Tindak Direktif Guru Bahasa Indonesia Pembelajaran Siswa Kelas VII SMPN 19 Kota Jambi Nuraini Permata Ningsi1. Imam Suwardi Wibowo2. Hilman Yusra3 Universitas Jambi *Corresponding author Email: nurainipermata03@gmail. Abstrak Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan tindak Direktif yang dituturkan Guru bahasa Indonesia pada proses pembelajaran siswa kelas Vi di SMPN 19 Kota Jambi. Pendekatan serta jenis penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang mengandung tindak tutur direktif sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa dari kelas ViA sampai kelas ViH. Lokasi penelitian di SMPN 19 Kota Jambi dengan instrumen penelitian yaitu peneliti sendiri dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu teknik simak bebas libat cakap, teknik catat, dan teknik rekam. Adapun hasil dalam penelitian ini yaitu ditemukan adanya penggunaan tindak direktif meminta, mengajak, menagih, memaksa, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba dan tindak direktif menantang dengan jumlah seluruh tuturan sebanyak 48 tuturan. Kata kunci: tindak direktif, guru, pembelajaran Abstract This research aims to describe the directive speech spoken by Teachers Indonesian in the learning process of class Vi students in SMPN 19 Kota Jambi. The approach and type of research used are qualitative approaches and descriptive types of research. The data in this study is speech that contains directive speech while the data sources in this study are teachers and students of class from ViA, until class Vi H. The location of this study in SMPN 19 Kota Jambi with research instruments is the researchers themselves using data collection techniques, namely capable libat free listening techniques, recording techniques, and recording techniques. The results in this study are found the use of actions directive asking, inviting, charging, forcing, urgent, begging, suggesting, governing, giving advice and challenging directive with the total number of speeches as many as 48 speeches. Keywords: directive acts, teachers, learning Pendahuluan Dalam menjalani aktivitas kehidupannya sehari-hari, manusia pasti tidak terlepas dari bahasa bahkan dalam setiap kegiatan manusia membutuhkan media bahasa untuk mempermudah mereka dalam berinteraksi karena bahasa adalah sebuah alat untuk berkomunikasi, melalui bahasa inilah manusia bisa berhubungan antara satu sama lain. Seperti halnya Kridalaksana . mengemukakan bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota, suatu masyarakat untuk bekerja sama, interaksi dengan sesama serta mengenali diri. Bahasa membuat manusia menjadi unik karena salah satu keunikan manusia ada pada kepandaian berbahasanya. Melalui bahasa inilah manusia dapat mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya dan yang sedang Pada penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat, bahasa digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti. komunikasi dalam keluarga, teman, di Sekolah, di Kantor, di tempat umum, serta dimanapun manusia berada bahasa sangat diperlukan untuk menyampaikan maksud kepada lawan bicara agar komunikasi bisa berjalan dengan baik. Bahasa juga merupakan alat komunikasi yang penting saat berinteraksi pada proses belajar-mengajar. Bahasa digunakan oleh murid dan guru untuk menjalin interaksi. Karena kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujan yang akan dicapai akan tercipta jika adanya komunikasi yang terjalin baik. Maka dari itulah peran bahasa dalam proses pembelajaran tidak bisa dipisahkan disebabkan interaksi belajar mengajar tidak dapat berlangsung baik jika tidak adanya fungsi bahasa. Bahasa memiliki berbagai disiplin ilmu dan salah satunya adalah Di dalam pragmatik seseorang yang menyampaikan pesan disebut penutur dan orang yang menerima pesan disebut petutur atau mitra tutur. Dapat diartikan juga penutur melafalkan sebuah tuturan dengan adanya maksud atau tujuan menyampaikan sesuatu pada mitra tutur . endengar/petutu. dengan harapan lawan bicaranya mengerti apa yang ingin dikomunikasikan dan diutarakan oleh penutur. Pengujaran sebuah kalimat dengan tujuan agar maksud pembicara dapat dimengerti oleh pendengar disebut juga dengan tindak tutur atau tindak ujar. Purba . mengatakan bahwa hakikatnya tindak tutur itu merupakan suatu tindakan yang dilakukan penutur ketika percakapan sedang Pragmatik erat kaitannya dengan tindak tutur atau tindak Tindak tutur yang dihasilkan pada dasarnya tergantung tujuan atau arah tuturan untuk mencapai tujuan. Sebuah tindak tutur hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan situasi ujar karena situasi ujar dapat mempengaruhi tercapainya tujuan dari sebuah tuturan. Ada berbagai jenis tindak tutur di dalam pragmatik. Berkaitan dengan tuturan. Austin (Wiryotinoyo, 2013:. menggolongkan tindak tutur ada 3 macam, antaralain tindak tutur ilokusi, lokusi, dan perlokusi. Tindak lokusi menurut Pande dan Artana . merupakan tindak tutur yang menyatakan sesuatu atau tindak tutur berbentuk kalimat yang mempunyai makna serta bisa dipahami. Tindak ilokusi menurut Stambo dan Ramadhan . yaitu apa yang mau dicapai oleh penuturnya saat menuturkan sesuatu yang dapat berupa tindakan meminta, minta maaf, menyatakan, mengancam, berjanji, meramalkan, memerintah, dan lain sebagainya. Selanjutnya tindak tutur perlokusi merupakan tindak tutur berkaitan dengan adanya ucapan orang lain terkait sikap dan perilaku non-linguistik dari orang itu (Chaer dkk, 2004: . Kemudian Searle (Wiryotinoyo, 2011:. mengelmpokkan tindak tutur ilokusi menjadi 5. , yaitu tindak ilokusi direktif, asertif, komisif, deklaratif dan ekspresif. Akan tetapi dalam kajian ini peneliti memilih mengamati satu tindak tutur saja yaitu tindak tutur direktif yang ada pada sebuah sekolah, karena apabila dilihat dan diamati secara cermat dalam kegiatan belajar mengajar banyak sekali terdapat banyak hal yang menarik terlebih pada bahasa percakapan guru dengan murid, atau antara murid dengan murid yang digunakan dalam mengungkapkan ekspresinya dan tindak tutur direktif ini merupakan satu diantara tindak tutur yang paling sering muncul ketika Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, peran guru tidak lepas dari usahanya dalam membentuk siswa supaya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar untuk berkomunikasi serta berinteraksi sesuai konteksnya. Maka dari itu penggunaan tindak tutur yang sesuai dengan konteks saat berinteraksi pada proses pembelajaran akan membuat suasana belajar mengajar yang mengesankan bagi guru dan semua siswa. Tindak direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya supaya mitra tutur melakukan tindakan sesuai yang disebutkan dalam tuturan itu (Darwis, 2018:. Maka tindak tutur direktif dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebuah tindak ujar yang diucapkan oleh guru dengan tujuan agar murid yang mendengarkannya melakukan sesuatu yang diucapkannya pada saat proses pembelajaran bahasa Indonesia itu berlangsung. Tindak tutur ini dipilih pada penelitian ini karena volume kemunculan tindak tutur ini lebih banyak dibandingkan jenis tuturan lain. Adapun penelitian relevan yang ada dengan penelitian ini yang pertama berjudul Tindak Tutur Direktif dalam Percakapan Anak Usia Sekolah Dasar di Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Alam Barajo oleh Nur Haliza Fitri . dari Universitas Jambi. Perbedaan antara penelitian yang akan peneliti lakukan dengan penelitian Nur Haliza ini terdapat pada objek penelitiannya. Penelitian Nur Haliza ini memilih anak usia Sekolah Dasar (SD) sebagai objek penelitiannya sedangkan peneliti memilih guru dan siswa kelas Vi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi objek penelitian. Peneletian relevan yang selanjutnya yaitu Tindak Tutur Direktif dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Vi C SMPN 26 Muaro Jambi oleh Adi Akhmad Zahidin . dari Universitas Jambi. Perbedaan antara penelitian yang akan peneliti lakukan dengan penelitian Zahidin ini terdapat pada teknik pengumpulan data yang digunakan. Pada penelitian Zahidin ia menggunakan teknik simak dan catat sedangkan dalam penelitian peneliti teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik simak bebas libat cakap, teknik catat dan teknik rekam. Sehingga diharapkan penelitian ini bisa mendapatkan data yang lebih akurat dan banyak lagi dari pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian relevan yang terakhir yaitu Tindak Tutur Direktif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Mlati Sleman Yogyakarta oleh Iwan Khairi Yahya . dari Universitas Negeri Yogyakarta. Perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan dengan penelitian Iwan terdapat pada teknik analisis data. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian Iwan yaitu teknik padan pragmatik, dan klasifikasi data. Sedangkan penelitian peneliti menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan uraian diatas adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan tindak tutur direktif yang dituturkan oleh guru bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran siswa kelas Vi di SMPN 19 Kota Jambi. Metode Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menggunakan pendekatan kualitatif. Dikatakan Sugiyono . metode penelitian kualitatif merupakan metode yang dipakai untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, yang dalam hal ini peneliti adalah instrumen kunci. Metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa data tertulis maupun tidak dari seseorang, prilaku atau hal-hal yang sedang diamati. Maka jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif karena mempunyai tujuan mendeskripsikan tindak tutur direktif yang dituturkan oleh guru bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran di SMPN 19 Kota Jambi. Data pada penelitian ini yaitu tuturan atau percakapan yang mengandung tindak direktif pada kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia kelas ViA sampai kelas ViH. Sedangkan sumber data penelitian ini yaitu guru bahasa Indonesia dan siswa kelas Vi di SMPN 19 Kota Jambi. Dalam penelitian ini kehadiran peneliti mutlak dibutuhkan karena seluruh proses penelitian harus dilakukan oleh peneliti sendiri dan tidak bisa diwakilkan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: . Teknik simak bebas libat cakap, . catat, dan . Sudaryanto (Wiryotinoyo, 2013:. ia mengemukakan bahwa dalam pengumpulan data terdapat empat teknik, yaitu a. teknik simak libat cakap. teknik simak bebas libat cakap. teknik rekam. dan d. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan rumusan masalah di atas maka akan dibahas tindak direktif apa saja yang digunakan atau dipakai guru bahasa Indonesia saat proses Berikut deskripsi hasil penelitian tindak direktif guru bahasa Indonesia pada proses pembelajaran siswa kelas Vi di SMPN 19 Kota Jambi. Tindak Tutur Direktif Guru Bahasa Indonesia dalam Proses Pembelajaran Siswa Kelas Vi di SMPN 19 Kota Jambi Tindak direktif yang terjadi saat pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi terjadi antara Guru bahasa Indonesia dan siswa, dan ditemukan sebanyak 10 jenis tindak tutur direktif. Tindak tutur tersebut yaitu tindak direktif meminta, memaksa, mengajak, menagih, memerintah, menyarankan, mendesak, memberikan aba-aba, serta menantang. Tindak Direktif Meminta Tindak direktif meminta merupakan tuturan yang dipakai agar diberikan sesuatu dari lawan bicara. Ditemukan sebanyak 7 tindak direktif meminta saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 1 Guru : Ketua kelas tolong siapkan dulu dan baca doa ya. Konteks : Saat guru baru saja memasuki ruang kelas, guru meminta ketua kelas menyiapkan murid lain untuk berdoa terlebih Data 2 Guru : Anak-anak tolong keluarkan buku paketnya ya. Konteks : Guru menyuruh murid untuk untuk membuka buku, saat pelajaran akan dimulai Data 3 Guru : Di belakang ado kakak-kakak dari UNJA yang ingin melakukan penelitian. Jadi selama pelajaran berlangsung Ibu minta kalian bisa jaga sikap ya. Konteks : Saat baru memasuki ruang kelas guru menyuruh memperhatikan kedepan. Data 4 Guru : Ibu minta angkat tangan kalo mau jawab. Jangan bersamaan gini dak tau mano yang nak didengar. Konteks : Ketika guru memberi pertanyaan dan banyak murid rebutan menjawab. Data 5 Guru : Bisa dibesarkan sedikit suaranya Nak biar yang lain dengar apo yang dibaco. Konteks : Guru menyuruh satu orang murid untuk membaca pengertian teks ulasan dengan lantang. Data 6 Guru : Ibu minta satu orang siapa yang berani untuk menjelaskan apa itu teks ulasan dengan bahasanya sendiri. Konteks : Setelah murid membaca buku, guru menyuruh murid menyampaikan apa yang dimaksud dengan teks ulasan dengan bahasanya sendiri. Data 7 Guru : Ibu minta nanti ketua kelas atau salah satu dari kalian antarkan semua tugasnya nanti ke kelas Vi A ya, soalnya setelah ini ibu ngajar disitu. Konteks : Beberapa menit sebelum pulang Ibu menyampaikan pesan kepada ketua kelas. Data 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 di atas merupakan tindak direktif meminta karena mendeskripsikan penutur yaitu guru meminta mitra tutur yaitu murid untuk melakukan sesuatu kemudian mitra tutur pun segera melakukannya. Ini sejalan dengan teori yang dikatakan Prayitno . tindak direktif meminta yaitu sebuah tuturan yang mempunyai tujuan untuk memohon serta berharap kepada mitra tuturnya agar diberikan seperti yang diminta mitra tuturnya. Tindak Direktif Mengajak Tindak direktif mengajak ialah mempersilahkan lawan bicara atau mitra tuturnya agar ikut melakukan yang disebutkan dan dimaksudkan dalam tuturan penutur kepada mitra tuturnya. Didapatkan sebanyak 4 tindak tutur direktif mengajak saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 8 Guru : Kamis besok ada jam ke 5 dan 6 nanti kita ke perpustakaan untuk mencoba membuat teks ulasan, setelah itu baru kita coba menonton film dan kita lihat bagaimana cara mengulas sebuah film. Konteks : Saat jam pelajaran sudah mau berakhir guru berdiskusi dengan murid. Data 9 Guru : Ayo kita ke perpus sekarang. Bawa buku satu saja ya buku latihan saja, yang lainnya ditinggal. Konteks : Di kelas guru menjelaskan sedikit materi sebelum pergi ke Data 10 Guru : Ayo mulai sekarang kalian harus rajin membaca dan ke perpus, karena setiap akhir tahun akan ada hadiah atau reward untuk yang rajin membaca. Konteks : Sebelum mengajak ke perpustakaan, guru menanyakan minat baca murid. Data 11 Guru : Kita kasih tepuk tangan dulu untuk temannya yang semangat tadi, kasih dulu yok. Konteks : Guru mengajak mengapresiasi beberapa murid yang telah mengerjakan tugas sebelum disuruh guru. Data 8, 9, 10, 11 di atas merupakan tindak direktif mengajak karena mendeskripsikan penutur yaitu guru mengajak mitra tuturnya yaitu murid untuk ke perpustakaan, rajin membaca dan bertepuk tangan. Hal ini sejalan dengan teori yang diutarakan Prayitno . tindak direktif mengajak yaitu tuturan yang bertujuan mengajak mitra tutur agar melakukan suatu hal seperti yang telah diucapkan oleh penutur lewat tuturannya. Tindak Direktif Memaksa Tindak direktif memaksa merupakan indikator mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang diharuskan dan dimaksudkan di dalam tuturan penutur kepada mitra tutur atau lawan bicaranya. Ditemukan sebanyak 4 tindak direktif memaksa saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 12 Guru : Harus ditulis! Kalo ado yang dak nulis nanti ibu tanyo tapi dak tau awas yo! Konteks : Guru selesai menulis dipapan tulis dan menyuruh murid untuk mencatat, tetapi ada murid yang malas menulis dan menanyakan apakah boleh untuk tidak menulisnya. Data 13 Guru : Apo yang dimaksud dengan penilaian ha? . ukul papan Jangan planga plongo be. Apo jawabannyo? Konteks : Ketika semua murid selesai menulis Guru pun menghapus papan tulis dan bertanya kepada murid tetapi tidak satupun yang menjawab. Data 14 Guru : Hari jumat besok dibawak surat perjanjian dan video saat meminta maaf ke ibunya karena tidak membuat tugas ya, jika tidak dibawa maka kalian harus bikin 10 buah surat perjanjian dan 10 video. Konteks : Saat disuruh mengumpulkan tugas tetapi ada beberapa anak yang tidak membuat tugas. Data 15 Guru : Bagus dak tulisan Ibu? Iyolah harus bagus tulisan Ibu. Konteks : Setelah selesai menulis dan menyuruh murid mencatat yang ditulis di papan tulis, guru menanyakan tulisannya kepada murid. Data 12, 13, 14, dan 15 pada tuturan di atas merupakan tindak direktif memaksa karena mendeskripsikan guru yang mengharuskan dan memaksa mitra tuturnya yaitu murid untuk mencatat yang ada di papan tulis, menjawab pertanyaan, membuat surat perjanjian bagi yang tidak buat tugas dan memaksa murid untuk memuji tulisannya bagus. Tindak Direktif Menagih Tindak direktif menagih merupakan indikator yang meminta mitra tuturnya supaya memenuhi janji yang sebelumnya telah disampaikan kepada Ditemukan sebanyak 4 tindak tutur direktif menagih saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 16 Guru : Yang dibelakang tu mano bukunyo? Kok masih ado yang tinggal bukunyo? Kan minggu belakang udah Ibu bilangin buku paketnyo dibawak kalo belajar. Konteks : Ketika guru menyuruh mengeluarkan buku paket bahasa Indonesia, tetapi ada salah satu murid yang tidak membawa buku paket. Data 17 Guru : Kemaren udah ibu ajarin dan jelasin apo itu pengertian opini, nah sekarang ibu tanyo apo pengertian opini tu?. Konteks : Guru menanyakan pelajaran yang telah dipelajari minggu lalu kepada murid. Data 18 Guru : Kemarin Ibu ada beri tugas kan? Mana tugasnya? Sudah selesai semua? Konteks : Guru menanyakan tugas yang telah diberikan minggu lalu Data 19 Guru : Kemarin ibuk perintahkan bagi yang dak buat tugas untuk buat surat perjanjian dan video saat minta maaf ke orang tuonyo kareno dak buat tugas. Ingat dak? Nah yang dak buat tugas kemaren mano surat dan videonyo? Cuma satu orang yang mengirimkan videonyo ke WA ibuk. Konteks : Guru menanyakan tugas yang telah diberikan minggu lalu sebagai hukuman kepada siswa yang tidak membuat tugas. Data 16, 17, 18 dan 19 di atas merupakan tindak direktif menagih karena mendeskripsikan guru yang menagih buku paket yang disuruh dibawa minggu lalu, menagih ingatan tentang materi minggu lalu, dan mengagih yang telah diberikan minggu lalu kepada murid. Hal ini sesuai dengan indikator tindak direktif menagih yaitu meminta mitra tuturnya supaya menepati janji yang telah diutarakan sebelumnya kepada penutur. Tindak Direktif Mendesak Tindak direktif mendesak merupakan indikator yang meminta dengan penuh harap agar permintaannya dapat dikabulkan oleh mitra tuturnya. Ditemukan sebanyak 2 tindak direktif mendesak saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data Data 20 Guru : Cepat yo, jangan lamo nian! Konteks : Setelah beberapa menit guru menunggu murid mencatat. Data 21 Guru : Ibu hitung sampai 3, kalo sampai 3 belum dikumpulkan dak Ibu terimo lagi. Konteks : Ketika disuruh mengumpulkan tugas saat itu juga tetapi ada yang belum selesai sedangkan waktunya sudah habis. Data 20 dan 21 di atas merupakan tindak direktif mendesak karena mendeskripsikan penutur yaitu guru mendesak mitra tutur yaitu murid untuk cepat menulis dan mendesak untuk segera mengumpulkan tugas mereka. Tindak Direktif Memohon Tindak direktif memohon merupakan tindak yang meminta dengan hormat serta penuh harapan agar mendapatkan sesuatu dari mitra tutur atau lawan bicaranya. Ada sebanyak 3 tindak direktif memohon yang ditemukan pada proses pembelajaran bahasa Indonesia kelas Vi. Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 22 Guru : Ibu mau kekantor dulu sebentar. Ibu mohon kalian jangan keluar dan jangan ribut ya. Nanti dilihat sama guru lain dak Konteks : Guru memberi pesan kepada murid sebelum dia pergi ke Data 23 Guru : Nak tolong nanti setelah dibaca bukunya ditarok lagi ke tempat kalian mengambil ya. Naroknya jangan kebalik dan tolong dirapikan jangan sampai berantakan. Mohon kerja samanya ya. Konteks : ketika tiba di perpustakaan Guru meminta agar murid tidak membuat berantakan rak buku Data 24 Guru : Irma kedepan bentar Nak, ibu minta tolong panggil nama 3 orang ini . emberi kerta. di kelas Vi C suruh mereka ke sini sebentar ya. Konteks : Setelah selesai memberikan tugas guru meminta satu orang murid untuk memanggil tiga orang murid di kelas lain untuk menemuinya di kelas itu karena ada yang ingin Data 22, 23, dan 24 di atas merupakan tindak direktif memohon karena mendeskripsikan penutur yaitu guru memohon kepada mitra tutur yaitu murid untuk tidak keluar kelas saat dia pergi kekantor, memohon agar murid tidak membuat berantakan rak buku ketika di perpustakaan, dan meminta salah satu murid untuk memanggil murid di kelas Vi C untuk menemuinya. Hal ini sesuai dengan indikator tindak direktif memohon yaitu meminta dengan sungguh dengan penuh harapan agar mendapatkan sesuatu dari lawan Tindak Direktif Mennyarankan Tindak direktif menyarankan merupakan indikator yang memberi usul/pendapat atau ujaran yang dikemukakan pada mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu yang di dalam tuturan penutur sarankan kepada mitra Ditemukan sebanyak 5 tindak direktif menyarankan waktu proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 25 Guru : Yang dibelakang tu kalo dak nampak tulisan di papan tulis ni, enak pindah ke bangku kosong di depan be biak nampak tulisannyo. Konteks : Setelah selesai menulis di papan tulis dan guru menyuruh murid menulis di buku catatannya. Data 26 Guru : Jadi Nak, klo dirumah tu rajin-rajinlah baco buku biak banyak pengetahuan dan nambah ilmu. Jangan main hp be terus sampai lupo belajar. Konteks : Saat guru bertanya kepada murid saat jam pelajaran tetapi tidak ada satupun yang bisa menjawab. Data 27 Guru : Usahakan malam sebelum tidur buku yang untuk pelajaran besok paginyo tu udah disiapin dan dimasukkan kedalam tas. Biar dak ado cerito lupo bawak buku lagi Nak. Dengar dak?. Konteks : Ketika guru menyuruh mengeluarkan buku paket bahasa Indonesia, tetapi ada salah satu murid yang tidak membawa buku paket. Data 28 Guru : Saran ibu lebih baik pakai tabel biar mudah ngerjoinnyo. Konteks : Saat sedang mengerjakan tugas ada murid yang bertanya kepada guru mengenai pembuatan tugas. Data 29 Guru : Mending digaris be pakai penggaris biar rapih. Pinjam penggaris kawan kalo dak ado penggaris. Konteks : Guru berjalan mendatangi meja-meja murid untuk melihat tugas yang sedang mereka buat. Data 25, 26, 27, 28 dan 29 di atas adalah tindak direktif menyarankan karena mendeskripsikan penutur yaitu guru mengemukakan pendapat atau usul kepada mitra tuturnya yaitu murid untuk duduk di depan saja jika tidak bisa melihat tulisan dari belakang, menyarankan murid untuk rajin membaca ketika di rumah dibandingkan main gawai, menyarankan untuk menyiapkan buku pelajaran saat sebelum tidur supaya tidak ada yang ketinggalan, dan menyarankan menggunakan penggaris ketika membuat tabel agar lebih bagus dan rapi. Hal ini sesuai dengan indikator tindak direktif menyarankan yaitu memberi usul atau pendapat pada mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu yang disarankan di dalam tuturan penutur kepada mitra tuturnya. Tindak Direktif Memerintah Tindak direktif memerintah merupakan indikator yang meminta mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu yang telah diucapkan atau dimaksudkan dalam tuturan penutur kepada mitra tuturnya, karena penutur mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari mitra tutur. Ditemukan sebanyak 11 tindak direktif memerintah saat pembelajaran bahasa Indonesia pada kelas Vi Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 30 Guru : Semuanya perhatikan kedepan! Coba dilihat video ni! Ini video permintaan maaf dan saat minta tanda tangan orang tua untuk surat perjanjian karena tidak membuat tugas/pr. Jadi tidak ada lagi alasan untuk tidak mengerjakan pr/tugas. Konteks : Saat proses pembelajaran Guru menyuruh murid mempehatikan kedepan karena ada yang ingin Data 31 Guru : Suaronyo Nak!. Konteks : Saat jam pelajaran berlangsung terjadi keributan di dalam Data 32 Guru : Yang tidak ada LKS, buka buku halaman 153 di buku Konteks : Ketika ada beberapa murid yang belum mempunyai LKS saat belajar. Data 33 Guru : Buka halaman 162 kalian kerjakan bagian A dan B! Konteks : Guru memberikan tugas setelah selesai menjelaskan Data 34 Guru : Silahkan kumpulkan tugasnya kedepan. Sekarang!. Konteks : Saat jam pelajaran sudah hampir selesai ibu guru menyuruh semua murid mengumpulkan tugasnya segera. Data 35 Guru : Nanti kita ke perpus, pilih buku yang sesuai yang kamu sukai, nanti tulis judulnya, pengarang, tahun terbit dan juga tebal halamannya! Konteks : Sebelum pergi ke perpustakaan Guru menjelaskan tugas yang akan mereka kerjakan di perpustakaan. Data 36 Guru : Yang tidak buat maju kedepan!. Konteks : Guru menanyakan tugas yang telah diberikan minggu lalu. Data 37 Guru Konteks Data 38 Guru Konteks Data 39 Guru Konteks : Bersihkan dulu sampah yang ada didepan kelas sekarang! Setelah itu baru masuk. : Guru memberikan hukuman bagi murid yang tidak membuat tugas. : Catat yang dipapan tulis ni ke buku kalian dulu!. : Setelah selesai menulis di papan tulis guru menyuruh murid mencatatnya. : Hapus papan tulisnya dulu!. : Saat masuk ke kelas dan melihat papan tulis belum bersih guru menyuruh murid untuk menghapusnya. Data 40 Guru Konteks : Yang telat ni push-up 5 kali dulu baru boleh duduk!. : Murid yang terlambat sedang diberi hukuman untuk push-up. Data 30, 31, 32, 33, 34, 45, 36, 37, 38, 39, dan 40 di atas merupakan tindak direktif memerintah karena mendeskripsikan penutur yaitu guru memerintahkan kepada mitra tutur yaitu murid untuk melalukan sesuatu, kemudian mitra tutur segera melakukannya. Hal ini sejalan dengan teori yang telah dikemukakan oleh Prayitno . tindak direktif memerintah yaitu ucapan yang mempunyai maksud untuk menyuruh mitra tutur melakukan Tindak Direktif Memberikan Aba-aba Tindak direktif memberikan aba-aba merupakan indikator mitra tutur untuk mengikuti sesuatu sesuai yang diucapkan atau dimaksudkan dalam isyarat penutur kepada lawan bicara atau mitra tutur. Ditemukan sebanyak 4 tindak tutur direktif memberikan aba-aba saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data Data 41 Guru : Kita masih ada waktu 15 menit lagi. Ibu lanjut menjelaskan lagi ya. Konteks : Ketika guru sedang menjelaskan dan bel pergantian jam untuk kelas lain berbunyi. Data 42 Guru : 1,2,3,4,5 nah sudah duduklah. Konteks : Murid yang terlambat sedang diberi hukuman untuk push-up. Data 43 Guru : Jadi hari ini kita mulai semester 2 pembelajaran bahasa Indonesia ya. Konteks : Setelah selesai berdoa sebelum memulai pelajaran guru sedikit berbincang dengan murid. Data 44 Guru Konteks : Satu menit lagi ya. : Guru menyuruh murid untuk membaca novel di buku paket bahasa Indonesia dan memberikan waktu untuk mereka membaca. Data 41, 42, 43 dan 44 di atas merupakan tindak direktif memberikan aba-aba karena mengandung isyarat dalam tuturannya aga mitra tutur Hal ini sesuai dengan indikator tindak direktif memberikan abaaba yaitu meminta lawan bicara mengikuti sesuatu yang telah dikatakan atau dimaksudkan dalam isyarat penutur kepada mitra tutur. Tindak Direktif Menantang Tindak direktif menantang merupakan indikator mitra tutur untuk mengikuti sesuatu yang telah disebutkan atau dimaksudkan di dalam tuturan penutur kepada mitra tuturnya yang berisi tantangan. Ditemukan sebanyak 4 tindak direktif menantang saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Vi berlangsung. Tuturannya dapat dilihat pada data berikut: Data 45 Guru : Ngapo kalian senyum-senyum ha? Main-mainlah terus yo biak ibu hukum lagi. Konteks : Ketika guru lagi menjelaskan di depan tetapi ada murid yang main-main di belakang. Data 46 Guru : Ngomonglah terus Fasha biar ibu kurangi nilainyo!. Konteks : Saat guru lagi menjelaskan tetapi ada murid yang sudah diperingatkan, tetapi tetap saja mengobrol. Data 47 Guru : Sekali lagi protes minta kurangin tugas, bakal ibu tambahin lagi tugasnyo. Siapo yang nak protes lagi tunjuk Konteks : Saat guru memberikan tugas tetapi ada beberapa murid yang protes karena tugasnya banyak. Data 48 Guru : Kalo berani nyanyi di depan ni nah! Biar kawan yang lain dengar jugo. Jangan berani dibelakang be. Konteks : Saat guru sedang berdiskusi dengan murid tetapi ada satu orang murid perempuan yang bernyanyi di belakang. Data 45, 46, 47 dan 48 di atas merupakan tindak direktif menantang karena mendeskripsikan penutur yaitu guru menantang mitra tutur yaitu murid untuk melakukan sesuatu seperti menantang murid yang berbicara untuk terus berbicara dan menantang murid yang bernyanyi di kelas untuk bernyanyi dihadapat murid-murid lainnya. Penelitian ini sejalan dengan teori Leech . ia mengatakan tindak tutur yang termasuk dalam ilokusi direktif yaitu. memesan, memerintah, meminta, merekomendasikan, dan menasihati. Serta Searle (Putrayasa, 2014 :. juga mengatakan bahwa tindak tutur yang termasuk dalam tindak tutur direktif ini yaitu: memohon, meminta, memerintahkan, memesan, mengajak, mengundang, merekomendasikan, mendesak, menyuruh, menyarankan, memaksa, menagih, menuntut, memberikan aba-aba, memberi nasihat, dan Simpulan Pada hasil penelitian tindak direktif guru bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran siswa kelas Vi di SMPN 19 Kota Jambi ditemukan adanya penggunaan tindak direktif meminta, mengajak, menagih, memaksa, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba dan tindak direktif menantang dengan jumlah seluruh tuturan sebanyak 48 tuturan. Daftar Referensi Chaer. Dkk. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Darwis. Tindak Tutur Direktif Guru di Lingkungan SMP Negeri 19 Palu: Kajian Pragmatik. Jurnal Bahasa dan Sastra, 4. , 23. Kridalaksana. Kamus Linguistik. Edisi keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Leech. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan Oka. dan Setyadi. Jakarta: UI Press. Pande. , & Artana. Kajian Pragmatik Mengenai Tindak Tutur Bahasa Indonesia Dalam Unggahan Media Sosial Instagram@ Halostiki. ALFABETA: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya, 3. , 32-38. Prayitno. Studi Sosiopragmatik. Surakarta: Muhammadiyah UniversityPress. Purba. Tindak Tutur dan Peristiwa Tutur. Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 1. Putrayasa. Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Stambo. , & Ramadhan. Tindak Tutur Ilokusi Pendakwah dalam Program Damai Indonesiaku Di TV One. BASINDO: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya, 3. , 250-260. Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Wiryotinoyo. Implikatur Percakapan Anak usia Sekolah Dasar. Malang: Um Press.