STUDI KOMPARATIF SENAM KAKI DAN SENAM KEBUGARAN DIABETES TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU LANSIA DI SLEMAN YOGYAKARTA Nimsi Melati1. Charolina Merlinda I2 STIKES Bethesda Yakkum Jl. Johar Nurhadi No. 6 Yogyakarta 524565 Email: nimsi@stikesbethesda. ABSTRAK Latar Belakang: Tantangan kesehatan utama saat ini adalah penyakit tidak menular, seperti diabetes mellitus (DM). Tahun 2014 jumlah penderita DM di dunia sebanyak 194 juta jiwa. Penderita yang tidak mampu mengontrol penyakit DM dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Pengelolaan dan pencegahan komplikasi DM memerlukan 4 pilar, salah satunya adalah olahraga seperti senam. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan senam kaki dan senam kebugaran diabetes terhadap kadar glukosa darah sewaktu lansia di Sleman Yogyakarta 2017. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental two group pre-post test time series. Teknik sampling menggunakan purposive sampling sebanyak 34 responden, 17 responden senam kaki dan 17 responden senam kebugaran diabetes. Analisis data menggunakan uji General Linier Model Repeated Measures (GLM-RM). Hasil: Hasil uji GLM-RM kelompok senam kaki p= 0,008 . <0,. dan kelompok senam kebugaran diabetes p= 0,003 . <0,. , artinya kedua perlakuan berpengaruh terhadap kadar glukosa darah sewaktu lansia. Hasil komparatibilitas GLMRM p= 0,312 . >0,. hal ini menunjukkan bahwa kedua perlakuan tidak memiliki perbedaan terhadap kadar glukosa darah sewaktu. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukan tidak terdapat perbedaan senam kaki dan senam kebugaran diabetes terhadap kadar glukosa darah sewaktu lansia. Saran: Bagi penelitian selanjutnya senam dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih lama untuk mengukur sensitivitas kaki, sensitivitas insulin, dan risiko terjadinya ulkus. Kata kunci : Senam Kaki - Senam Kebugaran Diabetes - Kadar Glukosa Darah Sewaktu. ABSTRACT Background: The current major health challenges are non-communicable diseases such as diabetes mellitus (DM). In 2014 there were 194 million DM patients. Patients who are unable to control the DM can cause various complications. Restraint and prevention of DM complications requires four pillars, one of them is sports like gymnastic. Objective: To know the difference between foot gymnastic and diabetic fitness gymnastic to in time blood glucose level of elderly in Sleman Yogyakarta in 2017. Methode: This was a quasi experimental research with two group pre-post test. There was 34 respondents taken with purposive sampling techique, 17 respondents for foot gymnastic and 17 respondents for diabetic fitness gymnastic. Data analysis used General Linier Model Repeated Measures (GLM-RM). Result: The test result of GLMRM group foot gymnastic p= 0,008 . <0,. and group diabetic fitness gymnastic p= 0,008 . <0,. , it means the two treatments have effect to in time blood glucose level of elderly. The results comparatibilitas GLM-RM p= 0,312 . >0,. , it means the two treatment do not have any different effect to in time blood glucose level. Conclusion: The result shows no difference between foot gymnastic and diabetic fitness gymnastic to in time blood glucose level of elderly. Suggestion: For further research the gymnastic can do with a longer frequency to measure foot sensitivity, insulin sensitivity, and risk of ulcers. Keywords: Foot Gymnastic - Diabetic Fitness Gymnastic - In Time Blood Glucose Level. Jurnal Kesehatan. Volume 5. Nomor 1. Juli 2017, hal 41-46 PENDAHULUAN Tingkat keberhasilan suatu negara dilihat dari Angka Harapan Hidup (AHH). Peningkatan AHH berdampak pada peningkatan jumlah lanjut usia . Tantangan kesehatan utama bagi lansia adalah penyakit tidak menular, salah satunya Diabetes mellitus (DM). Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukan bahwa jumlah penderita DM sebanyak 194 juta jiwa . ,1%) dan jumlah kematian akibat DM sebanyak 3,2 juta jiwa. Jumlah penderita DM di Indonesia tahun 2013 sebanyak 14 juta jiwa dan hanya 30% yang berobat secara teratur. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan usia, yaitu pada usia 45-54 sebesar 9,70%, usia 55-64 tahun sebesar 11,10%, dan usia 65-74 tahun sebesar 13,20%. Data Riskesdas tahun 2013, menunjukan bahwa provinsi D. I Yogyakarta menduduki urutan keenam dengan prevalensi Data Dinas Kesehatan kabupaten Sleman tahun 2013 Angka kejadian DM pada lansia di Kabupaten Sleman tahun 2012 sejumlah 630 kasus. DM yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Pengelolaan dan pencegahan komplikasi DM memerlukan empat pilar utama yang salah satunya yaitu olahraga. Olahraga secara dapat menurunkan kadar glukosa Berbagai olahraga yang dapat dilakukan berdasarkan prinsip Continous. Rhytmical. Interval. Progressive, dan Endurance (CRIPE) yang salah satunya adalah senam. Senam yang dapat dilakukan oleh penderita DM adalah senam kaki dan senam kebugaran Hasil wawancara yang dilaksanakan pada studi awal 14 Oktober 2016, terdapat tujuh penderita umumnya menjawab DM terjadi karena mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis serta kurang olahraga atau kurang gerak aktivitas. Tujuh penderita tersebut, empat orang sudah pernah melakukan senam kaki dan dua orang menyatakan tidak melakukan senam kaki, dua orang melakukan senam kebugaran diabetes dan orang mengatakan tidak melakukan senam kebugaran diabetes, sesuai data tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuStudi Komparatif Senam Kaki dan Senam Kebugaran Diabetes terhadap Kadar Glukosa Darah Sewaktu Lansia di Sleman Yogyakarta 2017Ay. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian QuasiEksperimen dengan rancangan two group pre-test dan post-test time series design, dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik I Sleman, di balai RT 05/RW 01 kelurahan Minomartani dan balai posyandu Plosokuning dari tanggal 21, 23, dan 25 Mei tahun 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia usia 45 - 69 tahun yang menderita DM tipe II di Puskesmas Ngaglik I Sleman dengan jumlah 135 lansia. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling sebanyak 34 responden. Pembagian sampel menjadi dua kelompok menggunakan teknik random sampling. Alat ukur penelitian standart operasional procedure senam kaki dan senam kebugaran diabetes, serta set Analisis data dalam penelitian ini menggunakan General Linier Model Repeated Measures. tahun tahun yang yang menderita menderita DM DM tipe tipe II II di DMDM tipe tipe II di II di Puskesmas Puskesmas Ngaglik Ngaglik II Sleman Sleman dengan Puskesmas Puskesmas Ngaglik Ngaglik I Sleman I Sleman 135 lansia. Teknik Teknik pengambilan Teknik Teknik Analisis Analisis data data dalam dalam penelitian penelitian ini Analisis Analisisdatadatadalam penelitianini ini menggunakan General General Linier Linier Model Model menggunakanGeneral GeneralLinier LinierModel Model Repeated Repeated Measures. Measures. Repeated Repeated Measures. Measures. Nimsi Melati. Charolina Merlinda I. Studi Komparatif Senam Kaki dan Senam Kebugaran Diabetes . HASIL HASIL DAN DAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN HASIL HASIL DAN DAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil Hasil Hasil Analisis Analisis univariat Analisis Analisis Tabel 1. Tabel Tabel 1. Distribusi Distribusi Frekuensi Frekuensi Berdasarkan Berdasarkan Karakteristik Karakteristik dan dan Analisa Analisa Nilai Nilai RataRataTabel Tabel Rata Distribusi Distribusi Frekuensi Frekuensi Berdasarkan Berdasarkan Karakteristik Karakteristik dan dan Analisa Analisa NilaiNilai RataRataKadar GDS Responden Berdasarkan Usia Lansia Wilayah Kerja Rata Kadar GDS Responden Berdasarkan Usia Lansia di Wilayah Kerja RataRata Kadar Kadar GDSGDS Responden Responden Berdasarkan Berdasarkan Usia Usia Lansia Lansia Wilayah Wilayah Kerja Kerja Puskesmas Puskesmas Ngaglik Ngaglik II Sleman Sleman 2017 Puskesmas Puskesmas Ngaglik Ngaglik I Sleman I Sleman Variabel Variabel Variabel Variabel Kelompok Kelompok Senam Senam Kelompok Kelompok Senam Senam Kaki Kaki KakiKaki Frekuensi Frekuensi Frekuensi Frekuensi Usia Usia Usia Usia 45-49 tahun 50-54 tahun 11,811,8 55-59 tahun 11,835,3 60-64 tahun 35,329,4 65-69 tahun 29,429,4 Total Total Total Total Jenis Jenis kelamin JenisJenis Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan 58,8100 Total Total TotalTotal Lama Lama Menderita Menderita Lama Lama Menderita Menderita 1-5 tahun 47,135,3 1-5 6-10 1-5 tahun 6-10 tahun 35,317,6 6-1011-15 11-15 tahun 17,617,6 3 311-15 ->16 >16 tahun - 100 - 17 >16 >16 Total Total TotalTotalKadar GDS Nilai Rata-Rata Nilai Rata-Rata Kadar GDS NilaiNilai Rata-Rata Rata-Rata Kadar Kadar GDSGDS Sebelum Sebelum Senam Senam Sebelum Sebelum Senam Senam >200 mg/dl >200 mg/dl >200 >200 mg/dl mg/dl 29,470,6 mg/dl 90-199 mg/dl mg/dl mg/dl 70,670,6 -<90 mg/dl <90 mg/dl - 100 - 17 <90 <90 mg/dl mg/dl Total Total Nilai Rata-Rata TotalTotalKadar GDS Nilai Rata-Rata Kadar GDS Sesudah Senam Sesudah Senam >200 mg/dl >200 mg/dl mg/dl mg/dl <90 mg/dl <90 mg/dl Total Total Sumber: Data primer terolah, 2017. Sumber: Data primer terolah, 2017. Kelompok Kelompok Senam Senam Kelompok Kelompok Senam Senam Kebugaran Kebugaran Diabetes Diabetes Kebugaran Kebugaran Diabetes Diabetes Frekuensi Frekuensi Frekuensi Frekuensi % % 11,811,8 11,817,6 17,635,3 35,323,5 23,523,5 41,241,2 58,858,8 41,241,2 41,217,6 3 317,617,6 -- 17 - 100 47,152,9 47,1 52 52,9 52 52,952,9 -- 100 9 9- 17 Analisis Bivariat Analisis Bivariat . Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Shapiro WilkAos. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Shapiro WilkAos. Tabel 2 Tabel 2 Nilai p Variabel Variabel Nilai pengukuran kelompok senam Nilai pengukuran kelompok senam Nilai pengukuran senam kelompok Nilai diabetessenam kelompok kebugaran diabetes Sumber: Data primer terolah, 2017. Sumber: Data primer terolah, 2017. Uji Homogenitas . Uji Homogenitas Nilai Sesudah Sebelum Sebelum Sesudah 0,335 0,591 0,335 0,591 0,782 0,405 0,782 0,405 Keterangan Keterangan Normal Normal Normal Normal 0,782 Nilai pengukuran senam kelompok Nilaikebugaran Nilai kelompok 0,7820,782 0,405 Normal 0,4050,405 Normal Normal Sumber: Data primer terolah, 2017. Sumber: Sumber: DataData Jurnal Kesehatan. Volume 5. Nomor 1. Juli 2017, hal 41-46 . Uji Homogenitas . Uji . Homogenitas Uji Homogenitas Uji homogenitas data sebelum dan sesudah perlakuan digunakan LaveneAos test. Uji Uji dan dan LaveneAos LaveneAos Tabel 3 Tabel Variabel Tabel Nilai p Keterangan Variabel NilaiNilai p pKeterangan Variabel Keterangan 0,568 Homogen Nilai pengukuran sebelum perlakuan senam kaki dan Homogen Nilaisenam Nilai kaki kaki dan dan0,5680,568 Homogen 0,921 Homogen Nilai pengukuran sesudah perlakuan senam kaki dan Homogen NilaiNilai kaki kaki dan dan0,9210,921 Homogen Sumber: Data primer terolah, 2017. Sumber: Sumber: DataData . Uji Hipotesis . Uji . Hipotesis Uji Hipotesis Uji hipotesis yang digunakan yaitu uji General Linier Models Repeated Uji Uji uji uji General Linier Models General Linier Models Repeated Repeated Measures. Measures. Measures. Tabel 4 Uji Hipotesis Perbedaan Tabel Signifikasi Senam Kaki dan Senam Kebugaran Tabel 4Diabetes Uji4 Hipotesis Perbedaan Signifikasi Senam KakiKaki dan dan Senam Kebugaran Tabel Uji terhadap Hipotesis Perbedaan Signifikasi Senam Kebugaran Kadar Glukosa Darah Sewaktu Lansia diSenam Wilayah Kerja Diabetes Kadar Glukosa Darah Sewaktu Lansia Wilayah Diabetes Kadar Glukosa Darah Sewaktu Lansia Wilayah Kerja Kerja Puskesmas Ngaglik I Sleman 2017 Puskesmas I Sleman Puskesmas Ngaglik I Sleman Kelompok perlakuan MeanNgaglik Standart Nama Signifika Kelompok Kelompok perlakuanMean Mean Standart Standart Nama uji uji Signifika Signifika DeviasiNama Deviasi Deviasi -si . value Kelompok perlakuan Pillai's Trace 0,312 Kelompok Kelompok senam perlakuan Pillai's Trace Pillai's Trace 0,312 0,312 Wilks' Lambda kaki kaki Wilks' Wilks' Lambda Lambda 0,3120,312 Kelompok perlakuan senam kebugaran Hotelling's Trace Roy's Largest Root 0,312 0,312 Sumber: Data primer terolah, 2017. Pembahasan Pembahasan Hasil uji GLM-RM diketahui nilai p pada hasil Hasil uji GLM-RM diketahui nilai p uji analisis adalah 0,312 karena nilai p value pada hasil uji analisis adalah 0,312 > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terdapat karena nilai p value antara > 0,05senam maka dapat kaki dan kaki dan senam tipe II. Hasil uji diabetes GLM-RM terhadap dengan Benferroni antara diabetes senam kaki dan senam kebugaran diabetes, oleh karena itu mellitus tipe II. Hasil uji GLM-RM asumsi peneliti yang sebelumnya mengatakan dengan Benferroni tidak terdapat senam kebugaran diabetes lebih efektif perbedaan antara kaki dan kaki tidak kebugaran diabetes, oleh karena itu mengatakan senam kebugaran diabetes Penurunan darah hal orang kadar yang glukosa lebih muda, responden dalam penelitian ini dipengaruhi dikarenakan pada usia >50 tahun oleh beberapa faktor antara lain yaitu: tejadi penurunan fungsi-fungsi organ Usia tubuh secara keseluruhan. Usia responden dalam penelitian ini yaitu Jenis Kelamin 45-69 tahun dengan prevalensi tertinggi Responden kelompok senam kaki pada rentang usia 60-64 . ,3%) tahun. dan kelompok senam kebugaran Hasil penelitian yang dilakukan oleh lebih DM dari tipe Surioka II lebih orang berusia >50 tahun yang lebih hal ini . ,8%). Hasil muda, usia >50tahun Santoso danpada Nugrahini penurunan fungsi-fungsi organ tubuh proses kehamilan pada perempuan secara keseluruhan. toleransi glukosa. Hasil penelitian Nimsi Melati. Charolina Merlinda I. Studi Komparatif Senam Kaki dan Senam Kebugaran Diabetes . Jenis Kelamin Responden kelompok senam kaki dan kelompok senam kebugaran diabetes lebih dari separuh berjenis kelamin perempuan sebanyak 10 responden . ,8%). Hasil penelitian Santoso dan Nugrahini tahun 2011, proses kehamilan pada perempuan bisa menimbulkan gangguan toleransi Hasil penelitian yang dilakukan Saliadeho . , mengatakan DM lebih banyak ditemukan pada perempuan karena terjadi penurunan hormon estrogen akibat menopause. Lama Menderita Responden dengan prevalensi lama menderita pada kelompok senam kaki sebanyak delapan responden . ,1%) 1-5 tahun menderita DM tipe II, sedangkan kelompok senam kebugaran tujuh responden . ,2%) 1-5 tahun dan 6-10 tahun menderita DM tipe II. Hasil penelitian oleh Firdaus . , ada hubungan antara lama menderita DM dengan terjadinya depresi. Keadaan ini menurunkan kualitas hidup penderita DM tersebut, ini juga disebabkan karena diabetes sering tidak terdeteksi atau mulai terjadinya diabetes adalah tujuh tahun sebelum diagnosis ditegakkan sehingga angka morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi. Penderita DM dapat melakukan kedua senam, baik senam kaki maupun senam kebugaran diabetes, karena asumsi penelitian ditolak atau tidak terbukti. Senam kaki maupun senam kebugaran keduanya efektif untuk menurunkan kadar glukosa darah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan dapat disimpulkan bahwa : Tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada kelompok perlakuan senam kaki dan senam kebugaran diabetes terhadap penurunan kadar glukosa darah sewaktu lansia dengan p-value 0. 312, sehingga asumsi peneliti tidak terpenuhi. Senam kaki dan senam kebugaran diabetes efektif untuk menurunkan kadar glukosa darah sewaktu. SARAN Bagi Puskesmas tempat penelitian Puskesmas dan melaksanakan senam kaki atau senam kebugaran diabetes dalam upaya penanggulangan dan pencegahan terhadap komplikasi DM. Bagi Penelitian selanjutnya Peneliti selanjutnya dapat melakukan kegiatan senam bagi penderita DM dengan frekuensi latihan yang lebih lama untuk melihat perbedaan nilai sensitivitas kaki. Ankle-brachial index (ABI), sensitivitas insulin, dan risiko terjadinya ulkus diabetik. Bagi institusi STIKES Bethesda Yakkum Hasil penelitian dapat menambah referensi bagi mahasiswa keperawatan dalam pemberian pendidikan kesehatan di masyarakat terhadap penatalaksanaan dan pencegahan terhadap penyakit DM dengan menggunakan salah satu pilar DM olahraga atau latihan jasmani. Bagi Masyarakat Masyarakat terutama penderita DM dapat Jurnal Kesehatan. Volume 5. Nomor 1. Juli 2017, hal 41-46 mengaplikasikan senam kaki atau senam kebugaram diabetes secara teratur kadar glukosa darah sewaktu terkontrol, sehingga terjadi perbaikan kondisi kesehatan yang secara langsung dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. DAFTAR PUSTAKA