EDUCATE : Journal of Education and Culture Pengembangan Trigonal Pensil Menulis Pada Anak Usia Dini Dalam Meningkatkan Kemampuan Development Of The Pencil Trigonal In Improving Writing Ability In Early Children FuAoad Arif Noor. Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia Yogyakarta, noor@gmail. Amaliyah RA Tunas Bangsa Sidogemah Sayung Demak amaliyah932@gmail. EEDUCATE : Journal of Education and Culture Vol. 03 Nomor 02 ISSN-e: 2985-7988 Naskah diterima: 07-03-2025 Naskah disetujui: 11-05-2025 Terbit: 15-05-2025 Abstract: This study aims to improve fine motor skills through writing activities using trigonal pencil media in group A RA Tunas Bangsa Sidogemah Sayung Demak. The type of research used is Classroom Action Research. This research was conducted collaboratively between researchers and teachers. The subjects of this study were group A children, totaling 27 children, consisting of 10 boys and 17 girls. Data collection techniques with The results showed that: The implementation of children's learning in fine motor writing can increase after being given action through writing activities using trigonal pencil media. Improvement of children's fine motor skills in writing using a trigonal pencil so that it is easier for children to hold a pencil in learning. This is shown by the results of the pre-cycle of children's fine motor skills classically on the BSB criteria, which is 26%. In the first cycle increased to 33% of children with good criteria and in the second cycle increased to 45% of children with good criteria. In the BSH criteria, which is 37%, in the first cycle it increases to 41% and in the second cycle it becomes The MB criteria are 26%, in the first cycle it becomes 19% and in the second cycle it becomes 15%. The MB criteria are 11%, in the first cycle it becomes 7% and in the second cycle it remains 7%. Keywords: Ability, fine motor, trigonal pencil. PENDAHULUAN Menulis merupakan keterampilan yang paling kemampuan gerak lengan, tangan, jari, dan mata secara terintegrasi. Kemampuan menulis mencakup tiga pokok yaitu menulis dengan tangan atau menulis permulaan, mengeja, dan menulis Usia awal kehidupan anak sering disebut dengan istilah golden age (Sumantri, 2005: . Bahwa anak usia dini merupakan masa lima tahun pertama yang disebut The golden years, masa ini merupakan masa emas perkembangan anak. Pada masa ini anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangan yang ada pada diri anak usia dini sehingga diperlukan wadah pendidikan anak usia Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan (Sisdiknas, 2. Anak usia dini sebagai usia di mana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal, seperti pendidikan Sekolah Dasar. Pendidikan saat ini merupakan salah satu kebutuhan yang utama bagi manusia. Bagaimana merupakan syarat mutlak dalam dunia pekerjaan. Dengan pendidikan pula status seseorang akan nampak dan akan membedakan cara pandang seseorang terhadap suatu masalah. Sejalan dengan memperoleh pendidikan adalah hak seluruh Warga Negara Indonesia. Seiring dengan itu tujuan Pembangunan Nasional juga tersirat bahwa antara lain tujuan bangsa yakni mencerdaskan bangsa. Pemerintah juga dituntut untuk menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak, termasuk anak yang mengalami kesulitan belajar tanpa adanya diskriminasi, seperti yang tercantum . alam Undang-Undang Republik EDUCATE : Journal of Education and Culture Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab IV pasal 11 yang berbunyi Pemerintah memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa Pemerintah dan pemerintah daerah terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas Maka wajar jika pendidikan dasar harus dimiliki setiap Warga Negara Indonesia. Agar nantinya seluruh Warga Negara Indonesia terlepas dari buta aksara. Sehingga dirasa perlu memberikan pendidikan dasar yang tepat bagi seluruh Warga Negara Indonesia. Banyak manfaat yang akan diperoleh bagi manusia jika sadar akan kebutuhan pendidikan. Dalam contoh kecil, keterampilan mengenal aksara akan memudahkan dalam keterampilan membaca, memudahkan dalam menjalani kegiatan yang keterampilan dasar menulis akan memudahkan dalam kebutuhan menulis tingkat selanjutnya. Menulis bukan hanya kegiatan menyalin bentuk tulisan atau keterampilan menggerakkan alat tulis diatas media tulis, melainkan bagaimana mengekspresikan apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkannya ke dalam lambang-lambang tulisan. Menulis juga merupakan pemindahan pikiran dan perasaan dalam bentuk lambang-lambang bahasa (Semi, 2010: . Menurut pendapat Burhan Nuryantoromenyatakan bahwa AuAktivitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan . an keterampila. berbahasa paling akhir dikuasai membacaAy (Nuryantoro, 2001: . Sehingga keterampilan menulis perlu diajarkan pada jenjang pendidikan keterampilan berbahasa lainnya. Keterampilan menulis harus diajarkan sejak TK/RA. Dikarenakan umumnya paling sulit dikuasai anak. Selain itu kemampuan menulis sangat dituntut dalam kehidupan bermasyarakat, seperti untuk berkirim surat, mencatat, dan mengisi formulir. Terdapat beberapa cakupan keterampilan menurut Munawir Yusuf menulis yang termasuk di dalamnya antara lain: Memegang alat tulis, menggerakkan alat tulis ke atas dan ke bawah, menggerakkan alat tulis melingkar, menyalin huruf ,menyalin nama sendiri dengan huruf balok ,menulis nama sendiri dengan huruf balok ,menyalin huruf balok dari jarak jauh ,menyalin huruf, kata, dan kalimat dengan tulisan bersambung, menyalin tulisan bersambung dari jarak jauh (Munawir, 2003: . Sedangkan yang termasuk faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis menurut Lerner dalam Mulyono Abdurrahman: Motorik. Perilaku. Persepsi. Memori. Kemampuan Penggunaan tangan yang dominan. Kemampuan memahami instruksi (Abdurrahman, 1998: . Menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dalam bahasa karena memerlukan kemampuan gerak lengan, tangan, jari, dan mata secara Kemampuan menulis mencakup tiga pokok yaitu menulis dengan tangan atau menulis permulaan, mengeja, dan menulis ekspresif. mengajar menulis tulisan tangan adalah agar anak mampu menulis sesuai dengan persyaratan menulis secara jelas, yaitu menulis dengan mudah dan dengan karakter-karakter huruf yang jelas dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Sehingga kesiapan menulis perlu ditanamkan sejak dini, agar nantinya apabila terjadi keterlambatan atau kekurangan dalam salah satu aspek keterampilan menulis akan diketahui lebih awal penanganannya. Kesulitan belajar menulis yang sering disebut dysgraphia yang merupakan manifestasi anak dengan ketidakmampuan dalam mengingat cara membuat huruf atau simbol matematika. Terdapat beberapa jenis kesulitan belajar yang dialami anak berkesulitan menulis, antara lain sebagai berikut: terlalu lambat dalam menulis, salah arah pada penulisan huruf dan angka, terlalu miring, jarak antar huruf tidak konsisten, tulisan kotor, tidak tepat dalam mengikuti garis horizontal, bentuk huruf atau angka tidak terbaca, tekanan pensil tidak tepat, ukuran tulisan terlalu besar atau terlalu kecil, bentuk terbalik (Munawir, 2003: . Kesulitan belajar menulis pada umumnya merupakan bentuk proses keterampilan menulis yang salah. Menurut Munawir Yusuf terdapat empat perkembangan keterampilan menulis dan strategi pembinaannya, yaitu tahap kesiapan menulis, menulis huruf balok, tahap transisi, dan menulis huruf sambung (Munawir, 2003: . Sehingga mulai dari kesiapan anak untuk menulis perlu diperhatikan dalam pengajaran menulis. Penyebab kesulitan belajar menulis sering terkait dengan bagaimana cara anak memegang pensil . lat tuli. Menurut Hornsby Mulyono Abdurrahman. Terdapat empat macam cara anak memegang pensil yang dapat dijadikan petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu . sudut pensil terlalu besar, . sudut pensil terlalu kecil, . menggenggam pensil . eperti mau meninj. , . menyangkutkan pensil di tangan atau menyeret (Abdurrahman, 1998: . Dari berbagai teknik atau cara memegang pensil yang dapat dijadikan petunjuk anak berkesulitan belajar menulis, menunjukkan bahwa pada kebanyakan kasus anak berkesulitan menulis disebabkan cara anak memegang pensil yang tidak Untuk membantu anak berkesulitan menulis khususnya kesulitan menulis dengan tangan atau EDUCATE : Journal of Education and Culture handwriting, sehingga diupayakan agar anak dapat menggenggam dan menggunakan pensil dengan cara yang benar. Menurut Lerner dalam Mulyono Abdurrahman Terdapat berbagai aktivitas, seperti bagi anak yang kurang dapat memegang pensil dengan benar, dapat dengan bagian pensil yang harus dipegang dapat dibatasi dengan selo tip, dapat dengan bantuan segitiga bantu atau pensil segitiga . rigonal penci. atau menggunakan alat tulis yang lebih besar ukurannya . pidol dan yang lainny. Kesulitan menulis dengan tangan dapat mengakibatkan siswa sulit dalam mengikuti pengajaran menulis berikutnya. Maka dari itu pengajaran menulis perlu di berikan sejak dini, pendidikan formal di sekolah. Menurut Lovitt dalam Mulyono Abdurrahman mengemukakan bahwa. Pengajaran menulis meliputi: menulis dengan tangan atau handwriting. mengeja dan menulis Menulis dengan tangan disebut juga dengan menulis permulaan. Pada pelaksanaan kegiatan menulis dalam pendidikan dimulai sejak Sekolah Dasar/SD (Abdurrahman, 1998: . Dalam hal penerapan keterampilan menulis dengan tangan di lingkungan sekolah selain semua menulis, akan tetapi lebih ditekankan pematangan konsep dan aplikasinya ke dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut Imas Eva Nurvianti. Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan program yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan (Nurvianti, 2007: . Terdapat empat aspek keterampilan yang harus dikuasai siswa dalam belajar bahasa, antara lain mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek ini harus diajarkan dengan seimbang agar tujuan pengajaran bahasa dapat tercapai dengan baik. Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa, juga sebagai salah satu bagian dari pengetahuan dan keterampilan dasar, harus dimiliki oleh siswa tingkat pendidikan dasar. Dengan keterampilan menulis yang dimiliki, siswa dapat mengomunikasikan ide atau gagasannya secara tertulis kepada orang lain. Segitiga bantu untuk menulis atau yang disebut Trigonal pencil merupakan salah satu media alternatif untuk mengupayakan dan membantu anak dalam memegang pensil dengan cara yang Dengan mengubahcara menulis yang benar Trigonal merupakan bentuk pensil yang dimodifikasi dengan memberikan bentuk segitiga pada pegangan pensil. Sehingga pola jari akan terbentuk menjadi cara menulis yang benar, dengan sudut dan posisi jari yang tepat. Pentingnya Trigonal pensil menurut saya yaitu memudahkan anak dalam memegang pensil pada usia dini, sehingga anak lebih mudah dalam belajar. Banyak anak yang belum bisa memegang pensil dengan benar, dengan adanya trigonal pensil anak akan semangat belajar menulis tanpa ada beban. Segitiga bantu untuk menulis atau yang disebut Trigonal pencil merupakan salah satu media alternatif untuk mengupayakan dan membantu anak dalam memegang pensil dengan cara yang Dengan merubahcara menulis yang benar Trigonal merupakan bentuk pensil yang dimodifikasi dengan memberikan bentuk segitiga pada pegangan pensil. Sehingga pola jari akan terbentuk menjadi cara menulis yang benar, dengan sudut dan posisi jari yang tepat sehingga sekaligus dapat melatih gerak motorik halus pada siswa yang mengalami kesulitan menulis. Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa kesulitan belajar menulis di RA Tunas Bangsa disebabkan oleh kesalahan anak dalam cara memegang alat tulis atau pensil. Dalam upaya membantu anak menggunakan pensil dengan cara yang tepat, maka digunakan media trigonal pencil. Bertolak dari pemikiran tersebut, peneliti berpendapat bahwa dengan media trigonal pencil dimungkinkan dapat membantu anak dalam menggunakan pensil yang benar sehingga mengatasi kesulitan menulis dengan tangan atau handwriting yang dihadapi anak. Oleh karena itu, peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul: Peningkatan Kemampuan Menulis melalui Trigonal Pensil Kelompok A RA Tunas Bangsa Sidogemah Sayung Demak. METODE Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas, merupakan sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan parsipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru sebagai guru sehingga hasil belajar anak dapat meningkat (Mundilarto. Penelitian diimplementasikan dengan benar, artinya sesuai dengan kaidah-kaidah Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, 2006: . Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk memperbaiki kinerja guru sehingga kualitas pembelajaran menjadi lebih Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan selama dua siklus. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di dalam kelas agar interaksi antara anak dengan guru dapat terfokuskan secara Tahapan-tahapan penelitian dalam setiap masing-masing tindakan kegiatan tersebut terjadi secara berulang-ulang sehingga pada akhirnya menghasilkan beberapa tindakan dalam penelitian tindakan kelas. Tahapan dari perencanaan. EDUCATE : Journal of Education and Culture pelaksanaan/proses pengamatan, yaitu: Perencanaan . Pada tahap pertama dalam penelitian ini peralatan dan program pembelajaran yang meningkatkan kemampuan berhitung anak. Untuk mempersiapkan pensil dan buku yang akan digunakan pada kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan . Pelaksanaan pada penelitian ini adalah Inti kegiatan dalam penelitian ini adalah: . Guru menyiapkan trigonal pensil, . Guru menyiapkan buku, . Guru mencontohkan cara memegang pensil dengan benar. Proses Kegiatan Pembelajaran . Kegiatan Awal Guru mengajak anak untuk berbaris didepan pintu pada saat masuk kedalam kelas dan bersalaman dengan guru yang berdiri di Setelah semua anak masuk, kemudian guru memberi salam, dan mengajak anak untuk bernyanyi lagu yang kemudian doAoa sebelum belajar. Kegiatan Inti Guru kemudian membagikan pensil kepada siswa untuk mengamati model pensil terlebih Kemudian guru member contoh cara memegang pensil dengan benar kemudian anak menirukan dan di lihat satu persatu. Setelah semuanya sudah benar dalam memegang pensil, kemudian anak berlatih . Kegiatan Penutup Setelah pembelajaran selesai, maka langkah selanjutnya adalah guru meminta anak untuk mengumpulkan hasil tulisannya ke depan untuk mendapatkan nilai dari guru. Pengamatan/observasi Pengamatan pembelajaran yang berlangsung. Baik peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi ketika pembelajaran berlangsung. Bagaimana respon, sikap dan perilaku anak saat kegiatan. Subjek penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subyek penelitian adalah anak RA Tunas Bangsa Badong sidogemah Sayung Demak yang terdiri 27 siswa. Tabel 1: Daftar Siswa kelas A Nama Tempat Alamat Siswa Tanggal Lahir Azzam Demak, 21 Badong Syifa Alvin Aulia Zahra Devi Fahmi Ida Jihan Kaelya Khayla Khilmi Abil Aqil Khusen Aqil Al Hafizh Aziz Hanif Rizki Naura Hanna Eni Refana Syahrini Tasya Demak, 30 Januari Semarang, 23 Agustus Demak, 20 Juni 2016 Demak, 11 November Demak, 15 Juli 2016 Demak, 7 Demak, 12 Juni 2015 Demak, 27 Surabaya, 31 Agustus Demak, 27 September Semarang. September Semarang, 4 Juni 2015 Demak, 19 Februari Demak, 12November Demak, 22 Mei 2016 Demak, 10 Juni 2015 Demak, 26 September Demak, 16 Oktober Demak, 5 Agustus Demak, 8 April 2016 Semarang, 11 Juni Demak, 23 Agustus Demak, 21 Juli 2016 Mranggen Rejosari Pidodo Badong Karangtengah Badong Rejosari Karangtengah Pidodo Pidodo Badong Pidodo Pidodo Badong Pidodo Badong Kalisari Karangtengah Badong Bedono Pidodo Rejosari Pidodo EDUCATE : Journal of Education and Culture Alya DeAolisa Fatih Demak, 16 Juli 2015 Demak, 13 Mei 2016 Demak, 23 September Badong Pidodo Purwosari Metode pengumpulan data dalam penelitian mendapatkan hasil penelitian yang objektif dan valid dari tindakan penelitian yang telah Teknik yang digunakan adalah observasi, diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala (Margono,2010: . Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi terstruktur yang dilakukan langsung oleh peneliti untuk mengamati memegang pensil yang benar. Setelah semua kegiatan dilaksanakan, maka langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap semua data yang diperoleh selama penelitian. Tujuan analisis data ini adalah untuk menjawab permasalahan Untuk dilakukan analisis data lembaran observasi aktivitas guru dan analisis data lembaran peningkatan kemampuan memegang pensil dengan benar. Analisis Data Aktivitas siswa dan Guru. Analisis data tentang aktivitas siswa dan guru didasarkan dari hasil lembar pengamatan selam pelaksanaan tindakan. Pengamatan dilakukan terhadap akifitas yang dilakukan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan persentase dalam penelitian ini diambil dari Anas Sudjono adalah sebagai berikut (Sudjono, 1986: . yce y 100 % ycu Keterangan: angka persentase N: jumlah Frekuensi/banyaknya individu Setiap indikator akan dihitung berapa jumlah masing-masing skor yang diperoleh anak dalam 1 kelas di RA Tunas Bangsa. Kemudian masing-masing skor dalam setiap indikator dihitung persentasenya. Untuk penarikan kesimpulan, hasil observasi dianalisis dengan mempersentase hasil observai yang diperoleh, kemudian dimasukkan ke dalam empat tingkatan yaitu: BSB :Berkembang sangat baik jika anak sudah bisa menulis tanpa bimbingan guru pada skala 76%-100% BSH :Berkembang sesuai harapan jika anak sudah bisa menulis dengan bimbingan guru pada skala 56 %-75 % MB :Mulai berkembang jika anak mulai bisa megang pensil pada skala 41 %-55 % BM :Belum berkembang jika anak belum bisa megang pensil pada skala 0 %-40 % Keberhasilan penelitian tindakan kelas ini ditandai dengan adanya perubahan ke arah perbaikan. Peneliti menentukan indikator keberhasilan yaitu persentasenya rata-rata atau 76 % anak mampu memegang pensil dengan benar. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tindakan Kelas dalam kemempuan menulis di RA Tunas Bangsa pada kelompok A dapat ditingkatkan dengan mengunakan trigonal pensil. Hal ini dapat terlihat sebelum dilakukan tindakan siklus dengan sesudah dilakukan tindakan peneliti sangat berbeda. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan hasil belajar ang diperoleh sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan trigonal Pelaksanaan menggunakan trigonal pensil Berdasarkan trigonal pensil di RA Tunas Bangsa pada awalnya anak mengalami kesulitan dalam memegang pensil, ada sebagian anak yang bisa memegang pensil dengan benar dan ada sebagian anak yang belum bisa memegang trigonal pensil dengan benar. Penelitian ini dilaksanakan di RA Tunas Bangsa Sidogemah, yang terletak didusun badong. Sidogemah. Sayung. Demak. RA Tunas bangsa mempunyai 2 ruang kelas, yaitu 1 ruang untuk kelompok A dan 1 ruang untuk kelompok Adapun penelitian ini dilakukan di kelompok A, yang berjumlah 27 anak. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian pada kelompok A yang terdiri dari 10 anak laki-laki dan 17 anak Letak sekolah ini berada di daerah pesisir dekat dengan laut. Sarana dan prasarana yang ada di RA Tunas Bangsa Sidogemah meliputi, kantor dan ruang guru, ruang kelas, kamar mandi, dan Sarana pembelajaran cukup baik dan dengan 68 kebutuhan dan usia anak. Ruang kelas di RA Tunas Bangsa Sidogemah ini sudah cukup memadai untuk melakukan proses belajar Sedangkan sarana untuk bermain di luar ruangan terdiri dari bermacam macam mainan diantaranya papan luncur, ayunan, tangga pelangi. EDUCATE : Journal of Education and Culture Selain itu. Jumlah guru atau pegawai di RA Tunas Bangsa Sidogemah Sayung Demak adalah 4 Orang yang terdiri dari satu ibu Miftahun NiAomah sebagai Kepala RA, ibu Mualifah sebagai guru kelas B, ibu Faridatul Chasinah sebagai guru kelas A dan ibu Amaliyah sebagai bendahara dan operator emis. Kemampuan Fisik Motorik Anak Memegang Trigonal Pensil Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di RA Tunas Bangsa bahwa sebelum dilakukan tindakan dengan menggunakan trigonal pensil, kemampuan anak dalam memegang pensil dengan benar perlu adanya peningkatan kemampuan memegang pensil. Hal ini dapat dibuktikan melalui data yang telah dianalisis oleh peneliti selama pelaksanaan pembelajaran Deskripsi Kondisi Awal Sebelum Tindakan Kondisi awal anak sebelum dilakukan tindakan penelitian menunjukan bahwa, saat proses pembelajaran berlangsung kemampuan motorik halus anak kelompok A kurang Terutama dalam kegiatan memegang pensil yang benar untuk membentuk suatu bentuk sederhana misal membuat coretan garis lurus, lengkung dan tulisan huruf dan angka agar menghasilkan bentuk yang anak inginkan dan sesuai dengan perintah yang disampaikan oleh guru anak masih mengalami kesulitan dan memerlukan bimbingan untuk memegang pensil dengan benar. Untuk mengetahui peningkatan motorik halus pada anak dalam kegiatan memegang pensil dengan benar, maka kegiatan awal yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan tindakan yaitu melakukan observasi terhadap anak dalam proses kegiatan memegang pensil. Tindakan awal ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak sehingga memperoleh hasil yang lebih baik. Berdasarkan hasil observasi awal yang diperoleh dari pengamatan pelaksanaan proses kegiatan memegang pensil menggunakan Trigonal Pensil pada kelompok A diperoleh data sebagai Tabel 2 : Hasil Observasi Kondisi Awal Kegiatan Memegang trigonal pensil Kriteria Jumlah Presentase Anak BSB BSH Jumlah Dari kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan membentuk kriteria BSB terdapat 7 . %) anak berkembangnya BSH, 10 . %) anak yang memilki kriteria MB berkembang dan 7 . %) anak yang memiliki kriteria motorik halusnya BB, 3 . %). Berdasarkan data dari sebelum tindakan kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan memegang pensil anak masih belum berkembang dengan baik. Keadaan seperti ini menjadi suatu landasan peneliti untuk melakukan sebuah tindakan dalam rangka meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Siklus Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Masing-masing siklus dalam tindakan dilaksanakan proses pembelajaran selama tiga hari pertemuan. Kegiatan siklus I dari tanggal 2 Juni 2021 sampai tanggal 4 Juni 2021 dan siklus II dari tanggal 9 Juni 2021 sampai tanggal 11 Juni 2021. Berikut gambaran penelitian tindakan kelas yang telah Perencanaan Pada tahap perencanaan tindakan siklus I, peneliti dan kolaborator . melakukan kegiatan antara lain: Menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) Rencana Kegiatan Harian disusun oleh peneliti yang bekerjasama dengan guru kelas A. RKH disusun dengan indikator yang sesuai berdasarkan tema yaitu Tanah Airku dan sub tema Lagu Kebangsaan. Setelah dikonsultasikan kepada guru kelas A dan disetujui bahwa materi yang di ajarkan pada siklus I, pertemuan I. II dan i adalah kegiatan memegang bpensil dengan benar. Menyiapkan bahan-bahan yaitu Trigonal Pensil . Menyiapakan lembar observasi . Pendokumentasian hasil karya anak Pelaksanaan pendokumentasian dilakukan setelah anak selesai melakukan proses pembelajaran yang berupa hasil karya anak. Pelaksanaan Tindakan . Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pertemuan Pertama Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Juni 2021. Berikut ini deskripsi langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan media trigonal pensil pada siklus I pertemuan 1. Kegiatan Awal . Kegiatan awal dalam Siklus I pertemuan I ini dilakukan selama 30 menit. Kegiatan awal ini dimulai dengan memberikan salam dan membaca doa, menanyakan kabar anak, guru mengajak anak untuk EDUCATE : Journal of Education and Culture bernyanyi bersama, kemudian guru memperkenalkan tema tentang tanah airku, sub tema lagu kebangsaan. Selanjutnya guru memperkenalkan model trigonal pensil yang akan digunakan, kemudian guru membagi pensil tersebut. Kegiatan inti Kegiatan inti pada Siklus I pertemuan Kegiatan inti ini, guru membimbing anak untuk mengamati trigonal pensil dan membedakan dengan pensil. Kegiatan Akhir Kegiatan akhir dilakukan selama 30 menit, dimana kegiatan akhir berupa tanya jawab tentang pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan temanya yaitu tanah airku sub tema lagu Kemudian guru membaca doa dan bernyanyi setelah proses pembelajaran berlangsung dan terakhir melakukan proses penjemputan anak. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pertemuan Kedua Pertemuan ke dua dengan tema AuTanah AirkuAy dan sub tema AuLagu KebangsaanAy. Berikut langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran menggunakan media Trigonal pensil pada siklus 1 pertemuan ke-2: Kegiatan Awal . Kegiatan awal dalam Siklus I pertemuan II ini sama seperti pertemuan I yaitu dilakukan selama 30 menit. Kegiatan awal ini dimulai dengan memberikan salam dan membaca mengajak anak untuk bernyanyi bersama, kemudian guru memperkenalkan tema tentang tanah airku, sub tema lagu Selanjutnya guru menanyakan apakah trigonal pensil yang di bagi bu guru sudah di siapkan? . Kegiatan inti Kegiatan inti pada Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan selama 60 menit. Kegiatan inti ini, guru mengarahkan anak cara memegang trigonal pensil dengan benar. Kemudian guru mendorong anak untuk bertanya tentang siapa yang belum bisa memegang pensil dengan benar. , dilanjutkan mulai membuat coretan ataupun tulisan dibuku anak. Kegiatan Akhir Kegiatan inti pada Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan selama 60 menit. Kegiatan inti ini, guru mengarahkan anak cara memegang trigonal pensil dengan benar. Kemudian guru mendorong anak untuk bertanya tentang siapa yang belum bisa memegang pensil dengan benar. , dilanjutkan mulai membuat coretan ataupun tulisan dibuku anak. Observasi Dalam kegiatan observasi yang diamati adalah seluruh kegiatan anak selama mengikuti Pengamatan dengan pendampingan dalam pembelajaran Selama proses pembelajaran siklus 1 selama 3 pertemuan dari kegiatan awal sampai kegiatan akhir berjalan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan. Pada awalnya anak penasaran dengan kegiatan yang disiapkan oleh guru setelah anak diberi penjelasan oleh guru tentng kegiatan yang akan dilakukan anak sangat senang dan bersemangat sekali karena kegiatan menulis menggunakan trigonal pensil menurut mereka adalah hal yang baru dan jarang sekali mereka Pada awal kegiatan ini anak bertanyatanya menggunakan trigonal pensil tidak pensil biasa. Berdasarkan pengamatan selama proses menulis menggunakan trigonal pensil pada siklus 1, anak masih dalam tahap penyesuaian karena tangannya belum terbiasa. Ada anak yang menyelesaikan tugasnya lama, ada yang masih mengamati pensilnya, bahkan ada yang tidak mau memegang pensilnya. Peneliti dan guru kelas pada pelaksanaan tindakan kelas siklus 1, lebih banyak membimbing dan memotivasi anak untuk dapat memegang trigonal pensil dengan benar. Indikator yang diamati yaitu memegang dengan tiga jari, meletakkan jari pada tempatnya sehingga dapat membuat tulisan dengan baik. Tabel 3: Rekapitulasi Hasil Pra Tindakan dan Hasil Siklus I Kegiatan Motorik Halus Dengan Media Trigonal Pra Tindakan Siklus I Presen Kriteria Jumlah Presen Jumlah Anak Anak BSB BSH Jumlah Berdasarkan tabel diatas dapat di lihat gerakan-gerakan jari-jari menggunakan trigonal pensil. Pada kondisi awal terdapat 7 . %)anak yang mendapatkan kriteria BSB meningkat menjadi 9 . %) anak dengan kriteria baik, dan jumlah anak yang mendapatkan kriteria BSH meningkat dari 10 . %) menjadi 11 . %) anak yang mendapatkan nilai dengan kriteria BB menjadi EDUCATE : Journal of Education and Culture dari 7 . %) menjadi 5 . %), sedangkan dengan kriteria MB menjadi dari 3 . %) menjadi 2 . %). Refleksi Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti dan guru melakukan evaluasi dan membahas tentang hal-hal yang menjadi hambatan dalam kendalanya yaitu: Kemampuan motorik halus anak dengan kriteria baik masih mendominasi. Masih banyak anak yang memerlukan memegang trigonal pensil. Sudah adanya peningkatan yang di alami anak dibandingkan dengan kemampuan sebelum tindakan. Kemampuan motorik halus anak yang belum merata dalam satu kelas karena di kelas ini masih banyak anak yang cenderung meniru sama persis dengan contoh yang diberikan guru bahkan kalau tidak sama seperti yang dicontohkan anak meminta guru untuk membimbing yang sama persis. Masih ada anak yang bermalas-malasan dan memegang trigonal pensil. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Siklus Perencanaan Proses peningkatan kemampuan motorik halus anak menggunakan media trigonal pensil pada meskipun meningkatannya masih sangat minim. Masih ada anak yang bermalas malasan serta Untuk mengatasi masalah dalam siklus 1, maka peneliti dan guru merencanakan tindakan pada siklus II, pada siklus kedua ini tindakan di rencanakan dalam 3 kali pertemuan. Pada perencanaan siklus II ini, yaitu dilakukan dengan cara memberi pengawasan kepada anak, pemberian bimbingan dan arahan terhadap 27 anak, dan pemberian reward pada masing-masing anak. Adapun perencanaan tindakan siklus II, peneliti melakukan kegiatan antara lain: Menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) Rencana Kegiatan Harian disusun oleh peneliti yang bekerjasama dengan guru kelas RKH disusun dengan indikator yang sesuai berdasarkan tema yaitu Tanah Airku dan sub Setelah dikonsultasikan kepada guru kelas A dan disetujui bahwa materi yang di ajarkan pada siklus II, pertemuan I. II, adalah kegiatan memegang trigonal pensil dengan benar dan bisa sendiri tanpa bimbingan guru. Menyiapkan bahan-bahan yaitu, trigonal pensil dan buku. Menyiapakan lembar observasi Pendokumentasian hasil karya anak Pelaksanaan pendokumentasian dilakukan setelah anak selesai melakukan proses pembelajaran yang berupa hasil karya anak. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus II Pertemuan I Pertemuan I di lakukan pada hari rabu tanggal 9 Juni 2021 dengan tema AuTanah AirkuAy dan sub tema Aulagu kebangsaanAy. Berikut ini deskripsi langkah- langkah pelaksanaan kegiatan pembelajaran cara memegang trigonal pensil pda siklus II Kegiatan Awal . Kegiatan awal dalam Siklus II pertemuan I ini dilakukan selama 30 menit. Kegiatan awal ini dimulai dengan memberikan salam dan membaca doa, menanyakan kabar anak, guru mengajak anak untuk bernyanyi bersama, kemudian guru memperkenalkan tema tentang tanah airku, sub tema negaraku. Selanjutnya guru menanyakan apakah sudah bisa memegang trigonal pensil dengan benar? Kegiatan inti Kegiatan inti pada Siklus II pertemuan Kegiatan inti ini, guru memberi mengunakantrigonal pensil. Kegiatan akhir Kegiatan akhir dilakukan selama 30 menit, dimana kegiatan akhir berupa tanya jawab tentang pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan temanya yaitu tanah airku sub tema negaraku. Kemudian guru membaca doa dan bernyanyi setelah proses pembelajaran berlangsung dan terakhir melakukan proses penjemputan anak. Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus II Pertemuan II Kegiatan Awal . Kegiatan awal dalam Siklus II sama seperti pertemuan II ini dilakukan selama 30 menit. Kegiatan awal ini dimulai dengan memberikan salam dan membaca doa, menanyakan kabar anak, guru mengajak anak untuk bernyanyi bersama, kemudian guru memperkenalkan tema tentang tanah airku, sub tema negaraku. Selanjutnya guru menanyakan kepada anak yang belum bisa memegang trigonal pensil dengan benar. Kegiatan inti Kegiatan inti pada Siklus II pertemuan Kegiatan inti ini, guru menunjuk salah satu anak untuk maju kedepan EDUCATE : Journal of Education and Culture menunjukkan kepada temannya bahwa dia sudah bisa memegang trigonal pensil dengan benar dan dapat menulis dengan Kegiatan akhir Kegiatan akhir dilakukan selama 30 menit, dimana kegiatan akhir berupa tanya jawab tentang pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan temanya yaitu tanah airku sub tema negaraku. Kemudian guru membaca doa dan bernyanyi setelah proses pembelajaran berlangsung dan terakhir melakukan proses penjemputan anak. Observasi Kegiatan observasi yang diamati adalah kegiatan anak ketika kegiatan ini berlangsung. Adapun aspek yang diamati meliputi proses memegang, menulis. Observasi dilakukan untuk menggunakan trigonal pensil. Tabel 4: Rekapitulasi Hasil Pra Tindakan. Hasil Siklus I dan Siklus II Kegiatan Motorik Halus dengan Media Trigonal Pensil Krit BSB BSH Jml Pra Tindakan Ana Siklus I Ana Siklus II Ana Berdasarkan hasil observasi dari sebelum tindakan ke siklus I dan II dapat dilihat persentase hasil belajar pada tabel dan histogram di atas. Dari data yang diperoleh, dapat diketahui pencapaian hasil belajar anak dalam kegiatan menulis dengan media trigonal pensil pada anak kelompok A mengalami Sebelum ada tindakan motorik halus pada kriteria BSB hanya 7 anak dari 27 anak atau 26 %, kriteria BSH ada 10 anak dari 27 anak atau 37 %, kriteria MB 7 anak dari 27 anak atau 26 %, criteria BB 3 anak dari 27 anak atau 11 %. Setelah ada tindakan pada siklus 1 kemampuan motorik halus pada anak untuk kriteria BSB meningkat menjadi 9 anak dari 27 anak atau 33 %, untuk kriteria BSH meningkat menjadi 11 anak dari 27 anak atau 41 % untuk kriteria MB menjadi 5 anak dari 27 anak atau 19 % dan untuk criteria BB menjadi 2 anak dari 27 anak atau 7 %. Pada siklus II kemampuan motorik halus anak untuk kriteria BSB meningkat menjadi 12 anak dari 27 anak atau 45 %, untuk kriteria BSH menjadi 9 anak dari 27 anak atau 33 % , untuk kriteria MB menjadi 4 anak dari 27 anak atau 15 % dan untuk criteria BB masih tetap yaitu 2 anak dari 27 anak atau 7 Dapat disimpulkan bahwa dari hasil pengamatan sebelum tindakan, siklus I dan siklus II melalui kegiatan menulis menggunakan media trigonal pensil dapat meningkatkan motorik halus pada anak kelompok A RA Tunas Bangsa. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh pada siklus I dan siklus II. Oleh karena itu peneliti menganggap hasil dari siklus II ini, telah sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Refleksi Akhir Refleksi pada siklus II dilakukan oleh peneliti dan guru kelas pada akhir siklus ke II. Pada siklus ke II ini dibahas mengenai proses pembelajaran yang terjadi saat melakukam Anak sangat antusias sekali saat proses pembelajaran karena anak terlibat langsung dalam kegiatan awal sampai kegiatan Anak juga terlihat sangat senang dalam kegiatan menulis menggunakan trigonal pensil. Aktivitas dan kegiatan menulis yang diberikan guru sudah mampu untuk membelajarkan dan mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak. Dalam kegiatan ini anak sudah Pada mengalami peningkatan dan telah memenuhi indikator keberhasilan sehingga peneliti di rasa cukup dan dihentikan sampai siklus II. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Kemampuan motorik anak khusunya motorik halus dapat ditingkatkan melalui kegiatan menulis menggunakan trigonal pensil. Kegiatan yang dilakukan untuk meningkatakan kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan menulis yaitu diantaranya mengkoordinasikan mata dan tangan anak dengan memegang bentuk pensil, mencoba menulis untuk melatih jari tangan anak supaya berkembang lebih optimal sehingga menghasilkan suatu tulisan bagus yang dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok A di RA Tunas Bangsa Sidogemah Sayung Demak. Peningkatan kemampuan motorik halus ini dapat dilihat secara optimal dari hasil data observasi yang diperoleh pada setia siklusnya yang mengalami peningkatan. Pada kondisi awal sebelum tindakan kriteria kriteria BSB hanya 7 anak dari 27 anak atau 26 %, kriteria BSH ada 10 anak dari 27 anak atau 37 %, kriteria MB ada 7 anak dari 27 anak atau sekitar 26 % dan criteria BB ada 3 anak dari 27 anak atau 11 %. Akan tetapi setelah ada tindakan pada siklus 1 kemampuan motorik halus pada anak untuk kriteria BSB meningkat EDUCATE : Journal of Education and Culture menjadi 9 anak dari 27 anak atau 33 %, untuk kriteria BSH meningkat menjadi 11 anak dari 27 anak atau 41 % untuk kriteria MB menurun menjadi 5 anak dari 27 anak atau 19 % dan untuk kriteria BB menurun menjadi 2 anak dari 27 anak atau 7 %. Dalam siklus pertama ini peningkatan yang terjadi masih mendominasi dalam kriteria baik. Karena pada siklus pertama ini anak masih cenderung meniru apa yang di contohkan oleh guru dalam kegiatan menulis menggunakan media trigonal Anak dalam kegiatan memegang pensil juga masih di bantu oleh guru karena masih ada anak yang belum bisa, sehingga perlu adanya tindakan yaitu siklus selanjutnya. Pada tindakan siklus II kemampuan motorik halus melalui kegiatan menulis menggunakan trigonal pensil kriteria BSB meningkat lagi menjadi 12 anak dari 27 anak atau 45 %, untuk kriteria BSH lebih menurun menjadi 9 anak dari 27anak atau 33 % untuk kriteria MB juga menurun menjadi 4 anak dari 27 anak atau 15 % dan kriteria BB masih sama yaitu 2 anak dari 27anak atau 7 % di kelompok A RA Tunas Bangsa Sidogemah saying Demak telah mencapai indikator keberhasilan pada kriteria baik. Saran Pengembangan akademik bagi temen-temen guru hendaknya memperhatikan dasar awal anak memgang pensil agar anak nyaman dan bisa lebih leluasa dan kratif untuk menggoreskan tulisan apapun yang mereka kehendaki dengan tanpa menyakiti tangan mereka. EDUCATE : Journal of Education and Culture PUSTAKA ACUAN