GENTA MULIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan eissn: 25806416 pISSN: 23016671 PENGEMBANGAN E-MODUL SUHU DAN KALOR BERORIENTASI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HIGHER ORDER THINGKING SKILLS (HOTS) 1Fisa Wisnu Wijaya, 2Suyanto, 3Taufiqqurachman, 4Muhammad Raihan Febriansyah 1,2,3,4 Universitas Saintek Muhammadiyah. Jl. Raya Klp. Dua Wetan No. RT. 7/RW. Klp. Dua Wetan. Kec. Ciracas. Kota Jakarta Timur. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13730. Email: fisawiznuwijaya@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan E-modul Suhu dan Kalor berbasis Problem Based Learning dan menganalisa efektivitas dan kelayakan penggunaan e-module dalam meningkatkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Penelitian ini didasarkan pada penelitian dan pengembangan. Penelitian ini mencakup penelitian dan pengembangan model Borg dan Gall dengan langkah-langkah: perencanaan, pengembangan produk awal, pengujian awal, revisi produk utama, uji coba kelompok besar, revisi operasional produk, uji coba operasional, revisi produk akhir, dan diseminasi dan distribusi. Hasil kelayakan oleh ahli materi didapatkan rata rata presentase keseluruhan aspek sebesar 88 %, ahli media 72% dan ahli pembelajaran sebesar 78% termasuk dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa e-modul dengan model Problem Based Learning kelas 10 SMA layak digunakan dalam penelitian. Hasil uji efektifitas diperoleh N Gain sebesar 0,65 yang menunjukan bahwa e-modul Suhu dan Kalor berorientasi PBL dapat meningkatkan kemampuan HOTS siswa dengan kategori sedang. Hasil kuisoner uji lapangan yang di isi oleh siswa mendapatkan presentase 82% dengan intepretasi sangat baik. Berdasarka uji efektifitas dapat disimpulkan e-modul dinyatak layak dan dapat meningkatkan kemampuan HOTS siswa. eissn: 25806416 pISSN: 23016671 GENTA MULIA- JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Kata-Kata kunci: : e-modul, berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran Berbasis Masalah Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu peningkatan kualitas diri manusia yang berkaitan dengan aspeknya. Pendidikan sebagai kegiatan yang disengaja untuk meraih tujuan tertentu dengan mengaitkan berbagai macam faktor yang saling berkaitan antara satu dan lainnya sampai membentuk satu sistem yang saling mempengaruhi. Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), pendidikan adalah suatu langkah untuk mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok individu dalam usaha mendewasakan manusia melalui suatu upaya pengajaran, latihan, proses,perubahan dan cara didik. Bidang pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan baru dalam memenuhi tuntutan pengajaran dan pembelajaran pada abad ke 21. Salah satu tantangan baru adalah seruan untuk integrasi ICT (Informasi dan teknologi komunikas. dalam pengajaran dan pembelajaran sebagai cara alternatif pengiriman instruksi. Untuk mengantisipasi perkembangan teknologi peserta didik perlu dibekali kemampuan yang adaptif dalam mengantisipasi perubahan. Keberhasilan peserta didik mencapai tuntutan tersebut diperlukan kemampuan dalam strategi pengaturan diri yang dilatihkan dan dimiliki peserta didik sedini mungkin. Guna memberikan Pendidikan yang berkualitas kepada peserta didik di zaman informasi ini menuntut guru senantiasa mengikuti perkembangan Hal ini sangat penting bagi para guru untuk memiliki ketrampilan teknologi agar pengajaran yang diberikan menjadi lebih efektif. Teknologi multimedia merupakan salah satu inovasi yang paling pesat dalam era informasi. Pesatnya pertumbuhan teknologi multimedia selama dekade terakhir telah membawa perubahan dalam bidang pendidikan. Pertumbuhan teknologi multimedia dan aplikasi telah menghadirkan masyarakat peluang dan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aplikasi multimedia pembelajaran dapat menyajikan konsep dan ketrampilan tingkat tinggi dalam pembelajaran, yang memiliki keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya yang sulit diajarkan melalui buku Kelebihan aplikasi multimedia interaktif pembelajaran dalam menjelaskan suatu konsep dapat mencoba menggali konsep dan prinsip yang termuat dalam suatu materi yang dihadapinya, sehingga dapat relative . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya lebih cepat membangun struktur pemahaman peserta didik untuk bereksplorasi dan menganalisis mencoba dan menggali konsep dan prinsip yang termuat dalam suatu materi yang dihadapinya, sehingga dapat relative lebih cepat membangun struktur pemahaman peserta didik, karena terintegrasi komponen-komponen seperti suara, teks, animasi, gambar, dan video berfungsi untuk mengoptimalkan peran indra ke dalam system memori (Daryanto,2. Dengan kata lain penguasaan konsep yang dapat diperoleh dari multimedia dapat membantu meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun siswa tidak serta merta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu dalam proses pembelajaran, keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa perlu dilatih dan Maka dibutuhkan suatu kreativitas pendidik dalam mengembangkan multimedia dengan menggunakan suatu model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Model pembelajaran yang dipandang tepat adalah Problem Based Learnin. Pada pembelajaran PBL siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyakbanyaknya. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya. Pada intinya pembelajaran PBL merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata disajikan di awal pembelajaran. Kemudian masalah tersebut diselidiki untuk diketahui solusi dari pemecahan masalah tersebut. Menurut (Barak Miri 2. Jika guru menyajikan pembelajaran di kelas dengan masalah dunia nyata, mendorong diskusi kelas terbuka, dan Membina eksperimen yang berorientasi pada penyelidikan maka akan menumbuhkan kemampuan Higher Order Thingking Skills. Menurut (Lisa A. Giacumo, 2. Temuan mengungkapkan siswa yang diberi perancah menunjukkan keterampilan berpikir tingkat tinggi lebih sering daripada siswa yang tidak menerima perancah. Menurut Arends PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri, dan keterampilan berfikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kamandirian dan percaya diri. Berdasarkan definisi tersebut pengajaran PBL merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks(Trianto: 2. Berdasarkan obervasi dan survey yang dilakukan pada guru fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di jabodetabek menunjukkan bahwa 80 % keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa belum dikembangkan oleh para guru. Salah satu penyebab utamanya adalah guru kesulitan dalam mengembangkan sumber belajar yang dapat melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Sumber belajar berupa buku cetak yang saat ini digunakan kurang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi. Salah satu sumber belajar yang dapat digunakan guru adalah e modul. E-modul mengintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun film sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional, karena gambar yang ditampilkan tidak hanya berupa gambar diam saja, tetapi sudah menggunakan video dan animasi yang dapat melibatkan pengguna. Berbagai upaya masih diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan e-modul dalam proses pembelajaran. E-module pembelajaran yang pada umumnya berasal dari pusat perbukuan elektronik yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan belum bersifat interaktif sehingga hanya dibaca seperti buku teks biasa. Fakta ini ditemukan di lapangan dari hasil studi pendahuluan di sekolah menengah atas di Jabodetabek. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa dari berbagai macam media e-module sangatlah minim dalam penggunaannya hal ini terbukti hampir 90% guru belum pernah menggunakan e-module dalam proses pembelajaranya. Saat ditanyakan mengenai perlunya pengembangan e-module Problem Based Learning semua guru menyatakan perlu dikembangkan e-module Problem Based Learning untuk menambah wawasan bagi siswa dan menambah ketertarikan siswa terhadap materi E-module juga menjadi sumber belajar yang lengkap dan praktis bagi Para guru juga berharap agar e-module yang dikembangkan sesuai dengan materi dalam kurikulum yang berlaku, dan bahasa yang digunakan pun lebih mudah dipahami. Saat ditanya apakah guru melatih keterampilan tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran, semua responden menyatakan belum pernah. Berdasarkan hasil pengisian angket siswa yang berjumlah 136 responden di jabodetabek, diketahui bahwa sebagian besar siswa . ,7%) . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya menggunakan sumber belajar berupa teks dari penerbit tertentu. Data lain yang didapat adalah ternyata sebagian besar siswa 75,5% siawa mengalami kesulitan pada proses pembelajaran materi suhu dan kalor. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka perlu dilakukan inovasi pembelajaran yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar mandiri. Salah satunya adalah dengan mengembangkan bahan ajar yang dapat melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan software tertentu berupa emodul . odul elektroni. Penggunaan bahan ajar berupa e modul dengan konsep multimedia dalam format elektronik digunakan sebagai pengganti buku atau modul cetakan . tanpa mengurangi fungsinya sebagai sumber informasi. Dengan penggunaan bahan ajar berupa e-modul tersebut diharapkan dapat memberikan pembaharuan dalam pembelajaran. Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik. Modul minimal memuat tujuan pembelajaran, materi/substansi belajar, dan evluasi. Modul berfungsi sebagai sarana yang bersifat mandiri, sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai kecepatannya masing-masing. (Daryanto, 2. Sedangkan Modul elektronik adalah sebuah bentuk penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis ke dalam unit pembelajaran terkecil untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang disajikan ke dalam format elektronik yang di dalamnya terdapat animasi, audio, navigasi yang membuat pengguna lebih interaktif dengan program (Sugianto, 2. Modul elektronik dikembangkan dengan menggunakan software Flip Book. Flip Book atau Flipping AuFlip Book adalah salah satu jenis animasi klasik yang dibuat dari setumpuk kertas menyerupai buku tebal, pada setiap halamannya di gambarkan proses tentang sesuatu yang nantinya proses tersebut terlihat bergerak atau beranimasiAy. Sedangkan dikutip dari sebuah halaman website http://Flipbook. info dikemukakan: AyFlip Book merupakan kumpulan gambar gabungan dimaksudkan untuk terbalik untuk memberikan ilusi gerakan dan membuat urutan animasi dari sebuah buku kecil sederhana tanpa mesin. Ay Dalam software ini, terdapat fungsi editing yang memungkinkan penggunanya untuk manambahkan video, gambar, audio, hyperlink dan objek multimedia ke halaman yang bisa dibolak-balik seperti buku asli. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Modul Elektronik perlu dikembangkan dengan pendekatan, metode ataupun model agar lebih terarah dan terstruktur karena adanya langkahlangkah dalam pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 adalah model Problem Based Learning. PBL bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan pengetahuan yang fleksibel, masalah dan masalah, belajar mandiri, dan efektivitas kolaboratif (Hmelo-Silver, 2. Dibudidayakan dalam kelompok, orang mengidentifikasi apa yang sudah mereka ketahui, apa yang perlu mereka ketahui, dan bagaimana dan mengakses informasi baru yang dapat mengubah penyelesaian masalah. Peran instruktur bukan untuk mengajar yang telah ditentukan dan ditingkatkan, tetapi untuk memfasilitasi proses dengan mendukung, membimbing, dan menghambat proses pembelajaran. PBL mengintegrasikan paradigma filsafat pengajaran dan pembelajaran tradisional (Hung, 2. Metode dan konsep untuk mengajar PBL berbeda dari pengajaran di kelas tradisional, untuk lebih sesuai dengan instruksi berbasis kasus dalam pendidikan profesional dan tempat kerja (Schmidt. Rotgans & Yew, 2. Karakteristik pembelajaran PBL adalah sebagai berikut: 1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar, 2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yangh ada di dunia nyata yang tidak terstruktur, 3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda . ultiple perspektiv. Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dankompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar, 5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama, 6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBL, 7. Belajar adalah kolaboratif, komunikatif dan kooperatif, 8. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan, 9. Keterbukaan proses dalam PBL meliputi integrasi dari sebuah proses belajar. PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses (Rusman :2. PBL melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena Langkah-langkah PBL yang dirumuskan oleh John Dewey yaitu: . merumuskan masalah, yaitu siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan, . menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang, . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, . mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan. Pengembangan modul elektronik juga pernah dilakukan oleh Sukiminiandari . dalam penelitiannya memberikan saran yakni diharapkan pada penelitian selanjutnya peneliti dapat mengembangkan sebuah modul dengan inovasi terbaru yang berupa media pembelajaran yakni modul elektronik sehingga siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran fisika dan membuat modul dengan menggunakan materi pembelajaran fisika lainnya. Penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan disain penelitian AuResearch and Development (R&D)Ay yang diadopsi dari model Borg dan Gall . Prosedur penelitian dan pengembangan model Borg dan Gall meliputi 10 langkah pengembangan yaitu penelitian dan pengumpulan informasi, perncanaan, pengembangan produk pendahuluan, uji coba pendahuluan, revisi terhadap produk utama, uji coba utama, revisi produk operasional, uji coba operasional, revisi produk akhir, dan desiminasi dan Penelitian ini merupakan penyederhanaan dan penyesuaian dari model Borg dan Gall sesuai kebutuhan penelitian sehingga hanya melibatkan 3 langkah, yaitu : . tahap pendahuluan . nalisis kebutuha. , . perancangan / disain model . , dan . pengujian produk. Metode Penelitian ini dikembangkan menggunakan desain penelitian "Penelitian dan Pengembangan (R & D)" yang diadopsi dari Borg dan Gall . Penelitian dan pengembangan model Borg and Gall meliputi 10 langkah pengembangan: pengumpulan penelitian dan informasi, perencanaan, pengembangan produk awal, pengujian awal, revisi produk utama, uji coba besar, revisi produk operasional, uji coba operasional, revisi produk akhir, dan diseminasi dan distribusi. Penelitian ini merupakan penyederhanaan dan penyesuaian model Borg and Gall sesuai dengan kebutuhan penelitian sehingga hanya melibatkan 3 langkah, yaitu: . tahap awal . nalisis kebutuha. , . desain / model desain . , dan ( . pengujian produk. Jenis Penelitian Penelitian ini dikembangkan menggunakan desain penelitian "Penelitian dan Pengembangan (R & D)" yang diadopsi dari Borg dan Gall . Penelitian dan pengembangan model Borg and Gall meliputi 10 langkah GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya pengembangan: pengumpulan penelitian dan informasi, perencanaan, pengembangan produk awal, pengujian awal, revisi produk utama, uji coba besar, revisi produk operasional, uji coba operasional, revisi produk akhir, dan diseminasi dan distribusi. Penelitian ini merupakan penyederhanaan dan penyesuaian model Borg and Gall sesuai dengan kebutuhan penelitian sehingga hanya melibatkan 3 langkah, yaitu: . tahap awal . nalisis kebutuha. , . desain / model desain . , dan ( . pengujian research was developed using the research design "Research and Development (R & D)" adopted from Borg and Gall . Borg and Gall's research and development model includes 10 development steps: research and information gathering, planning, preliminary product development, preliminary testing, major product revisions, major trials, operational product revisions, operational trials, final product revisions, and dissemination and distribution. This research is a simplification and adjustment of Borg and Gall model according to the research requirement so that it only involves 3 steps, namely: . preliminary stage . eeds analysi. , . design / model design . , and . product testing. Instrumen pengumpulan data Instrumen pengumpulan data yang digunakan antara lain. Tinjauan Dokumen Metode ini merupakan cara pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang terkait dengan masalah yang diteliti (Widoyoko, 2. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam catatan dokumen seperti silabus, rpp, dan bahan ajar yang digunakan oleh guru mata pelajaran fisika di MAN 1 Bogor. Kuesioner Kebutuhan siswa Dalam kuesioner kebutuhan siswa mengandung tentang aspek aspek yang berkaitan dengan keadaan fisika pembelajaran dan hal-hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran fisika. Kuesioner Validasi Ahli Media Dalam kuesioner validasi pakar media, ia memuat aspek-aspek yang terkait dengan media yang telah dikembangkan yang meliputi desain cover modul, desain isi modul, desain perangkat lunak modul, komponen presentasi, dan kemudahan pengoperasian. Validasi Ahli Kuesioner Dalam kuesioner validasi ahli materi tentang aspek yang terkait dengan bahan e-modul termasuk Self instruksional. Mandiri. Berdiri sendiri. Adaptive. User friendly. Validasi Ahli Kuesioner . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Dalam validasi kuesioner ahli media berisi tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan isi pembelajaran. Strategi. Evaluasi Tanggapan siswa Dalam kuesioner persepsi siswa tentang aspek-aspek yang terkait dengan emodul yang telah dikembangkan termasuk desain cover modul, desain konten modul, desain perangkat lunak modul, komponen presentasi, kemudahan operasi, format dan suara dan visualisasi e modul. Analisis Instrumen Penelitian Analisis Validitas Validitas adalah kondisi yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur. Untuk menguji validitas instrumen penelitian digunakan product moment atau korelasi metode Pearson, dengan rumus sebagai berikut (Arikunto, 2. Information: rxy = the correlation coefficient between x and y N = jumlah subjek xy = number of multiplication between score x and score x = total number of scores x y = total number of scores y x2 = sum of squares x y2 = sum of squares y . 2 = the number of values of x then squared Analisis reliabilitas Reliabilitas mengacu pada rasa bahwa instrumen cukup dapat diandalkan untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumennya bagus. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas ditentukan oleh rumus Cronbach Alpha sebagai berikut (Arikunto, 2. Dengan . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Information: r11 = correlation index . rice reliabilit. n = the number of items Oc yua1 2= number of grain variance. yua1 2= total variance N = many participants filled in questionnaires X = score given. Hasil dan Pembahasan Analisis data kualitatif Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif berupa observasi dan saran dari validator yang dilakukan secara deskriptif kualitatif. Observasi Observasi dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung dengan menggunakan kuesioner kebutuhan siswa yang terdiri dari 15 item Data yang diperoleh dari 15 item dikurangi menjadi beberapa item pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian pengembangan bahan ajar dalam bentuk e-modul. Pengurangan data disajikan dalam bentuk persentase dan lihat berapa banyak tanggapan yang mendukung atau menolak pengembangan e-modul. Berdasarkan data yang disajikan, dapat disimpulkan bahwa responden setuju atau menolak untuk mengembangkan e-modul, data kualitatif pada tahap ini disajikan dalam tahap menganalisis Saran dari validator ahli selanjutnya data berupa teks yang direduksi seperti per indikator dalam kuesioner validasi pakar media, ahli materi dan pakar pembelajaran. Data yang dikurangi kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi, dari deskripsi dapat dilihat bahwa valaidator menyatakan modul elektronik yang memenuhi syarat atau tidak layak dapat digunakan sebagai sumber belajar mandiri untuk siswa. Setelah data disajikan, dapat disimpulkan bahwa validator dinyatakan layak atau tidak layak untuk digunakan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat digunakan oleh siswa, data kualitatif. Analisis data kuantitatif Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif berupa skor validasi ahli media, validasi ahli materi, validasi pembelajaran dan observasi siswa secara deskriptif dan disajikan dalam tabel. Langkah langkah untuk menganalisis data kuantitatif adalah sebagai berikut: Sebuah. Kuantifikasi hasil pemeriksaan dengan skor sesuai dengan berat yang telah ditentukan. Kategori hasil penelitian data diolah menggunakan rumus seperti pada tabel di bawah ini: GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Menentukan nilai rata-rata indikator yang disediakan berdasarkan penilaian validasi ahli media, validasi ahli materi, validasi ahli instruksional dan persepsi guru dan siswa. Information: ycU = Mean Oc ycU= otal score of respondents answer . N = number of respondents . Kemudian masing-masing sub variabel dikategorikan ke dalam empat kategori yang dikategorikan ke dalam data kualitatif sebagai berikut: E-modul dirancang dan dikembangkan berdasarkan hasil yang diperoleh dari tahap observasi awal hingga tahap desain. Untuk menyesuaikan apa yang dibutuhkan siswa dengan apa yang telah dikembangkan, maka validasi Validasi dilakukan yaitu validasi materi, validasi pembelajaran dan validasi media. Validator akan memberikan saran, kritik terhadap modul elektronik yang dikembangkan. Validasi dilakukan hingga validator menyatakan bahwa e-modul memenuhi syarat untuk digunakan. Validasi Media Aspek media ini termasuk penilaian ahli media, pada pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi emodule. Penilaian ahli media terdiri dari 2 aspek yang meliputi aspek penampilan dan aspek Data dari penilaian ahli media dapat dilihat pada Tabel 3 GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Tabel di atas menjelaskan hasil penilaian dua pakar media yang memiliki peringkat 108 dari maksimum 148 dan termasuk dalam kategori "Baik". Jika dikonversi dalam persentase 76%. Data penilaian dari media tersebut dapat ditunjukkan dalam bentuk diagram batang di bawah gambar berikut Figure 1. validation results of media experts Grafik di atas menjelaskan bahwa penelitian tentang pengembangan emodul ini termasuk dalam kategori tetapi tidak dimaksimalkan. Diperoleh persentase 76% menurut ahli media. Aspek Material Penilaian ekosistem berasal dari hasil penilaian guru dan guru. Penilaian sumber daya manusia dinilai berdasarkan 5 aspek termasuk instruksional, aspek yang terkandung di dalamnya, aspek yang berdiri sendiri, aspek adaptif, aspek ramah pengguna. Hasil penilaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Berdasarkan Tabel 4 dari peringkat, total skor adalah 126 dari skor maksimum 152 dan termasuk dalam kategori "Baik". Dalam persentase 85%, data material dalam bentuk grafik dapat dilihat di bidang ini. Figure 2. Experts material validation results Pengembangan e-module tidak hanya persentase maksimal yang didapat sebesar 85%. Jadi e-modul yang dikembangkan dapat digunakan untuk proses pembelajaran Aspek Pembelajaran Penilaian dampak materi berasal dari hasil penilaian guru dan guru. Penilaian sumber daya manusia didasarkan pada tiga aspek termasuk konten, strategi dan evaluasi. Hasil penilaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Berdasarkan Tabel 5 dari penilaian, total skor adalah 75 dari skor maksimum 96 dan termasuk dalam kategori "Baik". Jika diubah dalam persentase kemudian 78%, data hasil bahan ahli dalam bentuk bagan batang dapat dilihat dalam bagan ini. Figure 3. Experts validation result of learning Grafik di atas menjelaskan bahwa penelitian tentang pengembangan emodul termasuk dalam kategori yang baik. Padahal diperoleh persentase 78% menurut ahli media. Sehingga e-modul yang dikembangkan dapat digunakan untuk proses pembelajaran Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa e-modul yang telah dikembangkan dikategorikan memiliki kelayakan yang baik. Hasil ini dihitung berdasarkan rumus yang diambil oleh Penilaian Skala Afektif 4. Spesifikasi E-module dengan konsep multimedia menggunakan program 3D flip Book. Dalam pembuatannya ada beberapa perangkat lunak yang dibutuhkan dalam proses pengembangan e-module, antara lain Macromedia Flash, yang berfungsi untuk membuat animasi pada e-modul Saya Spring Quis Maker, yang berfungsi untuk membuat kuis di e-modul GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Pengembangan E-modul Suhu dan Kalor Fisa Wisnu Wijaya Movie Maker, yang berfungsi untuk mengedit video, seperti memotong video, menambahkan audio ke video, dan banyak Photoshop, untuk membuat backgroun dan sampul buku. Microsoft Publisher. Untuk membuat modul dalam format PDF Tata letak desain dibuat dengan konsistensi warna yang menarik. Materi di e-module adalah Suhu dan Kalor. Materi disajikan secara mendalam dan jelas disertai dengan gambar, video, animasi. Kegiatan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah model Problem Based Learning. Contoh masalah yang dilengkapi dengan penjelasan dan hadir dalam setiap konsep pembelajaran. E-modul juga lengkap dengan soal latihan dan tes kompetensi di akhir setiap pembelajaran yang berisi 10 yang dapat melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan emodule suhu dan kalor dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil validasi oleh ahli materi memperoleh persentase rata-rata keseluruhan aspek 85%, ahli media 72%, ahli pembelajaran 78% dan guru fisika sekolah menengah 88%. Sedangkan hasil uji coba siswa adalah 77,7% dari kelompok kecil dan 82% dari kelompok besar uji coba lapangan berada dalam kategori sangat baik. Sehingga e-modul dikatakan layak sebagai pembelajaran modul. Belajar menggunakan e-modul berorientasi-PBL efektif dalam memfasilitasi siswa sekolah menengah untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Daftar Pustaka