Dedikasi Jurnal Pengabdian Masyarakat LPPM UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Vol. No. January-June, 2026, pp. ISSN:2716-0319 DOI:10. 32678/dedikasi. License: CC-BY & A: the author. Akselerasi Daya Saing Produk Rumput Laut melalui Transformasi Digital Pemasaran Berbasis Platform Online Andi Ircham Hidayat*1. Hardianty Askar2. Nur Fahmi Akhmad3 1,2,3 Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia *Corresponding author E-mail: hidayat. ircham@gmail. Article History: Received: March 12, 2026 Revised: May 05, 2026 Accepted: May 06, 2026 Keywords: Abstract: Limited digital literacy and restricted access to online marketing have resulted in seaweed products in Bontojai Subdistrict. Bantaeng Regency, being marketed conventionally, with a narrow reach and low added value. This community engagement initiative aims to accelerate product competitiveness through the digital transformation of marketing, utilising online platforms such as e-commerce, social media, and messaging A Participatory Action Research (PAR) approach was employed, encompassing stages of planning, training implementation, practical mentoring, observation, and evaluation. The results indicate an improvement in digital marketing literacy, an increase in the number of business actors with active marketplace accounts, and a broader reach of online promotional This transformation has facilitated expanded market access and enhanced the added value of seaweed products. Participatory-based intervention has proven to be an effective model for empowering the digital economy of coastal communities. Digital marketing. coastal empowerment. Participatory Action Research. e-commerce. Pendahuluan Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan wilayah pesisir Sulawesi Selatan, termasuk Kecamatan Bontojai. Kabupaten Bantaeng (Firman et al. , 2. Karakteristik geografis yang didukung oleh perairan dangkal dan kondisi ekologis yang sesuai menjadikan wilayah ini memiliki potensi produksi rumput laut yang berkelanjutan. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi optimal bagi pembudidaya. Sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul lokal dengan harga yang sangat bergantung pada fluktuasi pasar dan permintaan industri pengolahan skala besar (Latief. Muslimin, et al. , 2. Pola distribusi yang panjang dan bersifat konvensional menyebabkan margin keuntungan di tingkat pembudidaya relatif rendah serta memperlemah posisi tawar mereka dalam rantai nilai komoditas (Latief. Firman, et al. , 2. Kondisi tersebut mencerminkan persoalan struktural dalam sistem pemasaran komoditas pesisir, yaitu ketergantungan pada perantara dan keterbatasan akses informasi harga pasar (Sungkawaningrum et al. , 2. Minimnya diversifikasi produk serta rendahnya kemampuan branding turut mempersempit peluang pembudidaya untuk meningkatkan nilai tambah. Padahal, rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan seperti makanan ringan, bahan baku kosmetik, dan produk kesehatan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan bahan mentah (Muslimin et al. , 2. Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah mengubah lanskap pemasaran produk usaha mikro dan kecil. Platform e-commerce, media sosial, serta aplikasi pesan instan memungkinkan pelaku usaha menjangkau konsumen secara langsung tanpa batas geografis dengan biaya promosi yang relatif rendah. Transformasi digital tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi, tetapi juga sebagai sarana membangun identitas merek . (Hidayat et al. , 2. , memperkuat komunikasi pelanggan, serta menciptakan sistem distribusi yang lebih Dalam konteks ekonomi pesisir, digitalisasi pemasaran berpotensi menjadi instrumen strategis untuk memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan daya saing produk lokal (Asyiffa et al. , 2025. Hisyam & Fitriyah, 2. Meskipun demikian, adopsi teknologi digital di kalangan pembudidaya rumput laut di Kecamatan Bontojai masih tergolong rendah. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha belum memiliki akun marketplace aktif, belum memanfaatkan fitur bisnis pada media sosial, serta belum memahami strategi komunikasi pemasaran digital seperti optimasi deskripsi produk. Hambatan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur, tetapi juga oleh rendahnya literasi digital dan kurangnya pendampingan yang kontekstual sesuai karakteristik komoditas lokal. Berbagai penelitian terdahulu menyebutkan bahwa penerapan digital marketing dapat meningkatkan daya saing UMKM melalui perluasan pasar, peningkatan interaksi pelanggan, dan kenaikan omzet (Alwie et al. , 2. Namun, sebagian besar intervensi masih bersifat generik dan belum secara spesifik mengintegrasikan potensi komoditas unggulan daerah dengan strategi pemasaran digital yang terarah (Marisa et al. , 2. Kesenjangan inilah yang menjadi ruang intervensi dalam kegiatan pengabdian ini, yaitu menghadirkan model pemberdayaan digital yang berbasis komoditas rumput laut sebagai identitas ekonomi lokal. Urgensi kegiatan ini semakin relevan dalam konteks transformasi ekonomi digital nasional yang mendorong pelaku usaha mikro untuk masuk ke dalam ekosistem marketplace dan perdagangan daring. Tanpa peningkatan kapasitas yang memadai, pembudidaya berisiko semakin tertinggal dalam kompetisi pasar yang semakin terbuka. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan partisipatif yang tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemampuan adaptif, dan keberlanjutan praktik pemasaran digital di tingkat Berdasarkan latar belakang dan kesenjangan tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk: Meningkatkan literasi digital pemasaran pembudidaya rumput laut di Kecamatan Bontojai. Mengimplementasikan pemanfaatan e-commerce, media sosial, dan aplikasi pesan instan sebagai kanal pemasaran yang efektif dan berkelanjutan. Memperluas akses pasar dalam rantai distribusi komoditas rumput laut. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan kompetensi individu, tetapi juga membentuk model transformasi digital pemasaran berbasis potensi lokal yang dapat direplikasi pada komunitas pesisir lainnya. Metode Pendekatan Participatory Action Research (PAR) digunakan dalam kegiatan pengabdian ini karena permasalahan pemasaran produk rumput laut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial dan kapasitas masyarakat dalam mengadopsi teknologi digital. PAR menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif dalam proses identifikasi masalah, perencanaan solusi, implementasi kegiatan, hingga evaluasi hasil secara kolaboratif. Pendekatan ini dinilai tepat karena transformasi digital pemasaran memerlukan proses pembelajaran yang partisipatif dan kontekstual, di mana pembudidaya rumput laut terlibat langsung dalam praktik penggunaan platform e-commerce, media sosial, dan aplikasi pesan instan. Melalui siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, metode PAR memungkinkan penyesuaian strategi berdasarkan pengalaman di lapangan sehingga meningkatkan efektivitas transfer pengetahuan, rasa memiliki terhadap inovasi yang diperkenalkan, serta keberlanjutan praktik pemasaran digital di kalangan masyarakat pesisir. Gambar 1. Metode Participatory Action Research (PAR) Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) (Cornish et al. dengan siklus: Perencanaan dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan melalui FGD dengan kelompok pembudidaya sebagai audit tingkat literasi digital awal. Pelaksanaan A Pelatihan pembuatan akun e-commerce (Shopee/Tokopedi. A Pelatihan optimasi Instagram & Facebook untuk promosi. A Simulasi penggunaan WhatsApp Business. Observasi dilakukan dengan monitoring aktivitas unggahan produk. Refleksi & Evaluasi dilakukan dengan mengukuran peningkatan kompetensi dan dampak pemasaran. Lokasi kegiatan: Kecamatan Bontojai. Kabupaten Bantaeng. Sulawesi Selatan. Peserta: 25 pembudidaya rumput laut. Hasil Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses identifikasi masalah, implementasi solusi, serta evaluasi dampak kegiatan. Melalui pendekatan ini, pembudidaya rumput laut di Kecamatan Bontojai tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan sebagai mitra dalam proses transformasi digital pemasaran produk. Hasil kegiatan dianalisis berdasarkan empat tahapan utama PAR, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta refleksi dan evaluasi. Tahap Perencanaan Tahap perencanaan diawali dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok pembudidaya rumput laut di Kecamatan Bontojai untuk mengidentifikasi kondisi pemasaran yang selama ini dilakukan serta hambatan yang dihadapi dalam memasarkan produk. Hasil diskusi menunjukkan bahwa sebagian besar pembudidaya masih bergantung pada sistem penjualan tradisional melalui pengepul, sehingga harga jual produk cenderung rendah dan tidak Selain itu, ditemukan bahwa literasi digital masyarakat masih tergolong rendah. Sebagian besar peserta belum pernah menggunakan platform marketplace, belum memahami strategi pemasaran melalui media sosial, serta belum memanfaatkan fitur bisnis pada aplikasi pesan instan seperti WhatsApp Business. Tabel 1. Kondisi Literasi Digital Peserta Sebelum Pelatihan Aspek Literasi Digital Skor Ratarata . Ae. Kategori Deskripsi Kondisi Awal Pemahaman Marketplace Dasar Sebagian besar peserta belum pernah menggunakan platform e-commerce Promosi melalui Dasar Peserta Media Sosial sosial hanya untuk komunikasi pribadi, belum untuk promosi Penggunaan WhatsApp Business Dasar Peserta hanya menggunakan WhatsApp biasa dan belum mengetahui fitur bisnis Pembuatan Konten Produk Dasar Peserta belum memahami teknik fotografi produk dan penulisan deskripsi pemasaran Rata-rata Literasi Digital Dasar Tingkat Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, tim pengabdian bersama peserta merumuskan strategi intervensi berupa pelatihan dan pendampingan pemanfaatan platform digital sebagai sarana pemasaran produk rumput laut. Tahap Pelaksanaan Tindakan Tahap pelaksanaan difokuskan pada kegiatan pelatihan dan pendampingan pemasaran digital yang melibatkan para pembudidaya rumput laut sebagai peserta aktif. Materi pelatihan meliputi pengenalan konsep digital marketing, pembuatan akun marketplace, pemanfaatan media sosial sebagai media promosi, serta penggunaan WhatsApp Business untuk komunikasi dengan pelanggan. Gambar 2. Pemaparan Materi Pelatihan Gambar 2. Pemaparan Materi Pelatihan Selain pelatihan teori, kegiatan juga dilengkapi dengan praktik langsung seperti pembuatan akun toko pada platform e-commerce, pengunggahan produk ke marketplace, serta pembuatan konten promosi sederhana menggunakan telepon pintar. Peserta juga diberikan pelatihan mengenai teknik dasar fotografi produk dan penulisan deskripsi produk yang menarik untuk meningkatkan daya tarik produk rumput laut di pasar digital. Melalui kegiatan ini, peserta mulai memahami cara memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran serta mulai mempraktikkan promosi produk melalui berbagai platform online. Tahap Observasi Tahap observasi dilakukan untuk memantau perkembangan pemanfaatan platform digital oleh peserta setelah kegiatan pelatihan dilaksanakan. Monitoring dilakukan dengan melihat aktivitas pemasaran digital yang dilakukan peserta, seperti jumlah produk yang diunggah pada marketplace, intensitas promosi melalui media sosial, serta penggunaan WhatsApp Business dalam melayani pelanggan. Tabel 2. Kondisi Literasi Digital Peserta Sebelum Pelatihan Aspek Literasi Digital Pra Kegiatan (Skor 0Ae. Pasca Kegiatan (Skor 0Ae. Peningkatan Pemahaman marketplace Penggunaan media sosial untuk promosi Pemanfaatan WhatsApp Business Pembuatan konten promosi digital Rata-rata 78,75 46,25 Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mulai aktif menggunakan media digital sebagai sarana promosi. Beberapa pembudidaya telah berhasil membuat akun marketplace dan mengunggah produk rumput laut yang mereka hasilkan. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai media promosi juga mulai meningkat, terutama melalui unggahan foto produk dan informasi penjualan. Peningkatan aktivitas pemasaran digital ini menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam memanfaatkan teknologi digital untuk kegiatan usaha. Gambar 3. Grafik Perubahan literasi Digital sebelum dan sesudah Program Tahap Refleksi dan Evaluasi Tahap refleksi dilakukan melalui diskusi bersama peserta untuk mengevaluasi manfaat kegiatan serta mengidentifikasi kendala yang masih dihadapi dalam implementasi pemasaran Hasil refleksi menunjukkan bahwa peserta merasakan manfaat yang cukup signifikan dari kegiatan ini, terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait pemasaran Namun demikian, beberapa kendala masih ditemukan, seperti keterbatasan pengalaman dalam mengelola toko online, kesulitan membuat konten promosi yang menarik, serta keterbatasan jaringan internet pada beberapa lokasi. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan lanjutan untuk memastikan keberlanjutan pemanfaatan platform digital dalam pemasaran produk rumput laut. Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan Participatory Action Research (PAR) efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran produk. Melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan, proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan berkelanjutan, sehingga mampu mendorong peningkatan daya saing produk rumput laut di pasar yang lebih luas. Diskusi