JURNAL BIOLOGI PAPUA Vol 13. No 1. Halaman: 28Ae35 April 2021 ISSN 2086-3314 E-ISSN 2503-0450 DOI: 10. 31957/jbp. http://ejournal. id/index. php/JBP Pertumbuhan dan Perkembangan Protocorn Like Bodies (PLB) Anggrek Papua Dendrobium discolor dengan Perlakuan Auksin dan Sitokinin AGUSTRIANI WARPUR1,2. LINUS Y. CHRYSTOMO3*. SUHARNO3 1Mahasiswa Program Magister Biologi (S. Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih. Jayapura 2CV. Media Digital Jayapura Papua 3 Program Magister Biologi. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih. Jayapura Diterima: 29 Agustus 2020 Ae Disetujui: 18 Januari 2021 A 2021 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ABSTRACT Dendrobium could meet the demands of domestic and foreign consumers from time to time because of their very charming flower blossoms. Orchid flowers are attractive because of the variety their color, size, shape, composition, number of buds the blossom of flowers, especially for the color it is vary greatly. One of the potential Dendrobium Papua orchids is Dendrobium discolor. To fulfill the needs of Dendrobium orchids in pots or in peaces it is depend on the success of Protocorn Like Bodies (PLB) cultivation. The purpose of this study was to determine the growth and development of PLB cultivated in vitro on Vacint & Went (V&W) base media with a combination of different plant growth regulators. The method used was PLB cultivation with tissue culture techniques in vitro on V&W media with a factorial completely randomized design (CRD). The first factor was auxin treatment . ,4D) with 5 concentrations 1, 2, 3, and 4 ppm plus control . ithout plant growth regulator treatmen. While the second factor was cytokinin treatment with 5 concentrations 1, 2, 3, and 4 ppm plus 1 control . ithout plant growth regulator treatmen. Each treatment repeated 5 times, threfore, there are 125 treatment units in total 125 treatment units. The media used were Vacin and Went (VW). The variables measured were leaf length and the number of leaves per plantlet in each combination treatment of plant growth regulator (PGR) after one month of cultivation. Data were analyzed by using variance (ANOVA) to determine the The results of this study indicated that the combination treatment of auxin and cytokinin PGR in V&W media had a significant effect on the length and number of plantlets leaves and the most significant treatment was the combination of PGR auxin: cytokinin = 0:3 ppm. So it can be concluded that the best medium for PLB culture is a combination of PGR auxin: cytokinin = 0:3 ppm. with an average value of 3. 5 cm plantlet leaf length and number of 6 leaves per plantlet. Key words: Protocorn Like Bodies. tissue culture. V&W medium. PENDAHULUAN Dendrobium merupakan salah satu anggrek yang berpotensi untuk terus dikembangkan karena memiliki bentuk bunga, warna dan ukuran * Alamat korespondensi: Program Pascasarjana Biologi (S. FMIPA Universitas Cenderawasih. Jayapura. Kampus Uncen Waena. Jayapura. Papua. eAemail: chrysyanka@gmail. yang beragam. Anggrek Dendrobium dapat dijadikan sebagai bunga potong maupun bunga pot (Fandani et al. , 2. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, produksi anggrek potong tahun 2007 menduduki urutan ke 5 setelah bunga gladiol sebanyak 9. (Andalasari et al. , 2. Indonesia merupakan negara tropis dan memiliki kondisi lingkungan yang memenuhi syarat untuk menjamin kehidupan tanaman anggrek. Tanaman anggrek di WARPUR et al. Pertumbuhan dan Perkembangan PLB Dendrobium Indonesia diperkirakan sekitar 5. 000 jenis (Agustini et al. , 2013. Fandani, et al. , 2. Bunga anggrek genus Dendrobium mempunyai variasi karakter morfologi yang tinggi (Gambar . Saat ini bunga anggrek sudah menjadi bagian peradaban masyarakat moderen. FaktorAe faktor yang menyebabkan kebutuhan terhadap bunga anggrek kian meningkat seiring dengan banyaknya event-event penting. Kebutuhan bunga anggrek seperti karangan bunga, ucapan selamat dan rangkaian bunga meja di hotel, restoran, perkantoran dan di bank (Amarta, 2007. Sinar Tani, 2009. Kuntoro et al. , 2. Perbanyakan anggrek secara konvensional dapat dilakukan secara generatif menggunakan biji dan secara vegetatif menggunakan pemisahan tunas anak rumpun dari pangkal batang atau Perbanyakan bibit secara konvensional atau secara alami membutuhkan waktu yang sangat lama dan jumlahnya juga sedikit (Martin & Madassary, 2006. Kuswandi, 2. Perbanyakan bibit dalam jumlah banyak dapat dilakukan dengan teknik in vitro. Hingga saat ini perbanyakan anggrek secara in vitro terbukti lebih berkualitas dalam penyediaan bibit untuk waktu relatif cepat dalam jumlah banyak dan seragam. Keberhasilan perbanyakan anggrek secara in vitro ditentukan oleh banyak faktor, antara lain komposisi media yang digunakan. Komposisi media Vacin & Went (VW) merupakan komposisi media yang paling umum digunakan dalam perbanyakan anggrek secara in vitro (Yusnita. Perbanyakan anggrek melalui kultur biji tidak dapat dilakukan secara konvensional karena biji anggrek tidak mempunyai endosperm atau Tabel 1. Rancangan percobaan penelitian. Perlakuan Auksin ,4-D) cadangan makanan. Untuk perkecambahannya hanya bisa dilakukan pada medium buatan aseptik dengan teknik in vitro. Biji-biji anggrek yang ditabur akan berkecambah membentuk planlet-planlet kecil yang disebut Protocorn Like Bodies (PLB) selama 2-3 bulan, yang dikuti pembentukan plumula sebagai jaringan calon daun dan radikula sebagai jaringan calon akar (Amilah & Astuti, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi ZPT auksin dan sitokinin pada media perkembangan PLB jenis anggrek Papua Dendrobium discolor Lindley yang dibudidayakan dengan teknik kultur jaringan secara in vitro. Teknik penyediaan bibit anggrek ini akan menjadi salah satu cara dalam memenuhi kebutuhan bibit METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan (KJT) Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih. Jayapura. Penelitian dimulai sejak bulan Januari hingga Mei Desain Penelitian Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan dan perkembangan eksplan PLB jenis anggrek Papua D. discolor, dilakukan penelitian dengan metode eksperimen teknik kultur jaringan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor Sitokinin . Ket. : Masing-masing perlakuan dengan 5 kali ulangan. J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 28Ae35 menggunakan perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dan sitokinin konsentrasi 04 ppm (Tabel . Media yang digunakan untuk perlakuan ini adalah Vacin & Went (VW). MasingAemasing perlakuan dengan 5 ulangan, sehingga seluruhnya terdapat 125 satuan Parameter pertumbuhan yang diukur adalah panjang daun planlet dan jumlah daun per planlet setelah penanaman eksplan PLB 1 bulan menjadi PLB diperoleh dari Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih. Analisis Data Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (Anov. program SPSS versi Jika diketahui terdapat perbedaan signifikan, dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kepercayaan 95% (= 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ZPT berpengaruh terhadap pertumbuhan PLB menjadi planlet. Pertumbuhan panjang dan jumlah daun dipengaruhi oleh auksin dan Secara umum, peningkatan panjang daun anggrek D. Sebaliknya, pengaruh auksin cenderung menurunkan pertumbuhan panjang daun, konsentrasi (Gambar . Pengaruh ZPT Terhadap Panjang Daun Planlet Perlakuan auksin dan sitokinin Walaupun demikian pengaruh tersebut berbeda Penggunaan auksin cenderung menurunkan panjang daun, sedangkan penggunaan sitokinin berpengaruh nyata terhadap peningkatan panjang daun seiring dengan semakin tinggi konsentrasinya (Tabel 2. Gambar Perlakuan kontrol . anpa sitokini. tidak menunjukkan pengaruh pertumbuhan yang tinggi, sedangkan pemberian konsentrasi 4 ppm mampu meningkatkan hingga 563 % dibanding Perlakuan dengan pemberian 1, 2, dan 3 ppm masing-masing meningkatkan sebesar 31,6, 189,5, dan 557,9 %. Perlakuan auksin berpengaruh terhadap pertumbuhan panjang daun. Secara umum, penggunaan auksin menurunkan pengaruh panjang daun. Pertumbuhan panjang daun lebih rendah dibandingkan control, artinya bahwa tanpa auksin pertumbuhan panjang daun lebih baik (Gambar 2. Tabel . Untuk perlakuan kombinasi, perlakuan auksin . dengan sitokinin 3 ppm memberikan pengaruh yang paling tinggi dan signifikan dibanding perlakuan Perlakuan kombinasi auksin dan sitokinin, yakni 1 : 3, 1 : 4, dan 0 : 4, juga memberikan pengaruh yang tinggi. Hasil pertumbuhan dan perkembangan PLB tersebut menjadi planlet sangat bervariasi, karena menurut Saad . proporsi ZPT auksin dan sitokinin menentukan jenis dan tingkat organogenensis pada kultur sel tanaman. ZPT penting dalam kultur jaringan tanaman karena ZPT Gambar 1. Morfologi Anggrek Papua D. (Anonim, 2. , eksplan protocorn like bodies (PLB) umur 2 bulan . okumen pribadi, 2. WARPUR et al. Pertumbuhan dan Perkembangan PLB Dendrobium Tabel 2. Respon pertumbuhan panjang daun yang diberi perlakuan auksin dan sitokinin. Perlakuan Sitokinin . Auksin 54 ghi 72 def 24 bcd ,4-D) 18 jk 46 ghi 23 efg 40 abc 54 abc . 28 hij 20 ijk 70 fghi 15 efg 80 fghi 26 ijk 28 ghij 36 ghij 64 ghi 80 fghi 22 ijk 30 hij 44 ghi 06 cde 14 bcd Rerata sitokinin Rerata Akusin 36 xy 03 xy Ket. : masing-masing perlakuan dengan ulangan 5 kali. Tabel 3. Respon pertumbuhan jumlah daun yang diberi perlakuan auksin dan sitokinin. Perlakuan Sitokinin . Auksin 2 ef 4 bcd 0 abc 2 ab ,4-D) 6 def 0 def 6 cde 0 bcd 8 bcd . 4 ef 4 ef 6 def 4 cde 8 cde 2 ef 4 ef 8 def 4 cde 8 cde 4 ef 8 def 4 cde 6 bcd Rerata sitokinin 56 rs 04 rs Rerata Akusin 60 xy 04 xy Ket. : masing-masing perlakuan dengan ulangan 5 kali. memainkan peran penting dalam pemanjangan batang, tropisme, dan dominasi apikal. Auksin biasanya digunakan untuk merangsang produksi kalus, pertumbuhan sel, dan untuk inisiasi tunas perakaran, serta untuk menginduksi embriogenesis somatik dan untuk merangsang pertumbuhan tunas kultur apeks dan kultur tunas batang (Saad, 2. Menurut Sulisbury & Ross . auksin mempunyai peran besar dalam proses diferensiasi sel menjadi embrio somatik serta dapat menstimulasi terjadinya diferensiasi sel dan terbentuknya embrio. Lebih lanjut. Reddy . mengungkapkan bahwa sitokinin memiliki efek dalam merangsang pertumbuhan tunas tambahan dan adventif dan pengembangan daun dari kultur tunas pucuk. Pengaruh ZPT Terhadap Jumlah Daun Planlet Pertumbuhan jumlah daun anggrek D. discolor yang diberi perlakuan auksin dan sitokinin berpengaruh secara signifikan. Secara umum, pemberian auksin mempunyai kecenderungan menurunkan pertumbuhan. Semakin tinggi konsentrasi auksin yang diberikan, memberikan efek penurunan jumlah daun. Akan tetapi, perlakuan sitokinin berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan jumlah daun. Semakin meningkatkan jumlah daun (Gambar . Kondisi ini didukung oleh data yang menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan (Tabel . Penggunaan auksin menghambat pertumbuhan jumlah daun, jika dibandingkan kontrol. Tanpa penambahan auksin jumlah daun PLB rata-rata sekitar 4 daun, sedangkan dengan perlakuan auksin menghasilkan jumlah daun yang lebih Kondisi ini berbeda dengan perlakuan sitokinin, pemberian sitokinin meningkatkan jumlah daun. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan . mampu meningkatkan jumlah daun secara signifikan. Kombinasi antara auksin dan sitokinin juga menunjukkan terdapat perbedaan siginifikan. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap panjang daun dan jumlah daun planlet hasil pertumbuhan dan perkembangan eksplan PLB menunjukkan bahwa panjang daun terpanjang dan jumlah daun terbanyak terdapat pada media J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 28Ae35 Gambar 2. Pengaruh auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan panjang daun anggrek D. Gambar 3. Pengaruh auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan jumlah daun anggrek D. discolor pada media Vacin & Went (VW). Gambar 4. Grafik pengaruh kombinasi auksin : sitokinin terhadap jumlah daun . dan panjang daun . kultur dengan penambahan ZPT auksin dan sitokinin A:S= 0:3 ppm (Gambar 4. Konsentrasi 0 ppm pada perlakuan tersebut di atas bukan berarti tidak ada auksin sama sekali yang bersinergi dengan sitokinin untuk mempengaruhi pertumbuhan panjang daun planlet secara optimal. Secara alami ada kandungan auksin yang disintesis oleh tanaman tersebut dari dalam secara endogen (Hartanto et al. , 2. , walaupun jumlahnya sedikit tetapi dapat bersinergi dengan penambahan sitokinin sehingga dapat menstimulasi pertumbuhan panjang daun secara Menurut Sahrawat & Chand . , perubahan keseimbangan fitohormon dalam sel terhadap zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dan sitokinin menentukan proses diferensiasi. Lebih lanjut, menurut Fonnesbech . auksin tidak berfungsi bila tidak berinteraksi dengan hormon Hasil pengamatan ukuran daun yang terpendek yaitu ukuran 0,6 cm pada media kultur kombinasi ZPT auksin dan sitokinin A:S= 0:0 ppm, sedangkan jumlah daun yang paling sedikit per planlet terdapat pada media kultur kombinasi ZPT auksin dan sitokinin A:S= 4:0 ppm. Perlakuan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh auksin : sitokinin= 0 : 0 menunjukkan pertumbuhan panjang daun planlet yang paling pendek atau paling lambat dengan pertambahan panjang daun rata-rata hanya 1,16 cm. Artinya bahwa perlakuan sitokinin berpengaruh lebih baik dibandingkan dengan tanpa perlakuan. Menurut Widiastoety . perlakuan zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin pada media VW berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan planlet anggrek Mokara. Perlakuan tersebut mampu meningkatkan tinggi planlet, jumlah daun, panjang daun dan jumlah akar planlet anggrek Mokara. Respon jaringan setiap jenis tanaman berbeda-beda terhadap auksin (Firoozabady & Moy, 2. maupun sitokinin (Sripaoraya et al. , 2. keadaan tersebut dapat digunakan dalam proses regenerasi eksplan. Hasil pengamatan terhadap perkembangan PLB yang ditanam pada medium VW dengan kombinasi ZPT auksin dan sitokinin yang berbeda-beda menunjukkan hasil yang cenderung mengikuti dengan pertumbuhan kuantitatifnya dan kelihatan lebih baik, khususnya WARPUR et al. Pertumbuhan dan Perkembangan PLB Dendrobium Gambar 5. Panjang daun planlet ( 3,5 c. dan jumlah daun ( 6,. per planlet pada perlakuan sitokinin 3 ppm tanpa auksin . , dan panjang daun ( 0,16 c. perlakuan kontrol . aris skala: 1 c. Gambar 6. Planlet hasil penanaman kultur eksplan PLB pada perlakuan kombinasi A:S = 0:0, 0:1,0:2,0:3, 0:4 ppm. Gambar 7. Perlakuan kombinasi auksin : sitokinin pada PLB dengan konsentrasi 2:4, 1:4, dan 0:4 ppm . aris skala : 1 c. perlakuan sitokinin 3 ppm. Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan planlet dari eksplan PLB yang ditanam pada media kultur dengan konsentrasi ZPT auksin dan sitokinin yang berbeda berbeda-beda. Penambahan ZPT auksin yang perbandingan konsentrasinya lebih tinggi dibanding sitokinin J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 28Ae35 menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan akarnya lebih reponsif dibandingkan dengan pertumbuhan dan perkembangan pucuk dan Sebaliknya penambahan ZPT auksin yang perbandingan konsentrasinya lebih rendah dibanding sitokinin menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan pucuk dan daunnya lebih responsif dibandingkan pertumbuhan dan perkembangan akarnya. Menurut Abidin . dalam penelitian kultur jaringan, apabila konsentrasi sitokinin lebih besar dari auksin, maka akan terjadi stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Menurut Thomas & Chaturvedi . zat pengatur tumbuh golongan auksin seperti 2,4-D. IAA. NAA dan IBA berfungsi dalam meningkatkan tekanan osmotik, permeabilitas sel, meningkatkan difusi masuknya air ke dalam sel, mengurangi tekanan pada dinding sel, meningkatkan plastisitas dan mengembangkan dinding sel, serta meningkatkan sintesis protein, di samping itu auksin berperan menstimulasi pemanjangan dan pembesaran sel akar pada tanaman anggrek. Zat pengatur tumbuh golongan sitokinin seperti kinetin. BAP atau BA berfungsi dalam pembelahan sel di bagian tunas dan pucuk daun. Kombinasi auksin dengan sitokinin akan menstimulasi pembelahan sel dan mempengaruhi lintasan diferensiasi (Thomas & Chaturvedi, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan penambahan kombinasi ZPT auksin dan sitokinin pada media kultur jaringan Vacin & Went untuk penanaman eksplan PLB Dendrobium discolor berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan panjang daun dan jumlah daun planlet. Pertumbuhan optimal perkembangan eksplan PLB D. discolor menjadi planlet pada media kultur kombinasi ZPT auksin : sitokinin = 0 : 3 ppm, dengan panjang daun rata-rata planlet 3,5 cm dan jumlah daun rata-rata per planlet 6 daun. Selain itu, perlakuan yang baik juga terjadi pada kombinasi 1 : 3, 1 : 4, dan 0 : 4 ppm. DAFTAR PUSTAKA