ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh DARI TRADISI KE TRANSFORMASI: KONTRIBUSI PEMIKIRAN OMID SAFI DALAM PEMBARUAN EPISTEMOLOGI FIQH Muhammad Mujib mmujib71@student. Pascasarjana UIN Sunan Kudus Abstrak: Artikel ini mengkaji secara kritis konsep Muslim Progresif yang dirumuskan Omid Safi sebagai salah satu tren pemikiran Islam kontemporer yang menekankan keadilan sosial, kesetaraan gender, dan pluralisme. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi epistemologis dan metodologis Muslim Progresif melalui konsep multiple critique, sekaligus memetakan posisinya dalam peta tren Islam kontemporer dengan menggunakan tipologi Abdullah Saeed. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan analisis isi . ontent analysi. terhadap karya-karya primer Omid Safi serta sumber-sumber sekunder terkait pemikiran Islam progresif, postmodernisme, dan gerakan ijtihad Hasil penelitian menunjukkan bahwa ijtihad progresif Safi berakar pada keterlibatan mendalam terhadap tradisi Islam sembari mengadopsi kritik simultan terhadap struktur ketidakadilan baik di tubuh umat Islam maupun sistem global modernitas Barat. Konsep multiple critique memungkinkan artikulasi pemikiran yang tidak apologis, tidak simplistik, serta menolak dikotomi biner IslamAeBarat. Selain itu, analisis memperlihatkan bahwa Muslim Progresif tidak sepenuhnya identik dengan kategori Ijtihadi Progresif sebagaimana dirumuskan Abdullah Saeed, karena mengandung keragaman internal serta kecenderungankecenderungan epistemologis yang tidak homogen. Artikel ini menegaskan bahwa pemikiran Safi menawarkan perangkat heuristik untuk memahami Aucara menjadi MuslimAy di era kontemporer tanpa menjadikannya kategori teologis yang rigid. Temuan ini berimplikasi pada penguatan studi Islam kritis dan pembaruan metodologis fiqh sosial, khususnya dalam merumuskan ijtihad yang sensitif terhadap isu-isu keadilan gender, kemanusiaan universal, dan transformasi sosial berbasis nilai. Kata Kunci: Muslim Progresif. Omid Safi. multiple critique. ijtihad kontemporer. Abstract: This article critically examines Omid SafiAos conception of Progressive Muslims as a contemporary Islamic intellectual trend emphasizing social justice, gender equality, and pluralism. The study aims to explicate the epistemological and methodological foundations of Progressive Muslim thought through the concept of multiple critique, while also positioning it within Abdullah SaeedAos typology of contemporary Islamic trends. This research employs a literature-based method using content analysis of SafiAos primary works and secondary sources related to progressive Islam, postmodernism, and contemporary ijtihad movements. The ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh findings reveal that SafiAos progressive ijtihad is grounded in deep engagement with Islamic tradition alongside simultaneous critique of injustices within Muslim societies and the hegemonic structures of Western modernity. The concept of multiple critique enables a non-apologetic, non-simplistic, and non-binary framework that resists the rigid IslamAeWest dichotomy. Moreover, the analysis shows that Progressive Muslims are not identical to SaeedAos category of Progressive Ijtihadists due to internal diversity and heterogeneous epistemological orientations. This article concludes that SafiAos perspective serves as a heuristic device for understanding Auways of being MuslimAy in contemporary contexts rather than a fixed theological category. These findings contribute to strengthening critical Islamic studies and methodological renewal in social fiqh, particularly in formulating ijtihad that is sensitive to gender justice, universal humanism, and value-based social transformation. Keywords: Progressive Muslims. Omid Safi. multiple critique. PENDAHULUAN Istilah Islam Progresif atau Muslim Progresif sebetulnya lama digunakan. Setidaknya, pada tahun 1999, berdiri sebuah organisasi bernama Progressive Muslim Network (PMN) di Toronto. Kanada. 1 Lalu pada tahun 2003, terbit sebuah buku berjudul Progressive Muslims: On ". Gender. Justice, and Pluralism yang diedit oleh Omid Safi dan disebutnya sendiri sebagai Auhasil dari percakapan, dialog, dan perdebatan di antara 15 kontributornya selama hampir setahun penuhAy. 2 Meski demikian, sangat sulit kiranya untuk merumuskan sebuah pemahaman tunggal tentang apa yang disebut AuMuslim ProgresifAy itu. Dalam ungkapan Ebrahim Moosa. AuSiapa pun yang berpikir bahwa Islam 'Progresif adalah sebuah ideologi, kredo, gerakan, atau sekumpulan doktrin yang siap-pakai pasti akan sangat kecewa. Ay3 Ada banyak versi dari Muslim Progresif, sama banyaknya barangkali dengan jumlah para pengusung label ini. Oleh karena itu, tulisan ini memusatkan perhatiannya hanya kepada konsepsi Muslim Progresif yang diajukan oleh Omid Safi,4 seorang pemikir Saadia Yacob. Developing Identities: What is Progressive Islam and Who Are Progresive Muslims. Paper dipresentasikan dalam The AMSS 33rd Annual Conference. Mason University Arlington Campus. Virginia, 24-26 September 2004, 5. Omid Safi. Introduction: The Times They Are A-Changin'- A Muslim Quest for Justice. Gender Equality, and Pluralism, dalam Safi. Omid . Progressive Muslims: On Gender. Justice, and Pluralism (Oxford: Oneworld, 2. , 18. Ebrahim Moosa. Transitions in The 'Progress' of Civilization: Theorizing History. Practice, and Tradition, dalam Vincenl Cornell dan Omid Sali . ],Voice of Change (Westport: Praeger Publishers, 2. Safi sendiri menyatakan bahwa apa yang dikemukakannya tidak boleh dipandang sebagai Manifesto Muslim Progresif. Bahkan tidak boleh ada pandangan individual tentang Muslim Progresif yang bisa dianggap sebagai kanon, karena itu akan bertentangan dengan prinsip "pertukaran gagasan yang cair" serta "pengakuan terhadap sebuah spektrum interpretasi yang luas". Lihat Omid Safi. Inroduction, 7. Tentang perbedaan antara Safi dan pemikir-pemikir Muslim Progresif lain, lihat, misalnya. Amin Abdullah. Pengantar, dalam Farish A. Noor. Islam Progresif: Tantangan. ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh muslim Amerika yang berlatar belakang keluarga dari Iran. Penting untuk digarisbawahi bahwa Muslim Progresif dalam tulisan ini akan diperlakukan sebagai salah satu tren dalam dunia Islam kontemporer. Karena itu, sebagai upaya untuk mempertajam distingsi, beberapa perbandingan akan juga dilakukan, baik dengan pemikiran tokoh-tokoh lain yang mengidentifikasi diri mereka sebagai muslim progrsif maupun dengan tren-tren lain yang muncul dalam dunia Islam di masa kontemporer ini. Mengapa AuMuslimAy yang AuProgresifAy? Salah satu problem paling mendasar dari penggunaan istilah Muslim Progresif terletak pada kata "progress" yang dikandungnya. Kemajuan ke arah mana? Selama ini, kemajuan sering kali dikonsepsikan dalam pengertian yang terlampau Hegelian Ae sebuah gerak unilateral dan searah menuju sebuah titik yang konkret dan pasti. Itu terlihat j jelas dalam, misalnya, karya Francis Fukuyama. The End of History and the Last Man. Sejarah akan bergerak maju ke arah yang tidak terhindarkan, dari sistem tribal ke teokrasi, lalu ke aristokrasi, lalu berujung pada kapitalisme dan demokrasi liberal. Omid Safi tentu saja menolakgagasan tentang kemajuan yang bersifat sangat deterministik itu. Menurutnya, kemajuan dalam kata AuprogresifAy adalah perubahan ke arah yang lebih baik bagi dunia secara keseluruhan. 6 Sesuatu yang lebih baik itu terangkum dalam dua kata: keadilan . l-Aoad. serta kebaikan-dankeindahan . l-ihsa. Jika hendak dirumuskan secara lebih praktis, dua kata itu harus meliputiAitetapi tidak terbatas padaAikeadilan sosial, kesetaraan gender, dan pluralisme. 7 Tentang bagaimana konsep-konsep itu dimaknai oleh Omid Safi akan diuraikan belakangan. Di sisi lain. Safi juga mencermati adanya kandungan arogansi dalam penggunaan istilah "progresif". Mereka yang progresif cenderung dipandang atau memandang diri mereka sendiri- sebagai kaum elit yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih tercerahkan dibandingkan dengan mereka yung tidak progresif. Safi mengakui bahwa hal itu adalah salah satu tantangan terberat Muslim Progresif. Karena itu, ia menyeru agar Muslim Progresif dipandang sebagai sebuah alternatif, dan bukan sesuatu yang sepenuhnya antagonistik, bagi arusutama umat Islam. 9 Lebih jauh Muslim Progresif tidak boleh menjadi elitis. harus terlibat dalam tindakan dan transformasi sosial yang konkret. 10 Itu pula sebabnya mengapa Safi menolak menggunakan istilah AuMuslim KritisAy (Critical Musli. , karena para kritikus kerap diidentikkan dengan mereka yang tidak pernah berhenti mengeluh tetapi tetap duduk nyaman dan tidak berbuat apa-apa. Peluang, dan Masa Depannya di Asia Tenggara, terj. Nur Ichwan dan Imron Rosjadi (Yogyakarta: SAMHA, 2. , ix-xii. Ebrahim Moosa. Transitions in the AoProgressAo of Civilization, 118-119. Omid Safi. Challenges and Opportunities for The Progresive Muslim in North America. Muslim Public Affairs Journal, edisi Januari 2006, 77. Omid Safi. Introduction, 6 Omid Safi. Introduction, 6 Omid Safi. Challenges and Opportunities, 79. Omid Safi. What is Progressive Islam?. ISIM Newsletter, edisi 13. Desember 2003, 48 Omid Safi. Introduction, 18 ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh Dengan demikian, istilah AuprogresifAy dipilih sebetulnya bukan karena kata tersebut dianggap paling representatif melainkan karena tidak ada kata lain yang lebih tidak bermasalah. Tidak hanya Safi, seluruh aktivis muslim yang mengasosiasikan diri mereka dengan Muslim Progersif juga berpendapat sama. Ebrahim Moosa bahkan menyatakan, "Saya menggunakan istilah tersebut sambil "13 Kata "progresifAy itu, oleh Omid Safi, kemudian diatribusikan kepada kata AuMuslimAy, bukan "Islam". Pilihan ini dianggapnya lebih tepat karena bukan Islam yang tidak progresif, melainkan para pemeluknya. Oleh sebab itu. Muslim progresif tidak memusatkan perhatiannya pada gagasan tentang Islam di alam ide, melainkan pada keterlibatan langsung dari manusia muslim di alam yang nyata. Safi menyatakan bahwa pada akhirnya, adalah tanggung jawab manusia muslim itu untuk menjadi progresif atau tidak. 14 Meski demikian, ada indikasi bahwa Safi sendiri cenderung bersikap longgar dalam pilihan antara Islam dan Muslim". juga berulang kali menggunakan istilah AuIslam Progresif" dalam beberapa artikel yang ditulisnya. Multiple Critique Sebagai Metode Kritik Muslim Progresif AuMultiple Critique" diadopsi oleh Omid Safi dari beberapa feminis. Dengan sedikit penyederhanaan, istilah tersebut akan diterjemahkan dengan Aukritik-ganda". Yang dimaksud dengan kritik-ganda adalah "sebuah pendekatan beragam arah . multiheaded approac. yang didasarkan atas kritik simultan terhadap beragam komunitas dan wacana di mana kita terlibat di dalamnya. "16 Dalam tulisan-tulisan Omid Safi, kritik-ganda itu dipahami sebagai keharusan untuk mengkritik umat Islam sendiri di satu sisi serta Barat di sisi yang Konsep kritik-ganda itu didasarkan atas sebuah gagasan yang sederhana namun radikal, yaitu bahwa setiap manusia tanpa terkecuali muslim maupun nonmuslim, laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, dan seterusnya Ae memiliki nilai yang sama sebab masing-masing dari kita memiliki di dalam dirinya Auhembusan ruh TuhanAoAo. 17 Oleh sebab itu, keadilan adalah hak setiap individu, tanpa peduli dari kelompok mana pun ia berasal. Implikasinya, setiap bentuk ketidakadilan oleh siapa pun dan kepada siapa pun adalah sesuatu yang harus dikritik serta diperbaiki. Atas dasar itu. Safi mengakui bahwa ketidakadilan telah dan mungkin terjadi atas nama Islam, sembari pada saat yang sama, juga Dalam seminar dengan tema Progressive Islam and the State in Contemporary Muslim Societes yang diselenggarakan di Singapura pada tanggal 7-8 Maret 2006, perdebatan tentang penggunaan istilah AuprogresifAy ini juga mengemuka. Bahkan ada beberapa ilmuwan muslin yang menolak menggunakan istilah tersebut meski setuju dengan agenda dan program Muslim Progresif. Lihat Ahmad Imam Mawardi. AuIslam Progresif dan Ijtihadi Progresif dalam Pandangan Abdullah Saeed : Potret Kegelisahan Umat Islam Menghadapi ModernitasAy. akalah tidak diterbitka. , 3-4. AuI Use the term under protest. Ay Lihat Ebrahim Moosa. Transitions in the Progres of Civilization, 125. Omid Safi. Introduction, 18 Lihat, misalnya, dalam artikelnya yang berjudul What is Progressive Islam? Serta Islamic Modernism, atau dalam transkrip wawancaranya dengan Krista Tippett di Radio Speaking of Faith. Omid Safi. Introduction, 2 Ibid, 3 ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh terus berusaha melawan setiap struktur ketidakadilan yang disebabkan oleh hegemoni Barat. Bahkan kritik juga harus terus menerus dialamatkan kepada gerakan Muslim Progresif sendiri, terutama terhadap kecenderungannya untuk menjadi kaku, otoriter, dan dogmatis. Muslim Progresif mengkritik pemaknaan teks hukum Islam yang diskriminatif terhadap perempuan sekaligus menolak eksploitasi wanita oleh Barat. Muslim Progresif mengecam persekusi kelompok minoritas di negaranegeri Islam sembari terus melancarkan kritik kepada kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang opresif. Muslim Progresif memilih visi tentang Islam yang berbeda dan kelompol Wahhabi atau Neo-Wahhabi, tetapi juga menolak untuk menjadi sekular. Muslim Progresif tidak hanya membantah klaim para muslim pembenci Barat (Muslim Westernophobe. seperti Usama bin Laden. Ayman alZawahiri, atau Sulayman Abu Ghayts, namun juga mencela orang-orang Barat yang membenci Islam (Western Islamophobe. , seperti Bernard Lewis. Samuel P. Huntington. Daniel Pipe, atau Robert Spencer. 19 Dan demikian seterusnya. Mudah diduga bahwa kritik Islam Progresif terhadap umat Islam ditujukan terutama kepada kelompok-kelompok yang oleh Safi disebut "ultrakonservatifAy, yakni mereka yang secara dogmatis bukan saja anti Barat, anti Yahudi, atau anti Kristen, tetapi juga sebetulnya anti kelompok-kelompok muslim yang lain. Namun di sisi lain. Safi juga mengkritik tradisi Islam liberal yang, menurutnya, cenderung bersikap tidak kritis atau bahkan setia kepada modernitas serta sering kali mengabaikan diskus, tentang kolonialisme dan imperialisme. Berbeda dari tradisi liberal tersebut. Islam Progresif sejak awal telah ditandai oleh sikap kritis terhadap kolonialisme, baik dalam bentuknya yang klasik maupun variasivariasinya di masa modern. Pada titik inilah Safi berbicara tentang Auarogansi modernitasAy . he arrogance of modernit. , yaitu keyakinan bahwa modernitas Ae dan Barat secara khusus Ae selalu membawa kebaikan. 22 Banyak kaum muslim modernis yang, sadar maupun tidak sadar, telah menjadikan modernitas seperti berhala yang dipuja, dikopi, dan "diunduhAy secara tanpa kritis. Safi menganggap sikap tersebut sebagai sesuatu yung bertentangan dengan metode multiple critique Muslim progresif. justru menganjurkan sikap yang selaras dengan apa yang dikemukakan oleh paham postmodernisme maupun poskolonialisme. 23 Tetapi berbeda dari dua paham yang cenderung mengkritik modernitas dan Barat secara menyeluruh itu, metode kritik-ganda Muslim Progresif mencoba melibatkan diri dengan tradisi Omid Safi. Challenges and Opportunities, 80 Omid Safi. I and Thou in A Fluid Word Beyond AoIslam Versus The West, dalam Vincent Cornell dan Omid Safi . Voices of Change (Wesport: Praeger Publishers, 2. , 199-210 Omid Safi, dkk. Progressive Islam in America. Transkrip Wawancara dengan Krista Tippett dalam Speaking of Faith, 28 Juli 2005, 2 Omid Safi. Modernism: Islamic Modernism, dalam Lindsay Jones dkk . Encyclopedia of Religion. Second Edition (Farmington Hills: MacMillan, 2. , 6098. Bandingkan dengan Omid Safi. What is Progressive Islam?, 48 Omid Safi. Introduction, 4 Omid Safi. Progressive Islamin America, 6. ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh Islam sekaligus dengan modernitas, mengkritik masing-masing, lalu mengambil yang terbaik dari keduanya. Menjadi Muslim Progresif: Beberapa Prasyarat Metode kritik-ganda adalah dasar bagi gerakan dan seluruh agenda Muslim Progresif. Metode tersebut kemudian dikembangkan oleh Omid Safi ke dalam prasyarat-prasyarat berikut ini. Pertama, keterlibatan yang penuh dalam tradisi Islam Tidak ada gerakan Muslim Progresif yang tidak bersifat islami, dalam arti bahwa sekalipun ia memperoleh inspirasinya dari paham-paham spiritual dan politik di luar Islam, ia tetap harus tumbuh dalam jantung tradisi Islam sendiri. Sekadar berurusan dengan agenda-agenda seperti keadilan, persamaan gender, dan sebagainya, bagi Safi tidak otomatis membuat seseorang atau sebuah kelompok menjadi Muslim Progresif. Bahkan kritik kepada tradisi Islam itu pun harus didahului oleh keterlibatan yang penuh di dalamnya. Muslim Progresif menolak konservativisme yang menganggap tradisi Islam harus dipelihara dalam bentuknya yang sama seperti apa yang kita warisi dari masa lalu. Tetapi ia juga mengkritik sekularisme dan rejeksionisme yang menganggap bahwa tradisi Islam harus ditolak sepenuhnya, bahwa kita harus melakukan pemutusan epistemologis yang bersifat total dari masa lalu. Sebaliknya, tradisi Islam itu harus dipandang sebagai a tradition-in-becoming, sebuah tradisi yang terus berkembang dan mencari bentuk sesuai dengan tantangan-tantangan baru yang dihadapinya. 24 Salah satu strategi untuk menjaga agar tradisi itu tidak kehilangan watak dinamisnya adalah dengan mengangkat ke permukaan isu-isu yang umat Islam enggan membicarakannya secara terbuka. Auto talk abaut all the uncomfortable issues and all the ones we Muslim generally donAot want to talk about publicly". Kedua, penolakan terhadap sikap apologis dan simplistik. Problem yang dihadapi umat Islam dan umat manusia secara umum bersifat sangat kompleks sehingga tidak bisa diselesaikan dengan mencari jalan keluar yang terlampau Karena itu. Safi menolak sebuah kecenderungan yang disebutnya AuIslam PamfletAy, yaitu upaya untuk menyelesaikan masalah yang rumit dengan merujuk kepada ajaran Islam dalam konsepnya yang sederhana dan monolitik. Orang-orang yang menganggap Islam semata-mata sebagai Aupamflet" cenderung akan menyerah pada kerumitan persoalan yang ada dengan serta merta mengatakan. AuIslam menyatakan bahwa. Ay atau "Menurut Islam,. Ay. Pernyataan-pernyataan itu cenderung menjadi tanda kemalasan berpikir. Mereka tidak sadar, atau tidak mau tahu, bahwa diperlukan jihad intelektual yang sungguh-sungguh untuk merumuskan jawaban bagi sebuah persoalan kontemporer berdasarkan tradisi Islam yang kaya, plural dan tidak tunggal. Ketiga, penekanan pada upaya transformasi dan tindakan sosial yang Muslim Progresif menganggap penting visi sekaligus aktivisme. Dalam ungkapan Safi. AuAktivisme tanpa visi adalah sesuatu yang sejak semula telah Omid Safi. Introduction, 5-9 Omid Safi, dkk. Progressive Islam in America, 2-3 Ibid, 20-23 ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh Visi tanpa aktivisme akan segera menjadi tidiik relevan. "27 Mengutip Leonardo Boff. Safi mengenalkan istilah Aulibera. tionAy, sebuah perpaduan antara liberation dan action. bahwa tidak mungkin ada upaya pembebasan tanpa tindakan nyata. 28 Tindakan sosial yang konkret itu di mata Safi, harus ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Inspirasi dasarnya adalah kewajiban membela mustadh'afin dalam tradisi Islam yang tidak dibatasi oleh latar belakang agama, keyakinan, bangsa, ras dan sebagainya. Keempat, perhatian kepada humanisme Islam dan adab. Humanisme adalah landasan filosofisnya, sementara adab adalah kode dalam hubungan lahiriah antar manusia. Adab yang buruk Ae seperti gemar menganggap orang lain sebagai kafir atau pelaku bid'ah Ae dimiliki oleh mereka yang tidak memiliki visi tentang humanisme. Di sinilah Safi menekankan pentingnya menyelami tradisi tasawuf, karena Auat-tashawwuf kulluhu al-adabAy. Safi memandang para sufi sebagai kelompok yang terus menerus berusaha untuk mengembangkan etika interpersonal yang berlandaskan adab itu pada level komunal. Kelima, keterbukaan dalam sumber pengetahuan dan kebijaksanaan. Hidup di abad ke-21, menurut Safi, seorang muslim seharusnya tidak mencukupkan dirinya hanya dengan belajar al-QurAoan dan Hadits. Ia juga perlu mengenal sumber-sumber kebijaksanaan lain yang sekunder, seperti Rumi dan Ibn 'Arabi. Plato dan Ibn Sina. Chomsky, dan Abu Dzarr. Gandhi dan Arundhati Roy. Robert Fisk dan Edward Said. Dalai Lama dan Elie Wiesel, juga Bob Dylan dan Bob Marley. Ia juga mungkin perlu mempelajari Teologi Pembebasan Kristen atau ajaran-ajaran Tao. 31 Pendek kata, epistemologi Muslim Progresif adalah epistemologi yang pluralistik. Dalam sebuah ilustrasi. Safi menyerukan pentingnya memadukan antara seruan al-QurAoan untuk menjadi AusyuhaddaAo lillah bil-qisth" dengan ajakan Edward Said untuk Auspeak truth to the powers. Ay32 Keadilan Sosial. Kesetaraan Gender, dan Pluralisme Sebagaimana diungkapkan pada bagian terdahulu. Omid Safi berpendapat bahwa ada tiga agenda besar yang harus dilakukan oleh Muslim Progresif. Pertama, mewujudkan keadilan sosial. Safi menyadari bahwa istilah Aukeadilan sosialAy barangkali adalah sesuatu yang baru bagi sebagian umat Islam. Namun tema keadilan sendiri sebetulnya berada di jantung etika sosial dalam ajaran Islam. al-QurAoan dan Hadits berulang kali berbicara tentang kewajiban membantu anggota-anggota masyarakat yang terpinggirkan, seperti anak yatim, janda, orang fakir dan miskin, orang yang dizhalimi, dan sebagainya. Allah swt. AuI NEE OI EE OuEI OuO O ECO OOINO I EA OIEIE OEO OEIA ) 30 : AeI EOI ( O EIEA Ibid, 7 Omid Safi. Modernism. Islamic Modernism, 6099 Ibid,6098 Omid Safi. Introduction, 13-14 Ibid, 14-15 Omid Sofi. What is Progressive Islam?, 48 ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh Adalah tugas Muslim Progresif untuk menerjemahkan ajaran-ajaran Islam itu menjadi sesuatu yang bisa dipahami dengan baik oleh siapa pun yang terlibat dalam upaya penegakan keadilan sosial. Dalam konteks global di masa kini, sudah saatnya umat Islam memandang seluruh manusia tanpa terkecuali sebagai tetangga-tetangga mereka yang harus dibela dari segala bentuk ketidakadilan. Sebagai ilustrasi, menegakkan keadilan berarti melawan siapa pun yang terus menerus menyebarkan kebencian atas nama Islam, sekaligus mengkritik korporasi-korporasi multinasional yang mencoba mencari keuntungan dengan mengorbankan penduduk lokal. Muslim Progresif menolak siapa pun yang mengira bahwa masyarakat muslim sama sekali steril dari rasisme dan penindasan, sambil pada saat yang sama mengecam keras pihak-pihak tertentu di Barat yang memegang hak paten obat-obatan anti-HIV dan membiarkan jutaan orang meninggal karena AIDS di mana-mana. Kedua, mewujudkan persamaan gender. Bagi Safi, keadilan sosial tidak mungkin terwujud dalam masyarakat muslim sebelum mereka mewujudkan keadilan bagi kaum wanita. Lebih jauh lagi, tidak mungkin ada interpretasi yang progresif bagi ajaran Islam tanpa membahas keadilan gender. Bahkan kesuksesan gerakan Muslim Progresif pun pada akhirnya akan diukur oleh tingkat perubahan yang ditimbulkannya dalam persoalan keadilan gender itu. 34 Tetapi sebelum itu semua. Safi mencoba menyadarkan kita bahwa gender bukan semata-mata persoalan kaum wanita Ketidak adilan gender sebetulnya juga merupakan proses dehumanisasi kaum laki-laki yang terlibat di dalamnya. Gender juga bukan semata-mata persoalan hijab dan jilbab, namun meliputi sekian banyak isu dan persoalan yang tingkat Kompleksitasnya boleh jadi berbeda-beda sesuai dengan kondisi lokal. Dan pada dasarnya. Muslim Progresif berangkat dari sebuah prinsip penting: bahwa keadilan gender bukanlah sesuatu yang dihadiahkan atau dikembalikan kepada kaum wanita, sebab hak-hak itu murni milik mereka sematamata karena mereka adalah manusia. Allah swt. Berfirman : AO ON EI uI ECIEI II E O IO OEIEI O OCE EAO uI EIEI IA ) 13 : A ( O EA. ANEE CEI uI NEE EOI OA Ketiga, mewujudkan pluralisme. Pluralisme itu, menurut Safi, hanya bisa terwujud jika kita mampu menghormati dan melibatkan yang-lain . he other. pada level terdalam dari sesuatu yang menjadikan kita manusia yang sama. Pluralisme itu adalah ketika manusia bisa bilang AukitaAy dan yang mereka maksud adalah manusia secara keseluruhan. Bani Adam, terlepas dari semua persamaan dan perbedaan. Pluralisme adalah lawan dari pengelompokan eksklusifis berdasarkan apapun. 36 Karena itu. Safi menolak konsep "toleransiAy karena dalam kata tersebut terkandung anggapan bahwa Auyang-lain" itu adalah sejenis racun Omid Sofi. Introduction, 9-10 Safi menyatakan bahwa salah satu perbedaan terpenting antara gerakan Muslim Progresif dan gerakan Islam Liberal adalah tingkat keterlibatan para wanita di dalamnya. Lihat Omid Safi. Challenges and Opportunities, 77. Omid Safi. Introduction, 10-11 Ibid, 11-13 ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh yang bisa kita toleransi hingga batas ketahanan tertentu. Safi juga mengkritik slogan AuIslam adalah agama perdamaianAy karena slogan itu cenderung membuat kita lupa bahwa dalam Islam sekalipun ada manusia-manusia yang tidak cinta damai, serta karena perdamaian bisa saja diartikan sikap diam dan tenang menghadapi penindasan. Muslim Progresif di Antara Tren-tren Kontemporer Islam Lainnya Ada beragam klasifikasi yang diajukan untuk memetakan tren dan gerakan Islam kontemporer. Keragaman itu sebagian besar terjadi karena perbedaan Padahal kriteria-kriteria itu bisa berubah seiring perjalanan waktu. Itu sebabnya mengapa kategori-kategori seperti militan, radikal, ekstremis, moderat, fundamentalis, dan sebagainyu dianggap tidak lagi representatif karena cenderung memiliki batasan yang tidak jelas. Salah seorang ilmuwan muslim yang mencoba untuk masuk ke dalam perdebatan tentang kategorisasi di atas adalah Abdullah Saeed. Menurutnya, trentren Islam kontemporer bisa dipetakan ke dalam delapan kategori, yaitu Legalis Tradisionalis. Puritan Teologis. Ekstremis Militan. Islamis Politis. Liberal Sekuler. Nominalis Kultural. Modernis Klasik, serta Ijtihadits Progresif. 38 Berikut ini adalah upaya untuk menempatkan pandangan Muslim Progresif Omid Safi dalam kategorisasi tren-tren Islam kontemporer Abdullah Saeed tersebut. Muslim Progresif berbeda dari kelompok Legalis Tradisionalis karena ia tidak mencoba mempertahankan tradisi hukum fiqh klasik. Sebaliknya, para proponen Muslim Progresif berulang kali menegaskan kritik mereka kepada sistem hukum fiqh yang memapankan struktur ketidakadilan di tengah masyarakat Muslim Progresif juga bukan kaum Puritan Teologis atau Salafis yang memusatkan perhatian mereka kepada pemurnian akidah, lalu mengajukan pemisahan total antara muslim dan non-muslim, atau antara mereka yang berakidah murni dan para pelaku bidAoah. Dalam beberapa bagian dari tulisannya Safi menyatakan bahwa Muslim Progresif memperjuangkan pluralisme dan humanisme Islam dalam pengertiannya yang luas, yang mencakup seluruh manusia tanpa terkecuali. Selain itu. Safi juga berulang kali menegaskan bahwa Muslim Progresif berupaya melawan segala bentuk literalisme-eksklusifisme Islam seperti apa yang diyakini oleh Wahabisme. Apalagi bila disadari bahwa, bagi Safi, salah satu inspirasi terbesar kepada Muslim Progresif datang dari para sufi Ae kelompok yang kerap ditentang oleh kaum Puritan Teologis. Meski sama-sama menentang dominasi Barat yang tidak adil. Muslim Progresif tentu saja bukan kaum Militan Ekstremis yang membolehkan penggunaan cara-cara teror guna melawan Barat. Demikian juga bila dibandingkan dengan kaum Islamis Politis. Meski juga kritis terhadap kolonialisme dalam segala bentuknya. Muslim Progresif tidak menjadikan jalan politik melalui pendirian negara Islam sebagai metode dan tujuan utamanya. Dan Ibid, 22-25 Delapan kategori ini tercantum dalam Abdullah Saed. Trends in Contemporary Islam: A Preliminary Attempt at a Clasification. The Muslim World. Vol 97. Juli 2007. Dalam versi yang lebih awal. Saeed hanya mencantumkan enam di antaranya . ihat Abdullah Saeed. Islamic Thought: An Introduction (London dan New York: Routledge 2. , 142-154. Dua kategori yang ditambahkannya adalah Nominalis Kultural dan Modernis Klasik. ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh Muslim Progresif juga berbeda dari mayoritas umat Islam yang menjadi bagian dari kelompok Nominalis Kultural, yakni mereka yang acuh terhadap praktik keagamaan mereka sendiri, yang tidak peduli terhadap isu-isu pemikiran keagamaan dalam tradisi Islam. Barangkali gerakan Muslim Progresif lebih tepat dibandingkan dengan dua kelompok lainnya, yaitu kaum Liberal Sekuler dan Modernis Klasik. Sama seperti kaum Liberal Sekuler. Muslim Progresif juga mengkaji dan menangani isu-isu seperti kesetaraan gender, pluralisme, pemaknaan teks agama, dan sebagainya. Namun ada beberapa hal yang ditolak oleh Muslim Progresif Ae setidaknya, dalam konsepsi Omid Safi Ae dari kaum Liberal, seperti kecenderungan untuk menjadi sekuler, penerimaan yang tidak kritis terhadap modernitas dan produk-produk pemikiran Barat, serta keasyikan pada wilayah konseptual semata. Demikian pula dengan kaum Modernis Klasik. Sama seperti mereka. Muslim Progresif juga berbagi persoalan yang sama: bagaimana menjawab tantangan modernitas sambil tetap setia pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Kedua gerakan ini juga percaya pada pentingnya ijtihad. Namun berbeda dari para Modernis Klasik itu. Muslim Progresif cenderung mengidentifikasi diri mereka ke dalam gerakan postmodernisme yang kritis terhadap modernitas. Bisa dibilang bahwa Muslim Progresif mencoba melanjutkan apa yang telah dirintis oleh kaum Modernis tersebut sembari pada saat yang sama berusaha memisahkan diri dari mereka Muslim Progresif tidak sepenuhnya percaya pada rasionalisme modern yang kaku. Itu sebabnya ketika sebagian kalangan Modernis Klasik menolak sinkretisme serta praktik-praktik tasawuf tertentu. Muslim Progresif justru mencoba mencari inspirasi dari elemen paling sederhana sekaligus paling mendasar dari praktik para sufi itu. Di antara delapan tren Islam kontemporer yang diajukan Saeed. Muslim Progresif tampaknya termasuk dalam kelompok Ijtihadi Progresif. Saeed sendiri mengutip tulisan Safi saat mendefinisikan tren terakhir ini. 39 Tetapi patut juga diperhatikan bahwa tidak semua tokoh yang oleh Saeed dimasukkan ke dalam kelompok Ijtihadi Progresif termasuk ke dalam kelompok Muslim Progresif menurut Safi. Contohnya adalah Fazlurrahman yang oleh Safi dianggap lebih tepat dimasukkan ke dalam kelompok Modernis. 40 Fakta lain yang menarik adalah ketika Safi memutuskan untuk keluar dari Progressive Muslim Union Nortb America (PMU-NA) Ae sebuah organisasi yang deklarasinya tentang 12 prinsip Muslim Progresif dianggap oleh Saeed sebagai representasi dari kelompok Ijtihadi Progresif. 41 Itu menunjukkan betapa, sebagai sebuah tren dan gerakan, kelompok Ijtihadi Progresif ditandai oleh beragam kecenderungan yang boleh jadi bertentangan satu sama lain. PENUTUP Abdullah Saeed. Trends in Contemporary Islam, 402 Omid Safi. Modernism: Islamic Modernism, 6098 Safi kemudian mengisyaratkan bahwa keputusannya untuk keluar dari PMU didorong oleh hasrat untuk menjunjung tinggi mandat dari Al-QurAoan agar kita semua menegakkan keadilan di hadapan Tuhan, terutama terhadap diri sendiri dan komunitas kita sendiri. Lihat Omid Safi. Challenges and Opportunities, 78. ISTIGHNA. Vol. No02. Juli 2025 P-ISSN 1979-2824 E-ISSN 2655-8459 Homepage: https://ejournal. id/index. php/istighna Muhammad Mujib Dari Tradisi Ke Transformasi: Kontribusi Pemikiran Omid Safi Dalam Pembaruan Epistemologi Fiqh Jika hendak dirumuskan secara sangat sederhana, pandangan Safi tentang Muslim Progresif bertumpu kepada konsep keadilan yang diberlakukan secara Konsep itu menjelaskan hampir semua metode dan agendanya. Karena seorang muslim mesti adil, maka ia harus melakukan kritik-ganda kepada apa pun yang tidak adil serta mengambil kebenaran dan kebijaksanaan dari sumber mana Karena ia adil, maka ia pun harus siap menjadi pluralis, memperjuangkan kesetaraan gender, tidak apologis, humanis, menganggap visi dan aktivisme sebagai dua hal yang sama-sama penting, dan seterusnya. Secara konseptual, itu tampak menjanjikan. Tetapi Safi belum terlalu dalam menyentuh isu-isu minor yang konkret. Padahal boleh jadi pada tingkat praktis itulah perdebatan yang sesungguhnya dimulai. Upaya membandingkan Muslim Progresif dengan kelompok-kelompok dan tren-tren Islam kontemporer lainnya memang banyak membantu menegaskan distingsi antara masing-masing tren tersebut. Namun pada akhirnya, tetap saja muncul pertanyaan: siapakah sesungguhnya muslim yang progresif itu? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan kepada label-label lain yang dilekatkan kepada Islam atau Muslim, seperti liberal, puritan, modernis, dan lain sebagainya. Mengutip Adis Dudareja, label-label itu sebetulnya adalah upaya untuk menggambarkan cara seseorang atau sebuah kelompok untuk menjadi muslim . he way of being a musli. Karena itu, setiap label tidak bisa dianggap sepenuhnya homogen atau terpisah dari label-label yang lain. Muslim Progresif dalam konsepsi Safi tampaknya tidak perlu diberlakukan sebagai sebuah kategori yang rigid, melainkan sebagai sebuah Aualat-bantu heuristikAy . euristic devic. untuk mendefinisikan dan menggambarkan "salah satu cara untuk menjadi muslim" di masa kontemporer ini. REFERENSI