Vol 3 No. 1 Desember 2026 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 144 - 153 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/4qwd3q18 PENGARUH PENGGUNAAN BAHASA ASING TERHADAP KOMUNIKASI GEN Z Ayu Azumi a. Dhea Amelia b*. Ra'abiatuladawiyah c . Salma Habina Pratiwi d . Yuni Zahara e a Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim. ayuazumi06@gmail. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Jalan Raya Dompak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau b Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim. dheaa7379@gmail. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Jalan Raya Dompak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau c Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim. pertiwiriby@gmail. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Jalan Raya Dompak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau d Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim. salmahabina@gmail. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Jalan Raya Dompak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau e Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim. zaharayunii888@gmail. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Jalan Raya Dompak Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau * Penulis Korespondensi: Dhea Amelia ABSTRACT This study aims to analyze the influence of foreign language use on Generation ZAos communication patterns in various interaction contexts, including education, social relationships, and digital media. Generation Z is widely exposed to globalization and technological advancement, making the use of foreign languages particularly English increasingly common in daily conversations. This phenomenon is not only related to linguistic ability but also affects social identity, communication styles, and interpersonal perceptions. This study uses a descriptive qualitative approach through in-depth interviews, observation, and documentation involving informants aged 17Ae25. The findings indicate that foreign language use influences Generation ZAos communication in three major aspects: . increased linguistic flexibility and creativity, . social relationship dynamics shaped by differences in language competence, and . the emergence of hybrid communication styles combining local and foreign languages. These findings highlight the transformation of communication prompted by linguistic globalization within the everyday lives of Generation Z. Keywords: communication. Generation Z. foreign language. linguistic globalization ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan bahasa asing terhadap pola komunikasi Generasi Z dalam berbagai konteks interaksi, baik di ranah pendidikan, pergaulan, maupun media digital. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang sangat terpapar globalisasi dan perkembangan teknologi, sehingga penggunaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris menjadi tren yang semakin umum dalam percakapan sehari-hari. Fenomena ini bukan hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga memengaruhi identitas sosial, gaya komunikasi, dan persepsi antarindividu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi pada informan berusia 17Ae 25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa asing memengaruhi komunikasi Generasi Z dalam tiga aspek utama: . peningkatan fleksibilitas dan kreativitas berbahasa, . perubahan dinamika hubungan sosial akibat perbedaan kompetensi bahasa, dan . terbentuknya gaya komunikasi hibrida yang memadukan bahasa lokal dan bahasa asing. Temuan ini menegaskan adanya transformasi komunikasi yang dipicu oleh globalisasi linguistik dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z. Kata Kunci: komunikasi. generasi Z. bahasa asing. globalisasi bahasa PENDAHULUAN Globalisasi telah membawa perubahan signifikan terhadap dinamika komunikasi di berbagai kelompok Salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah Generasi Z, yaitu individu yang Naskah Masuk 7 Desember 2025. Revisi 9 Desember 2025. Diterima 11 Desember 2025. Tersedia 15 Desember, 2025 Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 lahir antara tahun 1997 hingga 2012 dan tumbuh dalam era digital yang sangat terhubung dengan dunia Salah satu dampak paling nyata dari globalisasi adalah meningkatnya penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa asing kini tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas, gaya hidup, dan preferensi sosial. Kondisi ini membuat generasi muda semakin memposisikan kemampuan berbahasa asing sebagai bentuk kapital simbolik yang dapat meningkatkan penerimaan sosial dan memperluas pergaulan. Selain itu, kemampuan tersebut juga digunakan untuk menunjukkan orientasi mereka terhadap budaya global. Akibatnya, mereka tidak hanya menggunakan bahasa asing sebagai sarana penyampaian pesan, tetapi juga sebagai cara untuk menegaskan posisi sosial di ruang digital serta membentuk citra diri yang modern. Penguasaan bahasa asing juga dianggap sebagai bentuk kemampuan beradaptasi terhadap arus budaya global yang terus berubah. Dengan kata lain, bahasa asing diperlakukan sebagai bentuk modal sosial dan kultural yang dapat membuka akses menuju komunitas internasional, meningkatkan kepercayaan diri, serta menandai gaya komunikasi yang dianggap lebih relevan dengan tuntutan era global. Generasi Z merupakan kelompok yang memiliki karakteristik unik dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang sarat teknologi dan terhubung dengan jejaring global. Selain itu, mereka juga memiliki paparan informasi lintas negara sejak usia dini. Kondisi tersebut menyebabkan Generasi Z memiliki kecenderungan untuk menyerap gaya bahasa, gaya komunikasi, dan pola interaksi Hal ini termasuk penggunaan istilah-istilah asing dalam dialog sehari-hari. Fenomena ini tampak jelas dalam percakapan informal, komentar di media sosial, forum komunitas digital, bahkan dalam diskusi . Penggunaan bahasa asing dalam komunikasi Generasi Z dapat dipahami dari dua sisi. Di satu sisi, kemampuan berbahasa asing dianggap sebagai bentuk kompetensi global yang membuka peluang pendidikan dan karier. Di sisi lain, penggunaan bahasa asing secara berlebihan dapat menimbulkan perubahan preferensi berbahasa dan dampak sosial tertentu, seperti munculnya jarak komunikasi antara individu yang memiliki kompetensi bahasa berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana penggunaan bahasa asing memengaruhi komunikasi Generasi Z secara mendalam . Beberapa studi internasional juga menunjukkan bahwa Global English menjadi fenomena linguistik yang memengaruhi komunikasi generasi muda di seluruh dunia. Generasi muda di berbagai negara cenderung menyisipkan bahasa Inggris dalam percakapan lokal karena dianggap lebih ekspresif dan modern. Sementara itu, studi tentang remaja Korea menyimpulkan bahwa bahasa asing membentuk identitas digital baru yang berbeda dari identitas offline mereka . Pada konteks Indonesia, penggunaan bahasa Inggris oleh Generasi Z meningkat tajam seiring dengan maraknya media sosial, konten digital berbasis bahasa asing, dan tren gaya hidup global. Istilah seperti literally, random, no offense, valid, make sense, cringe, atau prefer kini telah menjadi bagian dari kosakata umum anak muda. Tidak jarang, bahasa asing digunakan sebagai alat untuk menunjukkan keakraban dengan budaya global. Di sisi lain, penggunaan bahasa asing dapat menimbulkan kecanggungan komunikasi, terutama dalam percakapan dengan individu yang tidak terbiasa atau tidak cukup memahami istilah asing tersebut. Berdasarkan perkembangan tersebut, pemahaman mengenai pengaruh penggunaan bahasa asing terhadap komunikasi Generasi Z menjadi penting untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh bahasa asing terhadap pola interaksi, pembentukan makna, persepsi hubungan sosial, dan identitas komunikasi Generasi Z. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis apakah penggunaan bahasa asing memperkaya atau justru menghambat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari . TINJAUAN PUSTAKA 1 Generasi Z dalam Konteks Globalisasi Bahasa Generasi Z merupakan kelompok masyarakat yang hidup sepenuhnya dalam era globalisasi dengan tingkat paparan teknologi yang sangat tinggi. Mereka tumbuh di tengah perkembangan pesat internet, media sosial, dan perangkat digital yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Kondisi ini membuat mereka memiliki karakteristik komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya, terutama dalam hal cara mereka memproses informasi, mengekspresikan diri, dan memilih bahasa untuk berinteraksi. Sarwila . menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya memengaruhi pola konsumsi informasi. Pengaruh Penggunaan Bahasa Asing Terhadap Komunikasi GEN Z (Ayu Azum. Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 tetapi juga turut membentuk nilai-nilai komunikasi, identitas sosial, serta preferensi linguistik generasi ini. Dalam konteks tersebut, penggunaan bahasa asing menjadi bagian alami dari cara mereka berkomunikasi. Paparan konten global dari berbagai platform digital seperti Instagram. TikTok. YouTube, dan Twitter mempercepat proses adopsi istilah asing dalam interaksi sehari-hari. Globalisasi budaya melalui media sosial telah menciptakan perubahan signifikan dalam pola komunikasi antarbudaya, di mana generasi muda semakin nyaman menggunakan kosakata asing sebagai bagian dari identitas digital mereka. Istilah-istilah bahasa Inggris yang awalnya hanya digunakan dalam konteks formal atau akademik kini menjadi bagian dari percakapan informal, ekspresi emosional, hingga gaya komunikasi populer yang digunakan dalam unggahan media sosial. Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa asing bukan lagi dianggap sebagai bahasa luar, melainkan sebagai elemen yang melekat pada komunikasi generasi digital . Perkembangan tersebut menegaskan bahwa Generasi Z tidak hanya berperan sebagai konsumen budaya global, tetapi juga menjadi aktor aktif dalam membentuk pola komunikasi baru. Mereka memodifikasi bahasa yang sudah ada, menciptakan gaya bahasa baru, dan menggabungkan unsur lokal dengan pengaruh global secara natural. Hal ini sejalan dengan temuan Ariyanto, et al. yang mengemukakan bahwa Generasi Z memiliki kecenderungan kuat untuk memadukan nilai-nilai budaya lokal dengan gaya komunikasi global, termasuk dalam penggunaan bahasa sebagai alat ekspresi sosial dan identitas kelompok. Dalam konteks ini, bahasa menjadi medium untuk memperlihatkan kepribadian, preferensi budaya, hingga keterlibatan mereka dalam komunitas digital tertentu. Secara keseluruhan, proses komunikasi Generasi Z dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi linguistik terhadap perkembangan globalisasi dan teknologi yang sangat cepat. Kemampuan mereka dalam menyerap berbagai elemen bahasa asing sekaligus mempertahankan bahasa lokal menciptakan bentuk komunikasi baru yang lebih fleksibel, dinamis, dan responsif terhadap perubahan zaman. Fenomena ini menegaskan bahwa penggunaan bahasa oleh Generasi Z bukan hanya sekadar tren, tetapi merupakan refleksi dari transformasi sosial yang lebih luas dalam era digital. 2 Penggunaan Bahasa Asing dalam Komunikasi Modern Penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris sebagai lingua franca global, semakin menguat dalam praktik komunikasi modern generasi muda. Dominasi ini tidak hanya terlihat pada konteks formal seperti pendidikan dan pekerjaan, tetapi telah meresap ke dalam percakapan sehari-hari, ruang digital, dan interaksi sosial informal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Sebayang et al. mengungkapkan bahwa penggunaan istilah bahasa asing saat ini tidak lagi dibatasi oleh fungsi akademik atau profesional, tetapi telah terinternalisasi sebagai unsur budaya digital yang membentuk pola komunikasi generasi modern. Dalam konteks ini, bahasa Inggris berfungsi sebagai simbol modernitas, kecepatan, dan keterhubungan global yang menjadi nilai penting dalam identitas linguistik Gen Z. Dari perspektif sosiolinguistik, fenomena meningkatnya penggunaan bahasa asing ini merupakan manifestasi dari perubahan ekologi bahasa yang dipengaruhi oleh globalisasi dan teknologi digital. Media digital menciptakan ruang komunikasi transnasional yang memungkinkan pengguna bahasa dari berbagai negara saling berinteraksi tanpa batas geografis. Nugraheni . menegaskan bahwa media sosial seperti TikTok. Instagram. X, dan YouTube memainkan peran sentral dalam menyebarkan kosakata baru, gaya bahasa, dan ekspresi budaya global. Proses ini menciptakan linguistic exposure yang intens, sehingga kosakata asing cepat masuk, diproses, dan diadaptasi oleh penutur muda. Situasi ini memperkuat pandangan bahwa bahasa asing kini tidak hanya dipelajari secara formal, melainkan diserap melalui pengalaman digital dan konsumsi budaya pop internasional secara berkelanjutan. Dari perspektif identitas, penggunaan bahasa asing berfungsi sebagai bentuk identity performance dan selfpresentation. Berdasarkan teori identitas linguistik Le Page & Tabouret-Keller . , penutur cenderung memilih kode bahasa yang mencerminkan kelompok sosial yang ingin mereka tunjukkan atau ikuti. Temuan Setiadi mengungkapkan bahwa generasi muda menggunakan bahasa Inggris untuk membangun citra sebagai individu yang kompeten, modern, dan berdaya saing global. Fenomena ini terlihat dalam penggunaan istilah asing pada diskusi akademik, presentasi, self-branding di media sosial, hingga percakapan profesional. Dengan demikian, bahasa asing tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai modal simbolik symbolic capital sebagaimana dijelaskan Bourdieu . , di mana kemampuan berbahasa asing memberikan prestise serta legitimasi sosial bagi penutur. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 144 - 153 Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 Lebih jauh, penggunaan bahasa asing dalam komunikasi modern membentuk pola pikir dan gaya ekspresi generasi muda. Akses yang luas terhadap budaya internasional membuat Gen Z terbiasa dengan gaya tutur yang ringkas, langsung, dan banyak memuat referensi budaya pop. Proses ini sejalan dengan konsep linguistic borrowing dan cultural hybridization, yaitu ketika unsur bahasa global bercampur dengan bahasa lokal dan menghasilkan bentuk komunikasi hibrida yang khas. Namun. Nugraheni . menegaskan bahwa tingginya intensitas penggunaan bahasa asing tidak hanya memperkaya ekspresi linguistik, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketergantungan bahasa. Pada kondisi tertentu, batas antara kreativitas berbahasa dan pengaburan norma bahasa Indonesia menjadi kabur, sehingga dikhawatirkan dapat melemahkan sensitivitas penutur terhadap kaidah bahasa baku. 3 Fenomena Alih Kode dan Campur Kode Fenomena alih kode code switching dan campur kode code mixing merupakan salah satu karakteristik yang menonjol dalam praktik berbahasa Generasi Z di era digital. Dalam kajian sosiolinguistik, alih kode dipahami sebagai perpindahan penggunaan bahasa dari satu kode ke kode lainnya dalam satu konteks komunikasi yang Sementara itu, campur kode merujuk pada penyisipan unsur-unsur bahasa tertentu baik berupa kata, frasa, morfem, maupun klausa ke dalam struktur bahasa utama. Perkembangan teknologi informasi serta tingginya paparan terhadap konten global membuat kedua fenomena tersebut muncul secara lebih intens dan menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas linguistik Gen Z. Secara fungsional, penggunaan alih kode dan campur kode pada Gen Z tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan komunikatif, tetapi juga terkait erat dengan dinamika sosial, konstruksi identitas, dan representasi Generasi ini tumbuh dalam lingkungan teknologi digital yang memungkinkan akses tanpa batas terhadap budaya global, khususnya melalui media sosial seperti Instagram. TikTok, dan YouTube. Akses tersebut menghadirkan berbagai istilah, ekspresi, serta gaya bahasa asing yang kemudian terinternalisasi dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Ungkapan seperti cringe, healing, lowkey, prefer, literally, atau vibes dipilih bukan hanya karena alasan praktis, tetapi karena dinilai menyampaikan makna semantis dan pragmatis yang lebih tepat dibanding padanan bahasa Indonesia. Rahmania dkk. menegaskan bahwa praktik campur kode di kalangan Gen Z merupakan strategi linguistik untuk menegaskan identitas sosial dan kesetaraan kelompok. Penggunaan unsur bahasa asing menciptakan Auruang kebahasaan bersamaAy shared linguistic space yang menandai keanggotaan dalam suatu komunitas sosial tertentu. Dalam perspektif sosiolinguistik, fenomena ini termasuk dalam fungsi Solidarity marker merujuk pada penggunaan bahasa sebagai penanda solidaritas dan kedekatan sosial antara penutur dalam sebuah interaksi. Pola ini tampak dalam berbagai komunitas anak muda seperti komunitas gim, fandom Korean Wave, dan kelompok penggemar budaya populer global lainnya. Temuan Putri . juga menegaskan bahwa tingginya intensitas konsumsi budaya global mendorong terbentuknya sistem komunikasi baru yang bersifat hibrid. Campur kode menjadi salah satu bentuk adaptasi budaya . ultural adaptatio. , di mana penutur menggabungkan referensi linguistik lokal dan global secara kreatif untuk membangun gaya komunikasi yang dianggap relevan, modern, dan sesuai dengan karakter digital mereka. Dengan demikian, campur kode tidak hanya dipahami sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai praktik sosial yang mencerminkan proses internalisasi nilai, tren, dan representasi budaya global. Rokhman dan Surahmat . menggambarkan fenomena ini sebagai bagian dari linguistik disruptif, yakni perubahan pola berbahasa yang muncul akibat perkembangan teknologi digital dan berlangsung dalam tempo yang sangat cepat. Dalam situasi ini, batas pemisah antara bahasa Indonesia dan bahasa asing menjadi semakin longgar, sehingga praktik alih kode maupun campur kode tidak lagi dipersepsikan sebagai pelanggaran terhadap norma bahasa baku. Sebaliknya, kedua bentuk praktik tersebut dipahami sebagai wujud kreativitas berbahasa yang menunjukkan kemampuan generasi muda untuk menyesuaikan diri dengan dinamika sosial dan budaya yang terus berubah. Pendekatan ini selaras dengan gagasan Fishman . yang menekankan bahwa variasi bahasa merupakan respons wajar terhadap perkembangan sosial dalam Dari perspektif pragmatik, alih kode dan campur kode pada Gen Z berfungsi untuk membuat komunikasi lebih efektif, cepat, dan sesuai dengan gaya percakapan digital yang ringkas. Dalam interaksi daring, unsur bahasa asing sering dipilih karena mampu memberikan expressive strength, efisiensi, dan relevansi yang lebih tepat. Dengan demikian, pemilihan kode tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga merupakan strategi pragmatis yang menyesuaikan kebutuhan komunikasi modern. Pengaruh Penggunaan Bahasa Asing Terhadap Komunikasi GEN Z (Ayu Azum. Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 Secara keseluruhan, alih kode dan campur kode pada Gen Z merupakan hasil pengaruh teknologi digital, globalisasi budaya, dan pembentukan identitas linguistik. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa terus berubah dan beradaptasi. Karena itu, praktik tersebut bukan sekadar kebiasaan berbahasa, melainkan cerminan perubahan sosial dalam masyarakat saat ini. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam pengaruh penggunaan bahasa asing terhadap pola komunikasi Generasi Z. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti menggali makna subjektif, persepsi, serta pengalaman personal informan secara komprehensif tanpa dibatasi oleh angka dan variabel kuantitatif. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat menangkap dinamika alami penggunaan bahasa dalam konteks keseharian, termasuk alasan-alasan implisit yang mendorong Generasi Z memilih atau mencampurkan bahasa tertentu dalam berbagai situasi komunikasi . Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu. Informan dalam penelitian ini adalah individu berusia 17Ae25 tahun yang termasuk kategori Generasi Z, aktif berkomunikasi di lingkungan pendidikan maupun digital, dan diketahui menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Jumlah informan tidak ditentukan di awal melainkan ditetapkan berdasarkan prinsip kejenuhan data saturation, yakni pada informan terakhir tidak ditemukan lagi informasi atau tema baru yang relevan sehingga proses pengumpulan data dihentikan. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar merepresentasikan variasi penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z, sekaligus menjaga relevansi informan terhadap fokus penelitian . Teknik pengumpulan data mencakup tiga metode utama: . wawancara mendalam, . observasi nonpartisipatif, dan . Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur, sehingga memungkinkan informan menceritakan pengalaman secara bebas namun tetap dalam koridor fokus penelitian. Observasi digunakan untuk melihat secara langsung bagaimana informan menggunakan bahasa asing dalam aktivitas sehari-hari, terutama pada konteks digital. Dokumentasi berupa tangkapan layar percakapan, unggahan media sosial, dan catatan komunikasi informal digunakan sebagai penguat data. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Peneliti membaca seluruh transkrip wawancara, mengkodekan data, mengidentifikasi tema, dan menyajikan temuan dalam bentuk Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, member checking, serta diskusi dengan pakar bahasa untuk memastikan interpretasi sesuai konteks linguistik . HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pola Penggunaan Bahasa Asing dalam Komunikasi Generasi Z Penggunaan bahasa asing oleh Generasi Z menunjukkan pola yang sangat berbeda dibandingkan generasigenerasi sebelumnya. Hal ini terlihat dari kecenderungan mereka untuk mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris secara natural dalam komunikasi sehari-hari, baik dalam bentuk kata, frasa, maupun ekspresi tertentu. Rahmania dkk. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dominasi bahasa asing dalam komunikasi Gen Z dipengaruhi oleh tingginya keterpaparan mereka terhadap media digital dan budaya Berbagai platform seperti YouTube. TikTok, dan Instagram menyajikan konten yang didominasi bahasa Inggris, sehingga pengguna muda secara alami menyerap dan meniru istilah yang mereka temui. Akibatnya, kosakata seperti random, valid, literally, prefer, cringe, dan relate menjadi pilihan ekspresif yang sering digunakan karena dianggap lebih ringkas, relevan, dan mampu menggambarkan makna yang tidak selalu tersedia dalam padanan bahasa Indonesia. Salah satu informan menjelaskan bahwa ia lebih sering menggunakan istilah seperti literally atau cringe ketika berbicara dengan teman sebaya karena dianggap lebih cepat dan tepat menggambarkan perasaannya. Informan lain menyebutkan bahwa penggunaan istilah asing dalam percakapan daring membuat komunikasi terasa lebih AunaturalAy karena hampir semua konten yang ia konsumsi di TikTok dan Instagram menggunakan bahasa Inggris. Tidak hanya dipengaruhi oleh media digital, pola penggunaan bahasa asing juga berkaitan erat dengan perkembangan tren budaya populer. Salsabila, et al. menemukan bahwa film, musik, drama internasional, hingga meme menjadi faktor utama penyebaran istilah-istilah asing yang kemudian menjadi bagian dari gaya bahasa Gen Z. Dalam komunikasi verbal maupun tulisan, istilah asing dipilih bukan hanya karena maknanya. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 144 - 153 Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 tetapi juga karena memberikan nuansa modern, lucu, atau lebih ekspresif dibandingkan bahasa Indonesia. Dalam lingkungan pendidikan dan pertemanan, penggunaan kata-kata berbahasa Inggris sering dijadikan alat untuk mempererat komunikasi, menciptakan lelucon, atau membangun suasana percakapan yang lebih santai. Pola ini menunjukkan bahwa bahasa asing tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan identitas linguistik Gen Z. Selain itu, penggunaan bahasa asing sering dijadikan penanda identitas sosial di berbagai komunitas digital. Putri . menjelaskan bahwa kelompok tertentu seperti komunitas gamer, penggemar K-pop, wibu, desainer grafis, serta kreator konten memiliki gaya bahasa khas yang menggabungkan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta unsur bahasa lain sesuai budaya komunitas tersebut. Misalnya, komunitas gamer menggunakan istilah seperti noob, lag, skill issue, boosting, atau AFK, yang kemudian menjadi bahasa sehari-hari mereka meskipun konteksnya berada di luar game. Hal ini menegaskan bahwa bahasa asing juga berfungsi sebagai simbol keanggotaan kelompok sosial tertentu, sehingga orang yang ingin diterima dalam komunitas tersebut biasanya akan mengadopsi istilah serupa. Pola lain yang sangat menonjol adalah terjadinya code switching spontan, yaitu perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain saat sedang berbicara. Agustin . menyebutkan bahwa perpindahan ini sering terjadi tanpa disadari dan biasanya dipicu oleh topik pembicaraan, situasi komunikatif, atau kebiasaan yang terbentuk akibat interaksi intens dengan konten multibahasa di media sosial. Generasi Z sering memulai percakapan dengan bahasa Indonesia kemudian menyisipkan frasa berbahasa Inggris ketika ingin menegaskan makna tertentu atau ketika kata dalam bahasa Indonesia dianggap kurang tepat atau kurang ekspresif. Fenomena ini mencerminkan bahwa bagi Gen Z, penggunaan bahasa asing bukan sekadar mengikuti tren, tetapi telah menjadi bagian dari sistem komunikasi yang fleksibel dan adaptif terhadap konteks. Secara keseluruhan, pola penggunaan bahasa asing pada Generasi Z mencerminkan bentuk integrasi budaya global ke dalam bahasa sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukanlah entitas statis, tetapi terus berubah mengikuti perkembangan zaman, teknologi, dan budaya populer. Dalam konteks ini. Generasi Z memainkan peran penting sebagai agen perubahan linguistik yang membawa bahasa Indonesia menuju bentuk komunikasi modern yang lebih cair, dinamis, dan berorientasi global. 2 Faktor yang Mendorong Penggunaan Bahasa Asing Beberapa faktor utama mendorong Generasi Z menggunakan bahasa asing dalam komunikasi, dan fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi, perubahan budaya, serta dinamika sosial yang melingkupi kehidupan mereka. Faktor pertama adalah paparan globalisasi yang sangat intens, terutama melalui internet dan media sosial. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital di mana hampir semua bentuk informasi, hiburan, dan interaksi tersedia secara global dan mudah diakses. Konten yang mereka konsumsi sebagian besar menggunakan bahasa Inggris, mulai dari video di YouTube, unggahan di TikTok, materi pembelajaran daring, hingga percakapan di platform internasional seperti Discord atau Reddit. Paparan berkelanjutan ini membuat kosakata asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi lebih familiar dan akhirnya diinternalisasi dalam pola komunikasi sehari-hari. Dengan kata lain, globalisasi menjadikan bahasa asing bukan sekadar bahasa asing, melainkan bahasa yang hadir dalam setiap aspek kehidupan digital Generasi Z. Faktor kedua berkaitan dengan identitas diri dan gaya hidup. Gultom, et al. menunjukkan bahwa bagi Generasi Z, penggunaan bahasa asing memiliki fungsi simbolik yang kuat. Mereka memandang penggunaan istilah asing sebagai representasi modernitas, kecerdasan, dan keterbukaan terhadap budaya global. Hal ini terlihat dalam cara mereka menulis caption, membuat komentar, atau berinteraksi di media sosial. Bahasa asing dianggap lebih AuestetikAy, lebih keren, dan lebih sesuai dengan citra diri yang ingin mereka tampilkan di ruang digital. Dengan demikian, bahasa menjadi sarana untuk membangun identitas sosial, bukan sekadar alat komunikasi. Dengan kata lain, pilihan bahasa yang mereka gunakan tidak hanya mencerminkan preferensi personal, tetapi juga menjadi strategi performatif untuk menegaskan posisi mereka dalam ekosistem digital yang sangat kompetitif, di mana citra diri dan penerimaan sosial sering kali ditentukan oleh gaya komunikasi yang dianggap paling relevan dan mencerminkan nilai-nilai global. Faktor ketiga adalah pengaruh pendidikan. Kurikulum di Indonesia saat ini menempatkan bahasa Inggris sebagai salah satu kompetensi penting yang dipandang dapat meningkatkan daya saing global. Banyak sekolah dan perguruan tinggi menerapkan pembelajaran bilingual, penggunaan bahan ajar berbahasa Inggris, hingga tugas-tugas akademik yang mendorong siswa menggunakan referensi asing. Karena itu, siswa menjadi terbiasa menyisipkan istilah asing dalam percakapan sehari-hari, baik secara sadar sebagai bentuk latihan, maupun sebagai kebiasaan yang terbentuk dari proses pembelajaran yang berulang. Akibatnya, lingkungan Pengaruh Penggunaan Bahasa Asing Terhadap Komunikasi GEN Z (Ayu Azum. Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 pendidikan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi arena yang secara sistematis membentuk preferensi linguistik siswa, mendorong mereka mengadopsi istilah asing dalam berbagai konteks komunikasi, serta memperkuat persepsi bahwa penggunaan bahasa asing merupakan indikator kompetensi akademik dan profesional. Faktor keempat adalah pengaruh komunitas pertemanan. Komunitas sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara berbicara seseorang, terutama pada generasi muda yang memiliki kebutuhan tinggi untuk diterima oleh kelompok sosialnya. Jika anggota kelompok pertemanan menggunakan bahasa asing sebagai gaya komunikasi, maka individu lain cenderung menyesuaikan diri agar dapat dianggap relevan dan tidak Auketinggalan zamanAy. Bahasa asing dalam hal ini bertindak sebagai penanda keanggotaan kelompok dan alat untuk menciptakan keakraban sosial. Fenomena ini banyak ditemukan pada komunitas gamer, penggemar Kpop, konten kreator, hingga komunitas akademik yang sering menggunakan istilah Inggris sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari. Dengan demikian, pola penggunaan bahasa asing dalam komunitas pertemanan tidak hanya mencerminkan preferensi linguistik kelompok, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme sosial yang mengatur konformitas, memperkuat solidaritas internal, dan membentuk identitas kolektif yang berbeda dari kelompok lain. Faktor kelima adalah kemudahan ekspresi. Generasi Z sering merasa bahwa beberapa istilah asing jauh lebih efektif dalam menyampaikan maksud tertentu dibandingkan padanannya dalam bahasa Indonesia. Kata seperti cringe, mood, insecure, atau overthinking dianggap memiliki makna emosional yang lebih tepat dan lebih dalam dibandingkan terjemahannya. Bahkan, banyak istilah tersebut tidak memiliki padanan tunggal dalam bahasa Indonesia yang dapat menggambarkan makna secara ringkas. Sudirman . menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa asing memenuhi kebutuhan ekspresif penutur muda yang menginginkan komunikasi lebih cepat, relevan, dan langsung pada inti makna. Kondisi ini menunjukkan bahwa pilihan leksikal Generasi Z tidak semata-mata didorong oleh tren global, tetapi juga oleh kebutuhan pragmatis untuk mengekspresikan nuansa makna yang sulit dicapai melalui bahasa Indonesia, sehingga penggunaan istilah asing menjadi strategi komunikatif yang dianggap lebih efisien dan representatif. Secara keseluruhan, penggunaan bahasa asing oleh Generasi Z bersifat multifaktorial dan saling berpengaruh. Paparan global, kebutuhan identitas, lingkungan pendidikan, pengaruh sosial, dan efektivitas ekspresi menciptakan ekosistem linguistik yang mendorong bahasa asing menjadi bagian alami dari kehidupan Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perubahan kebiasaan berbahasa, tetapi juga mencerminkan transformasi budaya yang terjadi seiring perkembangan teknologi dan interaksi global yang semakin intens. 3 Dampak Positif Penggunaan Bahasa Asing terhadap Komunikasi Penggunaan bahasa asing membawa sejumlah dampak positif yang cukup signifikan dalam komunikasi Generasi Z. Dampak pertama adalah peningkatan fleksibilitas berbahasa. Generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi linguistik memiliki kemampuan untuk memadukan berbagai kosakata dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara spontan dan kreatif. Pola komunikasi ini menunjukkan kemampuan adaptasi linguistik yang tinggi, di mana mereka dapat menyesuaikan pilihan kata sesuai konteks, situasi, dan audiens. Fleksibilitas ini memperlihatkan bahwa Generasi Z tidak terikat pada satu sistem bahasa, tetapi mampu mengkombinasikan beragam unsur linguistik untuk menghasilkan komunikasi yang efektif dan relevan. Dampak positif kedua adalah peningkatan kompetensi global. Hastuti dkk. menegaskan bahwa kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, memberikan keuntungan kompetitif bagi Generasi Z dalam menghadapi perkembangan dunia internasional. Dengan memahami bahasa asing, mereka dapat mengakses pengetahuan global, mengikuti tren pendidikan dan teknologi, serta berinteraksi dengan komunitas internasional melalui berbagai platform digital. Keunggulan tersebut tidak hanya mendukung kemampuan akademik dan profesional mereka, tetapi juga menumbuhkan wawasan global yang lebih luas. Pada akhirnya, kompetensi bahasa asing menjadi modal penting bagi Generasi Z untuk terlibat dalam dunia kerja dan pendidikan yang semakin terintegrasi secara global. Dampak ketiga dari penggunaan bahasa asing adalah mempermudah proses penerimaan budaya global. Generasi Z lebih mudah memahami referensi budaya internasional yang sering muncul dalam percakapan digital, seperti istilah dari film, musik, meme, atau permainan daring. Pemahaman terhadap budaya global ini memungkinkan mereka berpartisipasi dalam diskusi lintas budaya dan mengikuti perkembangan tren Akibatnya, mereka menjadi lebih terbuka terhadap keragaman budaya dan mampu membangun hubungan yang lebih luas dengan individu dari latar belakang budaya yang berbeda. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 144 - 153 Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 Dengan demikian, penggunaan bahasa asing tidak hanya memperluas kemampuan berbahasa Generasi Z, tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan identitas, wawasan global, dan kreativitas komunikasi mereka. Temuan Hastuti dkk. menunjukkan bahwa penggunaan bahasa asing berperan penting dalam meningkatkan kualitas komunikasi generasi ini, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. 4 Dampak Negatif Penggunaan Bahasa Asing terhadap Komunikasi Meskipun penggunaan bahasa asing memberikan sejumlah keuntungan bagi Generasi Z, fenomena ini juga menimbulkan berbagai dampak negatif yang perlu dicermati. Dampak pertama adalah munculnya kesenjangan komunikasi antara individu yang memiliki kemampuan bahasa asing tinggi dan mereka yang kurang fasih. Ramadhania, et al. menegaskan bahwa kesenjangan ini dapat menciptakan jarak sosial dalam kelompok pertemanan maupun lingkungan akademik. Individu yang kurang menguasai istilah asing sering kali merasa tertinggal atau tidak mampu mengikuti alur percakapan, sehingga komunikasi menjadi kurang efektif. Kondisi ini pada akhirnya menciptakan kelompok eksklusif yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kompetensi bahasa asing yang memadai. Dampak negatif kedua adalah menurunnya kemampuan berbahasa Indonesia secara formal. Generasi Z yang terbiasa menggunakan campuran bahasa sering kali kesulitan menyusun kalimat baku, terutama dalam konteks akademik atau resmi. Kebiasaan menggunakan istilah asing dalam percakapan sehari-hari membuat mereka kurang terbiasa dengan struktur kalimat bahasa Indonesia yang benar. Ramadhania, et al. menemukan bahwa fenomena ini berpengaruh pada kemampuan menulis formal, seperti penyusunan laporan, artikel ilmiah, atau karya tulis lainnya. Akibatnya, kualitas penggunaan bahasa Indonesia di kalangan generasi muda mengalami penurunan, terutama pada aspek tata bahasa dan pilihan diksi. Dampak ketiga adalah potensi terjadinya misinterpretasi atau salah pemahaman makna. Tidak semua istilah asing dipahami secara tepat oleh penutur muda, terutama istilah yang memiliki konteks kultural tertentu. Banyak ungkapan dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan secara literal atau digunakan tanpa memahami konteks aslinya, sehingga makna yang muncul bisa bergeser atau bahkan salah. Kesalahan pemaknaan ini dapat menyebabkan terjadinya miskomunikasi ketika berinteraksi, baik dalam percakapan digital maupun percakapan langsung. Secara keseluruhan, penggunaan bahasa asing dalam komunikasi Generasi Z memiliki dampak negatif yang perlu diperhatikan. Ramadhania, et al. menekankan bahwa meskipun fenomena ini merupakan bagian dari perkembangan bahasa di era global, perlu ada keseimbangan agar penggunaan bahasa asing tidak menghambat efektivitas komunikasi maupun mengurangi kemampuan berbahasa Indonesia secara formal. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk mengedukasi generasi muda agar menggunakan bahasa asing secara bijak dan proporsional sesuai konteks komunikasi 5 Komunikasi Hibrida dan Transformasi Identitas Linguistik Generasi Z Penggunaan bahasa asing oleh Generasi Z tidak hanya berdampak pada cara mereka memilih kosakata, tetapi juga membentuk pola komunikasi baru yang dikenal sebagai komunikasi hibrida. Komunikasi hibrida ini merupakan bentuk interaksi linguistik yang memadukan bahasa local khususnya bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, secara spontan, konsisten, dan natural. Dewi . menjelaskan bahwa fenomena tersebut mencerminkan identitas linguistik generasi digital yang semakin cair dan tidak lagi terpaku pada batasan satu bahasa tertentu. Bagi Generasi Z, bahasa adalah ruang terbuka yang dapat dimodifikasi, digabungkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi, situasi percakapan, maupun gaya Transformasi identitas linguistik Generasi Z terlihat dari fleksibilitas mereka dalam berpindah antarbahasa code-switching dan mencampur bahasa code-mixing tanpa merasa terikat pada aturan formal bahasa mana Fleksibilitas ini lahir dari paparan yang sangat intens terhadap teknologi digital, di mana mereka berinteraksi dengan berbagai bentuk konten global. Identitas linguistik ini ditandai oleh keterbukaan terhadap budaya luar, kemampuan adaptasi yang cepat terhadap istilah baru, serta kecenderungan untuk menggunakan bahasa yang dianggap paling sesuai dengan konteks emosional dan sosial. Dewi . menegaskan bahwa pola komunikasi semacam ini menunjukkan bahwa Generasi Z tidak melihat bahasa sebagai batas identitas nasional, tetapi sebagai alat ekspresi personal yang dapat berubah sesuai dinamika zaman. Komunikasi hibrida juga menciptakan bentuk bahasa baru yang secara linguistik berbeda dari bahasa formal. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kosakata campuran, struktur kalimat yang terpengaruh bahasa asing. Pengaruh Penggunaan Bahasa Asing Terhadap Komunikasi GEN Z (Ayu Azum. Ayu Azumi dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 144 Ae 153 serta gaya komunikasi digital yang lebih singkat, langsung, dan dinamis. Aprilianty dan Ariqah . menyatakan bahwa paparan budaya global melalui media sosial, film, musik, gim daring, dan interaksi transnasional mendorong terbentuknya pola bahasa yang bersifat global-lokal . Dalam pola ini, bahasa Indonesia tetap digunakan, tetapi dilengkapi dan diperkaya dengan istilah asing yang memperluas ekspresi komunikatif generasi muda. Identitas linguistik Generasi Z juga menunjukkan kecenderungan bilingual atau bahkan multilingual secara Mereka tidak hanya memahami dan menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, tetapi juga menguasai atau terbiasa dengan istilah dari bahasa lain seperti Korea. Jepang, atau Arab, tergantung komunitas digital yang mereka ikuti. Hal ini membentuk identitas linguistik yang lebih kompleks dan tidak Interaksi dengan berbagai bahasa ini memperkuat kompetensi linguistik mereka, sekaligus menciptakan jejak identitas yang global namun tetap berakar pada bahasa lokal. Kondisi ini pada saat yang sama memunculkan tantangan baru, karena fleksibilitas berbahasa yang tinggi dapat mengaburkan konsistensi penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi komunikasi tertentu. Fenomena komunikasi hibrida ini bukan sekadar tren sesaat, tetapi bentuk transformasi linguistik yang lebih Interaksi intensif dengan teknologi, globalisasi, dan budaya populer menghasilkan perubahan cara Generasi Z memahami dan menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Aprilianty & Ariqah . menegaskan bahwa transformasi ini merupakan respons terhadap ekosistem digital yang semakin tanpa batas, sehingga bahasa berkembang menjadi alat komunikasi adaptif yang mencerminkan fleksibilitas dan kreativitas generasi digital. Dengan demikian, komunikasi hibrida menjadi karakter linguistik baru yang menggabungkan unsur lokal dan global, sekaligus memperlihatkan bagaimana identitas generasi ini dibentuk oleh dinamika dunia yang terus berubah. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa asing berpengaruh signifikan terhadap pola komunikasi Generasi Z. Paparan terhadap informasi global membuat bahasa asing menjadi bagian dari interaksi sehari-hari, yang kemudian menghasilkan dampak positif berupa fleksibilitas berbahasa, kreativitas linguistik, peningkatan kepercayaan diri, serta kompetensi global. Namun demikian, penggunaan bahasa asing juga menimbulkan dampak negatif seperti kesenjangan komunikasi, penurunan kemampuan berbahasa Indonesia formal, misinterpretasi makna, tekanan sosial, dan ketergantungan terhadap istilah asing. Fenomena ini menghasilkan bentuk komunikasi hibrida yang mencerminkan identitas baru generasi muda. Penelitian ini turut memberikan kontribusi pada kajian komunikasi generasi muda dengan menunjukkan bagaimana integrasi bahasa lokal dan global membentuk pola komunikasi kontemporer serta menegaskan bahwa penggunaan bahasa asing memiliki fungsi sosial dan identitas yang lebih kompleks dibanding temuan studi sebelumnya. Sebagai saran, penelitian selanjutnya disarankan untuk memfokuskan kajian pada konteks interaksi tertentu, latar belakang pendidikan, atau komunitas digital spesifik agar hasil yang diperoleh lebih mendalam dan Selain itu, penelitian lanjutan dapat menggunakan pendekatan komparatif untuk meninjau perbedaan penggunaan bahasa asing antar kelompok umur, wilayah, atau komunitas budaya, serta menggali faktor psikologis dan sosiokultural yang memengaruhi preferensi bahasa. Dengan demikian, penelitian lanjutan diharapkan mampu memperkaya pemahaman mengenai peran bahasa asing dalam membentuk pola komunikasi dan identitas linguistik generasi muda di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. DAFTAR PUSTAKA