JISPENDIORA: Jurnal Ilmu Sosial. Pendidikan Dan Humaniora Vol. No. 3 Desember 2023 E-ISSN : 2829-3886. P-ISSN : 2829-3479. Hal 139-154 DOI: https://doi. org/10. 56910/jispendiora. Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim Annisa Intan Maharani1. Agnes Clara Nainggolan2. Istiharoh3. Pramasheila Arinda Putri4. Riyan Adhitya Pratama5 FIS/Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Jakarta E-mail: annisaitn@gmail. com1, agnesclara03@gmail. com2, iis. istiharoh02@gmail. pramasheilaap@gmail. com4, adhityapratama145@gmail. Abstract. This study aims to analyze social deviations in the case of brawls committed by adolescents in the theory of Anomie of Emile Durkheim. Qualitative methods with analysis of sources and literature studies are used to collect information and provide a deep understanding of the factors, impact, overcoming the phenomenon of teenage brawl, as well as how its analysis in the theory of anomie of Emile Durkheim. Based on literature analysis, brawls are often caused by various internal and external factors that have a negative impact on families, communities, schools, and adolescents involved in the brawl itself. To overcome this, countermeasures are made so that the individuals involved can avoid violations or deviations from the norm in the future. The results of this study provide an explanation for the connection of Brawl cases with Emile Durkheim's theory of Anomie, which sees that there is instability in the norms that take place in a society that is now no longer cared for. Keywords: Social Deviance. Brawl. Anomie. Abstrak. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penyimpangan sosial pada fenomena tawuran yang dilakukan oleh remaja dalam teori Anomie dari Emile Durkheim. Metode kualitatif dengan analisis sumber-sumber dan studi literatur digunakan untuk mengumpulkan informasi dan memberikan pemahaman yang mendalam tentang faktorfaktor, dampak, penanggulangan fenomena tawuran remaja, serta bagaimana analisisnya dalam teori Anomie dari Emile Durkheim. Berdasarkan analisis literatur, tawuran seringkali disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang memunculkan dampak negatif bagi keluarga, masyarakat, sekolah, hingga remaja yang terlibat dalam tawuran itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, upaya penanggulangan dilakukan agar individu yang terlibat dapat terhindar dari pelanggaran atau penyimpangan norma di masa yang akan datang. Hasil studi ini memberikan penjelasan keterkaitan fenomena tawuran dengan teori Anomie dari Emile Durkheim yang melihat bahwa ada ketidakstabilan dalam norma-norma yang berlangsung di masyarakat yang kini sudah tidak lagi Kata kunci: Penyimpangan Sosial. Tawuran. Anomie. PENDAHULUAN Penyimpangan sosial merupakan sebuah perilaku yang menyimpang dari norma norma atau peraturan yang sudah ditetapkan di dalam masyarakat maupun keluarga yang menyebabkan hilangnya rasa menghargai solidaritas kelompok. Penyimpangan sosial dapat terjadi dan dilakukan oleh siapa saja dimanapun, baik dilakukan secara individu atau Bentuk bentuk penyimpangan sosial sangat bervariatif seperti kejahatan, kriminalitas, kenakalan remaja, pergaulan bebas, menyakiti diri sendiri, mengkonsumsi narkoba, gaya hidup bebas, dan masih banyak lagi. Penyimpangan sosial adalah tindakan yang menyimpang dari norma yang sudah berlaku dalam sebuah sistem sosial dan menimbulkan rasa kecemasan dan konflik yang dapat diselesaikan (Robert M. Lawan. Received Agustus 30, 2023. Revised September 02, 2023. Accepted Oktober 26, 2023 *Annisa Intan Maharani, annisaitn@gmail. Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim Salah satu contoh penyimpangan sosial yang sedang marak terjadi di kalangan remaja adalah fenomena tawuran, di berbagai kota besar, sudah menjadi hal biasa dimana terjadinya ulah remaja yang makin mencemaskan masyarakat belakangan ini. Mereka tidak lagi terlibat dalam fenomena kenakalan remaja pada umumnya yang masih tergolong ringan, tetapi sudah banyak remaja yang melakukan aksi tawuran yang merupakan salah satu penyimpangan sosial yang dapat mengganggu ketertiban lingkungan hingga membahayakan nyawa. Hal ini terjadi karena masih banyak remaja yang mengabaikan nilai nilai norma, moral, dan kesusilaan yang sering kali diabaikan dan berakibat lunturnya nilai nilai yang sudah ditanam. Secara sosiologis, para remaja umumnya rentan sekali terhadap pengaruh eksternal. Ini terjadi dikarenakan fase remaja adalah fase dimana sedang mencari jati diri, mereka mudah sekali terbawa suasana dan mudah terpengaruh sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Dalam fenomena penyimpangan sosial yang terjadi oleh remaja ini, akan dibahas lebih dalam dan juga akan dikaitkan dengan teori Anomie yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Peneliti menganggap teori Anomie ini sangat berkaitan dengan fenomena tawuran yang mendasari oleh hilangnya norma norma dan nilai moral karena pengaruh eksternal yang dapat menyebabkan tidak adanya rasa menghargai antara individu dengan kelompok. tawuran tentu saja dapat menyebabkan penyimpangan sosial karena dapat mengganggu masyarakat dan dapat membahayakan fisik hingga nyawa. Anomie merupakan sebuah keadaan dimana masyarakat kehilangan arah terhadap Emile Durkheim menjelaskan bahwa anomie merupakan sebuah keadaan tanpa norma dan arah sehingga mengakibatkan hilangnya etika yang diharapkan dengan kenyataan sosial yang ada. Anomie dapat merusak struktur sosial tanpa dapat dipulihkan, sebaliknya perubahan sosial tidak akan terjadi tanpa adanya sebuah anomie (Peter Atteslander, 1. Dengan memahami teori Anomie Emile Durkheim, dapat disimpulkan bahwa fenomena tawuran remaja berasal dari pengaruh eksternal yang melunturkan etika dan nilai norma sehingga terjadi penyimpangan sosial di masyarakat. Dalam artikel ini, peneliti akan menjelaskan mengenai fenomena tawuran yang sedang marak terjadi di kalangan remaja, faktor tawuran, dampak tawuran, penanggulangan tawuran, dan hubungan teori anomie Emile Durkheim dengan fenomena tawuran. Peneliti berharap setelah melakukan riset dan penelitian dari fenomena penyimpangan sosial ini, kita dapat mengetahui lebih dalam tentang keterkaitan teori Anomie Emile Durkheim dengan fenomena tawuran yang sedang marak terjadi di kalangan remaja saat ini dan dapat membahayakan fisik dan nyawa seseorang juga mengakibatkan hilangnya etika dan nilai moral di lingkungan masyarakat tersebut. JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis sumber-sumber dan studi literatur terkait untuk melakukan analisis penyimpangan sosial dalam fenomena tawuran remaja dengan merujuk pada Teori Anomie karya Emile Durkheim. Metode kualitatif merujuk pada jenis penelitian di mana temuan dan hasilnya tidak diperoleh melalui prosedur kuantifikasi, perhitungan statistik, atau metode lain yang menggunakan pengukuran berbasis angka (Paramaswasti, dkk, 2. Dalam konteks kualitatif, istilah "kualitas" mengacu pada aspek-aspek seperti nilai dan makna yang terkandung di balik fakta-fakta yang diamati. Kualitas, nilai, atau makna ini hanya dapat diungkapkan dan dijelaskan melalui analisis linguistik, bahasa, atau kata-kata. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mendalami makna dan konteks sosial tawuran remaja, serta untuk menggali pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor, dampak, sampai penanggulan fenomena tawuran remaja sebagai bentuk penyimpangan sosial. Hasil analisis ini akan digunakan untuk memahami bagaimana teori anomie dapat diterapkan dalam konteks penyimpangan sosial remaja dan untuk menjelaskan faktor-faktor, dampak, dan penanggulangan fenomena tawuran remaja. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan wawasan yang mendalam tentang fenomena penyimpangan sosial remaja, serta kontribusi teori anomie Emile Durkheim dalam menjelaskan tawuran remaja sebagai bentuk penyimpangan sosial dalam masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Terjadinya Fenomena Tawuran fenomena tawuran seringkali disebabkan oleh berbagai faktor yang mendominasi, selain itu biasanya akar dari permasalahan fenomena tawuran muncul dari sekelompok yang memicu dengan memulai saling ejek dan berakhir dengan pertentangan karena tersulut emosi dari kelompok yang bertentangan. Adapun faktor tawuran selain itu dapat dipicu dari faktor eksternal dan internal. Namun, masih banyak fenomena tawuran yang dilakukan karena sudah menjadi tradisi, hal ini sering terjadi karena budaya turun temurun yang membuat mereka tetap menjaga budaya penyimpangan sosial ini. Biasanya hal ini diperkuat karena rasa ketidak solidaritasan dalam kedua kelompok tersebut. Berbagai faktor terjadinya fenomena tawuran tersebut dapat dibagi menjadi 2 faktor, yang pertama adalah faktor internal. Faktor internal berasal dari dalam diri seseorang tersebut yang berupa psikologis atau kondisi dimana individu tersebut yang Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim mengalami krisis identitas atau belum bisa memahami dan menanggapi nilai nilai di sekitarnya. Adapun beberapa faktor internal yang menyebabkan fenomena tawuran adalah sebagai berikut: Krisis Identitas (Identity Crisi. Krisis identitas merupakan salah satu faktor internal terjadinya fenomena Krisis identitas biasanya terjadi karena individu sulit menemukan sisi positif dalam diri nya sendiri. Hal ini dapat menyebabkan penyimpangan sosial seperti fenomena tawuran. Selain itu krisis identitas juga disebabkan oleh kesulitan individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang beragam, sehingga individu tersebut dapat mudah terhasut oleh beberapa kelompok yang mendominasi dan mengakibatkan individu tersebut terdoktrin tanpa mengetahui dampak nya. Identitas diri yang sedang dicari oleh individu, harus didukung dan mendapat pengarahan yang baik, serta dukungan sosial yang cukup dari lingkungan sosial nya. Jika hal tersebut dapat terpenuhi, maka krisis identitas dalam seorang individu akan dapat terhindar. Sebaliknya, jika hal tersebut tidak dapat terpenuhi maka individu akan sulit mencari identitas diri nya di lingkungan sosial nya. Kontrol Diri Yang Lemah (Weakness Of Self Contro. Individu yang memiliki kontrol diri yang lemah tidak mampu mengendalikan emosi, sikap, dan perilaku dalam diri nya. Akibatnya, individu yang sulit mengontrol diri akan cenderung lebih mudah emosi dan mudah marah terhadap lingkungan Hal ini terjadi karena individu tidak mendapat dukungan sosial yang baik sehingga individu cenderung bersikap tanpa berpikir akan dampak nya bagi diri sendiri dan orang lain. Beberapa individu yang tidak dapat mengatur emosinya cenderung akan lebih suka melarikan diri dan melampiaskan nya kepada orang orang disekitar. Ini merupakan salah satu faktor internal penyebab fenomena tawuran, individu akan mudah bergabung ke dalam kelompok yang sama sama memiliki kontrol diri yang lemah dan akan melampiaskan kepada kelompok lain yang sama sama ingin melampiaskan emosinya dengan cara melakukan fenomena tawuran. Tidak Mampu Menyesuaikan Diri (Self Mal Adjusmen. Kelompok yang melakukan fenomena tawuran biasanya terdiri dari individu Keanekaragaman budaya, ekonomi, ras, pemikiran dan berbagai perubahan kehidupan lainnya yang beragam akan membuat individu sulit dalam menentukan keputusan Individu yang mengalami hal ini akan cenderung tergesa gesa dalam JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 mengambil keputusan dan memecahkan masalah tanpa berpikir terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkannya. Di samping faktor internal, faktor lain yang menyebabkan individu terlibat dalam fenomena tawuran adalah faktor eksternal . ondisi di luar individ. , yakni dari lingkungan Beberapa faktor eksternal yang menyebabkan fenomena tawuran dapat terjadi antara lain yaitu: Lingkungan Keluarga Lingkungan sosial terkecil dalam sebuah masyarakat adalah keluarga, keluarga dapat menjadi sarana individu dalam menerima pendidikan. Baik buruknya pendidikan yang diterima oleh individu akan menentukan sikap dan perilaku individu tersebut di lingkungan sosial nya yang lebih luas. Pendidikan yang salah dan kurangnya dukungan sosial dalam keluarga bisa menjadi penyebab fenomena tawuran terjadi. Pentingnya pendidikan dan komunikasi yang diberikan oleh keluarga akan memperbaiki sikap dan perilaku individu tersebut. Lingkungan Teman Sebaya Setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda beda, dan setiap perilaku yang terbentuk pada diri individu merupakan cerminan dari lingkungan pertemanannya. Mereka yang tidak memiliki rasa solidaritas yang cukup akan merasa tidak akan memiliki teman yang cukup. Dalam hal ini lah mereka harus menunjukan eksistensi diri Dengan bergabung kelompok tersebut, individu akan berpikir bahwa diri nya sudah memiliki kekuasaan tinggi dan akan melakukan hal hal yang masuk dalam penyimpangan sosial, contohnya adalah fenomena tawuran. Pengaruh teman sebaya juga dapat berkontribusi dalam terjadinya fenomena tawuran, individu yang terpengaruh oleh perilaku negatif teman sebaya nya kemungkinan besar akan terlibat dalam perilaku kekerasan. Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah yang tidak merangsang individu nya untuk belajar dengan baik akan menyebabkan individu nya lebih senang melakukan kegiatannya di luar sekolah dengan teman teman sebaya nya. Kualitas tenaga pendidik yang kurang memahami karakteristik individu nya juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banyak individu lebih suka melakukan kegiatan di luar sekolah. Karena hal ini individu lebih mendapatkan banyak pengalaman di luar sekolah walaupun Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim pengalaman negatif lebih mendominasi yang akhirnya membuat individu tersebut melakukan banyak sekali penyimpangan sosial seperti tawuran. Dapat dipahami bahwa faktor-faktor yang memengaruhi fenomena tawuran terjadi ada dua, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri individu meliputi krisis identitas, lemahnya kontrol diri, dan ketidakmampuannya menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Sedangkan faktor eksternal yang berasal dari luar individu adalah lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya, dan juga lingkungan sekolah. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi terjadinya penyimpangan sosial seperti fenomena tawuran. Dampak Fenomena Tawuran Tawuran remaja yang terjadi jelas menimbulkan kerugian dan kecemasan serta keprihatinan banyak pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, sekolah, hingga merugikan remaja yang terlibat dalam tawuran itu sendiri. Dampak terburuk dari terjadinya tawuran ini adalah resiko cedera fisik, cacat seumur hidup, mengalami luka bacok di beberapa bagian tubuh, hingga meninggal dunia karena adanya bentrokan antara para remaja yang terlibat. Dampak yang keluarga rasakan sangat besar apabila anaknya terlibat dalam tindak aksi kekerasan tawuran. Tawuran merupakan suatu tindakan kekerasan yang sangat merugikan, dampak yang terjadi bagi pihak keluarga adalah kerugian materi, biasanya berupa pengobatan anak maupun pengobatan korban dari tindak tawuran tersebut. Selain itu, pihak keluarga juga memiliki tanggung jawab untuk mengganti fasilitas jalan yang rusak akibat kerusuhan dari tawuran yang terjadi. Tawuran akan menimbulkan suasana yang tidak kondusif, meningkatnya kekerasan dan kriminalitas, serta mengancam keamanan masyarakat, tidak sedikit pengguna jalan yang terkena luka-luka karena lemparan batu atau senjata tajam yang diakibatkan karena adanya korban salah sasaran, bahkan dari mereka ada pula yang sampai meninggal dunia, hal ini sangat disayangkan karena masyarakat yang tidak tahu masalahnya apa, namun terkena imbas dari tawuran yang terjadi di tempatnya. Tawuran yang dilakukan remaja juga menyebabkan rusaknya fasilitas publik seperti taman kota, trotoar, bus, halte dan fasilitas lainnya serta fasilitas pribadi, seperti kendaraan, pecahnya kaca pada bangunan toko-toko yang tidak sengaja terkena lemparan batu atau kayu saat tawuran tersebut berlangsung. Menurunnya moralitas para pelajar juga merupakan dampak yang terjadi akibat tawuran yang terjadi di kalangan remaja. Tawuran dapat menimbulkan trauma pada para siswa yang menjadi korban, merusak mental para generasi muda, dan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia karena dapat mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah. Sekolah bisa saja mendapat penilaian buruk dari masyarakat atau orang tua yang dapat berpengaruh JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 pada nama baik dan akreditas sekolah yang dapat menyebabkan kurangnya kepercayaan orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut dan dari sinilah sekolah mengalami kerugian dan kekurangan siswa. Dampak akademik lainnya juga terjadi bagi remaja yang sering terlibat dalam tawuran, peluang untuk mendapatkan pendidikan yang baik dapat terganggu, bahkan sampai pada putus sekolah. Selain itu, hal yang paling mengkhawatirkan adalah berkurangnya sikap remaja terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai kehidupan dalam berperilaku karena saat tawuran yang dilakukan remaja ini terus terjadi yang mereka pelajari hanyalah kekerasan merupakan cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah. Remaja yang terlibat dalam tawuran secara tidak langsung juga merusak masa depan mereka sendiri, karena apa yang mereka lakukan tersebut dapat dituntut dengan pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang dilakukan secara beramai-ramai. Dapat pula dituntut dengan pasal 339 KUHP dan 340 KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa atau pasal 351 KUHP, pasal 352 KUHP, pasal 353 KUHP, dan pasal 354 KUHP tentang penganiayaan, pasal ini dapat dikenakan kepada pelaku tawuran tergantung fakta yang terungkap di persidangan. Selain itu, dapat pula mengacu pada Undang-Undang Darurat No. 2 Tahun 1951 yang mengatur tentang senjata tajam atau senjata api, karena tidak jarang pelaku tawuran juga menggunakan alat-alat berbahaya dalam aksinya. Upaya Penanggulangan Fenomena Tawuran Penanggulangan kenakalan remaja, terutama dalam konteks tawuran pelajar, sebenarnya sangat terkait dengan bidang kriminologi. Jika tidak ada upaya pembinaan dan pengawasan yang memadai yang dilakukan secara terkoordinasi oleh semua pihak, gejala kenakalan remaja ini dapat mengarah pada tindakan yang bersifat kriminal. Hal ini karena tawuran pelajar sendiri sudah memiliki potensi untuk melibatkan tindakan kriminal seperti penganiayaan fisik hingga bahkan tindakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain (Rahmat, dkk, 2. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya terkait berbagai macam dampak yang timbul karena adanya tawuran antar pelajar, hal terpenting adalah bagaimana menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Seluruh lapisan masyarakat harus ikut berperan dalam menanggulangi fenomena tawuran antar pelajar, seperti orang tua, guru atau sekolah, termasuk juga aparat kepolisian yang menangani para pelaku tawuran pelajar tersebut. Berikut adalah upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi maraknya fenomena tawuran: Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim Upaya Penanggulangan dari Keluarga Keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter seseorang anak. Pembentukan karakter anak tidak terlepas dari model dan pola pengasuhan orang tua yang dalam konteks ini, setidaknya terdapat tiga macam pola asuh orang tua yang berpeluang besar dalam membentuk karakter anak yang mudah terjerumus oleh hal-hal yang bersifat nakal dan Pola asuh tersebut diantaranya: Pola asuh otoriter yang mendorong anak untuk patuh terhadap perintah dan cenderung seringkali menggunakan hukuman fisik. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua otoriter akan cenderung menunjukkan perilaku agresif. Pola asuh permisif yang memungkinkan anak-anak untuk bebas melakukan apa yang mereka inginkan tanpa banyak pembatasan. Akibatnya, anak-anak tidak belajar untuk mengendalikan keinginan mereka sendiri. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang selalu mengizinkan mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan, seringkali kesulitan dalam menghormati orang lain dan mengalami kesulitan dalam mengendalikan perilaku mereka sendiri, sehingga membentuk karakter anak yang cenderung mendominasi, egois, hingga melanggar aturan. Pola asuh yang acuh tak acuh di mana keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak sangat minim, sehingga anak merasa asing dengan keluarga. Ketika memasuki masa remaja, mereka mungkin menunjukkan perilaku membolos sekolah dan berperilaku Oleh karena itu, pola pengasuhan yang paling ideal dan sekaligus dapat dilakukan untuk menanggulangi anak terjerumus dalam perilaku tawuran adalah tipe pengasuhan otoritatif atau Tipe pola asuh otoritatif atau demokratis adalah tipe pengasuhan yang mendorong anak-anak untuk menjadi mandiri namun tetap menetapkan batasan pada tindakan mereka. Ini memungkinkan komunikasi verbal yang terbuka, di mana anak-anak dapat memberikan masukan dan menerima masukan, sementara orang tua menunjukkan dukungan yang hangat dan penuh kasih terhadap anak-anak (Suryandari, 2. Pola asuh tersebut perlu dipelajari lebih dalam oleh orang tua, di mana anak tidak seharusnya didikte, melainkan dicontohkan langsung oleh orang tua, seperti kebiasaan bertengkar, mungkin orang tua sering mendikte anak-anaknya untuk tidak bertengkar, namun di saat yang sama orang tua malah mempertontonkan pertengkaran mereka secara gamblang di depan anak-anaknya. Hal inilah yang harus diubah oleh orang tua dan jangan dijadikan kebiasaan. JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 Selain itu, orang tua seharusnya tidak menyurutkan anak dari kegiatan positif, seperti mengekang anak untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah dan akademik layaknya kegiatan Peran orang tua dalam membatasi anak menonton televisi juga harus dilakukan untuk menghindari tayangan-tayangan yang berisikan hal-hal kekerasan dan menyimpang. Oleh karena itu, orang tua harus memilih dengan bijak apa yang positif sehingga dapat menjadi pedoman bagi anak, dan menghindari kekerasan dalam rumah tangga sebagai bentuk upaya untuk menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak. samping itu, orang tua juga harus dapat memastikan bahwa anak memiliki lingkungan pertemanan yang baik. Lebih lanjut dalam Rahmat, dkk . , setiap orang tua perlu membekali anak-anak mereka dengan pendidikan agama karena ini adalah dasar utama yang mengajarkan etika dan moral dalam kehidupan. Oleh karena itu, jika anak-anak tidak diberikan pendidikan agama sejak dini, hasilnya akan merugikan perilaku mereka. Remaja mungkin akan memiliki tingkat moralitas yang rendah dan mungkin melakukan tindakan kenakalan tanpa pertimbangan yang Upaya Penanggulangan dari Sekolah Sekolah sebagai lembaga pendidikan juga tentu memiliki tanggung jawab dalam upaya mengatasi fenomena tawuran antar pelajar yang dilakukan oleh siswa mereka. Pihak sekolah ekstrakurikuler yang melibatkan siswa, menerapkan disiplin dari guru, dan menjalin koordinasi antara guru dan orang tua (Delvira, dkk, 2. Dalam hal ini, sekolah dapat menyediakan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang memadai untuk para siswa menyalurkan hobi dan minatnya, seperti arena olahraga, ruang teater seni, perpustakaan yang nyaman, dan program ekstrakurikuler yang bervariasi dengan lingkungan sosial yang dapat membantu siswa nyaman untuk mengembangkan potensinya di luar akademik. Adanya ekstrakurikuler juga diharapkan dapat mengajarkan siswa terkait kepemimpinan dan tanggung jawab dalam menjalankan sebuah organisasi. Di samping itu, sekolah juga dapat menerapkan aturan berupa tata tertib yang lebih ketat untuk memastikan bahwa siswa tidak meninggalkan sekolah selama pelajaran berlangsung dan memberikan sanksi tegas bagi siswanya yang terlibat tawuran, hal ini diharapkan bisa memberikan efek jera bagi para siswa yang terlibat aksi tawuran, sehingga siswa akan berpikir dua kali untuk mengikuti aksi-aksi tawuran. Lebih rinci dalam Paramaswasti, dkk . , terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dalam membantu untuk menanggulangi meningkatnya fenomena tawuran pada remaja. Upaya-upaya tersebut antara lain: Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim Upaya Preventif Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah "preventif" diartikan sebagai tindakan yang berfokus pada mencegah terjadinya sesuatu . gar tidak ada kejadian Tindakan pencegahan yang diambil oleh sekolah untuk menghindari tawuran antar pelajar meliputi: . Kolaborasi dengan seluruh guru BK (Bimbingan Konselin. dan Waka kesiswaan di sekolah untuk berbagi informasi tentang siswa yang mungkin cenderung terlibat dalam tawuran. Memberikan bimbingan khusus, kepada siswa yang menunjukkan potensi untuk terlibat dalam tawuran, dengan tujuan menghindari dan meredam konflik agar siswa tidak melakukan tawuran. Melibatkan orang tua siswa dengan mengundang mereka untuk berbicara tentang aktivitas anak-anak dengan lingkungannya, serta memberikan saran agar orang tua mengawasi anak-anak di jamjam yang memang rawan. Guru BK melakukan kunjungan ke rumah orang tua siswa sebagai tambahan informasi untuk lebih memahami lingkungan siswa di rumah. Mengadakan kegiatan parenting yang melibatkan orang tua dan motivator untuk memberikan motivasi kepada siswa agar tidak terlibat dalam tawuran. Melakukan bentuk kegiatan seperti sosio-drama yang bertemakan tawuran, menayangkan video tentang tawuran, membuat poster, dan mengadakan diskusi tentang topik tawuran . Mengundang polisi setempat untuk memberikan amanat kepada siswa dalam upacara sekolah, yang bertujuan untuk mengingatkan siswa agar mematuhi aturan sekolah dan hukum. Memperkuat aspek keagamaan siswa yang diharapkan akan memperkuat iman siswa dan menghindarkan mereka dari perilaku negatif yang bertentangan dengan ajaran agama. Upaya Represif Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, "represif" diartikan sebagai tindakan yang memiliki karakteristik menekan, menghambat, menahan, atau mengendalikan. Tindakan represif juga bisa dianggap sebagai tindakan yang memiliki tujuan Tindakan represif yang dapat diterapkan oleh pihak sekolah untuk menangani fenomena tawuran siswa mencakup: . Memberikan nasihat dan teguran, di mana guru BK mendengarkan penjelasan siswa mengenai alasan mereka terlibat dalam tawuran, setelahnya guru BK memberikan saran kepada siswa dan mencari solusi terbaik agar siswa tidak lagi terlibat dalam tawuran. Memberikan hukuman ringan jika siswa sudah menerima nasihat namun masih tidak menunjukkan perubahan perilaku yang positif, guru BK boleh memberikan hukuman ringan, seperti membersihkan sampah, membaca kitab suci, dan memberikan skor . sesuai JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 dengan peraturan sekolah sesuai dengan aturan sekolah . Memanggil orang tua, jika nasihat dan hukuman ringan tidak berhasil mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik, hal ini bertujuan untuk memberi peringatan kepada orang tua tentang perilaku kenakalan yang telah dilakukan oleh anak mereka dan meminta orang tua untuk lebih intensif memantau anak agar menghindari tindakan pelanggaran seperti tawuran. Upaya Kuratif Upaya kuratif adalah langkah terakhir yang dapat diambil oleh pihak sekolah jika tindakan preventif dan represif yang diterapkan tidak menghasilkan perubahan pada perilaku siswa, maka pihak sekolah, termasuk kepala sekolah, waka kesiswaan, dan guru BK, akan melakukan tindakan-tindakan seperti: . Skorsing, yang diharapkan siswa akan menyadari bahwa tindakan mereka salah dan merugikan masyarakat umum, skorsing dapat dilaksanakan dengan cara menginstruksikan siswa untuk belajar di rumah selama beberapa hari dengan pemantauan ketat dari orang tua mereka, hal ini ditujukan agar siswa dapat memahami, berubah, dan berhenti melakukan tindakan pelanggaran, dan . Pengembalian kepada orang tua yang dilakukan jika memang semua upaya sebelumnya, termasuk skorsing, tidak berhasil mengubah perilaku siswa dan siswa tetap terlibat dalam pelanggaran tanpa menunjukkan penyesalan atau rasa jera, pihak sekolah akan mengambil keputusan untuk mengembalikan siswa kepada orang tua mereka. Upaya Penanggulangan dari Masyarakat dan Kepolisian Masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam penanggulangan masalah, karena masyarakat dapat berperan untuk menengahi konflik dan membantu meredakan ketegangan antara kelompok yang terlibat dalam tawuran. Lebih dari itu, masyarakat juga dapat bekerja sama dengan pihak sekolah dan tentunya pihak berwajib layaknya polisi untuk meningkatkan keamanan di wilayah mereka. Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 30 Ayat 4. Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai lembaga yang berfungsi menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk melakukan perlindungan, mengayomi, memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan menjalankan penegakan hukum. Dalam konteks tawuran, peran kepolisian mencakup tugas dan peran untuk mengayomi, memberikan perlindungan, memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan menjalankan penegakan hukum dalam lingkungan masyarakat (Paramaswasti, dkk, 2. Lebih lanjut dalam Zai. , terdapat tiga upaya yang dapat dilakukan oleh pihak kepolisian dengan yang bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya menanggulangi fenomena tawuran, diantaranya: Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim Upaya Pre-emtif Upaya ini dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengidentifikasi akar masalah utama yang menjadi penyebab terjadinya kejahatan, dengan tujuan menghilangkan unsur-unsur yang dapat memicu tumbuhnya potensi gangguan . olice hazar. atau perkembangan menjadi ancaman faktual . Upaya pre-emtif ini dapat dilakukan melalui proses pembinaan, penyuluhan, pendistribusian selebaran serta interaksi langsung dengan masyarakat. Misalnya, polisi berperan sebagai pembina upacara atau menjadi narasumber dalam seminar di sekolah-sekolah yang bertujuan untuk membimbing dan mengajak pelajar agar mematuhi nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini, pihak kepolisian yang terlibat haruslah dari berbagai tingkatan lembaga kepolisian, termasuk polres, polsek, pos polisi, sampai Bhabinkamtibmas. Selain itu, pihak kepolisian bisa dibantu juga dengan seluruh lapisan masyarakat mulai dari warga biasa, pengusaha, pelajar, mahasiswa, petugas keamanan internal, tokoh agama, tokoh masyarakat, media massa. LSM, hingga instansi terkait. Upaya Preventif Upaya ini dilakukan oleh pihak kepolisian yang bertujuan untuk menghilangkan peluang terjadinya kejahatan daripada niat pelaku, di mana seseorang mungkin memiliki niat untuk melakukan tindakan kriminal, tetapi jika kesempatan untuk melakukannya dihilangkan, maka tindakan kriminal tersebut dapat dicegah. Sebagai contoh, kepolisian mengadakan patroli dan Commander Wish. Commander Wish adalah bentuk pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam membantu kelancaran lalu lintas pengguna jalan. Kegiatan ini dilaksanakan pada jam-jam dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi, seperti pada saat masuk dan pulang sekolah, jam berangkat ke kantor, dan jam pulang kantor pada siang dan sore hari. Pola tindakan dalam kegiatan ini dapat digolongkan sebagai tindakan preventif karena upaya comanderwish dapat mencegah pelajar memiliki kesempatan untuk terlibat dalam aksi Upaya Represif Upaya ini juga dapat diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk memulihkan atau menyadarkan. Upaya represif yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap pelajar pelaku tawuran adalah dengan memberikan sanksi kepada pelajar Sanksi adalah tindakan yang mengharuskan seseorang menderita atau merasakan konsekuensi atas pelanggaran norma sosial, dengan tujuan agar orang tersebut tidak lagi melakukan pelanggaran dan tidak lagi menyimpang dari norma yang JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 Ada tiga jenis sanksi yang digunakan dalam upaya pelaksanaan kontrol sosial ini: . Sanksi yang bersifat fisik, yaitu sanksi yang menyebabkan penderitaan fisik seperti penyiksaan, penjara, pengikatan, menjemur di bawah sinar matahari, penahanan makanan, dan tindakan serupa. Sanksi yang bersifat psikologis, yaitu sanksi yang berdampak pada aspek kejiwaan dan perasaan, seperti hukuman yang melibatkan penghinaan di depan umum, pengumuman kejahatan yang pernah dilakukan, pencopotan pangkat dalam sebuah upacara, dan tindakan serupa. Sanksi yang bersifat ekonomi, yaitu sanksi yang berdampak pada aspek ekonomi individu yang melanggar norma sosial, seperti denda, penyitaan harta kekayaan, kewajiban membayar ganti rugi, dan tindakan sejenisnya. Tujuan dari pemberian sanksi ini tidak lain adalah untuk menciptakan efek jera, sehingga individu yang terlibat akan terhindar dari melakukan pelanggaran atau penyimpangan norma di masa yang akan datang. Hubungan Teori Anomie Emile Durkheim Dengan F Enomena Tawuran Istilah anomie sebetulnya digunakan oleh dua tokoh, yaitu Emile Durkheim dan Robert Merton. Namun, penelitian ini menggunakan anomie dari pandangan Emile Durkheim. Anomie diperkenalkan oleh Emile Durkheim dengan makna sebagai suatu keadaan tanpa norma . he concept of anomie referred on on-absens of social regulation normlessnes. Konsep anomie yang diberikan gambaran oleh Durkheim memandang bahwa pada kehidupan masyarakat terdapat individu-individu yang berperilaku anomie disebabkan karena terdapat tekanan dari berbagai ketegangan di suatu struktur sosial, sehingga timbul perilaku anomie dari individu-individu tersebut (Ismail & Ahmad, 2018, . Durkheim mempunyai tiga perspektif dalam teori anomie ini, yaitu: . manusia merupakan makhluk sosial . an is social anima. , . keberadaan manusia sebagai makhluk . uman being is a social anima. , . manusia hidup di masyarakat dan keberadaannya tergantung pada masyarakat tersebut sebagai koloni . ending to live incolonies, and his/her survival dependent upon moral conextion. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peserta didik melakukan perilaku menyimpang seperti yang sudah dipaparkan pada bagian AuFaktor Fenomena TawuranAy di atas, contohnya adalah faktor eksternal dari lingkungan sekolah dan juga teman sebaya. Pada lingkungan sekolah yang tidak bisa membuat peserta didiknya nyaman dengan kegiatan sekolah, akan membuat peserta didik lebih suka mencari kegiatan di luar sekolah. Terkadang juga peserta didik merasa bahwa peraturan yang ada di sekolah mereka itu terlalu ketat, sehingga mereka merasa terkekang. Peserta didik yang tadinya ingin melakukan sesuatu yang bisa menyalurkan keinginannya, malah merasa dibatasi. Ini akan berpengaruh besar pada keputusan peserta didik untuk berperilaku anomie. Peraturan di sekolah sebetulnya punya tujuan baik, yaitu untuk Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim mewujudkan lingkungan yang bersuasana tertib juga disiplin. Namun, dengan adanya peraturan ini juga pasti akan muncul beberapa peserta didik yang merasa dikekang dan merasa peraturan ini merupakan sebuah tekanan dari sekolah, sehingga mereka akan berperilaku Kemudian adalah faktor eksternal dari lingkungan teman sebaya. Pada faktor teman sebaya ini cukup besar pengaruhnya terhadap perilaku individu. Perilaku anomie seringkali disebabkan oleh pengaruh teman sebaya terhadap individu. Individu dalam bergaul, akan saling terikat satu sama lainnya, atau bisa disebut dengan rasa setia kawan atau solidaritas. Seperti yang sudah disebutkan pada bagian AoFaktor Fenomena TawuranAo pada awal pembahasan di atas, seseorang yang tidak memiliki rasa solidaritas, tidak akan memiliki cukup teman. Maka dari itu, untuk mendapatkan banyak teman, individu biasanya akan bergabung ke dalam suatu kelompok yang mempunyai solidaritas yang tinggi. Ini biasanya dilakukan juga karena kelompok tersebut dikenal oleh banyak kelompok yang lainnya. Dengan bergabungnya individu ke suatu kelompok, tentu individu tersebut harus mematuhi norma yang diterapkan dalam kelompok tersebut. Ini membuka peluang bahwa individu bisa terjerumus ke dalam perilaku menyimpang, contohnya adalah fenomena tawuran. Dengan bergabung ke dalam kelompok yang sudah banyak dikenal oleh kelompok lain, biasanya juga banyak yang tidak suka dengan kelompok ini. Peluang untuk terjadinya konflik dengan kelompok lain pun sangatlah besar. Dari terjadinya konflik yang tidak terlalu besar, seperti saling mengejek, bisa menjadi faktor pemicu tawuran yang mana tawuran ini sudah melanggar norma di masyarakat. Pada fenomena tawuran ini, dengan menggunakan teori anomie, dapat terlihat jelas bahwa ada ketidakstabilan dalam masyarakat, di mana norma-norma yang biasa dijadikan pegangan oleh masyarakat kini sudah tidak lagi dipedulikan. Anak-anak remaja merasa bahwa norma sosial khususnya yang berkaitan dengan kekerasan dan perkelahian sudah tidak lagi mengikat mereka. Dengan ini, mereka menjadi lebih berani dan tidak memperdulikan normanorma sosial tersebut. Sebetulnya, masa remaja merupakan masa yang labil di mana individu sedang mencari jati diri dan tidak mau dikekang. Maka dari itu, tawuran menjadi salah satu cara mereka untuk mengungkapkan rasa tidak puas terhadap norma sosial yang ada. JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 139-154 KESIMPULAN Penyimpangan sosial adalah suatu perilaku yang menyimpang dari norma atau peraturan di dalam masyarakat. Perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh seseorang membuatnya kehilangan kepercayaan baik di keluarga, lingkungan tempat tinggal maupun masyarakat luas. Bentuk penyimpangan ada banyak, salah satunya adalah tawuran. Tawuran merupakan salah satu penyimpangan sosial yang mengganggu ketertiban lingkungan bahkan berpotensi menghilangkan nyawa. Tawuran dapat terjadi di berbagai kalangan, tetapi, paling sering terjadi di kalangan remaja. Anomie sendiri memiliki arti yaitu keadaan tanpa adanya norma. Dilihat dari teori Anomie Emile Durkheim, fenomena tawuran remaja berasal dari pengaruh eksternal yang melunturkan etika dan nilai norma sehingga terjadi penyimpangan sosial di masyarakat. Konsep anomie yang digambarkan oleh Durkheim memandang bahwa pada kehidupan masyarakat terdapat individu-individu yang berperilaku anomie karena adanya tekanan dari berbagai ketegangan di suatu struktur sosial, sehingga timbullah perilaku anomie dari individuindividu tersebut. Banyak faktor eksternal yang menyebabkan remaja sebagai individu melakukan tawuran, diantaranya itu karena lingkungan pertemanan dan lingkungan sekolahnya. Lingkungan sekolah yang tidak nyaman karena banyaknya peraturan yang mengikat membuat remaja mencari hal lain yang bisa saja membuatnya terjerumus ke dalam penyimpangan. Begitu pula dalam lingkungan pertemanan. Ikatan solidaritas yang kuat dalam kelompok pertemanan dapat juga membuatnya masuk ke dalam kerumunan tawuran antar kelompok. Dalam artikel ini peneliti membahas tentang tawuran, faktor, dampak, penanggulangan, serta keterkaitan fenomena tawuran dengan teori anomie yang dikemukakan oleh Durkheim. Setelah membaca artikel ini, diharapkan pembaca dapat memahami masalah tawuran sebagai bentuk penyimpangan sosial dan memahami dari sisi teori anomie oleh Emile Durkheim. Analisis Fenomena Penyimpangan Sosial: Tawuran Remaja Dalam Teori Anomie Emile Durkheim DAFTAR PUSTAKA