JAEB Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Volume 14 Nomor 02. Oktober 2025. Halaman 112-128 e-ISSN 2548-5326 p-ISSN 2252-4479 ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA PT HANJAYA MANDALA SAMPOERNA TBK TAHUN 2019-2023 Ita Noviana1. Fauzan2. Izza Luthfi Suryani3 Universitas AKI Semarang, 2Politeknik AuAPIAy Yogyakarta, 3UIN Walisongo Semarang Surel: ita. noviana@unaki. ABSTRACT This research aims to analyze the impact of liquidity ratios, solvency ratios, and profitability ratios on the company's financial performance. The method used is a quantitative approach with regression analysis, utilizing financial statement data from the past five years. The variables analyzed include the liquidity ratio (Current Rati. , solvency ratio (Debt to Equity Rati. , and profitability ratio (Return on Asset. The results indicate that liquidity ratios, solvency ratios, and profitability ratios have a significant relationship with the financial performance of PT Hanjaya Mandala Sampoerna. In recent years, the company has experienced a decline in liquidity and profitability ratios, which negatively impacts its financial performance. Keywords: Financial Performance. Liquidity. Profitability. Solvency ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas terhadap kinerja keuangan perusahaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi, menggunakan data laporan keuangan selama lima tahun terakhir. Variabel yang dianalisis meliputi rasio likuiditas (Current Rati. , rasio solvabilitas (Debt to Equity Rati. , dan rasio profitabilitas (Return on Asset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas memiliki hubungan yang signifikan terhadap kinerja keuangan. PT Hanjaya Mandala Sampoerna dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan pada rasio likuiditas dan profitabilitas yang berdampak negatif pada kinerja keuangan perusahaan. Kata Kunci: Kinerja Keuangan. Likuiditas. Profitabilitas. Solvabilitas Tanggal Masuk 20 Agustus 2025 Tanggal Revisi 15 September 2025 Tanggal Diterima 14 Oktober 2025 Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 PENDAHULUAN Kinerja finansial suatu perusahaan di Indonesia menjadi salah satu tanda utama dalam mengevaluasi keberhasilan dan keberadaan sebuah entitas bisnis. Sejumlah perusahaan besar di Indonesia bergantung pada sumber dana dari luar, sehingga mereka memiliki rasio solvabilitas yang cukup tinggi. Walau penggunaan utang dapat mendukung pertumbuhan, jika tidak dikelola dengan efektif, tingkat utang yang berlebihan dapat membebani hasil keuangan Perusahaan (Dwi & Wirawan, 2. Keterbatasan dalam transparansi informasi keuangan sering kali menyebabkan para investor dan pihak terkait menghadapi tantangan dalam mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan secara tepat. Ketidakpastian ini dapat menurunkan kepercayaan investor dan memperburuk kemampuan perusahaan untuk mendapatkan akses ke sumber pembiayaan (Binti Umaya et al. , 2. Perusahaan yang tidak dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan regulasi ini berisiko mengalami penurunan kinerja (Dwi & Wirawan, 2. Perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan inovasi teknologi atau tidak memanfaatkan kesempatan digital berisiko kehilangan posisi dalam efisiensi kerja dan kemampuan bersaing. Di sisi lain, perusahaan yang mampu menerapkan teknologi dengan baik dapat meningkatkan keuntungan dan mengurangi pengeluaran (Febriyanti et al. , 2. Likuiditas berhubungan dengan seberapa mudah suatu aset dapat diubah menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai yang signifikan (Putro, 2. Dampak rasio likuiditas terhadap kinerja finansial bisa bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan hubungan positif, sementara yang lain tidak menemukan signifikansi atau bahkan negatif (Harmadji et al. , 2. Rasio cepat, yang tidak memasukkan persediaan, sangat penting untuk mengevaluasi likuiditas secara langsung, seperti yang terlihat pada PT Archi Indonesia, dimana rasio cepat yang rendah menunjukkan adanya masalah keuangan (Kusuma & Mahroji, 2. Sementara beberapa studi menunjukkan pengaruh positif likuiditas pada kinerja finansial (Arum, 2. , faktor lain seperti efisiensi aset mungkin memiliki pengaruh yang lebih besar (Yusuf et al. , 2. Berikut ini adalah perkembangan likuiditas dari PT Hanjaya Mandala Sampoerna. Tabel 1. Perkembangan Likuiditas No. Tahun Aset lancer Hutang lancar Current Ratio Kinerja Keuangan Sehat Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Pada tahun 2019 dan 2020. PT Hanjaya Mandala Sampoerna menunjukkan Current Ratio yang sehat dengan angka di atas 200%, mencerminkan likuiditas yang memadai untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Namun, antara 2021 hingga 2023. Current Ratio mengalami penurunan yang konsisten, bahkan mencapai angka 168% pada tahun 2022, yang mengindikasikan penurunan likuiditas dan performa finansial yang tidak JAEB. Vol. 14 No. Oktober 2025 Ita Noviana. Fauzan. Izza Luthfi Suryani Walaupun tetap di atas 100%, penurunan ini mencerminkan berkurangnya efektivitas manajemen dalam menangani aset dan kewajiban jangka pendek. Memiliki Current Ratio yang sehat adalah penting untuk menjamin likuiditas yang baik, namun penurunan ini menegaskan perlunya perbaikan dalam pengelolaan aset lancar untuk menghindari tantangan likuiditas dan mendukung perkembangan jangka panjang. Seringkali, solvabilitas disamakan dengan likuiditas, namun, sementara likuiditas berkisar pada kewajiban jangka pendek, solvabilitas memberikan perspektif yang lebih luas mengenai stabilitas finansial dalam rentang waktu yang panjang. Keterkaitan antara solvabilitas dan performa finansial memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan investasi serta stabilitas perusahaan. Penelitian mengungkapkan bahwa tingkat solvabilitas yang tinggi berkaitan dengan kinerja yang lebih baik, contohnya pada ROA dan ROE (Bawono et al. , 2. Namun, dalam sektor perbankan, beban utang yang berlebihan dapat menurunkan efisiensi operasional dan kinerja keuangan (Chairunnisa & Lestari, 2. Perusahaan yang memiliki solvabilitas yang kuat umumnya memiliki risiko yang lebih rendah, sehingga meningkatkan pengembalian saham dan menarik lebih banyak investor (Kusuma & Mahroji, 2. Berikut adalah data perkembangan likuiditas PT Hanjaya Mandala Sampoerna. Tabel 2. Perkembangan Likuiditas No. Tahun Total Hutang Total Asset Debt to Assets Ratio Kinerja Keuangan Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Pada tahun 2019, rasio utang perusahaan PT Hanjaya Mandala Sampoerna berada dalam kondisi baik di angka 30%, yang mencerminkan pendekatan keuangan yang berhati-hati. Namun, dari tahun 2020 hingga 2023, rasio utang terhadap aset mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai 45% pada tahun 2021, 49% pada tahun 2022, sebelum sedikit menurun menjadi 46% pada tahun 2023. Peningkatan ini menunjukkan adanya ketergantungan yang lebih besar terhadap pinjaman, yang berpotensi mengurangi stabilitas finansial dan meningkatkan risiko keuangan, mengakibatkan penurunan fleksibilitas dan kinerja keuangan, sehingga periode 2020 hingga 2023 dianggap "Kurang Sehat". Profitabilitas menunjukkan seberapa efektif suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan berdasarkan sumber dayanya, meliputi indikator seperti pengembalian investasi dan margin laba yang mencerminkan efisiensi operasional serta pengambilan keputusan manajerial (Mutmainnah et al. , 2. Profitabilitas dapat mempengaruhi kinerja keuangan dengan memperkuat hubungan antara efisiensi operasional, pertumbuhan penjualan, dan struktur modal (Afifah & Maretha Ika Prajawati, 2. Selain itu, juga berfungsi sebagai penghubung dalam hubungan antara solvabilitas, perputaran aset, dan kinerja keuangan (Sunhaji et al. , serta berdampak pada nilai saham (Aswad et al. , 2. Walaupun profitabilitas memiliki peranan penting, faktor lain seperti likuiditas dan leverage dapat memberikan dampak buruk, yang membutuhkan analisis mendetail dalam menilai kinerja keuangan Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 (Hapsari, 2. Nilai ROA yang lebih tinggi menandakan kemampuan perusahaan yang lebih baik dalam memperoleh laba dari aset yang dimilikinya. Rasio ini mencerminkan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan sumber daya untuk meraih Berikut adalah data mengenai perkembangan profitabilitas PT Hanjaya Mandala Sampoerna (Tb. dalam lima tahun terakhir. Tabel 3. Perkembangan Profitabilitas No. Tahun Laba Setelah Pajak Total Aset ROA Kinerja Keuangan Kurang Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Kurang Sehat Tabel ini menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk mengalami penurunan profitabilitas. Walaupun terdapat sedikit perbaikan pada tahun 2023, namun kondisi keuangan perusahaan dianggap "tidak sehat" disebabkan oleh rendahnya ROA. Hal ni menunjukkan bahwa perusahaan perlu melakukan tinjauan dan perbaikan dalam pemanfaatan asetnya untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas di masa depan. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan Kinerja keuangan merupakan indikator krusial untuk menilai keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan finansial. Hal ini mencerminkan efektivitas dan efisiensi manajemen dalam mengelola sumber daya keuangan untuk mencapai hasil optimal dalam profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas. Menurut Amaliah & Candra, . , kinerja keuangan adalah upaya formal untuk mengevaluasi efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dan mengelola posisi kas, yang dapat memberikan gambaran mengenai prospek pertumbuhan berdasarkan sumber daya yang ada (Suryani, 2. Febi Sahriani Harahap et al. , . menambahkan bahwa kinerja perusahaan mencakup analisis kepatuhan terhadap aturan yang ada, terutama dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi. Sihombing. , & Asmara, . menyatakan bahwa kinerja keuangan adalah hasil yang dicapai manajemen dalam pengelolaan aset secara efektif. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan meliputi pencapaian manajemen dalam mengelola dana dan aset sesuai dengan standar yang berlaku, serta upaya perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya dalam jangka panjang (Putri et al. , 2. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas adalah alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Rasio ini mencerminkan seberapa mudah perusahaan dapat mengonversi aset lancarnya menjadi kas untuk membayar utang (Sianturi et al. , 2. Rasio likuiditas merupakan rasio yang sangat penting untuk menganalisis keuangan perusahaan dimana semakin JAEB. Vol. 14 No. Oktober 2025 Ita Noviana. Fauzan. Izza Luthfi Suryani besar rasio likuiditas mencerminkan perusahaan mampu untuk melunasi kewajiban jangka pendek, namun jika rasio likuiditas rendah maka hal ini mengindikasikan potensi masalah dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Fortuna et al. , 2. Terdapat tiga jenis utama rasio likuiditas: Current Ratio. Quick Ratio, dan Cash Ratio, yang masing-masing memberikan gambaran berbeda mengenai likuiditas perusahaan dan kemampuannya dalam menghadapi kewajiban keuangan jangka pendek (Dewi et al. Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas adalah alat yang digunakan untuk mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai dengan utang serta kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh utangnya menggunakan aset yang dimilikinya. Rasio ini memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjang, terutama jika perusahaan dilikuidasi. Menurut Bawono et al. , . , perusahaan dengan rasio solvabilitas tinggi berisiko lebih besar karena sebagian besar asetnya dibiayai dengan Perusahaan dianggap solvable jika memiliki cukup aset untuk melunasi seluruh utangnya, sedangkan perusahaan yang tidak mampu melunasi utangnya dapat dianggap bangkrut (Hasbudin et al. , 2. Jenis-jenis rasio solvabilitas yang umum digunakan meliputi Debt to Total Assets Ratio. Debt to Equity Ratio, dan Long-Term Debt to Equity Ratio, yang masing-masing memberikan wawasan berbeda mengenai ketergantungan perusahaan pada utang dan risiko keuangan yang dihadapi (Azhar et , 2. Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas adalah ukuran yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba terkait dengan penjualan, aset, atau modal yang Rasio ini penting untuk mengevaluasi efektivitas manajemen dalam mengelola sumber daya guna menghasilkan laba, dimana semakin tinggi rasio profitabilitas, semakin baik kinerja keuangan perusahaan (Bawono et al. , 2. Rasio ini menunjukkan seberapa besar laba yang dihasilkan dalam periode tertentu dan memberikan gambaran tentang efektivitas operasional manajemen (Fitriana et al. , 2. Beberapa jenis rasio profitabilitas yang umum digunakan meliputi Net Profit Margin, yang mengukur laba bersih dari setiap unit penjualan. Gross Profit Margin, yang menunjukkan efisiensi dalam mengelola biaya pokok penjualan. dan Return on Assets (ROA), yang menilai efektivitas penggunaan aset dalam menghasilkan laba (Atika et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif untuk mengeksplorasi pengaruh dari rasio likuiditas, solvabilitas, serta profitabilitas terhadap kinerja finansial PT Hanjaya Mandala Sampoerna (Tb. Fokus utama dari riset ini adalah untuk mengkaji bagaimana masing-masing rasio berdampak pada Return on Equity (ROE). Data sekunder diperoleh dari laporan tahunan yang tersedia secara online, sedangkan data primer dikumpulkan melalui sesi wawancara. Teknik analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif, regresi linier berganda, serta pengujian statistik seperti normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas (Arikunto, 2. Model regresi dimanfaatkan untuk mengidentifikasi dampak dari rasio-rasio tersebut, sementara uji t Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 dan uji F berfungsi untuk menilai signifikan tidaknya pengaruh baik secara individual maupun kolektif (Sugiyono, 2. Koefisien determinasi (RA) digunakan untuk mengevaluasi kontribusi variabel independen dalam menjelaskan variasi kinerja finansial (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Rasio lancar adalah perbandingan antara aset yang dimilki dan kewajiban jangka Tingginya rasio cepat menunjukkan bahwa pemberi pinjaman jangka pendek akan merasa lebih aman, karena hal ini menggambarkan kemampuan perusahaan mampu untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya. Perhitungan rasio lancar untuk PT HM Sampoerna. Tbk ditunjukkan di bawah ini, berdasarkan penelitian dari tahun 2019 hingga 2023. Tabel 4. Perhitungan Rasio Lancar TW / TAHUN i 3,4373 2,5605 2,6660 4,3020 3,0673 3,0673 2,8004 2,7326 3,2761 2,4850 2,6348 2,4541 3,6061 2,2227 2,1065 1,8814 1,7966 1,9669 1,8812 1,6851 Data Rasio Lancar dari tahun 2019 hingga 2023 menunjukkan adanya penurunan secara berkelanjutan, yang mencerminkan adanya tekanan likuiditas yang terus dialami Pada tahun 2019, likuiditas berada dalam kondisi yang sangat baik, dengan nilai tertinggi yang tercatat pada TW IV . ,3. dan rata-ratanya jauh lebih tinggi dari angka 2, menandakan pengelolaan kewajiban jangka pendek yang sangat efisien. tahun 2020, nilai Rasio Lancar tetap cukup stabil meskipun mengalami sedikit penurunan, dengan nilai tertinggi pada TW I . ,0. Penurunan yang lebih signifikan terjadi pada tahun 2021, dimana nilai tertinggi teramati pada TW I . ,2. , sementara triwulan lainnya menjunjukkan penurunan, terutama pada TW IV . ,4. Di tahun 2022, penurunan semakin tajam dengan nilai tertinggi hanya tercatat pada TW I . ,6. , sedangkan triwulan lainnya, terutama TW IV . ,8. , menunjukkan adanya tantangan likuiditas yang lebih mendalam. Pola ini terus berlanjut di tahun 2023, dimana setiap triwulan mencatat nilai Rasio Lancar di bawah 2, dengan nilai terendah pada TW IV . ,6. Secara umum, pola ini mencerminkan adanya peningkatan dalam tekanan untuk mengelola aset yang mudah dicairkan dan juga utang jangka pendek. Untuk mengatasi kondisi ini, perusahaan perlu merumuskan strategi untuk meningkatkan aset lancar, misalnya dengan mengelola persediaan secara lebih efektif, mempercepat penagihan piutang, atau mengurangi utang jangka pendek, agar dapat menjaga stabilitas likuiditas. Rasio Utang terhadap Aset (DAR) berfungsi sebagai indikator keuangan yang mengevaluasi sejauh mana aset perusahaan dibiayai dengan utang. DAR adalah salah satu alat yang digunakan untuk menilai tingkat kemampuan bayar jangka panjang perusahaan, yaitu seberapa baik perusahaan bisa memenuhi kewajiban jangka JAEB. Vol. 14 No. Oktober 2025 Ita Noviana. Fauzan. Izza Luthfi Suryani Tabel 5. Rasio Utang terhadap Aset (DAR) TW / TAHUN i 0,2894 0,3683 0,3605 0,2413 0,3168 0,4158 0,2988 0,3343 0,2405 0,5783 0,3595 0,3912 0,2847 0,4203 0,4392 0,4502 0,4798 0,4157 0,4412 0,4858 Rasio Utang terhadap Aset (DAR) mencerminkan perbandingan antara total utang dan total aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Ketika angka DAR naik, hal ini menandakan bahwa perusahaan semakin bergantung pada utang untuk mendanai aset, yang bisa menunjukkan adanya potensi risiko keuangan yang lebih tinggi. Pada tahun 2019. DAR menunjukkan angka yang cukup rendah dengan rata-rata di bawah 0,4, yang menandakan bahwa struktur pendanaannya lebih banyak bergantung pada ekuitas dibandingkan utang. Nilai terendah terdaftar pada TW IV . ,2. , sedangkan nilai tertinggi tercatat di TW II . ,3. Tahun itu menggambarkan adanya kebijakan manajemen utang yang hati-hati. Memasuki tahun 2020, terjadi peningkatan pada DAR hampir di seluruh kuartal, dengan puncaknya tercatat pada TW II . ,4. Meskipun kuartal lain, seperti TW i . ,2. , tetap dalam batas yang wajar, namun tren kenaikannya menunjukkan adanya peningkatan dalam penggunaan utang. Di tahun 2021, nilai DAR mencapai angka tertinggi di TW II . ,5. , yang merupakan level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ini menunjukkan adanya kenaikan signifikan dalam penggunaan utang perusahaan untuk mendanai aset. Kuartal lain, seperti TW I . ,2. , masih memperlihatkan angka yang lebih rendah, namun secara keseluruhan, tahun ini menandakan peningkatan risiko finansial. Tahun 2022 menunjukkan nilai DAR yang cukup konsisten, dengan angka tertinggi tercatat pada TW IV . ,4. dan terendah di TW I . ,2. Meskipun nilai ini masih di bawah puncak tahun 2021, pemanfaatan utang tetap menunjukkan angka yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, terjadi peningkatan yang signifikan pada DAR di setiap kuartal, dengan nilai puncak di TW IV . ,4. Lonjakan yang mencolok ini mencerminkan adanya ketergantungan yang lebih besar dari perusahaan terhadap utang dibandingkan tahun-tahun lalu, yang menandakan adanya peningkatan risiko dalam aspek finansial. Margin Laba Bersih atau Net Profit Margin (NPM) adalah salah satu indikator kinerja keuangan yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari setiap unit pendapatan yang diraih. Rasio ini menunjukkan seberapa besar proporsi pendapatan yang berhasil diubah menjadi keuntungan setelah mengurangi semua biaya operasional, bunga, pajak, dan pengeluaran lainnya. Rasio ini memiliki peran penting bagi para pemangku kepentingan, termasuk manajer, investor, dan peminjam, karena mencerminkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola biaya serta menunjukkan tingkat Margin Laba Bersih atau Net Profit Margin (NPM) yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan mampu mengontrol biaya operasional dengan baik dan mampu menghasilkan laba yang lebih besar. Sebaliknya. Margin Laba Bersih atau Net Profit Margin (NPM) yang rendah mengindikasikan adanya masalah dalam Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 efisiensi atau tekanan pada biaya yang mengurangi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Tabel 6. Net Profit Margin (NPM) TW / TAHUN i 0,3024 0,2185 0,2597 0,4775 0,3208 0,2293 0,4340 0,2811 0,3314 0,2410 0,2070 0,1197 0,2849 0,1961 0,1745 0,0965 0,2237 0,1377 0,1889 0,0748 Data Margin Laba Bersih atau Net Profit Margin (NPM) untuk PT HM. Sampoerna Tbk antara tahun 2019 hingga 2023 menunjukkan variasi yang signifikan, mencerminkan perubahan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih dari pendapatan yang diperoleh. Pada tahun 2019. NPM berada ditingkat yang cukup baik, dengan puncak tertinggi tercatat pada TW IV . ,4. , yang menunjukkan kapasitas perusahaan untuk menghasilkan laba bersih yang tinggi di triwulan terakhir tahun itu. Nilai lainnya, seperti pada TW I . ,3. , menunjukkan NPM yang cenderung stabil namun pada level yang lebih rendah. Secara keseluruhan, tahun 2019 menunjukkan hasil profitabilitas yang memuaskan. Selama tahun 2020, meskipun terjadi sedikit penurunan pada TW IV . ,2. , perusahaan masih mampu mempertahankan NPM yang tergolong baik di triwulan lainnya, misalnya TW I . ,3. Meskipun tahun ini didera tekanan akibat pandemi Covid-19, perusahaan berhasil menjaga margin keuntungan tetap positif, walaupun mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2021. NPM mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di TW i . ,4. , perusahaan mencapai hasil optimal dalam hal profitabilitas, tetapi TW IV . ,1. menunjukkan penurunan yang tajam, mencerminkan berbagai tantangan yang dihadapi di akhir tahun itu. Nilai lainnya, contohnya pada TW I . ,3. , tetap menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Tahun 2022 mencatat penurunan yang terus menerus pada NPM, dengan puncak tertinggi berada di TW I . ,2. dan penurunan besar terjadi di TW IV . ,0. Hal ini menunjukkan adanya tekanan pada aspek profitabilitas perusahaan, kemungkinan disebabkan oleh peningkatan biaya atau pengeluaran yang tidak sepenuhnya sebanding dengan pendapatan yang meningkat. Pada tahun 2023, tren penurunan NPM semakin nyata, dengan nilai terendah tercatat di TW IV . ,0. Penurunan konsisten ini mengindikasikan tantangan yang lebih besar dalam mempertahankan margin keuntungan yang sehat, kemungkinan diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal seperti persaingan yang ketat, fluktuasi biaya bahan baku, atau kenaikan biaya operasional. Rasio Utang terhadap EBITDA (Utang terhadap Laba Sebelum Bunga. Pajak. Depresiasi, dan Amortisas. merupakan salah satu alat ukur keuangan yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban utangnya berdasarkan laba yang dihasilkan sebelum dikurangi biaya bunga, pajak, depresiasi, dan Rasio ini memberi gambaran tentang seberapa besar perusahaan bergantung pada utang untuk mendukung operasionalnya dan seberapa kokoh kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasional guna menunaikan kewajiban JAEB. Vol. 14 No. Oktober 2025 Ita Noviana. Fauzan. Izza Luthfi Suryani Semakin rendah rasio ini, semakin baik posisi keuangan perusahaan, karena menunjukkan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak kemampuan untuk membayar utangnya menggunakan laba operasional yang dihasilkan. Uji Normalitas Uji normalitas merupakan teknik statistik yang diterapkan untuk menilai apakah data atau residual dalam analisis regresi mengikuti pola distribusi normal. Memastikan normalitas data adalah salah satu syarat fundamental yang harus dipenuhi dalam berbagai metode statistik, termasuk analisis regresi dan pengujian parametrik, agar hasil analisis mampu dianggap valid dan dapat dimaknai dengan tepat (Ghasemi & Zahediasl, 2. Tabel 7. Uji Normalitas Keterangan Nilai Jumlah Sampel (N) Mean K-S Statistic Sig. -taile. Sumber: Olah data 2024 Berdasarkan analisis normalitas yang dilakukan dengan metode KolmogorovSmirnov, didapatkan nilai 0,200. Angka ini melebihi tingkat signifikansi 0,05 yang menyimpulkan bahwa residual memiliki distribusi normal. Ini menandakan bahwa yang diterapkan telah satu prinsip klasik, yaitu prinsip normalitas. Dengan terpenuhinya ketentuan ini, regresi siap untuk dipakai dalam pengujian hipotesis berikutnya. Uji Heteroskedastisitas Uji Glejser adalah salah satu teknik yang diterapkan untuk mengidentifikasi tanda-tanda heteroskedastisitas dalam model regresi. Proses pengujian ini dilakukan dengan cara meregresikan nilai mutlak dari residual (Abs_Re. terhadap variabel independen yang terlibat dalam model. Apabila p-value dari setiap variabel independen melebihi 0,05, maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada indikasi heteroskedastisitas dalam model tersebut. Tabel 7. Uji Heteroskedastisitas Variabel Independen Koefisien (B) Std. Error t Hitung Sig. -valu. (Konstant. Likuiditas Solvabilitas Profitabilitas Sumber: Olah data 2024 Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 Berdasarkan Glejser heteroskedastisitas, nilai signifikansi untuk seluruh variabel independen, yakni Likuiditas . Solvabilitas . , dan Profitabilitas . , semuanya berada di atas 0,05. Ini mengindikasikan bahwa tidak ada tanda-tanda heteroskedastisitas dalam model regresi tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa varians residual konsisten di berbagai tingkat variabel independen, yang menunjukkan bahwa model regresi yang diterapkan tidak menghadapi masalah heteroskedastisitas. Uji Multikolinieritas Untuk mengidentifikasi adanya multikolinearitas dalam model regresi, kita dapat melakukan analisis dengan mengevaluasi angka toleransi dan Faktor Inflasi Varians (VIF). Kriteria uji untuk menetapkan apakah multikolinearitas ada atau tidak adalah sebagai berikut: Apabila angka toleransi kurang dari 0,10 dan VIF lebih dari 10, maka multikolinearitas ada dalam model regresi. Apabila angka toleransi lebih dari 0,10 dan VIF kurang dari 10, maka model regresi tidak menunjukkan adanya multikolinearitas. Tabel 8. Uji Multikolinieritas Variabel Independen Tolerance VIF Likuiditas Solvabilitas Profitabilitas Sumber: Olah data 2024 Berdasarkan evaluasi terhadap multikolinearitas, nilai Tolerance untuk semua variabel independen (Likuiditas. Solvabilitas, dan Profitabilita. berada di atas 0,1, sedangkan nilai VIF (Variance Inflation Facto. untuk setiap variabel di bawah 10. Ini menandakan bahwa tidak ada isu multikolinearitas yang signifikan dalam model regresi Oleh karena itu, variabel-variabel independen di dalam model ini tidak memiliki korelasi linier yang tinggi satu sama lain, yang memungkinkan proses analisis regresi berjalan lancar dan memberikan estimasi yang akurat. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk mengevaluasi apakah model regresi bisa berfungsi sebagai alat prediksi yang efektif. Model regresi yang ideal seharusnya bebas dari masalah autokorelasi. Salah satu metode untuk mengidentifikasi adanya autokorelasi adalah dengan menerapkan uji Durbin-Watson (DW). Berikut adalah kriteria evaluasi berdasarkan skor DW: Jika skor DW di bawah -2 (DW < -. , maka terdapat indikasi autokorelasi positif. Apabila skor DW berada dalam rentang -2 hingga 2 (-2 O DW O . , maka tidak ada masalah autokorelasi. JAEB. Vol. 14 No. Oktober 2025 Ita Noviana. Fauzan. Izza Luthfi Suryani Tabel 9. Uji Autokorelasi Model Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate DurbinWatson Sumber: Olah data 2024 Berdasarkan data output di atas, tampak bahwa nilai DW berada antara -2 dan 2, dengan demikain dapat disimpulkan tidak terjadi gejala autokorelasi. Analisis Regresi Berganda Tabel 10. Analisis Regresi Berganda Variabel Independen (Konstant. Likuiditas Solvabilitas Profitabilitas Sig. Sumber: Olah data 2024 Berdasarkan hasil dari analisis regresi yang terdapat dalam tabel 10, persamaan regresi linear dapat dinyatakan sebagai berikut: Y = 0. 047 X1 0. 121 X2 0. X3, di mana Y merepresentasikan Kinerja Keuangan. X1 menggambarkan Likuiditas. X2 mewakili Solvabilitas, dan X3 menunjukkan Profitabilitas. Temuan analisis menunjukkan bahwa konstanta sebesar 0. 564 berarti bahwa, bila semua variabel independen (Likuiditas. Solvabilitas, dan Profitabilita. bernilai nol, maka Kinerja Keuangan diperkirakan berada di angka 0. Koefisien regresi untuk Likuiditas yang 047 menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu unit pada Likuiditas akan berkontribusi pada peningkatan Kinerja Keuangan. Dari hasil analisis regresi, didapatkan informasi sebagai berikut: Konstanta 0. 564 menunjukkan bahwa jika variabel-variabel independen seperti Likuiditas. Solvabilitas, dan Profitabilitas memiliki nilai nol, maka Kinerja Keuangan diperkirakan akan menjadi 0. 564, dan hasil ini signifikan dengan p-value 0. Koefisien untuk Likuiditas yang mencapai 0. menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu unit dalam Likuiditas akan berdampak pada peningkatan Kinerja Keuangan sebesar 0. 047, dengan p-value 0. 000 yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Selain itu. Solvabilitas memiliki koefisien 0. 121, yang menunjukkan bahwa setiap penambahan satu unit pada Solvabilitas akan meningkatkan Kinerja Keuangan sebesar 0. 121, dan hasil ini juga signifikan dengan pvalue 0. Terakhir, koefisien untuk Profitabilitas adalah 0. 081, yang berarti setiap kenaikan satu unit pada Profitabilitas akan berkontribusi pada peningkatan Kinerja Keuangan sebesar 0. 081, dengan p-value 0. 009 yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Secara keseluruhan, hasil analisis ini mengindikasikan bahwa Likuiditas. Solvabilitas, dan Profitabilitas secara keseluruhan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan, dimana Likuiditas memberikan pengaruh terbesar, diikuti oleh Solvabilitas dan Profitabilitas. Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 Uji Hipotesis Uji Goodnees of Fit (Uji F) Uji statistik F digunakan untuk menilai ketepatan model yang diimplementasikan dalam penelitian ini, sehingga dapat diterapkan pada fase analisis selanjutnya. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi = 0,05, dan kriteria pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut: a. Apabila nilai signifikansi < 0,05, maka model dianggap memenuhi syarat untuk melanjutkan ke tahapan pengujian Apabila nilai signifikansi > 0,05, maka model dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada tahapan pengujian berikutnya. Tabel 11. Uji Goodnees of Fit Model Sum of Squares Regression Residual Total Sumber: Olah data 2024 Mean Square Sig. Berdasarkan analisis F yang dilakukan melalui ANOVA, nilai F yang diperoleh 780 dengan tingkat signifikansi 0. -value < 0. , yang menunjukkan bahwa model regresi yang melibatkan variabel Likuiditas. Solvabilitas, dan Profitabilitas secara keseluruhan memiliki pengaruh signifikan dalam menjelaskan perubahan Kinerja Keuangan. Ini menunjukkan bahwa setidaknya ada satu variabel independen dalam model yang memiliki dampak signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi yang diterapkan dapat diterima dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemahaman terhadap Kinerja Keuangan. Uji T (Parsia. Berdasarkan hasil analisis t, setiap variabel bebas dalam model regresi menunjukkan dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Angka t untuk konstanta tercatat sebesar 32. 539 dengan nilai p 0. 000, menandakan bahwa konstanta memiliki dampak yang berarti. Selanjutnya, likuiditas tercatat memiliki koefisien 047 dengan nilai t 15. 317 dan p-value 0. 000, yang menunjukkan bahwa likuiditas memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Solvabilitas juga menunjukkan dampak yang signifikan dengan koefisien 0. 121, t = 3. 826, dan pvalue 0. 001, yang menunjukkan bahwa solvabilitas berperan penting dalam memengaruhi kinerja keuangan. Terakhir, profitabilitas menunjukkan dampak signifikan dengan koefisien 0. 081, t = 2. 977, dan p-value 0. 009, yang juga menunjukkan bahwa profitabilitas memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan. Semua nilai p untuk variabel bebas tersebut berada di bawah 0. 05, yang mencerminkan bahwa setiap variabel memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Uji Koefesien Determinasi Koefisien determinasi (RA) berfungsi untuk menilai sejauh mana pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Tingkat pengaruh ini diwakili oleh persentase nilai RA, yang berada dalam rentang 0 hingga 1. Apabila nilai RA hampir 0, itu JAEB. Vol. 14 No. Oktober 2025 Ita Noviana. Fauzan. Izza Luthfi Suryani berarti bahwa pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen sangat Sebaliknya, jika nilai RA mendekati 1, itu menunjukkan bahwa pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen semakin signifikan. Dengan kata lain. RA mencerminkan seberapa efektif variabel independen dapat menjelaskan perbedaan pada variabel dependen. Berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi (RA), nilai RA yang mencapai 0,684 menunjukkan bahwa lebih kurang 68,4% perubahan dalam variabel Kinerja Keuangan dapat dijelaskan oleh variabel independen, yang meliputi Profitabilitas. Solvabilitas, dan Likuiditas. Di sisi lain, nilai Adjusted RA sebesar 0,625 menunjukkan bahwa model regresi yang diterapkan cukup efektif dalam mengilustrasikan hubungan antara variabel independen dan dependen setelah mempertimbangkan jumlah prediktor yang ada dalam analisis. Hasil dari penelitian ini menjustifikasi beberapa penelitian yang telah dilakukan Pertama, penelitian oleh Febriyanti et al. , . Studi ini mengeksplorasi dampak dari beberapa variabel, seperti rasio likuiditas, rasio utang terhadap ekuitas, rasio perputaran aset total, rasio utang terhadap total aset, serta pengaruh inflasi terhadap kinerja finansial. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa likuiditas memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan, meskipun ada perbedaan yang mencolok antara rasio likuiditas dan rasio utang terhadap total aset yang menunjukkan pengaruh negatif dan tidak signifikan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya efisiensi penggunaan aset dan dampak inflasi terhadap performa keuangan, yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menganalisis variabel lain yang tidak dibahas di studi ini, seperti profitabilitas. Kedua, penelitian oleh Warisi. Darwin, dan Kurniawan. Riski . Penelitian ini mengkaji dampak dari likuiditas, solvabilitas, dan efisiensi terhadap kinerja keuangan pada lembaga perbankan konvensional. Temuan menunjukkan bahwa likuiditas dan solvabilitas berdampak negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, sedangkan efisiensi memberikan pengaruh signifikan namun juga negatif. Hal ini berbeda dengan hasil dari studi ini, dimana likuiditas dan solvabilitas justru menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Ketiga, penelitian oleh Handayani & Aulia, . Studi ini menyelidiki pengaruh profitabilitas dan aktivitas terhadap kinerja finansial perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil dari analisis menunjukkan bahwa profitabilitas memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap performa keuangan, dan sejalan dengan temuan penelitian ini. Keempat, penelitian oleh Agnesia & Situngkir, . Studi ini berfokus pada pengaruh rasio ROA dan ROE terhadap kinerja keuangan PT. Bank Negara Indonesia Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis Analisis Kinerja Keuangan pada PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk Tahun 2019-2023 (BNI) dalam rentang waktu 2017-2021. Hasil analisis mengindikasikan bahwa rasio ROA dan ROE menunjukkan fluktuasi, dengan nilai rata-rata yang tidak memuaskan jika dibandingkan dengan standar industri. Meskipun rasio keuangan yang dibahas dalam penelitian ini berbeda (ROA dan ROE), hasilnya memberikan wawasan yang relevan mengenai pentingnya indikator keuangan dalam menilai kinerja perusahaan. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan, dengan koefisien 0,047 dan p-value 0,000, hal ini menunjukkan bahwa peningkatan likuiditas akan memberikan efek positif pada kinerja finansial perusahaan. Selain itu, solvabilitas juga menunjukkan pengaruh signifikan, dengan koefisien 0,121 dan p-value 0,001, yang mengindikasikan bahwa pengelolaan utang dan modal yang efisien berperan positif terhadap kinerja keuangan. Profitabilitas memiliki pengaruh signifikan dengan koefisien 0,081 dan p-value 0,009, menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas tinggi biasanya menunjukkan kinerja finansial yang uji f menunjukkan bahwa model regresi yang melibatkan ketiga variabel tersebut secara keseluruhan signifikan dalam menjelaskan variasi kinerja keuangan, dengan pvalue 0,000. Nilai RA yang mencapai 0,684 menunjukkan bahwa sekitar 68,4% variasi kinerja keuangan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen yang dianalisis dalam penelitian ini, menegaskan efektivitas model regresi yang digunakan. DAFTAR PUSTAKA