Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 1. Januari 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PENERAPAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI AIR SUSU IBU (ASI) PADA IBU POSTPARTUM SPONTAN Sulardipo*. Agustina Listianingrum . Lya Ria Westri. Tyas Zulkorida Pangestika. Niken Sukesi Universitas Widya Husada Semarang. Jl. Subali Raya No. 12 Krapyak Semarang. Jawa Tengah 50146. Indonesia *sulardipo. 285@gmial. ABSTRAK Post partum ialah masa pemulihan alat kandungan pada saat sebelum hamil. Perubahan pada ibu post partum yaitu salah satunya pada bagian payudaranya. Perubahan payudara ibu post partum berupa akan berubah lebih besar, keras dan disekitar putting menghitam. Kondisi tersebut merupakan tanda dimulainya proses menyusui. Proses menyusui merupakan proses yang panjang, untuk itu sering terjadi adanya masalah seperti ASI yang tidak keluar ataupun hanya sedikit yang keluar. Hal ini menimbulkan masalah menyusui tidak efektif, terapi pijat untuk meningkatkan hormone untuk menaikkan jumlah produksi ASI yaitu dengan hormone oksitosin menjadi alternatif terapi untuk melancarkan ASI agar bisa meningkat yang dapat dilakukan oleh ibu dan keluarga secara mandiri. Tujuan pengabdian ini untuk mengetahui pengaruh dilakukannya teknik pijat untuk meningkatkan agar ASI bisa meningkat yaitu dengan hormone oksitosin terhadap jumlah produksi ibu dalam proses keluarnya ASI saat setelah post partum spontan. Metode dilakukan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Ibu yang terlibat sebanyak 4 responden. Melakukan indetifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, mengidentifikasi tujuan dan keinginan menyusui, melakukan jadwal penkes, mengajak system pendukung keluarga, pemijatan oksitosin, melakukan perawatan payudara, kemudian dilakukan evaluasi setiap 6 jam untuk mengetahui hasil perkembangan keluarnya ASI. Hasil yang didapatkan yaitu adanya peningkatan jumlah air susu ibu pada ibu setelah melahirkan secara spontan setelah dilakukan intervensi pijat oksitosin selama 1 x 24 jam dengan durasi waktu 15 menit dengan dievaluasi setiap 6 jam sekali. Kata kunci: ASI. pijat oksitosin. post partum spontan APPLICATION OF OXYTOCIN MASSAGE TO INCREASING MOTHER'S MILK PRODUCTION IN SPONTANEOUS POSTPARTUM MOTHERS ABSTRACT Post partum is the period of recovery of the gynecological apparatus at the time before pregnancy. Changes in post partum mothers are one of them in the breasts. Changes in the breasts of post partum mothers will change in the form of larger, harder and around the blackened nipples. This condition is a sign of the start of the breastfeeding process. The breastfeeding process is a long process, for which there are often problems such as milk that does not come out or only a little comes out. This causes the problem of ineffective breastfeeding, massage therapy to increase the hormone to increase the amount of milk production, namely the hormone oxytocin, is an alternative therapy to increase breast milk which can be done by mothers and families independently. The purpose of this service is to determine the effect of massage techniques to increase breast milk, namely with the hormone oxytocin, on the amount of maternal production in the process of breast milk discharge after spontaneous post partum. The method was carried out through interviews, observations, documentation studies, and literature studies. The mothers involved were 4 respondents. Identifying readiness and ability to receive information, identifying the purpose and desire to breastfeed, conducting a health care schedule, inviting a family support system, oxytocin massage, performing breast care, then evaluating every 6 hours to determine the results of the development of breast milk discharge. The results obtained were an increase in the amount of breast milk Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 1. Januari 2025 Global Health Science Group in mothers after spontaneous delivery after an oxytocin massage intervention for 1 x 24 hours with a duration of 15 minutes and evaluated every 6 hours Keywords: breast milk. oxytocin massage. spontaneous post partum PENDAHULUAN Bayi yang baru dilahirkan perlu diberikan perawatan lebih baik setelah ia dilahirkan, yakni diberikan makanan idel berupa ASI. ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehadirannya setelah dilahirkan ialah yang sangat direkomendasikan. Berbagai kendala muncul ketika upaya ibu memberikan ASI tersebut kepada bayinya (Reni Yuli Astutik, 2. ASI ialah asupan utama yang diperlukan bayi baru lahir dan mempunyai banyak sekali kegunaan untuk tumbuh kembangnya bayi yang menjaga imunitas bayi dalam masa pertumbuhannya (Kholisotin et al. Pada bayi dengan tanpa ASI eksklusif selama usia 0-6 bulan pertama dalam kehidupannya, akan mengalami kerentanan terhadap penyakit karena proses penyerapan nutrisi yang kurang ideal menjadi terganggu, bayi dengan pemberian susu formula mempunyai risiko diare 4,14% dan risiko obessitas 4,3% lebih banyak dari bayi yang minum ASI terbaik pada 6 bulan pertama dikehidupannya (Adawiyah et al. , 2. Pemberian ASI sejak dini sangat diperlukan bagi bayi karena bisa melindungi bayi dari berbagai penyakit rentan yang mengakibatkan kefatalan diantaranya, pneumonia dan diare. Bayi akan mempunyai kerendahan obesitas saat diberikan dengan ASI eksklusif dan juga memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan jika tidak diberikan ASI, serta tanpa ASI berisiko dalam gizi yang kurang. Pemberian ASI juga memberikan manfaat bagi ibu post partum dalam peningkatan kanker payudara hingga 20. 000 kasus di setiap tahunnya (UNICEFF. Beberapa masalah dalam hal menyusui efektif yakni ibu dihadapkan pada ketidakefektifan keluaran ASI. Saat ibu memberikan susu formula maka ada dampak pada rendahnya cakupan pemberian ASI yang menjadi kendala proses pemberian ASI eksklusif (UNICEFF, 2. Pada tahap pemberian ASI eksklusif ada berbagai faktor diantaranya saat bayi lahir ASI tidak mencukupi dan tidak keluar. ASI yang di produksi ibu banyak sedikitnya akan memperngaruhi tingkat kepercayaan diri ibu terhadap bayinya, kondisi pada putting yang tidak memadai, pengaruh pada pengganti ASI . usu formul. dan ibu yang bekerja sehari-harinya. Pada proses menyusui, melalui proses perangsangan pada mulut bayi saat dilakukan pelekatan dengan pijatan untuk memperlancar ASI pada ibu, maka dari itu hormone yang bekerja pada produksi ASI seperti hormone oksitosin dapat dihasilkan. Pijatan tulang belakang memberi sensasi rileks pada ibu sehingga meningkatkan ambang batas rasa sakit saat menyusui, dan membuat ibu mencintai bayi serta produksi ASI bisa menjadi meningkat (Julizar, 2. Terapi pijat oksitosin adalah bagian dari terapi komplementer yang bisa digunakan pada masalah menyusui ibu diatasi tidak efektif. Area yang dipijat yaitu pada vertebra pada costae 5 dan 6 sampai dengan scapula yang selanjutnya dapat memicu keluarnya hormone untuk memperlancar ASI yaitu oksitosin dan diberikan selama tiga kali dalam sehari dengan evalusia setiap enam jam (KD, 2. Manfaat dari pijat oksitosin diantaranya untuk melancarkan laktasi yang secara psikologis memberi ketenangan pada ibu, memberi rasa percaya diri pada ibu, meningkatkan kelancaran ASI dan perasaan baik terhadap bayi, serta melepas kelelahan (Lestari, 2. Dari penelitian yang di jelaskan oleh Muayanah et al. , . yang berisi dengan AuPenerapan Pijat Oksitosin Dalam Peningkatan Produksi ASIAy disimpulkan jika adanya perbedaan yang baik terapi pemijatan oksitosin pada peningkatan produksi ASI dengan rerata nilai sebelum dilakukan pijat oksitosi 5,59 cc serta sesudah dilakukan intervensi pijat untuk meningkatkan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 1. Januari 2025 Global Health Science Group hormone sebagai pelancar ASI yaitu hormone oksitosin meningkat menjadi 16,75 cc (Muayah et , 2. Penelitian tersebut juga menerangan pijat oksitosin meningkatkan produksi ASI dibuktikan dengan data sebanyak 35 orang produksi ASI-nya sedikit dan sesudah diberikan pijat oksitosin dihasilkan 25 orang mempunya jumlah produksi ASI banyak. Dari hasil pengujian Wilcoxon memiliki perbedaan ketika sebelum dan ketika sesusah dilakukan pemijatan pada ibu setelah melahirkan perlu mengetahui jumlah produksi ASI-nya . value = 0,000 < 0,. (Fara et , 2. Dari hasil wawancara pada pasien ibu post partum spontan yakni Ny. Ny. Ny. U dan Ny. hasil pengkajian menunjukkan sesudah melahirkan bayinya. ASI-nya tidak keluar hanya setetes saja, dan pasien tidak mengerti apa penyebab ketidaklancaran ASI-nya dan mengkhawatirkan kondisi bayinya karena sering rewel menangis dan mengatakan lelah menyusui bayinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dilakukannya teknik pijat untuk meningkatkan agar ASI bisa meningkat yaitu dengan hormone oksitosin terhadap jumlah produksi ibu dalam proses keluarnya ASI saat setelah post partum spontan. Penulis mampu memberikan AuPenerapan Pijat Oksitosin Terhadap Peningkatan Produksi Air Susu Ibu (ASI) Pada Ibu Post Partum Spontan Di Ruang Melati RSUD Kota SalatigaAy METODE Metode yang dipakai pada pengabdian ini ialah memakai metode dengan wawancara secara langsung dilanjutkan mengobservasi dan melakukan studi dokumentasi kemudian studi Waktu yang diperlukan yaitu pada tanggal 19-20 Juni 2024. Tindakan berupa melakukan wawancara sebagai bentuk pengkajian awal, selanjutnya melakukan observasi untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan, selnjutnya melakukan studi dokumentasi, dan studi Ibu yang terlibat sebanyak 4 responden post partum spontan. Melakukan indetifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, mengidentifikasi tujuan dan keinginan menyusui, melakukan jadwal penkes, mengajak system pendukung keluarga, pemijatan oksitosin, melakukan perawatan payudara, kemudian dilakukan evaluasi setiap 6 jam untuk mengetahui hasil perkembangan keluarnya ASI. Hasil yang didapatkan yaitu adanya peningkatan jumlah air susu ibu pada ibu setelah melahirkan secara spontan setelah dilakukan intervensi pijat oksitosin selama 1 x 24 jam dengan durasi waktu 15 menit dengan dievaluasi setiap 6 jam sekali. Studi dokumentasi dengan cara melihat bagaimana catatan medis baik dari hasil laboratorium, pemeriksaan dokter maupun interdisiplin lainya. Studi kepustakaan yang berpedoman pada literature yang di dapat baik dari buku maupun jurnal terbaru. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Pasien Ibu Nifas Nama Ny. R . ayi rawat gabun. Produksi ASI sebelumintervensi Produksi ASI setelahintervensi Produksi ASI tidak keluar, ibu merasa ASI s u d a h m a u keluar sedikit banyak tidak nyaman serta cemas karena ASI Ibu merasa rileks dan nyaman ibu menjadi nya tidak lancar percaya diri pada ASI nya untuk bayi Ny. D . ayi Produksi ASI kurang banyak ASI sudah mulai keluar banyak Ibu merasa rawat gabun. sehingga ibu merasa stress dan cemas sudah percaya diri dan menjadi rileks Ny. U . ayi Produksi ASI kurang banyak ASI s u d a h m a u keluar banyak Ibu lebih rawat gabun. sehingga ibu cemas percaya diri serta rileks dan nyaman Ny. N . ayi Produksi ASI kurang banyak dalam ASI keluar banyak Ibu lebih percaya diri rawat gabun. produksinya sehingga menyebabkan rileks dan nyaman dan menjadi tenang ibu cemas karena produksi ASI nya banyak Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 1. Januari 2025 Global Health Science Group Subjek melibatkan 4 pasien di RSP dr. Ario Wirawan Salatiga dengan dilakukan intervensi pijat oksitosin untuk memperbanyak jumlah air susu ibu setelah melahirkan bayinya dalam kurun waktu 1x24 jam dengan evaluasi setiap 6 jam sekali. Dari beberapa responden pada saat sebelum dilakukan pemijatan oksitosin air susu ibu belum mau keluar sehingga merasa tidak nyaman, cemas dan stress terhadap kondisinya dan sesudahnya merasa menjadi rileks, nyaman serta percaya diri saat menyusui bayinya. Gambar 1. Pemberian Pijat Oksitosin Produksi Asi Sebelum Intervensi Pijat Oksitosin Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah diterapkan kepada 4 resonden post partum spontan dapat diketahui bahwa keempat responden memiliki usia rata-rata dibawah tiga puluh lima tahun. Dalam pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan yang dilakukan Fatrin . di PBM Husniati Palembang, menunjukkan bahwa usia terbanyak yaitu usia <35 tahun sebanyak 10 orang . %). Berkurangnya pada perangsangan hormone prolactin dan oksitosin memberi penyebab adanya penurunan pada jumlah produksi air susu ibu. Maka sebab itu, pentingnya menerapkan pijat oksitosin, untuk ibu setelah melahirkan dan keluarga memberi support dalam hal tersebut, terutama diawal kelahiran bayi (Fatrin et al. , 2. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa keempat pasien memiliki keluhan ASI yang keluar sedikit, saat memencet aerola juga ASI yang keluar sedikit. ASI kurang memancar atau yang keluar sedikit dan bayi tidak mampu melekat pada payudara ibu. Dari hasil pertanyaan langsugn yang diajukan kepada responden, para responden ada keluhan pada jumlah produksi air susu ibu yang sulit keluar sehingga keluarga ikut khawatir karena bayi belum mendapatkan ASI dengan ekslusif. Hasil studi ini menggambarkan bahwa 4 pasien belum mampu menyusui secara eksklusif disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kurang istirahat dan khawatir akan ketidakmampuan untuk memberikan ASI. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa bisa memberi ASI secara eksklusif yang memberi pengaruh dengan beberapa factor yaitu adanya dukungan. Kesehatan, rasa nyaman serta istirahat yang cukup. Dari factor lain yang mempengaruhi yaitu adanya perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman di tubuh ibu karena sesudah post partum, ketidakmampuan dalam kekhawatiran pada jumlah produksi ASI yang keluar untuk bayi terpenuhi atau tidak serta factor stress pada ibu . Hasil penelitian terhadap empat pasien menunjukkan masalah keperawatan yang serupa dengan data utama SDKI PPNI tahun 2017: ASI tidak lancar, kelelahan ibu, kecemasan ibu, bayi tidak mampu melekat pada payudara ibu, menangis saat menyusui, rewel, dan menangis terus-menerus selama beberapa jam setelah menyusui. Sehubungan dengan hasil penelitian, diagnosa yang muncul adalah menyusui tidak efektif terkait dengan kekurangan suplai ASI (D. Sebagai bukti, klien mengatakan ASI keluar sedikit dan tidak lancar, merasa cemas jika ASI tidak lancar. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 1. Januari 2025 Global Health Science Group dan merasa lelah saat menyusui. Bukti lain yang mendukung adalah ASI yang kurang memancar atau keluar sedikit, bayi tidak mampu melekat pada payudara ibu, bayi menghisap secara tidak teratur, bayi menangis saat menyusui, dan bayi sering rewel. Perencanaan adalah proses membuat strategi desian untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah keperawatan. Melakukan perencanaan berdasarkan diagnosa keperawatan adalah definisi sejauh mana perawat mampu menetapkan cara yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan kebutuhan. Diagnosa keperawatan intervensi juga mencakup tujuan, serta kriteria hasil yang diharapkan dan tindakan yang dilakukan (Rohmah & Walid, 2. Perawat harus memastikan bahwa intervensi yang diberikan kepada pasien dapat mengatasi ketidakefektifan menyusui, seperti edukasi menyusui, saat mereka memutuskan apa yang harus diberikan kepada pasien. Beberapa tindakan yang telah direncanakan untuk keempat pasien adalah sebagai berikut: menentukan tujuan atau keinginan untuk menyusui. pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan. memasukkan sistem pendukung: suami, keluarga, tenaga medis, dan masyarakat. memberikan konseling tentang menyusui. menjelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi. dan memberikan perawatan payudara postpartum seperti memerah ASI, pijat payudara, dan pijat oksitosin (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2. Setelah tindakan keperawatan dilakukan selama satu hari dua puluh empat jam dan dievaluasi setiap enam jam sekali, diharapkan keempat responden akan menunjukkan perubahan pada status menyusui, peningkatan tetesan atau pancaran ASI, peningkatan suplai ASI adekuat, peningkatan perlekatan bayi pada payudara ibu, dan peningkatan kemampuan ibu untuk memposisikan bayi dengan tepat (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2. Beberapa cakupan air susu ibu yang masih sedikit karena pelekatan yang masih salah menjadi penyebab utama ASI belum secara eksklusif diberikan untuk Dari banyaknya factor, salah satu terpentingnya karena pengetahuan yang rendah terutama mengenai ASI eksklusif dan juga pelekatan yang benar pada bayi. Upaya terbaik yaitu memberi edukasi yang benar mengenai cara pelekatan yang benar dan cara memberi edukasi kepada pasien tentang pijat untuk memperlancar produksi ASI (R. Wahyuni, 2. Edukasi yang diberikan, diharapkan dapat memberi perubahan perilaku yang salah menjadi benar dengan edukasi yang sudah diberikan. Produksi ASI Setelah Di Lakukan Intervensi Pijat Oksitosin Berdasarkan rencana keperawatan sesuai dengan keluhan saat pengkajian, maka tindakan keperawatan yang dilakukan adalah dengan memberi edukasi terkait perawatan setelah melahirkan bagi ibu dan keluarga dengan melakukan pijat untuk memperlancar ASI atau pijat Pijat tersebut menjadi solusi bagi ibu setelah melahirkan untuk bisa memberi kelancaran pada produksi ASI yang banyak untuk bayi. Manfaat terpenting ialah memberi rasa rileks dan nyaman sehingga dapat memperlancar produksi ASI sesudah post partum dengan keluarnya hormone prolactin dan oksitosin pada ibu (Siregar et al. , 2. Hasil evaluasi dalam pantauan jumlah produksi air susu ibu selama tiga kali setiap enam jam sekali memperlihatkan adanya perbedaan pada volume ASI yang dihasilkan sebelum dan sesudah intervensi dilakukan pijat untuk memperlancar produksi ASI. Pada pasien kesatu Ny U sebelum intervensi sebanyak Sembilan ml dan saat dilakukan evaluasi pada enam jam kesatu, enam belas ml di evaluasi kedua, dan dua puluh dua ml pada evaluasi ketiga. Pada pasien dua Ny N sebelum intervensi sebanyak enam ml dan saat dilakukan evaluasi pada enam jam kesatu, sepuluh ml di evaluasi kedua, dan empat belas ml pada evaluasi ketiga. Pada pasien tiga Ny D sebelum intervensi sebanyak tujuh ml dan saat dilakukan evaluasi pada enam jam kesatu, lima belas ml di evaluasi kedua, dan dua puluh enam ml pada evaluasi ketiga. Pada pasien empat Ny R sebelum intervensi sebanyak enam ml dan saat dilakukan evaluasi pada enam jam kesatu, dua belas ml di evaluasi kedua, dan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 1. Januari 2025 Global Health Science Group delapan belas ml pada evaluasi ketiga. Dari hasil tersebut total rerata dari keempat pasien yaitu empat puluh tujuh cc/ml, tiga puluh cc/ml, empat puluh delapan cc/ml, tiga puluh enam cc/ml. Rata-rata jumlah pertambahan jumlah produksi air susu ibu setelah dilakukan pijat untuk memperlancar air susu ibu berkisar sepuluh sampai enam belas ml/cc. Menjadi kesimpulan bahwa produksi jumlah volume ASI setelah dilakukan intervensi memberi dampak positif sehingga mampu menangani masalah menyusui tidak efektif dengan melakukan pijat oksitosin Masalah keperawatan menyusui tidak efektif teratasi dibuktikan dengan klien dan keluarga mampu melakukan pijat oksitosin. ASI yang keluar lebih banyak, klien merasa lebih rileks, bayi mampu melekat pada payudara ibu, dan bayi tidak rewel. Dari hal itu maka sesuai dengan penjelasan dari penelitian yang dilakukan oleh Resa Dian Sulistyani & Siti Haryani . Dalam kelancara ASI pada ibu setelah melahirkan ini terbukti bahwa pijat oksitosin mampu menjadi alternatif yang sangat tepat bagi ibu untuk mempertahankan jumlah produksi ASI meningkat (Setianingrum & Wulandari, 2. Pada perbedaan perbandingan intervensi dari pijat untuk meperlancar ASI ibu setelah menyusui terhadap empat pasien di ruang melati RSUD Salatiga memberi hasil bahwa pasien satu menjelaskan bahwa pada sebelum tindakan intervensi merasa belum kencang-kencang pada payudaranya dan ASI nya masih keluar hanya sedikit saja, sesudah diberikan pijat untuk memperlancar ASI pada pemijatan ke satu serta ke dua ASI sudah bisa keluar walaupun belum banyak. Pasien dua mengatakan sebelum diberikan intervensi terapi pemijatan untuk memperlancar ASI yang ASI hanya masih sedikit sekali yang keluar, setelah dilakukan terapi ASI yang keluar mulai banyak. Pasien tiga menjelaskan sebelum diberikan terapi untuk memperlancar ASI karena merasa ASI nya saya sedikit. Sesudah dilakukan pijat untuk memperlancar jumlah produksi ASI dan keluarnya hormone oksitosin agar merasa lebih rileks karena ASI dapat keluar lebih banyak. Pasien empat mengatakan ASI yang keluar hanya satu sampai dua tetes, sesudah diberikan terapi untuk memperlancar ASI ini pada kedua ASI sudah bisa keluar. Pijat untuk memperlancar produksi ASI ini memberikan manfaat yang baik pada ibu yaitu mengurangi sumbatan pada ASI dan pembengkakakn pada kedua payudara ibu setelah Lancarnya jumlah volume air susu ibu memberikan pengaruh diantaranya yaitu psikis, usia, gizi pada ibu setelah melahirkan dan fisiologis tubuh pada ibu setelah melahirkan. Dari hal itu dibuktikan bahwa pemijatan untuk memperlancar kelancaran ASI ini mampu memberi efek yang sangat baik dan terbukti bermanfaat bagi ibu setelah melahirkan (Harahap. SIMPULAN Pada penerapannya dilakukan pijat oksitosin yang dilakukan pada 3 kali kepada 4 responden ibu post partum spontan yang diberikan eveluasi setiap 6 jam sekali selama 24 jam untuk mendapatkan hasil peningkatan pada produksi ASI yang dihasilkan ibu. Untuk responden pertama yaitu Ny R dengan 36 ml/cc. Ny. D dengan 48 ml/cc. Ny. U dengan 47 ml/cc dan terakhir Ny. N dengan 30 ml/cc. Dengan hasil perhitungan yaitu keempat responden memiliki nilai rerata 10-16 ml/cc dalam peningkatan produksi ASI. Hasil dari tindakan pemijatan oksitosin terbukti efektif dan dapat meningkatkan produksi ASI serta memberi efek rileks pada ibu. DAFTAR PUSTAKA