan ini keberlanjutan program dapat terjaga. Dengan keberhasilan kegiatan ini, masyarakat setempat mendapatkan manfaat tidak hanya dari sisi kesehatan tetapi juga dari peningkatan kualitas Partisipasi Mitra Keberhasilan pelaksanaan kegiatan Penerapan Sanitasi Ramah Lingkungan pada Rumah Panggung tidak terlepas dari peran aktif mitra masyarakat yang terlibat dalam setiap tahapan Mitra yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi kelompok masyarakat setempat, tokoh masyarakat, dan perangkat desa yang memberikan dukungan penuh sejak tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Pada tahap awal, mitra masyarakat turut dilibatkan dalam proses identifikasi kebutuhan dan potensi yang ada di lingkungan mereka. Melalui diskusi kelompok terarah . ocus group discussion/FGD), mitra memberikan informasi mengenai kondisi sanitasi yang ada, tantangan yang dihadapi, serta harapan terhadap solusi yang akan diterapkan. Masukan dari mitra sangat membantu dalam menyusun desain sistem sanitasi ramah lingkungan yang sesuai dengan karakteristik rumah panggung dan kondisi sosialbudaya masyarakat. Mitra masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan penyuluhan dan pelatihan Partisipasi mereka mencakup: . meningkatkan pemahaman tentang pentingnya sanitasi ramah lingkungan, . berperan aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman terkait sanitasi di rumah panggung, . membantu menyiapkan lokasi dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan pelatihan, seperti material lokal . ambu, kayu, bat. dan alat-alat sederhana, dan . mengikuti praktik langsung pemasangan sistem jamban ramah lingkungan, mulai dari penggalian septic tank, hingga instalasi pipa. Mitra masyarakat berperan besar dalam menyediakan sebagian bahan dan alat yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program. Beberapa kontribusi mitra meliputi: . pengadaan material lokal seperti kayu dan bambu yang digunakan dalam pembangunan jamban, . penyediaan alatalat kerja sederhana seperti cangkul, sekop, dan ember untuk keperluan praktik, . dukungan logistik selama kegiatan berlangsung, termasuk menyediakan tempat pelatihan dan fasilitas pendukung lainnya. Setelah program selesai dilaksanakan, mitra masyarakat turut serta dalam proses evaluasi untuk menilai keberhasilan kegiatan. Mereka memberikan umpan balik terkait efektivitas sistem menyampaikan rekomendasi untuk perbaikan atau pengembangan lebih lanjut. Selain itu, beberapa mitra berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan Penerapan Sanitasi Ramah Lingkungan pada Rumah Panggung. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . program dengan cara: . membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada anggota komunitas lainnya, . mendorong penerapan sistem jamban ramah lingkungan di rumah-rumah yang belum terjangkau oleh program, . menginisiasi kelompok kerja untuk melakukan perawatan dan pengembangan sistem sanitasi di wilayah mereka. Partisipasi aktif mitra tidak hanya mempercepat proses implementasi program tetapi juga meningkatkan rasa kepemilikan terhadap hasil kegiatan. Dengan keterlibatan mereka, program ini menjadi lebih relevan dengan kebutuhan lokal dan memiliki peluang besar untuk berkelanjutan di masa depan. Gambar 1. Dokumentasi Pelatihan Pembuatan Jamban Keluarga Pelaksanaan Pelatihan Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan tahap persiapan, yang mencakup survei lokasi untuk mengidentifikasi kondisi eksisting rumah panggung dan permasalahan sanitasi yang dihadapi masyarakat. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan warga, dan diskusi bersama tokoh masyarakat serta perangkat desa. Selanjutnya dilakukan penyuluhan dan pentingnya sanitasi yang sehat dan cara membangun jamban ramah lingkungan. Materi edukasi mencakup: Bahaya sanitasi buruk terhadap kesehatan. Prinsip dasar jamban sehat. Pemanfaatan bahan lokal seperti kayu, bambu, dan batu. Penggunaan closet jongkok berbahan fiber, dan instalasi septic tank ramah lingkungan. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek langsung pembuatan prototipe jamban di salah satu rumah panggung sebagai model. Masyarakat diajak berpartisipasi aktif, mulai dari penggalian lubang septic tank, pemasangan pipa, hingga penempatan sistem sanitasi. Pelatihan dilakukan secara partisipatif dan kontekstual agar masyarakat dapat menerapkannya sendiri di rumah masing-masing. Gambar 2. Dokumentasi Pembuatan Jamban Keluarga pada Rumah Panggung Selain pembangunan fisik, dilakukan juga pendampingan teknis kepada warga yang berkomitmen melanjutkan pembangunan jamban sehat di rumah mereka. Tim pelaksana memberikan arahan selama proses konstruksi, serta membantu dalam pemilihan bahan dan desain sesuai kebutuhan lokal. Tahap akhir kegiatan adalah monitoring dan Monitoring dilakukan untuk memastikan fasilitas jamban yang telah dibangun digunakan dan dirawat dengan baik. Evaluasi dilakukan untuk menilai peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, serta dampak program terhadap kualitas lingkungan. Kegiatan kesadaran, pengetahuan, serta kemampuan teknis masyarakat dalam mengelola sanitasi rumah tangga secara mandiri dan berkelanjutan, serta memperkuat gotong royong dan kemandirian desa dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Penerapan Sanitasi Ramah Lingkungan pada Rumah Panggung. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . Pembahasan Sanitasi yang buruk di rumah panggung bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, dan budaya. Banyak masyarakat pedesaan, khususnya di Sulawesi Barat, hidup dalam kondisi terbatas yang membuat mereka sulit mengakses fasilitas sanitasi yang layak. Rumah panggung yang secara arsitektural disesuaikan dengan kondisi iklim dan geografis lokal ternyata memiliki keterbatasan dalam integrasi sistem sanitasi modern, seperti septic tank. Hal ini mengakibatkan praktik buang air besar sembarangan (BABS) masih umum ditemukan dan menjadi penyumbang utama pencemaran lingkungan (WHO, 2018. Kemenkes RI, 2. Penerapan jamban ramah lingkungan berbasis septic tank sederhana memberikan alternatif solusi yang adaptif terhadap karakteristik rumah Teknologi ini dapat dipasang di ruang kolong rumah dengan efisiensi ruang dan biaya yang rendah. Penggunaan material lokal seperti bambu, kayu, dan batu bukan hanya memperkecil pembangunan berkelanjutan (Pratiwi, 2. Pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal dan prinsip gotong royong yang kuat di komunitas pedesaan. Partisipasi aktif masyarakat dalam pelatihan dan pembangunan jamban menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif menjadi kunci utama keberhasilan program. Kegiatan penyuluhan yang diikuti dengan praktik langsung mampu persepsi masyarakat pentingnya sanitasi sehat. Ini memperkuat temuan Adisasmito . bahwa intervensi perilaku berbasis edukasi lebih efektif dibanding hanya penyediaan infrastruktur. Meski demikian, tantangan tetap ada. Beberapa rumah panggung yang berada di lokasi terpencil sulit dijangkau, dan keterbatasan anggaran membatasi jumlah unit jamban yang dapat dibangun. Selain itu, resistensi sebagian masyarakat terhadap perubahan, terutama yang sudah terbiasa dengan sistem sanitasi lama, menjadi hambatan dalam implementasi program secara menyeluruh. Oleh karena itu, perlu ada penguatan kelembagaan lokal atau kelompok kerja desa untuk memastikan keberlanjutan dan replikasi program. Dengan demikian, program ini membuktikan bahwa solusi sanitasi yang tepat guna, berbasis lokal, dan dilakukan secara partisipatif memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa menghilangkan arsitektur tradisional rumah panggung. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Peningkatan membangun jamban ramah lingkungan terbukti efektif melalui pendekatan dan partisipatif, dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Penerapan sanitasi ramah lingkungan meningkatkan kualitas hidup serta pentingnya sanitasi sehat. Partisipasi aktif masyarakat dan dukungan pemerintah desa menjadi faktor utama dalam keberhasilan dan keberlanjutan program sanitasi di wilayah pedesaan. Berdasarkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut: Perluasan program ke wilayah lain yang memiliki karakteristik rumah panggung serupa agar lebih banyak masyarakat mendapat manfaat dari sistem sanitasi ramah lingkungan. Pendampingan lanjutan dan pelatihan memastikan keberlanjutan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas jamban sehat. Perlu integrasi kebijakan lokal dan menjadikan sanitasi ramah lingkungan pembangunan berkelanjutan di tingkat DAFTAR PUSTAKA