ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 HUBUNGAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF DENGAN JUMLAH GIGI SUSU BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOTANIA KOTA BATAM Ibrahim1. Sarita Miguna2,Nadya Hanifa3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, ibrahim@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, saritamiguna@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, hanifahnadya08@gmail. ABSTRACT Background: The incidence of delayed growth and development of bones and teeth, as well as abnormalities in bone and teeth among the Indonesian population, is quite high. The growth of baby teeth provides an indication of infant nutrition, as sufficient nutrition influences the acceleration of baby teeth growth. Thus, essential nutrients for overall metabolism, foods with high-quality protein and calcium concentration, have a linear relationship with the growth and development of bones and teeth. Methods: : The study employed an analytical observational research design with a crosectional approach. The population consisted of 486 infants aged 6-12 months from the Botania Community Health Center. Sample selection utilized Simple Random Sampling with a minimum total sample of 78. Data were analyzed using the Chi-Square Test. Results: There was a significant relationship between Exclusive Breastfeeding and the Number of Baby Teeth Aged 6-12 Months at the Botania Community Health Center, with a obtained p-value of 0. 024 < 0. Conclusion: Based on the research findings, it is concluded that there is a significant relationship between the Number of Baby Teeth Aged 6-12 Months in the working area of Botania Community Health Center. Batam City, in 2023, with a p-value of 0. Keywords: Exclusive Breastfeeding. Infants aged 6-12 months. Baby Teeth ABSTRAK Latar Belakang: Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan tulang dan gigi serta kelainan tulang dan gigi penduduk Indonesia cukup tinggi. Pertumbuhan gigi susu menunjukkan suatu gambaran gizi bayi karena jika nutrisi nya cukup maka akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan gigi bayi, sehingga kandungan nutrisi penting untuk seluruh metabolisme didalam tubuh, makanan dengan kualitas dan konsentrasi protein dan kalsium yang tinggi mempunyai hubungan linier dengan pertumbuhan dan perkembangan tulang dan gigi. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan desain penelitian observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu 486 Bayi usia 6-12 bulan Puskesmas Botania. Penentuan sample menggunakan Simple random sampling dengan total sampel minimal sebanyak 78 sampel. Data di analisis dengan menggunakan Chi-Square Test. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara ASI Eksklusif dengan Jumlah Gigi Susu Pada Bayi Usia 6-12 Bulan di Puskesmas Botania dengan didapatkan nilai P=0. 024 < 0. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat terdapat hubungan yang bermakna antara Jumlah Gigi Susu Bayi Usia 6-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Botania Kota Batam Tahun 2023 dengan didapatkan p-value sebesar 0,024. Kata kunci: Asi Ekslusif. Bayi Usia 6-12 Bulan. Gigi Susu Universitas Batam Batam Batam Page 126 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 PENDAHULUAN Keterlambatan berhubungan dengan faktor nutrisi tidak adekuat yang merupakan faktor berpengaruh pada erupsi gigi. Pada anak yang waktu erupsi giginya lebih lambat diketahui bahwa mereka mengandung protein seperti susu, telur, ikan dan daging. Jumlah gigi susu mendapatkan perhatian yang cukup besar bagi orang tua terutama orang tua baru, seringkali mereka berpendapat apabila gigi anaknya belum tumbuh pada saat yang seharusnya itu perkembangan anaknya. Padahal waktu erupsi gigi pada setiap anak sangat bervariasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari American Academy of Pediatrics pada Tahun 2021. Prevalensi pertumbuhan gigi susu bayi berdasarkan usia menunjukkan bahwa sebagian besar bayi akan mulai tumbuh gigi seri atas dan bawah pada usia 6-12 bulan, gigi seri samping dan premolar pada usia 12-18 bulan, gigi seri samping dan premolar terus tumbuh pada usia 18-24 bulan, gigi geraham belakang . olar pertam. pada usia 2-3 tahun, dan gigi geraham belakang . olar kedu. pada usia 3-6 tahun. Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau pada Tahun 2021. Persentase Bayi Usia > 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif sebesar 63,2% dan capaian kinerja sebesar 134,5%. Menurut profil kesehatan kota batam pada Tahun 2018, capaian Air Susu Ibu Eksklusif di kota batam terjadi peningkatan dari 40% pada Tahun 2016 menjadi 47% pada Tahun 2017 namun masih sangat rendah bila dibanding dengan target nasional yang ingin dicapai . %). (Profil Kesehatan Kota Batam, 2. Air Susu Ibu Eksklusif adalah yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 . bulan, tanpa menambahkan dan/ atau mengganti dengan makanan atau minuman lain (PP RI No. 33 th 2. Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. United Nation Children Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan sebaiknya anak disusui hanya Air Susu Ibu selama paling sedikit enam Makanan padat seharusnya diberikan sesudah anak berumur 6 bulan, dan pemberian Air Susu Ibu dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun (WHO,2. Universitas Batam Batam Batam Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif untuk enam bulan pertama setelah kelahiran berkontribusi secara signifikan terhadap pembangunan kekebalan tubuh bayi yang kuat dan optimal, sehingga dapat mencegah infeksi yang masuk pada tubuh bayi dan mencegah terjadinya kematian bayi. Bayi yang mendapatkan Air Susu Ibu Ekslusif umumnya akan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat pada usia 2-3 bulan karena Air Susu Ibu Ekslusif mendukung pertumbuhan bayi selama 6 bulan pertama sehingga status gizi mencapai Selain itu dengan memberikan Air Susu Ibu secara Ekslusif kepada anak, akan menjamin tercapainya pengembangan potensi kecerdasan anak secara optimal. Pertumbuhan gigi adalah pergerakan atau proses munculnya gigi ke arah rongga mulut yang dimulai sejak gigi berada di dalam tulang alveolar dan merupakan proses yang bervariasi pada setiap anak. Pertumubuhan gigi susu mulai berlangsung pada anak usia 6 bulan dan diawali dengan gigi susu insisivus sentral pada mandibulanya (Lantu & Virginia . Proses pembentukan benih gigi mulai terbentuk dari 4 bulan usia kandungan dan semua benih gigi susu sudah berkembang pada usia 6 bulan pada kandungan. Namun tumbuhnya gigi ketika bayi lahir sangat mempengaruhi tumbuhnnya gigi menurut penelitian Almonaitiene terdapat beberapa faktor yaitu faktor genetik, jenis kelamin, status gizi, sosial ekonomi dan hormonal, menurut penelitian Casamassimo waktu erupsi gigi desidui diawali dengan munculnya gigi insisivus sentral mandibula pada usia 6 bulan dan tumbuhnya gigi susu umumnya lengkap saat anak berusia 3 tahun (Noorharsanti. Tumbuhnya gigi yang terjadi di dalam mulut mengalami urutan waktu erupsi yang berbeda pada setiap jenis gigi, diawali dengan fase gigi susu hingga digantikan dengan fase gigi permanen, sehingga menyebabkan adanya variasi waktu dan urutan munculnya kedua jenis gigi tersebut. Pertumbuhan dan perkembangan gigi dan mulut dipengaruhi zat gizi, baik secara sistemik maupun secara lokal. Pada tahap dini pertumbuhan gigi dipengaruhi oleh sejumlah faktor yaitu Ca. F, dan vitamin dalam diet. Pada penelitian Boejamin tahun 1999 menyebutkan waktu tumbuhnya gigi susu pada bayi yang mendapatkan ASI ekslusif lebih cepat jika dibandingkan dengan Page 127 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 bayi yang mendapatkan PASI (Pengganti Air Susu Ib. (Prayogo, 2. Nutrisi yang cukup memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi sesuai usia, bentuk pertumbuhan bayi usia 6-12 bulan salah satunya adalah pertumbuhan gigi. Serta proses menyusui membuat otot-otot rahang dan wajah berperan ketika bayi menghisap puting ibu yang dapat merangsang pertumbuhan gigi. Demikian bayi yang mendapat Air Susu Ibu secara Eksklusif akan mengalami lebih cepat tumbuh gigi dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula ( Ade Benih, 2. Penelitian oleh Avilia Chandrawita . , tentang Hubungan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif dengan Tumbuhnya Gigi Sulung Pada Bayi Usia 6-36 Bulan di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam. Hasil penelitian menunjukan Sebagian besar anakanak usia 6-36 bulan diberi Air Susu Ibu Ekslusif dan terdapat terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian Air Susu Ibu Ekslusif dengan erupsi gigi desidui pada anak usia 6-36 bulan di Posyandu wilayah kerja Puskesms Tanah Garam Kota Solok dengan nilai p = 0. Serta dipertegas dengan hasil penelitian Naomi dkk . , tentang hubungan pemberian Air Susu Ibu Eksklusif dengan kesehatan mulut dan pertumbuhan gigi pada bayi 6-12 bulan di desa Waru Jawa Timur. Hasil uji chi square di dapatkan nilai p-value = 0,00 < alpha . Menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian Air Susu Ibu Eksklusif dengan kesehatan mulut dan pertumbuhan gigi. Berdasarkan latar belakang dan penelitian terdahulu yang ada diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Air Susu Ibu Eksklusif Dengan Jumlah Gigi Susu pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Botania Kota Batam Tahun METODE PENELITIAN Desain penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Data menggunkan data primer berupa kuisioner. Populasi pada penelitian ini adalah Bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Botania dengan total populasi sebanyak 352 bayi. Total sampel yang digunakan sebanyak 78. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Universitas Batam Batam Batam HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Karakterisik Bayi Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Bayi Frekuensi Persentase Karakteristik . (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 6 Bulan 7 Bulan 8 Bulan 9 Bulan 10 Bulan 11 Bulan 12 Bulan Total Berdasarkan hasil penelitian terhadap 78 responden, didapatkan bahwa 36 responden . 2%) adalah bayi Laki-laki dan 43 responden . 8%) adalah bayi perempuan. Berdasarkan usia didapatkan Sebagian besar berusia 8-11 Bulan. Karakterisik Ibu Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakterisik Ibu Frekuensi Persentase Karakteristik (%) Usia (Tahu. Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pendidikan Ibu SMP SMA Pendapatan Keluarga Kurang Cukup Sangat Cukup Total Berdasarkan hasil penelitian terhadap 78 responden, di dapatkan bahwa usia ibu pada Page 128 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 rentang 20-30 tahun sebanyak 52 . 9%), usia ibu pada rentang 21-40 tahun sebanyak 23 . 5%), usia ibu pada rentang 41-50 tahun sebanyak 2 . 6%). Berdasarkan pekerjaan ibu didapatkan ibu yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 66 responden . 6%), ibu yang bekerja sebagai Wiraswasta sebanyak 9 responden . 5%), ibu yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 3 responden . 8%). Berdasarkan Pendidikan terakhir SD didapatkan sebanyak 3 respnden . 8%). Pendidikan terakhir SMP didapatkan sebanyak 4 respnden . 1%), Pendidikan terakhir SMA didapatkan sebanyak 50 respnden . 1%). Pendidikan terakhir D3 didapatkan sebanyak 4 respnden . 1%), dan Pendidikan terakhir S1 didapatkan sebanyak . 8%). Berdasarkan Pendapatkan Keluarga kategori kurang sebanyak 2 . 6%), kategori cukup sebanyak 61 . 2%), dan kategori sangat cukup sebanyak 15 . 2%). Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif Air Susu Ibu Frekuensi Persentase Eksklusif . (%) ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Total Berdasarkan hasil analisis data pada uji statistik yang dilakukan pada 78 resopnden di wilayah kerja Puskesmas Botania Batam seperti yang dapat dilihat pada tabel 3, dapat dijelaskan bahwa sebagian besar bayi diberikan ASI Eksklusif atau tanpa makanan tambahan (MPASI) yaitu sebanyak 52 bayi . 7%), dibandingkan bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif yaitu sebanyak 26 bayi . 3%). Pemberian ASI Eksklusif merupakan pemberian ASI saja pada bayi 0-6 bulan tanpa pemberian tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, papaya, bubur susu, biskuit, dan nasi tim (Haryono Menurut Kementrian Kesehatan Indonesia, 2022. ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain kecuali obat. Universitas Batam Batam Batam Setelah 6 bulan ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan mineral seperti zat besi, seng sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus diberikan MP ASI . akanan pendamping ASI ) yang kaya zat besi. Bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, dan bayi yang memiliki kelainan hematologi tidak memiliki cadangan besi adekuat pada saat lahir umumnya membutuhkan suplementasi besi sebelum usia 6 bulan, yang dapat diberikan bersama dengan ASI eksklusif (Haryono dan Setianingsih, 2. Pemerintah Indonesia melalui peraturan pemerintah No 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Esklusif telah menetapkan pemberian ASI Esklusif selama 6 bulan pada ibu di Indonesia dan target capaian ASI eksklusif di Indonesia adalah 100% (Kemenkes RI, 2. ASI memenuhi 100% kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan, sedangkan pada usia 6-12 bulan hanya memenuhi 60% kebutuhan, sehingga perlu adanya makanan pendamping ASI. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. UNICEF dan WHO merekomendasikan sebaiknya anak disusui selama paling sedikit 6 bulan. Makanan padat diberikan sesudah anak umur 6 bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai 2 Tahun (WHO, 2. Keberhasilan ASI eksklusif dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif, aktivitas ibu yang menghambat pemberian ASI eksklusif, dukungan keluarga serta dukungan tenaga kesehatan. Berdasarkan Karakteristik Responden pada tabel 2, pada usia ibu didapatkan sebagian besar ibu berada pada rentang usia 20-30 Tahun yaitu sebanyak 52 responden . 9%). Usia ini merupakan usia yang ideal untuk memproduksi ASI yang optimal dan kematangan jasmani dan rohani dalam diri ibu sudah terbentuk (Hidajati, 2. Kurun waktu reproduksi yang sehat antara 20-30 Tahun sangat kecil. Menurut teori Nursalam . menyatakan bahwa semakin cukup umur maka seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Menurut Arifiati . Pemberian ASI kepada anak tergantung dari ketersediaan ASI yang melimpah. Ibu yang memiliki ASI cukup dan melimpah akan lebih memilih memberikan ASI kepada bayinya daripada susu formula. Page 129 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 Berdasarkan Karakteristik Responden pada tabel 2, pada pekerjaan ibu didapatkan sebagian besar ibu status pekerjaanya adalah sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 66 responden . 6%). Dalam penelitian (Timporok, 2. pemberian ASI dipengaruhi oleh pekerjaan ibu. Jika ibu bekerja maka besar kemungkinan ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya, dan apabila status pekerjaan ibu tidak bekerja maka besar kemungkinan ibu dapat memberikan ASI eksklusifnya. Karena kebanyakan ibu bekerja, waktu merawat bayinya lebih sedikit, sehingga memungkinkan ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada Sebenarnya apabila ibu bekerja masih bisa memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan cara memompa atau dengan memerah ASI, kemudian disimpan dan diberikan pada bayinya nanti. Kebanyakan ibu yang bekerja tidak memberikan ASI esklusif pada bayinya. Berdasarkan Karakteristik Responden pada tabel 2, pada riwayat pendidikan ibu. Didapatkan berepndidikan SMA sebanyak 50 responden . 1%). Semakin baik pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif maka ibu tersebut akan memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya (Rotinsulu dkk, 2. Selain itu dalam penelitian Okawary . , menyebutkan bahwa semakin tinggi pendidikan ibu semakin banyak ibu yang memberikan ASI Eksklusif hal ini dikarenakan ibu yang berpendidikan tinggi memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi terhadap tumbuh kembang bayinya. Dukungan keluarga juga merupakan faktor pendorong ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Berdasarkan Karakteristik Responden pada tabel 2, pada pendapatan keluarga berpenghasilan Cukup dan hanya sedikit yang Pada kelompok yang memiliki ekonomi rendah mempunyai peluang lebih besar untuk memberikan ASI Eksklusif karena susu formula yang mahal menyebabkan hampir sebagian besar pendapatan keluarga hanya untuk membeli susu sehingga tidak mencukupi kebutuhan yang lain dibanding dengan ibu Bertambahnya pendapatan keluarga atau status sosial ekonomi yang tinggi atau lapangan pekerjaan bagi perempuan, membuat orangtua berpikir Universitas Batam Batam Batam untuk mengganti ASI mereka dengan susu formula (Luh Mertasari, 2. Distribusi Frekuensi berdasarkan Jumlah Gigi Susu Tabel 4. Distribusi Frekuensi Jumlah Gigi Susu Jumlah Gigi Susu Frekuensi Persentase Sesuai Usia . (%) Sesuai Tidak Sesuai Total Berdasarkan hasil analisis data pada uji statistik yang dilakukan pada 78 resopnden di wilayah kerja Puskesmas Botania Batam seperti yang dapat dilihat pada tabel 4, dapat dijelaskan bahwa sebagian besar jumlah gigi susu bayi sesuai dengan usianya yaitu sebanyak 44 bayi . 4%) dan jumlah gigi susu bayi yang tidak sesuai usianya didapatkan sebanyak 34 bayi . 6%). Menurut American Academy Pediatrics (AAP) Tahun 2021, pertumbuhan jumlah gigi susu pada bayi dapat diamati berdasarkan usia mereka. Pada usia 0-6 bulan, sebagian besar bayi belum memiliki gigi, yang merupakan periode di mana gigi susu belum Pada usia 6-12 bulan, sebagian besar bayi mulai mengalami pertumbuhan gigi pertama, yang umumnya dimulai dengan munculnya gigi seri bawah tengah, sering diikuti oleh gigi seri atas tengah. Pada akhir periode ini, yaitu sekitar usia 12 bulan, sebagian besar bayi diharapkan memiliki dua gigi seri atas dan dua gigi seri bawah, sehingga total jumlah gigi susu pada bayi mencapai empat buah. Faktor yang dapat mempengaruhi percepatan pertumbuhan jumlah gigi susu menurut American Academy of Pediatric Dentistry . , pertumbuhan jumlah gigi susu pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk faktor genetik, nutrisi, kesehatan gusi, dan perkembangan individu. Faktor genetik memainkan peran penting dalam pola pertumbuhan gigi susu yang diturunkan dari orang tua. Asupan nutrisi yang baik dan seimbang, terutama vitamin D, kalsium, dan fosfor, juga diperlukan untuk pertumbuhan gigi susu yang sehat. Kesehatan gusi yang baik merupakan faktor penting, karena infeksi atau masalah Page 130 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 perkembangan gigi susu dan menyebabkan gangguan pertumbuhan. Selain itu, setiap anak memiliki pola pertumbuhan gigi yang unik, dipengaruhi oleh suhu tubuh, tingkat hormon, dan kecepatan perkembangan individu. Beberapa percepatan pertumbuhan gigi susu, sementara Analisis Bivariat Hubungan Air Susu Ibu Eksklusif Terhadap Jumlah Gigi Susu Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di Puskesmas Botania Kota Batam Tabel 5. Hubungan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif Terhadap Jumlah Gigi Susu Jumlah Gigi Susu ASI Eksklusif Sesuai Usia Bayi Tidak Sesuai Usia Bayi Total ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Total Dari hasil penelitian yang dilakukan pada penelitian ini dapat dijelaskan bahwa pola pemberian ASI eksklusif dan jumlah gigi yang sesuai dengan usia pada bayi. Dari total responden, sebanyak 65. 4% dari bayi yang diberi ASI eksklusif memiliki jumlah gigi yang sesuai dengan perkembangan usia mereka, sedangkan 34. 6% dari bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tidak memiliki jumlah gigi yang sesuai usia mereka. Pola ASI berkorelasi dengan kondisi gigi pada bayi. Sebanyak 38. 5% dari bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki jumlah gigi yang sesuai dengan usia mereka, 5% dari bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif tidak memiliki jumlah gigi yang sesuai usia mereka. Pada hasil pengujian statistik menggunakan metode uji Chi-Square diperoleh angka signifikansi pvalue 0. 024, karena p-value lebih kecil daripada 0,05 maka keputusan uji adalah H0 ditolak, sehingga disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna ASI Eksklusif Terhadap Jumlah Gigi Susu Pada Bayi Usia 612 Bulan Di Puskesmas Botania Batam. Bayi yang mendapat ASI eksklusif cenderung memiliki jumlah gigi susu yang sesuai dengan waktu perkembangan normal, sementara responden yang diberi ASI noneksklusif memiliki rata-rata jumlah gigi susu Universitas Batam Batam Batam P-Value . yang terlambat. Hal ini disebabkan oleh mengoptimalkan pertumbuhan bayi, karena proses pencernaan susu formula dengan konsentrasi tertentu mungkin tidak sesuai dengan kemampuan saluran pencernaan bayi untuk menyerap nutrisi secara efektif. Akibatnya, bayi yang menerima ASI noneksklusif mungkin mengalami defisiensi gizi, yang pada gilirannya dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan gigi. Kemudian pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif berkaitan dengan erupsi gigi susu yang tepat waktu pada anak usia 6-12 bulan. Anak yang mengalami keterlambatan erupsi gigi meskipun mendapatkan ASI eksklusif, dan sebaliknya, anak yang mendapatkan ASI non-eksklusif tetapi memiliki erupsi gigi sesuai dengan waktu perkembangan normal, menunjukkan bahwa faktor-faktor selain jenis pemberian ASI juga memengaruhi proses erupsi gigi pada anak. Beberapa faktor lain yang dapat berperan dalam pengaruh erupsi gigi meliputi faktor genetik yang memainkan peran penting dalam perkembangan gigi susu pada anak. Pola pertumbuhan gigi susu dapat dipengaruhi oleh faktor genetik yang diturunkan dari orang tua. Asupan nutrisi yang baik dan seimbang juga penting untuk pertumbuhan gigi susu yang sehat pada anak. Kekurangan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin D, kalsium. Page 131 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 dan fosfor, dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi pada anak, kelahiran prematur, status gizi, faktor RAS . etained deciduous anterior supernumerary teet. , dan kondisi sistemik dari anak tersebut. Artinya, keterlambatan atau ketepatan erupsi gigi pada anak tidak semata-mata bergantung pada apakah mereka menerima ASI eksklusif atau tidak. Faktor-faktor seperti warisan genetik, kelahiran prematur, keadaan gizi, kondisi gigi supernumerary yang tertahan, dan kondisi sistemik anak dapat turut berperan dalam memengaruhi waktu erupsi Oleh karena itu, penilaian terhadap perkembangan gigi pada anak sebaiknya mempertimbangkan berbagai faktor tersebut untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif (Avillia Chandrawita, 2. Penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya oleh Windiyati . , yang menunjukkan bahwa bayi yang diberikan ASI eksklusif cenderung mengalami erupsi gigi lebih cepat dibandingkan dengan bayi yang menerima susu formula. Implikasinya, pemberian ASI eksklusif dapat memiliki dampak positif pada kesehatan gigi anak, memberikan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan gigi sesuai dengan tahapan perkembangan usia. Penelitian ini juga sejalan dengan temuan sebelumnya oleh Kuswardani . , yang menunjukkan bahwa Sebagian besar anakanak usia 6-36 bulan diberi ASI Eksklusi dan terdapat terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI ekslusif dengan erupsi gigi desidui pada anak usia 6-36 bulan di Posyandu wilayah kerja Puskesms Tanah Garam Kota Solok dengan nilai p = 0,001 KESIMPULAN Berdasarkan penelitian di Puskesmas Botania Kota Batam tahun 2023, ditemukan bahwa sebagian besar responden . memberikan ASI eksklusif kepada bayi mereka, dan sebagian besar bayi . memiliki jumlah gigi susu yang sesuai dengan usia mereka. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan jumlah gigi susu bayi usia 6-12 bulan, dengan p-value sebesar 0,024. SARAN Bagi peneliti lain, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi jumlah gigi susu bayi usia 6-12 bulan seperti faktor sosioekonomi, faktor sosial, dan faktor budaya. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada lahan penelitian yaitu drg. Fauzi Nuristianto selaku kepala Puskesmas Botania Kota Batam yang telah megizinkan peneliti untuk menyelesaikan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA