Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 6 NOMOR 2. SEPTEMBER 2025 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 PENDIDIKAN AKHLAK GENERASI DIGITAL NATIVE: KAJIAN INDIKATOR, TANTANGAN. DAN SOLUSI PEMBELAJARAN Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha IAI Persis Bandung IAI Persis Bandung IAI Persis Bandung Email : asdianurhadi84@gmail. com, lenipitriani200420@gmail. com, roni. nugraha7@gmail. Abstract The rapid development of digital technology has influenced how students, as digital natives, think, behave, and interact. This shift presents new challenges in moral education, especially in maintaining moral integrity amid the flow of information and instant culture. This article aims to examine relevant moral indicators for the digital generation, analyze the challenges faced in moral learning, and propose adaptive and contextual learning solutions. Using a qualitative literature-based approach, this study identifies three main categories of moral indicators: attitudes toward oneself, toward others, and toward the environment. Challenges in the digital era include low digital ethics literacy, lack of role models in virtual spaces, and declining social sensitivity. As a response, the proposed solutions involve the development of value-based learning media, curriculum integration of character education using technology-based approaches, and strengthening the synergy between school, family, and community. Moral education requires a transformative approach to holistically shape students' character in the midst of digital complexity. Keywords: Moral Education. Digital Native. Character Indicators. Digital Literacy. Three Educational Centers. Abstrak Perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan berinteraksi siswa sebagai generasi digital native. Situasi ini membawa tantangan baru dalam pendidikan akhlak, terutama dalam menjaga integritas moral di tengah derasnya arus informasi dan budaya instan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji indikatorindikator akhlak yang sesuai dengan kebutuhan generasi digital, menganalisis tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran akhlak, serta merumuskan solusi pembelajaran yang adaptif dan kontekstual. Dengan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur, artikel ini merumuskan tiga kategori utama indikator akhlak: sikap terhadap diri sendiri, sikap terhadap sesama, dan sikap terhadap lingkungan. Tantangan pendidikan akhlak di era teknologi antara lain mencakup rendahnya literasi etika digital, minimnya keteladanan dalam ruang virtual, serta menurunnya sensitivitas sosial. Sebagai respon, solusi yang ditawarkan mencakup pengembangan media pembelajaran berbasis nilai, integrasi kurikulum karakter dengan pendekatan teknologi, serta penguatan sinergi antara sekolah, keluarga, dan Pendidikan akhlak memerlukan pendekatan transformatif agar mampu membentuk karakter siswa secara holistik di tengah kompleksitas zaman digital. Kata kunci: Pendidikan Akhlak. Digital Native. Indikator Karakter. Literasi Digital. Tri Pusat Pendidikan. PENDAHULUAN Perubahan zaman yang sangat cepat, terutama dalam bidang teknologi digital, telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Generasi yang kini mengisi bangku sekolah merupakan anak-anak yang lahir dan tumbuh di tengah gawai, jaringan internet, dan budaya visual yang terus-menerus bergerak. Mereka disebut sebagai generasi digital . igital nativ. , generasi yang memiliki keterampilan intuitif dalam menggunakan teknologi, namun sering kali belum matang secara etika dalam mengelolanya. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan dan akses informasi yang luas, namun di sisi lain, ia juga membawa risiko moral yang serius. Siswa kini tidak hanya berinteraksi di dunia nyata, tetapi juga dalam ruang virtual yang nyaris tanpa batas. Mereka ditantang untuk mampu memilah informasi, menjaga etika komunikasi, dan membentuk identitas moral yang kokoh. Dalam konteks inilah, pendidikan akhlak Islam dituntut hadir secara relevan dan adaptif, agar dapat menjadi panduan bagi generasi muda dalam menyikapi kompleksitas zaman digital. Pendidikan akhlak dalam Islam tidak dimaksudkan sekadar sebagai proses pengajaran nilai, tetapi merupakan bagian integral dari pembentukan watak dan kepribadian manusia secara menyeluruh. Akhlak Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 adalah manifestasi dari iman yang hidup. ia menjadi cermin dari kedalaman spiritualitas dan keutuhan pribadi Dalam hal ini, pendidikan akhlak bertujuan untuk membentuk siswa yang tidak hanya mengetahui perbedaan antara baik dan buruk, tetapi juga menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai bagian dari laku hidupnya sehari-hari (Amin, 2. Maka, pengajaran akhlak tidak boleh hanya sebatas memenuhi beban kurikulum atau formalitas pembelajaran, tetapi harus menjadi misi besar pendidikan Islam untuk melahirkan manusia yang paripurna secara spiritual, sosial, dan intelektual (Munadlir, 2. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi justru menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan akhlak. Maraknya fenomena seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, konten destruktif, dan degradasi sopan santun di media sosial merupakan indikator nyata krisis moral yang sedang terjadi. Siswa yang setiap hari berinteraksi di dunia digital sering kali terjebak dalam budaya instan dan permisifisme nilai. Ironisnya, sistem pendidikan belum sepenuhnya siap untuk menjawab tantangan ini secara efektif. Banyak sekolah masih menerapkan pola pengajaran akhlak yang konvensional dan tidak mampu menjangkau dunia virtual sebagai bagian dari ruang hidup peserta didik (Syamsuar & Reflianto, 2. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara nilai yang diajarkan dan realitas yang dihadapi siswa sehari-hari (Ismael & Supratman, 2. Diperlukan terobosan dalam perumusan indikator akhlak agar lebih kontekstual dan terukur, terutama untuk menjawab tantangan generasi digital. Indikator yang terlalu abstrak atau normatif tidak cukup membantu guru dalam membina karakter siswa yang hidup dalam lingkungan digital. Maka, indikator akhlak harus bersifat aplikatif dan dekat dengan realitas kehidupan siswa, seperti sikap terhadap diri sendiri . elf-awareness dan self-disciplin. , sikap terhadap sesama . mpati, toleransi, dan tanggung jawab sosia. , serta sikap terhadap lingkungan . esadaran ekologis dan keberlanjuta. (Ubaidah. Andriana, & Widyasari, 2. Ketiga indikator ini harus menjadi fondasi dalam kurikulum pendidikan Islam yang disesuaikan dengan dinamika sosial dan perkembangan teknologi . Namun demikian, pendidikan akhlak tidak cukup hanya bertumpu pada sekolah sebagai satu-satunya lembaga pengasuh nilai. Tiga pilar utama pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat, harus bersinergi dalam membentuk karakter anak. Sayangnya, dalam praktiknya, sinergi ini belum terjalin dengan Banyak kasus menunjukkan bahwa anak menerima pesan moral yang kontradiktif dari tiga lingkungan Sekolah mengajarkan sopan santun, sementara di rumah anak menyaksikan konflik atau bahkan kekerasan verbal. Masyarakat pun tidak selalu menjadi ruang yang mendidik, terutama di media sosial yang sering kali menjadi arena ujaran kebencian. Maka, pendidikan akhlak harus dirancang sebagai proyek kolaboratif yang melibatkan semua unsur pendidikan (Munadlir, 2. , dengan peran aktif masyarakat dalam menyediakan lingkungan yang mendukung nilai-nilai moral (Zaitun & Sakolan, 2. Dalam praktiknya, keberhasilan pendidikan akhlak sangat bergantung pada metode dan pendekatan yang digunakan. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi akhlak, tetapi juga harus menjadi figur teladan yang dapat diikuti siswa. Keteladanan ini menjadi lebih kompleks ketika sebagian besar interaksi terjadi secara daring. Guru tidak hanya dituntut berakhlak baik di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Oleh karena itu, peran guru sebagai role model harus diperluas ke platform digital, di mana siswa melihat dan meniru perilaku secara real time (Hikmah, 2. Dalam hal ini, literasi etika digital menjadi salah satu kompetensi yang sangat penting untuk dikuasai oleh pendidik dan peserta didik (Galley, 2. Untuk mengembangkan materi dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman, pendekatan sistematis berbasis desain instruksional menjadi kebutuhan mutlak. Salah satu model yang telah terbukti efektif adalah ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. Model ini memberikan kerangka kerja yang sistematis dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program pembelajaran yang berorientasi pada nilai. Dalam konteks pendidikan akhlak, model ADDIE membantu guru untuk menyusun indikator yang konkret, mengembangkan media pembelajaran yang menarik, dan mengevaluasi perubahan karakter secara terstruktur (Tanjung, 2. Dengan penerapan yang tepat, model ini dapat menjembatani kesenjangan antara konten nilai dan dunia digital yang menjadi habitat baru bagi siswa. Salah satu indikator yang menjadi perhatian utama dalam pengembangan pendidikan akhlak adalah sikap terhadap diri sendiri. Siswa perlu dibantu untuk memahami siapa dirinya, menerima kekurangan, dan membangun rasa percaya diri yang sehat. Dalam dunia digital, krisis identitas menjadi lebih kompleks karena siswa sering membandingkan diri dengan citra ideal yang mereka temukan di media sosial. Akibatnya, mereka rentan terhadap rasa rendah diri, kecemasan, dan pencitraan semu. Pendidikan akhlak harus hadir untuk membekali siswa dengan keterampilan pengelolaan diri, seperti manajemen emosi, disiplin, dan motivasi untuk berkembang secara autentik (Syukri, 2. Selain itu, sikap terhadap sesama dan terhadap lingkungan juga harus menjadi bagian dari kurikulum yang menekankan keterlibatan sosial, empati, dan tanggung jawab ekologis (Nurdin, 2. Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam indikatorindikator akhlak yang relevan dengan kehidupan generasi digital, mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran akhlak di era teknologi, serta merumuskan solusi pembelajaran yang bersifat adaptif, integratif, dan transformatif. Dengan pendekatan literatur yang komprehensif, artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam merancang pendidikan akhlak yang tidak hanya ideal secara nilai, tetapi juga realistis secara implementasi. Hasil kajian ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan praktisi pendidikan dalam membentuk generasi yang cerdas digital dan kokoh dalam moral. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. , yang bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis indikator-indikator akhlak, tantangan pembelajaran karakter, serta strategi pendidikan akhlak yang relevan di era teknologi digital. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakter kajian yang bersifat konseptual dan teoritis, serta berfokus pada interpretasi terhadap gagasan dan data yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis. Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan, termasuk artikel jurnal terakreditasi, prosiding konferensi, tesis, dan dokumen kebijakan pendidikan dalam rentang lima tahun terakhir. Fokus utama pencarian dan analisis literatur diarahkan pada isu-isu terkait pendidikan akhlak, karakter generasi digital, pembelajaran berbasis nilai, serta integrasi teknologi dalam pendidikan Islam. Sumber-sumber tersebut dipilih berdasarkan kredibilitas, relevansi tematik, dan keterbaruan informasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis isi . ontent analysi. , yaitu dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dalam literatur, seperti indikator akhlak . ikap terhadap diri, sesama, dan lingkunga. , tantangan akhlak generasi digital, serta pendekatan pembelajaran nilai berbasis teknologi. Setiap temuan kemudian disintesiskan dan dikaji secara kritis dalam kerangka pendidikan Islam kontemporer. Untuk menjaga validitas analisis, dilakukan triangulasi sumber dengan membandingkan temuan dari berbagai penulis dan pendekatan. Selain itu, kerangka berpikir artikel ini juga dipandu oleh model ADDIE sebagai pendekatan konseptual dalam pengembangan materi dan strategi pembelajaran akhlak yang sistematis dan aplikatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Sepuluh Karakter Utama dalam Pendidikan Akhlak Generasi Digital Pendidikan akhlak bagi generasi digital perlu dirancang secara kontekstual dan transformatif. Salah satu langkah strategis dalam upaya ini adalah menetapkan nilai-nilai karakter utama sebagai dasar pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran. Nilai-nilai tersebut harus relevan dengan tantangan zaman, selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, serta dapat diinternalisasi melalui aktivitas pembelajaran yang aplikatif dan Berdasarkan kajian literatur dan pendekatan dalam pendidikan Islam, terdapat sepuluh nilai karakter utama yang perlu ditanamkan dalam pendidikan akhlak generasi digital, yaitu: kesadaran diri, kepercayaan diri, manajemen emosi, empati, toleransi, tanggung jawab sosial, etika komunikasi, kesadaran ekologis, disiplin dan ketekunan, serta integritas. Setiap nilai tersebut dijelaskan secara rinci pada bagian berikut, lengkap dengan penguatan dari ayat-ayat Al-QurAoan dan hadis, serta uraian indikator penerapannya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Karakter yang pertama adalah Kesadaran Diri atau Self-awareness. Kesadaran diri adalah kemampuan siswa untuk mengenal siapa dirinya, baik dari sisi potensi, kelemahan, maupun pengaruh perilakunya terhadap Nilai ini menjadi dasar bagi pembentukan identitas yang kuat dan autentik di tengah tekanan budaya media sosial. Al-QurAoan mengingatkan: AuDan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiriAy (QS. Al-Hasyr: . Nabi SAW juga bersabda. AuBarang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhannyaAy (HR. Al-Bayhaq. Siswa yang memiliki kesadaran diri mampu merefleksikan tindakan, mengakui kesalahan, dan berusaha memperbaiki diri tanpa menyalahkan lingkungan. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Kesadaran Diri: Mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Kemampuan mengenali kelebihan dan kekurangan diri adalah pondasi utama dalam kesadaran diri. Siswa yang mampu mengidentifikasi potensi positif dalam dirinya akan terdorong untuk mengembangkan kapasitas tersebut secara optimal. Sebaliknya, pengakuan terhadap kelemahan diri memungkinkan siswa untuk lebih rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan memiliki motivasi untuk memperbaiki diri. Dalam konteks pendidikan akhlak, proses ini tidak hanya mendidik siswa menjadi pribadi yang sadar diri, tetapi juga menanamkan semangat evaluatif dan introspektif sebagai bagian dari pembentukan karakter yang kuat. Generasi digital yang sering terpapar Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 pencitraan palsu di media sosial sangat membutuhkan pembekalan ini agar tidak terjebak dalam identitas semu (Syukri, 2. Mampu melakukan refleksi diri secara jujur. Refleksi diri merupakan kemampuan siswa untuk meninjau kembali sikap, tindakan, dan keputusan yang telah diambil secara jujur dan terbuka. Melalui proses reflektif, siswa belajar mengevaluasi nilai-nilai yang mereka pegang dan sejauh mana tindakan mereka mencerminkan nilai tersebut. Pendidikan akhlak harus memberikan ruang khusus bagi kegiatan refleksi ini, baik melalui jurnal pribadi, diskusi kelompok, maupun praktik tafakur yang Islami. Ketika siswa terbiasa merefleksikan diri, mereka akan lebih bertanggung jawab atas perilakunya dan memiliki kontrol diri yang lebih baik dalam menghadapi tekanan sosial dan tantangan digital (Ubaidah et al. , 2. Menyadari dampak tindakan pribadi terhadap orang lain. Salah satu ciri siswa yang memiliki kesadaran diri adalah kemampuannya untuk mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks digital, hal ini menjadi semakin penting karena satu unggahan, komentar, atau pesan dapat berdampak besar terhadap emosi, reputasi, bahkan keselamatan orang lain. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus menanamkan prinsip bahwa setiap perbuatan membawa konsekuensi, dan siswa dituntut untuk bertindak dengan tanggung jawab sosial. Sikap ini mendorong terbentuknya pribadi yang tidak hanya sadar akan dirinya sendiri, tetapi juga peka terhadap lingkungan sosialnya (Ubaidah et al. , 2. Karakter yang kedua adalah Kepercayaan Diri atau Self-confidence. Kepercayaan diri adalah keyakinan terhadap kemampuan pribadi yang didasarkan pada kesadaran akan potensi, bukan arogansi. Dalam dunia digital yang penuh perbandingan dan ekspektasi palsu, siswa perlu dibekali rasa percaya diri agar tidak merasa rendah diri atau ikut-ikutan tanpa arah. Allah SWT berfirman. AuSesungguhnya Allah bersama orangorang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikanAy (QS. An-Nahl: . Rasulullah SAW bersabda. AuMintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemahAy (HR. Musli. Siswa yang percaya diri tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial dan mampu mengekspresikan pendapat secara sopan dan bertanggung jawab. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Kepercayaan Diri: Berani menyampaikan pendapat secara santun. Siswa yang memiliki kepercayaan diri akan mampu mengungkapkan pendapatnya di hadapan orang lain tanpa rasa takut atau ragu. Namun, keberanian ini harus dibarengi dengan akhlak komunikasi yang baik, seperti mendengarkan orang lain, tidak menyela, dan tidak memaksakan pendapat. Dalam ruang kelas maupun forum digital, siswa perlu dibiasakan untuk menyampaikan argumen secara rasional dan santun. Hal ini melatih mereka menjadi pribadi yang percaya diri sekaligus menghormati orang lain. Proses ini penting dalam membentuk karakter generasi digital agar tidak hanya vokal, tetapi juga bijak dalam menyampaikan pikiran (Ubaidah et al. , 2. Tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial. Merupakan bentuk kepercayaan diri yang menunjukkan kemampuan siswa untuk mempertahankan prinsip dan nilai-nilai yang diyakini, meskipun mendapat tekanan dari lingkungan sekitar. Dalam dunia digital yang penuh dengan pengaruh media sosial dan tren yang cepat berubah, banyak siswa merasa harus mengikuti arus demi diterima dalam kelompok. Padahal, sikap ini rentan menjauhkan mereka dari nilai-nilai akhlak yang seharusnya dijaga. Pendidikan akhlak perlu menanamkan kemampuan asertif dan keberanian moral kepada siswa agar mampu berkata AutidakAy terhadap ajakan negatif, tanpa takut dikucilkan. Hal ini bukan hanya tentang ketegasan pribadi, tetapi juga tentang integritas dalam menjalani kehidupan yang penuh godaan digital. Penguatan literasi karakter di era digital menjadi kunci dalam melawan tekanan sosial yang bersumber dari media daring dan interaksi maya yang semu (Nuraisyiah, 2. Memiliki keyakinan dalam menyelesaikan tugas dan tantangan. Siswa yang memiliki rasa percaya diri akan menunjukkan kegigihan dalam menyelesaikan tanggung jawabnya. Mereka yakin akan kemampuannya sendiri dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan. Dalam dunia digital yang serba cepat dan kompetitif, kepercayaan diri menjadi modal penting untuk tetap fokus dan tekun dalam belajar, bekerja, dan berkreasi. Guru harus menanamkan semangat optimisme dan membimbing siswa untuk membangun keberanian mencoba, tidak takut gagal, serta mampu belajar dari pengalaman. Sikap ini mendukung pembentukan karakter mandiri dan berdaya juang tinggi (Galley, 2. Karakter yang ketiga adalah Manajemen Emosi atau Emotional Management. Manajemen emosi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan perasaan dalam situasi sulit. Siswa yang dapat mengelola emosi akan mampu bersikap tenang saat marah, tidak membalas keburukan dengan keburukan, dan menjalin relasi sosial dengan lebih sehat. Dalam QS. Ali 'Imran: 134 disebutkan. AuDan orangorang yang menahan amarahnya dan memaafkan . orang lain. Ay Nabi SAW bersabda. AuOrang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri saat marahAy (HR. Bukhari dan Musli. Nilai ini penting untuk membentuk ketahanan mental siswa di tengah interaksi digital yang rentan Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Manajemen Emosi: Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Dapat mengendalikan amarah, kekecewaan, atau kegelisahan. Kemampuan menahan amarah atau mengelola kekecewaan merupakan aspek penting dari pendidikan akhlak. Dalam interaksi sosial maupun digital, siswa bisa mengalami konflik, penolakan, atau kritik yang memancing emosi negatif. Siswa yang mampu mengelola emosi tidak akan membalas dengan reaksi impulsif atau balasan kasar, tetapi memilih untuk merespons secara tenang dan bijaksana. Pendidikan akhlak harus memberikan ruang pelatihan pengendalian emosi melalui role play, jurnal emosi, atau refleksi spiritual. Dengan demikian, siswa akan tumbuh sebagai pribadi yang stabil secara emosional dan dewasa dalam menyikapi situasi sulit (Ubaidah et al. , 2. Tidak mudah bereaksi secara impulsif. Di era digital, siswa dihadapkan pada banyak situasi yang dapat memicu respons cepat dan tidak terkendali, seperti komentar provokatif, informasi yang belum jelas, atau konflik daring. Reaksi impulsif tanpa pertimbangan dapat menimbulkan kesalahpahaman, menyakiti pihak lain, bahkan memperburuk situasi. Oleh karena itu, pendidikan akhlak perlu menekankan pentingnya bersikap hati-hati, tenang, dan bijak dalam merespons berbagai stimulus sosial, baik dalam komunikasi langsung maupun virtual. Pendidikan Islam menempatkan pengendalian diri sebagai bagian penting dari pembentukan karakter, sebagaimana ditegaskan bahwa sikap reflektif dan tidak tergesa-gesa merupakan bagian dari akhlak mulia yang mendorong terciptanya kehidupan sosial yang lebih damai dan konstruktif (Ubaidah. Andriana, & Widyasari, 2. Mampu mengekspresikan emosi secara positif. Setiap individu memiliki emosi, namun tidak semua mampu menyalurkannya dengan cara yang sehat. Siswa yang terlatih secara emosional akan mampu mengekspresikan perasaan bahagia, sedih, marah, atau cemas dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Mereka dapat mengungkapkan emosi lewat dialog terbuka, seni, menulis, atau aktivitas positif lainnya. Pendidikan akhlak harus mengajarkan bahwa emosi bukan untuk ditekan, tetapi untuk dikelola dan disalurkan dengan cara yang tepat. Dengan begitu, siswa tumbuh menjadi pribadi yang empatik, jujur, dan sehat secara psikologis (Syukri, 2. Karakter yang keempat adalah Empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ini adalah dasar dari kasih sayang dan solidaritas sosial. Dalam pendidikan akhlak, siswa dilatih untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain, menghargai perasaan teman, dan merespons dengan kebaikan. QS. Al-Hujurat: 10 menyebut. AuSesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudaraAy, dan Rasulullah SAW bersabda. AuTidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiriAy (HR. Bukhari dan Musli. Dengan empati, siswa akan lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain, baik dalam dunia nyata maupun digital. Berikut adalah indikatorindikator dari karakter Empati: Mampu merasakan dan memahami perasaan orang lain. Siswa yang memiliki empati mampu menangkap suasana hati, ekspresi, dan bahasa tubuh orang lain, baik dalam interaksi langsung maupun melalui komunikasi digital. Kemampuan ini membuat mereka tidak terburu-buru menilai, melainkan berusaha memahami apa yang dirasakan orang lain dari sudut pandang mereka. Dalam dunia yang serba cepat dan ego-sentris, empati membantu siswa membentuk hubungan yang sehat, penuh kasih sayang, dan menghargai perbedaan. Pendidikan akhlak perlu memberi ruang bagi siswa untuk mendengar cerita teman, melakukan simulasi peran, atau mengamati situasi sosial secara mendalam (Ubaidah et al. , 2. Responsif terhadap penderitaan atau kebutuhan orang lain. Siswa yang memiliki empati sejati tidak hanya mampu memahami perasaan orang lain, tetapi juga terdorong untuk mengambil tindakan nyata, seperti membantu teman yang kesulitan belajar, mendukung yang sedang mengalami tekanan emosional, atau mencegah penyebaran konten yang menyakitkan di media sosial. Dalam konteks pembelajaran akhlak, kepekaan sosial ini harus dibangun melalui pendekatan reflektif dan praktik empatik yang berkelanjutan. Guru dapat menciptakan ruang dialogis, studi kasus, atau simulasi empati yang memungkinkan siswa benar-benar AumerasakanAy posisi orang lain dan meresponsnya secara etis. Kepedulian sosial adalah bagian dari tanggung jawab moral yang harus ditanamkan melalui pendidikan, agar siswa dapat berperan aktif menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan saling mendukung (Syukri, 2. Menunjukkan kepedulian dalam tindakan nyata. Empati bukan hanya perasaan atau niat, tetapi harus tercermin dalam tindakan nyata yang menolong atau memberi manfaat. Siswa perlu dibimbing untuk terlibat langsung dalam aktivitas sosial, seperti kegiatan bakti sosial, mendampingi teman yang sedang kesulitan, atau menggalang bantuan secara digital. Semakin sering empati dipraktikkan dalam keseharian, semakin kuat ia membentuk karakter sosial siswa. Pendidikan akhlak perlu mendesain proyek layanan masyarakat, program bantuan teman sebaya, dan ruang aman untuk berbagi masalah sebagai wadah praktik kepedulian (Ubaidah et al. , 2. Karakter yang kelima adalah Toleransi. Toleransi adalah kemampuan untuk menerima dan menghormati perbedaan dalam keyakinan, pendapat, budaya, maupun cara hidup. Dalam dunia digital yang Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 multikultural, siswa perlu memiliki sikap terbuka dan tidak mudah menghakimi. QS. Al-Kafirun: 6 menyatakan. AuUntukmu agamamu, dan untukku agamakuAy, dan Rasulullah SAW bersabda. AuBarang siapa menyakiti orang dzimmi, maka aku menjadi musuhnya pada hari kiamatAy (HR. Abu Dawu. Pendidikan akhlak harus membekali siswa dengan kemampuan berdialog, bekerja sama dalam keberagaman, dan membangun relasi sosial yang damai. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Toleransi: Menghargai perbedaan pendapat, agama, atau budaya. Toleransi berarti mampu menerima kenyataan bahwa dunia ini penuh keragaman. Dalam lingkungan sekolah dan media sosial, siswa akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, nilai, dan kebiasaan. Siswa yang toleran tidak memaksakan pandangannya dan tidak merendahkan orang lain hanya karena berbeda. Pendidikan akhlak perlu memperkenalkan prinsip-prinsip adil dan beradab dalam menghadapi keberagaman, serta memberi pengalaman langsung untuk bekerja sama dengan siswa yang berbeda secara inklusif (Galley, 2. Tidak mudah menghakimi. Siswa sering kali terjebak dalam sikap menghakimi orang lain berdasarkan penampilan, unggahan di media sosial, atau kabar yang belum tentu benar. Sikap ini bertentangan dengan nilai toleransi dan keadilan. Siswa perlu dilatih untuk menunda penilaian, mencari informasi dengan adil, serta membuka ruang dialog dan klarifikasi. Dalam pendidikan akhlak, guru harus memberi contoh untuk tidak bersikap menyudutkan atau menyalahkan tanpa data, serta mengajarkan empati kognitif terhadap orang yang berbeda pendapat (Ubaidah et al. , 2. Mampu bekerja sama dalam keberagaman. Salah satu tanda toleransi yang paling tampak adalah kemampuan untuk menjalin kerja sama dengan orang yang memiliki latar berbeda. Dalam praktiknya, siswa diajak untuk menjalani tugas kelompok dengan teman berbeda agama, suku, gender, atau latar Ketika siswa mampu membangun komunikasi, menyelesaikan perbedaan pendapat secara produktif, dan mencapai tujuan bersama, maka karakter toleransi akan tumbuh kokoh. Pembelajaran berbasis proyek kolaboratif sangat efektif dalam menumbuhkan keterampilan ini dalam konteks pendidikan karakter (Hikmah, 2. Karakter yang keenam adalah Tanggung Jawab Sosial atau Social Responsibility. Nilai ini mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kesediaan untuk berkontribusi bagi kebaikan Siswa diajarkan untuk menyadari perannya dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. QS. AlMaidah: 2 menyebut. AuTolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwaAy, dan Nabi SAW bersabda. AuSebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnyaAy (HR. Ahma. Tanggung jawab sosial juga mencakup etika dalam dunia digitalAiseperti tidak menyebar hoaks, tidak menyakiti orang lain secara verbal, serta menjaga keamanan dan kenyamanan komunitas daring. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Tanggung Jawab Sosial: Menyelesaikan tugas tanpa disuruh. Sikap tanggung jawab sosial tercermin dalam kemauan untuk menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa harus diingatkan. Siswa yang terbiasa bersikap proaktif menunjukkan kepedulian tidak hanya terhadap hasil belajar pribadi, tetapi juga terhadap keutuhan komunitas kelas dan lingkungan sekolah. Dalam pendidikan akhlak, indikator ini mengajarkan bahwa tanggung jawab bukan karena takut hukuman, melainkan kesadaran akan peran yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari amanah sosial (Ubaidah et al. , 2. Aktif dalam kegiatan sosial atau gotong royong. Tanggung jawab sosial juga ditunjukkan dalam bentuk keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan bersama. Siswa yang bersedia membersihkan ruang kelas, membantu teman, atau mengikuti kegiatan sosial digital menunjukkan karakter yang peduli dan tidak Pendidikan akhlak harus memberi ruang dan dorongan agar siswa merasa bahwa kontribusinya berharga dan berdampak. Melalui program kelas. OSIS, komunitas daring, atau kegiatan masyarakat, siswa belajar menjadi bagian dari perubahan sosial yang positif (Galley, 2. Menjaga hak orang lain dan fasilitas umum. Siswa yang bertanggung jawab tidak hanya memikirkan hak dan kenyamanan pribadi, tetapi juga menghormati hak orang lain dan menjaga fasilitas bersama. Dalam praktiknya, hal ini terlihat dari perilaku seperti tidak mengganggu konsentrasi teman saat belajar, menjaga kebersihan ruang kelas, serta menggunakan fasilitas sekolah dengan hati-hati. Di dunia digital, bentuk tanggung jawab ini ditunjukkan dengan menghormati privasi pengguna lain, tidak menyebarkan konten yang merugikan komunitas, dan tidak menggunakan media sosial untuk menyudutkan pihak tertentu. Dalam ajaran Islam, perilaku ini merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga oleh setiap individu. Menjaga hak sesama dan lingkungan hidup adalah manifestasi dari akhlak mulia yang menolak segala bentuk pelanggaran terhadap martabat manusia dan hak sosial dalam kehidupan bersama (Romlah, 2. Karakter yang ketujuh adalah Etika Komunikasi atau Communication Ethics. Etika komunikasi adalah sikap hati-hati dalam berkata-kata, baik dalam lisan maupun tulisan digital. Komunikasi yang tidak etis dapat merusak relasi dan menimbulkan konflik. QS. Al-IsraAo: 53 menyebut. AuKatakanlah kepada hambahamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Ay Rasulullah SAW juga bersabda. AuBarang Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diamAy (HR. Bukhari dan Musli. Pendidikan akhlak harus mengajarkan siswa untuk berkata sopan, tidak menyebar kebencian, serta bertanggung jawab atas konten yang mereka unggah di media sosial. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Etika Komunikasi: Menggunakan bahasa yang santun dalam komunikasi lisan dan tulisan. Siswa yang beretika memahami bahwa setiap ucapan atau tulisan memiliki dampak. Mereka terbiasa memilih kata-kata yang tidak menyakitkan, tetap sopan meskipun berbeda pendapat, serta mampu menjaga kehormatan lawan bicara. Dalam konteks digital, ini berlaku pada komentar, chat, status, atau konten video yang mereka unggah. Etika komunikasi menjadi penting di era digital karena budaya cepat dan reaktif sering kali mengabaikan adab (Syamsuar & Reflianto, 2. Tidak menyebarkan hoaks atau informasi tanpa verifikasi. Sikap kritis dan bertanggung jawab terhadap informasi adalah bagian penting dari akhlak komunikasi. Siswa perlu diajarkan untuk tidak sembarangan membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ini penting untuk mencegah fitnah, kepanikan, atau kesalahpahaman. Etika ini juga mencakup kebiasaan mengecek sumber dan menilai isi pesan sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Pendidikan akhlak digital harus memberi keterampilan literasi informasi yang berbasis nilai (Ubaidah et al. , 2. Menjaga privasi dan perasaan orang lain saat berbicara. Siswa yang beretika tidak mudah membicarakan hal pribadi orang lain, baik secara langsung maupun di media sosial. Mereka belajar menghargai ruang pribadi, tidak membocorkan rahasia, dan tidak mempermalukan orang lain. Dalam pembelajaran akhlak, guru dapat memberi simulasi komunikasi empatik dan etis, serta mencontohkan sikap menjaga amanah Hal ini mendidik siswa untuk menjaga lisan dan jari-jarinya dari perilaku yang melukai (Hikmah, 2. Karakter yang kedelapan adalah Kesadaran Ekologis atau Environmental Awareness. Kesadaran ekologis adalah sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alam dan digital. Islam mengajarkan agar manusia menjaga bumi sebagai amanah. QS. Al-AAoraf: 56 menyatakan. AuJanganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Alla. memperbaikinyaAy, dan Rasulullah SAW bersabda. AuJika terjadi kiamat dan di tangan kalian ada bibit, maka tanamlahAy (HR. Ahma. Siswa harus dibiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, menghemat energi, serta mengurangi konsumsi digital yang berlebihan . ejak karbon digita. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Kesadaran Ekologis: Menghemat listrik, air, dan penggunaan teknologi. Siswa yang memiliki kesadaran ekologis terbiasa hidup hemat dan efisien. Mereka tahu bahwa penggunaan energi secara berlebihan dapat merusak lingkungan. Pendidikan akhlak harus menanamkan nilai kesederhanaan dan tanggung jawab dalam menggunakan Misalnya, tidak menyalakan AC jika ruangan kosong, mematikan gadget saat tidak digunakan, dan menghindari penggunaan listrik secara berlebihan (Nurdin, 2. Menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan. Perilaku menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab setiap individu. Siswa diajak untuk tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik dan non-organik, serta menjaga kerapihan ruang publik. Pendidikan akhlak dapat menghubungkan kebersihan dengan aspek keimanan dan rasa hormat terhadap sesama makhluk Allah (Ubaidah et al. , 2. Peduli terhadap pelestarian lingkungan sekitar. Kesadaran ekologis yang baik mendorong siswa untuk aktif menjaga dan memperbaiki lingkungan. Mereka bisa dilibatkan dalam program sekolah hijau, penanaman pohon, atau kampanye digital peduli bumi. Pendidikan akhlak harus menyampaikan bahwa pelestarian lingkungan adalah bentuk ibadah dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi (Syukri, 2. Karakter yang kesembilan adalah Disiplin dan Ketekunan. Disiplin berarti menjalankan kewajiban dengan konsisten, sedangkan ketekunan adalah ketabahan dalam menjalani proses meski penuh tantangan. QS. Ali Imran: 146 menyebut. AuSesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabarAy, dan Nabi SAW bersabda. AuAmalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikitAy (HR. Bukhari dan Musli. Dalam pendidikan akhlak, siswa dilatih untuk mengelola waktu, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan tidak menyerah saat gagal. Nilai ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang serba instan dan cepat berubah. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Disiplin dan Ketekunan: Memiliki jadwal belajar dan menaati aturan sekolah. Siswa yang disiplin akan menjalankan kegiatan berdasarkan perencanaan yang tertib. Mereka terbiasa bangun tepat waktu, hadir di kelas, dan mengikuti tata tertib sekolah tanpa pengawasan berlebih. Pendidikan akhlak harus menanamkan bahwa ketaatan terhadap aturan bukan beban, tetapi sarana membentuk pribadi tertib dan bertanggung jawab (Tanjung. Konsisten dalam menyelesaikan tugas meskipun sulit. Ketekunan berarti tetap berusaha menyelesaikan sesuatu walaupun menghadapi tantangan. Siswa yang tekun tidak mudah menyerah, meski hasil belum Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Pendidikan akhlak perlu menumbuhkan mental pantang menyerah dengan memberi tugas yang menantang, memberi umpan balik konstruktif, dan menekankan bahwa proses lebih penting dari hasil (Ubaidah et al. , 2. Mampu menunda kesenangan demi hasil jangka panjang. Siswa yang disiplin tahu kapan saatnya bermain dan kapan harus belajar. Mereka rela menunda aktivitas menyenangkan seperti main game atau media sosial demi menyelesaikan tugas. Sikap ini adalah bagian dari kecerdasan emosi dan spiritual yang harus terus dilatih dalam pendidikan akhlak digital (Galley, 2. Dan yang terakhir yaitu Integritas. Karakter Integritas adalah konsistensi antara ucapan dan tindakan, serta komitmen untuk berlaku jujur dan adil meskipun tidak diawasi. QS. An-Nisa: 58 memerintahkan: AuSesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak Ay Rasulullah SAW bersabda. AuTanda orang munafik ada tiga: jika berbicara berdusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya berkhianatAy (HR. Bukhari dan Musli. Dalam dunia digital, integritas terlihat dalam kejujuran saat mengerjakan tugas, tidak melakukan plagiarisme, serta tidak menyalahgunakan identitas atau informasi. Berikut adalah indikator-indikator dari karakter Integritas: Jujur dalam berbicara dan bertindak. Kejujuran adalah dasar dari integritas. Siswa yang jujur mengatakan yang benar walaupun itu tidak menyenangkan. Dalam pendidikan akhlak, siswa dilatih untuk tidak memanipulasi informasi, tidak berdusta dalam ujian, dan tidak membuat alasan palsu. Kejujuran ini membentuk karakter yang konsisten dan terpercaya (Amin, 2. Menepati janji atau komitmen. Integritas juga berarti mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati. Siswa yang terbiasa menepati janji akan dihormati teman dan guru. Ini termasuk datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai kesepakatan, dan tidak mengingkari kepercayaan orang lain (Munadlir, 2. Tidak mencontek, mencuri, atau berkhianat. Siswa yang berintegritas menolak perilaku tidak jujur, baik dalam ujian maupun penggunaan teknologi. Mereka tidak mengambil hak orang lain, tidak menjiplak karya digital, dan tidak mengakses akun tanpa izin. Pendidikan akhlak harus mempertegas nilai amanah dan tanggung jawab pribadi dalam ruang fisik maupun digital (Syamsuar & Reflianto, 2. Tantangan Pendidikan Akhlak di Era Teknologi Pendidikan akhlak di era digital menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibandingkan era Generasi digital tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan mereka mengakses berbagai informasi tanpa batas, namun tidak selalu disertai kemampuan untuk memfilter dan memahami nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Banyak konten yang bersifat provokatif, manipulatif, bahkan destruktif tersebar luas di internet dan media sosial. Ketidaksiapan siswa dalam menghadapi banjir informasi ini membuat mereka rentan terhadap krisis nilai. Akibatnya, pendidikan akhlak di sekolah sering kali kalah pengaruh dibandingkan arus budaya populer digital yang instan dan permisif (Ismael & Supratman, 2. Tantangan pertama muncul dari ketimpangan antara nilai yang diajarkan dengan realitas yang dialami siswa di dunia digital. Sering kali siswa menerima pelajaran akhlak tentang kejujuran, empati, atau tanggung jawab di kelas, tetapi menyaksikan sebaliknya dalam kehidupan daring: konten pamer, ujaran kebencian, dan perilaku tidak etis yang justru dirayakan dan diviralkan. Ketidaksesuaian ini menciptakan kebingungan nilai, bahkan menjadikan pelajaran akhlak sebagai sesuatu yang tidak relevan bagi mereka. Maka, pendidikan akhlak perlu merespons realitas digital secara langsung, bukan sekadar menyampaikan nilai-nilai normatif secara abstrak (Syamsuar & Reflianto, 2. Tantangan kedua adalah minimnya keteladanan dalam ruang digital. Dalam pembelajaran konvensional, guru dan orang tua menjadi teladan utama dalam bersikap. Namun di era digital, banyak figur panutan bergeser ke konten kreator, selebgram, atau influencer yang tidak semuanya merepresentasikan nilai-nilai akhlak. Ketika anak lebih mengenal tokoh media sosial daripada gurunya, dan lebih meniru gaya hidup digital daripada perilaku etis, maka pendidikan akhlak kehilangan kekuatan keteladanan. Ruang digital menjadi medan baru yang belum sepenuhnya dimasuki oleh para pendidik dengan pendekatan nilai yang kuat (Hikmah, 2. Tantangan ketiga berasal dari budaya instan dan superficial yang dibentuk oleh media digital. Generasi digital terbiasa dengan hal-hal yang cepat, mudah diakses, dan tidak membutuhkan proses mendalam. Dalam konteks ini, nilai-nilai seperti kesabaran, kerja keras, atau konsistensi sering kali dianggap kurang menarik. Akibatnya, siswa cenderung memilih solusi cepat dan menghindari proses pembentukan karakter yang memerlukan waktu dan refleksi. Pendidikan akhlak perlu mendesain ulang proses pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformasional dan mampu menanamkan makna mendalam di tengah budaya instan (Galley, 2. Tantangan keempat adalah rendahnya literasi etika digital di kalangan siswa dan guru. Banyak siswa yang aktif bermedia sosial namun belum memahami batasan etika seperti menghormati privasi, tidak menyebar konten tanpa izin, atau tidak terlibat dalam perundungan daring. Sayangnya, guru pun kerap belum dibekali Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 kompetensi digital yang memadai untuk membimbing siswa dalam hal ini. Pendidikan akhlak tidak cukup hanya berbicara tentang etika lisan dan tindakan nyata, tetapi juga harus menyasar perilaku dalam dunia maya. Maka, integrasi antara literasi digital dan pendidikan akhlak menjadi urgensi yang tak bisa diabaikan (Galley. Tantangan kelima berkaitan dengan kurangnya integrasi kurikulum antara pelajaran nilai dan teknologi. Selama ini, pembelajaran akhlak dan pelajaran TIK sering dipisahkan secara administratif maupun konseptual. Padahal, justru pada pertemuan antara keduanya-lah siswa membutuhkan bimbingan. Akhlak tidak bisa hanya diajarkan melalui buku atau nasihat, tetapi perlu diterapkan dalam konteks penggunaan teknologi sehari-hari. Guru-guru perlu merancang pengalaman belajar yang mempertemukan penguasaan teknologi dengan pembentukan karakter, seperti membuat konten edukatif, proyek sosial daring, atau refleksi etis terhadap penggunaan media sosial (Tanjung, 2. Tantangan keenam adalah fragmentasi nilai yang diterima siswa dari berbagai sumber tanpa Siswa masa kini tidak hanya belajar dari guru dan orang tua, tetapi juga dari mesin pencari. YouTube. TikTok, dan influencer digital. Sumber-sumber tersebut menyampaikan pesan moral yang sangat beragam, bahkan kontradiktif. Tanpa adanya bimbingan kritis dan kerangka berpikir nilai yang jelas, siswa berisiko mengalami disorientasi moral. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus dilengkapi dengan pendekatan pemikiran kritis dan diskusi nilai, agar siswa mampu menilai dan memilih informasi berdasarkan prinsip etis yang kokoh (Ubaidah et al. , 2. Tantangan ketujuh muncul dari lemahnya komunikasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan akhlak akan sulit berhasil jika tidak ada sinergi antara ketiga pilar ini. Banyak kasus menunjukkan bahwa nilai yang diajarkan di sekolah justru bertentangan dengan apa yang dilihat anak di rumah atau lingkungan sosialnya. Ketika orang tua dan masyarakat bersikap permisif terhadap perilaku menyimpang di dunia digital, upaya guru untuk menanamkan akhlak bisa kehilangan daya pengaruh. Oleh karena itu, strategi pembelajaran akhlak perlu melibatkan orang tua dalam proses pendidikan, termasuk dalam mengelola penggunaan teknologi di rumah (Munadlir, 2. Tantangan kedelapan berkaitan dengan kurangnya alat ukur akhlak yang kontekstual dan relevan dengan dunia digital. Sering kali penilaian akhlak masih menggunakan pendekatan deskriptif atau observasi umum, yang tidak menggambarkan kompleksitas perilaku siswa di ruang digital. Pendidikan akhlak perlu mengembangkan indikator dan instrumen penilaian yang dapat merekam proses internalisasi nilai, seperti refleksi pribadi, portofolio moral, atau jurnal sikap dalam berinteraksi daring. Tanpa alat ukur yang sesuai, guru akan kesulitan menilai kemajuan siswa dalam pembentukan karakter. Tantangan terakhir adalah kurangnya pelatihan dan dukungan sistematis untuk guru dalam pendidikan karakter berbasis digital. Banyak guru ingin mengembangkan pembelajaran akhlak yang relevan, namun terkendala oleh beban administrasi, minimnya pelatihan, serta keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, institusi pendidikan dan pemerintah perlu menyediakan pelatihan berkelanjutan tentang pembelajaran karakter yang kontekstual, integratif, dan berbasis teknologi. Investasi pada penguatan kapasitas guru dalam hal ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa pendidikan akhlak dapat menjawab tuntutan zaman. Gambar 1. Infografis Tantangan Pembelajaran Akhlak Strategi Pembelajaran Akhlak yang Adaptif dan Kontekstual Menghadapi tantangan pembentukan karakter pada generasi digital, dibutuhkan strategi pembelajaran akhlak yang tidak hanya informatif, tetapi juga adaptif dan kontekstual. Artinya, proses pendidikan harus merespons langsung perubahan sosial, teknologi, dan budaya yang dialami siswa sehari-hari. Akhlak tidak bisa Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 diajarkan secara verbal semata, tetapi harus dipraktikkan, direfleksikan, dan dikaitkan dengan pengalaman aktual peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan transformatif diperlukan, yakni pembelajaran yang berorientasi pada perubahan sikap dan perilaku, bukan sekadar penambahan wawasan kognitif (Ubaidah et al. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber nilai, melainkan fasilitator yang membimbing siswa untuk mengalami, memahami, dan menginternalisasi nilai-nilai moral dalam konteks kehidupan mereka sendiri. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah model ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. Model ini memberikan kerangka sistematis untuk merancang pembelajaran berbasis nilai yang relevan dengan kebutuhan siswa. Pada tahap analisis, guru mengidentifikasi latar belakang sosial, digital, dan psikologis peserta didik. Informasi ini menjadi dasar dalam mendesain materi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan realitas generasi digital. Proses desain kemudian berfokus pada penyusunan indikator akhlak yang konkret, kontekstual, dan dapat dievaluasi secara autentik (Tanjung, 2. Model ini fleksibel dan dapat digunakan dalam berbagai jenjang pendidikan serta situasi belajar, baik daring maupun Tahap pengembangan dalam model ADDIE memungkinkan guru menciptakan bahan ajar yang kreatif dan relevan. Guru dapat menyusun modul pembelajaran berbasis nilai, video interaktif, simulasi digital, dan lembar kerja reflektif yang menyesuaikan dengan tema akhlak seperti tanggung jawab, empati, atau etika Konten digital yang dirancang dengan pendekatan edukatif sekaligus menarik secara visual terbukti lebih efektif dalam menjangkau minat dan perhatian siswa generasi digital (Galley, 2. Selain itu, media pembelajaran berbasis nilai memungkinkan siswa untuk memahami nilai secara kontekstual dan tidak dogmatis, sehingga mereka dapat menyerapnya secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap implementasi, pembelajaran akhlak dapat dilakukan melalui berbagai metode yang bersifat partisipatif dan reflektif. Guru dapat memfasilitasi diskusi nilai, studi kasus dari fenomena digital, debat etika, proyek sosial, maupun refleksi pribadi. Pembelajaran akhlak tidak lagi harus dibatasi dalam mata pelajaran khusus, tetapi dapat diintegrasikan dalam pelajaran lainnya seperti Bahasa Indonesia. PPKn, dan bahkan TIK. Misalnya, saat membahas konten digital, siswa juga diajak menilai etika komunikasi daring. Integrasi ini membuat nilai akhlak tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari siswa, melainkan hadir sebagai bagian utuh dari proses berpikir dan bertindak mereka (Hikmah, 2. Strategi pembelajaran juga harus memberikan ruang untuk refleksi pribadi. Refleksi menjadi cara penting agar siswa tidak hanya tahu Auapa yang baikAy, tetapi juga merenungkan Aumengapa itu pentingAy dan Aubagaimana saya dapat menghayatinyaAy. Jurnal reflektif, narasi pengalaman, atau tugas esai tentang dilema moral dapat membantu siswa mengembangkan kesadaran moral secara mendalam. Dalam konteks ini, guru tidak berperan sebagai penilai yang menghakimi, tetapi sebagai pendamping yang membantu siswa mengenali nilai dari dalam dirinya. Proses ini memerlukan suasana kelas yang aman, inklusif, dan penuh kepercayaan antara guru dan siswa (Ubaidah et al. , 2. Selain pendekatan reflektif, pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. juga efektif dalam membentuk karakter melalui tindakan nyata. Siswa dapat dilibatkan dalam proyek sosial, kampanye digital bertema nilai, atau kegiatan lingkungan sekolah yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kerja sama. Pengalaman langsung ini memberi siswa pemahaman praktis tentang pentingnya akhlak dalam kehidupan Ketika siswa melihat bahwa tindakan kecil mereka berdampak positif, maka nilai tidak lagi dipahami sebagai teori, tetapi sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membanggakan (Nurdin, 2. Evaluasi pembelajaran akhlak juga harus disesuaikan dengan pendekatan yang berorientasi pada proses dan transformasi diri siswa. Penilaian tidak dapat hanya dilakukan dengan tes tulis atau observasi satu arah. Guru perlu menggunakan metode penilaian autentik seperti portofolio karakter, rekaman refleksi, proyek sosial, atau self-assessment berbasis rubrik nilai. Dengan demikian, guru dapat melihat perkembangan akhlak siswa secara lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku mereka dalam berbagai konteks . Strategi pembelajaran akhlak juga harus melibatkan orang tua sebagai mitra aktif. Banyak nilai yang dibangun di sekolah bisa runtuh jika tidak dikuatkan di rumah. Oleh karena itu, program parenting berbasis nilai perlu dikembangkan, misalnya melalui forum komunikasi sekolah-orang tua, pelatihan pengasuhan positif, atau modul pendamping orang tua. Ketika nilai-nilai yang diajarkan di sekolah didukung oleh kebiasaan di rumah, maka proses internalisasi menjadi lebih kuat dan konsisten (Munadlir, 2. Selain itu, orang tua juga perlu diberi literasi digital agar mampu mengawasi dan mendampingi anak dalam aktivitas daring dengan bijak. Pendidikan akhlak juga harus memanfaatkan platform digital sebagai ruang pembelajaran nilai, bukan hanya sebagai sarana informasi. Guru dan sekolah bisa menggunakan media sosial sebagai media ekspresi nilai siswa, seperti membuat akun kampanye etika digital, berbagi video kebaikan, atau mengunggah refleksi harian. Dengan memanfaatkan bahasa dan gaya komunikasi yang sesuai dengan dunia siswa, pembelajaran akhlak Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 dapat menyentuh ruang batin siswa tanpa terasa menggurui. Media digital bukan musuh pembentukan karakter, tetapi bisa menjadi alat strategis jika dimanfaatkan dengan niat dan metode yang tepat (Syamsuar & Reflianto. Terakhir, strategi pembelajaran akhlak yang adaptif harus dikembangkan secara berkelanjutan melalui inovasi dan kolaborasi. Guru tidak boleh berjalan sendiri. Komunitas guru, lembaga pendidikan, serta institusi pengembang kurikulum harus saling berbagi praktik baik, riset, dan perangkat pembelajaran yang terbukti Pembelajaran akhlak bukan program sesaat, melainkan misi jangka panjang yang membutuhkan keseriusan sistemik. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pendidikan yang tidak hanya mewajibkan penguatan karakter secara administratif, tetapi juga menyediakan ruang kreatif, pelatihan, dan dukungan sumber daya agar pendidikan akhlak benar-benar menjadi prioritas dalam praktik pembelajaran sehari-hari (Ubaidah et al. , 2. Gambar 2. Infografis Strategi Pembelajaran Akhlak PENUTUP Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, generasi masa kini tumbuh dalam lingkungan yang tidak hanya dinamis, tetapi juga penuh tantangan moral yang kompleks. Kehidupan mereka berlangsung tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang-ruang virtual yang sering kali tak terbatas. Dalam konteks ini, pendidikan akhlak Islam perlu hadir sebagai pedoman yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh sisi praktis dan batiniah kehidupan siswa. Kajian ini menunjukkan bahwa ada sepuluh nilai karakter utama yang penting untuk dikembangkan dalam pendidikan akhlak, yaitu kesadaran diri, kepercayaan diri, manajemen emosi, empati, toleransi, tanggung jawab sosial, etika komunikasi, kesadaran ekologis, disiplin dan ketekunan, serta integritas. Nilainilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai norma, tetapi juga sebagai pijakan moral yang membantu siswa dalam mengambil keputusan yang tepat, terutama saat menghadapi tekanan sosial maupun pengaruh digital. Setiap nilai diperkuat dengan indikator yang konkret, yang memungkinkan guru dan pendidik merancang proses pembelajaran yang lebih bermakna. Pendidikan akhlak dalam hal ini tidak cukup hanya disampaikan melalui pengajaran verbal, tetapi harus terwujud melalui keteladanan, pembiasaan, serta interaksi yang hangat dan membangun. Guru, orang tua, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membentuk karakter yang kuat dan seimbang, baik secara spiritual maupun sosial. Pendidikan akhlak juga perlu adaptif terhadap dinamika zaman. Dunia digital membawa banyak peluang sekaligus risiko, sehingga siswa perlu dibekali keterampilan untuk memilah informasi, mengelola emosi, dan tetap teguh pada nilai-nilai kebaikan. Dengan cara ini, pendidikan akhlak bukan hanya menjadi bagian dari kurikulum sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari proses kehidupan yang menyeluruh. Kesadaran, keteladanan, dan kedekatan emosional antara pendidik dan peserta didik menjadi kunci keberhasilan pendidikan akhlak. Ketika siswa merasa didengar, dihargai, dan didampingi, maka nilai-nilai yang diajarkan akan lebih mudah mereka hayati dan terapkan. Pendidikan akhlak sejati adalah pendidikan yang membentuk manusia secara utuh, tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga bijak bersikap dan berperilaku. Asdianur Hadi. Leni Pitriani. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 DAFTAR PUSTAKA