Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 16. No. April 2025 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep Status and Condition of Coral Reefs Using The Line Intercept Transect (LIT) Method on Gili Labak Island. Sumenep Rizqi Arvia Putri1* dan Firman Farid Muhsoni1 Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo Madura. Jalan Raya Telang PO. Box 2 Kamal. Bangkalan Jawa Timur. *Penulis korespondensi : email: 200351100055@student. (Diterima Desember 2024 /Disetujui April 2. ABSTRACT Sumenep Regency is home to numerous islands, each offering its own natural beauty one of which is Gili Labak Island, known for its coral reef ecosystem. Coral reefs are among the most fragile ecosystems and are considered to have a relatively rapid extinction rate when subjected to The condition of coral reefs can be assessed based on physical and physiological Physical damage is indicated by broken coral colonies, snapped branches, and colonies that have been dislodged from their substrates. The Line Intercept Transect (LIT) method is a coral data collection technique that involves laying a roll meter horizontally and parallel to the shoreline at a depth of 3Ae7 meters, with a transect length of 100 meters. Coral reef status is assessed based on the Standard Criteria for Coral Reef Damage as outlined in the Decree of the Minister of Environment No. 4 of 2001. Measurements at Station 1 showed a live coral cover of 70. categorized as excellent. Station 2 recorded 72. 29%, also excellent. and Station 3 recorded 99%, which falls into the moderate category. Keywords: LIT,coral cover. Gili Labak, coral reef status. ABSTRAK Kabupaten Sumenep mempunyai banyak pulau dengan keindahan alamnya masing-masing salah satunya yaitu Pulau Gili Labak, yang mempunyai ekosistem terumbu karangnya. Ekosistem terumbu karang termasuk salah satu ekosistem yang rapuh sehingga tergolong ke dalam ekosistem yang laju kepunahannya relatif cepat bila mendapat gangguan. Kondisi terumbu karang dapat dilihat dari kerusakan fisik dan kerusakan fisiologis. Kerusakan fisik dapat dilihat dari kerusakan koloni karang yang hancur, cabang yang patah dan juga koloni yang terangkat dari Metode Line Intercept Transect (LIT) adalah metode pengambilan data karang dengan menggunakan roll meter yang dibentangkan secara horizontal sejajar garis pantai pada kedalaman air antara 3-7 m dengan Panjang transek 100 meter. Status terumbu karang merujuk pada Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang (Keputusan Men. H No 4 Tahun 2. Hasil pengukuran yang dilakukan pada stasiun 1 mendapatkan presentase tutupan karang hidup sebesar 70,92% dengan status baik sekali, untuk stasiun 2 sebesar 72,29% dengan status baik sekali dan stasiun 3 sebesar 45,99% dengan status sedang. Kata kunci: LIT, tutupan karang. Gili Labak. Tutupan karang. To Cite this Paper : Putri. Muhsoni. Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 16 . : 106-113 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang indah dan kaya akan potense laut, terutama terumbu Zurba . menyatakan Terumbu karang di Indonesia mempunyai keragaman spesies karang batu tertinggi di dunia sebanyak 590 spesies karang dari 80 marga. Arisandi et al. menyatakan panjang pantai lebih dari 81. 000 km, dengan pulau lebih dari 17. 508 dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih 51. 000 kmA. Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten yang mempunyai sumberdaya alam yang menjadi potensi untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata (Arfiyanto, 2. Kabupaten Sumenep mempunyai banyak pulau, salah satunya Pulau Gili Labak. Pulau Gili Labak mempunyai luas 5 ha yang terdiri dari 2,1 ha hamparan pasir putih, dan terumbu karang seluas 80,99 ha (Wijaya et al. , 2. Keberadaan terumbu karang serta ikan karang yang terdapat di pulau tersebut menjadikannya sebagai salah satu tempat wisata diving dan snorkelling. Oleh karena itu perlu diketahui status kondisinya untuk mengetahui keadaan dari terumbu karang akibat kegiatan wisata tersebut dengan penilaian yang ditentukan dengan Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 4 Tahun 2001. Status kondisi terumbu karang pada penelitian ini menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT). Metode tersebut merupakan metode pengambilan data terumbu karang menggunakan roll meter yang dibentangkan, kemudian melakukan identifikasi life form terumbu karang sepanjang garis transek (Sarbini et al. , 2. Metode ini mempunyai kelebihan yaitu sedikitnya peralatan yang digunakan, menghasilkan data presentase tutupan karang mati dan hidup sehingga memudahkan peneliti dalam menentukan status kondisi menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 4 Tahun 2001. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Life form dan status kondisi terumbu karang dengan metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak. MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2023. Pengambilan data dilakukan di Pulau Gili Labak. Kabupaten Sumenep. Provinsi Jawa Timur. Pengambilan data terumbu karang dilakukan pada tiga stasiun yang berbeda yaitu pada stasiun 1 dan 2 merupakan bagian yang jarang di kunjungi sedangkan stasiun 3 merupakan bagian yang digunakan untuk snorkeling pada Gambar Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Metode yang digunakan dalam pengambilan data status dan kondisi terumbu karang adalah metode Line Intercept Transect (LIT). Metode ini digunakan untuk menentukan komunitas karang berdasarkan persentase tutupan karang (Isdianto et al. , 2. Metode ini dilakukan dengan membentangkan roll meter dengan panjang 100 meter pada kedalaman 3-10 meter, kemudian pengamat melakukan identifikasi jenis terumbu karang serta panjang terumbu karang dari titik nol To Cite this Paper : Putri. Muhsoni. Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 16 . : 106-113 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. hingga titik 100 meter mengikuti garis transek yang telah di buat dan mencatat data yang telah di dapatkan (English et al. , 1. Metode Line Intercept Transect (LIT) mempunyai kelebihan yaitu mendapatkan lebih banyak data, karena pengambilan data mencakup panjang koloni karang, penyajian struktur komunitas, seperti tutupan karang hidup dan mati, kekayaan jenis, dominansi, frekuensi kehadiran. Data-data tersebut dapat di ambil menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) sesuai dengan kebutuhan peneliti serta lokasi pemantauan (Wahib & Luthfi, 2. Perhitungan presentase tutupan karang dilakukan untuk mendapatkan nilai tutupan karang. Nilai persentase tutupan karang menurut English et al. , . dihitung dengan menggunakan rumus: % tutupan karang = ycEycaycuycycaycuyci ycayceycuycycyco Eaycnyccycycy. y 100% ycEycaycuycycaycuyci yciycaycycnyc ycycycaycuycyceyco Penentuan status dan kondisi terumbu karang berdasarkan Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang menurut Keputusan Menteri LH No. 4 Tahun 2001 sesuai Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang (Nayyiroh & Muhsoni, 2. No. Kategori Buruk Sedang Baik Baik Sekali 0-24,9 25-49,9 50-74,9 HASIL DAN PEMBAHASAN Pulau Gili Labak merupakan pulau yang termasuk wilayah Kabupaten Sumenep. Provinsi Jawa Timur. Pulau Gili Labak termasuk dalam wilayah Dusun Lembana. Desa Kombang. Kecamatan Talango. Pulau Gili Labak mempunyai keanekaragaman hayati laut yang menarik parawisatawan untuk datang. Keanekaragaman hayati seperti terumbu karang, ikan karang serta hamparan pasir putih yang dimiliki Pulau Gili Labak. Pulau tersebut juga menyediakan fasilitas seperti penginapan, gazebo, foodcourt, toilet umum dan musholla. Wisatawan yang berkunjung biasanya melakukan snokeling untuk menikmati keindahan terumbu karang dan ikan karang yang terdapat di Pulau Gili Labak. Wisatawan juga dapat menikmati sunrise dan sunset karena terdapat gazebo di pinggir Penelitian yang dilakukan Arfiyanto, . menunjukkan kondisi dan fasilitas yang sama serta belum terdapatnya pusat informasi mengenai wisata yang tersedia, infrastruktur yang belum memadai seperti fasilitas medis dan akses ke lokasi wisata yang memerlukan travel agensi atau warga local untuk menyewa kapal. Kondisi Terumbu Karang Kondisi terumbu karang pada setiap stasiun menghasilkan data yang berbeda. Berikut foto kondisi pada setiap staiun tempat pengambilan data terumbu karang. To Cite this Paper : Putri. Muhsoni. Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 16 . : 106-113 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Gambar 2. Kondisi Terumbu Karang . stasiun 1 . stasiun 2 . stasiun 3 Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui bentuk pertumbuhan yang ditemukan, presentase tutupan terumbu karang pada setiap bentuk pertumbuhan dan total presentase tutupan karang. Hasil pada stasiun 1 menunjukkan tutupan karang 70,92% menunjukkan status baik sekali. Stasiun 2 menunjukkan hasil sebesar 72,29% dengan status baik sekali dan stasiun 3 menghasilkan 45,99% dengan status sedang. Hasil pada ketiga stasiun berbeda dapat disebabkan karena pengaruh lingkungan dan aktivitas manusia. Stasiun 1 dan 2 merupakan tempat yang minim aktivitas manusia sedangkan stasiun 3 merupakan tempat kapal berlalu Lalang dan tempat para wisatawan melakukan snorkelling. Hasil identifikasi bentuk terumbu karang pada ketiga stasiun tersebut menghasilkan presentase yang berbeda. Bentuk pertumbuhan yang ditemukan pada ketiga stasiun tersebut juga menunjukkan perbedaan. Bentuk pertumbuhan yang banyak ditemukan yaitu ACB (Acropora Branchin. pada stasiun 1. CS (Coral Submassiv. pada stasiun 2 dan ACS (Acropora Submassiv. pada stasiun 3. Bentuk pertumbuhan yang ditemukan pada ketiga stasiun memiliki perbedaan sesuai dengan kondisi, intensitas cahaya matahari dan aktivitas manusia. Gambar 3. Tutupan Karang Stasiun 1 Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan pada stasiun 1 pada Gambar 3 menunjukkan hasil persen tutupan karang berdasarkan bentuk pertumbuhan karang ditemukan sebanyak 12 jenis life form yaitu ACB (Acropora Branchin. sebesar 37,86%. ACD (Acropora Digitat. sebesar 2,82%. ACE (Acropora Encrustin. sebesar 4,68%. ACS (Acropora Submassiv. sebesar 5,92%. ACT (Acropora Tabulat. sebesar 1,08%. CB (Coral Branchin. sebesar 2,64%. CE (Coral Encrustin. 2,48%. CF (Coral Folios. 0,34%. CM (Coral Massiv. 2,5%. CME (Coral Milepor. 1,88%. CMR (Coral Mushroo. 3,16% dan CS (Coral Submassiv. 5,56%. Serta ditemukan DC (Dead Cora. 21,74%. DCA (Dead Coral Alga. 0,98% dan S (San. 6,36%. Hasil tersebut menunjukkan nilai biotik yaitu 70,92% dan nilai abiotic 34,64%. Hasil yang ditemukan pada stasiun 1 yaitu 5 jenis Acropora dan 7 jenis Non-Acropora. Hasil persentase tertinggi pada stasiun 1 yaitu ACB (Acropora Branchin. ACS(Acropora Submassiv. dan CS (Coral Submassiv. To Cite this Paper : Putri. Muhsoni. Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 16 . : 106-113 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Gambar 4. Tutupan Karang Stasiun 2 Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan pada stasiun 2 pada Gambar 4 menunjukkan hasil persen tutupan karang berdasarkan bentuk pertumbuhan karang ditemukan sebanyak 11 jenis life form yaitu ACB (Acropora Branchin. sebesar 2,47%. ACD (Acropora Digitat. sebesar 0,2%. ACE (Acropora Encrustin. sebesar 2,31%. ACS (Acropora Submassiv. sebesar 5,48%. ACT (Acropora Tabulat. sebesar 0,86%. CB (Coral Branchin. sebesar 2,56%. CE (Coral Encrustin. 1,14%. CF (Coral Folios. 1,65. CM (Coral Massiv. 2,87%. CMR (Coral Mushroo. 0,33% dan CS (Coral Submassiv. 52,06%. Serta ditemukan AA (Alg. 1,08%. DC (Dead Cora. 8,37%. R (Rubbl. 12,21% dan S (San. 6,05%. Hasil tersebut menunjukkan nilai biotik yaitu 72,29% dan nilai abiotic 27,71%. Hasil yang ditemukan pada stasiun 2 yaitu 5 jenis Acropora dan 6 jenis NonAcropora. Hasil persentase tertinggi pada stasiun 2 yaitu CS (Coral Submassiv. ACS(Acropora Submassiv. dan CB (Coral Branchin. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan pada stasiun 3 pada Gambar 5 menunjukkan hasil persen tutupan karang berdasarkan bentuk pertumbuhan karang ditemukan sebanyak 10 jenis life form yaitu ACB (Acropora Branchin. sebesar 3,22%. ACE (Acropora Encrustin. sebesar 0,51%. ACS (Acropora Submassiv. sebesar 16,59%. CB (Coral Branchin. sebesar 0,49%. CE (Coral Encrustin. 0,52%. CF (Coral Folios. 2,75%. CM (Coral Massiv. 8,81%. CMR (Coral Mushroo. 5,42% dan CS (Coral Submassiv. 7,42%. Serta ditemukan DC (Dead Cora. 16,21%. DCA (Dead Coral Alg. 1,58%. R (Rubbl. 20,86% dan S (San. 9,45%. Hasil tersebut menunjukkan nilai biotik yaitu 45,99% dan nilai abiotic 54,01%. Hasil yang ditemukan pada stasiun 3 yaitu 3 jenis Acropora dan 7 jenis Non-Acropora. Hasil persentase tertinggi pada stasiun 3 yaitu ACS(Acropora Submassiv. CM (Coral Massiv. dan CS (Coral Submassiv. Gambar 5. Tutupan Karang Stasiun 3 Hasil pengamatan yang dilakukan pada ketiga stasiun menunjukan nilai lifeform yang bervariasi. Faizal et al. , . menyatakan perbedaan variasi tersebut dapat disebabkan aktivitas manusia, seperti keberadaan lokasi yang dekat dengan pelabuhan sehingga terdapat aktivitas lalu lintas Hasil pengamatan yang dilakukan Nayyiroh & Muhsoni, . di Pulau Gili labak mendapatkan 11 jenis life form pada stasiun 1 dengan 5 jenis karang Acropora dan 6 jenis karang Non-Acropora dan 10 jenis pada stasiun 2 dengan 5 jenis karang Acropora dan 5 jenis karang To Cite this Paper : Putri. Muhsoni. Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 16 . : 106-113 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Non-Acropora. Hasil tersebut sama dengan penelitian ini yaitu menunjukan jenis life form yang Riska et al. , . jenis life form yang bervariasi dapat dikarenakan kondisi perairan yang terbuka sehingga gelombang dan arusnya memberikan suplai makanan serta oksigen yang cukup bagi terumbu karan dan kondisi fisika kimia disekitar terumbu karang juga dapat menyebabkan keanekaragaman, penyebaran dan pertumbuhan yang bervariasi. Kondisi Perairan Parameter yang diukur yaitu Suhu. Derajat Keasaman . H). Oksigen terlarut. Kecerahan dan Salinitas. Hasil pengukuran kualitas air ditunjukkan pada Tab 2. Hasil pengukuran suhu perairan pada stasiun 1, stasiun 2 dan 3 menghasilkan nilai yang berbeda, namun perbedaan hasil tersebut tidak terlalu rendah. Perbedaan hasil tersebut dapat di sebabkan waktu pengambilan data, lokasi serta cuaca pada saat pengukuran. Hasil pengukuran tersebut masih sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup 2004 yang berkisar anatara 28 EE-30 EE. Pengukuran suhu yang dilakukan Nayyiroh & Muhsoni. , . menunjukkan hasil yang berkisar antara 29,7-30,4 EE, hasil tersebut lebih tinggi dari penelitian ini, namun masih sesuai dengan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004. Kondisi kedua penelitian tersebut masih ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang. Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang. Nuary et al. , . menyatakan perubahan suhu pada air laut dalam waktu singkat dapat menyebabkan pemutihan karang . oral bleachin. Patty & Huwae, . menyatakan tinggi rendahnya nilai suhu pada perairan dapat dipengaruhi oleh cuaca, intensitas cahaya yang masuk, arus, kedalaman dan musim. Hasil pengukuran derajat keasaman . H) pada ketiga stasiun menunjukkan hasil yang sama yaitu Hasil pH tersebut melebih baku mutu air laut menurut Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004 yang berkisar antara 7-8,5. Pengukuran derajat keasaman yang dilakukan Nayyiroh & Muhsoni, . menunjukkan hasil yang berkisar antara 8,41-8,92. Hasil tersebut lebih rendah dari penelitian ini, namun masih sesuai dengan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004. Nilai pH pada suatu perairan dapat dipengaruhi oleh curah hujan, massa air dan pengaruh dari proses Perairan dengan nilai pH 7-8,5 merupakan nilai optimal sebagai tempat budidaya dan rekreasi, namun untuk terumbu karang biasanya nilai pH berkisar antara 6-9 (Patty & Akbar. Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) pada ketiga stasiun berkisar antara 6,61-9,31 mg/l. Hasil pengukuran tersebut sesuai dengan baku mutu Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004 yaitu >5 mg/l. Pengukuran yang dilakukan Nayyiroh & Muhsoni, . menunjukkan hasil 13,5-13,2 mg/l. Hasil tersebut lebih tinggi dari penelitian ini, namun masih sesuai dengan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004. Hasil penelitian tersebut masih ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang. Zainal et al. , . menyatakan tinggi rendahnya nilai oksigen terlarut dapat dipengaruhi oleh kekeruhan dan aktivitas mikroorganisme. Table 2. Kualitas Perairan Parameter Stasiun Stasiun Stasiun Baku Mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Suhu 28 EE-30 EE. Derajat Keasaman . H) 7-8,5 Oksigen terlarut (DO) 6,61 7,87 9,31 >5 mg/l. Kecerahan >3 m Salinitas 28-30A. To Cite this Paper : Putri. Muhsoni. Status dan Kondisi Terumbu Karang Mengunakan Metode Line Intercept Transect (LIT) di Pulau Gili Labak Sumenep. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 16 . : 106-113 Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Hasil pengukuran kecerahan pada ketiga stasiun sama yaitu 100%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa intensitas cahaya dapat masuk sampai kedasar perairan pada kedalaman yang berkisar antara 3-10 meter. Pengukuran kecerahan yang dilakukan Nayyiroh & Muhsoni, . menunjukkan hasil yang sama yaitu 100% . Kecerahan termasuk salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang. Kecerahan merupakan intenstas cahaya matahari yang dapat menembus pada suatu perairan (Salim et al. , 2. Terumbu karang membutuhkan cahaya matahari dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu (Fachrurrozie et al. , 2. Kecerahan di perairan dapat dipengaruhi oleh substrat dan arus di perairan. Hasil pengukuran salinitas pada ketiga stasiun berkisar antara 28-30A. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004 yaitu berkisar antara 33-34A. Pengukuran yang dilakukan Nayyiroh & Muhsoni, . menunjukkan hasil 30A- 31A. Hasil tersebut lebih tingi dari penelitian ini, namun tidak sesuai dengan baku mutu Keputusan Mentri Lingkungan Hidup 2004. Putra & Husrin, . menyatakan bahwa salinitas yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan karang berkisar antara 25A- 40A. Hasil pengukuran salinitas tersebut masih ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang. Tinggi rendahnya nilai salintas dapat dipengaruhi oleh penguapan, curah hujan, dan sirkulasi air. Perbedaan nilai salinitas juga dapat disebabkan pencampura akibat gelombang laut (Patty & Akbar, 2. KESIMPULAN Bentuk Pertumbuhan yang ditemukan pada ketiga stasiun yaitu ACB(Acropora Branchin. ,ACD (Acropora Digitat. ACE (Acropora Encrustin. ACS (Acropora Submassiv. ACT (Acropora Tabulat. CB(Coral Branchin. CE (Coral Encrustin. CF (Coral Folios. CM (Coral Massiv. CME (Coral Milepor. CMR (Coral Mushroo. dan CS (Coral Submassiv. Presentase tutupan karang pada stasiun 1 menunjukkan hasil sebesar 70,92% dengan status baik sekali. Stasiun 2 menunjukkan hasil sebesar 72,29% dengan status baik sekali dan stasiun 3 menghasilkan 45,99% dengan status sedang. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada LPPM dan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo Madura DAFTAR PUSTAKA