e-ISSN : x-x HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARGA I KABUPATEN TABANAN TAHUN 2024 Putu Mira Pristyawathi1. Cucuk Suwandi2. Desak Gede Yenny Apriani3. Minnatun Khasha4 1,2,3,4 Program Studi S1 Keperawatan Ners. STIKES Advaita Medika Tabanan Korespondensi penulis: mpristyawathi@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan bentuk dari proses pertumbuhan yang terhambat, dan merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Oleh karena itu pola asuh orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan kognitif anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Marga I. Metode: Chi Square merupakan uji komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, dimana skala data kedua variabel adalah Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan proses pengolahan secara deskriptif dan dianalisa dengan program komputer. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai p . robability/probabilita. , jika nilai p O alpha . maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh orang tua terhadap kejadian stunting. Sedangkan jika nilai p < alpha . berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh orang tua terhadap kejadian stunting. Hasil: Hasil perhitungan statistic menggunakan uji Chi Square seperti seperti tabel 4. 9 dapat diketahui bahwa hasil koefisien kolerasi sebesar 0,001 artinya ada hubunga pola asuh orang tua dengan kejadian stunting. Nilai sigifikan didapatkan hasil P-value . 0,005 sehingga dapat bahwa ada hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I. Simpulan: ada hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I. Kata kunci: Balita. Pola Asuh. Stunting PENDAHULUAN Pola asuh orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan kognitif anak. Cara orang tua memberikan perawatan, nutrisi, dan lingkungan tumbuh kembang anak dapat mempengaruhi risiko stunting (N. Maryani. Stunting merupakan bentuk dari proses pertumbuhan yang terhambat, dan merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental (Yesi, 2. Berdasarkan angka prevalensi balita stunting di dunia yang di kumpulan World Health Organization (WHO) tahun 2020 sebanyak 150,8 juta atau . ,2%). World Health Organization (WHO) menetapkan lima daerah sebagai prevalensi stunting, termasuk Indonesia yang berada di e-ISSN : x-x regional Asia Tenggara dengan angka prevalensi . ,4%) (Rita Kirana, 2. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) mengenai prevalensi balita stunting. Indonesia merupakan negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/SouthEast Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 20052017 adalah 36,4%. Prevalensi balita pendek meningkat pada tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 2 29,6% pada tahun 2017 dan menjadi 30,8% pada tahun 2018 (Hadi et al. , 2. Provinsi Bali memiliki angka kejadian stunting sebesar 10,9% tahun 2021 yang menjadi provinsi dengan angka stunting terendah nasional, dengan 4 besar kabupaten dengan angka stunting tertinggi Kabupaten Jembrana. Karangasem. Buleleng dan Bangli. World Health Organization (WHO) menyebutkan apabila prevalensi balita stunting suatu negara sebesar 20% atau lebih, hal tersebut menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditindak lanjuti (Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, 2. Kejadian stunting di Kabupaten Tabanan tahun 2022 yaitu sebesar 8,2% dari total balita yang diukur tinggi Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan menunjukkan bahwa tiga kecamatan teratas dengan angka kejadian stunting tinggi di kabupaten Tabanan yaitu meliputi Kecamatan Marga. Pupuan. Selemadeg Barat (Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, 2. Jumlah balita di kabupaten tabanan sebanyak 22,865 (Dinkes Tabanan, 2. Kecamatan Marga sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Marga Tabanan adalah kecamatan dengan jumlah balita sebanyak yaitu 1317 jiwa. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang sudah dilakukan di Puskesmas Marga I didapatkan data pada tahun 2023 jumlah balita 12-59 bulan adalah sebanyak 1317 Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 jiwa sehingga peneliti berkeinginan meneliti dengan judul AuAngka Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I Tabanan-BaliAy. METODE PENELITIAN Desain penelitia yang digunakan yaitu pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang menekankan waktu pengukuran variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat Jadi tidak ada (Nursalam. Pengambilan sampling jenis non probability sampling dengan teknik Purposive sampling. Data yang telah dikumpulkan dilakukan scoring kemudian dilakukan tabulasi silang, untuk mengetahui adanya hubungan variabel independen terhadap variabel dependen dan akan dilakukan uji statistik Chi Square. Penelitian ini dilakukan di Banjar Ancak Desa Kuwum Marga Tabanan dan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17-23 Juni 2024. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pola asuh orang tua sedangkan yang menjadi variable terikat dalam penelitian ini adalah stunting. Instrumen dalam penelitian ini adalah alatalat yang digunakan untuk pengumpulan data seperti Kuesioner menggunakan angket yang diberikan secara door to door pada pola asuh orang tua yang terdiri dari 23 item pertanyaan dan lembar observasi HASIL DAN PEMBAHASAN Desa kuwum merupakan salah satu dari 5 banjar Dinas/Dusun yang di wilayah kecamatan marga, dengan luas wilayah 278 Ha, dilihat dari geografis wilayah desa kuwum merupakan daerah landai dengan permukaan laut, curah hujan 2. mm/tahun. jumlah penduduk di banjar ancak tahun 2016 yaitu laki-laki 1477 orang dan perempuan 1450 orang total 2. e-ISSN : x-x 927 orang. desa kuwum terdiri dari 5 banjar banjar Dinas/Dusun yaitu banjar dinas kuwum tegallinggah, banjar dinas kuwum mambal, banjar dinas kuwum anyar banjar dinas kuwum ancak banjar dinas kuwum ancak bija (Data situasi desa tahun 2. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Batas Utara: Desa Marga. Batas Timur: Desa Selanbawak. Batas Selatan: Desa Batannyuh. Batas Barat: Desa Tegaljadi. Berdasarkan tabel 1 dari hasil penelitian diketahui bahwa rentan umur responden berkisaran 31-35 tahun dengan jumlah 22 responden . ,8%), diikuti oleh rentan umur 25-30 tahun dengan jumlah 20 responden . ,6%). Berdasarkan tabel 2 dari hasil penelitian diketahui bahwa jumlah orang tua responden dengan tingkat pendidikan yang terbanyak adalah dengan tingkat pendidikan SMP sebnayak 14 responden . ,8%), tingkat pendidikan SD sebanyak 13 responden . ,7%), tingkat pendidikan SMA sebanyak 11 responden . ,4%), tingkat pendidikan tidak sekolah sebanyak7 responden . ,9%) sedangkan hanya sebagian kecil yang memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 2 responden . ,3%). Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa responden yang memiliki pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 15 responden . ,9%), sementara yang memiliki responden . ,7%), yang memiliki pekerjaan wiraswasta sebanyak 10 responden . ,3%), yang memiliki pekerjaan buruh sebanyak 6 responden . ,8%), yang memiliki pns sebanyak 2 responden . ,3%), yang memiliki pekerjaan paling sedikit adalah pegawai swasta sebanyak 1 responden . ,1%). Berdasarkan tabel 4 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pola asuh yang diterapkan yaitu demokratis sebanyak 28 Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 responden . ,6%), diikuti oleh responden permisif sebanyak 11 responden . ,4%) dan paling sedikit yaitu responden otoriter sebanyak 8 responden . ,0%). Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa balita yang memiliki umur bulan sebanyak 19 balita . ,4%), sementara balita umur 24 bulan sebanyak 18 balita . ,3%), balita yang memiliki umur 48 bulan sebanyak 10 balita . ,3%). Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa balita yang memiliki jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 balita . ,1%), sementara balita dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 23 balita . ,9%). Berdasarkan tabel 7 dapat responden penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki pola asuh cukup sebanyak 37 responden . ,7%), dan yang mempunyai pola asuh baik . ,4%). Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa balita yang stunting sebanyak 10 balita . ,0%), sementara balita yang tidak stunting sebanyak 37 balita . ,0%). Berdasarkan tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden pola asuh orang tua dengan kategori cukup yaitu sebanyak 37 orang dengan presentase . ,7%). Responden dengan penerapan orang tua dengan baik yaitu sebanyak 10 orang dengan presentase . ,3%). Hasil perhitungan statistic menggunakan uji Chi Square seperti seperti tabel 4. 9 dapat diketahui bahwa hasil koefisien kolerasi sebesar <0,001 artinya ada hubunga pola asuh orang tua dengan kejadian stunting. Nilai sigifikan didapatkan hasil P-value (<0,. < 0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I. e-ISSN : x-x Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur 25-30 tahun 31-35 tahun 36-40 tahun Jumlah Frekuensi . Persentase(%) Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan pendidikan Pendidikan Tidak sekolah SMP SMA Perguruan tinggi Jumlah Frekuensi . Persentase(%) Tabel 3 Karakteristik Responden Berdasarkan pekerjaan Pekerjaan PNS Pedagang Wiraswasta Pegawai Swasta Buruh Ibu Rumah Tangga Jumlah Frekuensi . Persentase(%) Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua Umur Frekuensi . Persentase (%) Demokratis Permisif Otoriter Jumlah Tabel 5 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Balita Umur . Frekuensi . Persentase(%) 24 bulan 36 bulan 48 bulan Jumlah Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 e-ISSN : x-x Tabel 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin balita Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Frekuensi . Persentase(%) Tabel 7 Distribusi Frekuensi Pola asuh Responden Terhadap Kejadian stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I Penerapan Pola Frekuensi . Presentase asuh orang tua (%) Cukup Baik Jumlah Tabel 8 Distribusi Frekuensi Pola asuh Marga I Kejadian stunting Stunting Tidak stunting Total Responden Terhadap Kejadian stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Frekuensi . Presentase(%) Tabel 9 Hasil Uji Chi Square Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I Hubungan Kejadian stunting pola asuh =value orang tua Stunting Tidak Total Pola Pola 100, <0,001 Total Pola Asuh Orang Tua Di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I Berdasarkan hasil penelitian dari 47 menerapkan pola asuh orang tua dengan kategori cukup yaitu sebanyak 37 orang dengan presentase . ,7%). Responden dengan penerapan orang tua dengan baik yaitu sebanyak 10 orang dengan presentase . ,3%). pola asuh orang tua adalah cara terbaik yang ditempuh oleh orang tua dalam mendidik balita sebagai perwujudan dari tanggung jawab kepada balita dan merupakan salah satu masalah yang dapat Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 mempengaruhi terjadinya stunting pada Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Flaviani Angela Niti. Evy Ernawati. Fatimah Sari. Juda Julia Kristiarini. Indah Purnamasari . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua telah menerapkan pola asuh mereka saat mengasuh balita mereka di kehidupan sehari-hari, dengan 30 orang 7% dalam kategori cukup, 22 orang 62,8% dalam kategori 2, dan 13 orang 37,2% dalam kategori tidak. Berdasarkan hasil uji chi square, didapatkan bahwa ada e-ISSN : x-x pengaruh pola asuh orang tua terhadap kejadian stunting dengan nilai p-value 0,025. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh Satu masalah bagi tenaga kesehatan adalah pola asuh orang tua yang dianggap cukup. Masih perlu memberi tahu orang tua tentang pola asuh dan Berdasarkan tabel 4. 2 orang tua yang pendidikan terkahir di Banjar Ancak Kuwum Marga dari hasil penelitian diketahui bahwa jumlah orang tua responden dengan tingkat pendidikan yang pendidikan SMP sebnayak 14 responden . ,8%), tingkat pendidikan SD sebanyak 13 responden . ,7%), tingkat pendidikan SMA sebanyak 11 responden . ,4%), tingkat pendidikan tidak sekolah sebanyak 7 responden . ,9%) sedangkan hanya sebagian kecil yang memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 2 responden . ,3%). Diketahui bahwa responden penelitian pendidikan sekolah menengah atas (SMP),yaitu . ,8%) sehingga peneliti percaya bahwa pengetahuan responden tentang pola asuh orang tua dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan Responden dengan pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah mencari, mendapatkan, dan mendapatkan informasi, yang pada gilirannya akan berdampak pada pola asuh orang tua Hasil ini didukung penelitian Flaviani Angela Nita. Evy Ernawati. Fatimah Sari. Juda Julia Kristiarini. Indah Purnamasari . Ada kemungkinan bahwa pola asuh orang tua yang berada dalam kategori tersebut tidak mencerminkan pola asuh orang tua yang cendrung cukup, karena beberapa faktor, seperti tingkat pendidikan, penghasilan, dan pengetahuan yang kurang, cukup dipengaruhi oleh pola asuh orang tua tersebut. Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24 Ae 59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Marga Pembahasan hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stunting dan tidak stunting di wilayah kerja puskesmas marga I dilakukan pada balita usia 24-48 bulan, dari 47 responden sebagian besar balita yang mengalami stunting yaitu sebanyak 31 balita . ,0%), sementara balita yang tidak stunting sebanyak 16 balita . ,0%). dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa di Puskesmas Marga I masih terdapat 31 balita dengan usia 24-48 bulan yang mengalami stunting dengan pola asuh orang tua cukup 37 orang dan pola asuh orang tua dengan baik 10 orang. dilihat dari dari jenis kelaminnya, balita laki-laki mengalami stunting yaitu 24 balita dan perempuan sebanyak 23 orang. Hasil ini didukung oleh penelitian Rahmayana. Irviani A. Ibrahim2. Dwi Santy Damayati . AuHubungan Pola Asuh Ibu Dengan Kejadian Sunting Anak Usia 24-59 Bulan Di Posyandu Asoka II Wilayah Pesisir Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar Tahun 2014Ay Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar . ,8%) memiliki masalah stunting dan selebihnya . ,2%) untuk mencegah terjadinya stunting Diharapkan agar orang tua, terutama ibu atau pengasuh, lebih memperhatikan cara mereka mengasuh mereka,karena menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 24 hingga 59 bulan. Hal ini akan membantu mencegah peningkatan prevalensi stunting di masyarakat pesisir. Banyak faktor yang berkontribusi pada peningkatan tinggi badan anak, termasuk peningkatan praktik pemberian makan, stimulasi psikososial, sanitasi lingkungan, dan pemanfaatan layanan kesehatan. e-ISSN : x-x Berdasarkan temuan dari peneliti dan beberapa jurnal bahwa Ada kemungkinan bahwa stunting pada balita sangat erat terkait dengan kesadaran orang tua tentang kekurangan gizi balita. Penemuan ini Namun, orang tua yang baik belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, sehingga anak yang dibesarkan oleh orang tua yang baik belum tentu terhindar dari malnutrisi. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian, dimana pada hasil penelitian terdapat hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dengan kejadian dimana jika orang tua memiliki pola asuh yang baik maka mengurangi resiko terjadinya stunting pada balita. Hasil menggunakan uji Chi Square seperti seperti tabel 4. 9 dapat diketahui bahwa hasil koefisien kolerasi sebesar <0,001 artinya ada hubunga pola asuh orang tua dengan kejadian stunting. Nilai sigifikan didapatkan hasil P-value (<0,. < 0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I hal tersebut dikarenakan pola asuh orang tua sebagian besar dalam kaegori cukup 37 orang . ,7%) dan kategori baik 10 . ,3%). hasil di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua mememgang peran penting sebagai salah satu hal yang dapat menyebabkan stunting. Penelitian ini sejalan dengan penelitian ka Fujica Wati,Riona Sanjaya . Hasil Chi Square diperoleh nilai p value 0,000 < 0,05 dimana p< artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di desa Neglasari wilayah Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten lampung Selatan Tahun 2021. Pola asuh orang tua dalam pemberian gizi memegang peranan penting sebagai salah satu hal yang bisa mengatasi kejadian Berdasarkan hasil temuan dan asumsi peneliti dan didukung oleh beberapa jurnal terdahulu dapat dinyatakan bahwa stunting pada balita sangat erat kaitanya dengan kesadaran pola asuh orang tua mengenai kekurangan gizi pada balita. Kesadaran yang baik pada pola asuh orang tua akan membentuk pola asuh yang baik terhadap kesehatan dan pemberian makanan begizi pada balita, sehingga pola asuh orang tua menjadi lebih baik. Sebaliknya apabila kesadaran yang dimiliki orang tua cukup atau kurang baik maka hal tersebut akan berdampak pada balita yang mengalami stunting pada pola asuh orang tua yang cukup atau kurang (S. Suprapto 2. Beberapa faktor juga memengaruhi stunting, termasuk status gizi eksklusif, pendidikan ibu, dan ASI. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang lebih baik, tingkat ketahanan pangan keluarga akan lebih baik, sehingga pola makan keluarga akan lebih baik. pengasuh anak, memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang waktu yang tepat untuk memberikan ASI pada bayi dan efek yang (Komalasari. Supriati. Sanjaya, & Ifayanti. SIMPULAN Berdasarkan hasil dari analisis dengan menggunakan uji statistik dan dari pembahasan tersebut kesimpulan yaitu dapat diketahui bahwa hasil koefisien kolerasi sebesar <0,001 artinya ada hubunga pola asuh orang tua dengan kejadian stunting. Nilai sigifikan didapatkan hasil P-value (<0,. < 0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pola asuh orang tua dengan e-ISSN : x-x kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Marga I. REFERENSI