Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review Adji Muhammad Dafa1*. Raafi Akbar Hadiputra1. Abiyyu Hassan Ismail1. Liana Putri1. Ulfa Nurrofingah1. Ainun Nafisah1 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang. Indonesia djimd62@gmail. Abstrak Kalsium memegang peran penting dalam menjaga fungsi fisiologis sapi perah pada awal laktasi ketika kebutuhan mineral meningkat tajam untuk pembentukan kolostrum dan produksi susu. Ketidakseimbangan kalsium pada fase ini sering menyebabkan hipokalsemia yang berdampak pada kesehatan dan performa Kajian literatur menunjukkan bahwa kadar kalsium darah memiliki hubungan yang erat dengan kadar kalsium susu, dimana perubahan konsentrasi kalsium darah cenderung diikuti oleh perubahan kalsium yang diekskresikan ke dalam susu. Penelitian sebelumnya melaporkan nilai korelasi yang tinggi, yaitu 0,905, yang menggambarkan hubungan positif yang kuat antara kedua parameter Mekanisme fisiologis seperti regulasi hormon PTH, vitamin D, dan mobilisasi tulang berperan besar dalam menjaga keseimbangan kalsium tubuh selama masa laktasi awal. Pemantauan kalsium darah dan susu dapat dijadikan indikator penting untuk menilai status metabolik sapi perah dan membantu menentukan strategi suplementasi mineral yang tepat pada periode transisi. Kata kunci: kalsium darah, kalsium susu, sapi perah, laktasi awal, hipokalsemia Abstract Calcium plays a crucial role in maintaining physiological functions in dairy cows during early lactation, a period marked by a sharp increase in mineral demand for colostrum formation and milk production. Imbalances in calcium supply during this phase frequently lead to hypocalcemia, affecting health and milk yield. review of recent literature indicates a strong association between blood calcium concentration and milk calcium levels, where fluctuations in blood calcium tend to correspond with changes in calcium secreted into milk. Previous studies reported a high positive correlation, with a value of 0. 905, demonstrating a close relationship between these two variables. Physiological mechanisms involving parathyroid hormone, vitamin D, and bone mobilization play major roles in regulating calcium homeostasis during this critical period. Monitoring both blood and milk calcium serves as an important indicator of metabolic status and supports the development of effective mineral supplementation strategies for transition dairy cows. Keywords: blood calcium, milk calcium, dairy cows, early lactation, hypocalcemia 19 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Pendahuluan Masa laktasi awal pada sapi perah memicu peningkatan kebutuhan kalsium yang tinggi akibat dimulainya produksi kolostrum dan susu. Perubahan fisiologis dan metabolik yang terjadi pada fase ini dapat menyebabkan penurunan kadar kalsium darah yang cukup drastis. Hipokalsemia menjadi gangguan metabolik yang paling sering muncul dan berhubungan langsung dengan meningkatnya alokasi kalsium untuk sintesis susu (Neves et al. , 2. Homeostasis kalsium sangat bergantung pada kerja hormon paratiroid, vitamin D aktif, serta magnesium sebagai kofaktor penting dalam aktivasi enzim. Defisiensi magnesium berpotensi memperburuk hipokalsemia karena menghambat pelepasan PTH dan aktivasi vitamin D (Rodney et al. , 2. Ketidakseimbangan kalsium pada periode transisi dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik lain seperti ketosis, displaced abomasum, dan metritis. Pemahaman kondisi ini menjadi dasar penting untuk menilai hubungan antara kalsium darah dan kalsium susu pada sapi perah laktasi awal (Constable et al. , 2. Kalsium merupakan mineral utama yang disekresikan dalam jumlah besar ke dalam susu dan memberikan tekanan besar terhadap regulasi kalsium maternal. Proses transportasi kalsium dari darah menuju alveolus berlangsung melalui mekanisme transselular yang melibatkan berbagai protein transporter seperti ORAI1 dan PMCA2 yang berperan dalam pengeluaran kalsium ke dalam lumen susu (Wilkens et al. , 2. Sumber kalsium untuk produksi susu berasal dari absorpsi pencernaan dan mobilisasi tulang, dengan mobilisasi tulang menjadi penopang utama pada awal laktasi. Kelenjar ambing menghasilkan PTHrP yang merangsang osteoklas untuk melepaskan kalsium ke sirkulasi, sehingga ambing berfungsi sebagai kelenjar paratiroid tambahan (Hernandez et al. , 2. Aktivitas CaSR dan serotonin pada sel epitel ambing ikut mengatur produksi PTHrP dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan susu dan homeostasis maternal (Connelly et al. , 2. Kompleksitas mekanisme ini menunjukkan adanya keterkaitan fisiologis antara kadar kalsium darah dan kalsium susu. Penilaian hubungan tersebut diperlukan untuk memahami respons metabolik sapi perah pada fase laktasi awal. Pengukuran kadar kalsium darah dan kalsium susu menjadi langkah penting untuk mengevaluasi dinamika metabolisme kalsium pada masa transisi. Pengukuran kalsium darah dapat dilakukan melalui analisis total kalsium maupun kalsium terionisasi, dengan kalsium terionisasi sebagai indikator yang lebih representatif terhadap fungsi fisiologis (Leno et al. Teknologi point-of-care seperti i-STAT telah menunjukkan akurasi baik dibandingkan metode laboratorium dan memudahkan deteksi cepat hipokalsemia di lapangan (Neves et al. Analisis kalsium susu umumnya dilakukan dengan atomic absorption spectrometry setelah proses destruksi sampel untuk melepaskan kalsium dari protein susu. Penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada pengukuran parsial tanpa menilai dinamika kalsium secara menyeluruh, sehingga informasi mengenai hubungan antara kalsium darah dan kalsium susu masih terbatas (Caixeta dan Omontese, 2. Kekurangan data ini menegaskan perlunya penelitian yang mengkaji korelasi kedua parameter tersebut pada sapi perah laktasi awal. Hasil penelitian semacam ini diharapkan dapat mendukung strategi pencegahan hipokalsemia yang lebih tepat dan sesuai kondisi metabolik ternak (Cao et al. , 2. 20 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Metode Penelitian Metode Penulisan ini menggunakan studi literatur sistematis untuk menganalisis hubungan antara kadar kalsium darah dan kalsium susu pada sapi perah laktasi awal . Ae30 hari Literatur diperoleh dari basis data Scopus. ScienceDirect. PLOS ONE. PubMed, dan SINTA dari tahun 2016 hingga 2025 menggunakan kata kunci seperti Aucalcium bloodAy. Aucalcium milkAy. Audairy cowsAy, dan Auearly lactation calciumAy. Kriteria seleksi meliputi penelitian pada sapi perah yang menyediakan data kadar kalsium darah dan susu, sedangkan artikel nonpeer-reviewed, data tidak lengkap, atau penelitian pada hewan lain dikecualikan. Data yang dikumpulkan meliputi ras sapi, fase laktasi, kadar kalsium darah dan susu, produksi susu, metode pengukuran, serta hasil korelasi. Analisis dilakukan secara deskriptif dan disintesiskan secara naratif, dengan hasil disajikan dalam tabel ringkasan dan grafik jika tersedia, serta seluruh data dikaitkan dengan sumber jurnal untuk validitas ilmiah. Kriteria yang digunakan meliputi beberapa hal, seperti : Artikel membahas tentang korelasi kalsium darah dan kalsium susu pada sapi perah laktasi awal Artikel terindeks Scopus Artikel diterbitkan dalam periode 10 tahun terakhir . Setelah proses pencarian dan penapisan selesai, artikel yang diperoleh kemudian di evaluasi kualitasnya, dari 51 artikel yang ada, hanya 32 artikel yang benar-benar sesuai dengan fokus penelitian ini. Hasil dan Pembahasan Peran Kalsium dalam Fisiologi dan Produksi Susu Sapi Perah Kalsium memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga fungsi fisiologis tubuh sapi perah, terutama pada masa laktasi awal (Wilkens et al. , 2. Pada periode ini, kebutuhan kalsium meningkat karena produksi susu memerlukan mineral dalam jumlah besar untuk mempertahankan komposisi yang optimal. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan kalsium sering menimbulkan gangguan metabolik seperti hipokalsemia klinis maupun subklinis. Kondisi ini dapat menurunkan konsumsi pakan dan menyebabkan penurunan produksi susu secara signifikan. Gangguan metabolik tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi dan ketahanan tubuh sapi. Pemahaman terhadap dinamika kalsium darah dan hubungannya dengan kalsium dalam susu menjadi penting dalam upaya pencegahan penyakit metabolik (Serrenho et al. , 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sapi dengan kadar kalsium darah rendah cenderung menghasilkan susu dengan kadar kalsium yang tidak stabil. Kajian ini dapat membantu dalam pengembangan strategi nutrisi untuk mempertahankan keseimbangan mineral selama fase kritis laktasi (Venjakob et al. , 2. Produksi susu yang tinggi sangat bergantung pada kemampuan tubuh sapi dalam menjaga homeostasis kalsium (Connelly et al. , 2. Mekanisme hormonal seperti parathyroid hormone (PTH) dan vitamin D berperan penting dalam menjaga keseimbangan ini. Pada kondisi kadar kalsium darah menurun, tubuh sapi akan mengaktifkan pelepasan kalsium dari tulang untuk menjaga kestabilan fisiologis. Mekanisme ini memerlukan waktu adaptasi dan sering kali tidak 21 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen seimbang pada awal laktasi. Ketidakseimbangan tersebut dapat menurunkan efisiensi produksi susu dan menyebabkan gangguan kesehatan seperti milk fever. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplementasi kalsium setelah melahirkan dapat membantu mempertahankan kadar kalsium darah dan memperbaiki performa produksi (Seely et al. , 2. Hubungan yang kuat antara kadar kalsium darah dan kalsium susu menunjukkan bahwa pemantauan kedua parameter ini penting dilakukan secara bersamaan. Evaluasi ini membantu menentukan strategi nutrisi yang lebih tepat dalam manajemen sapi perah (Wilkens et al. , 2. Fase awal laktasi merupakan masa transisi fisiologis yang kompleks bagi sapi perah (Serrenho et al. , 2. Pada masa ini, sapi mengalami peningkatan kebutuhan energi dan mineral secara bersamaan. Kalsium menjadi mineral yang paling banyak dimobilisasi karena digunakan untuk produksi susu dalam jumlah besar. Kekurangan kalsium pada masa ini akan memengaruhi keseimbangan metabolisme dan menyebabkan gangguan seperti retensi plasenta serta ketosis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar kalsium dalam darah berkorelasi positif dengan kadar kalsium dalam susu pada minggu pertama laktasi (Kovacikova et al. Hubungan ini dapat dijadikan indikator status kesehatan sapi dan kualitas susu yang Pengukuran kadar kalsium darah secara rutin dapat membantu mendeteksi defisiensi sebelum muncul gejala klinis. Preventif ini menjadi langkah penting dalam menjaga performa dan kesejahteraan sapi perah (Zhang et al. , 2. Penelitian mengenai korelasi kalsium darah dan kalsium susu berkontribusi besar terhadap pengembangan sistem manajemen nutrisi yang lebih efisien (Connelly et al. , 2. Hasil studi lapangan menunjukkan bahwa kadar kalsium darah yang stabil dapat mendukung peningkatan produksi susu serta menurunkan risiko gangguan metabolik (Seely et al. , 2. Pengaturan keseimbangan asam-basa melalui manipulasi DCAD pada masa pra-partum juga terbukti membantu mempertahankan kalsium darah setelah melahirkan (Wilkens et al. , 2. Strategi suplementasi mineral yang terukur mampu memperbaiki keseimbangan elektrolit dan mendukung fungsi otot serta sistem saraf. Pemantauan kadar kalsium darah dan susu dapat digunakan sebagai alat evaluasi kesehatan individu maupun kelompok ternak. Implementasi teknologi sensor otomatis juga mulai digunakan untuk memantau perubahan komposisi susu secara real time. Hasil penelitian ini memberikan dasar bagi peningkatan efisiensi produksi susu secara berkelanjutan. Pemahaman yang mendalam terhadap hubungan antara kedua parameter ini akan membantu meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas sapi perah (Kovacikova et , 2. Pakan Sumber Kalsium Untuk Sapi Perah Laktasi Awal Pakan merupakan sumber utama kalsium bagi sapi perah laktasi awal, dengan berbagai bahan pakan yang memiliki konsentrasi dan bioavailabilitas kalsium yang berbeda-beda. Hijauan legum seperti alfalfa dan clover mengandung kalsium yang jauh lebih tinggi dibandingkan hijauan rumput, dimana legum dapat menyumbang 1-2% kalsium dari bahan kering sedangkan rumput hanya menyumbang 0,3-0,5% kalsium. Suplemen kalsium anorganik yang paling umum digunakan dalam ransum sapi perah adalah limestone atau kalsium karbonat yang mengandung sekitar 34-38% kalsium dan dikalcium fosfat yang mengandung sekitar 22% kalsium serta 19,3% fosfor, dimana dikalcium fosfat memberikan keuntungan ganda karena menyediakan kedua mineral esensial sekaligus (Cohrs et al. , 2. Bioavailabilitas kalsium dari berbagai sumber pakan bervariasi, dengan bone meal dan dikalcium fosfat memiliki bioavailabilitas tertinggi sekitar 51%, limestone memiliki bioavailabilitas menengah sekitar 22 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen 43%, sedangkan kalsium dari hijauan memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah sekitar 35% karena terikat dengan asam oksalat dan fitat yang menghambat absorpsi. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian asupan kalsium yang rendah hingga 70% dari kebutuhan selama 10 minggu pertama laktasi dapat dikompensasi oleh sapi melalui peningkatan absorpsi digestif kalsium, namun strategi ini cenderung menurunkan produksi susu rata-rata sebesar 2 kg per hari dibandingkan sapi yang diberi 100% kebutuhan kalsium (Gaignon et al. , 2. Keseimbangan yang tepat antara konsentrasi kalsium pakan dan rasio kalsium terhadap fosfor sangat penting untuk memaksimalkan absorpsi kalsium intestinal dan meminimalkan mobilisasi berlebihan dari cadangan tulang, dengan rasio kalsium-fosfor yang ideal berkisar 1,6:1 hingga 2:1 untuk sapi laktasi awal. Kalsium propionat telah berkembang menjadi suplemen alternatif yang efektif untuk sapi perah laktasi awal karena memberikan manfaat ganda sebagai sumber kalsium dan prekursor Kalsium propionat dapat terdissosiasi menjadi ion kalsium dan asam propionat di dalam rumen, dimana ion kalsium dapat diabsorpsi secara pasif melalui difusi antar sel epitel intestinal ketika diberikan dalam dosis tinggi, sementara asam propionat berfungsi sebagai substrat utama untuk sintesis glukosa di hati yang membantu mengatasi keseimbangan energi negatif. Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi kalsium propionat dengan dosis 350 gram per hari menghasilkan peningkatan produksi susu secara kuadratik dengan nilai tertinggi mencapai 53,67 kg per hari, sekaligus menurunkan konsentrasi beta-hidroksibutirat dan asam lemak non-esterifikasi dalam serum yang mengindikasikan perbaikan status energi (Zhang et al. , 2. Pemberian kalsium propionat tidak hanya meningkatkan konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah secara linear dan kuadratik, tetapi juga memperbaiki fermentasi rumen dengan meningkatkan konsentrasi total asam lemak volatil termasuk asetat, propionat, butirat, iso-valerat, dan valerat yang menyediakan sekitar 70% kebutuhan energi ruminansia (Zhang et , 2. Suplementasi kalsium propionat juga mengubah komposisi mineral susu, dimana peningkatan dosis secara linear menurunkan konsentrasi magnesium dan fosfor dalam susu tetapi meningkatkan konsentrasi kalium secara kuadratik, meskipun tidak berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi kalsium dan besi dalam susu. Dosis optimal kalsium propionat sebesar 350 gram per hari terbukti paling efektif dalam meningkatkan performa laktasi dan memperbaiki profil metabolit susu dengan menurunkan mobilisasi jaringan adiposa dan kalsium tulang, meskipun suplementasi ini juga menurunkan kapasitas antioksidan serum sehingga perlu dipertimbangkan dalam aplikasi praktis di lapangan. 23 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Besaran Kebutuhan Kalsium pada Sapi Perah Tabel 1. Kebutuhan Kalsium pada Sapi Perah No. Berat Badan Jenis sapi perah . Kebutuhan Kalsium . /ekor/har. Sumber Jurnal Holstein 95Ae120 Oliveira dan Soares, . Jersey 60Ae70 Oliveira dan Soares, . Brown Swiss 680 kg 90Ae95 Ott et al. , . Guernsey 550 kg 75Ae85 Visentin et al. , . Ayrshire 600 kg 75Ae85 Newton et al. , . Tabel di atas menunjukkan estimasi kebutuhan kalsium harian . /ekor/har. pada beberapa jenis sapi perah yang berbeda, termasuk Holstein. Jersey. Brown Swiss. Guernsey, dan Ayrshire. Kebutuhan kalsium pada sapi perah dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu ras sapi, berat badan, tingkat produksi susu, dan fase laktasi (Oliveira dan Soares, 2. Sapi Holstein dengan berat badan A650 kg memiliki kebutuhan kalsium sekitar 95Ae120 g/hari, yang merupakan yang tertinggi di antara jenis sapi yang dicatat. Hal ini sejalan dengan literatur internasional yang menunjukkan bahwa Holstein memiliki produksi susu yang tinggi, sehingga kehilangan kalsium melalui susu lebih besar dibandingkan ras sapi perah lain (Martinez et al. Asupan kalsium yang adekuat sangat penting untuk mencegah hipokalsemia postpartum dan menjaga kesehatan tulang serta fungsi fisiologis lainnya (Reitsma et al. , 2. Jersey memiliki berat badan lebih kecil (A450 k. dengan kebutuhan kalsium 60Ae70 g/hari, meskipun kandungan kalsium dalam susu Jersey lebih tinggi dibanding Holstein per liter Hal ini menunjukkan bahwa meskipun produksi susu total lebih rendah, ras Jersey membutuhkan suplai kalsium yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik dan menjaga kesehatan reproduksi (NASEM, 2. Brown Swiss. Guernsey, dan Ayrshire menempati kisaran kebutuhan kalsium 75Ae95 g/hari, dengan Brown Swiss cenderung lebih tinggi . Ae95 g/har. karena berat badannya lebih besar (A680 k. dan produksi susu menengah-tinggi (Ott et , 2023. Visentin et al. , 2017. Newton et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa ras sapi dengan berat badan lebih besar atau produksi susu lebih tinggi membutuhkan lebih banyak kalsium untuk mendukung metabolisme tulang dan sintesis susu. Perbedaan kebutuhan kalsium antar ras menegaskan pentingnya formulasi pakan yang spesifik ras, terutama pada fase laktasi awal, ketika sapi mengalami peningkatan mobilisasi kalsium dari tulang untuk mendukung produksi susu. Kekurangan kalsium pada periode ini dapat menyebabkan hipokalsemia subklinis, menurunkan produksi susu, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan (Oliveira dan Soares, 2024. NASEM, 2. 24 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Kadar kalsium darah dan susu pada sapi perah Tabel 2. Kalsium Darah dan Susu pada Sapi Perah No. Jenis sapi Berat Badan . Kebutuhan Kalsium . /ekor/har. Kebutuhan Darah . g/d. Sumber Jurnal Holstein 95Ae120 Oliveira dan Soares, . Jersey 60Ae70 Oliveira dan Soares, . Brown Swiss 680 kg 90Ae95 Ott et al. , . Guernsey 550 kg 75Ae85 Visentin et al. , . Ayrshire 600 kg 75Ae85 Newton et al. , . Tabel menunjukkan data lima jenis sapi perah, yaitu Holstein. Jersey. Brown Swiss. Guernsey, dan Ayrshire yang meliputi bobot badan, kebutuhan kalsium harian, serta kadar kalsium darah normal. Kalsium berfungsi sebagai mineral makro utama yang berperan penting dalam pembentukan tulang, kontraksi otot, transmisi impuls saraf, dan sekresi susu. Sapi Holstein dengan bobot 650 kg memiliki kebutuhan kalsium tertinggi, yaitu 95Ae120 g/ekor/hari dengan kadar kalsium darah 8. 5Ae10. 5 mg/dL. Nilai tersebut mencerminkan tingginya produktivitas susu yang menuntut asupan mineral dalam jumlah besar untuk mendukung metabolisme tubuh. Jersey dengan bobot 450 kg membutuhkan sekitar 60Ae70 g/ekor/hari, sedangkan Brown Swiss berbobot 680 kg membutuhkan 90Ae95 g/ekor/hari. Guernsey dan Ayrshire memiliki kebutuhan sedang, masing-masing 75Ae85 g/ekor/hari dengan kadar kalsium 6Ae10. 3 mg/dL. Perbedaan nilai tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan kalsium ditentukan oleh bobot tubuh, tingkat produksi susu, dan potensi genetik setiap ras sapi perah (Oliveira dan Soares, 2. Kadar kalsium darah normal pada sapi perah berkisar 8. 5Ae10. 5 mg/dL dan menggambarkan keseimbangan homeostasis tubuh. Regulasi kalsium diatur oleh hormon paratiroid (PTH), kalsitonin, dan vitamin D. Penurunan kadar kalsium di bawah batas normal menyebabkan hipokalsemia subklinis maupun klinis yang sering muncul pada masa awal laktasi atau milk fever (Ott et al. , 2. Kebutuhan kalsium yang tertera pada tabel merupakan jumlah yang perlu dipenuhi dari pakan dan suplemen untuk mempertahankan fungsi fisiologis. Sebagian besar kalsium disimpan dalam jaringan tulang sehingga kadar darah hanya mencerminkan sebagian kecil dari total kalsium tubuh. Valldecabres et al. , menyatakan bahwa rasio komponen susu seperti lemak dan protein memiliki hubungan erat dengan konsentrasi kalsium serum pada sapi laktasi awal. Sapi dengan kadar kalsium rendah cenderung mengalami gangguan kontraksi otot, penurunan nafsu makan, dan melemahnya metabolisme yang berdampak pada penurunan produksi susu (Barraclough et al. , 2. Faktor lain yang memengaruhi kebutuhan kalsium meliputi tahap laktasi, umur, keseimbangan mineral seperti fosfor dan magnesium, serta rasio kation-anion (DCAD) dalam ransum. Strategi manajemen 25 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen nutrisi yang tepat sangat dibutuhkan agar keseimbangan mineral tubuh tetap stabil dan gangguan metabolik dapat dicegah. Tabel dapat dijadikan acuan dalam penyusunan formulasi pakan dan pemantauan status mineral sapi perah di peternakan. Sapi Holstein dengan kebutuhan sekitar 110 g kalsium per hari harus memperoleh pakan dengan kandungan mineral yang sesuai untuk mempertahankan produksi susu tinggi. Pemeriksaan kadar kalsium darah secara rutin pada masa transisi dan awal laktasi penting dilakukan untuk mendeteksi hipokalsemia subklinis yang sering tidak menimbulkan gejala tetapi dapat menurunkan performa produksi. Data menunjukkan adanya keterkaitan antara kebutuhan kalsium diet dan kadar kalsium darah pada berbagai ras sapi perah. Keseimbangan kalsium yang terjaga mampu meningkatkan kesehatan, memperpanjang masa laktasi, dan mempertahankan produktivitas optimal. Dinamika kalsium darah pada sapi perah pasca melahirkan dapat dipengaruhi oleh suplementasi kalsium oral atau bolus, sehingga pemantauan dan intervensi nutrisi yang tepat diperlukan untuk menjaga kadar kalsium optimal dan mendukung produksi susu (Wilms et al. , 2. Pengelolaan nutrisi mineral yang baik menjadi faktor utama dalam pencegahan gangguan metabolik dan peningkatan efisiensi Korelasi Kadar Kalsium Darah dan Kadar Kalsium Susu Sapi Perah Kadar kalsium dalam darah sapi perah memiliki hubungan yang erat dengan kadar kalsium yang terkandung dalam susu yang dihasilkan. Kalsium merupakan mineral esensial yang berperan penting dalam berbagai fungsi fisiologis termasuk kontraksi otot, transmisi saraf, sekresi hormon, dan respon imun pada sapi perah laktasi. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hossion et al. , nilai korelasi antara kalsium darah dan kalsium susu 0,905 mg/dL. Kebutuhan kalsium meningkat secara dramatis saat permulaan laktasi, dimana ekskresi kalsium harian meningkat tiba-tiba dari sekitar 10 gram menjadi 20-30 gram per hari untuk sintesis kolostrum dan susu, jumlah yang melebihi total kalsium dalam sirkulasi darah dan memberikan tekanan besar terhadap homeostasis kalsium (Wilkens et al. , 2. Hipokalsemia subklinis terjadi pada 25-50% sapi multipara pada awal laktasi dan dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit postpartum, dimana sapi dengan konsentrasi kalsium darah rendah memiliki kemungkinan 3,7 kali lebih tinggi mengalami displaced abomasum, 5,5 kali lebih tinggi mengalami ketosis, dan 4,3 kali lebih tinggi mengalami metritis dibandingkan sapi normokalsemia (Rodryguez et al. , 2. Dinamika kalsium dalam beberapa hari pertama postpartum sangat mempengaruhi produksi susu, dimana sapi multipara yang mengalami hipokalsemia subklinis cenderung memproduksi susu 2,19 kg per hari lebih rendah pada awal laktasi dibandingkan sapi normokalsemia, sementara hipokalsemia persisten dikaitkan dengan penurunan konsumsi pakan hingga 15% yang berdampak negatif pada produksi dan kualitas susu (McArt dan Neves, 2. Suplementasi kalsium yang tepat dalam pakan sapi perah terbukti dapat meningkatkan kadar kalsium darah dan berdampak positif terhadap kandungan kalsium susu serta produktivitas sapi secara keseluruhan, dimana absorpsi kalsium dari saluran pencernaan dan mobilisasi dari cadangan tulang harus diatur secara optimal untuk memenuhi kebutuhan sintesis susu sambil mempertahankan konsentrasi kalsium darah dalam batas fisiologis normal (Wilkens et al. , 2. Dinamika kalsium postpartum sangat bervariasi antar individu sapi dan memiliki dampak berbeda terhadap produksi susu tergantung pada pola hipokalsemia yang dialami. Sapi dengan hipokalsemia subklinis transien yang dapat memulihkan konsentrasi kalsium darahnya 26 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen dengan cepat menunjukkan produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan sapi normokalsemia, dimana sapi primipara dengan hipokalsemia transien memproduksi susu rata-rata 31,9 kg per hari sementara sapi normokalsemia hanya 28,5 kg per hari selama 10 minggu pertama laktasi (McArt dan Neves, 2. Sapi dengan hipokalsemia persisten atau tertunda mengalami penurunan produksi susu yang signifikan, dimana sapi multipara dengan hipokalsemia tertunda hanya memproduksi 41,4 kg susu per hari dibandingkan 44,6 kg per hari pada sapi normokalsemia, menunjukkan bahwa durasi dan timing hipokalsemia lebih penting daripada kejadian hipokalsemia itu sendiri. Prevalensi hipokalsemia subklinis pada sapi primipara mencapai 20-46% dalam tiga hari pertama postpartum, dengan sekitar 34% mengalami hipokalsemia kronis yang berdampak negatif terhadap performa reproduksi termasuk peningkatan interval calving hingga konsepsi dan penurunan angka kebuntingan (Caixeta et al. Hubungan antara konsentrasi kalsium darah dan kandungan kalsium susu tidak selalu linear, karena mekanisme homeostasis yang ketat mempertahankan sekresi kalsium ke dalam susu bahkan ketika konsentrasi kalsium darah rendah melalui mobilisasi cadangan tulang yang Suplementasi kalsium oral dengan dosis 50-60 gram pada hari pertama dan kedua postpartum terbukti meningkatkan konsentrasi kalsium darah dan produksi susu pada sapi primipara, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada faktor-faktor seperti panjang laktasi sebelumnya dan skor lokomotif saat melahirkan (Paudyal et al. , 2. Pemantauan konsentrasi kalsium darah secara berulang pada hari ke-1 dan ke-4 postpartum dapat membantu mengidentifikasi pola hipokalsemia yang berbeda dan memungkinkan intervensi manajemen yang lebih tepat untuk mengoptimalkan produksi susu dan kesehatan sapi perah laktasi awal. Gambar 1. Korelasi Kalsium Darah dan Susu pada Sapi Perah 27 | J u r n a l S a i n s P e t e r n a k a n N u s a n t a r a Jurnal Sains Peternakan Nusantara Korelasi Kalsium Darah dan Kalsium Susu pada Sapi Perah Laktasi Awal: Literatur Review E-ISSN: 2607-9361 Vol. 5 No. Jurnal Program Studi Peternakan. Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Kesimpulan Berdasarkan review jurnal yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kalsium berperan penting dalam menjaga keseimbangan fisiologis sapi perah selama awal laktasi ketika kebutuhan kalsium meningkat tajam untuk pembentukan kolostrum dan susu. Hipokalsemia subklinis yang umum terjadi pada sapi multipara dapat menurunkan produksi susu dan meningkatkan risiko gangguan metabolik. Stabilitas kadar kalsium darah berkaitan dengan tingginya produksi serta kualitas susu. Manajemen nutrisi melalui suplementasi kalsium, pengaturan DCAD, dan pemilihan pakan dengan bioavailabilitas tinggi membantu mempertahankan keseimbangan kalsium. Nilai korelasi antara kalsium darah dan kalsium susu 0,905 mg/dL. Pemantauan rutin kalsium darah dan susu menjadi indikator penting untuk mendeteksi defisiensi secara dini dan meningkatkan performa sapi perah laktasi awal. Daftar Pustaka