Isad Suhaeb. Dwi Susanto Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu Isad Suhaeb. Dwi Susanto Prodi Kajian Budaya. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Kentingan Jl. Ir. Sutami No. Jebres. Kec. Jebres. Kota Surakarta. Jawa Tengah 57126 Email: Isadsuhaeb1@gmail. com, dwisusanto@staff. ABSTRACT This article examines the commodification of womenAos bodies in the traditional dance performance of Ronggeng Ketuk in Indramayu, which, despite being an important cultural heritage, often positions female dancersAo bodies as objects for economic gain and entertainment. This study addresses a research gap in discussions on gender exploitation within the context of West Javanese traditional arts. Using a qualitative approach with ethnographic methods, data were collected through direct observation of performances and interviews with artists and audiences. The findings reveal market pressures and audience expectations that reinforce the marginalization and negative stereotyping of female dancers. This study contributes to cultural preservation discourse by prioritizing womenAos dignity and encouraging critical public awareness to appreciate art without reducing its human values. Keywords: commodification, womenAos bodies, performing arts. Ronggeng Ketuk dance. Indramayu. ABSTRAK Artikel ini mengkaji komodifikasi tubuh perempuan dalam seni pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu, yang meskipun menjadi warisan budaya penting, kerap memosisikan tubuh penari sebagai objek ekonomi dan hiburan. Penelitian ini mengisi celah kajian yang jarang membahas eksploitasi gender dalam konteks seni tradisional Jawa Barat. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, data diperoleh melalui observasi pertunjukan dan wawancara dengan pelaku seni serta penonton. Hasil menunjukkan adanya tekanan pasar dan ekspektasi penonton yang memperkuat marginalisasi serta stereotip negatif terhadap penari perempuan. Studi ini berkontribusi pada wacana pelestarian budaya yang menempatkan martabat perempuan sebagai prioritas, sekaligus mendorong kesadaran kritis publik untuk mengapresiasi seni tanpa mereduksi nilai kemanusiaan. Kata kunci: komodifikasi, tubuh perempuan, seni pertunjukan. Tari Ronggeng Ketuk. Indramayu. PENDAHULUAN suatu masyarakat. Koentjaraningrat dalam Kebudayaan merupakan sekumpulan Soekanto, . menyatakan kebudayaan nilai, norma, kepercayaan, tradisi, bahasa, adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan oleh diwariskan dari generasi ke generasi dalam manusia dalam kehidupan bermasyarakat, praktik-praktik Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu yang diperoleh dan dimiliki melalui proses instrumen musik pengiring yang menjadi Kebudayaan mencakup seluruh aspek pengatur tempo dalam gamelan. Sutrisno yang membentuk cara hidup manusia dan . identitas suatu kelompok, termasuk seni, sebagai alat pengendali irama dalam ensambel agama, sistem sosial, bahasa, dan teknologi. gamelan, yang memastikan keselarasan antara Indramayu merupakan daerah yang Auketuk instrumen lain dalam orkestra gamelan. Ay kaya akan budaya dan tradisi khas. Berbagai Di balik nilai historisnya. Ronggeng kesenian tradisional, seperti wayang kulit. Ketuk juga memunculkan isu komodifikasi tari daerah, dan musik tradisional, terus tubuh perempuan, yakni perlakuan terhadap tubuh perempuan sebagai objek yang dapat yang menonjol adalah upacara adat Ngarot, diperjualbelikan atau dieksploitasi untuk Salah siklus pertanian. Menurut Wasim . Caturwati . mencatat bahwa AuUpacara Adat Ngarot merupakan tradisi AuRonggeng kemudian muncul sebagai penari masyarakat Desa Lelea yang dilakukan setiap hiburanA banyak diisi dengan aktivitasA tahun pada awal musim tanam padi sebagai Ay Dalam beberapa kasus, penari bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha diharapkan menonjolkan kecantikan dan Esa dan penghormatan kepada para leluhur. Ay sensualitas demi menarik penonton, yang Rahmadhani mengaburkan penghargaan atas keterampilan . AuPelaksanaan Ngarot tidak hanya sebagai pesta rakyat, tetapi menjadi sarana mempererat Caturwati . AuSeorang penari ronggeng solidaritas antarwarga, menanamkan nilai bisa sukses karena kemampuannya, bukan kerja keras, dan mengajarkan kepedulian karena menjual kemolekan fisik semata. Ay terhadap lingkungan alam. Ay Sebagaimana Fenomena ini dapat dianalisis melalui Salah satu hiburan yang hampir selalu perspektif feminisme poskolonial Gayatri hadir dalam rangkaian acara ini adalah Tari Chakravorty Spivak. Spivak mengangkat Ronggeng Ketuk, seni pertunjukan tradisional konsep AusubalternAy untuk menggambarkan Jawa Barat yang berakar pada fungsi sosial dan kelompok marjinal yang suaranya teredam Menurut Hadi . AuRonggeng oleh wacana dominan . Dalam konteks adalah bentuk kesenian rakyat yang berakar ini, penari ronggeng ketuk berada pada posisi subaltern karena representasi tubuh dan peran fungsi sosial serta ritual yang erat dengan mereka dalam pertunjukan kerap dikonstruksi Ay Sejalan dengan itu. Suharianto oleh pihak-pihak dominan, baik penyelenggara . acara, patron budaya, maupun penonton. Autidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi Pertanyaan Spivak AuCan the Subaltern Speak?Ay juga menyampaikan nilai-nilai budaya serta menjadi relevan untuk menilai sejauh mana norma sosial yang berkembang di kalangan penari dapat mendefinisikan diri dan seni masyarakat Jawa. Ay Kata ketuk merujuk pada mereka, bebas dari stereotip dan seksualisasi Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto . metode ilmiah yang terstruktur dan sistematis. Berdasarkan latar belakang tersebut. Bagaimana Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut John W. Creswell . AuPenelitian kualitatif adalah proses penyelidikan untuk memahami yang didasarkan pada tradisi metodologis tertentu yang menyelidiki masalah sosial atau manusia. Peneliti membangun gambaran yang kompleks dan holistik, menganalisis kata-kata, melaporkan pandangan terperinci dari informan, dan tersebut, serta. Menganalisis berbagai melakukan studi di lingkungan alami. Ay subaltern dalam pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu. Menelaah bentuk dan proses representasi serta komodifikasi tubuh perempuan yang terjadi. Mengungkap bentuk epistemik kekerasan yang dialami bentuk resistensi dan upaya pemberdayaan Penelitian Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis dalam pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di memetakan bentuk serta proses representasi Indramayu, sekaligus menganalisis faktor- dan komodifikasi tubuh perempuan, mengkaji faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang praktik epistemik kekerasan dalam seni pertunjukan ini, serta mengungkap bentuk . komunitas seni terkait. resistensi dan pemberdayaan yang dilakukan Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik pada kajian seni, budaya, dan gender, sekaligus mendorong pelestarian budaya yang berkeadilan gender. Menurut Sugiyono AuPendekatan deskriptif-analistis sebagai metode penelitian yang tidak hanya menggambarkan suatu fenomena atau keadaan, tetapi juga menganalisis data tersebut untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai fenomena yang diamati. Ay Metode ini dipilih untuk menggali METODE secara mendalam fenomena komodifikasi Dalam sebuah penelitian, diperlukan pendekatan atau metode yang digunakan pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk, yang sarat dengan makna budaya, simbolis, dan Dalam Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk menguraikan secara rinci peran tubuh perempuan dalam seni pertunjukan serta persepsi terhadap tubuh perempuan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu, yang menganalisis dampak dan implikasi dari Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu praktik komodifikasi ini terhadap individu lapangan, hingga setelah kegiatan lapangan Analisis selanjutnya dilakukan secara Menurut Wolf . Au komodifikasi interaktif dan berlangsung secara rekursif tubuh perempuan terjadi melalui standar kecantikan yang dibentuk oleh industri media direduksi, penyajian data, dan verifikasi dan kecantikan. Ay Kecantikan membuat tubuh Evidensi yang direduksi dalam riset ini perempuan dijadikan objek komoditas, yang berkaitan dengan bentuk dan makna simbolik. dikendalikan dan dipengaruhi oleh norma- Menurut Hampel . AuEvidensi ilmiah norma kecantikan yang didikte oleh pasar. terdiri atas data empiris yang diperoleh Alat kontrol terhadap perempuan, tekanan melalui observasi atau eksperimen, yang untuk memenuhi standar kecantikan tertentu digunakan untuk mendukung atau menolak hipotesis atau teoriAy. Dengan mengamati sebagai barang yang bisa AudikonsumsiAy atau proses pertunjukan yang ada di dalam dinilai secara ekonomi. upacara Ngarot, partisipasi dalam upacara Lokasi/tempat Desa Lelea. Kecamatan Lelea. Kabupaten Indramayu. Desa ini dipilih karena memiliki masyarakat setempat. Komodifikasi upacara Ngarot. Pada upacara tersebut tidak dalam seni pertunjukan Ronggeng Ketuk lepas dari pertunjukan seni Tari Ronggeng mencerminkan masalah yang lebih luas Ketuk. Penelitian ini menggunakan metode tentang bagaimana seni tradisional bisa berubah di bawah tekanan komersialisasi. Melalui Ini menunjukkan perlunya keseimbangan peneliti dapat memperoleh informasi mengenai antara pelestarian budaya dan penghormatan asal-usul, makna, serta peran Tari Ronggeng terhadap martabat manusia. Penting untuk Ketuk dalam pertunjukan seni di tengah mencari cara bagaimana seni tradisional Observasi langsung dilakukan dapat terus hidup dan berkembang tanpa pada pertunjukan tari yang ada pada upacara mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan Ngarot, sementara wawancara mendalam integritas individu yang terlibat di dalamnya. dilakukan kepada para pelaku seni, penari. Selain itu juga metode ini bertujuan untuk dan penonton. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data yang kaya mengenai komodifikasi tubuh perempuan dan mendalam mengenai pengalaman serta persepsi dari berbagai pihak yang terlibat sosail, budaya, dan ekonomi dari praktik ini. dalam pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini Proses analisis data dilakukan secara Ronggeng diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian seni, gender, dan sosiologi Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto kompleksitas peran tubuh perempuan dalam sejak zaman seperti kerajaan Mataram Kuno seni pertunjukan tradisional. dan Kerajaan Majapahit. Seni pertunjukan ini melibatkan penari wanita yang dikenal sebagai AuronggengAy. Penari tersebut sering kali menjadi salah satu bagian dari upacara HASIL DAN PEMBAHASAN Lelea adalah salah satu desa yang berada kerajaan dan hiburan istana. Pada masa penjajahan, tarian ini juga di Kecamatan Lelea. Kabupaten Indramayu. Secara garis besar penduduk desa tersebut dominan mayoritasnya sebagai petani yang menghibur para penjajah dikala sedang menjadi salah satu mata pencaharianya. mengadakan pesta besar dan kadang kala Menurut Nisfiyanti . , mereka yang tarian ini pun dijadikan sebagai strategi menggeluti bidang pertanian terdiri atas masyarakat Jawa untuk mengecoh pasukan petani pemilik, penggarap, dan buruh tani. Belanda. Awalnya. Tari Ronggeng Ketuk tidak Dalam masyarakat lokal di Indramayu. Tari hanya dijadikan sebagai hiburan tetapi juga Ronggeng Ketuk adalah salah satu bentuk memiliki makna yang sakral. Tarian ini kerap warisan budaya tradisional yang berasal di ditampilkan dalam berbagai upacara penting, dari daerah Indramayu. Jawa Barat. Tarian ini seperti upacara panen raya, penyambutan telah dikenal sejak zaman dahulu dan secara tamu agung, serta acara adat lainnya, salah satunya adalah Upacara Adat Ngarot. upacara adat, seperti pernikahan, pertunjukan Tradisi Ngarot sering kali terkait dengan kesenian, serta ritual keagamaan, sebagai kegiatan pertanian, terutama dalam konteks bagian dari ekspresi budaya masyarakat musim tanam padi tiba. Upacara ini tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur, tetapi Kesenian ini merupakan bentuk seni juga sebagai wujud apresiasi terhadap kerja keras dan ketekunan petani dalam mengolah gerak indah dan lincah dari tubuh penari. Pada aspek ini upacara adat Ngarot memiliki simbolisme dan makna kultural gamelan untuk memperkuat ekspresi dalam yang sangat dalam. Mulai dari prosesi pementasan, serta didukung oleh aspek visual dari penampilan penari itu sendiri. Menurut setiap tahapan dipenuhi dengan nilai-nilai Bagong Kussudiardja . AuTari adalah tradisional yang menghormati leluhur, alam, ekspresi kebudayaan yang mencerminkan keindahan dan kekayaan jiwa manusiaAy. Samian . 3, hlm. AuNgarot berasal dari Tarian ini adalah icon pada salah satu upacara bahasa sansekerta yang berarti ngaruat yang adat yang ada di Indramayu. Upacara tersebut artinya membersihkan diri dari segala dosa biasa dilakukan di saat mulai musim tanam akibat kesalahan tingkah laku seseorang atau padi tiba yaitu antara bulan November hingga sekelompok orang pada masa laluAy. Desember. Tari Ronggeng diyakini sudah ada Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Menurut Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu ada di Desa Lelea. Tarian ini juga menjadi salah satu atraksi utama yang dinantikan oleh Selain itu juga, pertunjukan ini berfungsi sebagai media yang mempersatukan Tarian kesenian tradisonal yang bentuknya tidak Gambar 1. Prosesi pemukulan gong untuk memulai jalanya acara hiburan upacara adat Ngarot Lelea. (Sumber: Dokumentasi Liputan Kerja Buru. banyak berbeda dengan kesenian sejenis yang penari Ronggeng, bahkan diwilyah lain pun ada kesesian yang sama jenisnya dengan Ronggeng Ketuk hanya saja dibedakan dari segi bentuk pertunjukanya maupun urutan dalam pertunjukanya. daerah lain biasa disebutnya dengan tarian Ketuk Tilu, karena salah satu instrumentalnya berupa cemplon yang dinamakan ketuk terdiri atas tiga buah. Intrumen lainya yang mendukung tidak lain adalah rebab . lat gese. , gendang dengan kulanter, kemudian Gambar 2: Pertunjukan Tari Ronggeng ketuk dalam pesta adat Ngarot Lelea. (Sumber: Dokumentasi Liputan Kerja Buru. gong dan kecrek. Meskipun Ronggeng Ketuk memegang peran penting dalam melestarikan seni budaya tradisional Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat, profesi ini kerap Ronggeng Ketuk adalah salah satu seni dikaitkan dengan beberapa sisi negatif yang pertunjukan yang kerap hadir pada upacara menimbulkan stigma di masyarakat. Sering adat Ngarot. Fungsi dari tarian ini pada kali penari Ronggeng Ketuk kerap menghadapi upacara adat Ngarot ialah sebagai salah satu stigma sosial yang negatif, mereka mungkin bentuk rasa syukur kepada leluhur atas hasil diangap rendah atau tidak bermoral oleh panen yang melimpah, kemudian tarian sebagian masyarakat karena presepsi bahwa ini juga berfungsi sebagai permohonan doa ronggeng melibatkan interaksi fisik dengan dan kesuburan. Karena dipercaya bahwa penonton, terutama pria. Tindakan pada saat tarian ini memiliki daya magis yang dapat penari ronggeng mengajak penonton pria mendatangkan berkah dan keberuntungan. untuk menari bersama atau memberikan Melalui tarian ini masyarakat desa Lelea saweran dapat menimbulkan kesalahpahaman berharap agar hasil panen di masa mendatang tentang niat dan moralitas penari. Dalam beberapa kasus, penari ronggeng kesejahteraan bagi seluruh masyarakat yang mengalami eksploitasi seksual. Ada tekanan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto untuk melibatkan diri dalam praktik-praktik para penari. Penari ronggeng harus menjaga kondisi fisik mereka dengan baik untuk bisa pendamping atau terlibat dalam prostitusi bertahan dalam profesi ini. Selain itu, ada juga Ada kemungkinan bahwa penari tekanan psikologis dari harus terus tampil mengalami perlakuan yang tidak pantas atau ceria dan menarik di depan penonton, yang tidak diinginkan, sehingga situasi ini dapat bisa menyebabkan kelelahan mentan dan diperburuk oleh kurangnya perlindungan Profesi sebagai penari Ronggeng hukum dan sosial. Hal ini jelas merugikan sering kali tidak memberikan kestabilan dan membahayakan kesehatan fisik serta ekonomi yang memadai. Penghasilan mereka mental para penari. Fenomena ini sejalan bisa sangat bervariasi dan tidak menentu, dengan temuan penelitian yang menjelaskan tergantung pada jumlah panggungan dan bahwa penari ronggeng kerap diidentikkan besarnya saweran yang diterima. Ketidak pastian ini dapat menyulitkan penari dalam praktik pelacuran yang berlangsung melalui merencanakan keungan dan memastikan interaksi intim dengan pengibing, di mana kesejahteraan jangka panjang. Auperempuan susilaAy mereka yang memiliki uang paling banyak Banyak penari ronggeng yang berasal dimungkinkan berhubungan seksual dengan sang ronggeng (Pudyadhita, 2. Tekanan mungkin kebanyakan tidak memiliki akses yang memadai terhadap pendidikan formal. budaya populer seperti film Sang Penari, di Akibatnya, mana peran sebagai ronggeng membawa beban ekspektasi masyarakat desa sekaligus kualitas hidup melalui jalur pendidikan membuka peluang eksploitasi seksual (Safitri. Lebih jauh, praktik seperti bukak berpotensi membuat para penari terjebak dalam siklus pekerjaan yang tidak stabil calon ronggeng kepada lelaki pilihan, telah dan kurang memberikan keuntungan secara dikaji sebagai bentuk eksploitasi tubuh yang Profesi penari ronggeng sering kali dilegitimasi tradisi (Hidayati, dkk. 2019:282- dikaitkan dengan perempuan, dan dalam Ketiadaan perlindungan hukum yang beberapa kasus, bisa memperkuat stereotip memadai, sebagaimana dicatat dalam analisis gender tradisional. Penari wanita mungkin dipandang sebagai objek hiburan semata, yang (Rusmana, 2022:12-. Profesi Kondisi memperkuat pandangan patriarkal dalam Stereotip ini dapat membatasi fisik yang tinggi. Latihan yang intensif serta frekuensi pertunjukan yang padat dapat peran dan kesempatan perempuan dalam masyarakat yang lebih luas. Meskipun penari ronggeng memainkan menyebabkan kelelahan, risiko cedera, hingga masalah kesehatan jangka panjang bagi budaya dan membawa hiburan bagi banyak Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu orang, mereka juga menghadapi berbagai tantangan dan sisi negatif yang tidak boleh suara mereka dibungkam oleh struktur Stigma sosial, risiko eksploitasi, kekuasaan dan pengetahuan yang luas, yang ketidakstabilan ekonomi, tuntutan fisik dan meniadakan agensi dan representasi mereka. Ay Hal ini diperkuat oleh studi kontemporer pendidikan, serta konstruksi sosial mengenai yang menunjukkan bahwa perempuan dalam peran gender merupakan sejumlah aspek seni pertunjukan sering kali menghadapi penting yang perlu diperhatikan dalam marginalisasi dan keterbatasan agensi dalam memahami realitas kehidupan para penari, mengendalikan narasi atau ekspresi tubuh khususnya dalam konteks seni pertunjukan mereka (Duinen, 2024:1-. Upaya Ronggeng AuSubaltern Ketuk. Berbeda pula, menurut Karl Marx dan Friedrich Engels . , dalam masyarakat kepentingan-kepentingan dukungan bagi para penari Ronggeng sangat memainkan peran penting dalam proses diperlukan agar mereka dapat menjalani profesinya dengan martabat, rasa aman, dan perumusan kebijakan. Hal ini menunjukkan bahwa struktur sosial dan relasi kekuasaan Penjelasan diatas berkaitan dengan teori sangat memengaruhi arah kebijakan yang feminisme dari spivak, dimana teori tersebut diambil oleh suatu masyarakat. Begitupun, menjelaskan bahwa kelompok masyarakat peran perempuan dalam Tari Ronggeng yang berada di posisi terpinggirkan dan tidak Ketuk sering kali terbatas pada eksposur memiliki suara dalam diskursus dominan. tubuh dan seksualitas mereka untuk hiburan beberapa aspek yang berkaitan dengan Tari Ronggeng Ketuk: diposisikan sebagai objek pemuas hasrat Perempuan sebagai Subaltern dalam Tari dan hiburan semata, sementara otoritas atas Ronggeng Ketuk narasi dan struktur pertunjukan umumnya laki-laki. Perempuan Tari Ronggeng Ketuk merupakan salah berada di tangan laki-laki yang memegang satu bentuk tarian tradisional dari Jawa kendali dalam pengaturan dan pengarahan Barat yang memadukan unsur gerak tari, seni pertunjukan tersebut (Jensen & Thing, musik, dan dramatik dalam menggambarkan 2022:254Ae270. Zhang et al. , 2025:1Ae. kisah percintaan atau dinamika relasi sosial. Menurut Bell Hooks . , dengan ekspresi gerak tubuh yang kadang AuKekerasan terhadap perempuan adalah alat dianggap menggoda namun sarat makna untuk mempertahankan supremasi laki-laki Dalam konteks ini, perempuan dalam masyarakat patriarki. Ay Secara historis, seringkali dianggap sebagai subaltern, yaitu perempuan dalam seni pertunjukan sering posisi yang terpinggirkan atau tidak berdaya kali dibatasi perannya sebagai penari atau dalam struktur kekuasaan sosial dan politik. penyanyi, sedangkan otoritas atas keputusan Seperti yang dikatakan oleh Spivak . 8:271- Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto pertunjukan umumnya berada di tangan laki- pengalaman atau menentukan representasi Hal ini mencerminkan hierarki gender dirinya dalam wacana dominan (Spivak, 1. dan dominasi patriarki dalam seni dan budaya Dalam posisi subaltern, suara perempuan kerap diabaikan atau direduksi menjadi citra Sejalan dengan perspektif Beauvoir . yang dibentuk oleh norma patriarki dan bahwa AuPerempuan tidak dilahirkan sebagai kepentingan pasar. Jawa Barat perempuan,Ay Dalam tari Ronggeng Ketuk, tubuh penelitian kontemporer menegaskan bahwa perempuan dapat merepresentasikan tubuh sebagai komoditas yang dikonstruksi sesuai mereka untuk menantang norma patriarki selera penonton, terutama laki-laki, demi melalui performativitas tubuh dan strategi keberlangsungan pertunjukan. Spivak . ekspresi artistik (Patel, 2024:1Ae. menegaskan bahwa representasi semacam Namun ini mencerminkan dominasi sudut pandang konteks kontemporer, ada upaya untuk hegemonik yang meminggirkan agensi subjek. Tari Hal ini sejalan dengan temuan Caturwati . yang menyebutkan bahwa daya tarik penari ronggeng kerap dinilai dari kemolekan bagi perempuan, menggeser stigma dan fisik dan daya pikat erotisnya, bukan semata stereotip yang melekat pada peran mereka keterampilan menarinya. Ronggeng Ketuk dalam seni pertunjukan tradisional. Studi Pernyataan seorang penari senior. AuKalau terbaru menekankan bahwa pemberdayaan nggak ikut gaya yang penonton mau, ya nggak perempuan dalam seni pertunjukan tidak lakuA kadang harus tampil lebih genit supaya hanya terbatas pada kontrol artistik, tetapi mereka tepuk tanganAy (Kartiwen, wawancara, juga mencakup eksplorasi tubuh sebagai 12 Juli 2. , mengonfirmasi bahwa strategi medium perlawanan terhadap struktur sosial pertunjukan sering kali dikendalikan oleh yang menindas (Duinen, 2024:19. Jensen & tuntutan pasar. Praktik ini memperkuat kritik Thing, 2022:254Ae. Spivak bahwa representasi tubuh perempuan Representasi dan Komodifikasi Tubuh jarang sepenuhnya dikontrol oleh pelakunya. Perempuan dalam Tari Ronggeng Ketuk melainkan diarahkan oleh kekuatan eksternal Gayatri Chakravorty Spivak, seorang Temuan di lapangan juga memperlihatkan menawarkan kerangka pikir yang relevan bahwa kostum, gerak, dan interaksi dengan yang dominan. perhatian laki-laki, seperti penggunaan kebaya tari Ronggeng Ketuk, khususnya melalui tipis dengan selendang warna mencolok konsep subalternitas. Konsep ini merujuk serta gerakan pinggul yang eksplisit. Dalam pada kelompok terpinggirkan yang tidak dokumentasi visual, terlihat jelas interaksi memiliki akses memadai untuk menyuarakan penari yang mendekati penonton laki-laki Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu Dalam tari Ronggeng Ketuk, hal ini terlihat ketika tubuh perempuan dijadikan mayoritas laki-laki, sehingga pengalaman subyektif mereka tersisihkan. Judith Butler . melalui teori gender performativity menegaskan bahwa gender bukan identitas tetap, melainkan konstruksi performatif yang Gambar 3. Penari Ronggeng dan Penonton (Sumber: Dede Jaelan. dibentuk melalui tindakan, ekspresi, dan interaksi sosial. Ketika tubuh perempuan keragaman pengalaman dan agensi mereka sambil melontarkan senyum atau gurauan, memperkuat pembacaan bahwa pertunjukan dan membatasi kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri secara autentik (Tarighat juga mengandung dimensi komodifikasi. Dengan demikian, praktik pertunjukan ini Bin & Sadati, 2023:. Selain itu, konsep subalternitas Gayatri Chakravorty Spivak . menjelaskan perempuan dalam seni tradisional terpelihara posisi kelompok yang terpinggirkan, yang tidak melalui mekanisme pasar dan konstruksi memiliki kesempatan untuk menyuarakan patriarki, sekaligus menegaskan bahwa isu ini pengalaman atau membentuk representasi bukan semata persoalan estetika, melainkan diri mereka sendiri. Dalam tari Ronggeng Ketuk, perempuan sering diposisikan sebagai subaltern karena representasi tubuh mereka intervensi kritis. Epistemik Kekerasan Seni dikontrol oleh norma patriarki dan ekspektasi Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk Epistemik kekerasan dalam konteks epistemic violence: pengalaman, identitas, dan pandangan mereka direduksi menjadi kekerasan yang terjadi melalui produksi Can Speak, 2. Kondisi ini tidak hanya (The Subaltern sering kali dikesampingkan atau direduksi perempuan, tetapi juga memperkuat dominasi patriarki melalui pengaturan makna dan Michel Foucault narasi pertunjukan. bahwa kekuasaan bersifat produktif karena Teori Spivak menekankan pentingnya melalui kekuasaan, pengetahuan dibentuk kritik terhadap representasi yang didominasi patriarki, sekaligus memberikan panggilan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto bentuk pemberdayaan diri dan pengungkapan memiliki kontrol atas narasi dan representasi identitas yang lebih autentik. Seperti halnya diri mereka. Pendekatan ini membuka ruang yang dikatan oleh Michael Foucault . bagi pengalaman perempuan yang lebih Au Di mana ada kekuasaan, di situ selalu ada beragam dan autentik, serta mendorong praktik resistensi tidak pernah berhenti pertunjukan yang inklusif dan emansipatoris, dan beragam dalam bentuknya, menjadikan perlawanan sebagai bagian integral dari setiap subjek aktif, bukan sekadar objek tontonan hubungan kekuasaan. Ay atau komoditas visual. Dengan demikian. Tari ronggeng ketuk juga dapat menjadi memahami epistemik kekerasan dalam tari wadah pemberdayaan bagi perempuan untuk Ronggeng Ketuk tidak hanya penting untuk mengekspresikan pengalaman mereka sendiri refleksi akademik, tetapi juga menjadi dasar melalui seni. Dalam konteks ini, perempuan strategi pemberdayaan perempuan dalam dapat mengambil alih narasi dan representasi seni pertunjukan, memperluas ruang ekspresi, mereka sendiri, menggambarkan cerita-cerita menghormati keberagaman pengalaman, dan yang mencerahkan pengalaman perempuan mempromosikan keadilan gender. Resistensi dan Pemberdayaan stereotip atau norma-norma yang melekat. Dalam konteks tari ronggeng ketuk. Teori Spivak mendorong kita untuk merevisi konsep resistensi dan pemberdayaan dapat dan mengeksplorasi ulang praktik-praktik kultural yang mungkin membatasi atau Gayatri Chakravorty Spivak, mereduksi perempuan. Dalam konteks tari Ronggeng Ketuk, hal ini dapat diwujudkan mengatasi subalternitas perempuan serta melalui perubahan pada aspek kostum, memperkuat agensi mereka dalam melawan gerakan, dan narasi, agar lebih mencerminkan Menurut Antonio Gramsci AuResistensi Transformasi hanya tentang melawan kekuasaan, tetapi untuk membebaskan perempuan dari posisi juga tentang menciptakan alternatif yang sebagai agen aktif dalam proses pembentukan Ay Perempuan seni dan budaya, bukan sekadar objek pasif tari ronggeng ketuk dapat menunjukkan dari representasi budaya dominan. Dengan menerapkan teori feminisme dengan cara mengubah atau merevisi norma- Spivak, tari ronggeng ketuk bisa menjadi platform untuk membangkitkan kesadaran tubuh mereka. Mereka dapat memilih untuk akan ketidakadilan gender, mengembangkan mengekspresikan tubuh mereka dengan cara ruang bagi ekspresi yang lebih inklusif dan yang tidak sekadar memenuhi harapan atau keinginan penonton laki-laki, tetapi sebagai perempuan dalam mendefinisikan kembali Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu cara mereka dipahami dan direpresentasikan dijadikan komoditas. Hal ini terlihat dalam cara dalam seni pertunjukan tradisional. Kemudian penari dipasarkan, dimana penekanan pada dari segi komodifikasi tubuh perempuan penampilan fisik mereka dapat mengurangi dalam tari Ronggeng Ketuk dapat di lihat nilai mereka sebagai individu dengan bakat dari beberapa poin-poin yang mencakup di dan kreativitas. Terkadang, penari diharapkan dalamnya sebagai berikut: untuk berperilaku sesuai dengan eskpresi Representasi dan Objektifikasi pasar, yang menciptakan tekanan untuk Ronggeng Ketuk, perempuan sering mempertahankan citra tertentu. kali dihadirkan sebagai simbol keindahan Dalam seni pertunjukan tari Ronggeng dan kesuburan . gerakan, kostum, dan Ketuk, tubuh perempuan sering kali diposisikan ekspresi wajah perempuan dalam tarian sebagai objek visual. Gerakan tari yang ini menciptakan gambaran ideal tentang menggoda dan pakaian yang memperlihatkan Tubuh perempuan diposisikan lekuk tubuh menjadikan penari ronggeng sebagai objek yang menarik bagi penonton. Laura Mulvey 5:6-. AuDalam ditentukan oleh norma budaya. Gerakan perempuan sering kali dilihat sebagai objek visual, di mana mereka dipandang dan dinilai keanggunan tubuh perempuan mencerminkan bagaimana tubuh dijadikan medium untuk Pandangan ini juga berlaku dalam konteks tari Ronggeng Ketuk, di mana tubuh perempuan estetika tertentu. Tubuh perempuan, dalam menjadi fokus utama perhatian. Meskipun konteks ini, tidak hanya menjadi instrumen terdapat elemen komodifiksi, beberapa penari seni, tetapi juga representasi dari konstruksi Ronggeng Ketuk mungkin menggunakan seni sosial mengenai feminitas dan peran gender mereka sebagai bentuk resistensi terhadap dalam masyarakat. Hal ini dapat dilihat Dengan mengeskpresikan diri sebagai upaya untuk AumenjualAy citra feminim melalui gerakan dan cerita dalam tari, mereka yang ideal kepada penonton. dapat mengambil kembali kendali atas tubuh Dalam nilai-nilai Ay mereka dan mendefinisikan ulang makna dari pertunjukan, tubuh perempuan dalam tari penampilan mereka. Ronggeng Ketuk seringkali diperlakukan Melalui sebagai objek yang dapat dieksploitasi. Para tentang isu-isu gender dan komodifikasi, penari mungkin dipaksa untuk menampilkan penari dan masyarakat dapat mengubah cara diri mereka dalam cara yang menekankan pandang terhadap tubuh perempuan dalam daya tarik seksual, sehingga mengurangi seni pertunjukan. Dengan demikian, tari tidak semata-mata diposisikan sebagai produk Ketika komersial, melainkan juga sebagai medium pertunjukan tari dijadikan sebagai produk ekspresif yang mampu menyampaikan pesan- komersial, tubuh perempuan sering kali pesan sosial dan budaya yang mendalam. Seni Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto tari, dalam konteks ini, berpotensi menjadi Tubuh perempuan yang dikomodifikasi ruang reflektif sekaligus transformatif bagi nilai-nilai masyarakat. Komodifikasi tubuh perempuan dalam seni pertunjukan tari daya tarik seksual, sehingga para penari Ronggeng Ketuk mencerminkan tantangan perempuan berisiko mengalami stigma negatif dan peluang. Meskipun ada risiko objektifikasi dari masyarakat. Asosiasi ini tidak hanya dan eksploitasi, penari juga memiliki potensi mereduksi identitas penari sebagai seniman, untuk meredefinisi dan mengekspresikan tetapi juga memperkuat stereotip gender yang diri mereka secara autentik. Penting untuk merugikan dan membatasi ruang ekspresi memahami dinamika ini dalam kerangka mereka dalam ranah seni tradisional. Hal ini yang lebih luas, dengan mempertimbangkan dapat memicu pandangan negatif terhadap dimensi budaya, sosial, dan ekonomi yang profesi penari ronggeng, sehingga masyarakat secara simultan memengaruhi praktik seni cenderung menilai mereka secara negatif, pertunjukan tradisional. Pendekatan holistik Ronggeng Ketuk Ketika tubuh perempuan dijadikan antara seni, kekuasaan, dan masyarakat. komoditas untuk menarik perhatian penonton, . Dampak Sosial dan Ekonomi muncul kecenderungan untuk memandang Komodifikasi penari bukan sebagai seniman yang memiliki dalam tari Ronggeng Ketuk tidak hanya kompetensi artistik, melainkan sebagai objek berdampak pada aspek representasi visual, hiburan semata. Reduksi ini mengabaikan tetapi juga membawa implikasi langsung aspek keterampilan, ekspresi budaya, dan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi para nilai-nilai simbolik yang seharusnya melekat Proses ini seringkali menempatkan dalam seni pertunjukan tradisional. Praktik perempuan dalam posisi rentan, baik dari segi ini mengarah pada eksploitasi, di mana stigma sosial maupun ketidakstabilan ekonomi perempuan diharapkan memenuhi ekspektasi yang mereka hadapi dalam menjalani profesi penonton yang berfokus pada aspek tubuh Banyak penari yang berasal dari dan sensualitas daripada keterampilan menari latar belakang ekonomi yang rendah, dan tari itu sendiri. ronggeng menjadi sumber pendapatan bagi Komodifikasi Hal ini menciptakan ketergantungan, pergeseran nilai budaya dalam tari ronggeng di mana mereka harus terus menampilkan Sebelumnya, tari ini mungkin sarat tubuh mereka sebagai objek untuk menarik dengan makna budaya atau fungsi ritual perhatian penonton. Becker . Namun, dengan semakin kuatnya AuSeni pertunjukan seringkali berkaitan erat orientasi komersial, nilai-nilai budaya tersebut dengan dinamika pasar dan ekonomi, di mana para seniman terpaksa beradaptasi dengan tereduksi sepenuhnya, dan digantikan oleh permintaan pasar. Ay kepentingan ekonomi semata. Perubahan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu ini mencerminkan tantangan yang dihadapi ke tangan pemilik modal. Secara keseluruhan, seni tradisional dalam menghadapi arus komodifikasi tubuh perempuan dalam tari kapitalisasi budaya. Tari ronggeng ketuk bisa ronggeng ketuk memiliki dampak yang menjadi sumber penghasilan bagi perempuan yang terlibat di dalamnya. Sebagai seniman, ekonomi bagi perempuan, ada persoalan sosial yang memengaruhi cara pandang masyarakat memperoleh penghasilan melalui keterlibatan terhadap peran perempuan dan nilai budaya mereka dalam berbagai pentas atau acara- yang melekat pada tarian tersebut. acara tertentu. Namun, sumber pendapatan ini . Pengaruh Budaya dan Tradisi sering kali bersifat tidak tetap dan bergantung Meskipun Budaya dan tradisi memiliki peran pada permintaan pasar, sehingga menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi para pelaku seni. komodifikasi tubuh perempuan dalam seni Meskipun begitu, penghasilan ini seringkali pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk. Dalam tidak sebanding dengan beban kerja dan banyak masyarakat, terutama di Indonesia, stigma yang mereka tanggung. ronggeng ketuk merupakan bagian dari Ekonomi warisan budaya yang telah lama menjadi Namun, komodifikasi tubuh perempuan dalam tari mana kesuksesan finansial acara tergantung ini sering kali membawa pengaruh yang signifikan, baik pada struktur sosial maupun menarik penonton melalui penampilannya. Ini mengeksplorasi nilai seni yang lebih murni Komodifikasi tubuh perempuan dalam atau bentuk-bentuk ekspresi yang lebih kreatif Tari Ronggeng Ketuk tidak dapat dilepaskan tanpa tekanan komersial. Di beberapa daerah, dari pengaruh norma-norma budaya dan tari ronggeng ketuk menjadi daya tarik wisata tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat. dan mendukung ekonomi lokal. Para pelaku Di masyarakat yang masih kental dengan nilai- industri, seperti penyelenggara acara, pemilik nilai patriarki, tubuh perempuan sering kali panggung, dan pengusaha di sektor hiburan, dipandang sebagai simbol kehormatan dan sering kali menjadi pihak yang memperoleh Dalam konteks ini, penari ronggeng keuntungan paling besar dari pertunjukan berada di ambang batas antara tradisi dan seni ini. Situasi ini mencerminkan adanya Judith Butler . berpendapat ketimpangan distribusi manfaat ekonomi bahwa identitas gender dan ekspresi tubuh antara pelaku seni sebagai kreator dan pihak perempuan dibentuk oleh konteks sosial dan industri sebagai pemodal atau fasilitator. budaya yang ada, yang sering kali terjebak Namun, kesejahteraan penari perempuan dalam stereotip. sebagai individu sering kali tetap terbatas. Dalam karena keuntungan terbesar cenderung jatuh ronggeng ketuk, perempuan sering kali Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto diposisikan sebagai pusat daya tarik di panggung pertunjukan. Peran ini diperkuat oleh tradisi yang melihat perempuan sebagai tari dikemas untuk meraup keuntungan simbol keindahan dan daya pikat, sehingga Akibatnya, makna budaya yang tubuh perempuan menjadi elemen sentral semula melekat pada pertunjukan dapat Tari tergeser oleh dominasi nilai-nilai ekonomi. Ronggeng Ketuk kerap kali memiliki makna yang mengedepankan aspek hiburan dan ritual atau simbolik yang mendalam, seperti keuntungan finansial dibandingkan nilai- nilai ritual dan simbolik yang bersifat luhur. upacara adat, atau penanda momen-momen Budaya ronggeng ketuk telah beradaptasi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. dengan selera pasar yang mencari hiburan Namun, dengan berkembangnya orientasi ekonomi, fungsi simbolis ini bergeser menjadi dalam tarian seperti gerakan, kostum, dan fungsi hiburan yang lebih komersial. Hal ini ekspresi cenderung dimodifikasi atau dipoles mendorong komodifikasi, di mana tubuh sedemikian rupa agar lebih menarik secara perempuan dipandang sebagai sarana untuk visual dan sesuai dengan selera pasar atau menarik minat penonton dan menghasilkan ekspektasi penonton masa kini. Tradisi ini kini mengalami perubahan, dengan lebih Pada Budaya yang melegitimasi tari ronggeng ketuk sering kali juga menciptakan persepsi unsur-unsur mengutamakan unsur komersial dibanding makna budaya yang asli. yang mengarah pada objektifikasi perempuan. Masyarakat Dalam Budaya dan tradisi yang mendukung dalam tarian ini sebagai daya tarik fisik, tari ronggeng ketuk turut berperan dalam sehingga terbentuk stigma bahwa para penari membentuk stereotip tentang perempuan adalah objek hiburan, bukan seniman yang sebagai subjek hiburan. Generasi muda patut dihargai karena keterampilan mereka. Dalam tradisi tertentu, ekspektasi bahwa akan menginternalisasi pandangan bahwa penari perempuan harus tampil memikat perempuan AuidealAy adalah yang mampu atau bahkan menggoda dianggap sebagai hal menarik perhatian melalui fisiknya. Tradisi Tradisi ini bisa membuat eksploitasi tubuh perempuan menjadi sesuatu yang perempuan dalam pertunjukan tari ronggeng normal dalam praktik tari ronggeng ketuk, ketuk juga bisa menjadi penghalang dalam dan hal ini diperkuat oleh pengaruh budaya upaya mencapai kesetaraan gender. Dengan patriarki yang masih kuat di berbagai daerah. adanya norma budaya yang menempatkan Ronggeng ketuk beralih fungsi ketika seni ini mulai dimanfaatkan sebagai sumber terhadap eksploitasi, sulit bagi masyarakat Dengan berubahnya budaya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dari tujuan ritual menjadi hiburan komersial, secara setara, terutama dalam bidang seni dan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu perubahan, mengekspresikan diri mereka Secara tradisi memainkan peran yang signifikan melalui seni sambil mempertahankan nilainilai tradisionalAy. dalam membentuk pola komodifikasi tubuh Penari berperan sebagai pelestari budaya perempuan dalam tari Ronggeng Ketuk, baik yang memiliki tanggung jawab penting melalui nilai-nilai simbolik yang diwariskan dalam menjaga keberlangsungan seni tari maupun melalui struktur sosial yang mengatur tradisional agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. Dalam kesenian Pengaruh budaya ini menciptakan lingkaran seperti Tari Ronggeng Ketuk, para penari yang sulit diputus, di mana tubuh perempuan tidak hanya menampilkan gerak tari semata, tetapi juga membawa serta identitas budaya tarian tersebut, meskipun ada upaya untuk lokal melalui kostum tradisional, iringan melestarikan seni dan menghargai nilai musik khas, serta narasi yang merefleksikan budaya yang mendasarinya. nilai-nilai dan warisan budaya daerah. Ini . Peran Penari dalam Memperjuangkan menjadi upaya penari untuk menghindarkan Identitas budaya mereka dari kepunahan di tengah Peran penari dalam memperjuangkan Penari turut memperkenalkan identitasnya dalam konteks seni tradisional keunikan lokal ke dunia luar. Seperti halnya seperti tari ronggeng ketuk, sangat penting ketika mereka perform di acara-acara festival seni internasional atau acara budaya lainya, menyuarakan pandangan yang lebih modern dan inklusif. Identitas tersebut diperjuangkan budaya daerah mereka. Hal ini membantu oleh para penari yang mencakup beberapa meningkatkan apresiasi terhadap kebudayaan aspek, mulai dari identitas budaya, gender, mereka serta memperjuangkan pengakuan hingga profesionalitas dalam seni pertunjukan. atas keberagaman seni di tingkat nasional Meskipun mengalami komodifikasi, para penari ronggeng juga memiliki kesempatan maupun internasional. Dalam seni tradisional yang sering kali untuk memperjuangkan identitas mereka. Beberapa penari berusaha mengubah persepsi perempuan, para penari dapat berperan masyarakat terhadap tari ronggeng sebagai bentuk seni yang memiliki nilai artistik Dengan menunjukkan bahwa mereka adalah dan budaya. Dengan mengekspresikan diri seniman yang memiliki keterampilan dan melalui tari, penari dapat menunjukkan diri dedikasi, penari Ronggeng ketuk membantu bahwa tubuh mereka bukan hanya sebagai memperjuangkan identitas perempuan sebagai objek komoditas, tetapi juga sarana untuk individu yang mandiri dan profesional, bukan menyampaikan pesan dan identitas. Dalam hanya sebagai objek hiburan semata. Penari pandangan Sembodo . AuPara penari perempuan yang berani memperjuangkan hal ini mengusung identitas baru yang lebih Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto positif bagi perempuan dalam seni tradisional. mungkin menganggap tari sebagai profesi Dengan memperlihatkan profesionalitas dan AurendahAy atau hanya sekadar hiburan. Hal keahlian dalam menari, para penari berupaya ini memperjuangkan identitas penari sebagai menuntut penghargaan yang setara dalam profesional yang patut dihormati. Dalam bidang seni, terlepas dari gender mereka. banyak kasus, penari sering menghadapi Mereka risiko seperti eksploitasi atau kurangnya melihat peran perempuan di luar aspek perlindungan kerja. Demi memperjuangkan fisik atau seksual, dan lebih menghargai hak mereka sebagai pekerja seni, para penari kreativitas serta bakat artistik. Ini membantu turut memperkuat identitas mereka sebagai memperkuat identitas perempuan sebagai profesional yang membutuhkan perlindungan seniman yang berhak atas penghormatan dan dan kondisi kerja yang layak. Hal ini dapat perlakuan setara. memengaruhi kebijakan serta meningkatkan Penari bisa memperjuangkan identitas yang lebih inklusif dengan menyertakan standar kerja dalam industri seni pertunjukan. Penari atau kelompok yang sering terpinggirkan generasi muda untuk melanjutkan tradisi dalam seni tradisional. Mereka mungkin Mereka menjadi teladan bahwa identitas budaya, gender, dan profesionalitas dapat memasukkan nilai-nilai baru yang relevan diperjuangkan melalui seni. Hal ini juga bagi masyarakat modern. Hal ini dapat dapat membantu generasi berikutnya untuk ditunjukkan bahwa seni tradisional tidak merasa bangga dengan warisan budaya statis, tetapi juga dapat berkembang dan mereka dan melihat karier dalam bidang seni menerima keberagaman identitas. Banyak sebagai pilihan yang layak dan berharga. penari yang memperjuangkan identitas social Ketika penari memperlihatkan keberanian tertentu, misalnya seperti identitas etnis mereka dalam memperjuangkan identitas atau komunitas minoritas yang sering kali melalui seni, hal ini dapat membangkitkan tidak tampak dalam mainstream budaya. rasa bangga di kalangan masyarakat lokal Dengan cara menampilkan keunikan dan dan nasional. Mereka memperkuat identitas memperkenalkan berbagai identitas melalui kolektif dan mendorong lebih banyak orang tari, para penari turut mewakili kelompok- untuk menghargai dan melestarikan budaya kelompok seniman serta memperjuangkan penerimaan dan pengakuan dari masyarakat Secara keseluruhan, penari memainkan Penari juga berjuang agar profesi mereka identitasnya melalui berbagai aspek, mulai dianggap layak dan setara dengan pekerjaan dari pelestarian budaya hingga pembentukan Dengan menunjukkan dedikasi dan nilai-nilai komitmen, mereka dapat membantu untuk Melalui pertunjukan, penari tidak hanya mempersembahkan seni dan budaya, tetapi Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu juga menyuarakan identitas dan nilai-nilai itu terkait dengan pertunjukkan tari yang yang lebih luas, sehingga bisa membawa dianggap memiliki konotasi sensual. Hal perubahan positif bagi profesi mereka, seni ini menimbulkan beberapa stigma sosial pertunjukan, dan masyarakat pada umumnya. yang membuat para penari sulit untuk . Tantangan dan Peluang Komodifikasi tubuh perempuan dalam Penari perempuan seringkali dihadapkan tari ronggeng ketuk membawa tantangan pada stereotip yang dikaitkan dengan daya dan peluang. Di satu sisi, penari harus tarik fisik semata, untuk mengurangi apresiasi menghadapi risiko objektifikasi dan eksklusi terhadap keahlian dan profesionalitas mereka. Di sisi lain, tari ronggeng juga Stereotip ini membuat perempuan penari memberikan platform bagi perempuan untuk terkadang dianggap objek hiburan dan bukan mengekspresikan diri dan memperjuangkan sebagai seniman sejati, yang merugikan hak mereka. Peluang bagi pendidikan dan perjuangan identitas mereka. pemberdayaan perempuan di dalam seni Karena tubuh penari dianggap sebagai pertunjukan perlu adanya dorongan agar aset utama dalam pertunjukan, sering terjadi eksploitasi yang membuat mereka harus tanpa harus terjebak dalam komodifikasi. tampil sesuai dengan keinginan pasar, bukan Sebagaimana diungkapkan oleh Kaplan . , sesuai dengan nilai budaya asli atau ekspresi AuSeni pertunjukan dapat berfungsi sebagai seni yang lebih autentik. Penari tradisional ruang untuk menyuarakan ketidakadilan dan menantang norma-norma sosial yang merugikan perempuan. Ay upah layak, atau jaminan ketenagakerjaan. Perjuangan Kurangnya perlindungan dari berbagai pihak mengakibatkan hak-hak bagi profesi para identitas mereka dalam seni tradisional seperti penari menjadi rentan dan tidak stabil. tari ronggeng ketuk menghadapi berbagai Dalam seni pertunjukan, seperti Tari tantangan dan peluang. Tantangan-tantangan Ronggeng ketuk menghadapi persaingan ini sering kali muncul dari dinamika sosial, dengan modernisasi atau seni kontemporer ekonomi, dan budaya, sementara peluangnya yang lebih populer di kalangan generasi Dengan adanya banyak pilihan hiburan perubahan pandangan masyarakat terhadap Berikut adalah penjelasan mengenai tertarik pada seni tradisional. Menggabungkan tantangan dan peluang bagi para penari dalam elemen modern ke dalam seni tradisional memperjuangkan identitas mereka: tanpa kehilangan makna asli merupakan Tantangan tantangan tersendiri. Terkadang, adaptasi Menjadi Seorang yang berlebihan justru dapat menghilangkan sering dipandang rendah atau dianggap identitas budaya yang sedang diperjuangkan tidak setara dengan profesi lainnya, apalagi oleh para penari. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto Seni pertunjukkan, khususnya kesenian elemen tradisional dengan gaya modern tanpa yang sering kali tidak mendapatkan perhatian kehilangan identitas aslinya. Kolaborasi ini atau dana memadai dari pemerintah atau dapat meningkatkan eksposur seni tradisional dan memperkenalkan nilai budaya mereka sulit mendapatkan fasilitas seperti latihan, kepada dunia. Penari pelatihan dari program-program seni yang mulai muncul, termasuk pelatihan khusus untuk seni tradisi. Program ini juga bisa keahlian mereka. Banyak di antara mereka membantu para penari untuk mengasah hanya bisa belajar secara otodidak atau melalui lingkungan sekitar yang mungkin terbatas. pengakuan profesional yang lebih besar. Peluang Beberapa organisasi budaya dan lembaga Perubahan Pandangaan dengan adanya Semakin di dalam maupun di luar negeri, untuk menghargai seni tradisional dan warisan Hal ini membuka peluang bagi para pelatihan formal dan akses ke fasilitas yang penari untuk tampil di acara-acara budaya dan lebih baik, yang dapat memperkuat identitas festival, yang bisa meningkatkan pengakuan profesional mereka. identitas budaya mereka. Semakin banyak Pemerintah dari masyarakat yang mendukung kesetaraan gender, dapat juga berdampak pada seni Dukungan ini membantu penari daerah, termasuk tari ronggeng ketuk. Hal ini Perempuan Ronggeng membuka peluang bagi penari untuk tampil ketuk untuk lebih dihargai dan diperhatikan dan mendapat apresiasi dari masyarakat yang hak-haknya dalam profesi mereka. lebih luas. Pemerintah dan lembaga budaya Penari tren yang meningkat di masyarakat, baik Kesempatan Kemajuan teknologi dapat memberikan kini semakin sadar akan dengan pentingnya kesempatan yang sangat besar bagi penari pelestarian budaya. Beberapa cara yang untuk mempromosikan karya dan budaya dilakukan pemerintah seperti dokumentasi, mereka secara lebih luas. Melalui beberapa pengajaran di sekolah, dan promosi budaya, platform seperti YouTube. Instagram, dan memberikan ruang bagi para penari untuk TikTok, menunjukkan karya mereka sebagai bagian karya-karya yang lebih besar, baik nasional maupun dari identitas budaya nasional. Tantangan dan peluang ini menunjukkan Teknologi juga dapat membuka peluang kolaborasi antarbudaya, sehingga mempertahankan identitas mereka bukanlah memungkinkan para penari menggabungkan hal yang mudah, tetapi juga tidak mustahil. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu Tantangan-tantangan yang mereka hadapi ini memperkuat stereotip negatif tentang perempuan, menempatkan mereka sebagai dan ekonomi yang ada di masyarakat. objek hiburan, dan memperburuk posisi sosial Namun, mereka di masyarakat. terus berkembang dalam seni pertunjukkan Temuan ini sejalan dengan konsep khususnya bagi penari Ronggeng ketuk, subaltern menurut Spivak, di mana kelompok dalam representasi budaya. Dalam konteks pemerintah, para penari memiliki kesempatan Tari Ronggeng Ketuk, komodifikasi tubuh untuk memperjuangkan identitas budaya, gender, dan profesi mereka secara lebih baik. Komodifikasi tubuh perempuan dalam mengukuhkan struktur kekuasaan patriarkal seni pertunjukan tari ronggeng ketuk di yang membungkam perempuan. Oleh karena Indramayu merupakan salah satu fenomena itu, diperlukan langkah pemberdayaan dan yang mencerminkan dinamika sosial, budaya, advokasi yang menjamin hak, martabat, dan ekonomi. Meskipun terdapat tantangan dan kendali perempuan atas tubuh serta dalam menghadapi objektifikasi, tari ronggeng kehidupan mereka, sekaligus mendorong juga memberikan peluang bagi perempuan pelestarian kesenian tradisional yang lebih untuk memperjuangkan identitas dan hak setara dan berkeadilan gender. Oleh karena itu, penting untuk terus mengkaji dan mendiskusikan isu ini agar seni pertunjukan tidak hanya menjadi medium *** hiburan, tetapi juga sarana pemberdayaan bagi perempuan. DAFTAR PUTAKA Alfien. Subiyantoro. , & Wardani. SIMPULAN Penelitian . Kesenian Berokan Indramayu: Asal-Usul. Fungsi. Makna Simbolik. Panggung: Jurnal Seni seni pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Budaya, 35. https://doi. org/10. Indramayu, sebuah kesenian yang memiliki kemiripan dengan Ketuk Tilu di daerah lain Alfarisi. , & Saepuloh. Nilai-nilai dan menggunakan instrumen tradisional toleransi dalam tradisi upacara Mapag seperti ketuk, rebab, gendang, gong, dan Sri di Desa Slangit. Cirebon. Jurnal Hasil penelitian menunjukkan bahwa Iman dan Spiritualitas, 3. , 143Ae148. komodifikasi terjadi melalui penonjolan daya Ande. Utomo. Lehan. , & tarik fisik penari untuk menarik penonton dan Saefudin. Ritual language menghasilkan keuntungan ekonomi. Praktik in Korolele ceremony: Local wisdom. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto cultural identity, and moral education. International Journal Society. Culture and Language, 13. Foucault. Dicipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: Pntheneon Books. Barker. Chris. The Sage Disctionary Foucault. The History of Sexuality, of Cultural Studies. London: Sage Volume 1: An Introduction. Translated Publications. by Robert Hurley. New York: Pantheon Becker. Howard S. Art Worlds. University of California Press. Bordo, . Gramsci. Selection from the Prison Unbearable Weight: Notebooks. Edited by Quintin Hoare Feminism. Western Culture, and the and Geoffrey Nowell Smith. New York: Body. University of California Press. International Publishers, 1999. Bourdieu. Pierre. Symbolic Power. In Language and Symbolic Power. Harvard University Press. Boelens-van Duinen. Experiences. Linnaeus New University. https://lnu. diva-portal. org/smash/get/ diva2:1933577/FULLTEXT01. Judith. Hadi. S . Tari Tradisional di Indonesia. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hempel. Philosophy of Natural Generation Subaltern and Feminism Butler. Books, 1990. Gender Science (Edisi ke-. Englewood Cliffs. NJ: Prentice-Hall. Hook. Bell. Feminist Theory: From Margin to Center. South End Press. Jensen. & Thing. Performing Trouble: Gender in Recreational Pole Dancing: Feminism and the Subversion of Enabling and Constraining Factors. Identity. Routledge. Sociological Caturwati. Tari Tradisional dan Identitas Perempuan di Indonesia. Bandung: Penerbit Seni Nusantara. Research Design: Choosing Among Five Approaches . rd ed. Thousand Oaks. CA: SAGE Publications. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Fajri. Hikmat. , & Rahman. Agricultural social identity among the Lelea people. Indramayu. Antropocene: Wawancara pengalaman penari Ronggeng Ketuk. Dokumentasi pribadi. Kaplan. Anne. Women and Film: Both Sides of the Camera. Routledge. De Beauvoir. Simone. The Second Sex. Ngarot: http://dx. org/10. 1080/00380237. Kartiwen. Creswell. Qualitative Inquiry & Focus. Kussudiardja. Mencari Jatidiri Tari Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Malinowski. Argonauts of the Wastren Pacific . nd e. London: Routledge. Journal Marx. Karl, & Engels. Friedrich. The of Social. Humanities and Political Communist Manifesto. Penguin Books. Science Studies, 1. , 56Ae64. https://doi. Mulvey. Laura. AuVisual Pleasure and org/10. 61491/antropocene. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Narrative Cinema. Ay Screen, 16. : 6-18. Komodifikasi Tubuh Perempuan pada Pertunjukan Tari Ronggeng Ketuk di Indramayu Nisfiyanti. Yanti. AuKajian Nilai Budaya dalam Kecamatan Lelea. Indramayu (Skripsi. Upacara Mapag Sri di Desa LeleaAy Institut Seni Indonesia Yogyakart. dalam Jurnal Patanjala Vol. 3 No. Retrieved September 2011. Hlm. id/2102/2/Jurnal Ratnawati. Nugra. Gusmail. , & Andiko. Rosadi. Perwira, https://digilib. Satria. Pengelolaan Gerak dan Pemanfaatan . Local wisdom of Indramayu Digital Audio dalam Proses Kreatif community in transforming Islamic Mencipta Tari di Lembaga Buana, values through Bujanggaan tradition. Banda Aceh. Panggung: Jurnal Seni Proceedings Budaya, 32. , 205Ae220. https://doi. International Conference, 524Ae530. org/10. 26742/panggung. ASBAM Rusmana. Criminal Law Nurwani. , & Martozet. Tubuh Analysis of the Exploitation of Women Penari Penceng sebagai Komoditi Pasar in the Film Sang Penari. Journal Equity pada Masyarakat Karo. Panggung: of Law and Governance, 6. Jurnal Seni Budaya, 32. https:// Safitri. Eksplorasi Sosial dan Budaya doi:10. 26742/panggung. dalam Film AuSang PenariAy. Prosiding Patel. Embodied activism: Finding Pijar: Pedagogi Bahasa dan Sastra her purpose through dance. Agnes Scott College. Pudyadhita. Indonesia. Samian. Buku Sejarah Desa Lelea. Representasi Indramayu. Tidak diterbitkan Perempuan Penari dalam Kesenian Sembodo. Yuli. Tari Tradisional: Antara Rakyat Ronggeng (Studi Semiotika Budaya dan Komodifikasi. Penerbit pada Film Sang Penar. (Skripsi. Ombak. Universitas Diponegor. Rahmadhani, . Siga. Waruwu. Fransiska. Perspektif Joshua, . Symbolic Masyarakat terhadap Upacara Adat modification and declining community Ngarot dalam Mewujudkan Solidaritas participation in cultural traditions: Sosial di Desa Lelea Kecamatan Lelea A study of the Ngarot ritual in Tugu Kabupaten Indramayu (Skripsi. UIN Village. Indramayu. West Java. Focus: Sunan Gunung Djati Bandun. Journal of Social Studies, 6. , 81Ae Ramayuda. Lestari. Amelia. , & Ulhaq, . The efforts of the society in https://doi. org/10. 26593/focus. preserving Ngarot art in Lelea Village. Soekanto. Sosiologi: Suatu Pengantar. Indramayu Regency. JOMANTARA, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. https://doi. org/10. 23969/jijac. Spivak. Gayatri Chakravorty. "Can the Subaltern Speak?" In Marxism and the Ratnawati. Fungsi Tari Ronggeng Ketuk Interpretation of Culture, edited by dalam Upacara Ngarot di Desa Lelea. Cary Nelson and Lawrence Grossberg. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Isad Suhaeb. Dwi Susanto Urbana: University of Illinois Press. Wasim. Makna Simbol Tradisi Ngarot di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Spivak. Can the Subaltern Speak? In C. Nelson & L. Grossberg (Eds. Marxism and the Interpretation of Indramayu Jawa Barat (Skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakart. Waluya. RONGGENG: Kuasa Culture . 271Ae. University of Tubuh Illinois Press. Budaya, 19. https://doi. org/10. Spivak. A Critique of Postcolonial Perempuan. Jurnal Ilmu Reason: Toward a History of the Wolf. The Beauty Myth: How Images Vanishing Present. Harvard University of Beauty Are Used Againt Women. Press. New York: HarperColiins. Suharianto . Eksplorasi Seni Tradisi di Indonesia. Surakarta: Penerbit Solo. & LC. Aesthetic evaluation of Suhaeb. , & Farhah. Menelusuri Ngarot Zhang. Li. Chang. Fu. Allen. body movements shaped by embodied and cognitive experience. Scientific Indramayu: Jejak tradisi dan kearifan Reports. Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah s41598-024-75427-9 Pariwisata Agama dan Budaya, 9. , 179Ae186. https://doi. org/10. Sugiyono. Kuantitatif. Penelitian R&D. Bandung: Alfabeta. Sutrisno, . Ensambel Gamelan: Pustaka Gamelan. Tarighat Bin. Maryam, and Sadati. Seyyed Shahabeddin. "An Analysis of Gender Performativity in Iraj MirzaAos 'Zohreh and Manouchehr' in the Light of Judith ButlerAos Theories. Language Art, 8. , 51Ae64. https://doi. org/10. 22046/LA. The Subaltern Can Speak . Revisiting Spivak's Concept in the Case of Female Characters. " Journal of Literary Studies. https://journals. eg/article_276775. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 , & LC. "Becoming react to avatars unlike themselves capture-supported improvisational performance. arXiv. Harmoni dalam Musik Jawa. Surakarta: Zhang. Li. Chang. Fu. Allen, my own audience": How dancers Metode Kualitatif, https://doi. org/10. Article No. : 1057. Pages 1 Ae 24 https:// org/10. 1145/3706598.