Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Analisis Stabilitas Dan Keamanan Bendungan Ciawi . ry da. Di Provinsi Jawa Barat Lia Maretha1. Suseno Darsono2. Kresno Wikan Sadono2 Mahasiswa Program Magister Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. Semarang1 Magister Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. Semarang2 Email : liamaretha@student. id 1, sdarsono@hotmail. com 2, kresnowikan@gmail. DOI: http://dx. org/10. 31869/rtj. Abstrak: Bendungan Ciawi merupakan bendungan kering . ry da. pertama di Indonesia yang memiliki fungsi utama sebagai pengendali banjir . etention da. dan merupakan program pemerintah dalam penanggulangan banjir di DKI Jakarta. Bendungan Ciawi dibangun dengan konsep dry dam yaitu pada saat kondisi normal bendungan Ciawi tidak memiliki tampungan air dan saat banjir bendungan akan menampung dan kemudian akan mengalirkan melalui saluran conduit dengan diameter 4. 2 m. Bendungan urugan memiliki resiko mengalami kegagalan, maka hal penting yang perlu menjadi perhatian yaitu stabilitas lereng pada bendungan. Ciawi Dry Dam memiliki kapasitas 6,05 juta m3 dengan tinggi 55 m dan masuk dalam klasifikasi IV . atau memiliki resiko bahaya yang tinggi jika terjadi kegagalan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai faktor keamanan (FK) dari berbagai kondisi pada lereng Bendungan Ciawi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan metode analisis data secara kuantitatif meliputi pemetaan geologi dan geologi teknik, serta analisis kestabilan lereng dengan bantuan perangkat lunak GeoStudio 2012 Slope/W. Perhitungan nilai Faktor Keamanan (FK) dilakukan pada tiga kondisi yaitu kondisi selesai konstruksi, muka air normal dan rapid drawdown. Dari hasil perhitungan pada kondisi tanpa gempa dan gempa Operation Base Earthquake (OBE) nilai FK telah memenuhi syarat minimum berdasarkan SNI 8064:2016. Kata Kunci : Bendungan Ciawi. Dry Dam. Stabilitas Lereng. GeoStudio. Slope/W. tempat dibangunnya Bendungan Ciawi. PENDAHULUAN Bendungan Ciawi Kedua. Mengetahui karakteristik zona tipikal bendungan urugan tanah yang dibangun dan material timbunan tubuh bendungan pada dengan konsep dry dam atau bendungan Bendungan Ciawi. Ketiga. Mengetahui faktor kering pertama di Indonesia yang memiliki keamanan lereng tubuh Bendungan Ciawi fungsi utama sebagai detension dam atau pada kondisi selesai konstruksi, muka air pengendali banjir. Detention dam normal, dan rapid drawdown. Secara administratif. Bendungan Ciawi memperlambat aliran air sehingga dapat terletak di Desa Cipayung. Kecamatan mencegah terjadinya banjir besar (Soedibyo. Megamendung. Kabupaten Bogor. Jawa Barat. Bendungan memiliki banyak manfaat Secara geografis, koordinat dari tubuh yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup Bendungan Ciawi terletak pada koordinat 106A masyarakat dihilirnya, namun bendungan juga 52' 46" BT, 6A 39' 34AyLS. menyimpan resiko yang tinggi yaitu berupa kemungkinan terjadinya kegagalan atau METODE PENELITIAN runtuhnya bendungan. Kestabilan lereng Metode merupakan salah satu faktor utama dalam melakukan analisis kestabilan lereng yaitu keamanan bendungan urugan. Berdasarkan hal metode irisan bidang luncur cara Simplified tersebut, perlu dilakukan analisis kestabilan Bishop dengan bantuan perangkat lunak lereng pada tubuh lereng Bendungan Ciawi GeoStudio 2012 Slope/W. Perhitungan Faktor agar bendungan tersebut tidak mengalami Keamanan (FK) dilakukan pada tiga kondisi kegagalan bendungan. yaitu kondisi selesai konstruksi, muka air Terdapat beberapa tujuan dari penelitian normal, dan rapid drawdown sehingga Pertama, untuk mengetahui kondisi menghasilkan 54 buah nilai FK. geologi dan geologi teknik pada wilayah ISSN 2599-2081 Fakultas Teknik UMSB EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Analisis Beban Gempa Analisis beban gempa yang digunakan dalam perencanaan suatu bangunan yang dapat menahan gempa diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu analisis secara statik dan dinamik (Chopra, 1. Goncangan gempa untuk desain sebuah bendungan harus mempertimbangkan kodisi beban tanah yang tidak biasa disebut dengan Operationing Basis Earthquake (OBE) dan gempa desain maksimum Maximum Design Earthquake (MDE) mempertimbangkan beban pada diperkirakan ada selama masa operasi rutin Bendungan (Tanjung et al. , 2. Koefisien gempa yang diuraikan dalam Pedoman Analisis Stabilitas Bendungan Tipe Urugan Akibat Beban Gempa (Departemen Pemukiman Dan Prasarana Wilayah, 2. , perlu untuk dilakukan modifikasi dengan metode yang telah dikembangkan oleh negara Jepang yaitu meode AuSeismic Design Guadeline For Fill DamAy (Fata & Suhartanto. Untuk metode analisis yang digunakan dapat diketahui berdasarkan kriteria beban gempa dari hasil kelas risiko yang telah didapatkan, kemudian dilakukan analisis koefisien gempa dengan periode kala ulang Perhitungan koefisien gempa menggunakan Persamaan 1 hingga persamaan PGAM = FPGA x SB . = PGAM / g . = 2 x Kh Keterangan: PGAM : Percepatan gempa terkoreksi. FPGA : Faktor amplifikasi untuk PGA : Nilai percepatan gempa dasar dari peta Gempa 2010 : Kecepatan gravitasi bumi : Koefisien gempa horisontal pada periode T. : Koreksi pengaruh struktur. untuk bendungan urugan = 0,5. : Koefisien gempa terkoreksi di permukaan tanah. Nilai koefisien gempa pada kedalaman Y dari puncak bendungan berbeda-beda. Hal ini dikarenakan apabila semakin tinggi tempat yang ditinjau, maka guncangan gempa akan Rang Teknik Journal semakin besar. Perhitungan dilakukan pada Y/H 0,25. 0,5. 0,75. dan 1 (Imron et al. , 2. Untuk 0 < Y/H O 0,4 Kh = Ko 1,85 (Y/ H)). Untuk 0,4 < Y/H O 1,0 Kh = Ko 0,60 (Y/ H)). Keterangan: Kh : Koefisien gempa pada kedalaman Y dari puncak bendungan Ko : Koefisien gempa terkoreksi di permukaan tanah Hasil perhitungan tersebut akan didapatkan nilai Kh (Koefisien Horizonta. pada Y/H dengan periode ulang (T) yang diinginkan. Kemudian dari hasil tersebut, dapat dihitung Kv (Koefisien Vertika. dengan persamaan Kv = 0,6 Kh. Keterangan : Kv : Koefisien gempa vertikal Kh : Koefisien gempa horizontal Gempa desain maksimum (MDE) adalah gempa yang memberikan getaran paling besar pada daerah penelitian. Gempa dasar operasi (OBE) adalah batasan getaran gempa pada daerah penelitian dengan 50% kemungkinan gempa tidak terlampau dalam 100 tahun. Analisa Stabilitas lereng Longsorang yang terjadi pada bendungan sangat berbahaya untuk keamanan bendungan urugan, longsoran yang terjadi biasanya berbentuk lingkaran. Untuk analisa longsorang dengan bentuk lingkaran digunakan metode keseimbangan momen (Dharmayasa et al. Dalam anylisis stabilitas lereng bendungan membutuhkan perhitungan kuat geser material sepanjang permukaan yang berpotensi terjadi runtuh. Berdasarkan kriteria keruntuhan Mohr-Coloumb dengan konsep tegangan efektif, maka kuat geser AuSAy. ada saat terjadi runtu. dapat dirumuskan sebagai berikut (Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, 2. AA. Dimana : = kekuatan geser efektif . /m. = kohesi efektif . /m. = tegangan normal total . /m. Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL tekanan air pori sudut geser dalam efektif (A) Kondisi stabilitas pada lereng hulu . dan lereng hilir . pada bendungan urugan pada umumnya analisis dilakukan pada kondisi yang paling kritis yang mungkin terjadi yaitu pada saat akhir konstruksi, muka air normal . teady state seepag. , surut cepat . seudostatic analysi. (Nanda & Hamdhan. Standar nilai Faktor Keamanan (FK) yang digunakan merujuk pada SNI 80642016, (Tabel . Hasil anylisis dinyatakan dalam nilai faktor keamanan (FK) yang dinyatakan sebagai Dengan FK = Rang Teknik Journal Ou 1 atau S > = aman S < = tidak Tabel 1. Persyaratan FK minimum lereng bendungan tipe urugan berdasarkan (SNI 8064-2. FK Syarat Kondisi Tanpa Beban Gempa Selesai Konstruksi Muka Air Normal Rapid Drawdown HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Peta Geologi Regional tahun 2010 lembar Bogor lokasi bendungan Ciawi (Dry a. terletak di zona Bogor tertutup oleh batuan vulkanik muda hasil erupsi gunung api pada zaman Plistosen atau terinjeksikan lewat zona-zona sesar pada sedimen Miosen. Hasil pemetaan geologi di daerah dam site memiliki sifat fisik-mekanik dan kesesuaian bentuk topografi terutama untuk lapisan penutup . nconsolidated deposi. , daerah penelitian terbagi atas tujuh satuan batuan, adapun urutan dari tua ke muda dapat dijelaskan sebagai Satuan Batuan Breaksi Tuff Satuan breksi tuff merupakan batuan dasar yang termasuk dalam batuan vulkanik kuarter, yang penyebarannya dari sandaran kiri bendungan, dasar sungai sampai sandaran kanan bendungan. Breksi tuff abu-abu abu-abu kecoklatan dan berada dalam batuan lapuk sedang dapat dilihat pada gambar 1. Satuan Batuan Aglomerate Satuan Aglomerate termasuk dalam kelompok batuan vulkanik kuarter. Batuan ini terdapat di sandaran kanan bendungan pada kedalaman 17 m. Satuan batuan aglomerate berwarna abu hingga abu-abu ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Dengan Beban Gempa OBE Dengan Beban Gempa MDE kecoklatan, lapuk sedang, dan kekerasan Satuan Batuan Tuff Lapili Satuan batuan tuff lapili termasuk dalam kelompok batuan vulkanik kuarter. Penyebarannya berada di sandaran kiri bendungan, dasar sungai dan sandaran berwarna abu-abu hingga coklat tua dalam kondisi lapuk kuat sampai lapuk sedang dapat dilihat pada gambar 1 Satuan Batuan Tuff Satuan tuff termasuk dalam kelompok batuan vulkanik kuarter. Batuan ini terdapat di dasar sungai pada kedalaman 25 m dan 40 m, di sandaran kiri bendungan terdapat pada kedalaman 13 Ae 15 m. Sifat fisik batuan tuff mempunyai warna abu-abu hingga coklat tua, sebagian besar batuan lapuk kuat sampai sedang berupa lanau dan lempung, amat liat, serta plastis sedang. Satuan Batuan Residual Soil Merupakan hasil pelapukan sempurna dari batuan dibawahnya, yaitu batuan vulkanik seperti breksi tuff, tuff lapili, tuff dan Terdapat di puncak bukit pada sandaran kiri dan kanan bendungan , berupa lempung dan lanau yang mengandung gravel, kerakal dan boulder. Dari hasil pengeboran inti ketebalan residual soil antara 4 m sampai 7 m. Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Satuan Batuan Koluvial Satuan batuan ini merupakan endapan hasil longsoran, yang secara umum merupakan endapan hasil perpindahan material dari suatu tempat ke tempat lain. Satuan batuan ini terdapat di lereng dan kaki perbukitan sebelah kiri dan kanan tumpuan Koluvial ini mempunyai ketebalan antara 6,5 m sampai 19 m. Endapan koluvial terdiri dari komponen campuran lempung, lanau, pasir dan gravel Rang Teknik Journal sampai boulder, berwarna coklat abu-abu sampai abu-abu, tidak terkonsolidasi. Satuan Batuan Aluvial Satuan ini tersebar sepanjang dataran banjir kiri dan kanan sungai dan alur sungai. Satuan ini terdiri dari campuran boulder andesit, kerakal, kerikil, pasir dan lanau. Umumnya tidak terkonsolidasi, diendapkan secara tidak selaras diatas batuan tuff. alur sungai endapan aluvial memiliki ketebalan 3,3 m. Gambar 1. Satuan batuan beaksi tuff dan lapili tuff pada bukit sandaran kanan zona filter kasar, zona random . eathered Penampang Tipikal Bendungan Desain Bendungan Ciawi roc. , dan zona rip-rap dapat dilihat pada bendungan dengan type urgan zonal dengan inti tegak , yang teridiri dari material penyusun berupa zona inti kedap air, zona filter halus. Gambar 2. Tipical Tubuh Bendungan Ciawi Parameter Desain Bendungan Dari hasil analisis perhitungan serta uji laboratorium yang telah dilaksanakan, hasil parameter desain yang dapat digunakan dalam perhitungan stabilitas Bendungan Ciawi dapat dilihat pada tabel 2 Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Tabel. 2 Parameter Desain Bendungan Ciawi Sumber : Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane . Operation Base Earthquake (OBE) dan Maximum Design Earthquake (MDE) Kelas Resiko dan Koefisien Gempa Berdasarkan pedoman konstruksi untuk menggunakan persamaan . Diperoleh nilai analisis stabilitas bendungan tipe urugan PGA pada kondisi OBE 0,145 g, dan kondisi akibat beban gempa dari Departemen MDE 0,630 g. , dan untuk selanjutnya Pemukiman Dan Prasarana Wilayah tahun dilakukan perhitungan koefisien gempa 2004, perhitungan kelas risiko bendungan terkoreksi di permukaan tanah (K. pada dapat dilakukan dengan menjumlahkan bobot kondisi OBE dan MDE menggunakan dari 4 parameter, kemudian dimasukkan ke persamaan . Dari hasil perhitungan dalam tabel kelas risiko. Bendungan Ciawi didapatkan nilai Ko pada kondisi OBE 0,073, termasuk ke dalam kelas risiko IV . dan kondisi MDE 0,315. Hasil klasifikasi kelas risiko kemudian Perhitungan koefisien gempa pada dimasukkan kedalam tabel kriteria beban penelitian ini dilakukan pada kedalaman Y/H gempa, sehingga didapatkan kriteria beban 0,75 . 0,5 . 0,25 menggunakan persamaan gempa OBE perulangan pada T = 100 tahun . Hasil perhitungan tersebut dengan FKmin Ou 1,20 sesuai dengan kriteria diperoleh dari nilai koefisien gempa horizontal yang berlaku dan gempa MDE perulangan T = (K. dapat dilihat pada tabel 3. Untuk mencari 000 tahun dengan FK Ou 1. Perhitungan nilai koefisien gempa vertikal (K. dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan . yang percepatan gempa dasar yaitu OBE = 0,145 dihitung sebesar 0,6 x Kh dapat dilihat pada (T=100 tahu. MDE = 0,630 (T=10. , dan faktor amplikasi gempa OBE 1,0 dan MDE 1,0. Langkah pertama yang dilakukan dalam perhitungan percepatan gempa dasar atau ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Tabel 3 Koefisien Gempa Horizontal OBE dan MDE Periode Kh pada y/H Keterangan Ulang (T) . OBE MDE Tabel 4 Koefisien Gempa Vertikal OBE dan MDE Periode Kv pada y/H Keterangan Ulang (T) . OBE MDE Sumber : Hasil perhitungan . Analisis Kestabilan Lereng Dalam analisis kestabilan lereng tubuh Bendungan Ciawi menggunakan Software Geostudio 2012 dengan program Slope/W, pendekatan dengan metode irisan bidang Simplified Bishop. Analisis dilakukan pada tiga kondisi, yaitu pada kondisi selesai konstruksi, muka air normal, dan rapid Data analisis menggunakan parameter desain material yang telah dilakukan uji laboratorium meliputi nilai kohesi . , sudut geser dalam . , dan berat isi dapat dilihat pada tabel 2. Selain data parameter desain material timbunan, data koefisien gempa digunakan untuk masingmasing kondisi dapat dilihat pada tabel 3 dan Kondisi Selesai Konstruksi Pada kondisi selesai konstruksi, pada umumnya bendungan masih kering dan belum ada genangan air. Maka pada kondisi ini diasumsikan bahwa material timbunan bersifat kering sehingga berat jenis yang digunakan adalah berat jenis kering . Pada kondisi ini dibagi menjadi kondisi tanpa gempa dan dengan gempa pada bagian hulu dan hilir. Hasil perhitungan FK tanpa ada gempa pada kondisi selesai konstruksi dapat dilihat pada tabel 5 dan kondisi ada gempa OBE pada tabel 6 dan gempa MDE setelah selesai konstruksi dapat dilihat pada tabel 7. Kondisi Muka Air Total Pada kondisi muka air total, bendungan sudah memasuki tahap operasional dan digenangi air. Muka air normal pada Bendungan Ciawi direncanakan berada pada elevasi di 546,75 Pada kondisi ini, diasusmsikan material bersifat jenuh air sehingga berat jenis yang digunakan yaitu berat jenis jenuh . Hasil perhitungan FK pada kondisi muka air normal dapat dilihat pada Tabel 6. Kondisi Rapid Drawdown Pada kondisi rapid drawdown, kondisi muka air berubah dari kondisi muka air normal . ,75 mdp. ke muka air minimum . ,00 Pada kondisi ini, diasusmsikan material bersifat jenuh air sehingga berat jenis yang digunakan yaitu berat jenis jenuh . Pada kondisi ini, digunakan dua buah garis freatik untuk menggambarkan kondisi awal dan kondisi akhir. Garis freatik pada muka air minimum mengikuti garis freatik pada kondisi muka air normal. Hasil perhitungan FK pada kondisi tanpa gempa dapat dilihat pada tabel 5, untuk kondisi gempa OBE dan MDE dapat dilihat pada tabel 6 dan tabel 7 serta permodelannya dapat dilihat pada gambar 3, 4 Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Gambar 3. Analisis Dinamis Tanpa Ada Gempa. Stabilitas Lereng Hulu Bendungan. Kondisi Rapid Drawdown Gambar 4. Analisis Dinamis (Gempa OBE) Stabilitas Lereng Hulu Bendungan. Kondisi Rapid Drawdown y/H = 0,25 Gambar 5. Analisis Dinamis (Gempa MDE) Stabilitas Lereng Hulu Bendungan. Kondisi Rapid Drawdown NWL 546,50, y/H = 0,75 Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui nilai faktor keamanan pada masing-masing kondisi berdasarkan tabel 5, 6, dan 7 menunjukkan bahwa desain Bendungan Ciawi (Dry Da. pada kondisi tanpa gempa dan kondisi gempa OBE termasuk dalam kategori aman, tetapi untuk kondisi gempa MDE terjadi longsoran pada sisi hulu sehingga kondisi bendungan menjadi tidak aman. Dari hasil ini, perlu ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 dilakukan studi lebih lanjut, tidak hanya melakukan analisis dinamik dengan metode psidostatik tetapi dapat dilakukan dengan metode lain misalnya metode newmark sliding analysis atau analisis numerik. Sedangkan untuk kondisi rapid drawdown sebaiknya dilakukan analisis pada kondisi aliran transient, mengingat fungsi bendungan Ciawi sebagai detention dam yang memiliki kondisi muka air yang tidak tetap. Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Tabel 5 Hasil Analisis Statis Stabilitas Lereng Bedungan Ciawi (Dry Da. Tanpa Ada Gempa Tanpa Gempa Kondisi After Construction Muka Air Normal Rapid Drawdown Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir FK Syarat Tabel 6. Hasil Analisis Dinamis Stabilitas Bendungan Ciawi (Dry Da. Dengan Beban Gempa OBE OBE Kondisi y/H = 1 y/H = 0. y/H = 0. y/H = 0. Kh = 0. Kh = 0. Kh = 0. Kh = 0. Syarat Kv = 0. 061g Kv =0. 067g Kv = 0. 074g Kv = 0. Hulu After Contruction Hilir Hulu Muka Air Normal Hilir Hulu Rapid Drawdown Hilir Tabel 7. Hasil Analisis Dinamis Stabilitas Bendungan Ciawi (Dry Da. dengan Beban Gempa MDE MDE Kondisi y/H = 1 Kh = 0. y/H = 0. Kh = 0. y/H = 0. Kh = 0. y/H = 0. Kh = 0. Syarat Kv = 0. 265g Kv = 0. 293g Kv = 0. 322g Kv = 0. Hulu 0,94 0,86 After Contruction Hilir 0,76 0,91 Hulu Muka Air Normal Hilir Hulu 0,47 Rapid Drawdown Hilir Pada bagian hulu dan hilir, kestabilan lereng OBE dan MDE akan memiliki nilai faktor saat kondisi tanpa beban gempa menunjukkan keamanan yang lebih kecil. Selain itu, pada nilai faktor keamanan relatif tinggi dibanding bagian hilir kondisi tanpa beban gempa kondisi pada saat beban gempa OBE maupun maupun dengan beban gempa OBE dan MDE MDE. Hal ini disebabkan pada kondisi tanpa memiliki nilai Fk yang relatif lebih kecil beban gempa material urugan dari tubuh dibandingkan bagian hulu. Hal ini dikarenakan bendungan relatif stabil terhadap tekanan dan pada bagian hilir bendungan memiliki tekanan tegangan dari gaya yang di hasilkan oleh yang tinggi pada saat volume muka air getaran gempa. Sehingga kondisi beban gempa bendungan bertambah. Hal ini juga disebabkan Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL oleh material tanggul yang jenuh air sehingga berat jenisnya semakin bertambah, sehingga kestabilan lereng bagian hilir semakin Berdasarkan hasil analisis kestabilan lereng yang sudah dilakukan nilai faktor keamanan (FK) hasil perhitungan pada kondisi tanpa gempa dan dengan kondisi gempa OBE nilai FK telah memenuhi syarat, namun pada kondisi Gempa MDE tidak memenuhi FK minimum standar SNI 8064:2016, sehingga perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan modifikasi geometri lereng dan zona typical pada bendungan serta dengan analisis dinamik dengan metode yang lainnya (Kramer, 1. PENUTUP Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : Lokasi penelitian tersusun atas 7 . satuan batuan yaitu Satuan batuan Breaksi Tuff. Aglomerate. Tuff Lapili. Tuff. Residual Soil. Koluvial, dan Aluvial. Bendungan Ciawi merupakan bendungan urugan dengan tipe zonal yang terdiri dari inti, filter halus, filter kasar, random. Weathered Rock dan rip-rap sehingga setiap zona memiliki nilai berat jenis, kohesi dan sudut geser dalam yang Nilai faktor keamanan (FK) hasil perhitungan pada kondisi tanpa gempa dan gempa OBE telah memenuhi FK minimum tetapi untuk kondisi gempa MDE tidak memenuhi FK minimum standar standar SNI 8064:2016. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan ini yakni dari Balai Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane. Rang Teknik Journal Gempa. Dharmayasa. Redana. , & Suwarsa Putra. Analisis Keamanan Lereng Bendungan Utama Pada Bendungan Benel Di Kabupaten Jembrana. Jurnal Spektran, 2. , 68Ae77. https://doi. org/10. 24843/spektran. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pedoman Kriteria Umum Desain Bendungan. Jakarta: Komisi Keamanan Bendungan. Fata. , & Suhartanto. Analisis Stabilitas Lereng Bendungan Sutami Berdasarkan Peta Gempa 2017. Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan, 1. Imron. Sarah. Hardiyati. , & Sadono, . Analisa Geoteknik Bendungan Gongseng Terhadap. Jurnal Karya Teknik Sipil, 6, 83Ae90. Kramer. Geothechnical Earthquake Engineering. Upper Saddle River,New Jersey 07458. Nanda. , & Hamdhan. Analisis Rembesan dan Stabilitas Bendungan Bajulmati dengan Metode Elemen Hingga Model 2D dan 3D. Journal Reka Racana, 2. SNI 8064-2016. Metode analisis stabilitas lereng statik bendungan tipe Jakarta: Badan Standarisasi Nasional. Soedibyo. Teknik Bendungan. Jakarta: Pradnya Paramita. Tanjung. Sari. , & Ghafara. Screening analysis stabilitas lereng bendungan urugan akibat gempa di Indonesia. Jurnal Teknik Hidraulik, 8. , 43Ae56. DAFTAR PUSTAKA