Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. Hubungan Faktor Pembentuk Budaya Keselamatan Kerja Terhadap Safety Behavior di Rumah Sakit Association of Safety Cultural Forming Factors With Safety Behavior in Hospitals Selvia Rosita1. Nurul Aziza1. William Arisandi1 Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Mitra Indonesia. Lampung. Indonesia Korespondensi Penulis : selviarosita77@gmail. ABSTRACT Safety culture can be formed with the presence of safety culture forming factors. Based on the results of the pre-survey at X Hospital, there has been an increase in cases of work accidents over the past 3 years. Management commitment related to occupational safety and health programs has not been carried out optimally. This indicates that the safety culture at X Hospital has not been applied effectively. This study aims to see the relationship between factors forming safety culture to safety behavior. The type of research is quantitative with a cross sectional design. The population in this study amounted to 146 with a total sample of 107 respondents obtained using simple random sampling technique. Data analysis consists of univariate and bivariate using the chi-square test. The results show that there is a relationship between management commitment, regulations and procedures, worker involvement in OHS, competence and the social environment of workers on safety behavior. The results showed that there was no relationship between communication and safety behavior. The advice given by hospital management is to socialize again that the hospital has an OSHRS committee and the chairman of the OSHRS committee advocates to the hospital director through weekly meetings in order to get commitment from all policy makers and policy implementers that occupational safety and health issues are a shared obligation. Keywords : Communication. Competence. Hospital. Management commitment. Safety Culture ABSTRAK Budaya keselamatan dapat terbentuk dengan adanya faktor pembentuk budaya Berdasarkan hasil pra survey di RSUD X terjadi peningkatan kasus kecelakaan kerja selama 3 tahun terakhir Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh tim PPI dan PMKP kasus tersebut terjadi karena prosedur yang tidak dijalankan seperti tidak menggunakan alat pelindung diri, terburu-buru ketika bekerja membuang jarum suntik bekas pakai tidak pada tempatnya, kompetensi petugas yang kurang diperbaharui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara faktor pembentuk budaya keselamatan terhadap safety behavior. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini berjumlah 146 dengan total sampel sebanyak 107 responden yang diperoleh menggunakan tekniks imple random sampling. Analisa data terdiri dari univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil diketahui terdapat hubungan antara komitmen manajemen, peraturan dan prosedur, keterlibatan pekerja dalam K3, kompetensi dan lingkungan social pekerja terhadap safety behavior. Hasil diketahui tidak terdapat hubungan antara komunikasi terhadap safety behavior. Saran yang diberikan manajemen rumah sakit mensosialisasikan kembali bahwa rumah sakit memiliki komite K3 RS serta ketua komite K3 RS melakukan advokasi kepada direktur rumah sakit melalui pertemuan mingguan dalam rangka mendapatkan komitmen dari semua pemangku kebijakan dan pelaksana kebijakan bahwa masalah keselamatan dan kesehatan kerja merupakan kewajiban bersama. Kata Kunci : Budaya Keselamatan. Keterlibatan pekerja. Komitmen manajemen. Kompetensi. Komunikasi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. PENDAHULUAN Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal penting yang perlu diterapkan diseluruh tempat kerja, baik formal maupun informal, terutama pada tempat kerja yang mempunyai risiko dan bahaya tinggi serta dapat mengakibatkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja harus berlaku bagi semua orang yang terlibat dalam proses kerja, mulai dari tingkat manajemen Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016 ,Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit, rumah sakit merupakan tempat kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan sumber daya manusia rumah sakit. Keselamatan tenaga kesehatan di rumah sakit sangatlah penting, menurut WHO peluang terjadinya kecelakaan kerja pada tenaga kesehatan sebesar 4 berbanding 1000 mulai dari tertusuk jarum, tersandung dan tersayat benda tajam. Oleh karena itu penting bagi tenaga kesehatan untuk melalui penerapan budaya keselamatan. Dalam keselamatan kerja karya Darmani et al. diperoleh data berdasarkan International Labour Organization diseluruh dunia, sekitar tiga ratus empat puluh . juta orang mengalami kecelakaan kerja dan 160 juta mengalami penyakit akibat kerja (PAK) setiap tahunnya dengan total angka kematian mencapai 2,5 juta jiwa meninggal dunia. Menurut data Kementerian Tenaga Kerja di Indonesia sendiri kasus kecelakaan kerja dan kasus penyakit akibat kerja pada pada tahun 2023 tercatat berjumlah 855 kasus pekerja penerima upah, 921 kasus bukan penerima upah dan 971 kasus jasa jasa konstruksi, sedangkan penyakit akibat kerja terjadi . Dalam Isra kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor bertindak tidak aman sebesar 58,15% dan faktor perilaku berjumlah 32,06% (Rahma et al. , n. Tindakan tidak aman . nsafe actio. adalah tindakan pekerja yang melanggar prosedur keselamatan seperti tidak memakai APD sedangkan kondisi tidak aman . nsafe conditio. adalah kondisi fisik tempat kerja yang pencahayaan yang tidak memenuhi Dalam penelitian Arifuddin et al. dari 81 orang sampel petugas di rumah sakit 45,7% pernah mengalami kecelakaan kerja dengan jenis kecelakaan yang paling banyak terjadi adalah tertusuk jarum, terpeleset dan terkena Berdasarkan Kompas Indonesia yang ditulis oleh DR. Samsuridjal Djauzi pada tanggal 13 Agustus 2022 dengan judul artikel kecelakaan kerja, menurut statistik kejadian kecelakaan tertusuk jarum suntik tenaga kesehatan terjadi sekitar 27 kali per tempat tidur pertahunnya. Dijelaskan dalam penelitan Adelia et al. dengan sampel 47 orang diperoleh kecelakaan kerja kurang dari 3 kali setiap tahunnya dan tidak lebih dari 3 kali dalam satu tahun terakhir, jenis kecelakaan kerja dengan frekuensi tertinggi memiliki kesamaan, yaitu kulit kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, tertusuk jarum dibagian tubuh tertentu, dan menghirup uap desinfektan. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Zainal Hidayat pada tanggal 29 januari 2024 dengan judul artikel kasus kecelakaan kerja sepanjang tahun 2023 Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan kecelakaan kerja tertinggi dengan 808 kasus dengan total klaim sebesar Rp. 567,75 milliar. Sedangkan Provinsi Lampung sendiri menempati urutan ke-19 dalam kasus kecelakaan kerja terbanyak secara nasional dan peringkat ke-7 di pulau Sumatera. pulau Sumatera sendiri provinsi Riau menempati urutan pertama dalam kasus kecelakaan kerja. Diketahui Provinsi Lampung mengalami kenaikan yang sangat signifikan selama 3 tahun terakhir. (Hidayat, 2. Rumah Sakit Umum Daerah X merupakan rumah sakit tipe C yang memiliki kapasitas tempat tidur 110 dengan status akreditasi paripurna yang terdiri dari ruang rawat jalan, unit gawat darurat, ruang radiologi, ruang ICU, ruang farmasi, ruang laboratorium, ruang kebidanan, ruang perinatologi, ruang rawat anak dan dewasa serta ruang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. penunjang lainnya sesuai dengan undang undang tentang rumah sakit ((Profil RSUD X, n. )). Budaya keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu indikator yang harus dipenuhi agar rumah sakit memperoleh akreditasi. Penerapan budaya keselamatan yang baik bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja Namun pada kenyataannya berdasarkan laporan tim Pengendalian dan Pencegah Infeksi (PPI) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) rumah sakit terjadi peningkatan kasus kecelakaan kerja selama 3 tahun terakhir diantaranya kasus tertusuk jarum, penularan TB paru dan petugas yang terjatuh pada saat Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh tim Pengendalian dan Pencegah Infeksi (PPI) dan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) kasus tersebut terjadi karena prosedur yang tidak dijalankan seperti tidak menggunakan alat pelindung diri ketika melayani pasien seperti sarung tangan dan masker, terburu-buru ketika bekerja keadaan sekitar sehingga terpeleset dan jatuh, membuang jarum suntik bekas pakai tidak pada tempatnya, kompetensi Komitmen manajemen terkait program keselamatan dan kesehatan kerja belum dijalankan secara maksimal dan pada saat terjadi kasus kecelakaan kerja, pemberian sanksi belum maksimal. Hal tersebut menandakan bahwa budaya keselamatan kerja di Rumah Sakit Umum Daerah X belum diaplikasikan secara Budaya keselamatan merupakan perilaku kinerja, pola asumsi yang mendasari persepsi, pikiran dan perasaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. manajemen, peraturan dan prosedur K3, keterlibatan pekerja serta lingkungan sosial pekerja dibuktikan dalam beberapa Penelitian pembentuk budaya keselamatan dengan perilaku keselamatan . afety behaviou. pada petugas medis di Rumah Sakit Umum Daerah X. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah desain kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional yaitu dengan pengumpulan data sekaligus atau dengan cara mengumpulkan variabel bebas dan variabel terikat pada waktu yang Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga medis yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah X. Populasi pada penelitian ini adalah tenaga medis yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah X sebanyak 146 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling dengan kriteria tenaga medis yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah X. HASIL Analisis Univariat Safety Behavior Tabel 1. Distribusi Frekuensi Safety Behavior Di RSUD X Safety Behavior Frekuensi Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden mempunyai safety Persentase (%) behavior yang kurang baik berjumlah 59 responden . ,1%) Komitmen Manajemen Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Komitmen Manajemen Di RSUD X Komitmen Manajemen Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden menilai komitmen Frekuensi Persentase (%) keselamatan kerja di Rumah Sakit Umum Daerah X kurang baik yaitu berjumlah 55 orang . ,4%). Peraturan Dan Prosedur Tabel 3. Distribusi Frekuensi Peraturan Dan Prosedur Di RSUD X Peraturan dan Prosedur Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden menerapkan peraturan Frekuensi Persentase (%) dan prosedur yang kurang berjumlah 67 responden . ,6%). Komunikasi Tabel 4. Distribusi Frekuensi Komunikasi Di RSUD X Komunikasi Frekuensi Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 4, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden mempunyai komunikasi Kompetensi Persentase (%) kurang baik berjumlah 65 responden . ,7%). Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kompetensi Di RSUD X Kompetensi Frekuensi Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 5, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden mempunyai Kompetensi Persentase (%) responden . ,5%). Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. Keterlibatan Pekerja Dalam K3 Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kompetensi Di RSUD X Keterlibatan Pekerja Frekuensi Persentase Dalam K3 (%) Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden menilai keterlibatan pekerja dalam K3 kurang baik berjumlah 60 responden . ,1%). Lingkungan Sosial Pekerja Tabel 7. Distribusi Frekuensi Lingkungan Sosial Pekerja Di RSUD X Lingkungan Sosial Frekuensi Persentase Pekerja (%) Kurang Baik Baik Jumlah Berdasarkan tabel 7, diketahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X, sebagian besar responden mempunyai lingkungan berjumlah 56 responden . ,3%). Analisis Bivariat Hubungan Antara Komitmen Manajemen Dengan Safety Behavior Tabel 8. Analisis Hubungan Antara Komitmen Manajemen Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X Komitmen Manajemen Kurang Baik Baik Safety Behavior Kurang Baik Baik 36 65,5 19 34,5 23 44,2 29 55,8 CI . %) Total PValue 0,044 2,389 Lower Upper 1,095 5,211 Hubungan Antara Peraturan Dan Prosedur Dengan Safety Behavior Tabel 9. Analisis Hubungan Antara Peraturan Dan Prosedur Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X Peraturan dan Prosedur Kurang Baik Baik Safety Behavior Kurang Baik Baik 48 71,6 19 28,4 11 27,5 29 72,5 CI . %) Total PValue 0,000 6,660 Lower Upper 2,779 15,961 Hubungan Antara Komunikasi Dengan Safety Behavior Tabel 10. Analisis Hubungan Antara Komunikasi Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X Komunikasi Kurang Baik Baik Safety Behavior Kurang Baik Baik 41 63,1` 24 36,9 18 42,9 24 57,1 Total CI . P-Value 0,064 2,278 Lower Upper 1,032 5,029 Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. Hubungan Antara Kompetensi Dengan Safety Behavior Tabel 11. Analisis Hubungan Antara Kompetensi Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X Kompetensi Kurang Baik Baik Safety Behavior Kurang Baik Baik 18 33,3 30 56,6 Total CI . P-Value 2,609 0,026 Lower Upper 1,191 5,716 Hubungan Antara Keterlibatan Pekerja Dalam K3 Dengan Safety Behavior Tabel 12. Analisis Hubungan Antara Keterlibatan Pekerja Dalam K3 Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X Safety Behavior Keterlibatan Kurang Baik Baik Pekerja Dalam K3 Kurang Baik 40 66,7 20 33,3 Baik 19 40,4 28 59,6 Total PValue 0,012 (Cl 2,947 CI . %) Lower Upper 1,335 6,508 Hubungan Antara Lingkungan Sosial Pekerja Dengan Safety Behavior Tabel 13. Analisis Hubungan Antara Lingkungan Pekerja Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X Lingkungan Pekerja Kurang Baik Baik Safety Behavior Kurang Baik Baik 45 80,4 11 19,6 14 27,5 37 72,5 Total PEMBAHASAN Hubungan Antara Komitmen Manajemen Dengan Safety Behavior Berdasarkan diketahui ada hubungan antara komitmen manajemen dengan safety behavior di Rumah Sakit Umum Daerah X. Hal ini sejalan dengan penelitian menurut Suyono, karina zain. Nawawinetu. Erwin Dyah . tentang hubungan antara faktor pembentuk budaya keselamatan kerja dengan safety behavior Di PT. Dok Dan perkapalan surabaya unit hull Berdasarkan uji statistik diketahui p-value variabel komitmen manajemen adalah 0,001 atau p-value < 0,05 yang artinya ada hubungan faktor komitmen manajemen terhadap Safety Behavior Di PT. Dok Dan Perkapalan Surabaya Unit Hull Constructions. Selain itu hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fadhila & Maher Denny, . dimana komitmen manajemen sangat berperan penting dalam dalam upaya PValue 0,000 10,812 Confidence Interval . %) Lower Upper 4,389 26,634 menerapkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja mulai dari membuat kebijakan K3 melalui komite, membentuk tim akreditasi, menyusun program kerja, menyusun pedoman, menyusun standar operasional prosedur terkait keselamatan dan kesehatan kerja, menyediakan sumber daya manusia dan anggaran dan Menurut penelitian Bilqis et al. yang juga terdapat dalam Andi, . keselamatan kerja dimulai dari awal yang dalam hal ini dimulai dari tingkat teratas Untuk memulai program keselamatan kerja, manajemen dapat merumuskan suatu kebijakan yang masalah keselamatan kerja. Langkah awal ini akan menentukan langkah selanjutnya untuk pengambilan kebijakan berikutnya dalam hal keselamatan kerja dimana tanpa dukungan manajemen sangat sulit untuk mencapai keberhasilan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. keselamatan kerja. Komitmen dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan tertulis, perhatian terhadap keselamatan tindakan-tindakan bahaya yang mengancam keselamatan kerja, tindakan proaktif yang merupakan pencegahan atau antisipasi terhadap bahaya seperti melengkapi pekerja dengan perlengkapan pelindung diri, pemberian pelatihan, pengawasan serta tindakan reaktif jika terjadi kecelakaan kerja berupa punishment atau hukuman apabila pekerja melanggar. Berdasarkan diatas, maka menurut peneliti sebagian terdapat responden yang menilai bahwa komitmen manajemen terkait K3 yang kurang baik, namun mempunyai safety behavior yang baik, hal ini dikarenakan adanya faktor lain seperti lingkungan kerja, komunikasi yang baik, keterlibatan pekerja K3 yang baik serta adanya motivasi pekerja dalam melakukan safety behavior dengan baik, sedangkan ada juga responden yang menilai komitmen manajemen terkait K3 baik, justru mempunyai safety behavior yang kurang baik, hal ini dikarenakan kurangnya minat dalam melakukan safety behavior serta kurangnya dukungan pimpinan dalam menerapkan safety behavior. Selain itu berdasarkan observasi yang peneliti lakukan selama penelitian banyak yang tidak mengetahui bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah X memiliki Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit atau yang disebut K3RS dimana seperti yang diketahui bersama komite K3RS memiliki fungsi merumuskan kebijakan baik itu pedoman, prosedur, petunjuk pelaksanaan serta memberikan rekomendasi dan pertimbangan kepada pimpinan langsung yang dalam hal ini adalah direktur rumah sakit yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja yang dengan kata lain komite K3RS merupakan perpanjangan tangan dari manajemen namun komite tersebut tidak berjalan dan tidak pernah diadakan evaluasi. Hubungan Antara Peraturan Dan Prosedur Dengan Safety Behavior Berdasarkan Hasil Penelitian, diketahui ada hubungan antara peraturan dan prosedur dengan safety behavior di Rumah Sakit Umum Daerah X. Hasil penelitian menurut Suyono, karina zain. Nawawinetu. Erwin Dyah . tentang hubungan antara faktor pembentuk budaya keselamatan kerja dengan safety behavior di PT. Dok dan perkapalan Berdasarkan uji statistik diketahui pvalue variabel peraturan dan prosedur adalah 0,000 atau p-value < 0,05 yang artinya ada hubungan faktor peraturan behavior di PT. Dok dan perkapalan surabaya unit hull constructions. Peraturan merupakan salah satu faktor yang dapat meminimalisasi kecelakaan akibat adanya kondisi tidak aman. Dengan adanya peraturan dan prosedur yang mengikat dan telah disepakati pekerja mendapat batasan dan gambaran yang jelas Peraturan prosedur hendaknya mudah dipahami dan tidak sulit untuk diterapkan pada tempat kerja dan ada sanksi yang tegas apabila peraturan dan prosedur tersebut di langgar (Agus Setiono & Andjarwati. Berdasarkan diatas, maka menurut peneliti, ada menjalankan peraturan dan prosedur keselamatannya kurang baik, hal ini dikarenakan adanya faktor lain seperti lingkungan kerja, serta komunikasi antara petugas medis yang kurang baik, namun sebaliknya ada juga responden yang kurang baik dalam menerapkan peraturan dan prosedur, namun safety dikarenakan pengalaman kerja yang sudah cukup lama, sehingga responden mengerti dan paham akan pentingnya perilaku keselamatan. Selain itu di Rumah sakit Umum Daerah X telah memiliki standar operasional prosedur yang harus dijalankan oleh setiap petugas demi keselamatan dan kesehatan pekerja . Hubungan Antara Komunikasi Dengan Safety Behavior Berdasarkan diketahui Tidak Ada Hubungan Antara Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. Komunikasi Dengan Safety Behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X. Hasil penelitian diatas, tidak sejalan dengan dengan penelitian Suyono, karina zain. Nawawinetu. Erwin Dyah . tentang hubungan antara faktor pembentuk budaya keselamatan kerja dengan safety behavior di PT. Dok dan perkapalan Berdasarkan koefisien kontingensi (C) sebesar 0,414 yang artinya kuat hubungan faktor komunikasi dengan safety behavior. Namun hasil diatas sejalan dengan penelitian (Nurhayati, 2. dengan judul pembentuk budaya keselamatan kerja dengan safety behavior pada pekerja di PT. Pertamina Terminal BBM Banjarmasin Tahun 2018 dimana diperoleh hasil pvalue sebesar 0,795 atau p-value > 0,05. Komunikasi penyampaian pesan atau informasi dari satu pihak kepada pihak lainnya sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Program keselamatan kerja hendaknya pengumpulan dan penyampaian informasi yang meliputi adanya jalur informasi yang baik dari pihak manajemen kepada para kerja maupun sebaliknya. Pentingnya berhubungan dengan peraturan dan prosedur keselamatan kerja dan keadaan bahaya di lingkungan kerja (Bilqis et al. Berdasarkan diatas, maka menurut peneliti komunikasi sangat penting dalam melakukan safety behavior, namun didalam hasil penelitian diketahui ada beberapa responden yang mempunyai komunikasi baik, namun safety behaviornya kurang baik, hal ini dikarenakan responden menganggap safety behavior seperti hal yang sudah biasa, sehingga kurang memperhatikan perilaku keselamatan yang tidak benar, sedangkan ada juga responden yang mempunyai komunikasi kurang baik namun justru safety behavior responden keterlibatan pekerja K3 yang baik, lingkungan kerja yang mendukung, serta paham akan pentingnya menerapkan perilaku aman dan menciptakan kondisi yang aman pada saat bekerja. Hubungan Antara Kompetensi Dengan Safety Behavior Berdasarkan kompetensi dengan safety behavior di Rumah Sakit Umum Daerah X. Hasil penelitian menurut Suyono. Karina Zain. Nawawinetu. Erwin Dyah . tentang Hubungan Antara Faktor Pembentuk Budaya Keselamatan Kerja Dengan Safety Behavior Di PT. Dok Dan Perkapalan Surabaya Unit Hull Constructions. Berdasarkan uji statistik diketahui p-value variabel kompetensi adalah 0,000 atau p-value < 0,05 yang artinya ada hubungan faktor kompetensi terhadap Budaya Keselamatan Kerja Dengan Safety Behavior Di PT. Dok Dan Perkapalan Surabaya Unit Hull Constructions Kompetensi pekerja seringkali pengetahuan serta keterampilan dan pengalaman kerja. Pengetahuan pekerja merupakan tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya beserta resiko dan bahaya melakukan pekerjaannya. Kompetensi pekerja terhadap keselamatan kerja seringkali dinilai dari pengetahuan, pengertian serta penerapan peraturan dan prosedur keselamatan kerja. dengan kompetensi yang baik diharapkan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan kerja (Bilqis et al. , 2. Berdasarkan kompetensi merupakan salah satu bentuk dan bukti dari kemampuan responden dalam menerapkan perilaku aman dan menciptakan kondisi yang aman dalam bekerja, namun dalam hasil penelitian diketahui masih ada responden yang mempunyai kompetensi yang kurang baik, diharapkan pemimpin rumah sakit melalui pelatihan pelatihan internal maupun eksternal yang diadakan komite K3RS maupun manajemen rumah sakit terkait keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. Hubungan Antara Keterlibatan Pekerja Dalam K3 Dengan Safety Behavior Berdasarkan keterlibatan pekerja k3 dengan safety behavior di Rumah Sakit Umum Daerah X. Hasil penelitian diatas, sejalan dengan penelitian Ridwan. MA . tentang hubungan keterlibatan tim dengan penerapan safety behavior pada tenaga kesehatan, berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar responden mempunyai keterlibatan tim pekerja yang kurang baik, dan sebagian besar juga responden mempunyai safety behavior yang buruk. Berdasarkan uji statistik diketahui p-value < 0,05 yaitu 0,000 yang artinya ada hubungan penerapan safety behavior pada tenaga Dalam buku karya (Sulistiyo Nugroho & Heru Sutomo, n. ), pekerja merasa menjadi bagian dari organisasi ketika mereka berpartisipasi dalam menyangkut keselamatan kerja. penelitiannya mengemukakan bahwa keterlibatan pekerja pada program terhadap keselamatan kerja itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan, diketahui beberapa responden merasa tidak terlibat dalam K3, sehingga mempunyai peluang atau risiko yang besar untuk memiliki perilaku keselamatan yang kurang baik, namun masih ada juga responden yang merasa dilibatkan dalam pembuatan prosedur K3, pentingnya perilaku keselamatan dengan Pentingnya komite keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit sebagai perpanjangan tangan dari pimpinan yang salah satu fungsinya sebagai pemberi informasi serta mengadakan evaluasi membahas masalah serta bagaimana memberikan Solusi terkait masalah Hubungan Antara Lingkungan Sosial Pekerja Dengan Safety Behavior Berdasarkan behavior di Rumah Sakit Umum Daerah X. Hasil penelitian diatas, sejalan dengan Yuanita hubungan lingkungan pekerja dengan penerapan safety behavior pada tenaga kesehatan di lingkungan Rumah Sakit Cimahi, berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar responden kerja yang kurang baik, dan sebagian besar juga responden mempunyai safety behavior yang tidak baik. Berdasarkan uji statistik diketahui p-value < 0,05 yaitu 0,019 yang artinya ada hubungan lingkungan kerja dengan penerapan safety behavior pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Cimahi. Dalam penelitian Bilqis et al. menjelaskan lingkungan kerja yang baik hendaknya membuat pekerja merasa aman. Dalam lingkungan kerja lingkungan kerja yang kondusif seperti budaya tidak saling menyalahkan bila ada tindakan berbahaya atau kecelakaan memberikan tekanan berlebihan kepada Lingkungan kerja yang kondusif dapat mendukung penerapan program keselamatan kerja dengan optimal. Program pengembangan budaya keselamatan dan kesehatan kerja secara global sangat bervariasi karena masingmasing program dilandasi oleh model konsepsual yang dipakai. Pada umumnya program yang ada sifatnya sangat komprehensif dan biasanya terdiri dari suatu program utama yang kemudian dikuti dengan beberapa program lainnya yang satu sama lain saling terkait dan sendiri-sendiri Program tersebut biasanya tersusun secara sistematis dan terencana dalam kerangka waktu yang panjang. Seperti contoh misalnya, di sebuah tambang batubara . yang saat ini mengembangkan budaya selamat . eteladanan dalam keselamata. juga mengembangkan program - program lain yang terkait seperti misalnya dengan Behavioral-Based Safety, peralatan K3 dan lain sebagainya. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 153-164 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Faktor Pembentuk BudayaA. (Selvia Rosita. Nurul Aziza. William Arisand. erbagai program secara global meningkatkan budaya K3, namun tidak sedikit kendala yang dihadapi dalam mengembangkan budaya K3. Salah satu kendala yang paling utama dan bersifat umum serta banyak terjadi adalah kesalahan dalam memahami pengertian budaya K3 itu sendiri . isunderstandings and even misuse of the concep. sebagai contohnya hingga saat ini hampir sebagian besar dari kita selalu memiliki kecendrungan untuk mengklasifikasikan setiap peristiwa kejadian atau kecelakaan . uman erro. akibat buruknya budaya Padahal kesalahan manusia . uman erro. dapat terjadi di dalam sebuah organisasi yang mempunyai budaya selamat yang sangat baik sekalipun karena kesalahan manusia terjadi akibat berbagai macam faktor. Berdasarkan maka menurut peneliti ada beberapa responden yang mendapatkan lingkungan kerja yang kurang baik, sehingga berisiko tidak menerapkan dan melakukan safety behavior dengan baik juga, hal ini dikarenakan responden sudah merasa lingkungan kerja, baik dari kebersihan dan pencahayaan, serta sudah merasa bosan dengan pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang, selain itu juga permasalahan dimana kurangnya disiplin kerja pegawai mulai dari datang tidak sehingga menyebabkan beban kerja yang sedangkan ada juga responden yang sudah mendapatkan lingkungan kerja baik namun tidak melakukan safety behavior dengan baik, hal ini dikarenakan kurangnya pengawasan serta supervisi keselamatan dan kesehatan kerja. KESIMPULAN Ada hubungan antara komitmen manajemen . -value 0,. , peraturan . -value 0,. , kompetensi . -value 0,. , keterlibatan pekerja k3 . -value 0,. , lingkungan sosial pekerja . -value 0,. di Rumah Sakit Umum Daerah X dengan safety Tidak ada hubungan antara komunikasi dengan safety behavior Di Rumah Sakit Umum Daerah X dengan pvalue 0,064. SARAN