PENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA HURUF HIJAIYYAH ANAK USIA DINI MELALUI KARTU BERWARNA Nihayatul Mazidah1. Dina Amalia2 Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara e-mail: 1nihayatul100mazidah@gmail. com, 2dina@unisnu. Abstrak. Peningkatan kemampuan membaca huruf hijaiyah sangatlah penting untuk anak usia dini sebagai bekal anak muslim selayaknya diterapkan dan dibiasakan belajar sedini mungkin. Semakin berkembangnya zaman, banyak pengaruh yang kurang baik salah satunya berasal dari kebiasaan penggunaan gadget mengakibatkan kekhawatiran para orang tua lebih ekstra membimbing dan memberikan teladan melalui pengenalan dan peningkatan membaca huruf hijaiyahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kartu huruf hijaiyah melalui kartu berwarna dalam meningkatkan aspek kognitif dan bahasa anak usia dini pada kemampuan membaca huruf hijaiyah, serta mengingat huruf secara urut maupun acak, dan mengenal warna di TK Harapan Bangsa Tlogowungu Pati. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di TK Harapan Bangsa Kelompok B Cabak Tlogowungu dengan jumlah 20 anak. Hasil penelitian menunjukkan setelah adanya tindakan melalui kartu berwarna yang bertuliskan huruf hijaiyyah mampu meningkatkan perkembangan kognitif dan bahasa anak usia dini. Pada saat dilakukan observasi prasiklus presentase perkembangan sebesar 32,2% kemudian mengalami peningkatan pada pelaksanaan minggu pertama sebesar 44,53% dan pada pelaksanaan ke minggu kedua mengalami peningkatan yang sangat baik yaitu 83,54. Langkah-langkah yang ditempuh dalam meningkatkan perkembangan kognitif dan bahasa anak sebagai berikut : . kegiatan pra pengembangan, . kegiatan pengembangan, dan . kegiatan penutup. Kata Kunci: Membaca, huruf hijaiyyah, anak usia dini,kartu berwarna Abstract. Improving the ability to read hijaiyah letters is very important for young children as a provision for Muslim children to apply and get used to learning as early as possible. As times progress, there are many unfavorable influences, one of which comes from the habit of using gadgets, causing parents to be more concerned about guiding and setting an example through introducing and improving their reading of hijaiyah letters. This research aims to. find out the role of hijaiyah letter cards through colored cards in improving the cognitive and language aspects of early childhood in their ability to read hijaiyah letters, as well as remember letters in sequence or random, and recognize colors at Harapan Bangsa Tlogowungu Pati Kindergarten. The research was carried out at HARAPAN NANGSA Kindergarten Group B Cabak Tlogowungu with a total of 20 children. The results of the research showed that after taking action using colored cards with hijaiyyah letters on them, they were able to improve the cognitive and language development of early childhood. When pre-cycle observations were carried out, the percentage of development was 2%, then there was an increase in the first week of implementation by 44. 53% and in the second week of implementation there was a very good increase, namely u83. The steps taken to improve children's cognitive and language development are as follows: . pre-development activities, . development activities, and . closing activities. Keywords: Reading, hijaiyah letters, early childhood, colored cards. Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia PENDAHULUAN Dunia pendidikan dalam mencari ilmu sangat penting sebagai kunci utama dalam mencapai suatu keberhasilan, setiap orang berhak untuk mengenyam bangku tersebut mulai dari masa anak hingga masa akhir hidupnya (Emmi Silvia Herlina. Pada masa usia dini ini salah satu investasi masa depan bagi suatu bangsa. Pada masa usia dini ini sesungguhnya anak harus mendapat perhatian yang lebih karena dari usia dinilah potensi dalam menciptakan manusia yang unggul mulai terbentuk (Luluk Asmawati, 2. Pendidikan memiliki maksud dan cita-cita untuk membuat manusia menjadi lebih baik, oleh karena itu dalam dunia pendidikan tentunya perlu untuk terus diupayakan agar cita-cita tersebut dapat menjadi tonggak dalam menentukan keberhasilan yang kian diimpikan selama ini. Periode usia dini . -6 tahu. sangat penting bagi perkembangan anak karena merupakan tahap pembentukan dasardasar pertumbuhan kognitif, emosional, sosial, dan fisik. Pada tahap ini, otak anak sangat fleksibel dan mampu menyerap informasi dengan cepat. Tonggak-tonggak perkembangan kunci seperti akuisisi bahasa, keterampilan motorik, regulasi emosi, dan kemampuan kognitif terbentuk secara optimal selama masa ini. Pengalaman, interaksi, dan pembelajaran yang terjadi pada tahun-tahun pembentukan ini memiliki dampak jangka panjang pada potensi masa depan anak, termasuk keberhasilan akademik, keterampilan sosial, dan kesejahteraan emosional. Memberikan lingkungan yang mendukung dan merangsang selama usia dini sangat penting untuk perkembangan otak yang optimal. Hal ini membantu anakanak mengembangkan keterampilan dasar yang sangat penting untuk pembelajaran seumur hidup dan adaptasi. Intervensi dini juga dapat mengatasi keterlambatan kemampuan anak untuk berkembang dengan baik dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, investasi dalam pengembangan anak usia dini sangat penting untuk mendukung individu yang seimbang dan mampu mencapai potensi penuh mereka. Proses pembelajaran di dunia anak bertujuan untuk memberikan pendidikan terbaik, di mana anak diharapkan dapat mengenal dan meyakini keberadaan Sang Pencipta beserta makhluk dan ciptaan-Nya. Dalam hal tersebut diperlukan adanya guru sebagai orang dewasa yang terlibat untuk menjelaskan pada anak. Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia bahwasannya sang pencipta tidak hanya menciptakan manusia saja melainkan sang pencipta juga menciptakan flora dan fauna untuk saling dimengerti sama lain, sehingga dengan begitu anak menjadi anak yang aktif dalam mengeksplorasikan dirinya kemudian anak-anak mampu mengelola pancaindranya dan tanpa sadar anak sudah melakukan pembelajaran sebagaimana yang sudah dirangsang oleh gurunya (Mursyid, 2. Sebagai anak yang lahir dalam keluarga Muslim, orang tua wajib menyerahkan pendidikan kepada pihak yang lebih memahami bidangnya. Pendidikan pada anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua, akan tetapi sebagian mereka memiliki pekerjaan ataupun kesibukan tersendiri sehingga tidak memungkinkan untuk mendidik anak secara maksimal. Oleh karena itu, biasanya orang tua menyerahkan kepada guru agama sekolah maupun TPA (Desipa Silvia. Leonita Siwiyanti, and Elinawati, 2. Pentingnya stimulasi pengembangan bacaan hijaiyah untuk anak usia dini karena sebagai bekal seorang muslim untuk memahami bacaan Al-Quran dengan baik dan benar. Selain itu, merupakan bentuk kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan agama sejak dini, yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan, agar anak mampu memahami dengan mudah pengetahuan agamanya. Selain itu sebagai bekal belajar bahasa arab maupun makna dari kitab Al-Quran. Untuk menstimulasi anak agar memiliki kemampuan membaca yang bagus maka diperlukan didikan dari usia dini. Membiasakan anak untuk membaca merupakan sebuah kegiatan positif yang harus didukung oleh orang tua dan Selain itu, diperlukan media yang dapat membantu dan mengasah kemampuan anak dengan cara yang lebih santai, tanpa tekanan. Media yang tepat sangat penting agar anak merasa nyaman dan proses belajar menjadi menyenangkan Dalam hal ini maka dalam mengembangkan kemampuan anak membaca huruf hijaiyah harus menggunakan media yang tepat (Alucyana Alucyana. Raihana Raihana, dan Dian Tri Utami, 2. Pada lingkungan sekitar kita masih ditemukannya pembelajaran anak usia dini tidak berdasarkan usia dan penggunaan media secara tepat, sehingga adakalanya anak terlihat letih dan bosan jika pembelajaran diberikan tidak berdasarkan usianya. Selain itu, pada umumnya anak menyukai pembelajaran yang Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia bervariasi dengan disertai bermain (Syerlinda Jamaliah Hasballah dan Dewi Fitriani, 2. Penggunaan mendemonstrasikan pembelajaran huruf hijaiyah sehingga dapat memudahkan keterampilan membaca anak usia dini. media dapat mewakili apa yang kurang maksimal dari penyampaian pembelajaran dari seorang pendidik. Melalui media ini ditujukan agar kemampuan anak dalam menangkap pembelajaran dengan mudah dan mampu dipahami dengan baik (Sultan Maulana Hasanuddin, 2. Pernyataan diatas berkaitan dengan anak usia di bawah enam tahun menggambarkan bahwa pendidikan pada anak sangatlah penting, untuk itu memberikan rangsangan kepada anak untuk membantu perkembangan jasmani dan rohani sangat dibutuhkan. Agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki dunia pendidikan untuk masa yang akan datang. Dalam hal ini, posisi pendidikan berfungsi untuk memberikan dorongan kemampuan dan membentuk karakter yang bertujuan memberikan pengetahuan yang lebih kepada anak-anak Indonesia, sehingga tercipta keyakinan terhadap Sang Pencipta, ketakwaan, dan akhlak yang Solehudin berpendapat tentang tujuan dari pendidikan yang diberikan pada anak sejak dini ialah sebagai salah satu fasilitas yang tentunya memiliki tujuan untuk terus dapat mengembangkan dan menjadikan pertumbuhan sebagai sesuatu pengembangan seperti yang diharapkan (Suryadi, 2. Dalam pendidikan anak maka amat sangat diharuskan untuk meletakkan pondasi kuat agar intelektual, inovasi, dan hal-hal yang menyangkut perasaan dapat terealisasikan dengan baik (Mursid, 2. Tidak dapat dipungkiri bahwasannya usia anak merupakan usia yang mana pada masa-masa itu anak mengalami masa genius, otaknya dapat berkembang dengan baik dan banyak mengalami percepatan dalam menangkap memori yang anak dengar sebagaimana yang diungkapkan oleh Clark. Tetapi, hasil penelitian mengatakan bahwa hanya lima persen otak anak yang mengalami gagal fungsi akibat kurang adanya perhatian atau pemberian rangsangan saat anak masih kecil. Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia Oleh karena itu anak yang berada pada rentang usia . -6 tahu. merupakan masa perkembangan dan pertumbuhan yang sangat baik bagi anak atau di sebut juga dengan masa keemasan . he golden ag. Dalam pendapat yang menyatakan mengenai masa keemasan pada anak yaitu bahwasannya bermain merupakan keperluan yang harus diberikan anak, karena hal tersebut merupakan keperluas yang amat mendasar sehingga dari hal tersebutlah anak mampu mengeksplor perkembangannya secara baik (Wiwik Pratiwi, 2. Situasi kelas yang menunjukkan adanya masalah, contoh kecil seperti anak TK tidak mau berbagi mainan dengan temannya itu bukan berarti anak tersebut sangat mencintai mainannya. Pembelajaran seperti yang di jelaskan di atas sering ditemui pada lembaga yang sesuai dengan peraturan negara akan tetapi pembelajaran masih menekankan aspek akademik seperti membaca, menulis, dan Guru menerangkan/menjelaskan, anak diam dan mendengarkan, setelah itu anak di minta untuk bekerja atau menulis lembaran kerja . Sesungguhnya pengetahuan anak terbentuk bukan hanya pakem terhadap gurunya, akan tetapi pengetahuan anak terbentuk akibat pengalaman yang dialami oleh anak itu sendiri dengan lingkungannya, melalui pembebasan diri untuk melakukan halhal yang imajinasikan dan meyatakan tindakan maka dari situlah anak membangkitkan potensi dirinya dan jika anak hanya terpaku pada pengajaran guru (Muhtar Latif, 2. Usia prasekolah merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. karena pada usia tersebut anak memiliki daya ingat yang kuat. Pada usia prasekolah kemampuan dalam berbahasa arab lebih ditekankan dalam mempelajari huruf hijaiyah. Karena bagi umat muslim membaca al-qurAoan dengan baik dan benar adalah salah satu kewajiban. Membaca al-qurAoan tidak bisa hanya dengan cara instan. Terlebih lagi jika sudah dewasa. Maka dari itu, penting bagi umat muslim untuk belajar membaca al-qurAoan sejak dini. Pada dasarnya anak akan mengingat hal yang menurut mereka Anak lebih peka terhadap benda dan warna. Untuk itu dalam pengenalan huruf hijaiyah tidak di tekankan untuk menghafal secara langsung. Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia Namun menggunakan media agar anak lebih merasa senang dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran tersebut guru menggunakan media yang tepat agar anak dapat mengingat dengan baik. Dalam usaha memperkenalkan huruf hijaiyah pada anak menggunakan media kertas berwarna yang kemudian tertulis huruf-huruf hijaiyah. Berdasarkan keadaan di atas, peneliti menemuan ide untuk mengadakan penelitian tentang upaya meningkatkan kemampuan membaca huruf hijaiyah melalui kertas berwarna pada anak usia dini di TK Harapan Bangsa tlogowungu Pati. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran melalui tindakan langsung oleh peneliti, di mana peneliti terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Metode ini melibatkan perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi secara siklus hingga tujuan yang diharapkan tercapai. Dalam konteks ini, peneliti menggunakan kartu berwarna untuk memfasilitasi pemahaman huruf hijaiyah, dan penelitian dilakukan dengan fokus pada peningkatan pembelajaran yang dilakukan secara bertahap. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: Dokumentasi, digunakan untuk mengumpulkan data seperti catatan hasil belajar, foto, dan dokumen yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran. Observasi, digunakan untuk mengamati interaksi peserta didik selama proses pembelajaran. Wawancara, digunakan untuk mendapatkan informasi lebih mendalam dari guru dan peserta didik terkait penerapan model pembelajaran yang digunakan. Peneliti mengungkapkan hasil penelitian menggunakan metode penjabaran yang memiliki tujuan data, memberikan melalui penerapan serta pemahaman peserta didik model pembelajaran dengan menggunakan kartu berwarna dalam belajar huruf hijaiyah. Penelitian yang digunakan ialah tindakan kelas (Classroom Action Researc. peneliti mencermati suatu obyek menggunakan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat atau orang-orang yang Peneliti bertindak secara langsung dalam penelitian, mulai dari awal sampai akhir tindakan. Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia Untuk memperoleh data dan informasi dalam penelitian maka teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu antara lain: Dokumentasi . Observasi, . Wawancara. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Aisyah mengungkapkan bahwasannya sejatinya anak belajar mengeja bukan hanya dari menulis dan memperhatikan saja, melainkan anak dapat mengeja melalui praktikum secara langsung. Menurut Tim Seldin Aupada usia berapapun anak memperlihatkan minatnya untuk membaca, maka guru maupun orang tua harus mulai mengajarkan cara membacaAy (Ni Gusti Ayu Made Yeni Lestari, 2. Munandar mengungkapkan bahwasannya kecakapan ialah mampu bertindak sesuai dengan kaidah yang ada pada diri. Sedangkan Siskandar menjelaskan bahwa kecakapan diri perlu disesuaikan dengan daya pikir yang diahlikan sesuai keperluan diri. Menurut Ruddell dalam Morrow mengungkapkan bahwa memahami isi yang telah tertulis ialah cara dalam memahami lambang dari penulisan tersebut. Menurut piaget, anak usia dini adalah anak dalam periode pra-operasional. Pada fase ini, anak-anak mulai berfikir bahwa pemahaman tentang hal-hal di sekitar mereka dapat dilakukan dengan aktivitas. Fase tersebut dapat memberikan peran penting dalam perkembangan kognitif anak (Choirun nisak aulina, 2. Menurut Bond Abdurrahman membaca merupakan pengenalan simbolsimbol dan bahasa tulis yang dapat membantu proses stimulasi anak dalam mengingat apa yang dibaca. Nah hal tersebut biasa di jelaskan kalau membaca bukan hanya sekedar melafalkan huruf-huruf atau kata demi kata, namun lebih dari itu membaca merupakan proses mengkonstruksi yang melibatkan banyak hal, baik aktivitas fisik, berfikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Menurut Abdul Razak, membaca pemahaman adalah kemampuan pembaca untuk mengungkapkan kembali isi bacaan, baik berupa argumentasi, eksposisi, maupun deskripsi tentang suatu topik tertentu (Resti Aulia, 2. Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia Kegiatan membaca anak ditandai dengan kemampuan membaca permulaan pada anak, kemampuan ini akan berjalan optimal apabila distimulasi dengan terencana dan dilaksanakan dengan cara menyenangkan serta sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan jiwa anak, sehingga anak merasa senang saat pembelajaran tiba (Beru Menye Puspitasari dkk, 2. Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang anak. Kemampuan anak dapat lebih mudah mempelajari dan menguasai bidang ilmu lainnya. Lemahnya kemampuan membaca tentu memberikan dampak buruk, baik dari segi mental maupun prestasi akademik. Kelemahan anak dalam membaca dapat membuatnya berkecil hati, tidak ada rasa percaya diri, dan menyebabkan motivasi belajar rendah (Tatik Ariyanti, 2. Membaca merupakan suatu kegiatan yang berupaya untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan. Hal ini berarti membaca merupakan proses berfikir untuk memahami isi teks yang dibaca. Oleh sebab itu membaca tidak hanya sekedar melihat dan mengenali huruf yang membentuk kata, kalimat, paragraf, atau wacana, tetapi juga melibatkan pemahaman dan interpretasi terhadap lambang atau tanda tulisan sehingga pesan penulis dapat diterima oleh Dari segi linguistik membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembahasan sandi, berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyendian . sebuah aspek pembacaan sandi . adalah menghubungkan kata-kata tulis . ritten word ) dengan makna bahasa lisan . ral language meanin. yang mencakup pengubahann tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna (Tarigan, 1984:. Membaca pada hakikatnya adalah sesuatu yang rumit yang menambah banyak hal tidak hanya melafalkan tulisan, tetapi juga menambah aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Perkembangan Bahasa anak juga dipengaruhi faktor intelektual. Anak yang Menurut mengemukakan bahwa Auperkembangan Bahasa terkait dengan perkembangan kognitifAy Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia intelektual/kognisi terhadap. (Ahmad Susanto, 2017:. Media Kartu Berwarna Anak usia dini adalah masa yang sangat menentukan bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Bermain merupakan dunia anak, dengan bermain anak merasa senang, memperoleh informasi baru, membangun suatu konsep, dapat bereksplorasi, berimajinasi dan menciptakan suatu yang baru melalui pemberian rangsangan dan memberi dukungan serta memfasilitasi kebutuhan anak. Dalam mengembangkan potensi kecerdasan spiritual diperlukan guru yang kreatif untuk merangsang berbagai media pembelajaran agar anak-anak tertarik dan suka media adalah semua bentuk perantara untuk penyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan dan gagasan kepada penerima (Arsyad, 2002:. Media pembelajaran yang paling sesuai digunakan untuk anak usia dini adalah buku. Penelitian yang dilakukan oleh salah satu divisi kementerian pendidikan amerika serikat menunjukkan bahwa balita yang terbiasa dibacakan buku oleh orang tua mereka bisa lebih cepat mengenal Survey lainnya memperlihatkan keberhasilan balita dalam tahapan literasi awal, seperti menulis namanya sendiri, membaca atau berinteraksi dengan buku, serta menghitung hingga bilangan 10. (Vidya Dwi AMalia Zati, 2. Huruf Hijaiyah adalah huruf yang dipakai dalam kitab suci AlQurAan yang terdiri dari 30 huruf dengan beberapa harakat. Mempelajari huruf hijaiyah merupakan suatu langkah awal untuk membaca kitab suci AlQurAan. Pembelajaran kemampuan membaca huruf hijaiyah memerlukan strategi yang baik, oleh karena itu pemilihan metode atau media pembelajaran yang tepat dan mempunyai andil besar dalam meningkatkan kemampuan membaca huruf hijaiyah anak. (Muhammad Noor, 2. Kartu menggunakan media berupa potongan-potongan yang terbuat dari kertas yang dibentuk seperti kartu yang berisi materi yang akan dipelajari oleh Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia siswa. Kartu huruf Hijaiyah berwarna yaitu sebuah aplikasi strategi yang digunakan pendidik yang bertujuan mengajarkan para siswa agar dapat menemukan konsep dan fakta yang bersumber pada materi-materi yang akan diberikan pada proses belajar mengajar (Pundhak Prasetyorini, 2. Kartu huruf hijaiyah dapat dikreasikan oleh pendidik dari kertas tebal bentuk persegi panjang, seperti karcis dengan bermacam-macam warna yang didalamnya terdapat penulisan huruf hijaiyah sehingga dapat menarik perhatian anak. Selain menarik perhatian anak, tetapi dapat juga untuk meningkatkan konsentrasi pada anak, diketahui bahwa masih ada anak yang sulit mengenal dan membedakan pengucapan huruf- huruf hijaiyah seperti pengucapan huruf Tsa ( A )Adengan Sa (A )Ahuruf Dza (A)A dengan Za (A )Ahuruf Dla (A )Adengan Dha ( A )APada umumnya anak dapat menghafal, namun belum bisa mengenal dan membedakan pengucapan huruf hijaiyah (Irda Rafika, 2. Data Umum Hasil Penelitian Penelitian ini di lakukan di TK Harapan Bangsa yang beralamat di Kelurahan Cabak Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati, sekolah ini terletak di sebuah pedesaan namun mempunyai letak yang strategis sehingga mudah dijangkau peserta didik. Kondisi lalu lintas cukup sepi, sehingga anak-anak dapat bermain dengan leluasa namun masih tetap dalam pengawasan guru. TK harapan bangsa pada saat ini memiliki dua gedung yang terdiri dari 5 ruang dan difungsikan sebagai 2 ruang kelas, kantor, ruang tamu untuk kunjungan wali murid dan UKS. Gedung utama di fungsikan untuk ruang kelas A dan kelas B dengan masing-masing mempunyai luas 6X9 meter. Sedangkan gedung yang satunya mempunyai 3 ruangan di antaranya kantor dengan luas 3X7 meter yang digunakan sebagai ruang penanggung jawab sekolah dan 2 di antaranya ialah ruang tamu dan UKS . TK harapan bangsa menggunakan model pembelajaran klasikal, di mana dalam waktu yang sama kegiatan di lakukan oleh seluruh anak dalam satu ruang kelas. Anak-anak mempunyi tingkat pemahaman yang berbeda-beda dalam menerima materi . Pada umumnya cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran akan mempengaruhi peserta Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia didik dalam menerima materi. Jika peserta didik tidak tertarik dan tidak fokus dalam pembelajaran maka akan kesulitana dalam menerima materi. Berdasarkan hasil pengamatan, jika anak belajar membaca hanya dengan papan yang dituliskan huruf hijaiyah oleh guru maka anak tidak tertarik sehingga tidak dapat fokus dan tidak memperhatikan pembelajaran. Berdasarkan pengamat langkah yang akan di ambil peneliti agar anak mempunyai ketertarikan dan dapat mengembangkan berbagai aspek terutama dalam aspek perkembangan kognitif dan Bahasa maka peneliti menggunakan kartu berwarna dalam pembelajaran membaca huruf hijaiyah. Penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan di TK Harapan Bangsa pada kelompok B yang satu kelasnya hanya ada 20 anak, 11 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Sebagian besar peserta didik berusia 4-5 tahun. Penerapan penelitian ini diharapkan untuk meningkatkan aspek perkembangan berupa kemampuan Bahasa dan kognitif pada anak. Peneliti melakukan pengamatan terhadap tingkat perkembangan kemampuan membaca huruf hijaiyah pada anak TK Harapan Bangsa. Hasil yang diperoleh sebelum melakukan tindakan penelitian akan dibandingkan dengan setelah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa dan kognitif anak di TK Harapan Bangsa dapat ditingkatkan melalui penerapan metode membaca huruf Hijaiyah menggunakan kartu berwarna. Sebelum tindakan, persentase kemampuan membaca huruf Hijaiyah mencapai 32,2%. Setelah tindakan, pada pertemuan pertama meningkat menjadi 39,06%, dan pada pertemuan kedua meningkat lagi menjadi 50%, dengan rata-rata 44,53%. Pada tahap selanjutnya, persentase kemampuan membaca meningkat signifikan, yaitu 74,33% pada pertemuan pertama dan 92,75% pada pertemuan kedua, dengan ratarata 83,54%. Penggunaan kartu berwarna membantu anak mengasosiasikan huruf Hijaiyah dengan warna tertentu, sehingga mempermudah mereka dalam mengenali dan mengingat bentuk huruf. Warna yang menarik juga dapat meningkatkan fokus dan minat anak dalam belajar. Selain itu, faktor-faktor pendukung seperti metode Nihayatul Mazidah dan Dina Amalia pembelajaran yang interaktif, suasana belajar yang menyenangkan, dan keterlibatan aktif guru serta orang tua turut berperan penting dalam peningkatan kemampuan membaca huruf Hijaiyah tersebut UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada pihak TK yang sudah mau di jadikan bahan penelitian, dan terimakasih juga untuk guru-guru TK yang sudah mau di wawancara serta semua pihak yang ikut serta di dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA