Ad-Daqqoq: Journal of Religion and Social Movement Vol. 1 Issue 2, 2025 DOI: XX. x/x E-ISSN: x-x Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer Ahmad Nabil Amir Former Associate Research Fellow International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM) Kuala Lumpur nabiller2002@gmail. Article History Received: 25-11-2024 Reviced: 27-01-2025 Accepted: 31-02-2025 Keywords: Al-Hadi. Modernism. Malaya. Religious Reform, al-Imam Abstract: The paper discusses the work of Sayid Syekh al-Hadi . the leading advocate of Pan Islamic movement and Islamic reform in Malaya that espoused the modern ideal of Sayid Jamal al-din al-Afghani. It looks into his interpretation of religious ideal that underlie his vision for reform and renewal from his classic column and novels that response to the traditional practice and customs of the Malays. In this regard, it analyzed aspects of reform that he developed which included the contested ideas of religious orthodoxy, dogma and rituals, modern Islamic consciousness, independent reasoning and ijtihad, current socio-political condition and its underdevelopment and womensAo empowerment and The study is qualitative in nature based on library and documentary survey. The finding shows that al-Hadi had left behind modern impression of reform that aspired to bring socio-political and cultural progress in contemporary society and raising awareness of the higher value of Islamic spirituality and its liberal, progressive and dynamic implications for society. This is an open access article under CC BY-SA 4. 0 license. Copyright A 2024 by Author. Pu blished by CV. Zamron Pressindo Available online at: https://journal. id/index. php/addaqqo/issue/archive Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer Abstrak: Artikel ini membahas pemikiran Sayid Syekh al-Hadi . , seorang aktivis dan tokoh pembaharu Islam, serta penganjur paham modernisasi yang terinspirasi dari pengaruh Pan-Islamisme Jamal al-Din al-Afghani. Artikel ini meneliti aspek-aspek pembaharuan yang dikembangkannya terkait dengan tradisi dan pengaruh ortodoksi terhadap paham dogmatis, praktik ritual, kesadaran modern, penggunaan akal dan ijtihad, keterbelakangan sosial-politik umat, serta pembebasan perempuan. Kajian ini bersifat kualitatif berdasarkan penelitian pustaka dan dokumentasi. Temuan kajian menunjukkan bahwa Sayid Syekh al-Hadi meninggalkan paham dan aspirasi modern yang berpengaruh dalam konteks pemurnian Islam dan pemikiran pembaharuan yang terkait dengan doktrin kalam dan ideologi hukum, prinsip maqasid, filsafat moral, serta kemajuan sosial-politik, etika, dan budaya yang meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai agama yang liberal, progresif, dan dinamis. Kata kunci: Al-Hadi, modernisme. Tanah Melayu, pembaharuan agama, al-Imam PENDAHULUAN AuTidak diragukan lagi bahwa para penjaja agama dan penjual jimat, atau pembawa tasbih, atau mereka yang menipu kaum perempuan, serta para pengikutnya akan mencela saya dengan berbagai kata-kata buruk karena tulisan saya Namun, saya tidak peduli dengan ucapan mereka selama saya menyerukan ajaran Al-QurAoan. Kepada Allah-lah saya bergantung. Ay (Sayid Sheikh al-Hadi. Saudara, 27 Oktober 1. Artikel ini mengupas pemikiran modern yang dibawa oleh Sayid Syekh alHadi . , seorang ulama dari kalangan elite Hadhrami, yang telah memunculkan gagasan baru dalam mendorong kemajuan dan kebangkitan Islam di Tanah Melayu. Pemikiran pembaruan ini diusung dalam misi pencerahan yang dilanjutkannya sebagai warisan dari Sayid Jamal al-Din al-Afghani. Muhammad Abduh, dan Muhammad Rashid Rida, yang merupakan tokoh pembaharu besar dan tiga kekuatan ideal yang telah memicu perubahan signifikan di dunia Islam sepanjang abad ke-19 hingga ke-20 Masehi. Perjuangan islah ini dilanjutkan di Malaya oleh alHadi, yang mengembangkan paham pembaruan dan reformasi Islam yang diilhami oleh Abduh di Mesir. Al-Hadi mewujudkan ide-ide pembaharuan yang substansial dalam tulisannya, dengan kemampuannya menerjemahkan Tafsir al-QurAoan yang dikarang oleh Muhammad Abduh serta mengadaptasi pemikiran dan karya tersebut menjadi Ibrahim Abu Bakar. Islamic Modernism in Malaya: The Life and Thought of Sayid Syeikh Al-Hadi 18671934 (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir buku Ugama Islam dan Akal. Ia juga menyebarkan paham pembaruan ini melalui majalah al-Imam, al-Ikhwan, dan Saudara, yang membangkitkan semangat perubahan dan kebangkitan, serta memicu gagasan pembaruan dan penentangan terhadap penjajah, yang menjadi katalisator perjuangan kemerdekaan di Tanah Melayu pada awal 1920-an hingga 1930-an. Al-Hadi juga mendirikan Madrasah al-Iqbal al-Islamiyah di Singapura pada tahun 1907. Madrasah al-Hadi di Melaka . , dan Madrasah al-Mashoor di Pulau Pinang . , serta berperan sebagai mudir . epala sekola. yang berupaya mencetak kader-kader penerus perjuangan dan cita-cita pembaruannya. Ia juga mengelola percetakan sendiri, yaitu Jelutong Press, yang berbasis di Pulau Pinang. Setelah menghadapi perlawanan dari masyarakat setempat atas gagasannya yang dianggap radikal, ia pindah dari Melaka ke Pulau Pinang, yang posisinya strategis dan terbuka sebagai kota pelabuhan kosmopolitan, sehingga kondusif untuk melancarkan reformasi dan perubahan. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, angkah-langkah analisis dilakukan secara sistematis untuk menggali lebih dalam pemikiran Sayid Syekh al-Hadi dengan pendekatan perbandingan ideologis dan analisis historis. Pertama, peneliti membandingkan pemikiran al-Hadi dengan gagasan-gagasan reformis besar lainnya, seperti Jamal alDin al-Afghani. Muhammad Abduh, dan Rashid Rida. Langkah ini penting karena alHadi dipengaruhi secara signifikan oleh pemikir-pemikir tersebut, terutama dalam hal modernisasi Islam dan penerapan ijtihad. Perbandingan ini dilakukan dengan memeriksa teks-teks kunci dari masing-masing tokoh, serta konteks di mana gagasan mereka berkembang. Misalnya, bagaimana al-Hadi mengadaptasi pemikiran Abduh tentang pembaruan pendidikan Islam di Mesir ke dalam sistem pendidikan di Tanah Melayu, sambil mempertimbangkan perbedaan kondisi sosial-budaya di kedua wilayah tersebut. Selain membandingkan ideologinya dengan tokoh-tokoh lain, peneliti juga melakukan analisis tematik terhadap teks-teks karya al-Hadi, seperti tulisannya di majalah al-Imam dan al-Ikhwan. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi tematema utama yang terus berulang dalam karyanya, seperti pembaruan pendidikan, peran perempuan dalam masyarakat, serta perlawanan terhadap kolonialisme. Setiap tema kemudian dieksplorasi lebih lanjut dengan melihat bagaimana al-Hadi membingkai argumennya dalam konteks situasi sosial-politik yang ia hadapi pada saat itu. Misalnya, gagasan pembebasan perempuan yang dia suarakan di al-Imam tidak hanya merupakan adopsi dari ide-ide progresif di Mesir, tetapi juga merupakan Syed Sheikh bin Ahmad Al-Hadi. Kitab Alam Perempuan (Pulau Pinang: Jelutong Press, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer respons terhadap realitas sosial yang ia lihat di Tanah Melayu, di mana peran perempuan dalam masyarakat sangat terbatas. Penelitian ini juga memperhatikan konteks historis di mana al-Hadi beroperasi. Konteks ini melibatkan pengaruh kolonialisme di Tanah Melayu, dinamika antara kelompok tradisional dan modernis, serta bagaimana interaksi dengan dunia Islam yang lebih luas . eperti Mesir dan Timur Tenga. membentuk pemikiran lokal. Oleh karena itu, pendekatan historis digunakan untuk menempatkan al-Hadi dan karyanya dalam kerangka sejarah yang lebih besar, yang memungkinkan peneliti untuk memahami faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan Penggunaan pendekatan ini juga membantu dalam memahami resistensi yang dihadapi oleh al-Hadi dari kelompok tradisional yang menolak pembaruan yang ia tawarkan, serta bagaimana ia menavigasi perlawanan tersebut. Dengan menggunakan berbagai metode analisis ini, penelitian ini bertujuan untuk menghadirkan gambaran yang menyeluruh dan mendalam mengenai kontribusi intelektual al-Hadi. Fokusnya tidak hanya pada pengaruh gagasan dari luar, tetapi juga pada bagaimana al-Hadi mengontekstualisasikan dan memodifikasi ide-ide tersebut agar relevan dengan realitas lokal. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih komprehensif tentang bagaimana gagasan modernisasi Islam dapat disesuaikan dengan konteks sosial-budaya yang berbeda, serta bagaimana al-Hadi berhasil membangun wacana pembaruan yang tetap relevan hingga saat ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Kehidupan Sayid Sheikh bin Ahmad Hasan al-Hadi lahir pada 24 Rajab 1281 H/ 25 Desember 1864 M di Hulu Malaka. Beliau berdarah Arab-Melayu yang berasal dari Hadhramaut. Yaman. Al-Hadi memperoleh pendidikan awalnya di sekolah Melayu di Melaka, dan kemudian di sekolah pondok di Kuala Terengganu. Setelah pindah mengikuti keluarganya ke Pulau Penyengat. Riau, ia melanjutkan studinya di sana dengan mendalami ilmu agama, sastra, dan budaya dari ayah angkatnya. Raja Haji Ali Kelana bin Yang Dipertuan Muda Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Pada masa itu. Kesultanan Riau-Lingga adalah pusat kebudayaan yang megah dan telah membentuk kerangka pemikiran serta pandangan dunia al-Hadi yang luas. Corak pemikirannya didasarkan pada pandangan Islam yang kritis dan mendalam, yang memunculkan kesadarannya untuk mempelajari dan meneliti kitab- Bakar. Islamic Modernism in Malaya: The Life and Thought of Sayid Syeikh Al-Hadi 1867-1934. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir kitab fikih dan karya klasik mazhab tua, seperti yang dicatat oleh putranya. Syed Alwi, dalam surat pribadinya: AuSelain belajar dengan guru, almarhum itu lebih gemar memperluas wawasannya dengan banyak membaca kitab-kitab, buku-buku, majalahmajalah, dan surat kabar Melayu serta Arab, meskipun pada waktu itu pengetahuannya dalam bahasa Arab belum begitu memadai. " 4 Terkesan dengan semangat perubahan dan gagasan Pan-Islamisme (Ittihad alIsla. yang terinspirasi dari jurnal al-AoUrwat al-Wuthqa dan al-Manar, al-Hadi melanjutkan perjuangan pembaharuannya dengan menerbitkan majalah al-Imam . , al-Ikhwan . , dan Saudara . Ia juga memperkenalkan sistem pendidikan Islam modern dengan mendirikan Madrasah al-Iqbal al-Islamiyyah di Singapura . Madrasah al-Hadi di Bandar Kaba. Melaka . , dan Madrasah al-Mashoor al-Islamiyyah di Pulau Pinang . , yang ia pimpin hingga tahun 1926. Madrasah al-Mashoor adalah salah satu eksperimen berhasil al-Hadi dalam menerapkan pandangan progresif dan modernnya, yang turut didukung oleh ulama muda lainnya, seperti Syeikh Muhammad Tahir Jalaluddin dan Syeikh Abdullah Maghribi, yang juga berperan penting dalam gerakan tersebut. Dalam kariernya sebagai penulis, al-Hadi telah menghasilkan berbagai karya dan tulisan yang produktif, yang memicu pemikiran baru dalam sastra Melayu modern, khususnya dalam genre novel. Beberapa karyanya antara lain adalah alTarikh al-Islami . Alam Perempuan . Tafsir Juz Amma . Tafsir alFatihah . , serta novelnya yang berlatar kehidupan modern di Timur Tengah, seperti Hikayat Setia AoAshek kepada MaAoshok-nya atau Shafik Afandi dengan Faridah Hanum, dan seri cerita detektif Rokambul . yang diterbitkan antara tahun 1928 Di antara judul-judulnya adalah Cerita Rokambul dalam Jel dan di Paris. Cerita Rokambul dalam Siberia. Cerita Rokambul dengan Puteri Rusia yang Asyik. Cerita Rokambul dengan Korban Hindi. Cerita Rokambul dengan Malium Kaum Nur. Cerita Rokambul dengan Taman Penglipur Lara, dan Cerita Rokambul dengan Perbendaharaan Hindi. Perjuangan al-Hadi yang luar biasa ini meninggalkan warisan yang penting dan berpengaruh, terutama bagi para pengikut dan masyarakat setempat yang mengenalnya lebih sebagai wartawan dan penulis, meskipun ia juga seorang ulama, pengacara syariah, pedagang, pendakwah, serta penerbit yang terkenal. Seperti yang diungkapkan oleh William Roff . AuMeskipun dalam perjalanan kariernya yang panjang dan beragam, al-Hadi menjadi pengacara syariah, pendidik, pedagang, dan Talib Samat. Syed Syeikh Al-Hadi: Sasterawan Progresif Melayu (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1. 5 Syed Mohammed Al-Hady and Azfahanee Zakaria. AuSyed Syeikh Al-Hadi: Pejuang Mata Pena Melayu,Ay in ICOMHAC 2015 (Pulau Langkawi: ICOMHAC 2015 eproceedings, 2. , 399Ae404. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer penerbit, namun dalam bidang jurnalisme dan sastra-lah ia benar-benar menonjol dan karena itulah ia dikenang hingga hari ini. Pemikiran Reformasi Falsafah pemikiran Sayid Syekh al-Hadi sangat dipengaruhi oleh ide-ide dari majalah al-Manar dan gerakan Pan-Islamisme yang dicetuskan oleh Jamal al-Din alAfghani dan Muhammad Abduh di Mesir. Ia memperjuangkan aspirasi pembaruan dengan arah Islam puritan, terinspirasi oleh pemikiran Ibn Taimiyah. Ibn Qayyim alJawziyah, dan Syeikh Muhammad Abdul Wahab pada abad ke-7 dan ke-13 Hijriah. Pemikiran yang diilhami oleh Muhammad Abduh telah mendorong perubahan dan perjuangan islah . yang efektif di Mesir. Melalui tulisannya dalam Tafsir al-Manar. Risalat al-Tauhid. Tafsir Juz AoAmma. Sharh Nahj alBalaghah, al-AoUrwa al-Wuthqa, dan Majallat al-Manar. Abduh berhasil menanamkan kekuatan dan idealisme yang jelas tentang aspirasi pembaruan yang Pemikirannya memicu semangat perubahan yang kuat, yang menginspirasi al-Hadi untuk melanjutkan perjuangan revolusioner tersebut di Tanah Melayu. Al-Hadi menggerakkan kekuatan baru di wilayah kepulauan ini dengan memimpin gerakan pembaruan di Singapura pada tahun 1907, yang kemudian mencapai puncaknya di Pulau Pinang pada tahun 1918. Pulau ini menjadi benteng ideal dan strategis untuk memperjuangkan cita-cita islah . Falsafah pemikiran progresif dan paham pembaruan yang radikal ini tercermin dalam jurnal bulanan Al-Ikhwan, yang dikenal sebagai Ausuara yang keluar dari seorang ikhwan yang berseru kepada seluruh saudaranya. Ay Jurnal ini memberikan pengaruh besar dalam membawa perubahan yang signifikan: AuWahai sekalian ikhwan di timur yang sedang tidur lelap, wahai saudara-saudara kami yang masih terlena dalam mimpi yang indah. Cukup. Cukup. Cukuplah tidurmu itu karena sudah melampaui batas kenikmatan fisik dan hampir-hampir engkau masuk ke golongan orang yang pingsan atau mati yang bernafas. Bangunlah segera. Bersihkan matamu dari bekas tidur yang mematikan itu. Ay (Al-Ikhwan, volume 1, nomor 1, 16 September Nilai-nilai progresif dari idealisme salaf yang diperjuangkan ini bertujuan untuk memperbaiki dan memurnikan Islam dari unsur-unsur takhayul, bidAoah, dan jumud . emunduran pemikira. Al-Hadi berusaha mengangkat semangat berpikir dan memperjuangkan cita-cita pembaruan . , seperti yang diungkapkannya dalam Al-Ikhwan: AuSadarlah dari kelalaianmu, wahai sekalian saudara. Tipuan kebodohan sudah menghilang dan cahaya pengetahuan telah muncul. Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh bangsa yang sudah bangkit itu. Mereka meruntuhkan gunung-gunung besar, membangun gedung di padang yang luas, menjadikan lautan sebagai daratan, dan daratan sebagai lautan. Bangsa yang berpengetahuan dan Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir bekerja keras pasti menjadi pemimpin. Sebaliknya, bangsa yang bodoh dan malas akan hancur. Lemparkan dirimu ke dalam kawah pengetahuan dan bantingkan tulangmu di landasan pekerjaan. Kemudian, didiklah anak-anakmu untuk mencintai keduanya sejak kecil. Ay (Al-Ikhwan, volume 1, nomor 1, 16 September 1. Pengaruh Muhammad Abduh Perjuangan dan gerakan Islam modern yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abduh di Mesir memberikan dampak besar terhadap pemikiran al-Hadi. Terinspirasi oleh gagasan pembaruan . yang dikembangkan oleh Abduh, al-Hadi berusaha menyebarkan ide-ide progresif dengan menerjemahkan sebagian besar karya Abduh, seperti Tafsir Juz AoAmma . Tafsir al-Fatihah . Kitab Alam Perempuan . iadaptasi dari karya Qasim Amin Bek. Tahrir al-MarAoah, dan Abduh. AlIslam wa al-MarAoa. Ugama Islam dan Akal . Agama Islam. Iktikad dan Ibadah . , dan Hadiah Kebangsaan . Kekuatan pengaruh ini sebagian besar dimungkinkan oleh pertemuannya dengan Abduh pada tahun 1895 di Mesir. Pertemuan ini terjadi ketika al-Hadi melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mengiringi keluarga kerajaan Riau pada akhir abad ke-19. Perjalanan ini memberikan al-Hadi kesempatan untuk mengenal lebih dalam perkembangan dunia Islam dan perjuangan kaum modernis di sana. Putranya. Sayid Alwi al-Hadi . , mencatat. AuAlmarhum telah beberapa kali pergi ke Mesir dan Tanah Suci, dan setiap kali ia harus tinggal beberapa bulan bersama-sama dengan putra-putra raja yang diiringinya. Dengan demikian, almarhum memanfaatkan peluang emas ini untuk memperluas pengetahuannya dan berkenalan dengan cendekiawan serta ulama besar di kedua negeri tersebut. Di Mesir, ia berkesempatan berkenalan dengan almarhum Syeikh Muhammad Abduh, mufti Mesir yang terkenal, serta almarhum Sayid Muhammad Rashid Ridha, pengarang majalah al-Manar. Di Mekah, ia juga berkenalan dengan almarhum Sayid Abdullah Zamawi, yang sangat dihormati oleh umat Melayu. Ay 6 Al-Hadi terus mempertahankan mazhab salafiyah yang diperjuangkan oleh Abduh, dan melanjutkan upayanya dalam menggerakkan pemikiran pembaruan . , menghancurkan benteng taklid . eniruan but. , merangkul tradisi modern, dan mengembangkan ijtihad . novasi dalam pemikiran Isla. Karena keteguhannya dalam memperjuangkan ide-ide ini, al-Hadi sering kali dicap sebagai kafir, anti-Islam. Qadiani, dan pengikut kaum al-Manar. Gagasan Pembaharuan Salah satu kontribusi penting al-Hadi dalam sejarah modern adalah munculnya ide Pan-Islamisme dan gagasan pembaruan yang ia cetuskan. Samat. Syed Syeikh Al-Hadi: Sasterawan Progresif Melayu. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer mengemukakan aspirasi perubahan menuju perbaikan . dan perjuangan reformasi untuk mengangkat martabat dan derajat umat. Perjuangan pembaruan ini membawa pesan yang mendalam untuk memperbarui idealisme dan meningkatkan nilai serta posisi bangsa dan perannya dalam percaturan dunia. Gerakan pembaruan yang digagas al-Hadi menekankan pada perubahan holistik dengan membangkitkan kesadaran dan kekuatan intelektual untuk membentuk karakter yang beradab dan multitalenta. Hal ini tercermin dalam pertanyaan yang diajukan oleh Ahmad Wahib: AuSampai di manakah para ulama kitaAiwalaupun tidak ahliAicukup memiliki apresiasi terhadap antropologi, sosiologi, kebudayaan, ilmu, dan politik serta bidang lainnya?Ay 7 Di dunia Islam, terdapat pertentangan keras antara kelompok yang menyerukan modernisasi dan sekularisasi untuk mencapai kemajuan, dengan kelompok yang bertahan pada tradisi, serta kelompok lain yang sepenuhnya menolak modernisasi dengan merangkul ide-ide spiritual atau mistik. Untuk menghadapi kebuntuan ini. Taufik Abdullah menyarankan pemugaran semangat pembaruan . Menurutnya. Aumodel yang paling tepat untuk menjawab tantangan struktural dan kultural yang muncul adalah pengembangan dan penyegaran semangat tajdid Islam, reformasiA reformasi juga berarti kesiapan untuk memahami realitas perubahan, baik secara empiris maupun normatif. Ini adalah dialog kreatif yang terus berlanjut antara kebutuhan empiris dan tuntutan doktrin, yang memungkinkan umat Muslim merumuskan respons yang tepat terhadap tantangan yang muncul. Ay8 Di wilayah Nusantara, khususnya di Tanah Melayu, perjuangan menuju pembaruan dan pencerahan . telah dipelopori oleh Sayid Syekh al-Hadi dan Syeikh Muhammad Tahir bin Syeikh Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah al-Minangkabawi al-Falaki al-Azhari . 6/1869-1377/1. sejak awal abad Mereka mengembangkan jaringan Pan-Islam (Ittihad al-Islam. dan menginspirasi gerakan politik transnasional serta pembaruan agama . ajdid al-di. Dengan tekad dan ketekunannya yang kuat, al-Hadi berjuang membawa obor pencerahan, menghapuskan taklid . eniruan but. , serta menantang kekuasaan adat yang menghambat pemikiran masyarakat. Ia menerbitkan Majalah al-Imam . , al-Ikhwan . , dan surat kabar Saudara bersama Syeikh Muhammad al-Kalali. Syeikh Tahir, dan Haji Abas Mohd Taha pada awal abad ke-20, dengan tujuan menggerakkan aspirasi pembaruan serta rekonstruksi pemikiran dan *ijtihad*. Penerbitan ini meniupkan semangat pencerahan dan pembaruan yang terinspirasi oleh idealisme reformasi yang dicetuskan oleh Sayid Jamal al-Din al-Afghani. Syeikh Ahmad Wahib. Pergolakan Pemikiran Islam (Kuala Lumpur: Institut Kajian Dasar, 2. Joseph A. Camilleri and Muzaffar Chandra. Globalization: The Perspectives and Experiences of the Religious Traditions of Asia Pacific (Selangor: Just World, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir Muhammad Abduh, dan Sayid Muhammad Rashid Rida di Mesir. Perjuangan pembaruan yang dipeloporinya berfokus pada kemurnian ajaran Islam yang diwariskan oleh ulama salaf al-salih. Pertarungan sengit antara Kaum Muda dan Kaum Tua untuk mempertahankan pandangan serta mendapatkan dukungan masyarakat memuncak pada awal 1904-1930 Masehi. Perdebatan sengit ini mengguncang wilayah Minangkabau dan Tanah Melayu, terutama terkait hukum dan praktik mazhab yang dipertahankan dengan keras, seperti perdebatan tentang berdiri saat membaca barzanji dan "marhaban", peringatan Maulid Nabi, kepercayaan bahwa bumi berada di atas tanduk lembu, melafalkan niat . saat memulai salat, tahlilan untuk orang yang telah meninggal, mentalkinkan jenazah, bidAoah hasanah, persoalan menyerupai orang kafir . , menggunakan sarung, celana panjang, dasi, dan peci, memulai puasa dengan menggunakan ilmu hisab dan ilmu falak . elain menggunakan rukya. , ziarah dan memuliakan kuburan, nazar di tempat keramat, serta penggunaan zikir dengan metode yang tidak bersandar pada sanad hadits yang sahih, hingga pengambilan cindur buta . ina but. sebagai penyelesai perceraian. Pertarungan pemikiran antara Kaum Muda dan Kaum Tua ini memicu reaksi keras dari ulama tradisional yang mencoba memfitnah dan mendiskreditkan Kaum Muda di hadapan pengikutnya. Mereka menuduh Kaum Muda telah menyimpang dari mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, memeluk paham MuAotazilah. Khawarij. Wahabi, dan Zindik, serta menganggap mereka sesat dan menyesatkan. Pertarungan ini dianalisis secara mendalam oleh H. Federspiel . dalam bukunya AoPersatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century IndonesiaAo. menyoroti pandangan kaum tradisionalis (Kaum Tu. yang tetap berpegang pada ajaran ulama terdahulu, dengan keyakinan bahwa kebenaran ajaran ulama besar di era klasik dan pertengahan, seperti Ghazali. Maturidi, dan al-AshAoari dalam ilmu kalam, serta para imam mazhab fikih, tidak berubah. Kaum Tua berpendapat bahwa kebenaran tersebut tidak perlu diuji atau dinilai ulang, karena ia tidak berubah seiring waktu dan tetap sah di abad ke-20 sebagaimana ketika pertama kali dirumuskan. Peninjauan ulang terhadap Al-Qur'an dan hadits tidak hanya dianggap tidak perlu, tetapi juga berbahaya karena bisa menyebabkan salah tafsir dan kekeliruan. Sebaliknya. Kaum Muda mendorong pembaruan agama dan penelitian ulang untuk menghapus taklid, yang mereka anggap sebagai "kepatuhan buta terhadap interpretasi dan ajaran syariat agama yang disampaikan oleh empat mazhab fikih "10 Abdul Karim Amrullah. Ayahku Riwayat Hidup Dr. Hj. Abdul Karim Amrullah Dan Perjuangan Kaum Agama Di Sumatera (Shah Alam: Pustaka Dini, 2. 10 H. Federspiel. Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia. Monograph (New York: Cornell University, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer Kaum Muda berkomitmen untuk menghilangkan bidAoah . novasi yang menyimpan. dan takhayul yang telah meresap dalam masyarakat. Mereka menyerukan perubahan dan penguatan pemikiran intelektual untuk menghadapi tantangan modern. Menurut Federspiel, "Mereka mengemukakan argumen yang kuat dari sumber-sumber agama, khususnya Al-QurAoan dan hadits, yang diperkuat oleh pandangan kaum modernis Islam dari Timur Tengah. Mereka membahas isu-isu ini dengan logika dan akal untuk membuktikan keabsahan pandangan mereka, serta menyangkal pandangan lawan" (Adibah Sulaiman. Ezad Azraai Jamsari, et al. , 2. Hal ini juga diperkuat oleh penegasan Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah, yang memimpin perjuangan Kaum Muda. Ia menyatakan. AuTaklid buta adalah tingkat yang paling rendah. Agama yang sejati tidak dapat ditegakkan selama umat bertaklid. pintu ijtihad tidak pernah tertutup bagi setiap orang yang berakal dan memiliki Ay11 Menerbitkan Al-Imam "Al-Imam adalah musuh yang sangat keras terhadap segala bentuk bidAoah dan takhayul . mong koson. , serta segala bentuk adat-istiadat yang dimasukkan orang ke dalam agama" Ae Al-Imam, edisi 12, volume 11, 1 Jumadil Awal 1326/1908. Al-Imam terinspirasi dari pengaruh majalah Al-AoUrwat al-Wuthqa dan al-Manar yang tersebar di Tanah Jawa dan mengguncang pemikiran masyarakat yang masih terikat dengan doktrin-doktrin kuno dari kerangka pemikiran tradisional yang usang serta dipenuhi dengan kepercayaan takhayul dan bidAoah. Majalah yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin al-Afghani. Syeikh Muhammad Abduh, dan Sayid Muhammad Rashid Rida di Paris dan Mesir ini berfokus pada pemberdayaan umat dan persatuan Islam (Pan Isla. , dengan seruan perjuangan yang dilontarkan dan digerakkan dengan efektif: "Bangkitlah wahai kaum Muslimin dari tidur nyenyakmu, bersatulah melawan penjajahan yang telah menghancurkan sisa-sisa kekuatan yang ada padamu, berdirilah dan lawanlah raja-rajamu sendiri yang menjadi penghalang dari Bebaskanlah jiwamu dari takhayul, syirik, dan bidAoah yang telah "12 Majalah Al-AoUrwat al-Wuthqa diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum Muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam jika kaum Muslimin tetap lalai dan tidak waspada (Hamka, 2010: . Majalah ini pertama kali terbit pada 5 Jumadil Awal 1301 H . Maret 1884 M) dan hanya bertahan hingga edisi terakhirnya pada Zulhijjah 1301 H . , kurang dari satu tahun karena disensor oleh pemerintah. Namun, majalah ini berhasil Amrullah. Ayahku Riwayat Hidup Dr. Hj. Abdul Karim Amrullah Dan Perjuangan Kaum Agama Di Sumatera. 12 Amrullah. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir meraih kesuksesan luar biasa dalam mempromosikan agenda pembebasan dan menyebar luas ke India. Iran. Mekah. Madinah, dan Indonesia. Hamka dalam analisisnya mengenai kekuatan ide di balik pemikiran-pemikiran filosofis yang dipaparkan dalam Al-AoUrwat al-Wuthqa menjelaskan bahwa semangat perjuangan islah yang didorongnya terus menyala dan memikat pembacanya sepanjang zaman: "Setiap orang yang membaca majalah ini, jika dalam dirinya ada bibit untuk menerimanya, maka pandangan hidupnya akan berubah, dan ia segera mempersiapkan dirinya untuk menjadi mujahid Islam. Bahkan sampai saat ini, ketika kita membaca majalah tersebut, meskipun telah berlalu 80 tahun, semangat kita masih dibangkitkannya untuk bangkit. "13 Al-Imam dibiayai sepenuhnya oleh Syeikh Muhammad bin Salim al-Kalali pada edisi pertamanya, seorang hartawan dan saudagar keturunan Arab di Singapura. Kemudian, atas inisiatif Sayid Muhammad bin Agil dan Sayid Sheikh al-Hadi, dikeluarkan obligasi khusus untuk penerbitan majalah ini dengan modal sebesar 000 ringgit. Pada edisi pertama. Al-Imam menyalin artikel dari Al-AoUrwat al-Wuthqa yang berjudul Wadhakkir Fa Inna al-Dhikra TanfaAo al-MuAominin, dan pada edisi kedua, disalin artikel berjudul al-QadaAo dan al-Qadar (Hamka, 2010: . Pada edisi ketiga, diterbitkan pertanyaan dari pembaca mengenai riwayat hadis miAoraj tentang langit keempat yang terbuat dari tembaga, langit ketiga dari besi, langit kedua dari batu, dan langit pertama dari emas. Al-Imam dengan tegas menjawab: "Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada satu pun hadis yang sahih yang menjelaskan tentang tujuh jenis lapisan langit atau ketebalannya. Kebanyakan cerita yang disampaikan oleh tukang cerita tentang miAoraj itu adalah kebohongan yang nyata. Walhasil, tidaklah wajib mempercayai sesuatu kecuali dengan dalil akal yang jelas dan tidak ada keraguan, atau dengan dalil samAoi . ang didenga. yang sahih dari Nabi SAW "14 Penulis utama Al-Imam adalah Syeikh Muhammad Taher Jalaluddin, dan ketika beliau pergi ke Mekah dan Mesir, urusan penulisan diserahkan kepada wakilnya. Haji Abbas Taha. Sayid Sheikh al-Hadi, dan Sayid Muhammad bin Agil. Perjuangan berat yang dipimpin oleh Shaikh Taher untuk melanjutkan cita-cita alManar ini terhenti setelah majalah yang disebut sebagai pelopor pembaruan Islam ini dihentikan pada tahun 1909. Majalah ini kemudian dilanjutkan dengan penerbitan Majalah al-Munir . yang dikelola oleh Hj. Abdullah Ahmad. Syeikh Hj. Abdul Karim Amrullah, dan Syeikh Jamil Jambek, serta Pengasoh . AoSeruan alAzharAo . , dan al-Ikhwan . sebagai penerus obor perjuangan Kaum Muda. Amrullah. Amrullah. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer Dalam perjuangannya untuk mendorong perubahan, al-Hadi fokus pada penulisan sebagai alat utama perjuangannya. Majalah pertamanya. Al-Imam, diterbitkan di Singapura pada tahun 1906 bersama Sheikh Mohammad Salim alKalali. Syeikh Muhammad Tahir Jalaluddin al-Falaki. Syed Muhammad Aqil. Syed Awad Saidan, dan Haji Abbas bin Muhammad Taha . , yang mengelola majalah ini sejak terbit pada 23 Juli 1906 hingga Desember 1908. Al-Imam merupakan majalah yang berfokus pada "pelajaran, pengetahuan, dan berita", diterbitkan dalam aksara Jawi, dengan 32 halaman dan dijual dengan harga 25 sen per eksemplar. Majalah ini meniupkan semangat nasionalisme dan pembaruan, serta menyerukan perjuangan untuk "menuntut kemajuan bagi anak-anak negeri". Al-Imam juga mengangkat perdebatan agama yang intens, memperkenalkan pemahaman baru tentang mazhab, ijtihad, maqasid syariah, qadhaAo, dan qadar, serta membahas penyebab kemunduran umat dan menangani isu-isu politik dan sosial yang muncul. Kontribusi al-Hadi dalam mempelopori perjuangan Al-Imam diungkapkan oleh William Roff dalam bukunya The Origins of Malay Nationalism (Nasionalisme Melay. : "Perannya dalam pembentukan kebijakan Al-Imam mungkin dianggap berlebihan, sebagian besar karena reputasinya kemudian sebagai seorang penulis, tetapi tidak dapat disangkal bahwa banyak artikel yang sangat kuat dan lantang dalam kolom itu berasal dari penanya. Ay15 Melanjutkan perjuangan Al-Imam, al-Hadi menerbitkan majalah al-Ikhwan . dan AoSaudaraAo . di Pulau Pinang, yang diterbitkan oleh perusahaan percetakannya sendiri. Jelutong Press. Kedua majalah ini lebih efektif dalam mendorong perubahan dan memperkuat perjuangan umat di Timur, seperti yang dinyatakannya secara lantang dalam edisi awal: "Tidakkah kamu mendengar suara badai yang bergemuruh ini? Tidakkah kamu merasakan getaran pada pohonpohon dan bangunan-bangunan yang dihantam oleh hembusan angin ini?. hati orang-orang yang menunggu peringatan kita menjadi putus asa. atau akal kita telah terkena penyakit yang membuat kita tidak merasakan apa-apa lagi dari apa yang kita lihat dan dengar?" (Al-Ikhwan, volume 2, 16 Oktober 1. Al-Ikhwan juga menyerang keras sikap para pemuka agama dan mengkritik kebodohan, seperti yang digambarkan dalam artikelnya yang berjudul "Bukanlah Islam Penyebab Kejatuhan Umat Islam. Melainkan Kesalahan Para Pemuka Agama", yang mengkritik kelemahan para pemuka agama di Baghdad sehingga ditaklukkan oleh kekuatan Tartar. Hal ini dikutip oleh Alijah Gordon dalam buku suntingannya The Real Cry of Syed Shaykh Al-Hadi: "Begitu terperangkap dalam kebodohan dan kebodohan yang terus-menerus, pikiran mereka tertutup oleh kegelapan sehingga William R. Roff. The Origins of Malay Nationalism (New Haven: Yale University Press, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir mereka kehilangan kemampuan untuk memahami panggilan sejati dari agama yang "16 Majalah AoSaudaraAo, yang diterbitkan pada tahun 1928, banyak menekankan aspirasi progresif untuk memperkuat akal budi, memperkaya budaya, serta mendorong semangat juang untuk meningkatkan pengetahuan dan penguasaan ilmu secara komprehensif. Hal ini diungkapkan oleh Syeikh Tahir Jalaluddin dalam artikelnya yang berjudul AoMembetulkan Perjalanan Agama dan Peraturan Kaum MusliminAo: "Yang kita maksudkan bukanlah pelajaran sebagaimana yang diajarkan di pondok-pondok, surau, atau di serambi-serambi masjid, melainkan pelajaran yang Islam menuntut dan memahami hukum-hukum serta pengetahuan tentang adab, keterampilan dalam bisnis, dan interaksi sosial serta pengobatan, sebagaimana yang diajarkan oleh sejarah dan kitab-kitab pengetahuan Islam sejak awal hingga saat ini sesuai dengan tuntutan agama yang sebenarnya. " (AoSaudaraAo, 21 Maret 1. AoSaudaraAo juga mengangkat diskusi luas tentang semangat perubahan, peningkatan ilmu pengetahuan, serta kesadaran, dengan menekankan pentingnya pendidikan sebagai syarat mutlak untuk transformasi dan perubahan struktural. Hal ini juga diungkapkan dalam artikel yang sama oleh Syeikh Tahir, yang mengambil alih tugas sebagai editor setelah wafatnya al-Hadi pada tahun 1934: "Hidup suatu umat yang tanpa pendidikan adalah seperti gambar bergerak di film, dilihat bergerak mundur dan maju, mengernyitkan dahi, cemberut, menangis, tertawa, dan bersenang-senang, tetapi gambar itu tidak mengenali dirinya sendiri. Apalagi mengenali gerakan dan diamnya, itulah perumpamaan hidup suatu bangsa yang tidak memiliki pendidikan sama sekali". Ugama Islam dan Akal Buku Ugama Islam dan Akal ini membahas filsafat pencerahan yang diusung oleh Abduh tentang peran penting akal dalam agama untuk memahami hukum dan tujuan . dari syariat. Seperti yang diungkapkan oleh Hamka: AuTujuan agama adalah untuk menunjukkan jalan, sementara akal digunakan untuk membandingkan dan menimbangnya. Ay Dalam buku yang dicetak ulang pada tahun 1965 oleh Percetakan Pustaka Dian. Kota Bharu ini, al-Hadi menulis: AuApa masih mungkinkah akal yang mencari kebenaran menghindari pengakuan bahwa sungguh ada Tuhan yang sangat berkuasa atas segala sesuatu? Sebab, tanda-tanda kekuasaan-Nya jelas Alijah Gordon. The Real Cry of Syed Sheikh Al-Hadi: With Selections of His Writings by His Son Syed Alwi Al-Hady. (Kuala Lumpur: Malaysian Sociological Research Institute, 1. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer terlihat, dapat dirasakan, dan dipahami dengan mata kepala serta mata hati yang menggunakan akal. Ay17 Pandangan yang tegas ini jelas menuntut perubahan dalam pola pikir dan mencerminkan niatnya untuk membawa pencerahan dalam gerakan Kaum Muda serta menggali kembali tradisi intelektual yang segar. Al-Hadi merumuskan filsafat perjuangannya untuk Aumembebaskan manusia dari rasa takut terhadap kekuatan atau entitas lain selain dari sebab-musabab yang diciptakan oleh Allah untuk beroperasi di dunia ini, karena kekuasaan Allah melampaui segalanya. Oleh karena itu, manusia tidak perlu takut kepada kekuatan yang dikaitkan dengan kayu, batu, berhala, kuburan, hantu, dan setan. Ay18 Buku ini juga menekankan pentingnya memahami bacaan dalam salat, meningkatkan efektivitas penyampaian khutbah Jumat untuk menggerakkan umat, pentingnya zakat dalam membangun fondasi sosial-ekonomi, serta upaya untuk meningkatkan martabat wanita dan menjamin keadilan serta kesetaraan hak dan status mereka. Perjuangan Kaum Muda yang dipimpin oleh al-Hadi mengusung cita-cita Islam yang dinamis dan progresif. Sikap ini bertolak belakang dengan pandangan reaksioner dan konservatif yang dipertahankan oleh ulama tradisional, yang akhirnya menyeret al-Hadi ke dalam perdebatan sengit dengan Kaum Tua. Hal ini tercermin dalam tulisannya di Al-Ikhwan, yang berjudul Percayakan Ulama: Pertikaian Antara Kaum Tua dengan Kaum MudaAo . , yang menolak otoritas mutlak ulama: AuKarena alasan ini. Kaum Muda berpendapat bahwa tidak semua perkataan ulama harus diterima begitu saja seperti kita menerima apa yang tertulis dalam Al-Qur'an!Ay19 Emansipasi Wanita AuKetika Shafik Afandi mendengar kata-kata kekasihnya itu, ia pun tahu bahwa kekasihnya ini adalah salah satu perempuan yang memiliki hasrat memperjuangkan kebebasan perempuan. Ay - Hikayat Faridah Hanom, 132 Usaha al-Hadi dalam memperjuangkan kebebasan wanita sangat terlihat melalui karyanya dalam bidang penulisan, terutama melalui enam novel yang berlatar belakang kehidupan Arab modern. Novel-novel tersebut adalah AoHikayat Setia AoAshek kepada MaAoshok-nya atau Shafik Afandi dengan Faridah HanomAo . AoHikayat Taman Chinta Berahi atau Hikayat Mahir Afandi dengan Iqbal HanomAo Syed Sheikh bin Ahmad Al-Hadi. Ugama Islam Dan Akal (Kota Baru: Percetakan Pustaka Dian, 18 Al-Hadi. 19 Gordon. The Real Cry of Syed Sheikh Al-Hadi: With Selections of His Writings by His Son Syed Alwi AlHady. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir . AoHikayat Anak Dara Ghassan atau Hikayat Hendon dengan HammadAo . AoHikayat Cermin KehidupanAo . AoHikayat Pembelaan dalam Rahsia atau Kasih Saudara kepada SaudaranyaAo . , dan AoHikayat Puteri Nurul AinAo . Novelnovel ini membawa pesan pembebasan . bagi wanita Islam. Faridah Hanom menekankan keinginan untuk merdeka dari penjajahan Inggris dan berusaha menanamkan keyakinan untuk membebaskan bangsa dari perbudakan, sebagaimana diungkapkan oleh salah satu karakternya yang menyesali pandangan sempit para pemuka agama: AuTeringat akan bangsa dan tanah airnya yang berada di bawah pemerintahan bangsa lain akibat kebodohan para pemimpin dan pemuka agama, yang telah meninggalkan perkataan Allah dan Rasul-Nya, dan berpegang pada pendapat orang-orang yang tidak diutus oleh Tuhan, yang telah menyebabkan perpecahan dalam urusan agama dan dunia umat Islam. Ay 21 Novel-novelnya menggambarkan hasrat yang mendalam untuk menyejajarkan kedudukan wanita dengan pria dan membebaskan wanita dari belenggu yang menghambat kebebasan alamiah mereka. Al-Hadi juga memaparkan konflik dan ketegangan terkait masalah warisan, pernikahan paksa, serta kerapuhan masyarakat yang membiarkan tanah mereka dirampas dan dijajah, sebagaimana tercermin dalam dialog antara Faridah Hanom dan Shafik Afandi: AuKarena kebodohan dan kesombongan laki-laki kita, mereka mengeluarkan dua bagian dari kumpulan kaumnya, yaitu jumlah perempuan yang tidak diizinkan oleh mereka untuk berusaha dalam memajukan bangsanya. Mereka hanya memaksa perempuan untuk terusmenerus berdiam diri, menunggu, dan menghias diri untuk memuaskan mereka. Ay 22 Perjuangan al-Hadi ini berdampak pada pola kehidupan masyarakat Melayu sejak dekade 1920-an, di mana perkembangan novel-novelnya menjadi faktor yang berpengaruh dalam mendorong perubahan adat dan tradisi Melayu yang membatasi peran wanita. 23 Usaha dalam menuntut kebebasan dan kesetaraan hak wanita ini juga didukung oleh majalah al-Huda . , yang diterbitkan di Singapura dan memuatkan artikel-artikel tentang perjuangan kaum modernis di Mesir seperti Huda ShaAorawi. Shaykh Mustafa al-Maraghi. Muhammad Abduh, dan Qasim Amin. Dengan cita-cita yang kuat untuk memperjuangkan idealisme dan prinsip agama yang menyamakan hak dan kedudukan wanita dengan pria, serta mengangkat martabat kemanusiaan yang setara, al-Hadi mengungkapkan aspirasi modernnya dalam al-Ikhwan, melalui beberapa artikelnya, seperti AoBerubah Pemeliharaan Anak- Bakar. Islamic Modernism in Malaya: The Life and Thought of Sayid Syeikh Al-Hadi 1867-1934. Syed Sheikh bin Ahmad Al-Hadi. Faridah Hanom. Cet. 2 (Kuala Lumpur: International Library, 22 Syed Sheikh bin Ahmad Al-Hadi. Faridah Hanom (Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1. 23 Nur Saadah Hamisan. AuSyed Syeikh Ahmad Al-HadiAos Thought on WomenAos Emancipation and Gender Equality: Re-Evaluation and Analysis,Ay Afkar Special, no. : 157Ae84. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Sayid Sheikh Al-Hadi: Theologian. Scholar of Kalam. And Islamic Reformer Anak Perempuan itu Sangat-SangatAo (Al-Ikhwan, 1. Hal ini seperti dijelaskan oleh Zaba: AuAl-Ikhwan memuatkan komentar editor tentang emansipasi wanita dan gerakan feminis di Mesir, serta bagian-bagian lainnya dari sejarah Islam. Ay24 Pengaruh perjuangan Muhammad Abduh . dan Qasim Amin . sangat jelas pada al-Hadi, yang menerbitkan tulisan dan fatwa mereka di alIkhwan, seperti yang dijelaskan oleh Zanariah Noor dalam artikelnya Gender Justice and Islamic Family Law Reform in Malaysia. Pengaruh Muhammad Abduh dan Qasim Amin terlihat jelas dalam tulisan para reformis Melayu, terutama al-Hadi. menyebarkan ide-idenya tentang wanita Muslim di Malaysia melalui tulisannya yang diterbitkan di al-Ikhwan dan novelnya. Antusiasmenya terhadap ide untuk memperjuangkan status wanita dalam masyarakat Melayu mendorongnya untuk menulis secara teratur di kolom wanita AoAlam PerempuanAo di al-Ikhwan, yang sangat dipengaruhi oleh ide-ide Qasim Amin. Bahkan, hampir separuh dari tulisannya tentang wanita dalam jurnal ini adalah terjemahan dari buku Qasim Amin. Tahrir alMarAoah (Emansipasi Wanit. 25 Menurut al-Hadi, wanita memainkan peran penting dalam melanjutkan cita-cita bangsa dan menjadi katalis untuk perubahan serta perjuangan yang progresif, sebagaimana dijelaskan dalam al-Ikhwan: Wanita adalah fondasi bagi siapa pun yang ingin membangun bangsa dan negaranya. l-Ikhwan, 16 November 1926: . KESIMPULAN Dari perbincangan ringkas tentang gagasan pembaharuan yang dikemukakan Sayid Sheikh al-Hadi di atas, kita berhasil menyingkap aspirasi dan cita-cita perjuangan yang dibawanya dalam menggerakkan aspirasi dan perjuangan Kaum Muda di Malaya. Perjuangan ini telah dicetuskan oleh ketangkasan pemikirannya yang strategik bagi merempuh benteng taklid, memperjuangkan fikrah al-Manar dan mempertahankan cita-cita islah. Tulisan ini telah mempotretkan sejarah perjuangan, idealisme dan kerangka pemikirannya yang tuntas dan revolusioner dalam perjuangan memartabatkan harkat umat. Idealisme perjuangannya haruslah dilanjutkan bagi mengangkat kekuatan dan harakat pemikiran, dan memperbaharui nilai peradaban berasaskan faham agama yang bernafaskan pandangan dan nilai-nilai global yang humanistik dan progresif. 24 ZaAoaba. AuModern Development of Malay Literature,Ay Journal of Malayan Branch of Royal Asiatic 17, no. 25 Zanariah Noor. AuGender Justice and Islamic Family Law Reform in Malaysia,Ay Kajian Malaysia XXV, no. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 2, 2025 Ahmad Nabil Amir REFERENSI