Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Nur Rahmah et al. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 KONTRIBUSI PENDAPATAN WANITA TANI TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI HIDROPONIK DI DESA TINDANG. KECAMATAN BONTONOMPO SELATAN. KABUPATEN GOWA Contribution of Women FarmerAos Income to Household Income Through The Utilization of Hydroponic Technology in Tindang Village. South Bontonompo District. Gowa Regency Nur Rahmah1*. Kartika Ekasari2. Andi Kasirang3. Heliawaty4. Annisa Aulia Ramadhani Hidayat5 Departemen Teknologi Pertanian. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Makassar, 90224 Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan. Polbangtan Gowa, 92171 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Makassar, 90221 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin, 90245 Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin, 90245 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui peran signifikan wanita tani dalam kegiatan pertanian, persepsi wanita tani dalam pemanfaatan teknologi hidroponik dan kontribusinya terhadap nafkah rumah tangga di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa. Lokasi penelitian ini ditentukan dengan puposive dengan pertimbangan mayoritas penduduk di desa bekerja sebagai petani dan banyak ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai petani wanita atau buruh tani. Sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel sebanyak 70 wanita tani. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, proses pengumpulan data melalui teknik observasi, yang mencakup perilaku yang dapat dilihat secara langsung oleh mata, didengar, dihitung, dan diukur, serta teknik kuesioner, yang diberikan kepada responden seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis. Kontribusi wanita tani dalam kegiatan pertanian didasari oleh beberapa faktor, yaitu faktor keadaan daerah tempat tinggal wanita tani, faktor ekonomi, dan faktor kebiasaan yang dilakukan oleh wanita tani dalam melanjutkan kegiatan orang tua sebagai petani atau buruh tani. Persepsi wanita tani terhadap budidaya hidroponik di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa masih tergolong cukup rendah. Pendapatan wanita petani yang memanfaatkan teknologi hidroponik kontribusi pada pendapatan rumah tangga. Hal ini terlihat dari pendapatan rata-rata yang diperoleh wanita tani dalam sebulan yaitu Rp 1. 153 per bulan. Kontribusi pendapatan wanita tani sebesar 27,98%. Kontribusi pendapatan wanita tani ini dihasilkan dari pemanfaatan teknologi hidroponik memiliki kontribusi 0,39% terhadap pendapatan rumah tangganya. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut dalam memberikan edukasi, pelatihan, dan penyuluhan tentang teknologi pertanian modern ini agar para wanita tani dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki dalam mendukung pembangunan pertanian Kata kunci : Hidroponik. Kontribusi Wanita Tani. Pendapatan Rumah Tangga. Persepsi ABSTRACT This study aims to determine the significant role of women farmers in agricultural activities, women farmers' perceptions in the use of hydroponic technology and their contribution to household income in Tindang Village. South Bontonompo District. Gowa Regency. The location of this study was determined purposively considering that the majority of the population in the village work as farmers and many housewives work as women farmers or farm laborers. The sample in the study used a purposive sampling Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Nur Rahmah et al. technique with a sample of 70 women farmers. The study used a quantitative descriptive approach, the data collection process through observation techniques, which include behavior that can be seen directly by the eye, heard, counted, and measured, and questionnaire techniques, which were given to respondents a set of questions or written statements. The contribution of women farmers in agricultural activities is based on several factors, namely the condition of the area where women farmers live, economic factors, and habit factors carried out by women farmers in continuing their parents' activities as farmers or farm laborers. Perceptions of women farmers towards hydroponic cultivation in Tindang Village. South Bontonompo District. Gowa Regency is still relatively low. The income of female farmers who utilize hydroponic technology is quite low in contributing to household income. This can be seen from the average income earned by female farmers in a month, which is IDR 1,919,153 per month. The contribution of female farmers' income is 27. The contribution of female farmers' income is generated from the utilization of hydroponic technology, which has a contribution of 0. 39% to their household income. Therefore, further efforts are needed to provide education, training, and counseling on modern agricultural technology so that female farmers can optimize their potential in supporting sustainable garden development. Keywords: Household Income. Hydroponics. Perception. Women FarmersAos Contribution @ 2025 Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Halaman Jurnal, https://ejournal. polbangtan-gowa. id/index. php/J-Agr-Sosekpenyuluhan/article/view/476 Received : 20 May 2025 Accepted : 16 October 2025 Published Online : 31 December 2025 * Email Korespondensi: nur. rahma@unm. PENDAHULUAN Indonesia merupakan suatu negara yang terkenal dengan sebutan negara agraris karena sebagian besar wilayahnya dimanfaatkan untuk sektor pertanian. Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam struktur pembangunan ekonomi nasional (Salamah, 2. Pembangunan pertanian yang berkelanjutan memerlukan kontribusi sumber daya manusia yang berkualitas dan komitmen yang kuat. Faktor-faktor tersebut menjadi landasan keberhasilan dalam mencapai pembangunan pertanian yang berkelanjutan (Susilowati, 2. Meskipun menjadi sektor yang menampung banyak tenaga kerja dan penting bagi sebagian besar penduduk, sektor pertanian seringkali tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Generasi muda saat ini sering kekurangan informasi dan minat terhadap sektor Pembangunan pertanian di Indonesia hingga kini belum sepenuhnya mencapai hasil maksimal, yang terlihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya terhadap pendapatan nasional. Selama satu dekade terakhir. Indonesia menghadapi penurunan jumlah tenaga kerja secara signifikan dalam sektor pertanian (Putri et al. , 2. Data yang dikumpulkan pada tahun 2009 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 44 juta penduduk yang berprofesi sebagai petani namun, pada tahun 2018 BPS mencatat jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani di Indonesia sebanyak 33 juta jiwa. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani sebanyak 25% dalam kurun satu dekade terakhir. Susilowati . , menyebutkan bahwa penurunan jumlah petani atau permasalahan ketenagakerjaan dalam sektor pertanian disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah perpindahan petani ke sektor lain yang dianggap lebih menguntungkan. Rendahnya pendapatan juga menjadi masalah utama yang menurunkan minat masyarakat untuk terlibat dalam pertanian. Selain itu, dengan pendapatan petani di Indonesia yang hanya sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 1,7 juta per bulan dianggap tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan dibandingkan dengan tenaga yang dikeluarkan saat bertani. Perubahan struktur demografi turut berpengaruh signifikan terhadap penurunan jumlah petani, di mana jumlah petani berusia tua . ebih dari 55 tahu. lebih banyak dibandingkan dengan petani berusia muda yang saat ini mengalami penurunan. Masuknya tenaga kerja wanita ke sektor pertanian didorong oleh kebutuhan pokok masyarakat. wanita yang terlibat dalam kegiatan ekonomi keluarga . eran produkti. , memiliki peran ganda yakni sebagai ibu rumah tangga yang bertanggungjawab atas peran domestik dan juga berperan didalam kegiatan Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Nur Rahmah et al. produktif yang membantu suami mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga. Alokasi waktu wanita tani tidak hanya untuk menjalankan peran domestik tetapi juga dialokasikan untuk kegiatan produktif (Ainum et al. , 2. Menurut penelitian (Hanani & Ratna Sari, 2. , faktor-faktor yang mendorong partisipasi wanita di sektor publik meliputi pertumbuhan penduduk, peluang kerja yang lebih luas, peningkatan keinginan wanita untuk bekerja, serta kondisi ekonomi rumah tangga terkait dengan jumlah tanggunngan keluarga. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Nur Rahmah, 2. yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jumlah tanggungan dengan peran produkti wanita. Di wilayah pedesaan, anggota tenaga kerja melibatkan pria, wanita, dan anak-anak dengan peran masing-masing sebagai kepala keluarga, istri, dan anak. Selain kontribusi tenaga kerja dari pria, wanita juga memainkan peran yang penting dalam kegiatan usahatani keluarga. Kondisi ekonomi keluarga yang rapuh dan penuh kekurangan mendorong wanita untuk bekerja, membantu suami mereka dalam mencari penghasilan tambahan (Amheka et al. , 2. Memasuki era globalisasi seorang wanita yang pada mulanya sebagai ibu rumah tangga, mulai merubah dan turut serta secara lngsung membantu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Peningkatan produktifitas tenaga kerja wanita tani memiliki peran dan potensi yang strategis dalam mendukung peningkatan maupun perolehan pendapatan rumah tangga pertanian dipedesaan (Citra & Hilaman, 2. Pembinaan wanita tani yang ada di pedesaan melalui suatu wadah kelompok yang disebut Kelompok Wanita Tani (KWT) perlu ditingkatkan sehingga potensinya yang besar dapat dimanfaatkan serta peranannya sebagai mitra kerja laki-laki secara serasi, selaras baik dilingkungan keluarga maupun masyarakat lebih meningkat. Kelompok wanita tani pedesaan merupakan salah satu wadah yang dapat menjadi harapan bagi keluarga tani karena sumber daya yang ada didalamya dapat dimanfaatkan dan Pemberdayaan perempuan melalui wadah kelompok wanita tani lebih menekankan pada upaya peningkatan peranan wanita tani dalam pemenuhan kebutuhan primer keluarga (Citra & Hilaman. Peran wanita tani dalam aktivitas pertanian bertujuan untuk memperoleh pendapatan, yang pada gilirannya dapat menambah atau meningkatkan pendapatan keluarga untuk kebutuhan semua anggota Terkait dengan konsep pendapatan, (Soekartawi, 2. menjelaskan bahwa pendapatan sebenarnya memiliki perbedaan dengan penerimaan, namun juga dapat dianggap setara dengan penerimaan. Penerimaan kotor diartikan sebagai penerimaan, sementara pendapatan bersih merupakan hasil dari penerimaan setelah dikurangi dengan biaya. Meskipun wanita telah aktif berperan dalam mendukung suaminya dalam kegiatan usaha tani, pendapatan yang dihasilkan masih jauh dari penghasilan yang diperoleh oleh pria. Meskipun begitu, pendapatan yang diperoleh oleh wanita yang telah berkeluarga tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarganya. Dalam menghadapi perubahan demografi dan penurunan jumlah petani, perlu ditekankan bahwa pemberdayaan wanita tani bukan hanya sekedar pendekatan ekonomi semata, tetapi juga mencakup aspekaspek sosial dan budaya. Dukungan terhadap keterlibatan aktif wanita tani dalam kegiatan pertanian dapat membentuk pola pikir positif terkait peran gender di masyarakat. Program pelatihan dan edukasi yang terfokus pada peningkatan keterampilan wanita tani, seperti pengelolaan usaha pertanian dan keuangan keluaraga, dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan daya saing sektor pertanian. Berdasarkan pemahaman latar belakang yang telah diuraikan, penelitian ini bertujuan untuk mendalami peran signifikan wanita tani dalam kegiatan pertanian, persepsi mereka dalam pemanfaatan teknologi hidroponik, kontribusi mereka terhadap nafkah keluarga rumah tangga di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa. Selain itu, penelitian ini akan menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat kontribusi wanita tani dalam pertanian serta persepsi mereka terkait dengan budidaya hidroponik, dengan tujuan untuk mengoptimalkan peran mereka dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan tingkat desa. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilakukan di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa. Lokasi penelitian ini ditentukan dengan puposive dengan pertimbangan karena di desa ini mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan banyak ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai petani wanita atau buruh tani. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Nur Rahmah et al. Selain itu, terdapat wanita berusia lanjut yang jumlahnya cukup banyak bekerja sebagai buruh tani petani atau membantu suaminya dalam bercocok tanam di lahan. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling. Dalam penelitian ini, 70 wanita tani. Menurut (Totok & Irianto, 2. , metode purposive sampling digunakan untuk memilih sampel berdasarkan kesesuaian karakteristik calon sampel atau responden dengan kriteria tertentu yang ditetapkan atau diinginkan oleh peneliti. Responden penelitian ini adalah wanita tani dengan karakteristik berikut: . wanita yang pekerjaan utamanya adalah petani, baik menggarap lahan milik sendiri maupun bekerja sebagai buruh tani, dan . wanita yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan usahatani untuk membantu ekonomi keluarga mereka. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Studi ini menggunakan deskriptif Data dikumpulkan melalui teknik observasi, yang mencakup perilaku yang dapat dilihat secara langsung oleh mata, didengar, dihitung, dan diukur, serta teknik kuesioner, yang diberikan kepada responden seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis dan mendiskripsikan curahan waktu kerja wanita tani di atas usia produktif dalam usahatani sayuran organik, pendapatan yang diperoleh wanita tani di atas usia produktif dalam usahatani sayuran organik dan kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga (Bhastoni & Yuliati, 2. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yaitu menjelaskan atau menjabarkan peranan wanita dalam usahatani kubis. Untuk menghitung Pendapatan rumah tangga adalah penjumlahan seluruh pemasukan rumah tangga, yaitu pendapatan suami sebagai petani, pendapatan ibu rumah tangga usahatani kubis, dan pendapatan anggota lain. Pendapatan rumah tangga petani kubis dirumuskan sebagai berikut: ycyei = ycyea ycyeN ycyea Keterangan: Pendapatan Rumah Tangga (R. ycyei Pendapatan Suami (R. ycyea Pendapatan Istri (R. ycyeN Pendapatan Anggota Lain (R. ycyea Menghitung besarnya kontribusi wanita tani dalam meningkatkan pendapatan keluarga diketahui dari kontribusi wanita tani tersebut terhadap pendapatan keluarga petani (Ainum et al. , 2. , dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ycyeN yc= y yayaya% ycyei Keterangan: Kontribusi Wanita Tani (R. yc Pendapatan Istri (R. ycyeN Pendapatan Rumah Tangga Petani (R. ycyei Menurut (Heldawati et al. , 2. , menentukan besar atau kecilnya kontribusi wanita terhadap total pendapatan keluarga dapat dilihat dengan. Jika kontribusi O50% dari total pendapatan, maka kontribusi kecil. Jika kontribusi =50% dari total pendapatan, maka kontribusi sedang. Jika kontribusi Ou50% dari total pendapatan, maka kontribusi besar. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Wanita Tani Pada penelitian ini, diambil responden wanita tani yang aktif dalam kegiatan pertanian yang berada pada Dusun Bontobaddo Desa Tindang. Penelitian ini menggunakan pengambilan data menggunakan metode observasi dan wawancara dalam pengumpulan data, dan ditemukan bahwa jumlah wanita tani yang aktif memiliki tingkat produktivitas yang masih tergolong produktif. Dalam segi umur wanita tani pada Dusun Bontobaddo Desa Tindang berada pada rentang usia 35-60 tahun, dimana dalam rentang usia 35-55 Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Nur Rahmah et al. tahun masih dalam kondisi yang sangat produktif. Sedangkan sisanya sudah tergolong kurang produktif. Hal ini sesuai dengan pendapat (Widyawati & Pujiyono, 2. yang menyebutkan bahwa semakin muda umur wanita tani maka produktivitasnya dalam pekerjaan khususnya pertanian akan semakin baik. Berdasarkan pengamatan yang ditinjau dari aspek latar belakang sosial ekonomi masyarakat Dusun Bontobaddo Desa Tindang hampir 95% merupakan masyarakat yang bekerja sebagai petani atau buruh Pendapatan petani umumnya berada pada kisaran pendapatan rendah maupun menengah tergantung pada luas lahan yang dikelola dan jenis komoditas pertanian yang ditanam. Hal ini karena luas lahan menentukan tingkat ekonomi masyarakat, dimana semakin luas lahan yang dikelola, semakin tinggi pula hasil pertanian yang diperoleh. Sehingga semakin banyak penjualan terhadap hasil pertanian, maka akan semakin meningkatkan pendapatan bersih para wanita tani. Hal ini sejalan dengan (Alfrida & Noor, 2. yang menyatakan bahwa besarnya luas lahan yang dikelola oleh petani menentukan tingkat kesejahteraan keluarga petani hingga 75%. Fitriani R et al. juga melaporkan peningkatan sebesar 14,5% kontribusi pendapatan petani terhadap total pendapatan keluarga melalui pemanfaatan lahan dalam budidaya berbagai tanaman sayuran, seperti sawi, bayam, kangkung, pakcoy, selada, kacang panjang, dan lainnya. Faktor lain yang mempengaruhi pendapatan petani adalah jenis komoditas pertanian yang dibudidayakan. Beberapa komoditas yang sering ditanam oleh petani antara lain padi, jagung, semangka, cabai, terong, dan melon. Namun, komoditas pertanian yang paling banyak ditanam oleh petani Dusun Bontobaddo Desa Tindang adalah komoditas padi, jagung dan semangka. Namun, pada umumnya, komoditas hasil pertanian mengalami fluktuasi yang cukup tinggi sehingga pendapatan petani cenderung rendah. Hal ini disebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu yang menyebabkan hasil pertanian mengalami penurunan, sehingga terjadi fluktuasi yang cukup tinggi dalam berbagai komoditas tanaman yang dibudidayakan (Kusumah. Berbagai literatur menyebutkan bahwa wanita memiliki peran yang tidak hanya terpaku dalam mengurusi pekerjaan yang bersifat domestik dalam rumah tangga mereka, seperti halnya melakukan pekerjaan mencuci, memasak, mengurusi anak, melayani suami, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang ada pada rumah tangga wanita (Fitria, 2. Selain itu, wanita sering kali aktif dalam membantu pekerjaan yang dilakukan oleh suami mereka seperti halnya kegiatan pertanian. Beberapa kegiatan pertanian yang ada biasanya melibatkan wanita dalam proses pekerjaannya. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah kegiatan persiapan lahan, kegiatan penanaman, kegiatan pemupukan, kegiatan panen, dan kegiatan proses pasca Hasil serupa juga disebutkan oleh (Bhastoni & Yuliati, 2015. yang menjelaskan bahwa wanita tani banyak terlibat dalam kegiatan pembibitan, penanaman, penyulaman, penyiangan hingga sampai pada proses panen. Pendapatan Wanita Tani Keikutsertaan wanita bekerja dalam menambah perekonomian keluarga akan mempengaruhi pendapatan keluarga. Besarnya pendapatan wanita tani dalam penelitian ini dihitung dari pendapatan wanita tani yang melakukan pemanfaatan teknologi hidroponik dan pendapatan tambahan diluar pemanfaatan Seluruh responden dalam penelitian ini merupakan wanita tani rumah tangga yang membantu kegiatan usahatani dalam rumah tangganya. Pendapatan wanita tani dalam pemanfaatan teknologi hidroponik maupun di luar pemanfaatan teknologi hidroponik Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Pendapatan Wanita Tani Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa. No. Keterangan Pekerjaan Rata-Rata Pendapatan Bersih (Rp/Bula. Dalam Pemanfaatan Hidroponik Luar Pemanfaatan Hidroponik (Pedagang. Buruh. Tengkulak, dl. Total Pendapatan Sumber: Olahan Data Primer, 2024. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Nur Rahmah et al. Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Berdasarkan tabel diatas pendapatan wanita tani pada kegiatan pemanfaatan hidroponik rata-rata mendapatkan pendapatan bersih Rp 960. 278 per bulan, sedangkan pendapatan yang didapatkan wanita tani di luar pemanfaatan hidroponik yaitu Rp 958. 875 per bulan. Sehingga dalam sebulan untuk rata-rata pendapatan bersih yang didapatkan wanita tani di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa itu sebesar Rp 1. 153 per bulan. Jumlah pendapatan wanita tani dalam pemanfaatan hidroponik dan di luar pemanfaatan hidroponik tersebut hampi sama dalam penerimaannya. Ketika wanita tani terus mendorong pamanfaatan teknologi hidroponik sebagai penambah pendapatan akan terus mendapatkan hasil yang maksimal. Seperti pendapat dari (Basriwijaya, 2. bahwa wanita tani menganggap pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama mereka untuk menambah pendapatan keluarga mereka. Menurut (Ridwan et al. , 2. ada beberapa hal yang mempengaruhi besarnya tingkat pendapatan luar usahatani wanita tani diantaranya adalah motivasi internal wanita tani dalam pengelolaan usahatani rumah tangga petani hanya sebatas membantu meringankan pekerjaan kepala keluarga. Hasil penelitian dari (Prihtanti & Kristianingsih, 2. mengenai Dampak Multi Peran dan Pekerjaan Wanita Tani menyebutkan bahwa motivasi internal yang paling banyak diungkapkan oleh wanita tani yang memilih bekerja di sektor pertanian sebagai pekerjaan utama adalah membantu suami, sedangkan motivasi internal yang banyak diungkapkan wanita tani sektor non pertanian adalah menambah penghasilan. Alasan lain selain yang disebutkan di atas adalah karena sebagian wanita tani merupakan wanita tani yang aktif dalam kegiatan pertanian di lokasi penelitian, sebagian besar merupakan istri yang membantu suami mereka dalam kegiatan Sedangkan sebagian kecil lainnya adalah wanita yang tidak memiliki suami dan janda yang bekerja sebagai buruh dalam bidang pertanian. Pada bidang pertanian perempuan memiliki peran penting sebagai tenaga kerja, baik itu pada penyediaan sarana pertanian, budidaya tanaman dan ternak, pengolahan dan pascapanen, hingga pemasaran hasil pertanian (Yuwono, 2. Pendapatan Keluarga Total pendapatan keluarga wanita tani adalah seluruh perolehan yang diterima dari pendapatan utama, tambahan dan total penghasilan seluruh anggota keluarga (Faisal & Prasekti, 2. Total Pendapatan Keluarga Wanita Tani di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa ditunjukkan pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel 2. Total Pendapatan Keluarga Wanita Tani Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan, kabupaten Gowa, 2024. Keterangan Istri Jumlah Pendapatan Keseluruhan Responden Rata-Rata Persentase (%) 14,14% Sumber: Olahan Data Primer, 2024. Usaha Lain Suami Anak Jumlah 14,11% 34,44% 17,10% Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah rata-rata pendapatan keluarga dari seluruh responden yang telah diteliti. Pendapatan yang paling tinggi adalah pendapatan suami yaitu sebesar 34,44%, selanjutnya pendapatan anak yaitu 17,10%, dan pendapatan wanita tani dalam pemanfaatan teknologi hidroponik yaitu sebesar 14,14%, kemudian pendapatan wanita tani di luar pemanfaatan teknologi hidroponik yaitu sebesar 14,11%. Jika di totalkan antara pendapatan istri dan usaha lain yang dilakukan istri, maka persentase yang didapatkan pendapatan oleh istri yaitu 28,25%. Dari total seluruh keluarga memperoleh pendapatan setiap bulan rata-rata sebesar Rp 6. 356/bulan. Meskipun persentase pendapatan wanita lebih kecil daripada pendapatan kepala rumah tangga, akan tetapi wanita juga mempunyai value yang tidak dibayar disamping menjadi ibu rumah tangga seperti mencuci, memasak , membersihkan rumah serta mengurus anak dan keluarga. Artinya, dengan kontribusi 28,25% terhadap pendapatan rumah tangga tiap bulannya memberikan tambahan pendapatan yang dapat menunjang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun dari hasil perhitungan kontribusi pendapatan wanita tani sebesar 27,98% atau tergolong kecil akan tetapi melihat jumlah total pendapatan sebesar Rp Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Nur Rahmah et al. 153 per bulan . apat dilihat pada Tabel . , pendapatan tersebut sudah sangat berpengaruh pada pendapatan keluarga. Maka dari pendapatan wanita tani diharapkan tetap bekerja untuk membantu menambah pendapatan rumah tangga. Penelitian yang dilakukan oleh (Sopamena & Pattiselanno, 2. yang menunjukkan bahwa pendapatan tenaga kerja dari wanita berkontribusi sebesar 20-30% terhadap pendapatan rumah tangga. Hasil Penelitian (Fauzan et al. , 2. juga menunjukkan bahwa hasil pendapatan wanita yang bekerja sebagai buruh petik melati gambir yang mampu memberikan kontribusi sebesar 25,58% terhadap total pendapatan rumah tangga. Menurut (Hikmah et al. , 2. semakin besar pendapatan wanita maka semakin besar kontribusinya terhadap pendapatan total rumah tangga. Kontribusi wanita petani dalam kegiatan pertanian disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor keadaan daerah tempat tinggal wanita tani, faktor ekonomi, dan faktor kebiasaan yang dilakukan oleh wanita tani mengikuti orang tua atau melanjutkan warisan orang tua mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yani & Indrayani, 2. yang mengatakan bahwa wanita tani terlibat dalam pertanian disebabkan empat alasan utama yaitu karena faktor geografis, karena desakan ekonomi, karena faktor kebiasaan, dan faktor tingkat Pendidikan. Faktor keadaan tempat tinggal wanita tani di Desa Tindang, yang dikelilingi oleh areal persawahan, menjelaskan mengapa banyak wanita tani di sana berkontribusi dalam kegiatan pertanian. Faktor ekonomi merupakan alasan kedua yang menyebabkan wanita tani aktif dalam kegiatan pertanian. Faktor ekonomi ini memiliki tiga penyebab utama: pertama, suami mereka memiliki sawah tetapi tidak memiliki modal yang cukup untuk menyewa buruh, sehingga wanita tani atau istri petani ikut membantu meringankan pekerjaan suami mereka. Keterlibatan wanita dalam pekerjaan pertanian cukup berkontribusi dengan baik. Pekerjaan yang membutuhkan waktu beberapa hari jika dilakukan sendiri tentunya akan diselesaikan lebih cepat karena adanya keterlibatan wanita tani. Selain itu, hal ini juga akan memangkas pengeluaran yang biasanya digunakan untuk upah buruh tani. Alasan yang kedua adalah karena wanita tani yang tidak memiliki suami dan tidak memiliki lahan, atau memiliki suami namun tidak memiliki lahan yang cukup luas. Hal ini menjadi alasan wanita tani bekerja dalam kegiatan pertanian sebagai buruh tani, baik dalam proses penanaman hingga proses panen, terutama pada komoditas seperti padi, jagung, semangka, cabai, dan lainnya. Alasan ketiga adalah karena dengan kolaborasi antara wanita tani dan suami mereka sudah dianggap cukup untuk melakukan pekerjaan di sawah yang mereka kelola. Sehingga tidak memerlukan lagi bantuan atau tenaga kerja dari luar seperti buruh. Selain itu, faktor keluarga yang berada dalam lingkup rumah tangga wanita tani biasanya melibatkan anggota keluarga mereka dalam kegiatan pertanian, sehingga kerja sama dalam keluarga menjadi faktor penting dalam kelancaran kegiatan pertanian yang dilakukan. Persepsi Wanita Tani pada Budidaya Hidroponik Persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan,penciuman, perasaan dan penghayatan (Simbolon, 2. Menurut pendapat lain (Mulyani & Hendris, 2. , pandangan wanita tani . terhadap penggunaan suatu teknologi adalah opini atau penilaian mereka tentang manfaat yang didapat dari penerapan teknologi tersebut. Persepsi diartikan sebagai proses di mana seseorang mengamati lingkungannya melalui indra-indra yang dimilikinya, sehingga menjadi sadar akan segala sesuatu yang ada di sekitarnya (Nurhasanah et al. , 2. Persepsi wanita tani terhadap budidaya hidroponik di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan, kabupaten Gowa masih tergolong cukup rendah. Berdasarkan data yang diperoleh, hampir 90% dari mereka belum memahami budidaya pertanian berbasis hidroponik. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya penyuluhan atau edukasi tentang metode pertanian modern ini di kalangan wanita tani setempat. Budidaya hidroponik sendiri merupakan teknik bercocok tanam tanpa menggunakan tanah, yang bisa menjadi solusi bagi lahan pertanian yang semakin terbatas (Roidah, 2. Hal ini sejalan dengan Rafika . yang mengatakan bahwa sistem hidroponik untuk pemanfaatan pekarangan dinilai perlu untuk dilakukan sebagai penerapan dari urban farming. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih baik mengenai hidroponik sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut. Selain itu, pemahaman wanita tani terhadap sayuran hidroponik juga tergolong rendah. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sekitar 90% dari mereka belum familiar dengan jenis-jenis sayuran yang Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Nur Rahmah et al. Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 dibudidayakan secara hidroponik. Sayuran-sayuran seperti selada, pakcoy, kale, dan lainnya masih asing bagi sebagian besar wanita tani di Desa Tindang. Padahal, tren saat ini menunjukkan peningkatan kebutuhan sayuran organik sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dengan mengonsumsi sayuran organik, selain itu sayuran hidroponik memiliki banyak manfaat seperti kandungan nutrisi yang tinggi dan proses pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan sayuran yang ditanam secara konvensional. Untuk itu, diperlukan upaya lebih lanjut dalam memberikan informasi dan pelatihan mengenai manfaat dan teknik budidaya sayuran hidroponik kepada para wanita tani. Pentingnya meningkatkan pemahaman dan keterampilan wanita tani dalam budidaya hidroponik tidak hanya untuk kesejahteraan mereka sendiri tetapi juga untuk keberlanjutan pertanian di daerah tersebut. Pelatihan dan penyuluhan yang terstruktur dapat membantu mereka mengadopsi teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, dengan memahami dan mengaplikasikan teknik hidroponik, para wanita tani bisa menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan mereka dan mendukung perekonomian lokal. Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas tani sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan ini. Kontribusi Pendapatan Wanita Tani Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Kontribusi pendapatan wanita tani (Ibu rumah tangg. merupakan sumbangan pendapatan yang diberikan oleh wanita tani (Ibu rumah tangg. terhadap pendapatan rumah tangga, semakin kecil pendapatan suami, maka kontribusi wanita tani akan semakin besar, karena akan mendorong wanita tani untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga (Ainum et al. , 2. Kontribusi wanita tani bergantung pada jumlah pendapatan yang mereka dapatkan serta berapa banyak yang bisa di jual dari pemanfaatan teknologi Pendapatan rumah tangga merupakan pendapatan yang diterima oleh tenaga kerja wanita tani . ditambah dengan pendapatan yang diperoleh suami. Pendapatan rumah tangga yang terdiri dari pendapatan wanita dan pendapatan anggota rumah tangga serta persentase kontribusi pendapatan wanita tani terhadap pendapatan rumah tangganya. Besarnya kontribusi wanita tani dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3. No. Kontribusi Pendapatan Wanita Tani Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa, 2024. Keterangan Rata-rata pendapatan wanita tani pertahun (Dalam dan Luar Budidaya Hidroponi. Rata-rata pendapatan suami dan anak pertahun Rata-rata Pendapatan Keluarga . Kontribusi pendapatan wanita tani . /2x100%) Sumber: Olahan Data Primer, 2024. Desa Tindang 0,39 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan wanita tani per tahun yaitu Rp 1. Kontribusi pendapatan wanita tani ini dihasilkan dari pemanfaatan teknologi hidroponik memiliki kontribusi 0,39% terhadap pendapatan rumah tangganya. Kontribusi tersebut rendah dibandingkan dengan kontribusi pendapatan dari suami dan anak, seperti penelitian yang dilakukan oleh (Ridwan et al. mengenai curahan tenaga kerja dan kontribusi wanita tani Kabupaten Bojonegoro, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kontribusi wanita tani terhadap pendapatan keluarga hanya 7,6% dan kontribusi pendapatan suami 92,40%. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan wanita tani hanya sebatas membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tanganya. Kontribusi wanita tani dalam kegiatan pertanian terbukti cukup aktif. Sebagian kecil wanita tani yang aktif dalam pertanian di Desa Tindang bekerja sebagai buruh pertanian. Pendapatan yang diperoleh yang diperoleh dari hasil kerja mereka Rp 1. 153 per bulan, baik dalam pekerjaan penanaman padi, jagung, semangka, maupun dalam pekerjaan memanen jagung. Kondisi ini menjadi salah satu indikator kesejahteraan mereka yang masih perlu perhatian. Selain itu, pendapatan wanita tani dipengaruhi oleh musim tanam komoditas pertanian. Biasanya, penanaman dan panen memiliki jeda waktu antara satu hingga dua bulan, sehingga kegiatan buruh tani tidak dilakukan setiap bulan. Akibatnya, ada periode waktu di mana Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Nur Rahmah et al. mereka tidak mendapatkan penghasilan, sehingga kontribusi mereka dalam rumah tangga masih tergolong Pekerjaan buruh tani wanita saat ini semakin terbatas akibat dari kemajuan teknologi pertanian yang Dengan masuknya teknologi pertanian yang canggih, beberapa pekerjaan menjadi lebih mudah dan cepat dengan mengandalkan mesin. Akibatnya, pekerjaan buruh tani, khususnya buruh wanita tani, tergantikan oleh mesin. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Sari, 2. bahwa kemunculan alat dan mesin pertanian menimbulkan dampak positif dan negatif bagi pekerjaan buruh tani, sehingga buruh tani terancam kehilangan pekerjaan mereka. Menurut penelitian (Amheka et al. , 2. , rata-rata pendapatan wanita tani yang mereka teliti cukup rendah, dengan rata-rata pendapatan kurang dari 50% dari pendapatan standar yang diharapkan. Penelitian ini menyoroti bahwa rendahnya pendapatan wanita tani disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk rendahnya upah harian, ketidakpastian pekerjaan musiman, dan kurangnya akses ke sumber daya pertanian yang memadai. Oleh karena itu, pendapatan mereka dikategorikan sebagai cukup rendah. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan wanita tani, seperti penyediaan pelatihan keterampilan, akses ke modal usaha, dan peningkatan infrastruktur KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Wanita tani di Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa memiliki kontribusi yang masih sangat kecil terhadap pendapatan rumah tangga dari pemanfaatan teknologi Rata-rata pendapatan wanita tani dalam kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 27,89%. Sebagian besar wanita tani aktif dan produktif dalam rentang usia 27-61 tahun, namun pendapatan yang mereka peroleh cenderung rendah, terutama bagi mereka yang bekerja sebagai buruh tani. Dari pendapatan dari sumber selain pemanfaatan teknologi hidroponik menambah pendapatan wanita tani sebesar 14,11%. Kontribusi wanita tani dalam nafkah rumah tangga menjadi penting mengingat sebagian besar masyarakat di daerah tersebut bergantung pada pertanian sebagai sumber penghasilan utama. Namun, terdapat tantangan dalam meningkatkan pemahaman dan penerapan budidaya hidroponik di kalangan wanita tani, di mana sebagian besar dari mereka belum memahami atau akrab dengan konsep tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut dalam memberikan edukasi, pelatihan, dan penyuluhan tentang teknologi pertanian modern ini agar para wanita tani dapat mengoptimalkan potensi mereka dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana penelitian melalui DIPA Universitas Negeri Makassar. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Gowa, khususnya Desa Tindang. Kecamatan Bontonompo Selatan. Kabupaten Gowa yang telah mengizinkan untuk melakukan penelitian di daerah tersebut. Terima kasih kepada para wanita tani di Desa Tindang yang telah telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA