Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Dampak Fatherless Terhadap Perkembangan Emosional Remaja Fiza Fatmila. Ismiati. Syaiful Indra. 1,2,. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh . 210402066@student. ar-raniry. id, . ismiati@arraniry. indra@ar-raniry. Abstrak. Fatherless menjadi suatu fenomena yang sangat sering ditemukan pada kalangan anak-anak remaja. Fenomena fatherless dapat disebabkan oleh perceraian dan kematian. Kondisi ini dapat mengganggu dan akan menjadikan suatu hambatan dalam proses perkembangan emosional pada remaja. Keadaan ini juga bisa membuat remaja kesulitan dalam mengontrol emosi dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui dampak fatherless terhadap perkembangan emosional remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adapun subjek penelitian ini adalah remaja pada usia 12-15 tahun yang mengalami fatherless disebabkan oleh perceraian dan kematian. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kondisi fatherless sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja. Adapun dapat dilihat dari ketika ia kesulitan dalam mengontrol emosi, perasaan sedih, iri, sebagian ada yang menunjukkan perasaan lebih mampu dalam mengelola emosinya karena adanya dukungan dari keluarga seperti ibu. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat dan menjadikan rujukan yang dapat berkontribusi secara ilmiah dan praktis baik bagi orang tua, pendidik, konselor maupun pembuat kebijakan untuk mendukung remaja yang mengalami fatherless dalam kesejahteraan emosi dan sosial yang sehat. Kata kunci: Fatherless. Perkembangan Emosional Abstract. Fatherlessness is a phenomenon that is very common among adolescents. Fatherlessness can be caused by divorce and death. This condition can be disruptive and can hinder the emotional development of adolescents. It can also make it difficult for adolescents to control their emotions and form healthy social relationships. The purpose of this study is to determine the impact of fatherlessness on the emotional development of adolescents. The research method used is a qualitative approach using a qualitative descriptive method. The subjects of this study are adolescents aged 12-15 years who are fatherless due to divorce and death. The results of this study show that fatherlessness greatly affects the emotional development of adolescents. This can be seen when they have difficulty controlling their emotions, feel sad or jealous, while some show that they are better able to manage their emotions because of support from family members such as their mother. It is hoped that this research can provide benefits and serve as a reference that can contribute scientifically and practically to parents, educators, counselors, and policymakers in supporting adolescents experiencing fatherlessness in achieving healthy emotional and social well-being. Keywords: Fatherless. Emotional Development Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 PENDAHULUAN Setiap individu akan mengalami masa-masa pertumbuhan dan perkembangan pada berbagai dimensi. Apa bila remaja di berikan stimulus edukatif secara intensif dari lingkungannya, maka ia akan mampu menjalani tugas perkembangan dengan baik . Perkembangan remaja dilihat melalui interaksi dengan lingkungan. Salah satu lingkungan yang berperan adalah orang tua. Menurut Golding Meadow yang dikutip dari Wisnu Martini, menyatakan bahwa pada masa remaja lingkungan akan sangat mempengaruhi dalam berbagai hal, antara lain akan berpengaruh terhadap bagaimana seorang seseorang berkembang dan belajar dari lingkungan. Setiap orang tidak berkembang secara otomatis, namun dipengaruhi oleh cara lingkungan memperlakukan mereka. Ketika pada masa remaja mengalami hambatan ataupun problem dalam perkembangan, ini akan membuat perkembang tidak optimal ketika menghadapi masa-masa selanjutnya. 2 Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa dan merupakan fase penting dalam perkembangan individu. Berkaitan dengan masa ini, remaja mengalami perkembangan diri baik secara psikis maupun fisik. Menurut Seiferr dan Hoffnung dikutip dari Fauzian, perkembangan adalah perubahan jangka panjang dalam pertumbuhan, perasaan, pola piker, hubungan sosial, dan keterampilan motoric seseorang. 4 Adapun menurut Hathersall yang dikutip dari Noorhapizah, emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. 5 Jadi, perkembangan emosional adalah proses belajar individu dalam menyesuaikan diri untuk memahami keadaan serta perasaan ketika berinteraksi dengan orang-orang di lingkungannya yang diperoleh dengan cara mendenagr, mengamati dan meniru hal-hal yang dilihat. Dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), menyatakan bahwa masalah 1 Heleni Filtra. AuPerkembaangan Emosional Anak Usia Dini 5-6 Tahun Ditinjau Dari Ibu Yang BekerjaAy. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 1, no. 1, 2017, hal 33-34. 2 Wisnu Martani. AuMetode Stimulasi dan Perkembangan Emosional Anak Usia DiniAy. Jurnal Psikologi. Vol. 1, 2012, hal 113-114. 3 Ondang Permata Sari dan Eva Imania Eliasa. AuPerkembangan Kecerdasan Emosi Anak Remaja Usia 12-15 Tahun Mempengaruhhi Gaya Belajar Siswa: Studi LiteraturAy. Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. No. 3, hal 46090. 4Rinda Fauzian. AuPengantar Psikologi PerkembanganAy, (Sukabumi: CV Jejak, 2. , hal 38. 5 Noorhapizah dkk. AuTeori Perkembangan Peserta DidikAy, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2. , hal 96-97. 6 Nur Asiah Lubis. Fitri Nur Afni Siregar dan Annisa Zaini Rahma. AuOptimalisasi Perkembangan Emosional Anak Usia DiniAy. Journal on Education. Vol. No. 01, 2023, hal 4802. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 perkembangan emosional didefinisikan sebagai kesulitan atau ketidakmampuan seseorang dalam mengontrol perilaku atau emosi yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 7 Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa terjadinya kendala atau hambatan pada perkembangan emosional adalah salah satunya dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis seseorang serta hubungannya dengan lingkungan sosial. Kondisi ini memperlihatkan pada remaja yang menunjukkan adanya sikap atau perilaku seperti mudah marah, mengalami kecemasan, menutup diri, dan kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa perkembangan emosional bukan hanya berhubungan dari segi aspek individu saja, akan tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat mereka tumbuh serta berinteraksi. Menurut Slameto dikutip dari Maulina, perkembangan remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang dapat dilihat dari beberapa faktor, diantaranya metode mendidik yang diterapkan oleh orang tua, hubungan yang terjalin antara anggota keluarga, suasana di rumah, perhatian yang diberikan oleh orang tua, dan kondisi ekonomi keluarga. Pendekatan orang tua yang bertanggung jawab terhadap tugas dan memberikan perhatian, seperti mengawasi dan mendampingi mereka. Selain itu memberikan dukungan dan semangat suatu hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan. Keluarga perlu memberikan dukungan dengan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman, sehingga perkembangan pada masa remaja memiliki kesehatan psikologis yang baik dan sehat. Dapat disimpulkan bahwa keluarga, terutama pada pola asuh orang tua dan interaksi dengan anak, khususnya remaja adalah salah satu yang memiliki kaitan besar dalam mendukung proses perkembangan emosional remaja yang sehat dan stabil. Ketika lingkungan keluarga tidak dapat memberikan perhatian, kasih sayang, dukungan, serta keharmonisan dalam sebuah keluarga, maka hal ini akan menimbulkan suatu permasalah dalam proses perkembangan emosional pada masa remaja. Seperti ketika ia tumbuh di dalam sebuah keluarga yang menerapkan pola asuh yang keras, tidak adanya kasih sayang, atau lebih sering melihat pertengkaran orang tuanya cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola emosi. Penelitian yang dilakukan oleh Nafisah, menegaskan 7 Badan Pusat Statistik. AuCerita Data Statistik Untuk Indonesia. Potret Masalah Perilaku dan Emosional di Indonesia: Siapa yang Paling Rentan?Ay. Vol. No. 6, 2025, hal 10. 8 Safira Intan Maulina, dan Muhammad Abdul Ghofar. AuPengaruh Lingkungan Keluarga. Lingkungan Sekolah, dan Lingkungan Masyarakat Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Peserta Didik SMA Negeri 17 SurabayaAy. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan. Vol. No. 1, 2023, hal 94. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 bahwa ketegangan dan konflik dalam sebuah keluarga memengaruhi kebangkitan emosi seseorang, sehingga memicu berbagai respon fisiologis dan psikologis. 9 Oleh sebab itu, peran orang tua perlu diperhatiakan, karena dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang dapat menjadikan kunci suatu keberhasilan pada proses perkembangan emosi pada anak remaja. Kondisi ini sering dialami oleh remaja fatherless. Fatherless dapat diartikan sebagai kekosongan figur dan keteladanan serta pengaruh ayah kepada anaknya yang disebabkan kurangnya komunikasi yang terjadi diantara Fatherless juga dapat sebabkan oleh perceraian, kematian dan banyak hal 10 Penelitian yang dilakukan oleh Dewi. Sukmawati, dan Mulyeni, fenomena fatherless salah satunya dipicu oleh perceraian dan kematian. Kehilangan figur ayah karena kematian cenderung memaknai peristiwa tersebut sebagai kehilangan permanen yang menimbulkan kesedihan dan kerinduan yang tidak tergantikan. remaja yang mengalami fatherless karena perceraian menghadapi perasaan yang lebih kompleks, seperti konflik batin, ambivalensi, dan luka emosional yang tidak selesai. 11 Dari kedua kondisi ini dapat memberikan dampak yang sangat signifikan pada perkembangan emosional remaja, yang dapat dilihat dari kestabilan emosi, memberikan rasa aman, serta kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Adapun penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini yaitu, penelitian yang dilakukan oleh Fitroh, ia lebih memfokuskan pada dampak fatherless terhadap prestasi belajar anak, yang lebih menekankan pada aspek kognitif dan pencapaian terhadap prestasi belajar di sekolah. Kesimpulannya ialah fatherless memiliki pengaruh besar terhadap psikologis anak, dimana dapat mengakibatkan anak menjadi sering murung, sulit untuk berkonsentrasi yang akhirnya prestasi belajarpun semakin menurun. 12 Sedangakan dalam penelitian ini lebih menitik beratkan pada dampak fatherless terhadap perkembangan emosional remaja. Fokus penelitiaan ini adalah pada aspek perkembangan emosional yang terlihat pada anak-anak remaja dengan kondisi fatherless. 9 Aisyah Durrotun Nafisah. Nur Aeni Muhlisa Dhafet, dan Hanifa Rachman. AuPerkembangan Psikologi Anak Usia Dini Pada Keluarga Broken HomeAy. Journal of Early Childhood Education Studies. Vol. No. 3, 2024, hal 181. 10 Yupi Anesti. Mirna Nur Alia Abdullah. AuFenomena Fatherless: Penyebab dan Konsekuensi Terhadap Anak dan KeluargaAy. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, vol. 2, no. 2, 2024, hal 202. 11 Mega Sylvia. Dewi Sukmawati, dan Sri Mulyeni. AuMakna Kehilangan Ayah bagi Mahasiswa Studi Kualitatif Perbedaan Fatherless Akibat Perceraian dan KematianAy. Jurnal Publikasi Ilmu Psikologi. Vol. No. 3, 2025, hal 395. 12 Siti Fadjryana Fitroh. AuDampak Fatherless Terhadap Prestasi Belajar AnakAy. Jurnal PGPAUD Trunojoyo. Vol. No. 2, 2014, hal 83-90. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dampak fatherless terhadap perkembangan emosional remaja. Diharapkan dari penelitian ini dapat menjadikan kontribusi ilmiah, serta pengalaman praktis baik bagi orang tua, pendidik, konselor maupun pembuat kebijakan upaya dalam mendukung remaja yang mengalami kondisi fatherless untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat secara emosional maupun sosial. Pentingnya melakukan penelitian ini, karena dilihat dari fenomena fatherless sendiri semakin banyak remaja yang tumbuh tanpa adanya sosok ayah, yang dapat menyebabkan terjadinya masalah pada emosionalnya seperti rasa tidak percaya diri, adanya kesulitan dalam mengontrol emosi serta ketiadaan sosok yang baik untuk dijadikan panutan dalam pengembangan identitas diri. Ketika situasi ini tidak diatasi dan pahami maka akan berpengaruh pada tingkah laku sosial dan kesehatan mental remaja di masa METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono, metode penelitian deskriptif adalah sebuah penelitian yang bertujuan untuk memberikan atau menjabarkan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual. Subjek penelitian ini adalah enam remaja dengan usia 12-15 tahun, terdiri dari dua perempuan dan empat laki-laki, yang tinggal di Desa Seunelop. Kecamatan Manggeng. Kabupaten Aceh Barat Daya, yang mengalami kondisi fatherless. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel didasarkan pada karakteristik sebagai berikut:14 . remaja yang mengalami fatherless karena perceraian . inggal dengan ibu saj. dan kematian, . berusia 12-15 tahun, . bersedia menjadi partisipan dengan adanya izin orang tua atau wali. Data yang dapat diperoleh melalui observasi dan wawancara semi-terstrutur. 13 Maryam B. Gainau. AuPengantar Metode PenelitianAy, (Yogyakarta: PT Kanisius, 2. , hal 28. 14 Fitri Rezeki dkk. AuMetodelogi PenelitianAy, (Jawa Barat: Alung Cipta, 2. , hal 128. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini mengkaji mengenai dampak fatherless terhadap perkembangan emosional remaja yang berfokus pada kondisi fatherless disebabkan oleh perceraian maupun kematian dan dapat dipengaruhi dari berbagai segi aspek emosional remaja seperti cara mengeskpresikan emosi, mengontrol emosi, menyalurkan emosi, perkembangan emosi, serta dukungan emosionalnya dengan orang-orang sekitar. Pembahasan ini juga menghubungkan dengan temuan-temuan di lapangan dan teori-teori psikologi perkembangan serta dengan konsep kelekatan agar dapat memberikan wawasan yang lebih lengkap tentang peran sosok ayah dalam membangun kestabilan emosi pada remaja. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dengan partisipan yang berjumlah enam orang, dari usia 12-15 tahun di Desa Seunelop. Kecamatan Manggeng. Kabupaten Aceh Barat Daya. Remaja dengan kondisi fatherless disebabkan oleh perceraian dan kematian dapat memberikan suatu dampak yang nyata terhadap perkembangan emosionalnya. Adapun dari enam orang partisipan ini terdapat tiga remaja mengalami kehilangan ayah akibat kematian, sementara tiga remaja lainnya mengalami kondisi tersebut diakibatkan oleh perceraian orang tua. Remaja Fatherless Karena Kematian Ayah Seorang remaja yang kehilangan sosok ayah karena kematian, lebih cenderung menunjukkan emosi negatif seperti, perasaan iri, sedih, dan perasaan kehilangan yang mendalam serta kesulitan dalam mengendalikan dan mengekspresikan emosinya. Seperti yang dialami oleh FZ, ia mengatakan Ausaya iri melihat teman-teman saya sering dijemput oleh ayahnya ketika pulang sekolah, ketika ada undangan dari sekolah terkadang ibu tidak bisa hadir karena sibuk dengan perkerjaan, hal ini membuat saya merasa sedih, dan ketika ada masalah disekolah saya jarang cerita ke ibu, abang, kakak, saya lebih sering memendamnya sendiriAy. FR juga mengatakan Ausaya kalau ada masalah di sekolah tidak pernah cerita kesiapapun, saya takut orang lain tidak mengerti dengan perasaan saya, saya ingin cerita tetapi saya tahan karena lebih baik saya pendam takut tidak paham dan disepelekanAy. Kedua partisipan tersebut memperlihatkan sifat yang tertutup ketika mengalami masalah dan menarik diri dari lingkungan sosial serta menunjukkan perkembangan emosioanl yang tidak stabil, belum mampu dalam mengekspresikan Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 emosinya dengan baik. Berbeda dengan AS yang lebih mampu menunjukkan respon yang Ia juga mengungkapkan Auibu selalu menghibur saya ketika saya sedih, ibu juga selalu mengatakan saya harus kuat walaupun tidak ada ayah, kata-kata itu sering diucapkan ibu ketika saya sedihAy. Hal ini Ini menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga seperti ibu, dapat menjadikan suatu faktor kunci dalam membentuk sebuah ketahanan emosional anak setelah kehilangan sosok ayah. Remaja fatherless karena perceraian orang tua Dilihat pada remaja yang mengalami fatherless akibat perceraian dapat menunjukkan respon emosional yang sangat beragam seperti kecewa, marah dan iri melihat temantemannya yang masih mempunyai keluarga utuh. Seperti yang terjadi pada FD yang mengatakan Auketika saya mengingat ayah dan ibu berpisah, saya merasa kesal dan marah sendiri mengingat akan hal itu, saya iri dengan teman-teman yang lain memiliki keluarga yang utuhAy. Adapun disisilain. MD menunjukkan adanya perkembangan emosional yang positif, ia juga mengungkapkan Aubiasanya kalau saya sedih dan rindu pada sosok ayah, saya sering cerita sama ibu, dan ibu memberikan semangat dan pelukan supaya saya tenangAy. Dukungan emosional dari sosok ibu membuat ia mampu menyadari dalam mengungkapkan perasaan yang ia alami. Ini memperlihatkan bahwa dukungan emosional yang baik didapatkan dari ibu mampu membantu ia dalam mengekspresikan perasaannya dengan sehat. SF bahkan memperlihatkan perasaan bahagia setelah perceraian antar kedua orang tuanya. Ia mengungkapkan Ausaya senang liat ibu telah bercerai dengan ayah, dulu waktu masih sama-sama ayah sering marahi ibu, saya senang liat ibu yang sekarang lebih bahagia dan tidak ada yang memarahi ibu lagiAy. Keadaan ini menunjukkan adanya penyesuaian perkembangan emosional yang baik dalam keterampilannya yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan situasi baru. Pembahasan Berdasarkan data yang didapatkan terlihat bahwa kondisi fatherless disebabkan oleh perceraian dan kematian sangat berdampak pada perkembangan emosional pada remaja. Hal ini sejalan dengan pandangan Hurlock yang dikutip Pranoto dkk, mengatakan bahwa perkembangan emosional tidak jauh dari perkembangan sosial. Perkembangan emosi sangat besinggungan dengan perkembangan sosial karena lingkungan sosial dapat memengaruhi dan Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 membentuk perilaku emosi seseorang seperti lingkungan keluarga. 15 Oleh karena itu, keluarga menjadi salah satu faktor terbentuknya kestabilan emosi pada remaja. Terlihat pada remaja yang mengalami fatherless akan tetapi masih menerima dukungan emosional dari ibu, yaitu terlihat pada AS. MD, dan SF, yang menunjukkan kemampuan lebih baik dalam mengeskpresikan dan mengatur emosi mereka. Sedangkan FZ. FR, dan FD, kurangnya dukungan emosional dari keluarga cenderung lebih menarik diri serta menyimpan perasaannya ketika menghadapi suatu masalah dan kesulitan dalam mengontrol emosi. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya ketidakstabilan dalam perkembangan emosinya. Oleh karena itu, perkembangan emosi remaja dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga seperti ibu atau figur pengganti lainnya, yang dapat membentuk suatu kestabilan emosionalnya. Temuan ini juga sependapat dengan teori hierarki kebutuhan Maslow. Menurut Maslow yang dikutip dari Rahmi. Hizriyani, dan sopiah, yang menyatakan bahwa setiap manusia memiliki tingkat kebutuhan yang harus terpenuhi sehingga dapat terpuaskan pada setiap tingkatannya. Seperti yang dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. 16 Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan rasa aman dan kasih sayang merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pembentukan perkembangan emosional remaja. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan berpengaruh pada kestabilan emosinya seperti mengalami perasaan sedih, marah, cemas, iri dan kecewa. Ketika kebutuhan-kebutuhan ini terpenuhi dengan adanya dukungan dari keluarga seperti yang dialami oleh AS. MD, dan SF, maka ia lebih mampu dalam mencapai suatu kestabilan emosionalnya dan adanya kemampuan dalam beradaptasi dengan keadaan serta situasi Oleh karena itu, temuan dari penelitian ini mendukung pandangan Maslow bahwa kebutuhan emosional yang terpenuhi seperti rasa aman dan kasih sayang adalah suatu dasar yang sangat penting dalam perkembangan emosional remaja, terutama pada remaja yang mengalami kondisi fatherless. Adapun temuan ini diperkuat oleh teori kelekatan John Bowlby. Menurut Bowlby yang dikutip dari Mawaddah. Zahrah, dan Tohar, kelekatan atau attachment adalah ikatan 15 Yuli Kurniawati Sugiyo Pranoto dkk. AuDinamika Emosi Anak Usia Dini: Kajian Pemeblajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 . Ay, (Jawa Tengah: PT. Nasya Expanding Management, 2. , hal 168-169. 16 Azmia Aulia Rahmi. Rina Hizriyani, dan Cucu Sopiah. AuAnalisis Teori Hierarki of Need Abraham Maslow Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia DiniAy. Jurnal on Early Childhood. Vol. No. 3, 2022, hal 208. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 emosional yang terbentuk antara anak dan figur pengasuh, yang menyediakan dasar aman . ecure bas. bagi anak untuk mengenali dan membangun rasa percaya diri. Kelekatan yang aman . ecure attachmen. bisa membantu ia dalam membentuk kestabilan dan dukungan emosional dalam memberilan rasa aman serta kasih sayang. 17 Hal ini terlihat pada AS. MD, dan SF, yang memperlihatkan secure attachment. Sementara itu, kelekatan yang tidak aman . nsecure attachmen. dapat mengganggu dalam tahap perkembangan emosionalnya dalam membentuk identitas, kepercayaan diri, serta menimbulkan perasaan cemas, seperti yang dialami oleh FZ. FR, dan FD. Fatherless yang dialami remaja tanpa adanya sosok pengganti dalam memberikan dukungan emosional bisa menyebabkan keterikatan yang tidak aman, yang akan berdampak pada pengelolaan emosi dan pembentukan identitas. PENUTUP Simpulan Kondisi fatherless yang dialami oleh remaja dapat berdampak sangat besar pada perkembangan emosionalnya. Dan hal ini terlihat pada remaja di Desa Seunelop. Kecamatan Manggeng, kabupaten Aceh Barat Daya. Salah satu penyebab terjadinya Fatherless yaitu karena kematian dan perceraian. Kematian ayah menberikan dampak yang sangat signifikan pada remaja, terlihat pada remaja yang menunjukkan emosi negatif seperti perasaan sedih, iri, rasa kehilangan, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Adapun remaja yang mengalami fatherless akibat perceraian dapat menunjukkan berbagai macam respon emosional seperti perasaan marah, kecewa. Dan ada pula sebagian dari remaja tersebut menunjukkan emosi yang lebih positif karena adanya dukungan dari keluarga seperti ibu. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga dapat menentukan kestabilan emosinya. 17 Alfi Wirda Mawaddah. Helfi Zahrah, dan Ahmaddin Ahmad Tohar. AuOntologi Attachment dalam Dinamika Keluarga: Peran Orang Tua dalam Pembentukan Identitas Anak. Jurnal Pendidikan Tambusai. Vol. No. 3, 2024, hal DAFTAR PUSTAKA