Jurnal Kehutanan Papuasia 5 . : 42Ae48 . Sinery & Burwos JENIS-JENIS MARSUPIALIA PADA AREAL RENCANA PERKEBUNAN PALA KABUPATEN TELUK WONDAMA DAN TELUK BINTUNI (Marsupial Species Distribution in Nutmeg Plantation Designed Area of Teluk Wondama and Teluk Bintuni Regencie. Anton S. Sinery1,2A dan Hendrik Burwos2 Jurusan Kehutanan. Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari. Papua Barat. Tlp/Fax: 62986211065. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Papua. Manokwari. Papua Barat. Amban Manokwari 98313. Telp: 085244308802. Penulis Korespondensi: Email: anton_sineri@yahoo. Diterima: 02 Feb 2. Disetujui: 01 Mar 2019 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan mamalia berkantung pada kawasan rencana pengembangan kopermas perkebunan Kami Nassey di Kabupaten Teluk Wondama dan Teluk Bintuni. Pengumpulan data di lapangan dilakukan selama 7 hari dengan luasan kawasan mencapai 8. 000 ha meliputi Kampung Werianggi. Kampung Werabur dan Kampung Idor. Adapun status kawasan berupa areal penggunaan lain (APL) dalam bentuk hutan primer kering, hutan sekunder kering, dan semak belukar yang mana termasuk tipe ekosistem hutan dataran rendah, dan sebagian merupakan daerah bukit kapur, dan ekosistem rawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki tingkat keragaman jenis hewan mamalia berkantung yang tinggi, baik dari famili maupun jenisnya. Dari hasil survei, ditemukan 14 spesies dan 12 diantaranya merupakan jenis endemik Papua (New Guine. dan 5 jenis masuk dalam jenis yang dilindungi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta 5 spesies lainnya termasuk dalam kategori daftar merah IUCN serta 2 spesies termasuk ke dalam daftar CITES Appendix II. Kata kunci: mamalia berkantung, ekosistem hutan, perkebunan, keragaman jenis, endemis Abstract The aim of this research is to determine the presence of marsupial in the area of the planned development of the Kopermas Kami Nassey Plantation. Teluk Wondama and Teluk Bintuni Regencies. Data collection were took place over 7 days in an area of 8,000 ha that covered Werianggi village. Werabur, and Idor village with the status of other use areas (APL) in the form of primary dryland forest, secondary dryland forest, and shrub which were included lowland forest ecosystem, karst hill, and swamp ecosystem. The results showed that the forest had high diversity of animal species from marsupial mammals, in both family and species. The diversity of marsupialia mammals with 14 species of which 12 species have been endemic to Papua (New Guine. and other 5 species were protected by the Ministry of Envoronment and Forestry Regulation. Another 5 species have been included in the IUCN Red List Category, and 2 species were listed in CITES Appendix II. Keywords: marsupial, forest ecosystem, plantation, species diversity, endemic @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 5 . : 42Ae48 . Sinery & Burwos hilangnya habitat dan perburuan. Oleh karenanya berbagai upaya terus dilakukan pemerintah, pemerintah daerah dan berbagai pihak dan salah satunya diantaranya mewujudkan optimalisasi kawasan lindung sesuai KLHS RZWP3K dan KLHS Revisi RTRW Papua Barat . masing-masing seluas dan 39% . dan 55-60% . eresterial berupa konservasi, mangrove, rawa, gambut, perlindungan setempat, rawan bencana, lindung geologi. PIPPIB. LP2B/KP2B. PIAPS, spiritual budaya dan NKT serta areal lainnya. Tujuan penelitian ini untuk jenis-jenis berkantung . pada areal rencana pembangunan perkebunan pala Kopermas Kami Nassey Distrik Nikiwar Kabupaten Teluk Wondama dan Kampung Idoor Kabupaten Teluk Bintuni. PENDAHULUAN Tercatat kurang lebih 200 jenis mamalia darat terdapat di Papua dan 154 membentuk populasi-populasi besar yang meliputi jenis endemik maupun jenisjenis (Petocz Diperkirakan Papua memiliki 20. 000 spesies hewan yang tersusun dari 164 spesies mamalia. 329 spesies reptil dan amfibi. 650 spesies burung. spesies ikan air tawar. 000 spesies serangga yang sejumlah diantara endemik dan dilindungi (Krey dkk. Lebih jauh disebutkan bahwa sampai saat ini telah tercatat adalah 191 jenis mamalia asli Papua yang meliputi 40 jenis Eksistensi satwa liar dalam ekosistem dipengaruhi oleh berbagai komponen lingkungan . , selain kemampuan individu secara internal, sehingga informasi terkait jenis, populasi, sifat dan habitat mutlak dipahami secara baik dalam pengelolaan satwa liar (Sinery Menurut Dasman . dalam Odum . , dinamika populasi satwa liar tidak hanya bergantung pada laju kelahiran . dan kematian . , tapi juga kemampuan satwa masuk . atau keluar . dalam dan dari populasi. Menurut Primack dkk. bahwa kisaran spesies dapat berubah akibat tanggapan yang diberikan terhadap perubahan iklim dan struktur bentangan darat . , disamping kemampuan reproduksi dan adaptasi keturunan. Oleh karenanya kualitas dan kuantitas habitat sangat menentukan prospek pemanfaatan dan kelestarian satwa liar. Keberadaan potensi tersebut saat ini diperhadapkan dengan ancaman akibat METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini berlangsung selama 2 bulan (Agustus - September 2. dan perkebunan pala Kopermas Kami Nassey 000 ha di Kampung Werianggi. Werabur dan Kampung Idor Distrik Nikiwar Kabupaten Teluk Wondama. Areal tersebut berstatus areal penggunaan lain (APL) yang mencakup hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder dan semak belukar yang terdiri atas ekosistem hutan dataran rendah, perkebukitan karts dan ekosistem rawa. Pengumpulan dan Analisis Data Pengumpulan data jenis dan individu kelompok mamalia dilakukan melalui survei disertai penangkapan secara langsung, pemasangan perangkap . age @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 5 . : 42Ae48 . Sinery & Burwos trap dan camera tra. dan wawancara. Survei dilakukan pada areal rencana perkebunan pala khususnya lokasi Kampung Werabur dan Werianggi, hutan dataran rendah sekitar Kampung Idoor dan areal karts sekitar Gunung Maskeri serta areal sekitar dusun sagu. Pengamatan langsung dilakukan dengan menyusuri transek pada masing lokasi pengamatan baik pada siang hari maupun malam hari. Pengamatan pada siang hari dimulai pagi hingga sore hari . 00 Ae 16. selanjutnya pada malam hari dimulai jam 00 sampai 23. 00 WIT. Pengumpulan data juga dilakukan melalui pemasangan perangkap . age trap dan camera tra. khususnya mamalia kecil seperti kelompok tikus, tupai juga kamera trap sebanyak 2 unit pada masing-masing lokasi. Selanjutnya dilakukan pula wawancara dengan masyarakat terkait jenis dan sebaran untuk memastikan jenis marsupialia yang Wawancara dimaksud secara khusus terhadap 3 tokoh masyarakat dan perwakilan 12 masyarakat pada ketiga kampung di wilayah studi yang mengetahui dan atau terkait langsung . Data hasil penelitian yang terdiri atas jenis dan penyebaran selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan tampilkan dalam bentuk tabel dan Hal tersebut terlihat dari data hasil inventarisasi sebagaiman 16 jenis marsupilia yang diidentifikasi. Data tersebut jauh lebih banyak dibandingkan dengan areal POD I Genting Oil Kasuri di Distrik Sumuri Kabupaten Teluk Bintuni marsupialia di kawasan ini (Krey dkk. Demikian halnya kawasan TWA Gunung Meja yang dilaporkan sebanyak 11 jenis mamalia terdapat di wilayah ini (Manusawai dan Leonard 2. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kawasan hutan ini memiliki daya dukung habitat yang cukup baik dan menjadi ciri dari hutan dataran rendah yang kaya akan berbagai kebutuhan satwa. Menurut Sinery . dan Sinery . , hutan pulau Numfor, hutan TWA Gunung Meja dan umumnya hutan dataran rendah merupakan habitat yang baik bagi satwa karena menyediakan berabagai jenis pakan termasuk tempat beraktivitas. Deskripsi Jenis Kehadiran tergambar melalui distribusi individu yang ditemukan pada keempat lokasi berbeda-beda. Keempat lokasi tersebut berturut-turut adalah hutan sekitar Kampung Werabur sebanyak 8 spesies, hutan pada lokasi penanaman bibit pala sebanyak 13 spesies, hutan sekitar gunung Maskeri sebanyak 16 spesis dan hutan dataran rendah dan hutan rawa di sekitar Kampung Idor dijumpai 12 spesies. Beberapa spesies yang sama dapat dijumpai pada empat lokasi, namun ada pula yang hanya dijumpai pada satu Jika dilihat dari jumlah spesies yang ditemukan, dapat dinilai lebih beragam pada hutan sekitar gunung Maskeri, hutan dataran rendah dan hutan HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis Marsupialia Areal hutan rencana pembangunan perkebunan pala Kopermas Kami Nasey memiliki keanekeragaman jenis mamalia khususnya marsupialia yang cukup tinggi. @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 5 . : 42Ae48 . Sinery & Burwos rawa di dekat kampung Idor dan lokasi penanaman bibit pala dibanding hutan di dekat kampung Werabur. Hal ini menunjukkan perbedaan kualitas habitat sehingga menjadi penentu konsentrasi populasi beberapa jenis satwa. Famili terbanyak pada ordo Marsupialia sebanyak 8 famili. Berdasarkan wawancara dan studi pustaka, diduga lebih dari 16 jenis marsupial terdapat di kawasan hutan ini, namun demikian diidentifikasi enam jenis jenis mamalia Tiga jenis diantaranya Permen LHK P106/2018 dan juga terdaftar dalam IUCN dan CITES (Appendix . Kanguru (Dendrolagus ursinu. merupakan jenis endemik kepala burung dan menyebar di Pegunungan Arfak dan Semenanjung Fakfak. Menurut Flannery . , bahwa spesies ini dapat dijumpai dari 0 sampai 300 mdpl pada habitat hutan primer. Jenis ini ditemukan masyarakat di sekitar Gunung Maskeri beberapa hari sebelum kegiatan penelitian. Kanguru pohon bereproduksi sepanjang tahun dan menyusui anak selama 5 - 6 bulan. Jenis ini mempunyai ciri fisiologis yang disebut diapause embrio atau kelahiran Hal ini memungkinkan betina untuk segera kawin lagi setelah melahirkan atau waktu masih ada anak dalam kantung bayi. Akan tetapi, perkembangan telur yang telah dibuahi itu ditunda sampai anak hampir mengakihiri kehidupan dalam kantung . Ketidakberadaan anak dalam kantung sampai kelahiran. Berbeda dengan landak papua (Ekidn. , sifat sosial dan senang berkumpul kanguru pohon merupakan salah satu penyebab penyusutan populasi jenis ini. Perburuan kanguru yang berhasil mungkin dapat membunuh seluruh anggota satu kelompok keluarga, bukan hanya seekor binatang (Petocz Kanguru pohon cenderawasih masuk Red list kategori Vulnerable IUCN dengan populasi menurun di alam, selain itu Permen LHK P. 106/2018. Walabi biasa hutan (Dorcopsis mueller. atau kanguru tanah menempati dataran rendah bagian Barat mainland Papua serta pulau Misool. Salawati, dan Yapen (Petocz 1994. Flannery 1. Penyebaran hewan ini sangat luas dan dapat ditemukan dekat pemukiman Matayang lebar merupakan mata khas hewan nokturnal, namun demikian hewan ini dapat aktif selama sebagian siang hari pada waktu adanya sinar matahari. Jenis ini memiliki jumlah populasi yang sangat besar di wilayah ini, namun hanya dijumpai jejak kaki pada saat pengamatan lapangan. Untuk memburu walabi masyarakat harus berjalan cukup jauh dari kampung dan atau jalan utama, karena semakin jauh populasi ini akibat aktivitas masyarakat termasuk berburu. Walaupun populasi yang besar di alam, hewan ini di beberapa daerah memiliki ancaman yang serius akibat perburuan untuk dikonsumsi. Demikian hanya dengan kehilangan habitat akibat konversi hutan untuk lahan pertanian dan kebun masyarakat juga memicu penurunan populasi jenis ini. Kuskus (Spilocuscus masyarakat karena keunikan bentuk dan warna rambut yang indah. Selain dagingnya dikonsumsi, kulitnya dapat dijadikan hiasan/pajangan yang menarik di dalam rumah. Jenis ini sangat umum dan dapat dijumpai pada ketinggian 0 @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 5 . : 42Ae48 . Sinery & Burwos 200 mdpl di hutan primer maupun hutan sekunder di seluruh Papua, kecuali areal savanna tidak ditemukan (Flannery 1. Kuskus totol hitam (Spilocuscus rufonige. memiliki warna mencolok yang membedakannya dari kedua jenis lainnya pada marga Spilocuscus. Jantan memiliki pola warna dilukiskan sebagai penempatan warna coklat kemerahan pada latar belakang putih dan warna hitam pada latar belakang coklat. Bulu betina lebih terang dan didominasi warna putih sampai kuning daging. Kuskus timur (Phalanger orientali. merupakan jenis kuskus yang tidak bertotol. Sama halnya dengan Spilocuscus maculatus, spesies ini diminati masyarakat untuk dikonsumsi. Kuskus timur tersebar di Papua, namun belum dilaporkan untuk wilayah selatan Papua. Penyebarannya dari 0 sampai 500 mdpl, dan dapat dijumpai di hutan primer, hutan sekunder, dan juga bekas Jenis ini juga dijumpai pada pulau di wilayah Teluk Wondama seperti Roon dan beberapa pulau lainnya. Pada tahun 2017 dan 2018 ditemukan masing-masing 1 dan 2 individu jenis kuskus ini oleh masyarakat yang dibawah ke wilayah Wasior. Menurut Sinery . kuskus jenis ini lebih adaptif terhadap perubahan habitat sehingga dapat ditemukan di hutan sekunder dan kebun masyarakat, selain di hutan primer. Kuskus tanah adalah kuskus terbesar kedua setelah Spilocuscus maculatus, berat jantan dapat mencapai 5 Sebutan "kuskus tanah" karena jenis ini hidup di lubangAelubang tanah, cela bebatuan atau di bawah reruntuhan batu. Dikenal juga kuskus gigi besar sebagai sinonim gigi premolar akhir yang besar dan menjadi satu indikator dalam identifikasi lewat anatomi jenis ini. Warna bulu coklat mirip wool, kadang terlihat efek keperakan, dorsal coklat atau kelabu dan ventral agak putih. Warna ekor hitam kadang disertai warna putih di ujung ekor, permukaan bawah ekor mirip parutan kayu . ertas pasi. , berakhir lebih mencolok dan lonjong ke ujung ekor secara teratur seperti ekor Phalanger orientalis (Petocz 1994. Flannery 1. Ketiga jenis kuskus ini terdapat di huta. Ketiga jenis ini dilindungi sesuai PerMen LHK 106/2018 Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi dan masuk Appendix II CITES. Dactylopsila palpator adalah possum yang tersebar luas di wilayah kepala burung. New Guinea tengah dan Semenanjung Huon dan diduga memiliki populasi besar di alam. Data populasi hewan ini belum diketahui, kadang hewan ini diburu penduduk untuk dimakan atau menemukannya sangat susah, sehingga perburuan tidaklah menjadi ancaman yang signifikan. Berdasarkan hasil wawancara speses ini sering diburu oleh masyarakat setempat unruk dikonsusmsi dan juga kulit jenis ini dijadikan hiasan. DAFTAR PUSTAKA