Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. , 2021 p-ISSN: 1979-2697 e-ISSN: 2721-1797 Pola Asuh Permisif dan Otoriter Orang Tua terhadap Perilaku Seks Bebas pada Remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya Nurry Ayuningtyas Kusumastuti1*. Fatimah Indriastuti2 Program Studi Keperawatan. STIKes YATSI Tangerang. Tangerang. Banten, 15114. Indonesia *Email: nurry0067@gmail. Abstrak: Perilaku seks bebas di kalangan remaja menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan reproduksi remaja, khususnya kehamilan di luar nikah. Penyebab utama dari perilaku seks bebas adalah pola asuh orang tua yang salah. Terdapat tiga macam pola asuh orang tua. Pola asuh permisif membuat anak menjadi lebih bebas melakukan hal-hal negatif karena memberikan kebebasan pada anak tanpa pengawasan. Sedangkan, pola asuh otoriter dapat menyebabkan anak menjadi merasa tertekan dan ketakutan karena membatasi pergaulan anak dan memaksakan kehendak orang tua. Pola asuh yang mengkombinasikan keduanya adalah pola asuh demokratis yang menerapkan komunikasi dan kerjasama yang baik antara anak dan orang tua, sehingga anak menjadi lebih terbuka dan memiliki rasa tanggung jawab. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan antara pola asuh permisif dan otoriter orang tua terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya tahun 2020. Metode penelitian: Menggunakan desain Komparatif dengan jumlah sampel 100 responden yang diambil dengan teknik Simple Random Sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang dimasukkan ke dalam google formulir, dan menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian: Menunjukkan nilai . = 0. 014 < 0. , perbedaan tersebut terlihat dari pola asuh permisif yang lebih rendah 0. 813 dibandingkan pola asuh otoriter 5. Kesimpulan: ada perbedaan yang signiAkan antara pola asuh permisif dan otoriter orang tua terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya tahun 2020. Kata Kunci: Pola asuh, permisif, otoriter, perilaku seks bebas, remaja. Abstract: Free sex behavior among adolescents has a negative impact on adolescent reproductive health, especially pregnancy outside of marriage. The main cause of free sex behavior is the wrong parenting style. There are three kinds of parenting styles. Permissive parenting makes children freer to do negative things because it gives children freedom without supervision. Meanwhile, authoritarian parenting can cause children to feel depressed and afraid because they limit children's interactions and impose their parents' will. The best choice about type of parenting is a combination of both, namely is democratic parenting that applies good communication and cooperation between children and parents, so that children feel free to share and have a sense of responsibility. Purposes: this study aimed to determine of the diAerences in parent perfective and authoritary parents to adolescent free sex in vocational school of Prima Bakti Citra Raya, 2020. Method: This study used a comparative design with 100 respondents using Simple Random Sampling design. The data was collected by using a questionnaire that was entered into the google form. The diAerence of dependent variables between the two groups were tested by Chi-Square. Results : The result of this study was statistically signiAcant . = 0. 014 <0. with an OR value of 0. 813, permissive parenting pa ern have a risk of 0. 8 times lower than free sex behavior in adolescent and for authoritarian parenting parents has 5. 8 times greater risk of free sex in adolescent. Conclusion: So, it can be concluded that there is a signiAcant between permissive parenting and authoritarian parenting to adolescent free sex in vocational school of Prima Bakti Citra Raya Jurnal Berita Ilmu Keperawatan. Vol. , 2021. p-ISSN:1979-2697. e-ISSN: 2721-1797 Keywords: Parenting style, permissive, authoritarian, free sex behavior, adolescent PENDAHULUAN Masa remaja sering disebut dengan masa Aumencari jati diriAy karena remaja belum dapat memfungsikan dan menguasai secara maksimal fungsi Asik maupun fungsi psikisnya. Keadaan itu membuat remaja memiliki emosi yang lebih tinggi karena belum mampu mengendalikan diri dengan sempurna, sehingga sangat rentan dengan berbagai pengaruh dari lingkungan pergaulan termasuk dengan perilaku seksualnya (Sarono, 2. Prevalensi perilaku seks bebas di negara Amerika Serikat pada tahun 2018, terdapat sekitar 21% kasus yang menimbulkan diagnosis HIV baru. Pada remaja laki-laki sekitar 87% dan pada wanita sekitar 13%, lalu setengah dari 20 juta PMS baru di negara Amerika Serikat merupakan siswa SMA yang berusia 15-24 tahun. Lalu sekitar 41% siswa SMA pernah melakukan hubungan seksual dan hampir 180. 000 bayi lahir dari remaja putri yang berusia 15-19 tahun (Department of Health and Human Service, 2. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang ada di dunia. Perilaku seks menyimpang di negara berkembang sekitar 12 juta remaja perempuan yang berusia 15-19 tahun yang mengalami kehamilan dan sekitar 49% merupakan kehamilan yang tidak Kehamilan tersebut merupakan salah satu penyebab yang ditimbulkan dari perilaku seks menyimpang yang dilakukan sebelum pernikahan (World Health Organization, 2. Ketua Divisi dan Riset Lembaga Perlindungan Anak remaja . mengatakan bahwa kehamilan yang ditimbulkan akibat perilaku seks bebas pada remaja di Jawa Timur mengalami peningkatan dari tahun 2014 terdapat 23 kasus, kemudian pada tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 30 kasus (Ahiyanasari, 2. Sedangkan menurut Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional . , sekitar 51% remaja yang ada di wilayah Jabodetabek sudah kehilangan keperawanannya pada usia 13-15 tahun. Kejadian perilaku seks pranikah di Surabaya mencapai 47%, di Bandung. Medan sekitar 52% dan Papua sekitar 98% (Rahmawati, 2. Menurut Survei DemograA dan Kesehatan Indonesia didapatkan sekitar 3,2 juta remaja berusia 15-19 tahun memiliki risiko tinggi terhadap perilaku seksualnya, yaitu remaja yang memiliki gaya berkencan tidak sehat seperti berciuman, berpelukan hingga melakukan hubungan seksual (SDKI, 2. Menurut Rahmawati . menyatakan bahwa di Indonesia sekitar 97% remaja SMA mengaku suka menonton Alm porno, sekitar 93,7% pernah berciuman, pe ing, melakukan seks oral dan sekitar 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Perilaku seks bebas pada remaja terjadi karena beberapa faktor yang dapat menyebabkan remaja melakukan hubungan seksual, yaitu faktor religiusitas, faktor pola asuh orang tua, dan faktor tekanan dari teman sebaya. Dari pernyataan tersebut didapatkan bahwa penyebab utama yang berhubungan dengan perilaku seks bebas pada remaja adalah pola asuh orang tua. Kecenderungan perilaku seksual remaja yang buruk dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang salah dalam mengasuh dan membesarkan anak. Menurut Survei DemograA dan Kesehatan Indonesia . menyatakan bahwa semakin meningkatnya penyimpangan perilaku seks bebas di kalangan remaja akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan reproduksi remaja, khususnya remaja putri dan menyebabkan angka kehamilan usia remaja di luar nikah yang masih sangat tinggi. Kehamilan usia remaja di luar nikah tersebut yang menjadikan kasus aborsi untuk saat ini masih tinggi karena merupakan pilihan yang tidak bisa dihindarkan. Selain itu, perilaku seks bebas juga akan menyebabkan dampak Asiologis pada remaja, yaitu dapat mengakibatkan terjadinya penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS (Sarwono, 2. Hasil penelitian Pandensolang . , yang berjudul AuHubungan Pola asuh Orang tua dengan Perilaku Seksual pada Remaja di SMA negeri 1 Beo kepulauan TalaudAy, dari 93 responden menyatakan hasil uji Kolmogorov-smirnov 95% tingkat kemaknaan didapat 0. 003 < 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku seksual pada Sedangkan menurut (Suparni, 2. menyatakan bahwa dari 76 responden menunjukkan ada hubungan positif yang terjadi antara pola asuh permisif dengan sikap seks bebas, dengan hasil t 297 30 dan pola asuh orang tua otoriter jika O 30, yang kedua kuesioner perilaku seks bebas yang berisi 10 pertanyaan menggunakan skala gu man dengan penilaian jawaban Pernah 1. Tidak Pernah 0 serta menggunakan hasil ukur perilaku seks bebas tidak baik jika >5 dan perilaku seks bebas baik jika O 5 yang diadopsi dari Devi . Pengolahan data hasil penelitian ini menggunakan komputer dan diolah menggunakan SPSS, lalu dianalisis dan disajikan ke dalam bentuk analisis univariat dan bivariat. Tahap pengolahan data pada penelitian ini yaitu. Editing. Coding. Processing . ntry dat. , dan Cleaning. Analisis bivariat pada penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pola asuh permisif dan otoriter orang tua terhadap perilaku seks bebas pada remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya tahun 2020. Skala ukur dalam penelitian ini adalah skala nominal dan ordinal, maka uji statistik yang digunakan adalah Uji Chi Square. HASIL Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, maka dapat ditampilkan tabel 1 yang menjelaskan data jenis pola asuh orang tua pada remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya. Tabel 1 menyajikan jumlah dan persentase kategori pola asuh orang tua remaja di SMK Bakti Citra Raya Tabel 1. Distribusi berdasarkan Pola asuh Permisif dan Otoriter Orang tua terhadap Perilaku Seks Bebas pada Remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya Tahun 2020. Pola Asuh Orang Tua Jumlah Persentase(%) Pola Asuh Permisif Pola Asuh Otoriter Total Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pola asuh orang tua responden yang memiliki pola asuh permisif adalah sebanyak 88 orang sedangkan yang memiliki pola asuh otoriter sebanyak 12 orang. Pada tabel 2 dapat dilihat hasil distribusi perilaku tentang seks bebas pada remaja di SMK Bakti Citra Raya. Sebanyak 100 remaja sesuai subyek penelitian dikategorikan dalam dua kelompok yaitu kategori perilaku tidak baik dan baik. Tabel 2. Distribusi berdasarkan Perilaku Seks Bebas pada Remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya Tahun 2020. Kategori Jumlah Persentase (%) Tidak Baik Baik Total Jurnal Berita Ilmu Keperawatan. Vol. , 2021. p-ISSN:1979-2697. e-ISSN: 2721-1797 Selanjutnya pola asuh orang tua dihubungkan dengan perilaku seks bebas remaja dan dipresentasikan pada tabel 3. Adapun untuk menyajikan perbedaan pola asuh permisif dan otoriter orang tua maka disajikan hasil analisa bivariat dengan menuliskan tabulasi silang dan nilai Odds Ratio (OR). Tabel 3. Perbedaan Pola asuh Permisif dan Otoriter Orang tua terhadap Perilaku Seks Bebas pada Remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya Tahun 2020. Pola Asuh Orang Tua Perilaku Seks Bebas Tidak baik Baik Permisif Otoriter Total Total Median P-Value Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 responden didapat sebanyak 52 responden dengan pola asuh permisif memiliki perilaku seks bebas tidak baik, 36 responden dengan pola asuh permisif memiliki perilaku seks bebas baik, untuk pola asuh otoriter sebanyak 2 responden memiliki perilaku seks bebas tidak baik dan 10 responden memiliki perilaku seks bebas baik. Dari hasil nilai OR 0. 813 maka pola asuh permisif orang tua memiliki 0. 8 kali lebih rendah terhadap perilaku seks bebas pada remaja. Sedangkan untuk pola asuh otoriter orang tua memiliki 5. 8 kali lebih besar terhadap perilaku seks bebas pada remaja. Hasil uji Chi-Square dengan nilai p-value 0. 014 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pola asuh permisif dan otoriter orang tua jika dihubungkan dengan perilaku seks bebas pada Remaja di SMK Prima Bakti Citra Raya Tahun 2020. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa data distribusi pola asuh permisif orang tua paling banyak yaitu, 88 responden, sedangkan pola asuh otoriter lebih sedikit, yaitu 12 responden. Dari penelitian (Pandensolar, 2. , didapatkan hasil 0. 003 < 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku seksual pada remaja. Sedangkan, menurut (Suparni, 2. , menyatakan bahwa dari 76 responden menunjukkan ada hubungan positif yang terjadi antara pola asuh permisif dengan sikap seks bebas, dengan hasil t hitung 0. 297