Transformasi Budaya Nilai Budi Pekerti Melalui Pancawira dalam Pelatihan Seni Pedalangan Wayang Golek untuk Pendidikan Karakter Siswa Wawan Gunawan Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung wawan_gunawan@poltekpar-nhi. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pelatihan seni pedalangan wayang golek sebagai media pendidikan karakter dan penanaman budi pekerti luhur bagi siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pelatihan ini menggunakan pendekatan kearifan lokal melalui filosofi Pancawira, yang mencakup lima kekuatan utama dalam pengembangan diri: Wiraga . ekuatan fisik dan kreativita. Wirasa . ehalusan budi dan etik. Wirahma . emampuan beradaptasi terhadap zama. Wirupa . ekuatan berpikir dan bertinda. , dan Wiwaha . ebijaksanaan dan spiritualita. Penelitian dilakukan di tiga lokasi representatif di Jawa Barat: Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi. Desa Wisata Kertawangi Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Pandeglang Banten. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dalang mampu membentuk karakter siswa yang lebih disiplin, kreatif, sopan, tangguh, dan religius. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kerja sama, dan rasa hormat tumbuh secara alami melalui proses kreatif dan reflektif dalam pelatihan. Program ini juga terbukti adaptif dengan dunia digital dan mampu menjembatani warisan budaya dengan pembentukan manusia unggul. Temuan ini memberikan kontribusi penting terhadap model pendidikan karakter berbasis seni dan budaya lokal yang kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Pendidikan karakter, wayang golek, pelatihan dalang. Pancawira, budi pekerti luhur PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan pilar penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, etika sosial, dan kepribadian yang tangguh. Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur kerap tergerus, terutama di kalangan anak dan remaja. Fenomena ini menciptakan tantangan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Budiansyah, . untuk membangun model pembelajaran yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik peserta didik. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan dan kontekstual dalam penanaman karakter adalah melalui penguatan budaya lokal dan seni tradisi. Wayang golek sebagai bagian dari warisan budaya Sunda memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran karakter karena mengandung nilai-nilai etika, sosial, spiritual, dan Tokoh-tokoh dalam wayang sarat dengan pesan moral, seperti kejujuran, tanggung jawab, keberanian, kesabaran, dan pengabdian, yang dapat diinternalisasikan kepada peserta didik melalui proses pelatihan seni Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menghadirkan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyeluruh dan berbasis kearifan lokal melalui pelatihan dalang wayang golek, khususnya bagi siswa tingkat SD dan SMP. Pendekatan ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai karakter secara alami dan menyenangkan, dengan mengintegrasikan filosofi Pancawira yang mencakup lima kekuatan utama: Wiraga. Wirasa. Wirahma. Wirupa, dan Wiwaha. Ketika kelima unsur ini diterapkan secara terintegrasi dalam pelatihan seni pedalangan, maka akan membentuk fondasi kepribadian yang kuat, beradab, kreatif, serta berorientasi pada kemanfaatan sosial dan spiritual. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pelatihan dalang wayang golek sebagai sarana pendidikan karakter dan budi pekerti luhur yang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Selain sebagai upaya pelestarian budaya, kegiatan ini juga merupakan bentuk inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman dan perkembangan anak. Penelitian ini dapat dijabarkan dengan . mengimplementasi pelatihan seni pedalangan wayang golek dalam menanamkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti luhur pada siswa tingkat SD dan SMP. Nilai-nilai karakter apa saja yang dapat diinternalisasikan melalui filosofi Pancawira dalam pelatihan dalang: . mana efektivitas pelatihan seni pedalangan sebagai media pendidikan karakter yang berkelanjutan dan kontekstual bagi siswa. tantangan dan peluang dalam menerapkan pendekatan seni budaya lokal sebagai metode pendidikan karakter di 47 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l lingkungan sekolah dan masyarakat. Riset ini menghasilkan bentuk Pendidikan karakter, budi pekerti, seni pedalangan sebagai media Pendidikan dan konsep pancawira. Pendidikan Karakter merupakan proses pembentukan nilai, sikap, dan kebiasaan baik yang bertujuan menciptakan individu yang bermoral, beretika, berintegritas, dan berkontribusi positif dalam masyarakat Lickona . Di Indonesia, pendidikan karakter telah menjadi prioritas nasional sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka yang menekankan pada profil pelajar Pancasila: beriman, bertakwa, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, dan bernalar kritis Kemendikbudristek . Budi pekerti luhur adalah refleksi dari moralitas yang diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Ki Hadjar Dewantara menekankan . pentingnya pendidikan yang mengembangkan keseluruhan potensi manusia: cipta, rasa, dan karsa, sehingga budi pekerti bukan sekadar aturan, tetapi jiwa hidup yang terbentuk dari pembiasaan. Seni Pedalangan Sebagai media Pendidikan. Seni pedalangan wayang, khususnya wayang golek, mengandung nilai-nilai filosofis, moral, spiritual, dan sosial. Gunawan . tokoh-tokoh dalam wayang mencerminkan dinamika kehidupan manusia, perjuangan antara kebaikan dan keburukan, serta pengambilan keputusan yang beretika. Pembelajaran melalui wayang mengaktifkan imajinasi, empati, dan komunikasi reflektif. Konsep Pancawira yang digunakan dalam pelatihan ini berakar dari nilai-nilai Sunda klasik yang mengintegrasikan lima kekuatan dasar pembentukan manusia unggul: Wiraga . isik/olah tubu. Wirasa . erasaan/etik. Wirahma . armoni/transformas. Wirupa . arasi/pemikiran dan aks. Wiwaha . piritualitas dan keadaban luhu. Konsep ini selaras dengan pendekatan holistic education Miller, . , yang mendorong pembentukan manusia secara utuh body-mind-soul. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan menggambarkan dan menganalisis proses serta dampak pelatihan seni pedalangan wayang golek terhadap pendidikan karakter siswa SD dan SMP, dengan lokasi penelitian terdiri dari 3 lokasi dengan konteks sosial budaya yang berbedea di antaranya. Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi. Jawa Barat. Desa Wisata Kertawangi Cisarua. Kabupaten Bandung Barat. Jawa Barat. Sanggar. Banten Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi Dokumentasi Wawan Gunawan Desa Wisata Kertawangi Cisarua Dokumentasi Wawan Gunawan Seni pedalangan Kab Pandeglang Dokumentasi Wawan Gunawan Adapun bentuk prosetr dari model riset penelitian. Poster Promosi pelatihan Wayang Golek Dokumentasi Wawan Gunawan 48 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Waktu penelitian dilaksankan dari muali bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2025, di tiga locus riset penelitian. Subjek Penelitian Subjek penelitian meliputi:Siswa SD dan SMP peserta pelatihan Pelatih/dalang pembimbing Guru pendamping dan orang tua Tokoh masyarakat budaya setempat. Teknik Pengumpulan Data Observasi partisipatif: Mengamati langsung proses pelatihan dan perilaku siswa. Wawancara mendalam: Dengan siswa, pelatih, dan guru. Studi dokumentasi: Video pelatihan, catatan refleksi siswa, naskah wayang, dan materi Analisis Data Data dianalisis menggunakan model Miles & Huberman . melalui tbeberapa. mereduksi data. Penyajian data sampai dengan penarikan kesimpulan/verifikasi. Triangulasi dilakukan untuk meningkatkan validitas data, baik melalui sumber, teknik, maupun waktu. Berikut adalah bagian Hasil dan Pembahasan. Simpulan, dan Rekomendasi untuk jurnal ilmiah Anda KESIMPULAN Hasil observasi di tiga lokasi menunjukkan bahwa pelatihan seni pedalangan wayang golek memberikan pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter siswa SD dan SMP. Melalui pendekatan praktis . ermain peran sebagai dalang dan memahami isi cerita wayan. , siswa terlibat aktif dalam proses belajar nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, serta menghargai tradisi lokal. Setiap tahapan pelatihan, dari pengenalan karakter wayang, olah vokal, gerak, hingga pementasan, secara sistematis melatih siswa untuk memiliki disiplin waktu, keberanian tampil, dan kepekaan sosial. Internalisasi Nilai Karakter melalui Konsep Pancawira Kelima unsur dalam Pancawira memberikan fondasi kuat dalam pembentukan karakter: Wiraga: Siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, dan sehat secara fisik melalui latihan ekspresi dan gerak. Wirasa: Munculnya empati, kesantunan, dan etika ketika menyampaikan cerita dengan penuh rasa. Wirahma: Siswa mampu menyesuaikan gaya penceritaan dengan teknologi multimedia dan perkembangan zaman. Wirupa: Siswa dapat mengintegrasikan ide dan tindakan melalui kegiatan "Pok-Pek-Prak" . erpikir, berkata, dan berbua. Wiwaha: Terbentuk spiritualitas, nilai-nilai luhur, dan kesadaran diri sebagai bagian dari masyarakat yang Tantangan utama adalah kurangnya dukungan dari sekolah yang belum sepenuhnya memahami kekuatan pendidikan berbasis seni budaya lokal. Selain itu, keterbatasan alat, waktu, dan pelatih profesional menjadi hambatan teknis. Namun, peluang terbuka lebar: dengan pendekatan Kurikulum Merdeka yang memberi ruang projek penguatan profil pelajar Pancasila, pelatihan dalang bisa menjadi model pembelajaran kontekstual yang relevan, menarik, dan efektif. Pelatihan seni pedalangan wayang golek terbukti efektif sebagai media pendidikan karakter dan budi pekerti luhur bagi siswa SD dan SMP. Nilai-nilai yang terkandung dalam konsep Pancawira menjadi kekuatan utama dalam menginternalisasi aspek fisik, etika, adaptasi, kreativitas, serta spiritualitas siswa. Kegiatan ini tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga memperkaya pendekatan pembelajaran karakter berbasis kearifan lokal. Rekomendasi dari hasil penelitian ini diharapkan Pendidikan formal dan nonformal disarankan untuk mengintegrasikan pelatihan seni pedalangan dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian dari pendidikan karakter. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan perlu memberikan dukungan pelatihan, fasilitas, dan sertifikasi untuk pelatih dalang yang terlibat dalam pendidikan. Sekolah dan sanggar seni dapat membangun kerja sama berkelanjutan sebagai ruang belajar budaya dan karakter bagi siswa. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengukur dampak jangka panjang pembelajaran berbasis seni budaya terhadap prestasi akademik dan sosial-emosional siswa. Pendidikan Karakter dan Budi Pekerti Luhur melalui Pelatihan Dalang Wayang Golek bagi Siswa SD dan SMP 49 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l DAFTAR PUSTAKA