www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal DEDIKASI PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA PEMBELAJARAN PERBAIKAN (REMEDIAL TEACHING) MATA PELAJARAN PENJASORKES MELALUI PEER COACHING DI SMP BINAAN KOTA BANDA ACEH Budi Raharjo Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kota Banda Aceh Jl. Tgk. P Nyak Makam, No. 23, Kota Banda Aceh, Email: budiharja@gmail.com Abstract: Complete the learning approach is an effort in education that aim to motivate students to achieve mastery (mastery level) to a specific competency. By placing accomplished learning (mastery learning) as one of the key principles in support of the implementation of the implementation of the curriculum in 2013, which means that learning is something that should be thoroughly understood and implemented properly by all citizens, especially school education and other education personnel. Therefore, the need for guidelines to provide direction and guidance for education and educators in school about how learning should be implemented thoroughly. To achieve and meet the passing grade is the next step in the learning process improvement (remedial teaching). The aim of this study is to improve the ability of teachers in managing the learning improvement (remedial teaching) to achieve mastery learning (mastery learning) after implementing Peer Coaching. The subjects of this school is the teacher penjasorkes Kota Bharu City Junior High School number 6. Data collection was conducted in the following manner: interviews, questionnaires, observation, and recording. The results showed that the Peer Coaching or training peer undertaken in Kota Bharu City Junior High School have been able to improve the ability of teachers to implement instructional improvement. Peer Coaching, led by one of the teachers driver was able to motivate teachers in school Bandar Kota Bharu in planning and implementing improvements learning (Remadial Teaching). The statement has a significant impact on improving the quality of learning in Secondary Schools Bandar Kota Bharu. Peer Coaching has also been able to improve the competence of teachers of Junior High School in Bandar Kota Bharu choose the right model for learning in school improvement, especially in the implementation of the subjects Penjasorkes. Keywords: Potential Teacher, Remedial Teaching, Coaching Pee. Abstrak: Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik untuk mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan implementasi kurikulum 2013, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah khusunya pendidikan dan tenaga kependidikan lainnya. Untuk itu, perlu adanya panduan yang memberikan arah serta petunjuk bagi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah tentang bagaimana pembelajaran tuntas seharusnya dilaksanakan. Untuk mencapai dan memenuhi ketuntasan belajar tersebut langkah berikutnya adalah melalui proses pembelajaran perbaikan (remedial teaching). Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (remedial teaching) dalam mencapai ketuntasan belajar (mastery learning) setelah melaksanakan Peer Coaching. Subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru penjasorkes SMP Negeri Kota Banda Aceh sejumlah 6 orang. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara sebagai berikut: wawancara, kuesioner, observasi, dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peer Coaching atau pelatihan teman sebaya yang dilaksanakan di SMP Negeri Kota Banda Aceh telah mampu meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran perbaikan. Peer Coaching yang dimotori oleh salah seorang guru pemandu ternyata mampu memotivasi para guru di SMP Kota Banda Aceh dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran perbaikan (Remadial Teaching). Kenyataan tersebut telah berdampak yang signifikan terhadap meningkatnya mutu pembelajaran di SMP Negeri Kota Banda Aceh. Melalui Peer Coaching juga telah mampu meningkatkan kompetensi guru-guru SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam memilih model yang tepat dalam pembelajaran perbaikan di sekolahnya, khususnya dalam pelaksanaan mata pelajaran Penjasorkes. Kata kunci: Kemampuan Guru, Remedial Teaching, Pee Coaching. Volume 1, No. 2, Juli 2017 192 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Kenyataan menunjukkan bahwa dalam pendidikan yang diberikan kepada peserta didik pembelajaran Penjasorkes di SMP Negeri Kota tertentu untuk memperbaiki prestasi belajarnya Banda Aceh, pencapaian KKM tidak semudah sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang yang diharapkan. Dalam setiap akhir pembelajaran ditetapkan. kompetensi dasar tertentu, tidak semua siswa dapat penyelenggaraan model pembelajaran perbaikan, mencapai nilai di atas KKM. Menurut perhitungan terlebih rata-rata ada sekitar 15 % siswa belum mencapai Implementasi Kurikulum 2013 yang diberlakukan KKM yang telah ditentukan. Kenyataan ini akan berdasarkan Permendikbud 81A tahun 2013, menjadi semakin serius apabila tidak segera menerapkan diatasi. Salah satu kegiatan yang dapat digunakan kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan melaksanakan pembelajaran perbaikan (remedial individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai teaching). Guru perlu memprogramkan dan dengan dirumuskannya secara jelas standar melaksanakan pembelajaran perbaikan untuk kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang mengatasi siswa yang belum tuntas. harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan Untuk dahulu memahami perlu sistem diperhatikan pembelajaran konsep bahwa berbasis Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah KD setiap peserta didik diukur menggunakan satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang memotivasi mencapai peserta didik mencapai standar tertentu maka penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan peserta didik untuk tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum KAJIAN PUSTAKA Pembelajaran berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas Menurut Hasibuan (1998), pola pembelajaran merupakan sesuatu yang harus dipahami dan yang efektif adalah pola pembelajaran yang di dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh dalamnya terjadi interaksi dua arah antara guru dan warga sekolah khusunya pendidikan dan tenaga siswa, artinya guru tidak harus selalu menjadi kependidikan lainnya. Untuk itu, perlu adanya pihak yang lebih dominan. Pada pola pembelajaran panduan yang memberikan arah serta petunjuk ini guru tidak boleh hanya berperan sebagai bagi pendidikan dan tenaga kependidikan di pemberi informasi, tetapi juga bertugas dan sekolah tentang bagaimana pembelajaran tuntas bertanggung jawab sebagai pelaksana yang yang seharusnya dilaksanakan. Untuk mencapai dan harus menciptakan situasi memimpin, merangsang, memenuhi ketuntasan belajar tersebut langkah dan menggerakkan secara aktif. Selain itu, guru berikutnya adalah melalui proses pembelajaran harus dapat menimbulkan keberanian siswa baik perbaikan (remedial teaching). untuk mengeluarkan idenya maupun hanya Pembelajaran perbaikan merupakan layanan 193 sekadar untuk bertanya. Hal itu disebabkan karena Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi mengajar bukannya hanya suatu aktivitas yang belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan sekadar menyampaikan informasi kepada siswa, yang ditetapkan. Untuk memahami konsep melainkan suatu proses yang menuntut perubahan penyelenggaraan model pembelajaran remedial, peran seorang guru dari informator menjadi terlebih pengelola untuk Kurikulum 2013 yang diberlakukan berdasarkan membelajarkan siswa agar terlibat secara aktif Permendikbud no. 81A dan PP No. 32 Tahun 2013 sehingga terjadi perubahan-perubahan tingkah laku menerapkan siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem sebelumnya. pembelajaran yang memperhatikan perbedaan belajar yang bertujuan Salah satu tujuan pembelajaran adalah dahulu perlu sistem diperhatikan pembelajaran bahwa berbasis individual peserta didik. meningkatkan kemampuan berpikir siswa dengan Sistem dimaksud ditandai dengan mengembangkan proses berpikir tingkat tinggi dirumuskannya secara jelas standar kompetensi siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut guru harus (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus menyediakan peluang di dalam kelas yang dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD mempertimbangkan prakarsa dan keterlibatan setiap peserta didik diukur menggunakan sistem siswa lebih besar. Salah satu metode untuk penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik merangsang siswa berkomunikasi dan terlibat mencapai standar tertentu maka peserta didik secara aktif dalam pembelajaran adalah dengan dinyatakan telah mencapai ketuntasan. pertanyaan. Menurut pendapat Hasibuan (1988), dalam konteks pembelajaran dan sudut pandang teori belajar, pertanyaan merupakan suatu stimulus yang mendorong anak untuk berpikir dan belajar Bentuk pembelajaran perbaikan dapat berupa : 1. guru dengan menerangkan kembali materi yang sama (belum kompeten) dengan contoh sudut pandang lain juga mengatakan bahwa yang lebih riil, metode lebih variatif, dan pertanyaan merupakan suatu tindakan pedagogik strategi yang lebih sesuai dengan kemampuan guru dalam rangka mengkonstruksi pengetahuan siswa. 2. Perbaikan (remedial teaching) Penjelasan kembali oleh guru (re-teaching), yaitu kegiatan perbaikan yang dilakukan oleh siswa akan lebih berkembang. Sejalan dengan itu, Pembelajaran Perbaikan Mukhtar (2007), menyatakan pelaksanaan konsep yang diberikan dan kemampuan berpikir Hakikat Pembelajaran (Remedial) sehingga ank lebih mudah menguasai materi atau secara bersama. Kegiatan Penggunaan media dan alat peraga dalam mendukung metode pembelajaran yang sesuai. Dalam remedial ini diharapkan guru Pembelajaran perbaikan (remedial teaching) mampu memberikan pelayanan pembelajaran merupakan layanan pendidikan yang diberikan yang lebih baik kepada siswa. Oleh sebab itu, kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi penggunaan media pembelajaran maupun alat Volume 1, No. 2, Juli 2017 194 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi 3. 4. 5. peraga sangat diutamakan. coaching untuk membantu guru lain dalam hal (1) Studi kelompok (study group), dengan merencanakan dan menerapkan program peer memanfaatkan siswa yang telah kompeten coaching yang merupakan bagian dari rencana (lebih pandai) berperan sebagai tutor sebaya peningkatan sementara guru memantau kegiatan dan keterampilan memberi bimbingan bila diperlukan. mengembangkan diskusi tentang pembelajaran; (3) Tugas-tugas perseorangan dengan cara diberi bekerja sama dengan kepala sekolah dan rekan tugas untuk belajar mandiri dengan buku, sekerja untuk meyakinkan bahwa pelatihan ini atau media belajar lain seperti internet. merupakan bagian dari rencana pengembangan Bimbingan lain, artinya proses perbaikan profesional sekolahnya. sekolahnya; (2) menggunakan berkomunikasi untuk dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan wali kelas, guru bimbingan dan konseling, tutor, serta orang tua siswa terutama dalam mengatasi kesulitan belajar. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kota Banda Aceh, SMP Negeri 2 Kota Banda Aceh, SMP Negeri 3, SMP Negeri 6 Kota Banda Aceh, SMP Negeri 8 Kota Banda Aceh, dan SMP Tujuan Peer Coaching Peer coaching dilaksanakan dengan Negeri 18 Kota Banda Aceh. Penelitian ini memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 sampai Proses yang berkelanjutan yang bertujuan untuk dengan Desember 2013 (selama 3 bulan). meningkatkan kinerja sesuai dengan tugas yang Subjek penelitian adalah guru penjasorkes diampunya yang diharapkan dapat berdampak SMP Negeri Kota Banda Aceh sejumlah 6 orang dalam meningkatkan hasil belajar siswa; 2) guru, yaitu 1 orang guru SMP Negeri 1, 1 orang Meningkatkan kesuksesan guru dan siswa, serta guru SMP Negeri 2, 1 orang guru SMP Negeri 3, 1 dalam mencapai tujuan yang ditetapkan; 3) orang guru SMP Negeri 6, 1 orang guru SMP Menganalisis dan mendiskusikan materi pelajaran Negeri 8, dan 1 orang guru SMP Negeri 18. yang sesuai untuk mencapai SK-KD; 4) Membuat Penelitian ini dilaksanakan dengan keputusan berdasarkan data yang didapat; 5) menggunakan desain penelitian tindakan sekolah Menggunakan model pelatihan yang berbeda (school action research) yang dirancang melalui 2 untuk objek yang berbeda; 6) Mempunyai target (dua) siklus, masing-masing siklus melalui tahapan yang harus dicapai, baik materi maupun waktu. : (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan Adapun tujuan peer coaching adalah: 1) untuk mendukung terjadinya kolaborasi antarguru, tindakan (action), (4) pengamatan (observation), (5) refleksi (reflecting). 2) berbagi ide, 3) adanya rasa kebersamaan, 4) Teknik pengumpulan data yang digunakan dialog profesional, 5) meningkatnya kompetensi dalam penelitian ini adalah: wawancara, kuesioner, guru. Secara lebih khusus tujuan peer coaching observasi, adalah untuk melatih para guru pelatih peer mengembangkan data dan menguji validitas data 195 dan perekaman. Untuk Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi yang telah dikumpulkan digunakan teknik validitas pertemuan yang kedua sebagian besar responden triangulasi. Triangulasi yang digunakan adalah telah memahami perencanaan Remedial Teaching. triangulasi data atau sumber. Setelah data Kegiatan Peer Coaching yang dilaksanakan terkumpul, dianalisis dengan teknik analisis secara berkelompok tersebut cukup menarik. Akan deskriptif kualitatif. tetapi, persoalan yang muncul adalah keaktivan peserta dan penyelesaian setiap peserta kurang HASIL DAN PEMBAHASAN maksimal. Dari keenam peserta terlihat ada 2 orang yang kurang terlibat secara aktif baik pada Hasil Belajar Siklus I Pada siklus 1 pertemuan pertama diketahui saat mengemukakan masalah yang dihadapinya bahwa guru pada umumnya belum merencanakan maupun dalam memberikan sumbang saran Remedial Teaching secara sistematis. Biasanya kepada temannya. Remedial Teaching dilaksanakan secara mendadak sehabis penilaian dilaksanakan. Jenis kegiatannya pun juga kurang direncanakan secara matang. Pada umumnya guru akan memberikan ulangan lagi khusus bagi siswa yang belum dapat mencapai nilai KKM. Jika ulanagn yang kedua, siswa yang bersangkutan sudah mendapat nilai mnimal sama dengan KKM, siswa tersebut dinyatakan sudah tuntas. Oleh sebab itu, pada siklus 1 tersebut responden saling berbagi informasi, tanya jawab dengan sesama teman tentang perencanaan Remedial Teaching. Pada kegiatan tersebut salah seorang guru kelas yang kebetulan sebagai guru pemandu cukup aktif dalam baik dalam menyampaikan permasalahan maupun dalam memberikan solusi sebagai pemecahan persoalan. Hasil Belajar Siklus II Pada pertemuan kedua (siklus 2) kegiatan Pembahasan Berdasarkan analisis terhadap tindakan yang telah dilaksanakan pada 1 dan 2 dapat diambil simpulan bahwa melalui Peer Coaching dapat meningkatkan pemahaman guru SMP Negeri Kota Banda Aceh tentang perencanaan Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching). Hal ini terbukti bahwa pada awalnya masih terdapat dua orang guru yang belum memahami perencanaan Pembelajaran Perbaikan, akan tetapi akhirnya pada akhir kegiatan semua guru telah memahami perencanaan Pembelajaran Perbaikan. Melalui Peer Coaching juga telah mampu meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan Pembelajaran Perbaikan. Guru telah mampu menentukan jenis kegiatan pembelajaran yang tepat berdasarkan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakannya. Bentuk pembelajaran difokuskan pada penyusunan program Remedial perbaikan yang dilakukan guru telah variatif, Teaching. Penekanan kegiatan ini adalah pada sesuai dengan kemampuan siswa. perencanaan berbagai strategi Remedial Teaching berdasarkan kualitas dan persentase atau jumlah siswa yang belum tuntas. Melalui berbagai penjelasan dan contoh, akhirnya pada akhir Volume 1, No. 2, Juli 2017 196 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA Kesimpulan Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut : Peer Coaching atau pelatihan teman sebaya yang dilaksanakan di SMP Negeri Kota Banda Aceh telah mampu meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran perbaikan. Peer Coaching yang dimotori oleh salah seorang guru pemandu ternyata mampu memotivasi para guru di SMP Kota Banda Aceh dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran perbaikan (Remadial Teaching). Kenyataan tersebut telah berdampak yang signifikan terhadap meningkatnya mutu pembelajaran di SMP Negeri Kota Banda Aceh. Melalui Peer Coaching juga telah mampu meningkatkan kompetensi guru penjasorkes SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam memilih model yang tepat dalam pembelajaran perbaikan di sekolahnya, khususnya dalam pelaksanaan mata pelajaran Penjasorkes. Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang – Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbara Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Pedoman Pembelajaran Tuntas, Jakarta : Depdiknas Dwiyoga, Wasis. (2006). Penelitian Tindakan Untuk Memperbaiki Sekolah (School Action Research). PMPTK Jakarta: Dirjen Direktorat Tenaga Kependidikan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41. Peraturan Pemerintah Republik Indonasia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta : Biro Hukum dan Organisasi Sekjen Depdiknas. Mukhtar dan Rusmini, (2007). Pengajaran Saran Mengingat penting dan strategisnya Peer Remedial Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta: PT Nimas Coaching dalam peningkatan mutu pendidikan, Multima. perlu dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. Rachmadiarti, Fida. (2003). Pengajaran dan Pengayaan. Pertama, kegiatan peer coaching perlu dilestarikan Remedial di setiap sekolah. Kegiatan peer coaching ini perlu Proyek Peningkatan Mutu SLTP. difokuskan untuk mengatasi persoalan-persoalan Suharsini, Suhardjono, dan Supardi. (2006). yang dihadapi oleh sebagian besar guru. Melalui Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. peer coaching ini sedikit demi sedikit peningkatan Bumi Aksara. kualitas pendidikan akan menjadi suatu kenyataan. Jakarta: Achmad Ridwan. (2007). Peer Coaching: Pemahaman Istilah dan Penerapannya. Jakarta: Makalah dalam workshop Microsoft, 2007. 197 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Beverly Showers; Bruce Joyce. The Evolution Ng Pak Tee. (2005). Grow Me Coaching for of Peer Coaching. dalam Educational Schoo., Second Edition: Singapore: Leadership, March 1996 v53 n6 p12(5). Pearson Prentice Hall. http://www.eggplant.org/pamphlets/pdf/j oyce_showers_peer_coaching.pdf Michael Fullan. (2007). The New Meaning of Peer Coaching: A Process for Improving Instructional Practices for Children with Autism Spectrum Disorders. Educational Change. Fourth Edition. http://www.autismnetwork.org/modules/ NY: Teachers College Press. /academic/pc/index.html Volume 1, No. 2, Juli 2017 198