Ganesha Civic Education Journal Volume 7. Number 1. April 2025, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index KESENJANGAN MORAL IN DOCUMENT DAN MORAL IN ACTION: PRAKTIK PENDIDIKAN MORAL PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE CABANG MALANG Prasetyo Adi Nugroho * Universitas Islam Negeri Sayyid AlI Rahmatullah Tulungagung. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 13 Desember 2024 Accepted 17 Maret 2025 Available online 18 April Artikel ini bertujuan untuk menganalisis praktik pendidikan moral dalam organisasi Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Proses pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data merujuk Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian Kata Kunci: data, verifikasi. Untuk memastikan kredibiltas data, peneliti menggunakan Pendidikan Moral. member cek dan peningkatan ketekunan serta penambahan literatur. Hasil Pemikiran Reflektif. Tindakan Berwibawa penelitian menunjukan bahwa Persaudaraan Setia Hati Terate merupakan lembaga sosial yang menjalankan peran Pendidikan Moral secara visioner. Keywords: idealis dan praktis. Pendidikan moral in document tertuang pada Moral Education. Reflective Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PSHT. Pendidikan moral Authoritative dilaksanakan dengan dua tipe, yaitu reflektif thinking dan tindakan Secara praktis pendidikan moral di Persaudaan Setia Hati Terate berada pada front stage dalam drama turgi sosial, sebagai tindakan adaptif terhadap sosial order. Sehingga secara empiris, tindakan moral praktis anggota PSHT adalah imperative hypotheses problematic. Pendidikan moral pada Persaudaraan Setia Hati Terate memerlukan waktu dan penanganan inventif untuk menumbuhkan kesadaran moral. ABSTRACT This article aims to analyze the practicality of moral education in the Pencak Silat organization Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). The study used a qualitative design with a phenomenological Processes of collecting data are observation, interviews and documentation. Data analysis techniques refer to Miles and Huberman, namely data reduction, data presentation, verification. To ensure the data credibility, researcher used member checks and increased persistence and addition of literature. Results showed that the Persaudataan Setia Hati Terate (PSHT) is a social institution that carries out the role of Moral Education in a visionary, idealistic and practical way. Moral guidance in the document is contained in the Articles of Association and Bylaws of PSHT. Moral education is carried out in two types, namely reflective thinking and authoritative action. Practically, moral education at Persaudaan Setia Hati Terate is at the front stage in the social dramaturgi, as an adaptive action against the social order. The practical moral actions of PSHT members are imperative hypotheses problematic. Moral education at the Setia Hati Terate Brotherhood requires time and inventive handling to foster moral awareness. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: prasetyoadinugroho1993@gmail. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Pendahuluan Praktik pendidikan moral menempati posisi sebagai konsekuensi atas formula instrumental pendidikan moral. Secara praktis, moral mengacu pada ukuran baik atas sikap atau tindakan yang tampak mata dari seseorang. Meskipun istilah moral selalu terkait dengan baikburuknya manusia sebagai manusia (Magnis-Suseno, 1. , namun term yang digunakan sebagai respons atas tindakan tidak baik adalah amoral. Pada posisi selanjutnya, pendidikan moral menjadi sebuah sarana pengembangan diri yang disusun secara sistematis untuk mencapai posisi bermoral. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) menempatkan posisi sebagai pihak yang berperan dalam pendidikan moral. Sebagaimana tujuan penyelenggaraan PSHT yaitu mendidik dan menjadikan manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (ADART-PSHT, 2. Mempertimbangkan isu degradasi moral yang banyak didiskusikan (Alia et al. , 2020. Nasution & Jazuli, 2020. Prihatmojo & Badawi, 2. maka investigasi terhadap praktik pendidikan moral pada PSHT perlu dilaksanakan. Secara faktual PSHT syarat dengan konflik, dimana secara terburu-buru akan dapat dinilai bahwa organisasi ini berada pada posisi yang berbeda dengan Pendidikan moral. Sebagaimana peristiwa di Madiun, masing-masing anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) terekam berkonflik dengan Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), keduanya terlibat dalam tindakan ancaman dengan senjata, penganiayaan, dan penghancuran terutama pada hari peringatan malam 1 suro (Wiranegara, 2. Selain itu, dalam tubuh PSHT pun tidak terlepas konflik yang berlangsung beberapa tahun terakhir ini. Konflik internal PSHT berhasil di-identifikasi, diantaranya terdapat perbedaan pendapat terkait keputusan pemilihan ketua umum pada tahun Meskipun telah disahkan ketua umum yang baru, namun ini menjadi pemicu konflik lanjutan yaitu kudeta untuk memecat Ketua Majelis Luhur. Sekretaris Majelis Luhur dan Ketua Umum yang sah, kemudian mengangkat ketua majelis luhur dan ketua umum PSHT yang baru pada tahun 2017. Konflik ini menjadi pemantik pecah belah organisasi PSHT, dimana terdapat kelompok yang mendukung ketua umum hasil musyawarah tahun 2016 dan kelompok yang mendukung hasil putusan tahun 2017, ditambah lagi terjadi deskriminasi yang dilakukan masing-masing pendukung terhadap praktik latihan pencak silat satu sama lain (Ishmah, 2. Beberapa penelitian lain justru menguatkan bahwa PSHT merupakan pelaku pendidikan Sebagaima Hidayah, . yang berhasil memetakan pendidikan akhlak dengan PSHT sebagai sarananya. Begitu pula dengan Pramesti, . mendiskusikan implementasi pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler pencak silat, serta Rochman, . yang melaporkan upaya pendidikan Islam pada PSHT di Ponorogo. Bahkan Wibowo & Satwika . melaporkan terkait relevansi praktis pendidikan anggota PSHT dengan mentalitas positif siswa. Mufarriq . melaporkan bahwa, pembentukan karakter pemuda dapat melalui latihan pencak silat PSHT Komisariat UGM yang berlandaskan pada panca dasar, yaitu: persaudaraan, olahraga, beladiri, kesenian, dan kerohanian. Sedangkan karakter pemuda yang mampu dibentuk berupa: sopan santun, disiplin, berani, sederhana, cinta tanah air, serta berbakti kepada orangtua, negara dan agama. Dimensi moralitas pada organisasi PSHT menunjukan terdapat kesenjangan yang memisahkan antara tindakan yang mengarah pada term amoral dan upaya pendidikan yang mengarah pada term bermoral. Impact positif sebagaimana penelitian diatas diperkuat dengan penelitian Sin & Ihsan . yang melaporkan signifikansi pendidikan moral melalui Pencak Silat terhadap perubahan positif peronal siswa. Beradasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADART) PSHT yang terbit tahun 2021. Organisasi pencak silat ini secara ideal menunjukkan keberpihakan yang positif atas pembentukan moral seseorang. Komitmen PSHT dalam pendidikan moral terepresentasi pada pernyataan Aumendidik manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ay Pernyataan ini mengarahkan konsentrasi organisasi pada pengawalan entitas moral seseorang baik pada ranah metafisis maupun ranah empiris. Namun beberapa temuan hasil peneilian dan observasi menunjukan terdapat situasi yang berbanding terbalik dengan ide pendidikan moral in document. Untuk itu pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana kesenjangan pendidikan moral ranah in document dan in action dalam PSHT? Dengan demikian kajian ini berusaha untuk menganalisis praktis pendidikan moral dalam organisasi Pencak Silat Prasetyo Adi Nugroho / Kesenjangan Moral in Document dan Moral in Action: Praktik Pendidikan Moral Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang dengan mempertimbangkan aktivitas peneliti dalam organisasi PSHT di Kota Malang. Mengingat term moralitas merujuk pada sikap hati sesorang yang terungkap dalam tindakan lahiriah (Bertens, 1992:. , maka penelitian ini diupayakan mampu mengidentifikasi aspek moralitas pada praktik pendidikan moral PSHT. Mempertimbangkan konsepsi moralitas yang sifatnya memiliki keterkaitan baik-buruknya manusia sebagai manusia (Magnis-Suseno, 1. , maka penelitian ini diasumsikan mampu mengidentifikasi kategori baik dan buruk tersebut sebagai bentuk dimensi moralitas praktis. Metode Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Posisi peneliti adalah sebagai instrument kunci dalam pengumpulan data, karena fenomenologi mendorong peneliti untuk menjadi partisipan dalam kegiatan pendidikan moral Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Malang. Proses pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengumpulan data dimulai sejak peneliti bergabung dalam organisasi PSHT cabang Malang dengan status sebagai pelatih. Subjek penelitian terdiri atas enam orang, dua diantaranya adalah perempuan dan empat lainnya laki-laki. Peneliti melakukan observasi pada Pelatih PSHT di lokasi latihan Komisariat Universitas Negeri Malang. Penelitian dilakukan tahun 2020 dengan memfokuskan pencarian pada aspek landasan ideal dan praktis proses pendidikan moral PSHT melalui dokumen penting seperti Anggaran Dasar dan Rumah Tangga PSHT dan Buku I serta Buku II PSHT cabang Malang. Wawancara dan dokumentasi dilakukan sebagai sarana untuk mengklarifikasi hasil observasi. Data hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dikumpulkan dengan Teknik coding sebagaimana Miles dan Huberman. Pada tahap lanjut Teknik analisis data Miles dan Huberman menjadi rujukan sentral bagi proses penelitian ini, yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Proses tahapan analisis data dilakukan sejak pertama kali peneliti memperoleh data hasil observasi, dan proses verifikasi dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi. Proses ini berlangsung terus menerus hingga data bersifat jenuh. Untuk memastikan kredibilitas data, langkah pertama yang diambil meliputi member cek dalam bentuk wawancara dengan pelatih/Pembina PSHT. Kedua, peningkatan ketekunan peneliti pada literatur ilmiah yang relevan dengan temuan penelitian Hal ini memerlukan effort yang berkesinambungan karena menyesuaikan temuan terakhir penelitian. Hasil dan Pembahasan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) adalah lembaga sosial yang memfokuskan diri pada kegiatan olahraga. Ki Hadjar Hardjo Utomo adalah inisiator pendirian organisasi ini pada tahun 1922, kemudian pada kongres pertama PSHT di Madiun tahun 1948 disepakati nama organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Pada tanggal 18 Mei 1948. PSHT berkontribusi pada pendirian Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Menurut data Humas PSHT . Organisasi PSHT memiliki anggota sekitar 7 juta orang, 236 cabang di kabupaten/kota Indonesia, 10 komisariat di perguruan tinggi dan 10 komisariat luar negeri. PSHT cabang Malang memiliki 7 komisariat meliputi Komisariat Universitas Negeri Malang. Universitas Brawijaya. Universitas Islam Negeri Malang. Universitas Muhammadiyah Malang. SMA Negeri Ngantang, dan Komisariat Karangploso. Penyelenggaraan pendidikan atau pembinaan di organisasi PSHT cabang Malang meliputi aspek pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kebenaran (Akbar, 2. Untuk mendukung hal tersebut, terdapat 2 kelompok materi yaitu kelompok pencak silat ajaran yang terdiri dari . senam dasar. jurus toya, . jurus belati, dan . Kelompok kedua adalah kelompok pencak silat prestasi, dimana tujuan pendidikan atau pembinaan adalah untuk mengikuti kejuaraan atau ajang olahraga. Materi pendidikan meliputi pencak silat tanding dan pencak silat seni. Komisariat Universitas Negeri Malang memiliki konsentrasi penuh pada tercapainya regenerasi atlet pencak silat baik tanding maupun seni. Selain itu PSHT juga mengajarkan beberapa ajaran kerohanian. Organisasi memberi nama dengan istilah ke-SH-an. Inti pendidikan ke-SH-an adalah menumbuhkan kesadaran atas posisi GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. diri individu ditengah komposisi masyarakat yang beragam. Pendidikan ke-SH-an juga berkonsentrasi pada upaya menumbuhkan kesadaran hubungan antara diri individu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana pernyataan AuAmemahami dirinya sendiri dan hati nuraninya, bahwa manusia dapat dihancurkanAtetapiAtidak dapat dikalahkan selama manusia itu setia pada hatinya sendiri dan tidak ada kekuatan apa pun di atas manusia yang bisa mengalahkan manusia kecuali kekuatan Tuhan Yang Maha Esa (ADART-PSHT, 2. Ay Proses pendidikan pada aspek ini direalisasikan menggunakan pendekatan reflective inquiry dan situated cognition. Aktivitas tampak mata pendidikan ke-SH-an adalah forum group discussion antara pelatih/pembimbing kepada siswa atau anggota PSHT yang lebih muda. Pendidikan keSH-an merupakan konsekuensi atas tujuan yang ditetapkan organisasi, karena didorong atas upaya pengawalan indikator pencapaian tujuan PSHT agar terepresentasi pada setiap anggota. Pendidikan jasmani dan ke-SH-an merupakan upaya membentuk kompetensi aktual anggota PSHT. Setiap anggota resmi PSHT, menempatkan kompetensi aktual sebagai komponen yang mampu menjalankan fungsi mewujudkan misi besar organisasi. Humas PSHT . menerjemahkan misi besar organisasi adalah sebagai ajaran dan gerakan budi pekerti luhur, dimana anggota PSHT harus berpartisipasi merealisasikan Aumemayu hayuning bawana. Ay Frasa tersebut mengarah pada upaya menjaga keindahan dunia. PSHT menarasikan Aumemayu hayuning bawanaAy sebagai upaya mengeneralisasi kompleksitas tujuan PSHT. Pada posisi ini keberadaan PSHT memiliki relevansi dengan pernyataan teks Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 berkaitan dengan tujuan didirikannya negara Indonesia, yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia. Pendidikan Moral In Document Hasil penelitian menunjukan bahwa Persaudaraan Setia Hati Terate merupakan lembaga sosial yang menjalankan peran Pendidikan Moral secara visioner, idealis dan praktis. Pertama, kategori visioner ditetapkan berdasarkan telaah pada teks Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PSHT . Teks Mukadimah menerangkan secara ringkas visi organisasi PSHT. Visi tersebut merepresentasikan adanya dua hal yang menjadi motif penyelenggaraan Organisasi. Visi tersebut terdiri atas pendidikan fisik berupa olah raga dan pendidikan kesadaran atas entitas metafisis yang berada didalam individu yang disebut dengan kerohanian. Berikut paparan singkat Mukadimah PSHT. AuPencak silat salah satu ajaran SETIA HATI TERATE dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dari kebenaran terhadap setiap penyerang, dalam pada itu SETIA HATI sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan kebenaran hidup yang sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang diluar Oleh karena itu pencak silat hanyalah suatu syarat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi (ADART-PSHT, 2. Ay Visi diatas memberikan konsepsi because of motive atas latihan fisik yang dijalani anggota PSHT yaitu mampu mengenal diri sendiri. Dengan kata lain, latihan fisik yang dijalani anggota PSHT menjadi sarana untuk menyadari aspek-aspek yang menjadi poin positif dan negatif pada diri sendiri. Tujuan dari mengenal diri adalah agar anggota PSHT tidak menempatkan sebab atas persoalan tertentu dengan sembarangan, karena pendiri PSHT merumuskan bahwa sebab atas persoalan yang tampak mata adalah berasal dari diri pribadi anggota PSHT. Secara tersirat pendiri PSHT memberikan saran bahwa anggota PSHT tidak diperkenankan menyalahkan aspek lain diluar dirinya atas persoalan yang terjadi. Sebagaimana Hadist Bukhari dan Muslim yang artinya AuASesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkanAAy dari potongan hadist tersebut dapat diperoleh poin penting yaitu, tindakan praktis memiliki korelasi positif dengan ide, begitu pula because of motive berbanding lurus dengan tindakan praktis. Kedua, kategori idealis mengarah pada statement mengenai tujuan diselenggarakannya organisasi PSHT yang dituangkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADART) PSHT . Tujuan diselenggarakannya organisasi PSHT adalah AuAmendidik dan menjadikan Prasetyo Adi Nugroho / Kesenjangan Moral in Document dan Moral in Action: Praktik Pendidikan Moral Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (ADART-PSHT, 2. Ay Statement tujuan penyelenggaraan organisasi PSHT tersebut merepresentasikan idealisme yang diusung organisasi guna membentuk manusia ideal. Indikator manusia ideal PSHT adalah . berbudi luhur. Tahu Benar dan Salah. Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tiga indikator manusia ideal PSHT pada satu sisi tidak memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan visi PSHT yaitu Auseni olah raga pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dari kebenaran terhadap setiap penyerang. Ay Mempertimbangkan jika individu memiliki power yang lebih banyak dari pada individu lain maka akan ada kecenderungan melakukan kesalahan (Ridwan. Sehingga perlu adanya kesadaran dan kontrol untuk berada pada posisi berbudi luhur, tahu benar dan salah, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Narasi organisasi PSHT AuAmendidik dan menjadikan manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha EsaAy adalah idealisme organisasi. Mempertimbangkan Bactiar . dan Ridwan . mengenai efek power atau kekuasaan yang berlebih pada kemunduran atas kontrol diri maka konsep berbudi, tahu benar dan salah, serta beriman adalah keniscayaan yang memerlukan effort untuk sampai pada tahap realitas. Aspek dimensi moral digambarkan dengan Aumenjadi manusia berbudi pekerti luhurAy sebagai representasi moralitas atas tindakan praktis. Sehingga aspek Autahu benar dan salah serta beriman,Ay merupakan adalah reperesentasi tindakan praktis anggota PSHT dan sosial order. Merujuk Permanadeli . , tiga narasi ideal ini adalah area individu mencapai tahap dadi wong Setia Hati Terate. Indikator Autahu benar dan salah serta berimanAy jika benar-benar dipahami oleh setiap anggota PSHT, maka dimensi karakter yang dimiliki mengalami perkembangan dari moral knowing menuju moral feeling (Lickona, 2. Sehingga dalam organisasi PSHT, narasi tentang apa dan bagaimana tahu benar-salah itu serta apa dan bagaimana beriman itu termasuk kategori dimensi idealitas dalam filsafat Pancasila (Kaelan. Dimensi idealitas dalam kajian filsafat memerlukan penanganan lanjutan, yaitu diturunkan menjadi instrumen-instrumen berbentuk sosial order. Komponen instrumen sosial order PSHT bisa dikatakan sebagai peraturan tertulis yang timbul atas ketentuan pada dimensi idealitas. Instrumen yang dimaksud termuat dalam dokumen AuWasiat Setia Hati TerateAy yang meliputi kewajiban, larangan dan pepacuh. Hal-hal berkaitan dengan kewajiban . Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbakti kepada orang tua dan gurunya. Menjaga nama baik Setia Hati Terate. Bersifat kesyatriya dan tetap pendirianya. Berdiri di atas garis keadilan, kebenaran dan tidak boleh memihak sebelah. Berani karena benar takut karena salah. Bertanggung jawab atas segala perbuatanya. Menjaga ketentraman, menjunjung tinggi Nusantara dan Bangsa Indonesia dengan penuh kecintaan dan kesetiaan hatinya. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri. Membuktikan sebagai bangsa yang . Kekal dalam persaudaraan dan menguatkan sifat tolong menolong di antara sesama anggota Setia Hati Terate. Bangsa indonesia dan umat manusia pada umumnya (ADARTPSHT, 2. Wasiat Setia Hati Terate berisi larangan meliputi, . Memberi pelajaran Pencak Silat tanpa surat mandat dari Pengurus Pusat. Sombong dan membuat sakit hati sesamanya. Menunjukkan kepandaianya dimana tidak berguna. Menunjukkan kepandaianya di muka umum, sehingga membuat sakit hati orang lain. Menerima segala sesuatu yang tidak sah (ADART-PSHT, 2. Larangan ini berisi hal-hal yang menyangkut upaya preventif terjadinya pertentangan antar sesama manusia. Namun demikian, meskipun PSHT mengkategorikan 5 hal ini sebagai sebuah kesalahan besar, disisi lain larangan berupa AupepacuhAy diposisikan sebagai indikator manusia tak berbudi jika ada anggota yang melanggarnya. Poin-poin dalam AupepacuhAy meliputi, . Merusak Pagar Ayu dan Poros Ijo. Merampas dan memiliki hak orang lain. Berkelahi dengan sesama Warga Setia Hati Terate (ADART-PSHT, 2. Beberapa hal diatas adalah realisasi atas dimensi idelitas PSHT dan bentuk turunannya yaitu berupa instrumen GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Ketiga, kategori praktis berkenaan dengan upaya pendidikan anggota PSHT untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi. Pendidikan didominasi dengan latihan fisik berupa olah raga pencak silat. Dominasi latihan fisik ini didasari atas pernyataan dalam mukadimah yaitu. AuAmanusia sebagai makhluk Allah Tuhan Semesta Alam, yang terutama hendak menuju ke keabadian kembali kepada Causa Prima titik tolak segalaAnamun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang di kejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninyaASETIA HATI sadar meyakini akan hakiki hayati itu dan akan mengajak serta warganya menyikap tabir / tirai selubung hati nurani dimana AuSANG MUTIARA HIDUPAy bertahta. Pencak silat salah satu ajaran SETIA HATI TERATE dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dari kebenaran terhadap setiap penyerang, dalam pada itu SETIA HATI sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan kebenaran hidup yang sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang diluar dirinyaA(ADARTPSHT, 2. Ay. Pernyataan pada mukadimah diatas menandakan bahwa PSHT bergerak dengan nilai religiusitas dan menyadari posisi manusia sebagai hamba atas causa prima. Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian Pencak Silat memiliki posisi sebagai sarana bagi anggota untuk lebih memahami posisi diri atas situasi tersebut. Pada tahap berikutnya PSHT berusaha mengajak para anggotanya untuk secara bersama-sama mencari jalan menuju ridha Allah. Maka dari itu, pendidikan fisik berupa olah raga pencak silat di jadikan sarana pertama untuk melatih anggota PSHT mengenal diri pribadinya. PSHT meyakini bahwa dalam upaya menggapai ridha Allah melaksanakan Aumemayu hayuning bawanaAy, individu tersebut akan menemui rintangan. Namun. PSHT berupaya melakukan reposisi rintangan itu bukan sebagai masalah diluar diri individu, melainkan representasi atas pribadi individu tersebut yang masih memiliki masalah bahkan menjadi masalah. Sehingga dalam penyelesaian masalah yang tampak diluar diri individu tersebut, terlebih dahulu anggota PSHT memperbaiki dirinya. Pada bagian ini, di-isyaratkan bahwa setiap anggota PSHT diharapkan saling membantu mencapai tahap manusia ideal. Upaya ini dimulai dengan bimbingan latihan secara fisik dan self improvement. Aspek ini menjadi kompetensi aktual individu untuk mengupayakan ridho Allah. Secara singkat, mekanisme perkembangan individu menjadi manusia ideal PSHT adalah terjadi pergerakan yang mulanya berbentuk moral knowing menuju moral feeling, kemudian moral action (Lickona. Pendidikan Moral In Action Secara faktual, pendidikan moral dilaksanakan dengan dua tipe, yaitu reflektif thinking dan tindakan otoritatif. Langkah-Langkah dalam Melakukan Pendidikan Moral antara lain: melalui keteladanan, ajang ke-SH-an, dan penegakan peraturan. Keteladanan ditunjukan pelatih kepada siswa-siswi PSHT pada jadwal latihan dengan menempatkan diri sebagai model yang dapat dicontoh bahkan harus dicontoh. Self modeling yang dilakukan pelatih meliputi aspekaspek kedisiplinan, ketaqwaan, dan kesopanan. Ajang ke-SH-an merupakan kegiatan berbentuk forum discussion satu arah yang dilakukan pelatih senior atau warga tingkat II kepada warga tingkat I dan siswa. Nilai moral yang ditanamkan melalui ajang ke-SH-an meliputi nilai kasih sayang, hormat kepada orang tua atau orang yang lebih tua, dan setia kepada hati nurani atau setia kepada suara hati. Penegakan Peraturan merupakan tindakan kontrol kepada siswa PSHT agar aktivitas yang dilakukan relevan dengan prinsip-prinsip yang tertulis dalam ADART PSHT. Peraturan yang telah disepakati bersama antara pelatih dan siswa, menjadi acuan untuk menentukan situasi pembinaan atau pendidikan moral. Dari kesepakatan tersebut seluruh peserta latihan pencak silat termasuk pelatih harus mentaati dan mematuhi peraturan selama latihan. Hasil observasi menunjukan dua temuan penting. Pertama, berdasarkan hasil wawancara, penegakan peraturan ini dimaksudkan untuk beberapa tujuan, antara lain menumbuhkan kesadaran siswa terkait tanggung jawab, membina pentingnya kejujuran dan mengawal tumbuhnya sikap menjaga amanah, serta kedisiplinan. Asumsi pelatih pencak silat PSHT terkait Prasetyo Adi Nugroho / Kesenjangan Moral in Document dan Moral in Action: Praktik Pendidikan Moral Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. penegakan peraturna ini adalah mampu menumbuhkan kebiasaan untuk berdisiplin diri. Kedua, berdasarkan pengamatan, ketentuan-ketentuan di atas dilaksanakan dengan standar yang bervariasi, tergantung faktor Ausiapa pelatih yang bertugas. Ay Standar yang bervariasi ini menimbulkan kesenjangan antara prinsip pendidikan moral in document dan pendidikan moral in action. Karena pelaksanaan pendidikan moral hanya melaksanakan sebagian kecil dari moral in document, seperti disiplin dan bertanggung jawab. Variasi standar pendidikan moral ini berimplikasi pada pengabaian instrumen sosial order PSHT. Disamping adanya variasi standar pelaksanaan pendidikan moral, terdapat pula perbedaan orientasi tindakan sebagian pelatih ketika sedang bertugas dengan ketika tidak Fakta dilapangan menunjukan bahwa point-point langkah pendidikan moral yang berisi pemberian teladan dan internalisasi nilai melalui ajang ke-SH-an memiliki perbedaan yang signifikan dengan aktivitas sehari-hari pelatih. Pada setting pembinaan fisik berupa pencak silat, pelatih PSHT menampilkan sikap tegas dalam mengawal peraturan bahkan memberikan konsekuensi atas kesalahan secara berlebih. Konsekuensi tersebut meliputi tindakan memukul dan/atau menendang perut, dada dan punggung tergantung Ausiapa pelatih yang bertugasAy. Selain tindakan konsekuensi tersebut, beberapa pelatih juga menerapkan konsekuensi hukuman fisik seperti push up. Squat jump, rol depan/belakang, lari mengitari lapangan dengan hitungan tertentu tergantung Ausiapa pelatih yang bertugasAy. Kesenjangan Praktik Pendidikan Moral Secara faktual pendidikan moral di Persaudaan Setia Hati Terate berada pada front stage dalam dramaturgi sosial. Hal ini didasarkan atas temuan bahwa terdapat pelatih PSHT yang tidak terjadwal masuk pada setting latihan fisik kemudian ia menunjuk salah satu siswa PSHT untuk berdiri dan membuat klaim bahwa siswa tersebut telah merokok pada beberapa hari sebelum latihan. Pelatih tersebut memberikan pukulan ke bagian dada dan tendangan ke bagian perut siswa tertuduh tersebut sebelum melakukan konfirmasi. Tindakan ini segera direspon oleh pelatih senior dengan melerai bernegosiasi sesama pelatih. Point permasalahan yang diangkat tersebut berbanding terbalik dengan sisi back stage pelatih. Karena peneliti menemukan bahwa pelatih PSHT yang tidak terjadwal tersebut adalah perokok aktif, dan ia merencanakan akan datang ke lokasi latihan PSHT AumenghajarAy siswa PSHT karena sedang mengalami masalah. Temuan situasi ini, menandakan terdapat terdapat perbedaan antara moral in document dan moral in action. Sikap tegas bahkan brutal dari pelatih dilaksanakan dengan mengatasnamakan peraturan yang telah disepakati dan visi-idealisme PSHT yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, berbanding terbalik dengan sisi back stage. Tindakan pendidikan moral oleh Pelatih PSHT ini di-identikan sebagai tindakan adaptif terhadap sosial order, dan mengarah pada karakteristik bipolar. Dramaturgi dipelopori oleh Ervin Goffman sebagai representasi atas kenyataan diri Ia membuat pengandaian atas kehidupan individu sebagai sandiwara. Goffman membagi wilayah sandiwara ini menjadi dua yaitu front stage dan back stage. Front stage meliputi aspek setting, penampilan diri, dan komponen pelengkap untuk mengekspresikan diri. Sedangkan back stage adalah the self, yaitu kegiatan pelaku yang tidak tampak mata berfungsi mendukung keberhasilan acting atau penampilan diri. Misi utama kaum dramaturgi adalah memahami dinamika sosial dan menganjurkan kepada mereka yang berpartisipasi dalam interaksi-interaksi tersebut untuk membuka topeng para pemainnya untuk memperbaiki kinerja mereka (MustaAoin, 2. Hal ini didukung atas kesimpulan sebuah penelitian. AuAdramaturgi harus dilakukan saat pelaksanaan pembinaanA (Mahardi, 2. Ay Dramaturgi dinilai sukses dalam poses marketing di Nigeria sekalipun tindakan marketer adalah berbohong pada customer (Onipede & Fanala, 2. Sebagaimana DAoCruz . yang menyatkan. AuAdoes dramaturgy determine the way space and time are handled in a performance, and so the context and the audience too? We can probably answer these questions with Aoyes, butAAy GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Dramaturgi menempati posisi penting dalam rangka mendorong aktivitas organisasi untuk bergerak sesuai tujuan yang ditetapkan atau melebihi ekspektasi. Mempertimbangkan dengan seksama tindakan aplikasi pendidikan moral pelatih PSHT sebagaimana moral in document, baik yang tampak mata maupun tidak tampak mata . ack stag. maka kecil kemungkinan untuk sampai pada posisi moral worth. Hal ini di identikan berdasarkan AuAwhat is important for an actions having moral worth is that the agent is motivated by a moral concern, such as a concern for doing what is morally right. That is, the agentAos object of concern must contain a moral conceptA (Lorentzon, 2. Ay Sikap tegas bahkan brutal dari pelatih PSHT dalam rangka menegakkan peraturan identik dengan moral concept view. Sedangkan motif tindakan yang tidak memiliki relevansi dengan moral concept view adalah non-moral concern. Sebagaimana pernyataan. AuAthe agents motivation to perform the action is explained by his recognition of the relevant moral facts (Lorentzon, 2. Ay pelatih/pembina PSHT haruslah memiliki motif yang relevan atas tindakan moral in action sebagai indikator moral worth. Pendidikan moral yang tertuang dalam moral in document organisasi PSHT mengarahkan diskusi Emanuel Kant. Beranjak dari penolakan atas pertanyaan Auapa yang membuat manusia baik?Ay menjadi Auapa yang baik pada diri manusia?Ay Sampailah pada apriori akal budi praktis yaitu Aukehendak baikAy sebagai inti pemikiran etika Kant (Dahlan, 2009. Gusmian, 2014. Muthmainnah, 2018. Noor, 2. Sifat apriori adalah melampaui pengalaman. Maka narasi moral dalam dokumen AD&ART PSHT telah dianggap baik dan benar tanpa harus dibuktikan secara empiris. Kasualitas moral in document PSHT relevan dengan konsepsi Auputusan. Ay Unsur pembentuk putusan terdiri atas Pertama, . kesadaran kesatuan. kesadaran pluralitas . kesadaran totalitas. realitas, . substansi- aksidensi. Keempat. kemungkinan dan kemustahilan. eksistensi dan noneksistensi. keniscayaan (Dahlan, 2009. Muthmainnah, 2018. Noor, 2. Kehandak baik dalam bentuk narasi moral in document memiliki konsekuensi sebagai rambu yang menjadi batas moral concept view (Lorentzon, 2. Sehingga, kehendak itu baru baik apabila mau memenuhi kewajibannya (Effendi, 2. Individu bersedia melakukan sesuatu karena kesediaan dan kesadaran bahwa harus melakukan sesuatu tersebut, tanpa adanya pertimbangan rasa senang atau tidak senang adalah definisi atas moral murni (Falikowski, 1990. Dahlan. Hal ini menimbulkan persoalan perbedaan bentuk dari moralitas dan legalitas. Kant membuat perbedaan yang jelas, bahwa moralitas berkaitan dengan kesadaran batiniah atas kehendak baik dan kesesuaiannya dengan tindakan praktis. Legalitas diposisikan Kant sebagai relevan atau irelevan sebuah tindakan praktis dengan hukum atau norma lahiriah. Sifat relevan atau irelevan ini, menurut Kant belum berada pada posisi moral, sebab dorongan batin tidak menjadi pertimbangan penting (Gusmian, 2. Untuk membedakan bahwa tindakan individu termasuk kategori moral atau hanya menjalankan peraturan. Kant menyampaikan konsep imperative categories (Dahlan, 2009. Gusmian, 2. Dimana imperative categories menandakan situasi bahwa individu memiliki otonomi untuk mengaktifkan dorongan batin guna melaksanakan tindakan praktis, tanpa mempertimbangkan konteks tujuan tindakan tersebut (Achmad, 2022. Dahlan, 2. Dalam artian, tindakan tertentu disebut moral apabila tindakan dilakukan atas kehendak individu dan sesuai dengan ketentuan Aubaik,Ay tanpa mempertimbangkan bahwa tindakan tersebut harus dilakukan karena Aubaik. Ay Andil besar atas tercapainya tindakan praktis moral worth adalah moralitas otonom. Imperative categories menggambarkan situasi tindakan seseorang yang seseuai dengan aspek-aspek yang telah ditentukan dalam moral view. Sebagaimana pernyataan: AyAImperative categories mewajibkan kita begitu saja, tak tergantung dari syarat apapunAperbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik, melainkan hanya karena wajib dilakukanA(Gusmian. Ay Prasetyo Adi Nugroho / Kesenjangan Moral in Document dan Moral in Action: Praktik Pendidikan Moral Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Pernyataan diatas membawa pemahaman atas tindakan moral yang memiliki sifat deontology (Dahlan, 2009. Gusmian, 2. Tindakan moral tidak dinilai berdasarkan konsekuensi atas tindakan, melainkan otonomi individu (Achmad, 2022. Dahlan, 2. Tidak dapat dipungkiri, setiap individu juga memiliki kehendak baik berdasarkan persepsinya. Kant menyebut kondisi ini sebagai maxime (Dahlan, 2. , dimana setiap individu memiliki sikapsikap dasar yang akan menentukan tindakan konkret. Tindakan bernilai moral apabila maxime yang melandasinya baik, dan bernilai amoral apabila maxime yang melandasinya tidak dalam kategori baik (Gusmian, 2. Imperative categories di-identikan sebagai proses yang mencerminkan pemikiran umum tentang metode untuk merepresentasikan secara otentik maxime moral praktis dan kewajiban (Robinson, 2. Maka dari itu untuk sampai pada tahap imperative categories merupakan perihal yang sulit terealisasi (Ajvazi, 2. Apriori atas prinsip moralitas PSHT adalah berupa kesadaran atas aspek-aspek moral yang telah ditetapkan, baik kesadaran kesatuan, pluralitas, maupun totalitas. Sehingga tindakan moral tampak mata harus memiliki relevansi atas kesadaran moral dan maxime yang baik. Dengan kata lain tindakan pelatih PSHT dalam melakukan pembinaan moral haruslah didasari atas kesadaran pada hati nurani. Namun, fakta dilapangan menunjukan terdapat perbedaan antara proses pembinaan moral dengan moral concern yaitu pada aspek maxime yang mendasarinya. Proses pembinaan moral secara faktual tidak berada pada posisi imperative categories melainkan imperative hypotheses problematic. Tujuan tindakan pembinaan moral bukan karena tindakan itu memang harus dilakukan, melainkan hanya apa yang mungkin diinginkan setiap orang. Pelatih PSHT adalah anggota resmi organisasi PSHT, dan melekat pada dirinya hak dan tanggung jawab tertentu yang telah ditetapkan. Kompleksitas tanggung jawab tersebut digeneralisasi dengan frasa memayu hayuning bawono. Ketercapaian kewajiban tersebut tidak akan terealisasi jika organisasi tidak bisa mendeteksi moral concern anggotanya sebelum diresmikan. Karena dapat menimbulkan inkonsitensi atas moral in document dan moral in action. PSHT perlu mendesain metode pembinaan moral terhadap setiap anggota resmi. Nasihatnasihat dan diskusi reflektif pada ajang ke-SH-an tidak menimbulkan dampak yang signifikan pada kesadaran moral total dan maxime baik. Sebagaimana hadist AuLisanul hal afshahu min lisanil maqal (NU Online, 2. Ay yang berarti keteladanan lebih berdampak dari pada sekedar untaian kata. Sehingga misi pendidikan moral yang menempatkan pelatih atau pembina PSHT sebagai subjek, perlu dipastikan ketuntasan kesadaran moral dan maxime sebelum mendapatkan kewajiban sebagai anggota resmi PSHT. Untuk itu pendidikan moral pada Persaudaraan Setia Hati Terate memerlukan waktu dan penanganan inventif untuk menumbuhkan kesadaran moral, baik kesadaran kesatuan, pluralitas, maupun totalitas. Simpulan dan Saran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) PSHT tahun 2021, menyebutkan bahwa PSHT adalah organiasi menunjukkan keberpihakan pada pembentukan moral. Ditetapkan bahwa tujuan PSHT adalah mendidik manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan PSHT merepresentasikan upaya pembinaan intensif atas entitas moral seseorang baik pada ranah metafisis maupun ranah Namun situasi dilapangan berbanding terbalik dengan ide pendidikan moral in Anggota resmi organisasi PSHT tercatat melakukan beberapa tindakan yang tidak relevan dengan prinsip moral praktis, mulai dari tawuran, saling serang dengan organisasi lain atau bersikap tegas dan brutal pada proses pembinaan moral. Meskipun catatan diatas tidak berlangsung secara berkesinambungan, namun kemungkian terjadi pada waktu yang akan datang menjadi potensial. Kesenjangan antara moral in document dan moral in action terletak pada moral concern yang dimiliki oleh masing-masing anggota resmi PSHT berbeda. Meskipun anggota resmi PSHT telah menerima insight mengenai aspek-aspek moral ideal PSHT, namun kesadaran moral yang dimiliki belum sampai pada tahap kesadaran totalitas. Begitu pula orientasi tindakan yang lebih banyak didominasi oleh maxime yang tidak relevan. Sehingga situasi tampak mata tindakan moral praktis adalah imperative hypotheses problematik. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Daftar Rujukan Achmad. Pemikiran Filsafat Etik Immanuel Kant Dan Relevansinya Dengan Akhlak Islam. ALSYS: Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan, 2, 324Ae339. Ajvazi. Hume vs. Kant On the Nature of Morality. Available at SSRN: Https://Ssrn. Com/Abstract=(February 14, 2. , 10Ae27. https://ssrn. com/abstract Akbar. Deby Faisol. Buku I. Malang: Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persaudaraan Setia Hati Terate Parapatan Luhur Tahun 2021 Alia. Nurali. , & Hamara. Budaya Lembaga Pendidikan sebagai Pilar Utama Melawan Degradasi Moral. Khazanah Pendidikan Islam, 2. , 84Ae89. https://doi. org/10. 15575/kp. Bactiar. Esensi Paham Konsep Konstitualisme Dalam Konteks Penyelenggaraan Sistem Ketatanegaraan. In Jurnal Surya Kencana Satu : Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan (Vol. Issue . https://doi. org/10. 32493/jdmhkdmhk. Bertens. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama DAoCruz. Glen. Hauntological Dramaturgy: Affects. Archives. Ethics. Inggris: Routledge Dahlan. Pemikiran Filsafat Moral Immanuel Kant (Deontologi. Imperatif Kategoris dan Postulat Rasio Prakti. Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, 8 . , 37. https://doi. org/10. 18592/jiiu. Effendi. Kewajiban dalam Pemikiran Immanuel Kant dan Relevansinya dengan Akhlak Islam. Jurnal Al-Aqidah, 12. , 53Ae67. https://doi. org/10. 15548/ja. Falikowski. Anthony F. Moral Philosophy: Theories. Skills, and Applications. Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall, 1990. Gusmian. Filsafat Moral Immanuel Kant: Suatu Tinjauan Paradigmatik. Al-AAoraf : Jurnal Pemikiran Islam Dan Filsafat, 11. , 57. https://doi. org/10. 22515/ajpif. Hidayah. Pembinaan Akhlak Melalui Ekstrakurikuler Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Banggle 02 Kanigoro Blitar [Institut Agama Islam Negeri Tulungagun. http://repo. iain-tulungagung. id/id/eprint/16390 Ishmah. Dinamika Konflik Internal Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Surabaya. Paradigma. Vol (No https://jurnalmahasiswa. id/index. php/25/article/view/35936 Lorentzon. Moral Worth . Moral Awareness , and Virtuous Motives. Uppsala University. Magnis-Suseno. Frans. Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogjakarta: Kanisius. Mahardi. Peran Dinas Sosial Dalam Pembinaan Anak Jalanan Dan Anak Pustus Sekolah (Studi Kasus di Unit Pelaksanan Teknis Daerah Kampung Anak Negeri Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabay. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Mufarriq. Membentuk Karakter Pemuda Melalui Pencak Silat. Khazanah Pendidikan Islam, 3. , 41Ae53. https://doi. org/10. 15575/kp. MustaAoin. Teori Diri: Sebuah Tafsir Makna Simbolik (Pendekatan Teori Dramaturgi Erving Goffma. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 4. , 269Ae283. https://doi. org/10. 24090/komunika. Muthmainnah. Tinjauan Kritis Terhadap Epistemologi Immanuel Kant . Jurnal Filsafat, 28. , 74. https://doi. org/10. 22146/jf. Nahdlotul Ulama. https://w. id/warta/santri-perlu-dibekali-ilmu-bermasyarakatW6Wyz . iakses 14 Maret 2. Nasution. , & Jazuli. Menangkal Degradasi Moral Di Era Digital Bagi Kalangan Millenial. Jurnal Pengabdian Dharma Laksana Mengabdi Untuk Negeri, 3. , 151Ae156. https://doi. org/http://dx. org/10. 32493/j. Noor. Teori Pengetahuan Immanuel Kant Dan Implikasinya Terhadap Batas Ilmu. Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, 9. , 43. https://doi. org/10. 18592/jiiu. Prasetyo Adi Nugroho / Kesenjangan Moral in Document dan Moral in Action: Praktik Pendidikan Moral Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2025, pp. Onipede. , & Fanala. Lying As A Marketing Strategy In Nigeria: A Moral Assessment. Evaia: International Journal of Ethics and Values. Vol. 2 No. December 2021 (ISSN: 27870. , 2. , 36Ae44. Pramesti. Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Kegiatan Ektrakulikuler Pencak Silat. Tesis. Prihatmojo. , & Badawi. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Mencegah Degradasi Moral di Era 4. DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 4 . , 142. https://doi. org/10. 20961/jdc. Ridwan. Pembatasan Kekuasaan Pemerintah: Perspektif Hukum Administrasi Negara. Jurnal Hukum, 3. , 50Ae58. Robinson. Chapter 3: The Categorical Imperative Process and Moral Duties. Business Ethics: Kant. Virtue, and the Nexus of Duty: Foundations and Case Studies . 39Ae Springer International Publishing. https://doi. org/10. 1007/978-3-030-85997-8_3 Rochman. Implementasi Nilai Pendidikan Islam Pada Perguruan Pencak Silat (Studi Kasus Di Persaudaraan Setia Hati Terate Rayon Beton Ranting Siman. Cabang Ponorogo http://eprints. id/5629/ Sin. , & Ihsan. The effectiveness of Pencak Silat to change teenage personalities. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 8 . , 1Ae8. https://doi. org/10. 29210/139800 Syaparuddin. Peranan Pendidikan Nonformal Dan Sarana Pendidikan Moral. Jurnal Edukasi Nonformal, 1 . , 173-186. Retrieved from https://ummaspul. id/JENFOL/article/view/317 Wibowo. , & Satwika. Pembentukan Identitas Kelompok Pada Anggota Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati. Character: Jurnal Penelitian Psikologi. , 7. , 1Ae15. https://ejournal. id/index. php/character/article/view/31946 Wiranegara. Strategi Polres Madiun dalam manajemen konflik pencak silat Strategy implemented by the Madiun Police Department in conflict management of pencak Dialetika, 15. , 41Ae48. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304