Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Volume 5. Nomor 3. November 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 214-225 DOI: https://doi. org/10. 55606/jikki. Available online at: https://researchhub. id/index. php/jikki Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau yang Berkhasiat sebagai Obat Tradisional Rifda Naufa Lina1*. Anggita Dipika Wulandari2. Laelatul Husniyah3 Fakultas Kedokteran. Program Studi Farmasi. Universitas Negeri Semarang . Indonesia rifdanl@mail. id1*, anggitadipika@mail. id2, laelatulhusniy@mail. Alamat: Jl. Kelud Utara i No. Petompon. Kec. Gajahmungkur. Kota Semarang. Jawa Tengah Korespondensi penulis: rifdanl@mail. Abstract. Public interest in natural remedies has increased significantly in recent years, leading to a growing reliance on traditional medicinal plants as alternative or complementary therapies. Among the plants widely used across generations in various cultural practices are longan leaves (Euphoria longan (Lour. ) Steu. and kaffir lime leaves (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. Both are believed to possess a variety of health-promoting properties and have long been utilized in traditional medicine for their therapeutic potential. Despite their popularity, scientific investigations that specifically explore their phytochemical composition and pharmacological activities remain limited. This study was therefore conducted to examine the secondary metabolite content of both plants and to evaluate their potential as sources of bioactive compounds. The extraction process was carried out using the maceration technique with 96% ethanol as a solvent, followed by a series of phytochemical screening tests. The analysis aimed to identify the presence of key classes of secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, terpenoids, and steroids, which are known to contribute to various biological activities including antioxidant, anti-inflammatory, antimicrobial, and hepatoprotective effects. The results revealed that both longan and kaffir lime leaves tested positive for all targeted secondary metabolite groups. The consistent presence of flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, terpenoids, and steroids suggests that these plants hold considerable pharmacological promise. Their metabolite profiles align with the reported therapeutic uses of these leaves in traditional medicine, providing scientific support for their continued application as herbal remedies. Overall, this research strengthens the understanding of Euphoria longan and Citrus amblycarpa as potential sources of phytopharmaceuticals. The findings not only validate their traditional medicinal uses but also highlight their potential in the development of natural-based drug formulations. Further in-depth studies, including isolation of active compounds and pharmacological assays, are recommended to fully characterize their therapeutic properties and clinical applications. Keywords: Kaffir lime leaves. Longan leaves. Secondary metabolites Abstrak. Minat masyarakat terhadap pengobatan alami terus meningkat, mendorong penggunaan tanaman obat tradisional yang semakin meluas. Di antara tanaman yang telah digunakan secara turun-temurun adalah daun kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan daun jeruk sambal (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. , yang diyakini memiliki berbagai manfaat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan metabolit sekunder pada kedua jenis daun tersebut serta mengevaluasi potensi farmakologisnya sebagai obat tradisional. Hal ini didasarkan pada keberadaan beberapa metabolit sekunder yang diketahui memiliki aktivitas biologis, termasuk antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan hepatoprotektif. Proses ekstraksi dilakukan dengan teknik maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, kemudian dilanjutkan dengan skrining fitokimia untuk mendeteksi keberadaan senyawa seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, terpenoid, dan steroid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik daun kelengkeng maupun daun jeruk sambal positif mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, terpenoid, dan steroid. Keberadaan senyawa-senyawa tersebut menguatkan bukti ilmiah mengenai potensi kedua tanaman ini sebagai sumber obat herbal. Temuan ini tidak hanya mendukung pemanfaatan tradisional daun kelengkeng dan daun jeruk sambal sebagai obat alami, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang fitofarmaka berbasis bahan alam. Dengan adanya bukti fitokimia, kedua tanaman ini berpotensi dijadikan dasar penelitian lanjutan mengenai formulasi obat herbal yang lebih efektif, aman, dan berdaya guna tinggi. Penelitian ini sekaligus menegaskan pentingnya eksplorasi sumber daya hayati lokal sebagai upaya dalam mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan pendekatan ilmiah modern, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan kesehatan masyarakat serta memperkaya khazanah obat berbasis alam. Kata kunci: Daun jeruk limau. Daun kelengkeng. Metabolit sekunder Received: Juli 17, 2025. Revised: Juli 31, 2025. Accepted: Agustus 18, 2025. Online Available: Agustus 20, 2025 Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau yang Berkhasiat sebagai Obat Tradisional LATAR BELAKANG Minat masyarakat terhadap pengobatan alami terus meningkat seiring dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan yang lebih aman dan minim efek samping. Salah satu pendekatan yang kembali banyak digunakan adalah pemanfaatan tumbuhan sebagai obat Tumbuhan mengandung berbagai senyawa aktif, terutama seperti flavonoid, tanin, terpenoid, saponin, dan alkaloid. Senyawa aktif ini telah diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis penting, termasuk sebagai antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan pelindung (Kusumawati. Yogeswara, & Wasito, 2. Jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai obat herbal, yang banyak tumbuh di wilayah tropis Asia Tenggara. Studi terbaru pada tahun 2025 menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk limau memiliki kandungan senyawa aktif seperti hesperidin, tangeretin, neohesperidin, limonoid, fenolik, terpenoid, dan Analisis menggunakan LC-HRMS juga menunjukkan bahwa fraksi etilasetat dan nheksana dari tanaman ini memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi melalui mekanisme penangkapan radikal bebas dan daya reduksi (Kusumawati et al. , 2. Temuan ini menegaskan potensi jeruk limau sebagai sumber bioaktif alami yang dapat dikembangkan menjadi produk fitofarmaka. Di sisi lain, meskipun penelitian tentang daun kelengkeng (Euphoria longan (Lour. Steu. dalam lima tahun terakhir masih terbatas, uji fitokimia terhadap ekstrak air menunjukkan adanya steroid, flavonoid, alkaloid, asam organik, tanin, coumarin glycoside, dan monosakarida. Ekstrak ini efektif sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Fuloria et al. , 2. Beberapa studi pada spesies lain seperti Citrus medica dan Citrus grandis bahkan berhasil mengungkap kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas terapeutik mereka menggunakan metode maserasi dan uji fitokimia modern (Benedetto et al. , 2. Daun merupakan pusat produksi senyawa bioaktif. Daun juga berperan sebagai tempat utama sintesis dan akumulasi metabolit sekunder . lavonoid, tanin, terpenoid, alkaloi. , yang berfungsi sebagai pertahanan tanaman terhadap stres abiotik atau herbivori (Jaiswal. Institutions. Kumar, & Hossain, 2. Sehingga pada penelitian ini yang dibandingkan yaitu bagian tanaman daun untuk di maserasi. Maserasi dapat menggunakan pelarut polar seperti etanol 96% atau metanol masih menjadi salah satu teknik ekstraksi yang paling umum Metode ini terbukti efektif untuk mengekstrak senyawa fenolik polisiklik dan limonoid yang bersifat larut dalam pelarut polar, sehingga banyak dimanfaatkan dalam analisis awal kandungan senyawa aktif tanaman obat (Benedetto et al. , 2023. Sun et al. , 2. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 214-225 Berdasarkan uraian diatas maka, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui senyawa metabolit sekunder pada daun kelengkeng dan daun jeruk limau. Hal tersebut dapat membantu dalam pemilihan obat tradisional yang didasarkan pada khasiat dari senyawa metabolit KAJIAN TEORITIS Daun sering menjadi bagian tanaman dengan konsentrasi metabolit sekunder tertinggi karena berfungsi sebagai organ utama dalam pertahanan terhadap stres lingkungan. Komponen seperti flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, alkaloid, dan limonoid sangat umum ditemukan pada daun dan memiliki aktivitas biologis tinggi . lavonoid menjadi kelas senyawa domina. (Lin et al. , 2. Hasil uji fitokimia dengan membandingkan ekstrak hidroetanolik . %) dan etanol murni . %) dari daun kelengkeng menunjukkan daun kelengkeng mengandung fenolik dan flavonoid dengan total fenolik sebesar 363,6 mg GAE/g ekstrak kering dan total flavonoid sekitar 432,8 mg QE/g ekstrak kering. Aktivitas antioksidan diuji dengan DPPH dan HCCOCC menunjukkan ICCICA rendah, yang mengindikasikan potensi tinggi sebagai antioksidan (Doungsaard et al. , 2. Kandungan senyawa bioaktif utama dari daun jeruk limau seperti hesperidin, neohesperidin, tangeretin, limonoid, fenolik, terpenoid, dan alkaloid. Kombinasi fraksi etilasetat dan heksana menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi melalui mekanisme radikal scavenging dan daya reduksi. Berdasarkan genus citrus lain, senyawa tersebut sangat mungkin juga hadir dalam daun, meskipun data langsung pada daun jeruk limau masih terbatas (Kusumawati et al. , 2. Metode maserasi menggunakan pelarut polar seperti etanol 96% atau 50% . sangat efektif mengekstrak senyawa fenolik polisiklik dan limonoid yang larut dalam medium Berdasarkan studi dari berbagai genus Citrus, metode ini menghasilkan yield tinggi dan kandungan bioaktif yang lebih konsisten (Lin et al. , 2. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan Jenis penelitian observasi laboratorium menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dengan sampel penelitian yaitu ekstrak etanol daun kelengkeng dan daun jeruk limau. Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau yang Berkhasiat sebagai Obat Tradisional Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh subjek atau objek yang memiliki karakteristik atau sifat tertentu yang menjadi fokus penelitian. Dalam penelitian ini, populasi pada penelitian ini yaitu tanaman jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. yang berasal dari sekran kec. Gunung pati kota Semarang dan tanaman kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. yang berasal dari kec. Sragen Kab. Sragen. Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diharapkan dapat merepresentasikan keseluruhan populasi dalam suatu penelitian. Adapun sampel yang digunakan yaitu ekstrak daun jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. yang diperoleh menggunakan etanol 96% dan daun kelengkeng kelengkeng (Euphoria longan (Lour. Steu. Alat dan Bahan Penelitian Alat Peralatan pada penelitian ini meliputi: batang pengaduk, cawan porselin, kain penyaring, kipas, lampu spiritus, pipet tetes, plat tetes, rak tabung reaksi, sendok tanduk, tabung reaksi, timbangan analitik, dan toples kaca. Bahan Bahan-bahan pada penelitian ini antara lain: daun kelengkeng (Euphoria longan (Lour. Steu. dan daun jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. masing-masing sebanyak 5 kg, aquadest, serbuk logam magnesium (M. , etanol 96%, reagen Dragendorff. HCl pekat, reagen Mayer. FeClCE 1%, dan HCCSOCE pekat. Pengambilan Sampel Penelitian ini menggunakan sampel daun kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan daun jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. Sampel diambil jam 08:00-11:00 Bagian tanaman yang dipakai adalah daun yang tua. Pengolahan Sampel Penelitian ini menggunakan sampel daun kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan daun jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. Sampel kemudian disortasi basah dan dicuci dengan air kran. Kemudian sampel dikeringkan dan disortasi kering. Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 214-225 Pembuatan Ekstrak Serbuk simplisia di ekstraksi dengan tehnik maserasi perbandingan 1:10 sebanyak 500 gram dimasukkan kedalam toples kaca gelap dengan etanol 96% sebagai pelarut sebanyak 5L dengan sesekali diaduk kemudian dibiarkan selama 3x24 jam di tempat gelap sampai jenuh dan didapat maserat. Maserat yang didapat kemudian disaring dengan kain flannel sampai mendapatkan filtrat. Filtrat yang didapat kemudian ditampung dan dilakukan rotary evaporator hinggaa pekat dengan suhu 40oC sampai didapat ektrak pekat. Identifikasi Golongan Senyawa Uji Flavonoid Uji Flavonoid dilakukan dengan 3 uji yaitu uji Wilstater, dan uji NaOH 10%. Uji Wilstater Sejumlah 1mL ekstrak direaksikan dalam tabung reaksi dengan menambahkan 0,1gr Mg dan lima tetes HCl pekat. warna merah atau orange menunjukkan adanya kandungan flavonoid. Uji NaOH 10% Sejumlah 1mL ekstrak ditetesi dengan larutan NaOH 10% . eberapa tete. dan reaksi positif flavonoid ditunjukan perubahan warna jingga atau orange. Uji Saponin 2 mg ekstrak direaksikan dalam tabung reaksi dan ditambah 10 mL air panas, kemudian dipanaskan sampai mendidih dan disaring. Filtrat dimasukkan tabung reaksi, dikocok A10 detik, didiamkan selama 10 menit, kemudian ditambahkan 1 mL HCl 2 mL. Indikasi adanya saponin apabila terbentuk busa yang menetap selama 15 menit. Uji Tanin Sejumlah 2 mg ekstrak kental dipanaskan A5 menit, kemudian ditetesi FeCl3 1% . eberapa tete. Ekstrak menunjukan positif tannin apabila larutan berwarna coklat kehijauan atau biru kehitaman. Alkaloid Ekstrak disaring dengan kertas saring, dan direkasikan dengan 3 tetes HCl pekat kemudian ditambah 5 tetes reagen Mayer. Indikasi alkaloid ditandai terbentuknya endapan putih pada uji Mayer. Terpenoid & Steroid 0,2g simplisia ditambahkan dengan asam asetat glasial hingga simplisia terendam, didiamkan selama kira-kira15 menit. Sebanyak enam tetes larutan sampel dimasukkan Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau yang Berkhasiat sebagai Obat Tradisional ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet, kemudian ditambahkan 2Ae3 tetes HCCSOCE. Indikasi triterpenoid dengan perubahan warna menjadi kecoklatan atau ungu violet, sementara keberadaan steroid ditunjukkan dengan munculnya warna biru kehijauan (Khafid et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Simplisia Sampel Daun Kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. pada penelitian ini didapat dari Kec. Sragen Kab. Sragen Jawa tengah dan Daun Jeruk (Citrus amblycarpa (Hassk. Ochs. yang didapat dari Sekaran Kec. Gunung Pati Kota Semarang Jawa tengah. Sebelum dilakukan pembuatan simplisia, dilakukan uji determinasi tanaman di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta untuk memastikan bahwa sampel yang diambil merupakan tanaman yang Sampel diambil dengan cara memetik secara langsung dari pohonnya. Karakteristik daun yang diambil yaitu daun yang sudah tua, segar, dan tidak rusak. Pada penelitian sebelumnya tanaman Clausena lansium (Lour. ) Skeels pada daun tua menunjukkan total flavonoid sebesar 1776 A 92 mg CE/100 g, hampir 2,6y lebih tinggi dibanding daun muda . ekitar 672 mg CE/100 . , dengan peningkatan signifikan pada kedua komponen flavonoid bebas maupun terikat (Chang et al. , 2. Analisis metabolomik/transkriptomik pada daun muda dan tua menunjukkan bahwa ekspresi gen biosintesis flavonoid meningkat pada daun tua, menandakan akumulasi lebih tinggi flavonoid di daun tua dibanding daun muda (Zhou. Xing. Bu. Han, & Shen, 2. Selanjutnya dilakukan pencucian dengan air mengalir hingga daun tersebut bersih, kemudian Daun Kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan Daun Jeruk Limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. diiris tipis untuk mempermudah proses Pengeringan sampel dalam penelitian ini dilakukan dibawah sinar matahari dan ditutup kain hitam agar kandungan senyawa flavonoid tidak rusak. Tujuan dari proses pengeringan simplisia yaitu untuk menghasilkan simplisia yang tidak mudah rusak sehingga dapat di simpan dalam waktu yang relatif lama, serta untuk mengurangi kadar air pada simplisia Daun Kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan Daun Jeruk Limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. dan menghentikan reaksi enzimatik yang akan mencegah penurunan mutu pada simplisia (Fajriyah dan Qulub, 2. Hasil pengolahan sampel simplisia Daun Kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan Daun Jeruk Limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. dapat dilihat pada tabel 4. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 214-225 Tabel 1. Hasil Pengolahan Sampel Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau Sampel Daun Kelengkeng Jeruk Limau Daun Basah . 2,00 2,115 Daun Kering . 1,87 1,987 Susut Pengeringan (%) 6,50 6,052 Berdasarkan tabel 1. menunjukkan bahwa dari daun kelengkeng basah sebanyak 2 kg didapatkan simplisia kering sebanyak 1,87 kg dan persen susut pengeringnya adalah 61,50 %. Sedangkan dari daun jeruk limau basah sebanyak 2,115 kg didapatkan simplisia kering sebanyak 1,987 kg, dimana mengalami susut pengeringan sebanyak 6,052%. Salah satu tujuan utama penetapan susut pengeringan adalah untuk membatasi jumlah senyawa yang hilang selama proses pengeringan tidak hanya air, tetapi juga pelarut dan volatil lainnya seperti minyak atsiri (Harrizul. Putri, & H, 2. Hasil susut pengeringan diatas sesuai dengan standart Farmakope herbal indonesia yaitu <10 % (Maslahah, 2. Penetapan Kadar Air Serbuk Pada penelitian ini uji kadar air dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Hasil penetapan kadar air serbuk simplisia daun kelengkeng dan daun jeruk limau dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Penetapan Kadar Air Serbuk Simplisia Daun Kelengkeng Sampel Daun Kelengkeng Replikasi i Rata-Rata Berat 1 gram 1 gram 1 gram Kadar air 6,43% 6,81% 6,67% 6,64% Tabel 3. Hasil Penetapan Kadar Air Serbuk Simplisia Daun Jeruk Limau Sampel Daun Jeruk Limau Replikasi i Rata-Rata Berat 1 gram 1 gram 1 gram Kadar air 2,34% 3,42% 3,35% 3,04% Berdasarkan tabel 2. menunjukkan bahwa penetapan kadar air serbuk simplisia daun kelengkeng mendapatkan hasil rata-rata 6,64 % dan daun jeruk limau sebesar 3,04%. Nilai ini menunjukkan bahwa persentase kadar air dalam serbuk daun kelengkeng dan daun jeruk limau memenuhi standar simplisia, dimana menurut Depkes RI . kadar air untuk standar simplisia tidak boleh Ou 10%. Sampel dengan kadar air lebih tinggi cenderung lebih rentan terhadap pertumbuhan mikroba. Kelembapan rendah (< 10%) terbukti mendukung stabilitas bahan dan mencegah kontaminasi mikroba (Kumadoh et al. , 2. Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau yang Berkhasiat sebagai Obat Tradisional Ekstraksi Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode maserasi. Ekstraksi dengan metode maserasi perlu dilakukan dengan beberapa kali pengadukan. Metode maserasi dipilih karena memiliki keunggulan, salah satunya yaitu metode maserasi tidak memerlukan pemanasan sehingga bahan alam kemungkinan kecil mengalami kerusakan atau terurai (Selviana. Khoirotunnisa. Ulandari. Rahayu, & Andrifianie, 2. Penelitian ini menggunakan etanol 96% sebagai pelarut. Pemilihan etanol 96% didasarkan pada sifat senyawa flavonoid dalam daun kelengkeng dan daun jeruk limau yang bersifat polar. Hal ini sesuai dengan prinsip Aulike dissolves like,Ay di mana pelarut polar akan melarutkan senyawa polar, sedangkan pelarut nonpolar akan melarutkan senyawa Pelarut etanol mampu melarutkan spektrum luas senyawa polar dan semi-polar (Firdaus. Rosyidah. Permadi. Sulistiawati, & Wardhana, 2. Hasil maserat kemudian dikumpulkan dan dikentalkan dengan menggunakan penangas air dengan mengontrol suhunya yaitu sebesar 40oC hingga diperoleh ekstrak kental. Hasil ekstrak kental yang diperoleh kemudian dihitung persentase rendemennya. Hasil rendemen ekstrak daun kelengkeng dan daun jeruk limau dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Hasil Rendemen Ekstrak Daun Kelengkeng dan Jeruk Limau Sampel Daun Kelengkeng Jeruk Limau Berat Simplisia . Berat Total Ekstrak . 96,54 Rendemen (%) 19,31 18,99 Berdasarkan pada tabel 4. menunjukkan bahwa berat simplisia daun kelengkeng dan daun jeruk limau yaitu 500 gram, kemudian filtrat setelah dikentalkan mendapatkan berat total ekstrak kental sebanyak 96,54 gram dan 94,96 gram, dimana setelah dihitung rendemennya menghasilkan 19,31% dan 18,99%. Rendemen adalah jumlah berat keseluruhan dari senyawa metabolit sekunder yang berhasil diekstraksi dari suatu sampel atau tanaman (Sari & Triyasmono, 2. Semakin besar nilai suatu rendemen maka semakin banyak senyawa aktif yang tersari dalam suatu sampel (Wahyuni & Marpaung, 2. Skrining Fitokimia Tujuan identifikasi kandungan senyawa kimia dalam ekstrak etanol 96% daun kelengkeng dan daun jeruk limau yaitu untuk mengetahui metabolit sekunder yang terkandung dalam daun kelengkeng dan daun jeruk limau, setelah dilakukan uji skrining fitokimia daun kelengkeng dan daun jeruk limau mengandung flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, terpenoid JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 214-225 dan steroid. Hasil skrinning fitokimia ekstrak etanol 96% daun kelengkeng dan daun jeruk limau dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Identifikasi Kandungan Ekstrak Etanol 96% Daun Kelengkeng Golongan senyawa Flavonoid Uji Wilstater Uji NaOH 10% Saponin Tanin Alkaloid Reaksi Hasil Warna Serbuk Mg HCl pekat NaOH 10% Air panas HCl 2N FeCl3 HCl 2N Mayer Merah/orange Kuning Busa setelah dikocok Hijau pekat/ biru kehitaman Ada endapan Hijau kebiruan Terpenoid & Steroid Pada uji flavonoid dilakukan dengan uji wilstater yang menghasilkan warna merah/orange dan uji NaOH menghasilkan warna kuning yang berarti daun kelengkeng dan daun jeruk limau positif mengandung flavonoid. Hal tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan flavonoid positif ditandai dengan wrna merah tua pada uji wilstater (Khafid et al. , 2. Flavonoid mempunyai khasiat menurunkan resistensi insulin dan menekan peradangan kronis lewat pengaturan jalur molekuler. Dapat disimpulkan flavonoid dapat berkhasiat sebagai antiinflamasi, antidiabet dan antioksidan (Zahra. Abrahamse, & George, 2. Uji saponin daun kelengkeng dan daun jeruk limau didapatkan hasil positif yang ditandai dengan adanya busa setelah dikocok. Hal tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa saponin positif ditandai dengan adanya busa stabil (Khafid et al. , 2. Saponin digambarkan mempunyai efek antidiarrheal, antiparasit, antiviral, dan antikanker dari akar Pulsatilla chinensis (Zhong. Tan. Chen, & He, 2. Uji tanin daun kelengkeng dan daun jeruk limau didapatkan hasil positif yang ditandai dengan adanya warna hijau pekat/ hijau kebiruan. Pada penelitian sebelumnya disebutkan adanya tanin ditandai dengan warna biru tua atau hitam kehijauan (Khafid et al. , 2. Pada penelitian sebelumnya menyebutkan peran tanin dalam meningkatkan keseimbangan redoks, proteksi terhadap penyakit neurodegeneratif, dan dukungan mikrobiota usus sebagai nutraceutical (Melo. Aquino-Martins. Silva. Oliveira Rocha, & Scortecci, 2. Tabel 6. Identifikasi Kandungan Ekstrak Etanol 96% Daun Jeruk Limau Golongan senyawa Flavonoid Uji Wilstater Uji NaOH 10% Saponin Tanin Reaksi Hasil Warna Serbuk Mg HCl pekat NaOH 10% Air panas HCl 2N FeCl3 Merah/orange Kuning Busa setelah dikocok Hijau pekat/ biru kehitaman Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Kelengkeng dan Daun Jeruk Limau yang Berkhasiat sebagai Obat Tradisional Alkaloid HCl 2N Mayer Terpenoid & Steroid Ada endapan Hijau kebiruan Pada uji alkaloid daun kelengkeng dan daun jeruk limau didapatkan hasil positif yang ditandai dengan adanya endapan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa alkaloid positif ditandai dengan terbentuknya endapan jingga merah (Khafid et al. , 2. Pada penelitian sebelumnya alkaloid dari tanaman Corydalis yanhusuo . eperti tetrahydropalmatine dan dehydrocorybulbin. memiliki khasiat pereda nyeri akut hingga neuropatik tanpa menyebabkan toleransi maupun ketergantungan (Abal. Louzao. Vilariyo. Vieytes, & Botana, 2. Pada uji terpenoid dan steroid daun kelengkeng dan daun jeruk limau didapatkan hasil positif yang ditandai dengan adanyawarna hijau kebiruan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa alkaloid positif ditandai dengan adanya warna kecoklatan atau warna biru kehijauan (Khafid et al. , 2. Pada penelitian sebelumnya menyebutkan efek farmakologis terpenoid, termasuk antioksidan, anti-inflamasi, antimikroba, serta aktivitas antikanker dan potensi sebagai nutraceutical atau obat tradisional modern (Gadouche et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Daun kelengkeng (Euphoria longan (Lour. ) Steu. dan Daun jeruk limau (Citrus amblycarpa (Hassk. ) Ochs. positif mengandung flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, terpenoid dan steroid. UCAPAN TERIMA KASIH