Volume 5 Nomor 1 Bulan September. Tahun 2025 https://jurnal. DAMPAK IMPLEMENTASI KONSEP COMMUNITY-BASED TOURISM PADA WISATA OUTBOUND PELITA DESA CISEENG Filzah Delia Arfani1. Deni Maulana2. Syifa Pujiyanti3 Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Islam Bina Essa Jl. Cihanjuang KM. 2,45 Kabupaten Bandung Barat. Provinsi Jawa Barat filzahdeliaarfani@gmail. Naskah masuk: 26-03-2025, direvisi: 20-07-2025, diterima: 29-08-2025, dipublikasi: 01-09-2025 ABSTRAK Community-based Tourism (CBT) merupakan pendekatan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai aktor utama dalam perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan destinasi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara komprehensif dampak implementasi CBT terhadap aspek ekonomi, ekologi, dan sosial-budaya di Wisata Outbound Pelita Desa Ciseeng, sekaligus meninjau relevansinya dalam perspektif pembangunan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui observasi langsung, wawancara semi-terstruktur dengan 15 informan yang terdiri dari pengelola, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, dan pengunjung, serta analisis data dengan teknik Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi CBT mampu memberikan kontribusi nyata terhadap diversifikasi ekonomi lokal, menciptakan peluang usaha baru, serta meningkatkan pendapatan sebagian masyarakat. Di sisi ekologi, kegiatan wisata mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, meskipun masih ditemukan permasalahan seperti pengelolaan limbah yang belum optimal dan kerentanan ekosistem akibat aktivitas wisata. Pada aspek sosial-budaya. CBT terbukti memperkuat identitas budaya lokal melalui pelestarian seni, tradisi, serta praktik kearifan lokal yang diintegrasikan dalam paket wisata. Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas manajemen masyarakat, distribusi keuntungan ekonomi yang belum merata, serta kebutuhan peningkatan dukungan regulasi dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan eksternal. Dalam perspektif maqashid syariah, keberlanjutan CBT dapat ditinjau melalui dimensi al-Mal . eadilan ekonom. , al-Nafs . esejahteraan sosia. , serta khilafah . engelolaan lingkungan secara bertanggung jawa. Oleh karena itu, diperlukan strategi tata kelola adaptif dan partisipatif berbasis kolaborasi multi-stakeholder untuk memastikan CBT berkontribusi secara berkelanjutan terhadap kesejahteraan masyarakat dan terwujudnya pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kata Kunci: Pariwisata Berbasis Komunitas. Pembangunan Islam. Ekonomi. ABSTRACT Community-based Tourism (CBT) is a tourism approach that positions local communities not only as beneficiaries but also as key actors in the planning, management, and supervision of tourism destinations. This study aims to comprehensively evaluate the impact of CBT implementation on economic, ecological, and socio-cultural aspects at Pelita Desa Ciseeng Outbound Tourism, while also examining its relevance within the framework of Islamic development. The research employed a qualitative case study approach through direct observation, semi-structured interviews with 15 informants consisting of tourism managers, local entrepreneurs, community leaders, and visitors, as well as thematic data analysis. The findings reveal that CBT has significantly contributed to local economic diversification by creating new business opportunities and improving household income. From an ecological perspective, tourism activities have encouraged greater environmental awareness among the community. however, issues Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. remain regarding waste management and the vulnerability of ecosystems due to tourism pressure. In the socio-cultural domain. CBT has strengthened local cultural identity by preserving traditional arts, practices, and indigenous knowledge integrated into tourism packages. Nevertheless, several challenges persist, including limited community managerial capacity, uneven distribution of economic benefits, and the need for stronger institutional support and external stakeholder collaboration. From the perspective of maqashid sharia, the sustainability of CBT can be assessed through the dimensions of al-Mal . conomic justic. , al-Nafs . ocial welfar. , and khilafah . esponsible environmental stewardshi. Therefore, adaptive and participatory governance strategies involving multi-stakeholder collaboration are required to ensure that CBT continues to contribute to community well-being and the realization of tourism practices aligned with Islamic values. Keywords: Community-Based Tourism. Islamic Development. Economy. PENDAHULUAN Pariwisata berbasis komunitas atau Community-based Tourism (CBT) merupakan model pengelolaan destinasi wisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan utama dalam perencanaan, pengelolaan, dan pengembangan wisata. Konsep ini berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan identitas sosial-budaya lokal. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan dalam sektor pariwisata. CBT telah menjadi salah satu strategi yang diadopsi di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara lebih inklusif dan berkelanjutan. Di Indonesia, pengembangan desa wisata berbasis CBT semakin berkembang, terutama di daerah yang memiliki potensi alam dan budaya yang kuat. Salah satu contoh implementasi CBT adalah Pelita Desa Ciseeng, yang sejak tahun 2002 telah menerapkan pendekatan ini dalam pengelolaan wisata outbound. Dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal dan keterlibatan aktif masyarakat. Pelita Desa Ciseeng bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Berbagai aktivitas wisata berbasis komunitas, seperti pelatihan outbound, serta produksi kuliner dan suvenir lokal, menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun, efektivitas CBT dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan masih perlu ditelisik, terutama dalam aspek pengelolaan keuangan, distribusi manfaat ekonomi, serta partisipasi masyarakat dalam pengambilan (Kando. Adam, and Maturbongs 2. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa CBT tidak selalu memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat. (Djuni Prihatin. Susi Daryanti 2. menyoroti bahwa tanpa tata kelola yang jelas. CBT dapat menyebabkan ketimpangan ekonomi di mana hanya segelintir kelompok yang mendapatkan keuntungan, sementara masyarakat lain tetap berada dalam kondisi ekonomi yang rentan. Selain itu, studi oleh (Scoones 2. menemukan bahwa peningkatan jumlah wisatawan di kawasan berbasis CBT dapat menimbulkan tekanan ekologis yang signifikan, terutama terkait dengan pengelolaan limbah dan daya dukung lingkungan. Dalam perspektif pembangunan Islam, konsep keberlanjutan dalam CBT dapat dianalisis melalui maqashid syariah, yang mencakup keadilan ekonomi . l-Ma. , kesejahteraan sosial . l-Naf. , serta pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab . (Mahri et al. Pendekatan ini menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan CBT yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. memperhitungkan keseimbangan sosial dan ekologi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak implementasi CBT di Pelita Desa Ciseeng dalam aspek ekonomi, ekologi, dan sosial-budaya, serta meninjau keberlanjutannya dalam perspektif pembangunan Islam. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan pada tiga pertanyaan utama pertama bagaimana dampak implementasi CBT terhadap perekonomian masyarakat lokal di Pelita Desa Ciseeng. Kedua, sejauh mana CBT berkontribusi terhadap konservasi lingkungan dan keberlanjutan ekologi. Ketiga, bagaimana konsep CBT diterapkan menurut perspektif islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, mengombinasikan wawancara semi-terstruktur, observasi langsung, dan analisis dokumen untuk memahami secara mendalam implementasi CBT di Pelita Desa Ciseeng. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengelola wisata, akademisi, serta pembuat kebijakan dalam merancang strategi pariwisata berbasis komunitas yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Pelita Desa Ciseeng. Kabupaten Bogor. Jawa Barat, yang telah menerapkan CBT sejak tahun 2002. Data dikumpulkan dari sumber primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan 15 informan yang terdiri dari pengelola wisata outbound. Selain itu, dilakukan observasi langsung terhadap aktivitas wisata dan keterlibatan masyarakat. Data sekunder dikumpulkan dari laporan kebijakan, statistik BPS Kabupaten Bogor, serta studi akademik mengenai CBT. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih informan yang memiliki keterlibatan langsung dalam implementasi CBT. Data dianalisis menggunakan analisis tematik, dengan tahap pengodean data, kategorisasi tema utama . konomi, ekologi, dan sosia. , serta interpretasi temuan berdasarkan pola yang muncul. Untuk meningkatkan validitas penelitian, digunakan triangulasi metode . embandingkan hasil wawancara, observasi, dan kajian literatu. serta triangulasi sumber . emeriksa konsistensi temuan dari berbagai informa. Member checking dilakukan dengan beberapa informan untuk memastikan akurasi data. Dalam aspek etika penelitian, informan diberi penjelasan tentang tujuan penelitian dan hak untuk menarik diri kapan saja. Identitas informan dirahasiakan, dan data hanya digunakan untuk kepentingan akademik. Dengan metode ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai dampak CBT di Pelita Desa Ciseeng serta implikasinya terhadap pembangunan berkelanjutan berbasis maqashid syariah. HASIL DAN PEMBAHASAN Community-based Tourism (CBT) sebagai Model Pembangunan Berkelanjutan Community-based Tourism (CBT) merupakan model pengelolaan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan utama dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan pariwisata. Model ini bertujuan untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata didistribusikan secara adil kepada masyarakat setempat, serta mempertahankan kelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya. (Djuni Prihatin. Susi Daryanti 2. Suansri . menggarisbawahi lima elemen fundamental dalam CBT yang Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. menentukan keberlanjutan model ini. Pertama, aset sosial masyarakatAitermasuk adat istiadat, budaya, dan tradisi lokalAiyang berfungsi sebagai modal utama dalam menciptakan daya tarik wisata berbasis komunitas. Kedua, infrastruktur dan fasilitas yang tidak hanya berorientasi pada kenyamanan wisatawan, tetapi juga menjamin kesejahteraan masyarakat Ketiga, kelembagaan komunitas yang memungkinkan warga memiliki kontrol atas pengelolaan wisata, dengan kepemimpinan yang berakar pada realitas sosial dan kebijakan Keempat, distribusi manfaat ekonomi yang memastikan kesejahteraan bersama. Kelima, proses pembelajaran yang memungkinkan masyarakat bukan hanya menjadi objek wisata, tetapi juga subjek yang memiliki otoritas dalam menentukan arah perkembangan pariwisata di wilayah mereka. Hasil penelitian oleh Utami. Yusuf, and Mashuri . menunjukkan bahwa penerapan CBT di beberapa desa wisata di Indonesia, seperti di Desa Wisata Kebon Ayu, mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui diversifikasi usaha Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya kapasitas manajerial dalam mengelola destinasi wisata secara profesional. Selain itu, penelitian oleh (Putri and Frinaldi 2. mengenai CBT di Kapalo Banda Nagari Taram menemukan bahwa meskipun pendapatan masyarakat meningkat, masih terdapat kesenjangan dalam distribusi manfaat ekonomi, yang mengarah pada perlunya kebijakan yang lebih inklusif. Konsep Pembangunan Islam dalam CBT Dalam Islam, pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menekankan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks CBT, prinsip maqashid syariah dapat digunakan sebagai kerangka evaluasi keberlanjutan program pariwisata berbasis komunitas. (Mahri et al. Al-Mal (Kesejahteraan Ekonom. : CBT harus memastikan bahwa manfaat ekonomi didistribusikan secara adil, sesuai dengan konsep keadilan ekonomi dalam Islam. Penelitian oleh (Irwan 2. menunjukkan bahwa banyak destinasi wisata berbasis CBT yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip distribusi ekonomi yang merata, sehingga menyebabkan ketimpangan di antara pelaku usaha wisata lokal. Al-Nafs (Kesejahteraan Sosia. : CBT dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan sosial dan ekonomi. Studi oleh (Azzahra and Manar 2. di Desa Wisata Kandri menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata dapat meningkatkan solidaritas sosial serta memperkuat identitas budaya lokal. Khilafah (Pengelolaan Lingkunga. : Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan sebagai bagian dari amanah manusia. Penelitian oleh (Febrian and Suresti 2. menunjukkan bahwa CBT yang berbasis ekowisata dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan melalui penerapan praktik konservasi dan pengelolaan limbah yang lebih baik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam pengelolaan CBT, pariwisata dapat berkembang dengan lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat. (Mahri et al. Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Model Keberlanjutan dalam CBT Keberlanjutan dalam CBT dapat dianalisis menggunakan Triple Bottom Line (TBL), yaitu pendekatan yang menilai dampak suatu aktivitas berdasarkan tiga aspek utama: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Model ini dapat dikombinasikan dengan prinsip pembangunan Islam untuk memastikan keseimbangan dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis komunitas. Keberlanjutan Ekonomi: Studi oleh (Nahar et al. menemukan bahwa CBT yang sukses adalah yang mampu mengintegrasikan ekowisata dengan industri kreatif berbasis komunitas, seperti kerajinan tangan dan kuliner lokal. Keberlanjutan Sosial: Studi oleh (Dangi and Jamal 2. menekankan bahwa model CBT yang efektif harus melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan serta memastikan bahwa kebudayaan lokal tetap terjaga dan dihormati oleh wisatawan. Keberlanjutan Lingkungan: Studi oleh (Scoones 2. menyoroti pentingnya regulasi lingkungan dalam CBT, seperti pembatasan jumlah wisatawan dan penerapan sistem pengelolaan limbah yang lebih baik untuk menjaga keseimbangan ekosistem wisata. Dengan mengadopsi pendekatan Triple Bottom Line (TBL) dan mengintegrasikan prinsip maqashid syariah, model CBT dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Letak Wilayah Kecamatan Ciseeng Kecamatan Ciseeng berada dalam wilayah Kabupaten Bogor. Provinsi Jawa Barat, dengan luas 40,16 kmA. Topografi Kecamatan Ciseeng didominasi oleh dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 88 hingga 135 meter di atas permukaan laut . Kondisi ini mencerminkan karakteristik wilayah yang relatif landai, yang berpengaruh terhadap pola penggunaan lahan serta potensi pengembangan sektor ekonomi, seperti pertanian, permukiman, dan industri kecil. Demografi dan Prasarana Kecamatan Ciseeng Pada tahun 2024 penduduk Kecamatan Ciseeng berjumlah 121. 140 jiwa yang terdiri 292 jiwa laki laki dan 58. 848 jiwa perempuan, dengan kepadatan rata-rata 3. jiwa/kmA. Penduduk tersebar di 10 desa, dengan desa berpopulasi terbesar adalah Babakan . 337 jiw. dan Putat Nutug . 965 jiw. Outbound Pelita Desa sendiri berada di Desa Putat Nutug. Penduduk Kecamatan Ciseeng didominasi angkatan kerja . sia 15-64 tahu. 105 jiwa . %), dan sisanya bukan angkatan kerja . -14 tahu. 548 jiwa . ,5%) serta (>64 tahu. 489 jiwa . ,5%). Sementara tingkat pendidikan formal penduduk Kecamatan Ciseeng dapat dilihat dari tabel berikut. Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Tabel 1. Tingkat Pendidikan Formal Penduduk Kecamatan Ciseeng Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiw. Tidak tamat SD SD-sederajat SMP-sederajat SMA-sederajat Perguruan Tinggi Kecamatan Ciseeng memiliki infrastruktur pendidikan formal yang mencakup berbagai jenjang, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas. Terdapat 14 taman kanak-kanak (TK)/Raudhatul Athfal (RA), 54 sekolah dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), 31 sekolah menengah pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MT. , 12 sekolah menengah atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA), serta 9 sekolah menengah kejuruan (SMK). Selain itu, terdapat 7 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berperan dalam memberikan layanan pendidikan nonformal bagi kelompok masyarakat yang tidak dapat mengakses jalur pendidikan formal. Namun, tidak terdapat perguruan tinggi atau universitas di kecamatan ini, yang menandakan terbatasnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Dalam konteks distribusi tingkat pendidikan, data menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kecamatan Ciseeng masih bertumpu pada pendidikan dasar sebagai capaian Sebanyak 12. 886 orang tidak menamatkan pendidikan dasar, sedangkan kelompok terbesar, yakni 45. 007 orang, hanya menyelesaikan pendidikan setingkat SD. Sementara itu, lulusan SMP mencapai 17. 478 orang, tetapi angka ini menurun pada jenjang SMA dengan 606 orang. Penurunan ini dapat merefleksikan berbagai faktor, seperti hambatan ekonomi, keharusan untuk segera memasuki dunia kerja, serta minimnya insentif struktural untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lebih lanjut, hanya 1. 523 orang yang berhasil menempuh pendidikan tinggi. Angka ini menunjukkan adanya hambatan yang lebih kompleks, baik dari aspek ekonomi, geografis, maupun persepsi masyarakat terhadap nilai strategis pendidikan tinggi dalam meningkatkan taraf hidup. Minimnya akses terhadap perguruan tinggi berpotensi memperkuat pola ketergantungan pada sektor pekerjaan informal yang memiliki mobilitas ekonomi terbatas. Di sisi lain. PKBM menjadi salah satu instrumen penting dalam menjembatani kesenjangan akses pendidikan. Lembaga ini berfungsi sebagai ruang pembelajaran bagi mereka yang putus sekolah, pekerja sektor informal, serta kelompok marjinal yang membutuhkan peningkatan keterampilan. Dalam konteks sosial-ekonomi, keberadaan PKBM menjadi krusial untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal melalui program kejar paket dan pendidikan vokasional yang lebih aplikatif. Pelita Desa, dalam hal ini juga berlaku sebagai salah satu PKBM di Kecamatan Ciseeng. Potret pendidikan di Kecamatan Ciseeng mengungkap tantangan struktural yang masih dihadapi masyarakat dalam mengakses layanan dasar. Minimnya lulusan pendidikan Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. tinggi dan menunjukkan bahwa kesenjangan dalam pengembangan sumber daya manusia masih menjadi isu krusial. Sementara itu, peran PKBM sebagai instrumen pendidikan nonformal perlu diperkuat guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal. Tabel 2. Struktur Penggunaan Lahan dan Mata Pencaharian Masyarakat di Kab. Bogor Penggunaan Lahan Luas (H. Irigasi Teknis Tadah Hujan Jumlah Lahan Sawah Tegal/Kebun Ladang/Huma Perkebunan Ditanami pohon/hutan rakyat Padang penggembalaan/rumput Hutan Negara Lainnya . ambak,kolam,empan,hutan negara dl. Jumlah Lahan Bukan Sawah Penggunaan lahan di Kabupaten Bogor menunjukkan pola adaptasi masyarakat terhadap kebutuhan ekonomi dan tekanan urbanisasi yang semakin meningkat. Dengan luas total lahan yang terdiri dari berbagai jenis pemanfaatan, wilayah ini masih memiliki proporsi lahan pertanian yang signifikan, meskipun alih fungsi lahan terus terjadi seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah. Berdasar data pada tabel di atas, lahan sawah di Kabupaten Bogor mencakup 718,07 hektar, yang terbagi menjadi Sawah irigasi teknis seluas 33. 151 ha dan Sawah tadah hujan seluas 11. 567,07 ha. Keberadaan sawah irigasi teknis menunjukkan adanya infrastruktur yang mendukung produktivitas pertanian, terutama untuk produksi padi dan Namun, ketergantungan pada tadah hujan masih cukup tinggi, yang dapat menyebabkan fluktuasi hasil panen akibat variabilitas curah hujan. Tantangan utama yang dihadapi sektor ini adalah konversi lahan sawah menjadi kawasan permukiman dan industri, yang berpotensi mengurangi ketahanan pangan lokal. Selain sawah, lahan tegalan dan kebun memiliki peran penting dalam sistem pertanian berbasis hortikultura dan tanaman palawija, yang menjadi sumber pendapatan bagi sebagian besar petani di daerah ini. Perkebunan juga memainkan peranan strategis dalam ekonomi lokal. Lahan-lahan yang ditanami berbagai vegetasi memberikan kontribusi Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. terhadap konservasi lingkungan dan keberlanjutan ekologi, sementara padang penggembalaan menyediakan ruang bagi peternakan skala kecil. Namun, tekanan terhadap kawasan bervegetasi menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama dalam konteks alih fungsi lahan dan eksploitasi sumber daya alam. Di sisi lain. Kecamatan Ciseeng juga dikenal sebagai sentra Minapolitan, dengan kolam dan empang seluas 465 hektar yang digunakan untuk budidaya ikan lele, gurame, bawal, dan patin. Sebagai kawasan yang mengandalkan sektor perikanan sebagai sumber ekonomi. Ciseeng memiliki sistem produksi yang berkontribusi terhadap pasokan ikan air tawar untuk wilayah Bogor. Jakarta, dan sekitarnya. Budidaya ikan di Ciseeng dilakukan dalam berbagai skala, mulai dari peternakan rakyat skala kecil, kelompok pembudidaya, hingga unit usaha yang lebih besar dengan sistem produksi intensif. Pola budidaya yang umum meliputi: Pertama, sistem kolam tanah Ae metode tradisional yang masih banyak digunakan karena biaya konstruksi yang relatif lebih murah. Kedua, sistem kolam terpal dan beton Ae digunakan untuk budidaya ikan dengan kepadatan tinggi serta lebih mudah dalam pengendalian kualitas air. Ketiga, sistem bioflok Ae teknologi modern yang memungkinkan efisiensi pakan dan peningkatan produktivitas dengan manajemen limbah yang lebih baik. Tabel 3. Distribusi pekerjaan penduduk di Ciseeng berdasar data dari situs pemerintah Kab. Bogor Kategori Pekerjaan Jumlah (Jiw. Persentase (%) Tidak Bekerja 28,46 Ibu Rumah Tangga 26,75 Pelajar/Mahasiswa 16,41 Buruh 9,58 Wiraswasta 10,13 Karyawan 5,26 Pertanian/Perkebunan 0,48 Perdagangan 0,47 Lainnya 1,77 Struktur mata pencaharian di Kecamatan Ciseeng mencerminkan dinamika ekonomi pedesaan yang tengah mengalami transisi akibat tekanan urbanisasi dan perubahan struktur Data menunjukkan bahwa dari total populasi, sebanyak 35. 216 jiwa . ,46%) tergolong sebagai penduduk yang tidak bekerja, sementara 33. 094 jiwa . ,75%) berperan sebagai ibu rumah tangga. Kedua kelompok ini mencerminkan dominasi tenaga kerja yang belum terserap dalam sektor ekonomi produktif secara langsung. Selain itu, 20. 304 jiwa . ,41%) masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, yang mengindikasikan potensi Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. tenaga kerja di masa depan tetapi juga mencerminkan ketimpangan akses terhadap lapangan kerja yang tersedia saat ini. Sementara itu, tenaga kerja yang terlibat dalam sektor ekonomi terbagi ke dalam beberapa kategori utama. Buruh merupakan kelompok terbesar dengan 11. 854 jiwa . ,58%), menunjukkan bahwa banyak penduduk Ciseeng masih bergantung pada sektor pekerjaan berupah, yang umumnya memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi industri dan pasar tenaga kerja. Wiraswasta menyumbang 12. 534 jiwa . ,13%), yang menunjukkan tumbuhnya aktivitas ekonomi berbasis usaha kecil dan informal, sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap ketidakpastian sektor kerja formal. Karyawan yang bekerja dalam sektor formal, baik sebagai pegawai negeri maupun swasta, hanya mencapai 511 jiwa . ,26%), mencerminkan terbatasnya akses terhadap pekerjaan dengan pendapatan yang lebih stabil. Di sektor agraris, jumlah penduduk yang bekerja dalam pertanian dan perkebunan hanya mencapai 592 jiwa . ,48%), dan mereka yang terlibat dalam perdagangan hanya 587 jiwa . ,47%). Angka ini menunjukkan bahwa sektor pertanian yang dahulu menjadi pilar utama ekonomi lokal kini semakin terpinggirkan, seiring dengan alih fungsi lahan dan menurunnya regenerasi tenaga kerja pertanian. Selain itu, kategori "pekerjaan lainnya" 193 jiwa . ,77%), yang kemungkinan terdiri dari berbagai jenis pekerjaan informal atau sektor jasa yang tidak terklasifikasikan secara jelas. Dinamika ini menunjukkan pergeseran ekonomi dari basis agraris menuju ekonomi berbasis jasa dan industri kecil. Berkurangnya jumlah pekerja di sektor pertanian mengindikasikan proses deagrarianisasi yang diakibatkan oleh kombinasi faktor, seperti alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman, rendahnya daya tarik sektor agraris bagi generasi muda, serta lemahnya dukungan kebijakan untuk meningkatkan daya saing sektor pertanian di tengah perubahan ekonomi yang lebih luas. Di sisi lain, besarnya proporsi tenaga kerja di sektor buruh dan wiraswasta menunjukkan bahwa masyarakat Ciseeng mengandalkan sektor informal sebagai strategi bertahan hidup. Implementasi Community Based Tourism oleh Pelita Desa Ciseeng Pelita Desa Ciseeng bukan sekadar ruang wisata, melainkan arena di mana masyarakat belajar mengelola hidupnya sendiri. Sejak awal keberadaannya. Pelita Desa hadir sebagai inisiatif berbasis komunitas yang bertujuan untuk mengangkat derajat ekonomi warga, membangun kapasitas sosial, serta mengokohkan hubungan manusia dengan alam. Pemberdayaan yang dilakukan tidak berhenti pada retorika pembangunan, melainkan bergerak dalam aksi nyata yang berakar dari kondisi sosial masyarakat setempat. masyarakat tidak diposisikan sebagai objek, melainkan subjek yang memiliki kendali atas proses pembangunan. Dalam (Hatta 2. pendekatan ini dijelaskan meliputi tiga tahapan Penyadaran (Awakenin. : Menggugah Kesadaran Kolektif Proses pemberdayaan diawali dengan upaya penyadaran bahwa masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Jika sebelumnya tanah yang kini menjadi Pelita Desa adalah lahan terbengkalai yang kurang produktif, kini masyarakat melihatnya sebagai ruang hidup yang mampu menjadi sumber penghidupan. Penyadaran ini dilakukan melalui Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. diskusi komunitas, dialog antar warga, serta pengenalan akan konsep wisata berbasis komunitas yang dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus kehilangan kendali atas ruang hidup mereka. Pengkapasitasan (Enablin. : Membangun Daya dan Keterampilan Setelah kesadaran tumbuh, langkah berikutnya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pembelajaran. Di Pelita Desa, masyarakat setempat dibekali keterampilan dalam berbagai bidang, seperti: manajemen wisata, termasuk operasional dan manajemen kegiatan outbound, kewirausahaan komunitas, dengan memberikan ruang bagi warga untuk membuka usaha kecil seperti warung makan, usaha ikan hias, produksi suvenir berbasis kearifan lokal, dll, dan pengelolaan lingkungan, yang menekankan pentingnya konservasi alam dalam ekosistem wisata berbasis komunitas. Pendayaan (Empowermen. : Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Puncak dari proses pemberdayaan adalah ketika masyarakat mampu mengelola kegiatan ekonominya secara mandiri. Hal ini juga bukan hal yang mudah. Butuh sekitar 10 tahun sejak awal berdirinya Pelita Desa agar masyarakat dapat mengelola wisata outbound secara mandiri. Selain itu. Pelita Desa juga memberikan kesempatan bagi warga untuk membuka/memulai lapak usaha baik di dalam kawasan wisata maupun diluar kawasan outbound, menjadikannya sebagai sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat. Tidak hanya itu, sistem keuangan berbasis komunitas juga diterapkan melalui skema simpan pinjam yang dikelola secara kolektif, memungkinkan warga untuk mendapatkan modal usaha tanpa terjerat sistem kredit yang mencekik. Identifikasi Perubahan dan Dampak Community Based Tourism oleh Pelita Desa terhadap Masyarakat berikut tabelnya: Tabel 4 Dampak Implementasi CBT Outbound Pelita Desa terhadap Masyarakat di Ciseeng Indikator Kondisi Sebelum Kondisi Setelah Tantangan yang Sumber Data CBT CBT Dihadapi Pendapatan Bergantung pada Diversifikasi Ketimpangan Wawancara dengan pertanian dan ekonomi melalui pengelola wisata, pekerjaan informal kuliner, dan jasa masyarakat dengan laporan BPS Bogor Pendapatan modal besar pendapatan tidak meningkat 100mendapatkan stabil . isaran 200% menjadi Rp manfaat lebih Rp1,5 juta/bula. 3- 4. 5 juta/bulan. dan belum tentu Peluang pekerjaan Hanya terbatas Peluang kerja baru Tidak semua warga Observasi pada sektor sebagai pemandu pertanian dan wisata, dan keterampilan yang wawancara dengan Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. budidaya ikan. pengrajin suvenir. Kesadaran Rendah, banyak sampah plastik dan limbah wisata tidak Partisipasi Masyarakat pasif dalam perencanaan Adanya sistem sampah berbasis komunitas dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Musyawarah warga menjadi bagian dari tata kelola cukup untuk terlibat langsung. Sampah wisata masih meningkat, belum ada sistem daur ulang yang pengelola wisata. Masih ada pendapat dalam Wawancara dengan pengelola Observasi wawancara dengan pengelola wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan CBT di Pelita Desa Ciseeng telah berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi lokal. Sebelum implementasi CBT, mayoritas masyarakat bergantung pada pertanian, budidaya ikan, dan pekerjaan informal dengan pendapatan yang tidak stabil. Setelah CBT diterapkan, muncul peluang sumber pendapatan melalui berbagai usaha berbasis pariwisata, seperti manajemen wisata outbound, usaha kuliner, jasa pemandu wisata, dan produksi suvenir lokal. Berdasarkan Wawancara dengan salah satu pengurus wisata outbound pelita desa, bapak inisial A . Januari, 2. menyatakan bahwa: AuPerekonomian masyarakat di Ciseeng sebelum adanya pariwisata outbound cenderung rendah dan sangat bergantung pada hasil pertanian. Fluktuasi harga komoditas pertanian juga sangat mempengaruhi pendapatan Masyarakat di Ciseeng. Atas ketidakpuasan dengan hasil saat itu dan keinginan untuk maju masyarakat di Ciseeng menerapkan konsep AoCommunity-Based TourismAo pada Wisata Outbound Pelita Desa. Tujuan Wisata Outbound Pelita Desa menerapkan konsep Community-Based Tourism adalah untuk meningkatkan keadaan ekonomi masyarakat, membina pemahaman terhadap kehidupan masyarakat setempat, dan memperkenalkan wisatawan pada industri pariwisata di daerah Ciseeng. Dengan adanya wisata outbound, struktur ekonomi mengalami perubahan yang signifikan, sekitar 250 masyarakat menjadi ikut berpartisipasi dalam wisata outbound pelita Ay Menurut wawancara dengan pengelola wisata, pendapatan masyarakat yang terlibat langsung dalam CBT meningkat sekitar 100Ae200% dalam 10 tahun terakhir. Namun, observasi lapangan menunjukkan bahwa manfaat ekonomi belum merata. Pelaku usaha yang memiliki modal awal lebih besar cenderung mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan masyarakat yang baru memulai usaha. Tantangan lainnya adalah kurangnya pelatihan keterampilan bisnis dan manajemen keuangan, sehingga beberapa usaha mengalami kesulitan dalam mempertahankan keberlanjutannya. Dalam perspektif Maqashid Syariah, aspek al-Mal . eadilan ekonom. belum sepenuhnya terpenuhi. Meskipun terdapat peningkatan pendapatan, distribusi manfaat ekonomi masih memerlukan kebijakan yang lebih adil, seperti sistem koperasi berbasis komunitas atau program pelatihan yang lebih inklusif. Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Implementasi CBT di Pelita Desa Ciseeng telah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi lingkungan. Berdasarkan observasi langsung, terdapat beberapa inisiatif baru dalam pengelolaan limbah dan penghijauan area wisata. Sebagai contoh, salah satu program yang diterapkan adalah penanaman 1000 pohon kayu . ati, ketapang, dl. , bambu, dan tanaman lainnya. Hal ini sangat membantu untuk menekan resiko erosi karena lahan Pelita Desa sebagian terdapat pada lahan miring. Namun, meskipun terdapat perbaikan dalam kesadaran lingkungan, pengelolaan limbah dan daya dukung ekologi masih menjadi tantangan utama. Menurut wawancara, peningkatan jumlah wisatawan menyebabkan peningkatan produksi sampah yang masih sulit dikelola. Selain itu, beberapa area alami mengalami degradasi akibat tekanan wisata yang tinggi. Dari perspektif Maqashid Syariah, prinsip khilafah . engelolaan lingkungan yang bertanggung jawa. perlu diperkuat dengan kebijakan lingkungan yang lebih ketat, seperti regulasi jumlah pengunjung dan sistem pengelolaan sampah yang lebih sistematis. Salah satu dampak positif dari penerapan CBT adalah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata. Sebelum program CBT diterapkan, pengelolaan wisata di Pelita Desa Ciseeng masih bersifat informal dan didominasi oleh individu atau kelompok tertentu. Namun, dengan adanya sistem musyawarah komunitas, masyarakat lebih aktif dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan wisata. Selain itu, implementasi CBT juga berkontribusi terhadap revitalisasi budaya lokal. Beberapa kegiatan tradisional yang sebelumnya menjadi pekerjaan masyarakat kini mulai diperkenalkan kembali sebagai bagian dari atraksi wisata. Namun, ada tantangan dalam menjaga otentisitas budaya lokal. Banyaknya wisatawan disinyalir akan berpotensi menggeser nilai-nilai asli budaya setempat. Oleh karena itu, strategi CBT ke depan harus menyeimbangkan aspek komersialisasi dengan pelestarian budaya agar tetap selaras dengan nilai-nilai al-Nafs . esejahteraan sosia. dalam Maqashid Syariah. SIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CBT di Pelita Desa Ciseeng telah memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan, tetapi masih menghadapi tantangan dalam keberlanjutan jangka panjang. Dari perspektif akademik, penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa CBT dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat jika dikelola dengan baik. (Goodwin 2. Namun, dari perspektif kebijakan, diperlukan strategi yang lebih adaptif untuk mengatasi ketimpangan ekonomi, memastikan kelestarian lingkungan, dan menjaga otentisitas budaya. Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan antara lain: Pertama, penguatan kapasitas bisnis masyarakat lokal melalui pelatihan kewirausahaan dan manajemen Kedua, penerapan kebijakan lingkungan yang lebih ketat, termasuk pengelolaan limbah berbasis komunitas dan pembatasan jumlah wisatawan per hari. Ketiga, revitalisasi budaya dengan pendekatan partisipatif, agar masyarakat tetap memiliki kendali atas representasi budaya mereka dalam industri pariwisata. Dengan pendekatan ini, diharapkan CBT di Pelita Desa Ciseeng dapat berkembang secara lebih berkelanjutan, berkeadilan, dan sesuai dengan prinsip pembangunan Islam. DAFTAR PUSTAKA