VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 DIFFERENCES IN TEMPERATURE OF SOLAR COLLECTORS USING PAINT WITH A MIXTURE OF COCONUT SHELL CARBON AND PALM SHELL Nereus Tugur Redationo1. Bernardus Crisanto Putra Mbulu2. Febri Valen Herwinsha3 1,2,3 Program Studi Teknik Mesin-Fakultas Teknik-Universitas Widya Karya-Malang-Jawa Timur Email: tugur@widyakarya. id, chris_bernardo666@widyakarya. INFORMASI ARTIKEL ABSTRACT Naskah Diterima: Mei 2023 Coconut shell carbon and palm shell carbon which undergo a pyrolysis process at 1000oC were used as coatings for solar collectors. The two carbons were tested by SEM to determine their composition. Coconut shell carbon and palm shell carbon were mixed with paint as a coating on the aluminum surface of the solar collector. Aluminum alloy carbon paint was tested for temperature on the surface and bottom. The results of the SEM test, solar collector temperature test and discussion were the basis for knowing the carbon layer content of palm shells, coconut shells and without carbon layers. The results of the SEM test obtained the carbon content of palm shells 86. 2% C and coconut shells 92. 3% C. The results of the solar collector temperature test for 7 days, on the top surface of the palm shell was 3oC and the bottom surface was 0. High carbon content indicates a change in temperature in the solar collector. Keywords: Temperature. Palm Shell Carbon. Coconut Shell Carbon. Solar Collectors. SEM. Naskah Disetujui: Juni 2023 Naskah Diterbitkan: Juni 2023 tanaman yang paling banyak ditemukan di daerah tropis seperti yang ada di Indonesia saat ini. Hampir semua bagian dari tanaman kelapa bisa dimanfaatkan baik itu batang, daun, buah hingga tempurungnya. Tempurung dari buah kelapa bisa dijadikan arang untuk pembuatan karbon. Jenis tempurung kelapa yang baik untuk menghasilkan karbon yaitu tempurung kelapa tua serta kering dengan warna gelap kecoklatan. Semua bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan, mulai dari batang, akar, daun, dan buah dapat Selain itu dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada tempurung kelapa yang mana Tempurung kelapa mengandung atom karbon yang tinggi karena memiliki sifat kekerasan yang baik dan kadar abu yang rendah. Arang hasil pirolisis memiliki komponen penyusun yang terdiri dari air, abu, nitrogen, dan sulfur (Rampe, 2. Kandungank adar karbon tinggi sebagai pembuat grafit diperlukan pemanasan yang ideal dan relatif tinggi yakni pada temperatur 1000AC (Redationo, 2. Pada penelitian ini kami rumuskan pada proses pemanasan tempurung kelapa dan PENDAHULUAN Tempurung kelapa dan cangkang sawit saat ini banyak digunakan sebagai limbah. Pada proses pengarangan tempurung kelapa dan cangkang sawit diolah menjadi karbon. Karbon yang dihasilkan dari tempurung kelapa dan cangkang sawit juga dapat menjadi penghantar panas yang baik atau sebagai konduktor panas, sehingga dilakukan penelitian dengan memfokuskan pada pencampuran karbon dengan cat untuk disemprotkan pada plat aluminium untuk dijadikan kolektor surya. Limbah tempurung kelapa yang ada di masyarakat sering kali hanya digunakan sebagai bahan bakar tungku. Beberapa industri mebel kecil ada yang sudah dimanfaatkan sebagai alat peraga edukatif ataupun cendera mata. Kegunaan lain yang dapat dilakukan menggunakan tempurung kelapa ini adalah untuk bahan baku pembuatan karbon. Kandungan kimia arang aktif adalah senyawa karbon, yang sangat berguna sebagai bahan untuk pembuatan kolektor surya. Dalam penelitian ini karbon yang ada, digunakan untuk dijadikan sebagai campuran cat yang akan digunakan untuk menambah penyerapan panas pada kolektor Kelapa (Cocos nucifer. adalah VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 cangkang sawit pada suhu 1000EE dan perbandingan uji temperatur panas kolektor surya antara lapisan karbon cangkang sawit, tempurung kelapa, dan plat tanpa lapisan Tempurung kelapa saat ini banyak d igunakan sebagai karbon aktif dengan dengan pemanasan pada temperatur rendah di bawah Pada tabel berikut disajikan perbandingan sidat antara tempurung kelapa dan arang tempurung kelapa seperti grafit yaitu koefisien gesek rendah (Miyoshi et al. , 1. Grafit . , merupakan alotrop karbon yang berada dalam fasa stabil dengan struktur kristal heksagonal dan mempunyai densitas 2. 6 g. Antar bidang heksagonal diikat oleh ikatan lemah yang disebut dengan ikatan Van der Waals, sehingga memiliki koefisien gesek yang rendah (Erdemir & Martin, 2. Sedangkan intan/diamond . , merupakan allotrop karbon yang berada dalam fasa stabil dengan struktur kristal kubik . truktur diamon. yang membentuk network dan diikat oleh ikatan kovalen sehingga memiliki kekerasan tinggi. Tabel 1. Perbandingan Sifat antara Tempurung Kelapa dan Arang Tempurung Kelapa Karbon seperti intan/Diamond Like Carbon (DLC) saat ini banyak dikembangkan dengan metode Physical Vapor Deposition (PVD) dan Chemical Vapor Deposition (CVD). Dengan metode tersebut mampu membuat lapisan karbon yan karakteristiknya unik menyerupai intan dan grafit. Beberapa sifat dan karakteristik dari DLC antara lain (Chen, 2003 dan Kadiyala 2. menyebutkan antara lain kekerasan yang tinggi . Ai80 GP. , konduktivitas panas tinggi, struktur atom yang halus/nano (< 5n. , koefisien gesek yang rendah (<0,01Ai0,. , ketahanan terhadap abrasi, afnitas . aya gabun. elektron negatif/negative electron affinity, tahan terhadap reaksi kimia, konstanta dielektrik rendah (<. dan Secara umum, sebuah karbon amorf dapat memiliki campuran sp3, sp2, dan sp1, dengan kemungkinan adanya hidrogen dan nitrogen. Sebuah karbon amorf yang tinggi sebagian kecil dari berlian- seperti . dikenal sebagai karbon seperti intan (DLC). Dari beberapa sifat dan karakteristik yang unik tersebut DLC saat ini banyak di kembangkan dalam berbagai DLC dicirikan oleh struktur amorf yang terdiri atas campuran struktur seperti intan . iamond-lik. dan struktur seperti grafit . raphite-lik. Karakter yang memberikan properti kekerasan tinggi berasal dari ikatan sp3 dari atom C, sedangkan ikatan sp2 memberikan perilaku Gambar 1. Diagram Fasa DLC Sumber: (Casiraghi et al. , 2. Cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah padat dari komoditi perkebunan kelapa sawit. Salah satu produk yang dapat dibuat dari limbah cangkang kelapa sawit adalah karbon aktif yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui Penelitian ini dillakukan untuk mengetahui pengaruh variabel waktu aktivasi terhadap analisa kadar air, zat mudah menguap, dan kadar abu pada karbon aktif. Pada penelitian ini digunakan variabel waktu aktivasi 2 jam dan 4 jam serta menggunakan NaOH 1 N. Hasil dari penelitian ini didapatkan kadar air sebesar 2,92%. Kadar Abu 1% dan Hasil penelitian ini berupa karbon aktif yang memiliki kadar 2,92%, kadar abu 1n zat mudah menguap 3% pada saat watu aktivasi 2 jam. Didapatkan hasil analisa kadar air sebesar 4,3%, kadar abu 3 % dan zat mudah menguap 9% pada saat waktu aktivasi 4 jam (Wahyuni & Fathoni, 2. Proses selanjutnya adalah Cangkang kelapa sawit disangrai menjadi arang. Kemudian diaktivasi degan larutan NaOH selama 2 jam dan 3 jam, selanjutnya karbon aktif dicuci dicuci dengan akuades hingga VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 pH netral dan dilakukan pemanasanpada suhu Kemudian dilakukan analisa kadar air, kadar abu, dan zat mudah menguap secara duplo (Wahyuni & Fathoni, 2. Agregat didefinisikan secara umum sebagai susunan kulit bumi yang keras dan ASTM mendefinisikan agregat sebagai suatu bahan yang terdiri dari mineral padat, berupa masa yang berukuran besar ataupun berupa pecahan-pecahan. Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu 90-95% agregat berdasarkan persentase berat, atau 75-85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan dari sifat agregat dan hasil dari campuran agregat dengan material lain. Agregat dapat dibedakan berdasarkan kelompok terjadinya. Berdasarkan proses terjadinya agregat dapat dibedakan menjadi batuan beku . gneous roc. , batuan sedimen . edimentary roc. dan batuan metamorfik . etamorphic roc. (Sukirman, 2. Grafit merupakan salah satu mineral dari unsur karbon selain intan. Terbentuk secara alami sebagai tiga tipe dasar yaitu serpihan, urat, dan amorf. Ketiganya memiliki struktur kristal, meskipun grafit tipe amorf adalah bahan karbon dengan tingkat keteraturan mikrokristalin (Akbar et al. , 2. Mineral grafit sendiri dapat dibedakan menjadi 2 yaitu grafit alami dan grafit Penggunaan grafit secara tradisional digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan pensil. Penggunaan grafit pada teknologi baru dan berkembang saat ini digunakan pada baterai litium, reaktor nuklir, panel surya dan semi konduktor (Crossley. Mineral ini dapat dijumpai pada batuan metamorfisme regional seperti genes, sekis, filit, batu sabak, dan pada metamorfisme kontak seperti marmer dan endapan skam. Umumnya dalam mencari keterdapatan mineral grafit, formasi geologi yang berupa batuan malihan dapat digunakan sebagai Indonesia mempunyai beberapa jalur batuan malihan terutama di Pulau Sulawesi. Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan, sehingga menjadi potensi mineral grafit di Indonesia (Akbar et , 2. METODE PENELITIAN Banyaknya limbah tempurung kelapa dan cangkang sawit mengakibatkan tercemarnya Sebenarnya limbah tempurung kelapa dan cangkang sawit mengandung unsur penting yang bisa diolah dan digunakan menjadi energi terbarukan. Setelah dilakukan penelitian diketahui bahwa unsur yang paling banyak terkandung pada limbah tempurung kelapa dan cangkang sawit adalah unsur Unsur ini sangat penting dalam peningkatan penyerapan panas dan sebagai emisivitas yang mana rasio energi yang diradiasikan oleh benda hitam . olektor sury. dapat menghantarkan panas dengan Dalam penelitian ini, ada 3 sampel yang digunakan yaitu sampel dengan lapisan karbon cangkang sawit, tempurung kelapa, dan sampel tanpa lapisan karbon. Ketebalan lapisan karbon untuk kedua sampel tersebut juga mempengaruhi penyerapan panas untuk kolektor surya. Jika semakin tebal lapisan karbon, maka penyerapan panas akan berjalan lambat, karena energi panas harus melalui lapisan yang tebal, sedangkan jika lapisan kolektor surya semakin tipis, maka penyerapan panas karena panas yang diserap mudah menembus lapisan karbon dan akan diteruskan dari permukaan atas spesimen ke permukaan bawah spesimen. Adapun diagram alir dari penelitian ini adalah sebagai berikut: VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 Adapun beberapa variabel penelitian yang Variabel Bebas (Independent variabl. Variabel bebas adalah variabel yang epengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah karbon cangkang sawit dan tempurung kelapa. Variabel Terikat (Dependent Variabl. Variabel terikat adalah kondisi yang hendak kita jelaskan. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah plat aluminium dan cat. lapisan kolektor surya. Gambar 3. Serbuk Tempurung Kelapa setelah diayak menggunakan mesh 50 Serbuk arang tempurung kelapa yang sudah diayak di karakterisasi dengan menggunakan pengujian SEM XRD. Data yang diperoleh dari pengujian SEM XRD adalah foto mikro, unsur, kandungan dan Masing-masing perlakuan diambil 3 sampel pengujian. Hasil foto mikro dianalisis dengan Perhtingan diameter pori diambil dari masing-masing pengujian dengan perbesaran 1200x, 1800x, dan 2000x, selanjutnya diambil rata-ratanya. Unsur, komposisi dan kandungan serbuk arang tempurung kelapa dari masing-masing perlakuan temperatur dianalisis dan dibandingkan dengan referensi (Redationo, 2. Sebelum masuk dalam skema alat uji, kita bisa melihat urutan proses pembuatan alat kolektor surya sebagai berikut: Dari karbon tempurung kelapa dan cangkang kelapa sawit akan dicampurkan cat dan dilapisi pada plat aluminium dengan cat hitam tahan 200oC sebagai pengikat/perekat sehingga akan dibuatkan 4 spesimen dan menguji temperatur. Kalor yang masuk didapat dari panas matahari . yang akan Temperatur permukaan spesimen (T. dan temperatur setelah melewati (T. spesimen akan diukur dengan thermokopel. Gambar 2. Spesimen yang akan diuji. Gambar 4. Proses Pembuatan Kolektor Surya Keterangan gambar: k = Konduktifitas spesimen (W/m K) dx = Ketebalan Spesimen . A = Luas Permukaan Spesimen . T1 = Temperatur Permukaan Spesimen (K) T2 = Temperatur Setelah Melewati Spesimen (K) Selanjutnya proses pembuatan sampel benda uji akan melalui beberapa tahap antara lain, proses pengolahan bahan, penjemuran, pengarangan/pengabuan . Adapun hasil dari proses karbonasi ini menghasilkan serbuk karbon yang akan digunakan sebagai Proses yang dilakukan dalam pengujian ini membersihkan cangkang sawit dan tempurung kelapa. Proses pirolisis 1000 oC. Arang hasil pirolisis ditumbuk hingga Setelah halus, arang akan diayak mesh 250 . AA. Hasil dari mesh akan diuji SEM. VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 Setelah diuji SEM, amplas bagian atas Hasil dari uji SEM dicampurkan dengan cat dan tiner 1:1 dan disemprotkan pada plat aluminium. Yang terakhir yaitu uji temperatur dari Kolektor Surya. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai data acuan data kandungan karbon dari hasil pengujian SEM. Pengujian SEM sendiri merupakan pengujian yang dilakukan guna mengetahui secara detail kandungan yang terdapat pada arang cangkang sawit dan juga tempurung kelapa, sehingga kita dapat mengetahui kandungan karbon yang terdapat dari pengujian SEM ini, serta perbandingan presentase karbon yang terdapat pada arang cangkang sawit dan tempurung kelapa. Dari hasil pengujian SEM ini, kita bisa mengetahui kadar karbon tertinggi dari antara kedua sampel tersebut. Untuk skema penelitian dapat dilihat dalam gambar berikut: Gambar 4. Proses Pengujian Plat Aluminium Gambar 5. Gambar Mikro Arang Cangkang Sawit perbesaran 500x Sumber: Hasil Uji SEM Dari Gambar 4. bisa dilihat keterangan tiap angka sebagai berikut: Serbuk Karbon Alat Uji SEM Plat Kolektor Surya Batu Tahan Api Pengujian Kolektor Surya Batu Tahan Api Plat Kolektor Surya T1 (Temperatur Permukaan Atas Spesime. T2 (Temperatur Lapisan Bawah Spesime. Thermokopel 1 Thermokopel 2 Berdasarkan gambar 4. , dapat kita lihat proses pembuatan benda uji sekaligus proses pengumpulan data di lapanga. Yang pertama adalah menguji sampel serbuk karbon nomor . dengan menggunakan alat uji SEM yang ditunjukkan pada nomor . , selanjutnya adalah proses pengecatan benda uji pada permukaan plat aluminium yang ditunjukan pada gambar nomor . , selanjutnya adalah proses pembuatan batu tahan api sebagai lapisan ditunjukkan pada gambar nomor . , dan yang terakhir adalah proses pengujian benda uji di lapangan menggunakan thermokopel yang ditunjukkan pada gambar nomor . Dari gambar 5 dapat dilihat pada perbesaran 500x, tampak struktur dari karbon cangkang sawit memilki pori-pori yang besar dan berstruktur kasar. Gambar 6. Gambar Mikro Arang Tempurung Kelapa perbesaran 500x Sumber: Hasil Uji SEM Dari gambar 5 dapat dilihat pada perbesaran 500x, tampak struktur karbon tempurung kelapa terlihat lebih halus dan memiliki pori-pori yang kecil. Sehingga dari kedua gambar di atas yaitu gambar 5 dan gambar 6 dapat dilihat perbedaan yang dominan yaitu perbedaan tekstur pada kedua karbon dan dapat disimpulkan bahwa tekstur yang lebih halus memiliki presentase karbon terbaik yang di miliki oleh karbon tempurung kelapa dibandingkan karbon cangkang sawit. Selanjutnya, dari dua data yang didapatkan VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 . ata presentase kandungan karbon dari arang cangkang sawit dan tempurung kelap. akan dilakukan uji temperatur yang terbaik dari kedua sampel. Kedua sampel tersebut akan dihaluskan menggunakan lesung dan arang yang telah dihaluskan akan diayak menggunakan mesh 250 . AA. Selanjutnya kedua sampel tersebut dicampur menggunakan cat dengan takaran 1:1 sebagai perekat pada plat aluminium sehingga dapat di uji kemampuan dalam menyerap panas antara kedua sampel dengan menggunakan Thermokopel. Dari penelitian yang dilakukan dari pengujian SEM, diperoleh beberapa unsur yang terdapat pada cangkang sawit dan tempurung kelapa dalam tabel sebagai berikut: ini juga disesuaikan dengan cuaca, jadi ada beberapa hari yang dimulai penjemuran di atas jam 12. 12 WIB siang hari. Proses pengambilan data dilakukan setiap 5 menit saat penjemuran kolektor surya. Ada tiga sampel yang penulis uji yaitu kolektor surya dengan Lapisan Karbon Cangkang Sawit. Lapisan Karbon Tempurung Kelapa, dan kolektor surya tanpa lapisan karbon. Kolektor surya dengan lapisan karbon cangkang sawit. Hasil pengujian dilapangan yang dilakukan selama 7 hari dengan sampel karbon dari cangkang sawit diperoleh ratarata. Tabel 4. Temperatur Rata-Rata Pengujian Selama 1 Ae 7 Hari Karbon Cangkang Sawit Tabel 2. Data Presentase Kandungan Karbon Cangkang Sawit Tabel 3. Data Presentase Kandungan Karbon Tempurung Kelapa Gambar 7. Grafik Uji Temperatur Karbon Cangkang Sawit Sumber: Dokumen Pribadi Dari hasil uji SEM, diperoleh kandungan karbon yang paling besar terdapat dalam sampel tempurung kelapa. Selanjutnya sampel cangkang sawit dan tempurung kelapa ditumbuk sampai halus dan diayak menggunakan mesh 250 . AA. , setelah itu dicampur cat dan tiner dengan perbandingan 1:1. Kemudian disemprotkan pada plat Setelah itu kolektor surya siap diuji di Dalam proses pengambilan data di lapangan, dilakukan dalam kurun waktu 7 Sampel yang telah dibuat akan dijemur dibawah sinar matahari mulai pukul 12. WIB Ae 12. 57 WIB tetapi proses penjemuran Dari Tabel 4. diperoleh data rata-rata dihari pertama, kedua, keenam dan ketujuh T2 (Temperatur yang melewati Spesime. lebih (Temperatur Permukaan Spesime. , hal ini disebabkan oleh cuaca dengan tingkat angin yang lebih tinggi sehingga permukaan spesimen cepat mengalami penurunan temperatur. Sedangkan pada hari ketiga sampai hari kelima T2 (Temperatur yang melewati Spesime. lebih (Temperatur Permukaan Spesime. hal ini dikarenakan cuaca dengan tingkat angin yang sedang. VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 Perbandingan T1 dan T2 dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari karbon cangkang sawit dan tempurung kelapa terhadap peningkatan penyerapan panas dengan presentase karbon yang berbeda. Dalam hal ini, jika dihitung rata-rata temperatur selama 7 hari dari permukaan spesimen ke permukaan bawah spesimen diperoleh iTnya 0,4oC, sehingga penyerapan panas yang dihasilkan lebih cepat. Kolektor surya dengan lapisan karbon tempurung kelapa Hasil pengujian dilapangan yang dilakukan selama 7 hari dengan sampel karbon dari tempurung kelapa diperoleh rata-rata. Gambar 8. Grafik Uji Temperatur Karbon Tempurung Kelapa Sumber: Dokumen Pribadi Tabel 5. Temperatur Rata-Rata Pengujian Selama 1 Ae 7 Hari Karbon Tempurung Kelapa Kolektor Surya tanpa Lapisan Karbon Hasil pengujian dilapangan yang dilakukan selama 7 hari dengan sampel plat tanpa lapisan karbon diperoleh data rata-rata. Tabel 6. Temperatur Rata-Rata Pengujian Selama 1 Ae 7 Hari PLAT Tanpa Lapisan Karbon Dari tabel 5. diperoleh data rata-rata dihari pertama dan kedua uji temperatur dari T2 (Temperatur yang melewati Spesime. lebih tinggi dibandingkan T1 (Temperatur Permukaan Spesime. , hal ini dikarenakan pada saat kolektor surya dijemur temperatur atas meningkat dan bawah juga meningkat, dan pencatatan hasil dilakukan per 5 menit sekali sehingga pada menit ke-3 cuaca panas menurun dan angin kencang maka permukaan atas akan lebih cepat turun temperaturnya dibandingkan bagian bawah dari kolektor surya tersebut. Sedangkan pada hari ketiga sampai ke tujuh cuaca panasnya normal sehingga T1 (Temperatur Permukaan Spesime. lebih panas dibandingkan T2 (Temperatur yang melewati Spesime. Dalam hal ini, jika dihitung rata-rata temperatur selama 7 hari dari permukaan spesimen ke permukaan bawah spesimen diperoleh iT-nya sebesar 2,5oC, sehingga penyerapan panas yang dihasilkan lebih lambat. Dihari pertama, kedua, kelima, keenam dan ketujuh uji temperatur dari T1 (Temperatur Permukaan Spesime. dibandingkan T2 (Temperatur yang melewati Spesime. ini dikarenakan cuaca panas yang normal dan angin yang sedang. Sedangkan pada hari ketiga dan keempat T2 (Temperatur yang melewati Spesime. lebih tinggi dibandingkan T1 (Temperatur Permukaan Spesime. Dalam hal ini, jika dihitung ratarata temperatur selama 7 hari dari permukaan spesimen ke permukaan bawah spesimen diperoleh iT-nya sebesar 2,2oC, sehingga penyerapan panas yang dihasilkan lebih lambat karena energi panas yang didapatkan tidak semua diserap karena T1 dari kolektor surya tanpa lapisan karbon berwarna silver sehingga panas yang diterima sebagiannya akan dipantukan. VOLUME 1 NOMOR 1 TAHUN 2023 JURNAL METAL p-ISSN 2988-2206, e-ISSN 2988-2214 artikel 3, hal 16 Ae 24. Juni 2023 maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: Hasil uji SEM dan pembahasan pada pirolisis/pemanasan temperatur 1000oC cangkang sawit 86,2% C dan tempurung kelapa 92,3% Perbandingan uji temperatur kolektor surya dengan lapisan karbon cangkang sawit, tempurung kelapa dan tanpa lapisan karbon. Hasil uji kolektor surya menunjukan selama 7 hari, didapatkan paling baik menyerap panas adalah lapisan karbon cangkang sawit dengan perbedaan temperatur 0,4oC. Gambar 8. Grafik Uji Temperatur Plat Tanpa Karbon Sumber: Dokumen Pribadi Dari ketiga tabel dan gambar grafik di atas dapat dilihat perbandingan antara sampel karbon cangkang sawit dan tempurung kelapa yang mana diketahui yang terbaik untuk penyerapan panas adalah karbon cangkang sawit. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan selama 7 Berdasarkan data diperoleh nilai iT sampel karbon cangkang sawit sebesar 0,4oC, dan untuk iT sampel tempurung kelapa sebesar 2,5oC. Dari kedua sampel tersebut yang paling baik dalam menyerap panas adalah sampel dengan iT terendah, walaupun untuk presentase karbon untuk cangkang sawit lebih kecil dibandingkan dengan tempurung kelapa yaitu sebesar 86,15% C berbanding 92,3 % C, tetapi berdasarkan hasil uji SEM diperoleh unsur yang terkandung didalam cangkang sawit selain karbon adalah silikon yang mana dapat membantu dalam penyerapan panas. Sedangkan tempurung kelapa tidak memiliki kandungan silikon. Selanjutnya kita bisa melihat perbandingan iT antara lapisan karbon tempurung kelapa dan plat tanpa lapisan karbon. Didapatkan nilai iT keduanya adalah 2,5oC dan 2,2oC. Jika dilihat dari nilai iT-nya, plat tanpa lapisan karbon lebih baik, tetapi jika dilihat dari temperatur kedua sampel diperoleh T1 dari tempurung kelapa lebih banyak menyerap panas, sedangkan T1 dari Plat tanpa lapisan karbon lebih kecil, karena sebagian energi panas dipantulkan oleh T1 dari plat aluminium tanpa lapisan karbon yang mana diketahui palat tanpa lapisan karbon memiliki warna silver dan diketahui warna untuk menyerap panas adalah warna gelap. REFERENSI