Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer PARIWISATA HALAL DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT : STUDI OBJEK WISATA BUKIT LAWANG, KABUPATEN LANGKAT Muhammad Raja Malam Bangun 1. Hendra 2 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pariwisata halal dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat di objek wisata Bukit Lawang. Kabupaten Langkat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bukit Lawang memiliki potensi besar sebagai destinasi pariwisata halal berbasis alam dengan daya tarik utama berupa keindahan hutan tropis dan keberadaan Keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas pariwisata seperti pemandu wisata, pengelola penginapan, dan pelaku usaha mikro telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Namun, implementasi konsep pariwisata halal masih belum optimal karena keterbatasan pemahaman masyarakat, minimnya fasilitas pendukung, serta kurangnya dukungan kebijakan yang terintegrasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, menyediakan infrastruktur yang memadai, serta memperkuat literasi Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konsep pariwisata halal dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis lokal pada destinasi ekowisata, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Pariwisata Halal. Pemberdayaan Ekonomi. Masyarakat Lokal. Bukit Lawang. Ekowisata Abstract This study aims to analyze the role of halal tourism in empowering the local economy at the Bukit Lawang tourist destination. Langkat Regency. The method used is a qualitative approach with a descriptive research type, employing data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. The results show that Bukit Lawang has significant potential as a nature-based halal tourism destination, with its main attractions being the beauty of tropical forests and the presence of Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai, muhammadraja1047@gmail. Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai, hendra@insan. Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer Community involvement in various tourism activities, such as tour guides, accommodation managers, and micro-business actors, has had a positive impact on increasing income and improving welfare. However, the implementation of halal tourism concepts is still not optimal due to limited public understanding, inadequate supporting facilities, and a lack of integrated policy support. Therefore, collaborative efforts between the government, business actors, and the community are needed to enhance human resource capacity, provide adequate infrastructure, and strengthen halal literacy. The novelty of this study lies in the integration of halal tourism concepts with local-based community economic empowerment in an ecotourism destination, which is expected to contribute to sustainable tourism development oriented toward community welfare. Keywords: Halal Tourism. Economic Empowerment. Local Community. Bukit Lawang. Ecotourism PENDAHULUAN Pariwisata halal merupakan salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan dalam industri pariwisata global, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat Muslim terhadap pentingnya layanan yang sesuai dengan prinsip syariah. Konsep pariwisata halal tidak hanya terbatas pada penyediaan makanan halal, tetapi juga mencakup aspek pelayanan, fasilitas ibadah, hingga lingkungan yang mendukung nilai-nilai Islam. Di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, pengembangan pariwisata halal menjadi peluang strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di daerah yang memiliki potensi wisata alam dan budaya yang kuat. Dalam konteks ini, integrasi antara potensi wisata dengan prinsip halal diharapkan mampu menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang inklusif bagi masyarakat lokal. Kabupaten Langkat, khususnya kawasan Bukit Lawang, merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata halal berbasis alam. Bukit Lawang dikenal dengan keindahan hutan tropisnya serta keberadaan satwa langka seperti orangutan yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Selain itu, kawasan ini juga menawarkan pengalaman wisata berbasis ekowisata yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan alam. Namun demikian, pengelolaan pariwisata di Bukit Lawang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam mengintegrasikan konsep halal secara menyeluruh dalam layanan dan fasilitas yang tersedia. Hal ini menjadi penting mengingat meningkatnya permintaan wisatawan terhadap destinasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang mereka anut. Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan aspek penting dalam pengembangan pariwisata halal, karena keberhasilan suatu destinasi tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat lokal dapat merasakan manfaat ekonomi yang dihasilkan. Dalam konteks Bukit Lawang, masyarakat memiliki peran strategis sebagai pelaku utama dalam kegiatan pariwisata, baik sebagai penyedia jasa, pengelola homestay, pemandu wisata, maupun pelaku usaha mikro. Dengan adanya pengembangan pariwisata Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer halal, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan mereka sehingga mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim. Selain itu, pemberdayaan ekonomi juga dapat mendorong kemandirian masyarakat serta mengurangi ketergantungan pada sektor ekonomi lain yang kurang stabil. Namun demikian, implementasi pariwisata halal di tingkat lokal tidak selalu berjalan optimal tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat itu sendiri. Kurangnya pemahaman mengenai konsep pariwisata halal serta keterbatasan sumber daya manusia seringkali menjadi hambatan dalam pengembangannya. Di sisi lain, belum adanya standar yang jelas dan terintegrasi dalam pengelolaan destinasi halal juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif yang melibatkan berbagai stakeholder untuk menciptakan ekosistem pariwisata halal yang berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata halal di Bukit Lawang juga memiliki potensi untuk meningkatkan citra daerah sebagai destinasi wisata yang ramah Muslim, sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan dari berbagai negara. Hal ini tentunya akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan daerah serta membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Selain itu, dengan adanya konsep halal, diharapkan dapat tercipta lingkungan wisata yang lebih bersih, aman, dan nyaman bagi semua pengunjung. Keberadaan fasilitas seperti tempat ibadah yang memadai, makanan halal yang terjamin, serta layanan yang sesuai dengan nilainilai Islam akan menjadi nilai tambah yang signifikan dalam meningkatkan daya saing destinasi wisata ini di tingkat nasional maupun internasional. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk mengkaji bagaimana pariwisata halal dapat berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat di kawasan Bukit Lawang. Kabupaten Langkat. Fokus penelitian ini tidak hanya pada potensi yang dimiliki, tetapi juga pada tantangan dan strategi yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pengembangan pariwisata halal. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta menjadi referensi bagi pihak-pihak terkait dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis syariah. KAJIAN TEORI Pariwisata Halal Pariwisata halal merupakan konsep pengembangan sektor pariwisata yang mengakomodasi kebutuhan wisatawan Muslim dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip syariah dalam penyediaan produk dan layanan wisata. Konsep ini tidak hanya terbatas pada wisata religi, tetapi mencakup seluruh aktivitas wisata yang menyediakan fasilitas dan layanan sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim, seperti makanan halal, tempat ibadah, serta lingkungan yang mendukung nilai-nilai Islam (Battour & Ismail, 2. Selain itu, pariwisata halal juga bersifat inklusif karena dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa memandang agama (CrescentRating, 2. Dalam pengembangannya, pariwisata halal memiliki beberapa indikator utama, antara lain: ketersediaan produk halal, fasilitas ibadah yang memadai, pelayanan yang sesuai dengan prinsip syariah, keamanan dan kenyamanan lingkungan, serta pengelolaan destinasi yang memperhatikan nilai etika Islam (Rahman et al. , 2. Indikator-indikator tersebut menjadi standar dalam Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer meningkatkan kualitas destinasi wisata halal sekaligus memperkuat daya tarik wisata di pasar global. Secara ekonomi, pariwisata halal menjadi salah satu sektor yang berkembang pesat dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Pengembangan pariwisata halal mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, memperluas peluang usaha, serta mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti kuliner, transportasi, dan akomodasi (Satriana & Faridah, 2. Dalam konteks destinasi seperti Bukit Lawang di Kabupaten Langkat, integrasi konsep pariwisata halal dapat menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing wisata alam sekaligus menarik segmen wisatawan Muslim domestik maupun Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan proses yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi yang dimiliki. Pemberdayaan tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas, akses terhadap sumber daya, serta partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan ekonomi (Ife & Tesoriero, 2. Dalam sektor pariwisata, pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi aspek penting karena masyarakat lokal merupakan bagian integral dari pengembangan destinasi wisata. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata, seperti usaha kuliner, homestay, jasa pemandu wisata, dan kerajinan lokal, dapat meningkatkan pendapatan serta membuka lapangan kerja baru (Suharto, 2. Hal ini sejalan dengan teori multiplier effect, di mana aktivitas pariwisata memberikan dampak berantai terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Indikator pemberdayaan ekonomi masyarakat meliputi peningkatan pendapatan, terbukanya kesempatan kerja, peningkatan keterampilan, berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata (Nasution et al. , 2. Dengan adanya pemberdayaan yang optimal, masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi subjek yang aktif dalam mengelola dan mengembangkan potensi wisata. Dalam konteks Bukit Lawang, pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas pariwisata, seperti penyedia jasa wisata, pedagang, dan pengelola penginapan. Pengembangan pariwisata yang melibatkan masyarakat secara aktif akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan serta menciptakan pembangunan yang berkelanjutan (Hidayat & Arifin, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk memahami secara mendalam fenomena pariwisata halal dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di objek wisata Bukit Lawang. Kabupaten Langkat. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan kondisi nyata di lapangan secara komprehensif, khususnya terkait peran masyarakat dalam pengelolaan pariwisata serta implementasi prinsip-prinsip halal. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di lokasi penelitian. Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer wawancara mendalam dengan informan kunci seperti pengelola wisata, pelaku usaha lokal, dan masyarakat sekitar, serta dokumentasi berupa catatan lapangan dan data pendukung lainnya. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu berdasarkan pertimbangan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam aktivitas pariwisata di kawasan tersebut. Selanjutnya, teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi akan diseleksi dan disederhanakan untuk memfokuskan pada aspek yang relevan dengan tujuan penelitian. Kemudian, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif agar mudah dipahami dan dianalisis secara mendalam. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu dengan membandingkan informasi dari berbagai informan serta menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi serta mampu memberikan gambaran yang akurat mengenai peran pariwisata halal dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat di Bukit Lawang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata Bukit Lawang di Kabupaten Langkat memiliki potensi yang besar dalam pengembangan pariwisata halal berbasis alam. Keindahan hutan tropis, keberadaan orangutan, serta aktivitas wisata seperti trekking dan river tubing menjadi daya tarik utama bagi Selain itu, suasana alam yang masih asri dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan memberikan pengalaman spiritual tersendiri bagi wisatawan Muslim. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya diintegrasikan dengan konsep pariwisata halal secara komprehensif. Beberapa fasilitas dasar seperti tempat ibadah sudah tersedia, tetapi masih terbatas dalam hal kualitas dan Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Bukit Lawang memiliki daya tarik wisata yang kuat, masih diperlukan upaya lebih lanjut dalam mengembangkan fasilitas dan layanan yang sesuai dengan prinsip halal agar mampu menarik lebih banyak wisatawan Muslim. Selanjutnya, penelitian ini menemukan bahwa masyarakat lokal memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendukung aktivitas pariwisata di Bukit Lawang. Masyarakat terlibat dalam berbagai sektor seperti penyedia jasa pemandu wisata, pengelola penginapan, pedagang makanan, hingga penyedia transportasi lokal. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pariwisata telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat sekitar. Dalam konteks pariwisata halal, sebagian pelaku usaha telah mulai menerapkan prinsip halal, seperti menyediakan makanan yang terjamin kehalalannya dan menjaga kebersihan lingkungan usaha. Namun, pemahaman masyarakat terhadap konsep pariwisata halal secara menyeluruh masih tergolong terbatas, sehingga implementasinya belum maksimal dan masih bersifat parsial. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pariwisata di Bukit Lawang telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Banyak Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian kini beralih atau menambah penghasilan melalui sektor pariwisata. Usaha mikro seperti warung makan, penjualan cendera mata, dan jasa penginapan mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya jumlah wisatawan. Selain itu, adanya interaksi dengan wisatawan asing juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan, seperti kemampuan berbahasa asing dan pelayanan wisata. Namun demikian, peningkatan ekonomi ini belum merata, karena masih terdapat kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terlibat dalam aktivitas pariwisata akibat keterbatasan modal dan keterampilan. Di sisi lain, penelitian ini menemukan adanya beberapa kendala dalam pengembangan pariwisata halal di Bukit Lawang. Salah satu kendala utama adalah kurangnya sosialisasi dan edukasi mengenai konsep pariwisata halal kepada masyarakat dan pelaku usaha. Selain itu, belum adanya standar operasional yang jelas terkait penerapan prinsip halal dalam sektor pariwisata juga menjadi hambatan dalam implementasinya. Infrastruktur pendukung seperti fasilitas ibadah yang memadai, sertifikasi halal untuk produk makanan, serta penginapan yang sesuai dengan prinsip syariah masih perlu ditingkatkan. Keterbatasan dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk pelatihan dan pendampingan juga turut mempengaruhi lambatnya pengembangan pariwisata halal di kawasan ini. Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha masih perlu diperkuat untuk mendukung pengembangan pariwisata halal yang berkelanjutan. Beberapa inisiatif telah dilakukan, seperti pelatihan bagi pemandu wisata dan pengembangan usaha kecil, namun belum terfokus secara khusus pada konsep Padahal, dengan adanya sinergi yang baik antar stakeholder, pengembangan pariwisata halal dapat berjalan lebih efektif dan terarah. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyusun kebijakan, menyediakan fasilitas, serta memberikan pendampingan kepada masyarakat. Sementara itu, masyarakat sebagai pelaku utama diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan dan kesadaran akan pentingnya penerapan prinsip halal dalam setiap aktivitas pariwisata. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata halal di Bukit Lawang memiliki prospek yang sangat baik dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, namun masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi secara bersama-sama. Potensi yang dimiliki kawasan ini dapat menjadi kekuatan utama dalam menarik wisatawan Muslim jika didukung dengan fasilitas dan layanan yang sesuai dengan prinsip halal. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mengoptimalkan pengembangan pariwisata halal, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan infrastruktur, hingga penguatan kebijakan yang mendukung. Dengan demikian, diharapkan pariwisata halal tidak hanya menjadi tren, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal Pembahsan Penelitian Pembahasan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata halal di Bukit Lawang memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan ekonomi berbasis masyarakat. Potensi wisata alam yang dimiliki kawasan ini menjadi modal utama dalam menarik wisatawan, namun integrasi Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer nilai-nilai halal menjadi faktor pembeda yang dapat meningkatkan daya saing Dalam perspektif ekonomi Islam, pariwisata halal tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada keberkahan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan wisata yang memperhatikan aspek halal seperti kejelasan sumber makanan, fasilitas ibadah, dan etika pelayanan menjadi sangat Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian pelaku usaha telah menerapkan prinsip halal, namun implementasinya masih bersifat Hal ini mengindikasikan perlunya pemahaman yang lebih mendalam agar konsep halal tidak hanya dipahami secara simbolik, tetapi juga substantif. Lebih lanjut, pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pariwisata halal di Bukit Lawang menunjukkan adanya perubahan struktur ekonomi lokal yang cukup signifikan. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor tradisional seperti pertanian mulai beralih ke sektor jasa pariwisata yang dinilai lebih Perubahan ini sejalan dengan teori pemberdayaan yang menekankan pada peningkatan kapasitas individu dan kelompok dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang ada. Dalam konteks ini, pariwisata halal dapat menjadi instrumen strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua lapisan masyarakat mampu mengakses peluang tersebut secara merata. Keterbatasan modal, keterampilan, dan informasi menjadi faktor penghambat yang menyebabkan terjadinya ketimpangan dalam distribusi manfaat ekonomi. Selain itu, rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap konsep pariwisata halal menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian. Banyak pelaku usaha yang menganggap bahwa pariwisata halal hanya berkaitan dengan makanan halal, padahal konsep ini mencakup aspek yang lebih luas, termasuk pelayanan, manajemen, dan lingkungan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal pariwisata halal dengan praktik di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat agar mereka dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip halal secara menyeluruh. Peran pemerintah dan lembaga terkait sangat penting dalam memberikan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata. Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur dan dukungan kelembagaan juga menjadi tantangan dalam pengembangan pariwisata halal di Bukit Lawang. Fasilitas seperti tempat ibadah yang representatif, ketersediaan produk bersertifikat halal, serta standar pelayanan yang sesuai dengan prinsip syariah masih perlu ditingkatkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata halal tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi memerlukan pendekatan sistemik yang melibatkan berbagai pihak. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menciptakan regulasi yang mendukung serta menyediakan fasilitas yang Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat juga menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pariwisata halal yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa pariwisata halal memiliki potensi besar dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, namun implementasinya memerlukan strategi yang komprehensif dan Diperlukan sinergi antara peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, serta penyediaan infrastruktur yang memadai agar pengembangan pariwisata halal dapat berjalan optimal. Selain itu, penting juga Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026 Jurnal El Rayyan : Jurnal Perbankan Syariah Volume 5. Nomor 1. April 2026, 1 - 12 E-ISSN: 2829-2642 https://jurnal. id/index. php/jer untuk memastikan bahwa nilai-nilai halal tidak hanya dijadikan sebagai label, tetapi benar-benar diinternalisasikan dalam setiap aspek pengelolaan pariwisata. Dengan demikian, pariwisata halal tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga sebagai sarana untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata halal di Bukit Lawang. Kabupaten Langkat, memiliki potensi yang signifikan dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Potensi wisata alam yang kuat, didukung dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam berbagai sektor pariwisata, menjadi faktor utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, implementasi konsep pariwisata halal masih belum optimal karena keterbatasan pemahaman, infrastruktur, serta dukungan kelembagaan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang terintegrasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat penerapan prinsip halal secara menyeluruh. Upaya ini meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan fasilitas yang memadai, serta penyusunan regulasi yang mendukung pengembangan pariwisata halal yang berkelanjutan dan inklusif. Adapun novelty . dalam penelitian ini terletak pada pengintegrasian konsep pariwisata halal dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis lokal pada destinasi ekowisata seperti Bukit Lawang. Penelitian ini tidak hanya menyoroti aspek potensi wisata halal, tetapi juga mengkaji secara mendalam bagaimana peran masyarakat sebagai aktor utama dalam mengelola dan memanfaatkan peluang ekonomi dari sektor pariwisata tersebut. Selain itu, penelitian ini menawarkan perspektif bahwa pengembangan pariwisata halal tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi harus disertai dengan peningkatan literasi halal dan penguatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam pengembangan kajian pariwisata halal, khususnya dalam konteks pemberdayaan ekonomi masyarakat di kawasan wisata berbasis alam. SARAN