Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah *Alfi Mashudi. Syaiful Rizal. Email: alfimashudi7@gmail. com1, syaifulrizaljember16@gmail. Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHMAS) Jember. Jawa Timur. Indonesia Abstract Islamic education plays a strategic role in shaping the character and morals of students. One relevant approach is the Pesantren-Based Curriculum (PBC), which adopts the pesantren education method in madrasahs. This study examines the role of teachers in instilling Islamic values through PBC at MA Al Huda Kotawaringin Lama, as well as the challenges in its implementation. Using a qualitative case study method, the results of the study show that teachers play a central role as educators, facilitators, and role models through learning yellow books, habituating worship, and instilling morals. The obstacles faced include limited facilities, lack of teacher understanding of PBC, and challenges of integration with the formal curriculum. Globalization and technology demand innovation in learning. The success of PBC is determined by teacher competence, role models, and institutional support. Strengthening teacher capacity and supporting policies are strategic steps to optimize the role of teachers in shaping a generation of Muslims with character. Keywords: Pesantren-Based Curriculum. Teacher's Role. Islamic Values Abstrak Pendidikan Islam berperan strategis dalam membentuk karakter dan moral peserta didik. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Pesantren-Based Curriculum (PBC), yang mengadopsi metode pendidikan pesantren di madrasah. Penelitian ini mengkaji peran guru dalam menanamkan nilainilai keislaman melalui PBC di MA Al Huda Kotawaringin Lama, serta tantangan dalam Menggunakan metode kualitatif studi kasus, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sentral sebagai pendidik, fasilitator, dan teladan melalui pembelajaran kitab kuning, pembiasaan ibadah, dan penanaman akhlak. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan sarana, kurangnya pemahaman guru tentang PBC, dan tantangan integrasi dengan kurikulum formal. Globalisasi dan teknologi menuntut inovasi pembelajaran. Keberhasilan PBC ditentukan oleh kompetensi guru, keteladanan, dan dukungan kelembagaan. Penguatan kapasitas guru dan kebijakan yang mendukung menjadi langkah strategis untuk optimalisasi peran guru dalam membentuk generasi Muslim berkarakter. Kata Kunci: Pesantren-Based Curriculum. Peran Guru. Nilai Keislaman Cara Mensitasi Artikel: Mashudi. A & Rizal. Peran guru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pesantren-based curriculum (PBC) di madrasah aliyah. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 5877. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: alfimashudi7@gmail. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 07/05/2025 : 14/06/2025 : 30/06/2025 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. PENDAHULUAN Pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai moral dan spiritual. Di lingkungan AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah madrasah, khususnya Madrasah Aliyah, nilai-nilai keislaman menjadi dasar penting dalam membentuk kepribadian peserta didik. Salah satu upaya yang dilakukan dalam membentuk karakter islami siswa adalah melalui kegiatan PBC (Pembiasaan Berbasis Karakte. yang dirancang untuk membentuk sikap, perilaku, dan kebiasaan baik sesuai ajaran Islam. Guru memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pendekatan pembiasaan ini. Tidak hanya sebagai pengajar, guru juga berfungsi sebagai teladan, pembimbing, dan pengarah dalam proses internalisasi nilai-nilai keislaman. Di Madrasah Aliyah Al Huda Kotawaringin Lama, program PBC telah menjadi bagian dari kultur sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan religius. Namun, peran aktif guru dalam keberhasilan program ini perlu dikaji secara mendalam untuk mengetahui efektivitas dan tantangan yang dihadapi. Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan moral peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Pendidikan Islam pada hakikatnya yaitu usaha manusia untuk membimbing, melatih dan memberikan pengarahan kepada anak dalam memberikan pengetahuan, intelektual dan pengalaman sesuai fitrah manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yang disertai dengan kepribadian yang baik (Maghfirah, 2023:. Sebagai lembaga pendidikan yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan ajaran agama,Madrasah Aliyah memiliki tanggung jawab besar dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Guru dalam pendidikan Islam memiliki peran dan tanggung jawab atas perbaikan moral dan akhlak yang dibutuhkan oleh peserta didik. Penanaman moral dan akhlak sejak dini bertujuan agar tidak terpengaruh oleh lingkungan sosial dan arus globalisasi yang membuat peserta didik kehilangan karakter dan akhlakul karimah dalam dirinya (Ridho, 2020: 9. Guru sebagai teladan memiliki peran sentral dalam membentuk karakter peserta didik melalui keteladanan dalam sikap, uacapan dan prilaku sesuai ajaran agama Islam. Dalam penerapan integrasi nilai nilai keislaman guru tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran agama saja, tetapi juga diintegrasikan kedalam mata pelajaran umum dan pembiasaan di sekolah. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pendidikan karena sebagai acuan atau program untuk mencapai tujuan pendidikan yang berpengaruh besar terhadap membentuk output pendidikan yang berkualitas. Dalam pandangan islam kurikulum merupakan alat yang digunakan untuk mendidik generasi muda dan mengembangkan bakat, kekuatan serta keterampiral mereka yang bermacam macam untuk memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Begitu juga nilai-nilai yang tertanam dalam diri peserta didik bergantung pada nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum yang menjadi Terlebih lagi bila berbicara tentang Pendidikan Agama Islam, dimana penanaman nilai-nilai keislaman menjadi suatu hal yang dominan, yang akan berefek pada aspek afektif dan psikomotor sebagai wujud nyata kesalehan dalam diri peserta didik. Seiring dengan perkembangan zaman eksistensi pendidikan harus menciptakan inovasi dan pengembangan baru agar tujuan pendidikan dalam mencerdaskan individu secara intelektual dan moral agar tercapai dengan baik. Hal ini disebabkan karena fokus utama pembelajaran hanya tertuju pada satu aspek saja, contohnya pendidikan formal lebih dominan mempelajari ilmu pengetahuan umum dan melupakan pendidikan nonformal keagamaan. Hal ini jika berlangsung secara terus menerus akan berdampak terhadap moral peserta didik yang kurang baik. Idealnya individu yang terbentuk dari pendidikan yang memiliki wawasan bagus dan memiliki moral yang baik sehingga dalam mengamalkan ilmunya dapat diterima dikalangan masyarakat dengan baik pula (Balighoh, 2022:. Dewasa ini banyak Madrasah Madrasah di Indonesia guna dalam menunjang keilmuan peserta didik di luar pesantren untuk menguasai pengetahuan baik bidang umum maupun agama dengan mengembangkan kurikulum formal dengan konsep Pesantren Based Curriculum (PBC). Penerapan Pesantren Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin Lama dianggap efektif karena akan tercipta kekuatan pendidikan yang kuat dan berpotensi mampu menghasilkan generasi muda yang handal, unggul dan berkarakter melalui pendekatan berbasis Pesantren-Based Curriculum (PBC) mengadaptasi tradisi pesantren, seperti pembelajaran kitab kuning, penguatan ibadah, dan pengembangan karakter Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Islami kedalam sistem pendidikan formal. Implementasi Pesantren Based Curriculum (PBC) menempatkan guru sebagai kunci utama dalam proses Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan yang menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Namun, dalam penerapan Pesantren Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kotawaringin Lama menghadapi berbagai tantangan. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan fasilitas, kurangnya pemahaman mendalam guru terhadap metode Pesantren Based Curriculum (PBC), serta hambatan dalam menyesuaikan kurikulum formal dengan nilai-nilai pesantren. Selain itu, pengaruh budaya global dan kemajuan teknologi juga menuntut strategi pembelajaran yang lebih inovatif untuk mempertahankan relevansi nilai-nilai keislaman di kalangan peserta didik. Maka untuk mencapai hasil pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan keberhasilan yang diterapkan, harus dikembangkan kerjasama yang baik antara komponen yang terkait dengan pelaksana kegiatan, seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, sarana dan prasarana, dukungan orantua dan juga masyarakat. Maka berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPeran Guru dalam Menanamkan Nilai Nilai Keislaman Melalui Pesantren Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kotawaringin LamaAy. METODE Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang digunakan memahami fenomena secara mendalam berdasarkan perspektif individu atau kelompok dalam konteks tertentu. Menurut Sugiyono, penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena relevan untuk mengeksplorasi Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kotawaringin Lama. Pendekatan ini memungkinkan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah peneliti memahami dinamika dan interaksi yang terjadi dalam proses pendidikan berbasis nilai-nilai pesantren. Dalam konteks penelitian ini, peneliti akan menggali peran guru, metode pengajaran, serta tantangan yang dihadapi dalam penerapan PBC (Sugiyono, 2021: . Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Metode ini dipilih karena relevan dengan pendekatan kualitatif yang menekankan pemahaman terhadap konteks dan makna sosial secara mendalam (Widodo, 2021: . Wawancara memungkinkan peneliti memperoleh pandangan langsung dari guru, kepala madrasah, dan peserta didik. Observasi dilakukan untuk memahami aktivitas pembelajaran di kelas secara langsung, termasuk interaksi antara guru dan peserta didik serta implementasi kurikulum berbasis pesantren. Selain itu, analisis dokumen digunakan untuk mengkaji perangkat pembelajaran seperti silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan catatan evaluasi hasil belajar peserta didik. Teknik ini bertujuan memperoleh data yang objektif dan mendalam mengenai pelaksanaan pendidikan di lingkungan madrasah. Ketiga teknik ini observasi, wawancara, dan analisis dokumen-merupakan metode utama dalam penelitian kualitatif yang menekankan makna dan konteks sosial yang kompleks (Puspita. Leni Y. , 2023: . Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara induktif, yaitu menarik kesimpulan berdasarkan pola, tema, dan kategori yang muncul dari data lapangan. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan metode, yang berguna untuk memverifikasi konsistensi informasi yang Sedangkan untuk memastikan keakuratan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan metode, seperti membandingkan hasil wawancara dengan dokumen atau catatan pengamatan yang relevan. Triangulasi ini penting dalam penelitian kualitatif karena dapat meningkatkan validitas temuan melalui perbandingan antar teknik dan sumber informasi (Sugiono, 2021: . Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru dalam Menanamkan Nilai Nilai Keislaman di Pendidikan Pendidikan Islam merupakan proses pembentukan manusia secara holistik yang berorientasi pada pengajaran, pengamalan, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan. Pendidikan Islam berperan sebagai media untuk menanamkan aqidah yang benar, memperbaiki perilaku, dan membentuk akhlak mulia berdasarkan pedoman Al-QurAoan dan Hadis (Adi Kasman. Ikhwan, dan Darlis Azis, 2022: . Pendidikan Islam juga bertujuan membina hubungan harmonis antara manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta, yang direalisasikan melalui pengajaran tauhid, syariat, dan akhlak (Muthoharoh, 2023: Hal ini sejalan dengan gagasan Abdurrahman An-Nahlawi yang menyatakan bahwa pendidikan Islam merupakan upaya menyeluruh dalam membina manusia menjadi pribadi bertakwa dan berakhlak mulia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan Islam tidak hanya mengacu pada transmisi pengetahuan, tetapi juga membimbing individu untuk mengenali tujuan hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. AlAttas menekankan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk menanamkan adab, yaitu disiplin jiwa yang mencerminkan pengakuan terhadap hak dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang bertakwa (Hayani, 2022: . Pendidikan Islam memiliki ruang lingkup yang luas, meliputi pendidikan spiritual, moral, intelektual, dan sosial. Dalam konteks ini, pendidikan Islam memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang semuanya bertujuan membentuk pribadi yang utuh dan seimbang. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah, masyarakat, dan dirinya sendiri. Nilai-nilai Islam merupakan elemen fundamental yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan ajaran Al QurAoan dan Hadis. Nilai-nilai ini mencakup berbagai aspek kehidupan yang berfungsi sebagai pedoman untuk membangun karakter individu, memperkuat hubungan sosial, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Penanaman nilai nilai keislaman dalam proses pendidikan untuk memberikan pemahaman tentang sifat Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah sifat . al ha. yang penting atau berguna bagi kemanusian yang berlandaskan pada ajaran Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw sesuai dengan Al QurAoan dan Hadist (Sulistyowati, 2022: 421- . Dalam perspektif pendidikan Islam, pembentukan karakter . merupakan salah satu tujuan utama, sehingga guru berfungsi sebagai murabbi . , muAoallim . , dan mudarris . yang mengarahkan peserta didik untuk menjadi insan kamil. Guru bertanggung jawab untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, menyisipkan nilai-nilai moral, serta memberikan teladan yang baik dalam perilaku sehari-hari. Selain sebagai teladan bagi peserta didik, guru dalam membimbing karakter peserta didik memiliki beberapa fungsi utama antara lain: Sebagai Role model. Karakter peserta didik sering kali terbentuk dari pengamatan terhadap perilaku guru. Seorang guru yang menunjukkan sikap jujur, disiplin, dan sabar akan memotivasi peserta didik untuk meniru sifat-sifat Keteladanan ini sangat penting karena, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Ghazali. AuAnak-anak akan belajar lebih banyak dari contoh yang diberikan oleh gurunya daripada dari apa yang diajarkan dengan kata-kataAy. Sebagai Motivator. Dalam membimbing karakter, guru harus mampu memberikan dorongan moral dan spiritual kepada peserta didik agar mereka memiliki semangat untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Misalnya melalui nasihat yang bijak, guru dapat memotivasi peserta didik untuk mengatasi rasa malas atau putus asa dalam menghadapi tantangan. Sebagai Fasilitator. Guru harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi kedalam setiap mata Proses ini dilakukan dengan menyisipkan diskusi atau contoh-contoh praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan materi akademik, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang baik. Guru harus mengamati perkembangan karakter peserta didik secara berkelanjutan dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Ketika ditemukan perilaku yang kurang sesuai. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah guru bertugas untuk menegur dengan cara yang bijak dan mendidik, sehingga peserta didik memahami kesalahan mereka dan termotivasi untuk memperbaiki diri (Dhofier, 2005: . Sebagai Mediator. Dalam menyelesaikan konflik yang mungkin terjadi di antara peserta didik. Guru bertugas untuk memberikan solusi yang adil dan mengajarkan nilai-nilai keadilan, empati, dan penyelesaian masalah secara Pendekatan ini tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga mengajarkan peserta didik untuk dapat menyelesaikan konflik secara mandiri di masa depan (Ulwan, 2006: . Sebagai Pembimbing spiritual. Guru memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan peserta didik dalam menjalankan ibadah dan memperkuat hubungan mereka dengan Allah SWT. Melalui pembiasaan seperti salat berjamaah, tadarus Al-QurAoan, dan doa bersama, guru membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka sehari-hari (MasAoud, 2002: . Dengan demikian, secara keseluruhan guru tidak hanya berperan dalam membentuk peserta didik menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki karakter yang kuat. Melalui fungsi dan tugas yang dijalankan dengan dedikasi, guru berkontribusi dalam menciptakan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas moral dan spiritual mereka. Pada dasarnya didalam lembaga pendidikan guru secara utuh memiliki tanggung jawab dan peran penting selain sebagai murabbi, guru juga berperan dalam hal pembinaan moral peserta didik. Seorang guru dalam merefleksikan pembelajaran harus mampu mentransfer ilmu dan menanamkan keimanan sesuai dengan ajaran agama Islam agar peserta didik dapat menjadi pribadi yang beriman, berakhlakul karimah dan berwawasan luas. Berikut ini merupakan komponen utama nilai-nilai keislaman dalam pendidikan antara lain : Tauhid (Keimana. merupakan inti ajaran Islam dan landasan utama dalam pendidikan Islam. Pendidikan berbasis tauhid bertujuan menanamkan kesadaran bahwa segala tindakan manusia harus dilandasi oleh keimanan dan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah keikhlasan kepada Allah. Tauhid menjadi sumber motivasi untuk beribadah, bekerja, dan berinteraksi secara harmonis dengan sesama. Akhlak Mulia merupakan dimensi praktis dari pendidikan Islam yang mencakup sikap, perilaku, dan hubungan sosial. Penanaman nilai akhlak mengajarkan pentingnya sifat-sifat seperti kejujuran, keadilan, kesabaran, dan rendah hati. Pendidikan Islam menekankan pembentukan karakter berbasis akhlak mulia untuk menciptakan individu yang berperilaku baik dalam kehidupan sehari hari. Ibadah dalam pendidikan Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah melalui pelaksanaan ibadah yang pada gilirannya akan memperkuat spiritualitas dan moral peserta didik. Nilai ibadah juga mendorong individu untuk menjalankan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah. Pembiasaan nilai ibadah dapat dimulai dengan pembiasaan sholat dhuha dan dhuhur secara berjamaah, tilawah Al QurAoan, serta doa dan sebelum dan sesudah pembelajaran. Ilmu Pengetahuan Islam dalam konteks pendidikan, bertujuan untuk mengembangkan potensi intelektual peserta didik agar mereka mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Hal ini sesuai dengan ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw yakni AuIqraAy . , menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban utama dalam agama Islam. Keseimbangan (Wasathiya. dalam ajaran Islam mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, antara hak individu dan kewajiban sosial, serta antara aspek material dan spiritual. Nilai keseimbangan dalam pendidikan Islam bertujuan membentuk individu yang tidak hanya berorientasi pada keberhasilan dunia, tetapi juga pada kebahagiaan Sebagaimana firman Allah dalam Al QurAoan yang artinya: AuDan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu . negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di duniaAy (QS. Al Qashash: Ukhuwah (Persaudaraa. Pendidikan Islam juga menekankan pentingnya ukhuwah atau persaudaraan, baik dalam konteks hubungan sesama muslim Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah . khuwah Islamiya. maupun hubungan dengan umat manusia secara umum . khuwah insaniya. Nilai ukhuwah mengajarkan pentingnya saling menghormati, saling tolong-menolong, dan menjaga hubungan yang harmonis dalam masyarakat. Dengan ukhuwah yang kuat, peserta didik diharapkan mampu menjadi agen perdamaian dan persatuan di tengah keberagaman (Shihab, 2004: . Keadilan adalah salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Dalam pendidikan, nilai ini mendorong guru dan peserta didik untuk bersikap adil dalam menyikapi perbedaan pendapat, mengambil keputusan, dan memberikan hak kepada orang lain tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nisa: 58 menegaskan: AuSesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adilAy. Peran Guru dalam Menanamkan Nilai Nilai Keislaman Melalui Pesantren Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Pesantren-Based Curriculum (PBC) merupakan sebuah konsep pendidikan yang mengintegrasikan tradisi pendidikan pesantren ke dalam sistem pendidikan Pesantren Based Curriculum (PBC) bertujuan untuk mengakomodasi nilainilai keislaman khas pesantren, seperti penguatan akidah, pengamalan ibadah, dan pembentukan akhlak mulia, dalam kurikulum pendidikan di madrasah. Konsep dasar Pesantren Based Curriculum (PBC) berakar pada metode pendidikan Islam tradisional, dimana pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik. Dalam sistem Pesantren Based Curriculum (PBC), pengajaran kitab-kitab klasik atau kutub al-turats seperti Fathul Mu'in. TaAolimul MutaAoallim, dan Ihya Ulumuddin, dipadukan dengan materi pelajaran yang bersifat umum seperti matematika, sains, dan bahasa Inggris. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Selain itu. Pesantren Based Curriculum (PBC) menekankan pendekatan learning by doing, dimana Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengikuti kegiatan salat berjamaah, tadarus Al-QurAoan, dan program-program pembentukan karakter Penerapan Pesantren Based Curriculum (PBC) juga melibatkan peran guru sebagai murabbi atau pembimbing yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam hal akhlak dan perilaku Islami. Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Islam. Konsep Pesantren Based Curriculum (PBC) tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Hal ini sejalan dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk insan kamil, manusia yang sempurna baik secara intelektual, moral, maupun spiritual. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdurrahman An-Nahlawi, pendidikan Islam harus mampu mempersiapkan individu untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang melalui pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan etika Islami. Dengan menanamkan nilai-nilai keislaman yang kokoh, peserta didik diharapkan mampu menjadi pribadi yang tangguh menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. Konsep ini sejalan dengan pandangan Yusuf Qardhawi yang menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai agama dalam membangun karakter bangsa yang bermartabat (Zarkasyi, 2005: . Disisi lain, implementasi Pesantren Based Curriculum (PBC) tidak terlepas dari berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten dalam memahami kurikulum pesantren, kesenjangan antara metode tradisional dan modern, serta kebutuhan untuk mengembangkan model pembelajaran yang lebih inovatif agar dapat bersaing dalam dunia global (Qardhawi, 2000: . Dengan demikian. Pesantren Based Curriculum (PBC) menjadi alternatif solusi bagi lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan kurikulum yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang tinggi. Hal ini menjadikan Pesantren Based Curriculum (PBC) sebagai model pendidikan yang relevan untuk diterapkan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah di berbagai institusi pendidikan Islam, khususnya dalam membentuk generasi Muslim yang berkarakter dan berdaya saing. Integrasi nilai-nilai pesantren dalam kurikulum formal merupakan upaya menggabungkan tradisi pendidikan Islam yang khas dengan sistem pendidikan pesantren, sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, memiliki nilai nilai fundamental yang berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik. Nilai-nilai tersebut meliputi akidah yang kokoh, akhlak yang mulia, kedisiplinan dalam ibadah, kemandirian, serta semangat ukhuwah Islamiyah. Integrasi ini bertujuan agar pendidikan formal tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian Islami yang kuat. Dalam praktiknya, integrasi ini dilakukan dengan menyelaraskan materi pembelajaran berbasis agama, seperti tafsir, hadis, fikih, dan akhlak, dengan mata pelajaran umum seperti matematika, sains, dan bahasa. Pendekatan ini menciptakan keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Sebagai contoh, pembelajaran sains dapat dikaitkan dengan ayat-ayat Al-QurAoan yang membahas penciptaan alam semesta, sehingga peserta didik memahami bahwa ilmu pengetahuan merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Selain itu, metode pembelajaran pesantren seperti sorogan dan bandongan dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas formal. Metode sorogan, di mana peserta didik membaca dan memahami teks di bawah bimbingan guru, mendorong pembelajaran yang lebih mendalam dan personal. Sementara itu, bandongan mengajarkan kebersamaan dalam memahami materi secara kolektif. Kegiatan-kegiatan khas pesantren, seperti tadarus Al-QurAoan, salat berjamaah, dan kajian kitab kuning, juga dapat dimasukkan ke dalam jadwal kegiatan sekolah untuk membiasakan peserta didik dengan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan seharihari. Integrasi nilai-nilai pesantren juga mencakup penguatan aspek moral dan spiritual melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti halaqah, diskusi keagamaan, dan kegiatan sosial. Peserta didik diajak untuk aktif dalam kegiatan yang menanamkan empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab, seperti program santunan kepada masyarakat kurang mampu dan aksi peduli lingkungan. Hal ini sejalan dengan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah konsep tarbiyah dalam pendidikan Islam, di mana pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di kehidupan nyata. Pengintegrasian nilai-nilai pesantren dalam kurikulum formal memerlukan peran aktif guru sebagai murabbi dan uswatun hasanah . eladan yang bai. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing spiritual yang mampu mengarahkan peserta didik untuk menginternalisasi nilai nilai Dalam konteks ini, guru memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang Islami, di mana suasana kelas mencerminkan nilainilai kedisiplinan, kerja sama, dan penghormatan terhadap perbedaan. Integrasi ini menghadirkan beberapa tantangan, seperti penyelarasan antara kurikulum formal yang padat dengan materi pesantren yang mendalam, serta keterbatasan waktu dan sumber daya. Namun, dengan perencanaan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, integrasi nilai-nilai pesantren dalam kurikulum formal dapat menjadi solusi strategis untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dan kompetitif, tetapi juga berakhlak mulia dan berkarakter Islami. Adapun kegiatan dalam upaya penanaman nilai nilai keislaman melalui Pesantren Based Curriculum (PBC) kepada peserta didik di Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin Lama yakni sebagai berikut: Kajian kitab kuning Kajian kitab kuning diterapkan kedalam pembiasaan sehari hari peserta didik dengan dipadukan dengan pelajaran yang bersifat umum. Pengajaran kitab kitab klasik seperti Fathul MuAoin. TaAolimul MutaAoalim dan IhyaAo Ulumuddin kemudian dipadukan dengan mata pelajaran seperti Matematika. IPA, maupun Bahasa Inggris. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Metode yang digunakan dalam penerapan kajian kitab kuning yakni berupa halaqah atau kajian bersama berkelompok dengan duduk melingkar bersama. Sholat berjamaan dan dzikir bersama Pembiasaan sholat dan dzikir berjamaah dilaksanakan secara rutin ketika waktu ishoma . stirahat, sholat dan maka. Ketika memasuki waktu sholat dhuhur peserta didik segera bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah dhuhur secara berjamaah. Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh warga sekolah termasuk dewan guru dan pegawai Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin Lama. Diskusi tentang tokoh tokoh islam Diskusi tentang tokoh tokoh islam dilakukan ketika berada di dalam kelas, yakni peserta didik dan guru dapat saling berdiskusi tentang sejarah, biografi maupun latar belakang tokoh tokoh islam maupun fenomena keislaman lainya yang menginspirasi. Adapun penanaman nilai nilai keislaman melalai metode Pesantren Based Currikulum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin lama disajikan salam bentuk tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Penanaman Nilai Nilai Keislaman Melalai Metode Pesantren Based Currikulum (PBC) Di Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin Lama No. Tema Penanaman nilai Pembiasaan ibadah Penguatan karakter Islami Metode Pembelajaran Halaqah Praktik langsung Diskusi dan cerita Aktivitas Kajian kitab kuning Sholat berjamaah dan dzikir bersama Diskusi tentang tokoh tokoh islam Faktor Pendukung dan Penghambat Penanaman Nilai Nilai Keislaman Melalui Pesantren Based Currikulum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin Lama Proses penanaman nilai nilai keislaman melalui Pesantren Based Currikulum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kota Waringin Lama bukanlah suatu hal yang Dalam upaya pelaksanaanya tidak akan terlepas dengan faktor pendukung dan penghambat. Adapun beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam upaya penanaman nilai nilai keislaman bagi peserta didik sebagai berikut: Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Faktor Pendukung Penanaman Nilai Nilai Keislaman Melalui Pesantren Based Curriculum Kemauan dan kesadaran dalam diri peserta didik Faktor dalam diri peserta didik mendorong terhadap penanaman nilai nilai keislama karena ketika melaksanakan sesuatu tanpa adanya paksaan dan atas kemauan dalam diri maka kegiatan tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilaksankan dengan ketulusan hati sehingga tidak menjadi sia sia dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Kebijakan sekolah Kebijakan sekolah dalam mendorong penguatan nilai nilai keislaman didalam sekolah menjadikan sebuah kebiasaan dan rutinitas bagi peserta didik. Guru tidak hanya menjadi pembina dalam perbaikan moral peserta didik, tetapi juga memberikan teladan yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari hari baik di sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Masyarakat dan lingkungan Masyarakat dan lingkungan yang positif sangat mendukung dalam penguatan nilai nilai keislaman bagi peserta didik karena masyarakat merupakan tempat bersosialiasi dalam kehidupan sehari hari, sehingga ketika masyarakat yang ditempati bersosial islami maka dengan sendirinya peserta didik akan ikut kedalam kebiasaan yang baik masyarakat sekitarnya. Keluarga Latar pembentukan kepribadian dan akhlaknya. Orang tua bekerja sama dalam membiasakan pemberian nilai nilai keislaman sedari dini sehingga peserta didik dapat menerima dan menjalankan pembinaan untuk pembentukan karakter di lingkungan sekolah (Maryam. Usman, 2021: . Faktor Penghambat Penanaman Nilai Nilai Keislaman Melalui Pesantren Based Curriculum Keterbatasan fasilitas yang kurang memadai di lingkungan sekolah Keterbataan fasilitas sekolah menjadi salah satu penghambat dalam proses penanaman nilai nilai keislaman kepada peserta didik, sehingga kegiatan yang Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi. Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah berlangsung kurang efektif dan maksmal. Seperti kurangnya penggunaan proyektor dan LCD guna membantu dalam kegiatan pembelajaran untuk kebutuhan penayangan film dan video keislaman serta keperluan lainya. Keterbatasan sarana dan prasarana Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai menjadikan kegiatan pembelajaran yang berlangsung kurang efektif dan efisien, sebab kurangnya minat dan antusias peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar karena minimnya media pembelajaran yang digunakan, sehingga peserta didik hanya mengandalkan buku saja tanpa didampingi media pembelajaran yang lebih menarik. Kurangnya pemahaman mendalam guru terhadap metode Pesantren Based Curriculum (PBC) Kurangnya pemahaman guru dalam menerapkan metode Pesantren Based Currikulum (PBC) disebabkan karena perbedaan perencanaan kurikulum dan proses pengimplementasianya kepada peserta didik. Hal ini dapat diminimalisir dengan adanya seminar dan pelatihan terkait metode Pesantren Based Curriculum (PBC) sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan pengetahuan yang mendalam terkait metode tersebut. Hambatan dalam menyesuaikan kurikulum formal dengan nilai-nilai pesantren. Dalam konteks ini, guru memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang Islami, di mana suasana kelas mencerminkan nilai-nilai kedisiplinan, kerja sama, dan penghormatan terhadap perbedaan. Integrasi ini menghadirkan penyelarasan antara kurikulum formal dan nilai nilai Pengaruh budaya global dan kemajuan teknologi Pendidik dan pesantren dituntut bekerja sama dalam meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif untuk mempertahankan relevansi nilai-nilai keislaman di kalangan peserta didik yaitu dengan menerima moderniasasi dan dipadukan dengan dengan tradisi pengajaran ala pesantren. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Alfi Mashudi, & Syaiful Rizal Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peran guru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman melalui Pesantren-Based Curriculum (PBC) di Madrasah Aliyah Al Huda Kotawaringin Lama sangat signifikan. Guru berperan sebagai muAoallim . , murabbi . , dan mudarris . yang tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik melalui keteladanan dan pembiasaan. Nilai-nilai keislaman ditanamkan melalui kajian kitab kuning secara halaqah, pembiasaan ibadah seperti salat Dzuhur dan dzikir berjamaah di masjid sekolah, serta diskusi keislaman yang menumbuhkan wawasan dan sikap religius siswa. Upaya integrasi antara kurikulum pesantren dan kurikulum nasional bertujuan untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian Islami yang kuat. Namun, pelaksanaan PBC masih menghadapi kendala seperti keterbatasan fasilitas, kurangnya pelatihan guru, serta tantangan dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman dan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan, penyediaan fasilitas yang memadai, serta pengembangan strategi pembelajaran yang adaptif dan kontekstual. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji efektivitas jangka panjang penerapan PBC terhadap pembentukan karakter siswa, melakukan studi komparatif antar-madrasah, dan merancang model pelatihan guru yang sesuai dengan prinsip-prinsip kurikulum pesantren dalam konteks pendidikan formal. REFERENSI