MABNY : Journal of Sharia Management and Business Vol. 3 No. 1 April 2023 Pengaruh Fashion Involvement. Promosi. Religiusitas terhadap Impulse Buying dengan Shopping Emotion sebagai Variabel Intervening pada Pakaian Thrift di Salatiga Muhammad Kharil F. Dini Rahmayanti. Universitas Islam Negeri Salatiga. Salatiga. Indonesia Corresponding author: kfadzaki@gmail. Abstract: The purpose of this study was to determine the influence of fashion involvement, promotion, religiosity on impulse buying with shopping emotion as an intervening variable in thrift clothing in Salatiga. This study used as many as 100 samples distributed to Salatiga people who have an interest in thrift clothing. The sampling technique in this study used purposive sampling techniques, then the data was processed using the SPSS tool version 25. This analysis includes reliability tests, validity tests, statistical tests through Ttest. Ftest, and coefficient of determination (R. , path analysis tests, and sobel tests. The results of this study showed that fashion involvement, promotion and shopping emotion had a significant positive effect on impulse buying, while religiosity got positive results but not significant on impulse buying. Then shopping emotion is able to mediate fashion involvement, promotion and religiosity towards impulse buying on thrift clothes in Salatiga. Keywords: fashion involvement, promotion, religiosity, shopping emotion, impulse buying Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh fashion involvement, promosi, religiuisitas terhadap impulse buying dengan shopping emotion sebagai variabel intervening pada pakaian thrift di Salatiga. Penelitian ini menggunakan sebanyak 100 sampel yang disebarkan kepada masyarakat Salatiga yang memiliki minat terhadap pakaian Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, kemudian data yang diolah dengan menggunakan alat bantu SPSS versi 25. Analisis ini meliputi uji reliabilitas, uji validitas, uji statistik melalui uji Ttest. Ftest, serta koefisien determinasi (R2 ), uji path analisis, dan uji sobel test. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa fashion involvement, promosi dan shopping emotion berpengaruh secara positif signifikan terhadap impulse buying, sedangkan religiusitas mendapatkan hasil positif namun tidak signifikan terhadap impulse buying. Kemudian shopping emotion mampu memediasi fashion involvement, promosi dan religiusitas terhadap impulse buying pada pakain thrift di Salatiga. Kata Kunci: fashion involvement, promosi, religiusitas, shopping emotion, impulse buying PENDAHULUAN Globalisasi secara tidak langsung telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai hal, termasuk pada industri fashion. Dimana trend fashion terus menghadirkan tampilan baru dengan gaya yang berbeda. Sebagian orang mencari cara untuk tetap tampil modis namun dengan modal minim untuk memaksimalkan pencapaian tujuan yang telah Salah satu alternatif dengan munculnya tren fashion thrift yang lebih dikenal dengan thrifting. Muhammad Kharil F. Dini Rahmayanti Secara bahasa thrift sendiri diambil dari kata thrive yang berarti berkembang atau Sedangkan kata-kata thrifty sendiri dapat diartikan sebagai cara menggunakan uang dan barang lainnya secara baik dan efisien. Sehingga thrifting dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan mencari dan membeli barang bekas. Namun, pandangan masyarakat tentang thrifting masih tabu dan negatif, yang berarti bahwa masyarakat masih sering berpikir bahwa membeli atau menggunakan barang bekas ialah mereka hidup di kelas sosial yang lebih rendah dan indentik dengan barang murah dan penghematan (Cross, 2. Selain itu, juga tidak terlepas dari banyaknya isu barang second branded yakni impor ilegal, isu lingkungan, maupun faktor kesehatan yang menjadi kekhawatiran dari segi kesehatan itu sendiri, terlebih dikala pandemi kemarin. Berdasarkan survei yang sudah dilakukan peneliti terhadap beberapa toko pakaian thrift di Salatiga peneliti menyimpulkan bahwa pakaian thrift belakangan ini sedang banyak digemari oleh generasi milenial di Salatiga. Kebutuhan untuk terus berpenampilan menarik menjadi daya dorong para milenial ini untuk membeli pakaian thrift ini. Dengan harga yang terjangkau dan dapat membeli pakaian yang branded menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan pada trend thrifting ini, dengan maraknya tren ini memunculkan ide bisnis untuk menjual pakaian thrift. Beragam cara digunakan oleh penjual thrift untuk menarik minat beli konsumen, apalagi pada era modern ini sosial media menjadi salah satu cara untuk menarik konsumen. melakukan aktivitas di rumah justru menyebabkan pembelian impulsif atau pembelian barang yang tidak terkendali. Pembelian impulsif dapat diartikan sebagai perilaku belanja yang tiba-tiba dan tiba-tiba dan acak tanpa perencanaan sebelumnya. Pembelian impulsif dapat terjadi ketika seseorang membuka media sosial atau toko online dan melihat suatu produk kemudian melakukan pembelian dari toko online tersebut. ( Kristanto Damar, n. Kim dan Forney . menyatakan salah satu penyebab terjadinya impulse buying pada produk fashion adalah keterlibatan individu dalam produk fashion atau fashion Hal ini di karenakan pengaruh dari gaya hidup yang semakin tinggi dan juga saat ini membeli barang bukan lagi hanya sekedar kebutuhan belaka melainkan sesuai keinginannya, mayoritas orang saat ini lebih mengutamakan nilai simbolik daripada nilai Religiuisitas, religiusitas pada penelitian ini bertujuan untuk ingin mengetahui bagaiamana peran suatu keyakinan dalam mengendalikan diri terhadap perilaku Religiusitas merujuk pada seberapa besar komitmen dan komitmen seseorang terhadap ajaran dan nilai-nilai agamanya. Agama mengajarkan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya berdasarkan keyakinannya sendiri, termasuk tata cara berpakaian, konsumsi makanan dan minuman, serta masalah keuangan. Faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya impulse buying adalah shopping emotion. Shopping emotion sebagai variabel intervening dikarenakan shopping emotion bisa menjadi Penentu pentingnya perilaku konsumen dalam banyak kasus. Secara khusus, sentimen belanja, atau kondisi emosional konsumen, dipandang sebagai variabel situasional yang memengaruhi perilaku belanja individu (Dawson. Bloch, dan Ridgway 1. Sentimen belanja adalah perasaan atau emosi yang dirasakan konsumen saat berbelanja. Ketika konsumen di dalam toko semakin termotivasi, konsumen tersebut lebih cenderung melakukan pembelian yang tidak direncanakan . (Hidayat et al. , 2. Pengaruh Fashion Involvement. Promosi. Religiusitas terhadap Impulse Buying dengan Shopping Emotion sebagai Variabel Intervening pada Pakaian Thrift di Salatiga METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian ini berlokasi di Kota Salatiga. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2. Populasi diambil dari masyrakat Salatiga. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi dan harus bersifat representatif (Sugiyono, 2. Metode penentuan banyaknya sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dan dipatkan sejumlah 100 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner terdiri dari pertanyaan terbuka terdiri dari identitas diri, umur, dan pernyataan tertutup terdiri dari pernyataanpernyataan yang telah disediakan dan dibatasi sesuai kondisi. Metode pengumpulan data disebarkan secara langsung kepada responden untuk diisi sendiri. Dalam kuesioner pernyataan tertutup menggunakan skala Likert 5 poin, dari nilai 1 menunjukkan ukuran pernyataan sangat tidak setuju (STS) sampai nilai 5 menunjukan pernyataan sangat setuju (SS). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah IBM SPSS versi 25. SPSS merupakan sebuah program pengolahan data pada komputer untuk membantu dalam memproses data-data statistik secara cepat, tepat dan akurat. HASIL PENELITIAN Berdasarkan uji reliabilitas pada tabel 4. 4 diatas menunjukkan bahwa seluruh variabel mempunyai cronbach alpha >o. 6 oleh karena itu disimpulkan bahwa kuesioner yang digunakan pada penlitian ini reliabel. Maka dari itu butir pertanyaan dapat dipercaya dan digunakan untuk penelitian selanjutnya. Uji Koefisien Determinasi (R2 ) Koefisien determinasi (R2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2. Tabel 1. Uji Koefisien Determinan Std. Error Adjusted Estimate Model R Square Square 0,503 0,487 2,341 Predictors: (Constan. , shoppingemotion, promosi,fashioninvolvement, religiusitas Dependent Variable: impulsebuying Sumber : data diolah 2023 Berdasarkan pada tabel 4. 8 di atas menunjukkan nilai R sebesar 0. 709 sehingga terjadi adanya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Sementara itu nilai determinan (R. 503 yang artinya variabel independen mempengaruhi variabel dependen 3% sedangkan sisanya 49. 7% dipengaruhi oleh variabel lain. Muhammad Kharil F. Dini Rahmayanti Uji f Uji f digunakan untuk menguji pengaruh dari variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Uji F pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. 2 Uji F ANOVAa Model Regression Sum of Squares 228,921 Residual 523,250 Mean Square 57,230 Tota 752,171 Dependent Variable: impulse buying 5,626 Sig. 10,17 Predictors: (Constan. , shopping emotion, religiusitas, fashioninvolvement. Sumber : data primer, 2023 Berdasarkan uji f pada tabel 4. 9 di atas didapat nilai f hitung sebesar 10. 172 dan nilai signifikansi yang didapat sebesar 0. 000 dimana nilai ini lebih kecil dari 0. sehingga hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa variabel x1, x2, x3 dan z berpengaruh positif signifikan terhadap variabel y. Tabel 1. Uji T ( X terhadap Z) Unstandardiz Coefficients Model Std. Error Standardiz Coefficient Beta Sig. Pengaruh Fashion Involvement. Promosi. Religiusitas terhadap Impulse Buying dengan Shopping Emotion sebagai Variabel Intervening pada Pakaian Thrift di Salatiga 1 (Constan. 7,800 1,617 fashioninvolvem 0,149 Promosi 0,228 0,082 0,209 0,085 0,150 Religiusitas 0,064 0,161 4,82 1,81 2,31 2,73 Dependent Variable: shopping emotion 0,00 0,02 0,00 0,00 Sumber : data primer diolah, 2023 Dari ketiga variabel independen yang dimasukkan ke dalam model regresi, semuanya mendapatkan hasil yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi sebesar 0,028 pada fashion involvement, kemudian promosi dengan signifikansi sebesar 0. 002 dan juga religiusitas sebesar 0. 007 yang mana semuanya berada dibawah tingkat siginifikansi sebesar 0,05 Tabel 1. Uji T (X dan Z Terhadap Y) Unstandardiz Coefficients Model 1 (Constan. 2,066 Std. Error 2,815 Standardiz Coefficient Beta fashioninvolvem 0,262 0,372 0,040 0,208 0,064 0,292 0,203 0,050 0,094 0,290 0,060 0,194 Dependent Variable: y Sig. 0,73 0,465 2,01 0,047 2,77 0,007 0,96 0,336 1,80 0,003 Sumber : data primer diolah, 2023 Berdasarkan data dari tabel diatas hanya variabel religiuisitas yang tidak memiliki pengaruh signfikan terhadap impulse buying, hal ini dikarenakan nilai signifikansi yang didapat oleh variabel religiusitas sebesar 0. 336 ini melebihi dari standard siginifikansi sebesar 0. Muhammad Kharil F. Dini Rahmayanti Path analisis e1 = 0. Fashion e2 = 0. Promosi Impulse Shopping Religiusitas Gambar 1. 1 model path analisis Pengaruh fashion involvement terhadap impulse buying yang dimediasi oleh shopping Sp2p3 = Ooycy32ycycy22 ycy22ycycy32 ycycy22ycycy32 Sp2p3 = Oo0. Sp2p3 =0,016 Keterangan : P2 : koefisien variabel xP3 : koefisien Sp2 : standar eror koefisien 1Sp3 : standar eror Pengaruh Fashion Involvement. Promosi. Religiusitas terhadap Impulse Buying dengan Shopping Emotion sebagai Variabel Intervening pada Pakaian Thrift di Salatiga Besarnya pengaruh langsung variabel x1 yaitu 0. 208 sedangkan pengaruh tidak langsung adalah . 208 x 0. = 0. 04035, maka dari itu jumlah pengaruh langsung dan tidak langsung fashion involvement terhadap impulse buying sebesar 0. 0,248. Maka dari sp2p3 dapat dihitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan rumus : ycy2ycy3 ycycy2ycy3 T= 2. oleh karena itu nilai dari t hitung adalah 2,522 lebih besar dari t tabel dengan signifikansi 05 yaitu 1. 658 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh mediasi. Pengaruh promosi terhadap impulse buying yang dimediasi oleh shopping emotion Sp2p3 = Ooycy32ycycy22 ycy22ycycy32 ycycy22ycycy32 Sp2p3 = Oo0. Sp2p3 = 0. Besarnya pengaruh langsung variabel x2 yaitu 0. 294 sedangkan pengaruh tidak langsung adalah . 292 x 0. = 0. 056648, maka dari itu jumlah pengaruh langsung dan tidak langsung promosi terhadap impulse buying sebesar 0. 294 = 0,351. Maka dari sp2p3 dapat dihitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan rumus : ycy2ycy3 ycycy2ycy3 T= 2. oleh karena itu nilai dari t hitung adalah 2,24 lebih besar dari t tabel dengan signifikansi yaitu 1. 658 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh Pengaruh religiusitas terhadap impulse buying yang dimediasi oleh shopping emotion Sp2p3 = Ooycy32ycycy22 ycy22ycycy32 ycycy22ycycy32 Sp2p3 = Oo0. Sp2p3 = 0. Besarnya pengaruh langsung variabel x3 yaitu 0. 174 sedangkan pengaruh tidak langsung adalah . 094 x 0. = 0. 033756 dengan total pengaruh langsung dan tidak langsung sebesar ( 0. = 0. Maka dari sp2p3 dapat dihitung nilai t statistik pengaruh mediasi dengan rumus : ycy2ycy3 ycycy2ycy3 T= 2. Muhammad Kharil F. Dini Rahmayanti oleh karena itu nilai dari t hitung adalah 2. 25 lebih dari dari t tabel dengan 05 yaitu 1. 658 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa disimpulkan terdapat pengaruh mediasi. PEMBAHASAN Pengaruh Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Pada hasil uji t test2 menunjukkan nilai koefisien dari fashion involvement sebesar Dismpulkan bahwa fashion involvement berpengaruh positif signifikan terhadap impulse buying, oleh karena itu H1 diterima. Hal ini terjadi dikarenakan banyaknya ketertarikan generasi milenial di Salatiga terhadap pakaian thrift dan juga pakaian thrift memiliki keuinikan karakteristik yang memebedakan dari pakaian pada umumnya, sehingga orang yang terlibat pada dunia fashion merasa tertarik untuk membeli pakaian thirft secara impulsif. Sejalan dengan uraian diatas, penelitian yang dilakukan Madeira . juga memperkuat hasil hasil penelitian sebelumnya dimana fashion involvement berpengaruh positif signifikan terhadap impulse buying. Pengaruh Promosi terhadap Impulse buying Pada hasil uji t test2 menunjukkan nilai koefisien dari fashion involvement Dismpulkan bahwa promosi berpengaruh positif signifikan terhadap impulse buying, oleh karena itu H2 diterima. Hal ini terjadi dikarenakan dengan adanya promosi dapat memicu keinginan dan dorongan untuk membeli dengan kesempatan yang terbatas terhadap konsumen sehingga mereka merasa perlu bertindak dengan cepat sebelum masa promosi yang ditawarkan habis. Hasil penelitian ini pun sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Indraswari dan S. Martono . dimana dalam penelitiannya promosi secara langsung mempengaruhi pembelian impulsif di Toserba Robinson di Semarang secara positif signifikan. Pengaruh Religiusitas terhadap Impulse buying Pada hasil uji t test2 menunjukkan nilai koefisien dari religiusitas sebesar 0. Dismpulkan bahwa religiusitas berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap impulse buying, oleh karena itu H3 ditolak. Hal ini berarti bahwa religiuisitas tidak ada kaitannya dengan impulse buying. Penanaman agama sejak dini yang dilakukan oleh orang tua, disekolah maupun perguruan tinggi belum cukup untuk mengendalikan impulse buying. Penelitian ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Arief Hoetoro dan Muhammad Said Hannaf . menjelaskan bahwa variabel religiusitas Islam tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel impulse buying dimana nilai p value = 0. 431 > 0. Pengaruh shopping emotion terhadap Impulse buying Pada hasil uji t test2 menunjukkan nilai koefisien dari fashion involvement sebesar Dismpulkan bahwa shopping emotion berpengaruh positif signifikan terhadap impulse buying, oleh karena itu H7 diterima. Hal ini terjadi dikarenakan semakin seseorang merasa positif, nyaman dalam melakukan pembelian pakaian thrift semakin besar kemungkinan seseorang dapat melakukan impulse buying terhadap pakaian Penelitian yang diteliti oleh Maulana . menunjukkan bahwa Pengujian hipotesis pada peran shopping emotion dalam memediasi pengaruh promosi terhadap impulse buying dengan menggunakan Uji Sobel atau Sobel Test membuktikan peran shopping emotion secara signifikan memediasi pengaruh promosi terhadap impulse Pernyataan ini sejalan penelitian yang dilakukan Kurniawan & Kunto . mengungkapkan dalam hasil penelitiannya bahwa promosi yang dilakukan perusahaan akan berdampak pada shopping emotion konsumen sehingga menimbulkan terjadinya impulse buying tersebut pada konsumen di Aeon Mall Pengaruh Fashion Involvement. Promosi. Religiusitas terhadap Impulse Buying dengan Shopping Emotion sebagai Variabel Intervening pada Pakaian Thrift di Salatiga Pengaruh fashion involvement terhadap impulse buying dengan shopping emotion sebagai variabel intervening Besarnya pengaruh langsung variabel x1 yaitu 0. 208 sedangkan pengaruh tidak langsung adalah . 208 x 0. = 0. 04035, maka dari itu jumlah pengaruh langsung dan tidak langsung fashion involvement terhadap impulse buying sebesar 04035 0. 208 = 0,248oleh karena itu nilai dari t hitung adalah 2. 522 lebih besar dari t tabel dengan signifikansi 0. 05 yaitu 1. 658 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh mediasi. Maka dari itu H4 diterima Hal ini dikarenakan shopping emotion dapat menjadi faktor penghubung antara fashion involvement dan impulse Dalam hal ini semakin seseorang terlibat dalam dunia fashion thrift, semakin besar kemungkinan mereka mengalami impulse buying dengan adanya faktor faktor yang dapat mempengaruhi emosi saat berbelanja. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan dan Kunto . menemukan bahwa shopping emotion memiliki pengaruh yang menguntungkan dan signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif. Pengaruh promosi terhadap impulse buying dengan shopping emotion sebagai variabel Besarnya pengaruh langsung variabel x2 yaitu 0. 294 sedangkan pengaruh tidak langsung adalah . 292 x 0. = 0. 056648, maka dari itu jumlah pengaruh langsung dan tidak langsung promosi terhadap impulse buying sebesar 0. 294 = 0,351. Oleh karena itu nilai dari t hitung adalah 2,24 lebih besar dari t tabel dengan 05 yaitu 1. 658 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh mediasi. Maka dari itu H5 diterima. Hal ini memiliki arti shopping emotion dapat menjadi faktor penghubung antara promosi dan impulse buying. Dalam hal ini promosi dapat memicu shopping emotion seperti memberikan penawaran diskon dan berbagai penawaran khusus terhadap konsumen sehingga dapat memicu pembelian secara spontan atau impuklse buying. Penelitian yang diteliti oleh Maulana . menunjukkan bahwa Pengujian hipotesis pada peran shopping emotion dalam memediasi pengaruh promosi terhadap impulse buying dengan menggunakan Uji Sobel atau Sobel Test membuktikan peran shopping emotion secara signifikan memediasi pengaruh promosi terhadap impulse buying. Pernyataan ini sejalan penelitian yang dilakukan Kurniawan & Kunto . mengungkapkan dalam hasil penelitiannya bahwa promosi yang dilakukan perusahaan akan berdampak pada shopping emotion konsumen sehingga menimbulkan terjadinya impulse buying tersebut pada konsumen di Aeon Mall. Pengaruh religiusitas terhadap impulse buying dengan shopping emotion sebagai variabel intervening Besarnya pengaruh langsung variabel x3 yaitu 0. 174 sedangkan pengaruh tidak langsung adalah . 094 x 0. = 0. 033756 dengan total pengaruh langsung dan tidak langsung sebesar ( 0. = 0. sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat ada pengaruh mediasi. Oleh karena itu nilai dari t hitung adalah 2,25 lebih besar dari t tabel dengan signifikansi 0. 05 yaitu 1. 658 sehingga dapat diambil kesimpulanbahwa terdapat pengaruh mediasi. Maka dari itu H6 diterima. Muhammad Kharil F. Dini Rahmayanti Hal ini memiliki arti shopping emotion dapat menjadi faktor penghubung antara religiusitas dan impulse buying. Jika seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi, mereka dapat mengontrol diri . Penelitian yang diteliti oleh Maulana . menunjukkan bahwa Pengujian hipotesis pada peran shopping emotion dalam memediasi pengaruh promosi terhadap impulse buying dengan menggunakan Uji Sobel atau Sobel Test membuktikan peran shopping emotion secara signifikan memediasi pengaruh promosi terhadap impulse buying. Pernyataan ini sejalan penelitian yang dilakukan Kurniawan & Kunto . mengungkapkan dalam hasil penelitiannya bahwa promosi yang dilakukan perusahaan akan berdampak pada shopping emotion konsumen sehingga menimbulkan terjadinya impulse buying tersebut pada konsumen di Aeon Mall. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisa pengaruh fashion involvement, promosi danreligiusitas terhadap impulse buying dengan shopping emotion sebagai variabel intervening pada pakaian thrifting di Salatiga dapat ditarik kesimpulan bahwa fashion involvement, promosi merupakan variabel yang memiliki pengaruh terhdap impulse buying pada pakaian thrifting di Salatiga yang dimediasi oleh shopping emotion. Hal ini dikarenakan keterlibatan khusus dengan produk pakaian thrift dan juga promosi-promosi yang dilakukan dapat meningkatkan pengalaman emosional konsumen ketika berbelanja yang akhirnya mempengaruhi kepercayaan konsumen dalam hal pengambilan keputusan DAFTAR PUSTAKA