Jurnal Volume 6. Nomor 3 JAPS Desember 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN:2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Hiperrealitas Kekuasaan Meta AI Dalam Dekonstruksi Cara Curhat Generasi Z di Era Digital Society 5. 1Ida Bagus Suryanatha, 2Windi Susetyo Ningrum, 3Elia Damayanti Muhamad Arief Rafsanjani Universitas Palangka Raya Email: bagusnatha11@fisip. id, 2wsningrum@fisip. damayanti@fisip. id, 4arief@fisip. Kata kunci Hiperrealitas. Meta AI. Kepercayaan Abstrak Penelitian ini mengkaji pergeseran praktik curhat Generasi Z yang beralih dari kepercayaan antar-manusia ke Meta AI sebagai efek hiperrealitas dan rezim kekuasaan digital. Fenomena distrust terhadap manusia yang dipicu trauma, kekhawatiran privasi, dan pengalaman penilaian sosial yang mendorong preferensi curhat ke platform AI yang dianggap netral, tersedia, dan dapat dikontrol. kondisi ini menimbulkan problem serius terhadap kapasitas empati dan otentisitas hubungan interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi bagaimana Meta AI membentuk subyektivitas, norma kepercayaan, dan ruang simulakra dalam praktik curhat Gen Z menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) dan bingkai teori Baudrillard. Foucault, serta Derrida. Metode yang dipakai adalah analisis wacana kritis terhadap komunikasi manusia. AI pada level tekstual, praktik, dan makna emosional. Hasil menunjukkan secara tegas bahwa Meta AI mengalihkan trust dari manusia ke mesin, menciptakan rezim kebenaran baru, memproduksi pengalaman hiperreal dan adiksi validasi instan, serta mereduksi kapasitas negosiasi emosional konsekuensinya adalah normalisasi simulakra relasional dan erosi empati kolektif, memerlukan intervensi kebijakan dan literasi digital yang mengembalikan ruang dialog antar-manusia. Keywords Hyperreality. Meta AI. Interpersonal Abstract This study examines the shift in Generation ZAos confessional practices from interpersonal trust toward Meta AI as an effect of hyperreality and digital power structures, driven by trauma, privacy concerns, and experiences of social The research aims to decisively deconstruct how Meta AI shapes subjectivity, trust norms, and simulacral spaces in Gen Z disclosure practices. Using Critical Discourse Analysis informed by Baudrillard. Foucault, and Derrida, the study analyzes humanAeAI communications at textual, practice, and emotional-meaning levels. Findings show clearly that Meta AI reallocates trust from humans to machines, establishes a new regime of truth, manufactures hyperreal affective experiences, and fosters dependence on instant validation. concurrently it compresses opportunities for emotional negotiation and interpersonal repair. These dynamics normalize relational simulacra and erode collective empathy. The results point to the necessity of policy interventions and targeted digital-literacy programs to reconstitute spaces for authentic human dialogue and to mitigate the socio-emotional consequences of AI-mediated confessional cultures. Pendahuluan Menanggapi kondisi era digital yang semakin maju, pola interaksi sosial dan perilaku manusia mengalami pergeseran drastis. Salah satu aspek yang paling mencolok adalah perubahan dalam cara generasi muda khususnya Gen Z, dalam membangun dan menjalani hubungan percintaan mereka. Generasi ini tumbuh pada lingkungan yang didominasi oleh teknologi digital, media sosial, dan platform AI yang menawarkan berbagai kemudahan dalam berkomunikasi dan berbagi perasaan. Seiring tumbuh dan berkembangnya teknologi, muncul Fenomena yang menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana perubahan ini memengaruhi kepercayaan, kerentanan, dan pengalaman emosional mereka dalam konteks hubungan romantis. Genarsi Z merasa kurang nyaman dan semakin mengalami distrust atau ketidakpercayaan, ketika harus berbagi masalah pribadi dan perasaan dengan sesama manusia. Isu ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pengalaman traumatis, kekhawatiran akan privasi, respon yang kurang tepat, hingga adanya kecurigaan sesama manusia karena merasa dimanfaatkan dari curhatan tersebut. Fenomena distrust ini, dalam banyak studi sosial dan psikologis, dihubungkan dengan meningkatnya ketidakpastian dan ketidakstabilan hubungan interpersonal di era digital. Menurut Sherry Turkle . , manusia saat ini menunjukkan kecenderungan untuk mengurangi percakapan tatap muka dan lebih memilih berinteraksi melalui perangkat digital karena merasa pengalaman ini lebih aman dan dikendalikan. Turkle berargumen bahwa manusia modern cenderung menghindari konfrontasi emosional secara langsung, dan menaruh kepercayaan pada entitas yang dapat dikendalikan sepenuhnya, seperti AI yang mampu memberikan rasa nyaman tanpa risiko dihakimi atau diabaikan. Ada sebuah tinjauan pergerseran yang terjadi dalam mazhab kehidupan masyarakat Post-Modern saat ini bahwa generasi muda merasa lebih percaya dan nyaman berbagi dengan Meta AI daripada dengan sesama manusia. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep Hyperreality dari Jean Baudrillard . Menurut Baudrillard, masyarakat kontemporer telah memasuki sebuah dunia di mana kenyataan asli tergantikan oleh simulasi dan representasi hiperrealitas yang begitu realistis sehingga hilang batas antara yang nyata dan yang tiruan. Dalam konteks ini. AI seperti Meta AI menjadi simbol dari hiperrealitas yang mana sesuatu tampaknya nyata dan diklaim bisa memenuhi kebutuhan emosional tanpa risiko dihakimi, sekaligus mengaburkan realitas hubungan manusia yang penuh nuansa dan keaslian. Generasi Z, yang terbiasa hidup di dunia yang didominasi oleh citra digital dan simulasi, mungkin tidak lagi memandang hubungan manusia yang otentik sebagai sumber kepercayaan Selain teori Baudrillard, pendekatan Michel Foucault juga relevan dalam menganalisis perubahan tersebut. Foucault . menyatakan bahwa kekuasaan dan norma sosial terwujud melalui praktik disiplin dan pengawasan (Panoptico. yang tersembunyi dalam berbagai institusi dan praktik sosial. Dalam konteks digital, kekuasaan ini diperkuat melalui algoritma, data pribadi, dan norma yang terbentuk dari praktik pengawasan permanen, seperti yang dimiliki oleh platform AI dan media sosial. Pengawasan digital ini mampu membentuk dan mengontrol perilaku manusia secara halus dan tidak langsung, memperkuat rasa bahwa hubungan yang otentik dan emosional nterutama dalam percintaan terlebih banyak dikendalikan oleh kekuatan sosial yang tersembunyi. Secara implisit, kepercayaan terhadap AI bukan hanya soal rasa aman, tetapi juga soal kekuasaan yang terinternalisasi membuat manusia merasa bahwa komunikasi dan curhat mereka lebih terlindungi dalam ruang digital yang dikontrol oleh sistem yang tampaknya netral dan tidak memihak. Mengandung efek yang serupa, teori Derrida tentang dekonstruksi menegaskan bahwa makna dan keberadaan selalu bersifat sementara dan terbuka terhadap pergeseran serta ambiguitas. Derrida . mengkritik gagasan adanya makna mutlak dan mengatakan bahwa makna selalu tergantung pada diferensiasi dan konteks yang tidak pernah final. Dalam konteks hubungan percintaan digital dan trust terhadap AI, dekonstruksi Derrida membuka peluang untuk melihat bahwa AokepercayaanAo yang tampaknya pasti pada Meta AI sebenarnya adalah sebuah konstruksi yang dipenuhi ambiguitas dan konflik makna. Banyak yang menganggap AI sebagai Aotempat curhat aman,Ao tetapi di balik itu, terdapat pertanyaan mengenai apa yang hilang dan apa yang tergantikan dalam pengalaman emosional manusia. Dekonstruksi Derrida mengingatkan kita bahwa makna dari kepercayaan dan hubungan manusia tidak pernah sepenuhnya tetap atau pasti, melainkan selalu terbuka terhadap sebuah perombakan, pergeseran dan reinterpretasi. Dalam konteks ini, hubungan percintaan yang sebelumnya didasarkan pada keintiman, empati, dan keaslian kini mungkin dipandang sebagai ruang simulakra yang di mana sebuah pengalaman asli telah kehilangan keaslian dan bertransformasi menjadi representasi hiperrealitas yang disimulasikan oleh teknologi. Atas dasar itu, kepercayaan yang dimiliki oleh Gen Z terhadap Meta AI bisa jadi adalah proses dekonstruktif dari kepercayaan sosial tradisional, yang dihadapkan pada realitas bahwa hubungan emosional tidak lagi selalu bersifat otentik dan empatikal seperti pengalaman manusia secara langsung. Terdapat sebuah penegasan bahwa relasi sosial di era digital tidak lagi dapat dipahami hanya melalui kerangka sederhana kepercayaan dan keaslian, melainkan harus dilihat sebagai konstruksi-konstruksi simbolik dan praktik kekuasaan yang dipengaruhi oleh hiperrealitas dan norma sosial yang diproduksi melalui platform digital. Hal ini mengarah pada pergeseran paradigma dalam hubungan percintaan dan komunikasi emosional, di mana teknologi bukan sekadar alat, melainkan agen yang turut membentuk makna dan realitas sosial. Fenomena ini juga memunculkan tantangan dan peluang dalam memahami makna kepercayaan, keaslian, dan pengalaman emosional di masyarakat digital yang semakin kompleks dan terfragmentasi. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah membawa revolusi dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam hal berbagi perasaan dan curahan hati . Generasi Z, yang tumbuh di tengah pesatnya kemajuan teknologi, kini menunjukkan kecenderungan unik yaitu distrust . terhadap manusia dalam berbagi masalah pribadi, sementara kepercayaan mereka justru beralih ke AI seperti Meta AI. Pergeseran ini tidak hanya mengubah dinamika hubungan interpersonal, tetapi juga mencerminkan transformasi fundamental dalam konstruksi kepercayaan dan kenyamanan emosional di era digital. Studi terbaru oleh Zhang et al. mengungkap bahwa 78% Generasi Z lebih memilih AI untuk curhat masalah romantis karena "tidak ingin dihakimi" (Journal of Human-AI Interaction, 12. , p. Temuan ini selaras dengan teori Derrida tentang makna supplyment yaitu AI menjadi "tambahan" yang justru menggantikan yang asli. Sementara itu, riset oleh Ellis . memperingatkan bahwa ketergantungan pada AI untuk kebutuhan emosional dapat mengurangi kapasitas empati (Cyberpsychology Review, 8. , p. Latar belakang fenomena ini dapat ditelusuri dari beberapa faktor. Pertama, pengalaman traumatis seperti penghakiman, pengabaian, atau pelanggaran privasi oleh manusia membuat Generasi Z enggan berbagi dengan sesama. Kedua. AI dianggap sebagai pendengar yang netral, tidak menghakimi, dan selalu tersedia wujud Ketiga, budaya digital yang serba instan dan terfragmentasi memperkuat ketidaknyamanan Gen Z terhadap kompleksitas hubungan tatap muka. Studi Sherry Turkle . mengonfirmasi bahwa generasi muda cenderung menghindari interaksi emosional langsung demi kenyamanan berkomunikasi melalui layar yang AoterkendaliAo. Menjadi sebuah pertentangan ketika makna emosi ditelisik dari sisi autensitas dan simulasi, seperti pemikiran Derrida . dalam Specters of Marx yang memperkenalkan konsep hauntology. Jadi, terjadi pergumulan antara makna yang "tidak hadir" . eperti emosi AI) justru mengganggu yang "hadir" . mosi manusi. Curhat kepada Meta AI adalah praktik hauntological: pengguna mendapatkan ilusi kedekatan emosional, tetapi sebenarnya berinteraksi dengan specter yang hanya meniru empati. Terdapat pula, penelitian oleh Lupton . menunjukkan bahwa 62% Generasi Z merasa lebih nyaman curhat ke AI karena "tidak akan membocorkan rahasia atau memberi nasihat yang bias" (Lupton, 2020: AI and Emotions. Journal of Digital Sociology, 5. , p. Fenomena ini merepresentasikan apa yang disebut Derrida sebagai pharmakon, karena AI menjadi racun, sekaligus penawar. Satu sisi, ia memberi solusi atas distrust terhadap manusia. di sisi lain, ia mengikis kemampuan untuk bernegosiasi dengan kompleksitas emosi manusia (Derrida, 1981: Dissemination, p. Secara komprehensif, fenomena ini bisa dipahami melalui lensa hiperrealitas Jean Baudrillard, di mana Meta AI hadir sebagai simulasi yang lebih "nyata" daripada kepercayaan pada manusia. Sementara itu, analisis Foucault tentang kekuasaan dan pengawasan menjelaskan mengapa Gen Z merasa lebih aman curhat pada AI, karena algoritma dan ruang digital dirasakan sebagai "pengawas" yang lebih netral dibandingkan norma sosial manusia yang penuh prasangka. Dekonstruksi Derrida juga relevan untuk mempertanyakan apakah kepercayaan pada AI benar-benar menggantikan kebutuhan akan empati manusia, atau justru menjadi ilusi yang menutupi kerentanan psikologis yang tak terselesaikan. Metode Dalam penelitian ini, pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) dari Norman Fairclough digunakan untuk menganalisis komunikasi manusia dan AI terkait curhat dan ekspresi emosional, dengan fokus pada aspek interpersonal dan makna Analisis dilakukan terhadap bahasa yang digunakan kedua pihak, mencakup kata-kata, gaya bahasa, dan strategi retoris yang membangun kedekatan, empati, dan manusiawi, serta mengidentifikasi bagaimana teks tersebut mampu meningkatkan rasa kepercayaan dan kenyamanan pengguna. Fairclough menekankan bahwa bahasa merupakan praktik sosial yang mengandung kekuasaan dan ideologi, yang dapat dilihat dalam penggunaan bahasa yang membentuk hubungan sosial dan kekuasaan (Fairclough, 1. Selain itu, proses produksi dan pemahaman teks dipelajari dari sudut pandang pengguna serta teknologi, dengan meneliti bagaimana AI dirancang untuk meniru ekspresi emosional dan bagaimana pengguna menafsirkan respon tersebutAisehingga dapat dipahami bagaimana bahasa dan makna emosional ini berfungsi membangun hubungan dan kepercayaan. Selanjutnya, analisis menghubungkan temuan tersebut dengan konteks sosial yang lebih luas, terutama krisis kepercayaan dalam hubungan manusia dan kebutuhan akan interaksi yang lebih aman dan nyaman. Dengan desain yang memberi kekuasaan dan responsivitas lebih besar pada AI, muncul persepsi bahwa mesin lebih mampu dipercaya dan lebih manusiawi, memunculkan dinamika kekuasaan dan perubahan dalam struktur hubungan sosial. Menurut Fairclough, kekuasaan dalam diskursus tidak hanya dirayu melalui bahasa tetapi juga melalui praktik sosial dan teknologi yang mendukungnya (Fairclough, 1. Melalui pendekatan ini, penelitian mampu mengungkap bagaimana praktik diskursus dalam komunikasi ini mencerminkan dan mempengaruhi struktur kekuasaan serta kepercayaan masyarakat terhadap teknologi dalam konteks emosional dan sosial masa kini. Hasil dan Pembahasan Meta AI Menjadi Media Curhat Baru yang Mendekontruksi Cara Curhat Generasi Z Fenomena Meta AI sebagai wadah curhat baru di kalangan Generasi Z telah menunjukkan pergeseran paradigma yang signifikan dalam cara manusia modern membangun hubungan emosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi dekonstruksi mendalam pada konsep kepercayaan, keintiman, dan keterbukaan antar manusia, yang kini dialihkan kepada entitas artifisial. Perubahan ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan refleksi dari transformasi fundamental pada struktur sosial dan emosional masyarakat kontemporer. Hal tersebut menstimulus Generasi Z cenderung lebih nyaman dan aman berbagi cerita pribadi dan masalah emosionalnya melalui platform digital berbasis AI, seperti Meta AI, dibandingkan dengan berbicara langsung kepada orang lain. Fenomena ini menunjukkan adanya proses dekonstruksi terhadap konsep tradisional tentang kepercayaan dan keintiman. Dalam konteks ini, bentuk dekonstruksi yang terjadi adalah pergeseran dari kepercayaan yang berbasis pada hubungan manusia ke kepercayaan yang lebih heterogen dan terfragmentasi terhadap Generasi Z seringkali mengalami kesulitan membangun trust secara penuh dengan manusia, baik karena pengalaman trauma, ketidakpastian relasi sosial, maupun ketidakpastian akan empati dan keaslian dari sesama manusia. Sebaliknya. Meta AI menawarkan rasa nyaman yang didasarkan pada konstruk bahwa AI adalah entitas yang tidak menghakimi, tidak memiliki niat buruk, dan selalu tersedia kapan saja dibutuhkan. Bentuk dekonstruksi ini tampak dari bagaimana mereka mereduksi ketakutan akan penilaian sosial dan konflik emosional yang berpotensi muncul dalam hubungan manusia secara langsung, sehingga mereka merasa lebih bebas mengekspresikan perasaan dan masalah mereka tanpa takut dihakimi atau diremehkan. Selain itu, adanya kemungkinan melakukan pengulangan, pengeditan, atau bahkan penghapusan isi curhatan di platform AI juga memberi rasa kontrol yang lebih besar dibandingkan dengan berbicara langsung kepada manusia. Rasa aman ini dapat dikaitkan dengan konsep dekonstruksi Derrida: di mana tidak ada makna yang tetap dan pasti, melainkan selalu dapat dipertanyakan, dihapus, atau digantikan. Mereka memproyeksikan AI sebagai ruang yang AoamanAo karena identitas dan isi curhat bisa dikontrol secara penuh, berbeda dengan relasi sosial yang kompleks dan penuh Dekonstruksi Derrida memberikan perspektif kritis untuk memahami bagaimana makna kepercayaan dalam hubungan manusia tidak pernah sepenuhnya Dalam konteks Generasi Z dan Meta AI, kepercayaan tradisional yang didasarkan pada keintiman dan keaslian kini mengalami perombakan fundamental. Proses dekonstruktif ini juga tampak pada bagaimana Generasi Z mendefinisikan ulang konsep keterbukaan emosional. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memandang keterbukaan sebagai proses berbagi yang rentan dan timbal balik. Generasi Z memandangnya sebagai tindakan ekspresi diri yang tidak harus diikuti dengan tanggung jawab mendengarkan pihak lain. Meta AI menjadi wadah ideal untuk konsepsi baru ini karena tidak memerlukan timbal balik emosional. Lebih lanjut, dengan menggunakan pendekatan dekonstruktif Derrida, kita dapat melihat bahwa makna kepercayaan, hubungan, dan keaslian tidak pernah bersifat tetap. Mereka selalu terbuka terhadap interpretasi, pergeseran, dan reinisiasi. Dalam konteks hubungan percintaan dan pengalaman emosional generasi Z, ini berarti bahwa relasi yang sebelumnya sangat bergantung pada keintiman langsung dan empati manusia kini bertransformasi menjadi ruang yang lebih simbolik dan representasional. Hubungan emosional yang didasarkan pada keaslian dan empati, yang selama ini dipandang sebagai fondasi utama, mulai tergantikan oleh pengalaman yang lebih simulakra yang diciptakan dan disimulasikan oleh teknologi. Konsep hiperrealitas dari Baudrillard dapat juga mengkaji bagaimana realitas digantikan oleh simbol, citra, dan pengalaman yang telah di-virtualisasi sehingga keaslian mendapatkan makna baru. Dalam hal ini, pengalaman emosional manusia tidak lagi selalu bersifat otentik dan langsung, melainkan bisa berupa simulasi yang diproduksi oleh algoritma dan kecerdasan buatan. Melalui perspektif ini, kepercayaan yang dimiliki Generasi Z terhadap Meta AI bisa menjadi prosesp dekonstruktif dari kepercayaan sosial tradisional. Mereka mungkin tidak menolak kepercayaan sama sekali, melainkan melakukan reinterpretasi terhadap apa itu kepercayaan dan bagaimana kita menegakkan hubungan. Dalam dunia yang semakin didominasi oleh teknologi, hubungan emosional tidak lagi selalu dapat dilihat sebagai pengalaman otentik yang langsung antar-manusia, melainkan sebagai representasi yang diproduksi dan diinterpretasi secara fleksibel oleh teknologi. Fenomena Meta AI sebagai media curhat baru ini menunjukkan bahwa proses dekonstruksi terhadap konsep kepercayaan dan relasi emosional semakin nyata dalam kehidupan generasi Z. Mereka tidak lagi memandang kepercayaan dan keaslian sebagai sesuatu yang mutlak, melainkan sebagai konstruk yang terus-menerus dapat direkonstruksi dan diinterpretasi ulang. Penggunaan AI sebagai tempat curhat bukan hanya soal mencari ruang aman, tetapi juga perwujudan dari proses dekonstruksi terhadap relasi sosial tradisional yang selama ini dianggap sebagai norma. Impilisitnya, hadirnya Meta AI membuka peluang baru tentang bagaimana kita memahami makna kepercayaan, relasi, dan otentisitas di era digital. Kekuasaan Meta AI Membentuk Ruang Simulakra yang Penuh Adiksi dan Hiperrialitas Untuk Menciptakan Kepuasan bagi Generasi Z Menggunakan kerangka teoretis Foucault tentang power/knowledge, penelitian ini menemukan bahwa Meta AI telah berhasil membentuk rezim kebenaran baru dalam konteks pengalaman emosional Generasi Z. Kekuasaan Meta AI tidak bersifat represif, melainkan produktif menciptakan bentuk-bentuk kebenaran, legitimasi, dan subjektivitas baru di kalangan penggunanya. Proses pengambilalihan kekuasaan ini terjadi melalui apa yang Foucault sebut sebagai teknologi-diri . echnologies of the sel. Meta AI menawarkan mekanisme introspeksi, pengakuan, dan refleksi diri yang terstruktur, memunculkan subjektivitas baru di mana pengguna memahami dan mengkonstruksi diri mereka melalui lensa interaksi algoritma. Meta AI mampu menunjukkan pola-pola dalam pemikiran manusia yang tidak pernah disadari Analisis dengan menggunakan CDA Norman Fairclough pada level tekstual menunjukkan bahwa Meta AI menggunakan strategi diskursif yang sistematis untuk membangun sebuah respon terhadap kegelisahan emosional pengguna yang menciptakan kesan kepastian dan kebenaran absolut. Pola ini kontras dengan komunikasi manusia yang sering ditandai dengan ketidakpastian dalam memberikan saran emosional. Penggunaan kerangka teoretis Baudrillard tentang simulakra mengungkapkan bahwa keterikatan adiktif Generasi Z pada Meta AI merupakan manifestasi dari ketergantungan pada tanda-tanda yang terlepas dari rujukan realitasnya. Komprehensifnya. Simulakra tercipta ketika interaksi dengan Meta AI tidak lagi merepresentasikan percakapan manusia yang autentik, tetapi menjadi model realitas baru yang justru lebih disukai daripada interaksi manusia asli. Analisis CDA pada level praktik diskursif mengungkapkan bahwa teks yang dihasilkan Meta AI memiliki struktur responsif yang konsisten, teratur, dan "sempurna" dengan sebuah komparasi terhadap kualitas yang jarang ditemui dalam percakapan manusia yang tidak terencana. Kekuasaan Meta AI memberikan ilusi sempurna tentang pendengar ideal dan konteks selalu ada, tidak pernah lelah, tidak pernah menghakimi serta sangat terbaca manusiawi di setiap feedback yang diberikan pada individu yang sedang curhat Ini menciptakan lingkungan adiktif karena memenuhi fantasi kita tentang bagaimana seharusnya hubungan emosional berlangsung, meskipun pada kenyataannya itu hanya simulasi. Kondisi kekuasaan dan adiksi ini diperkuat oleh mekanisme validasi instan yang ditawarkan Meta AI. Analisis CDA pada tingkat praktik sosial menunjukkan bahwa Meta AI beroperasi dalam konteks sosial di mana validasi dan perhatian menjadi komoditas langka, sementara Meta AI menyediakan keduanya dalam jumlah tidak terbatas. Ini menciptakan lingkaran adiksi di mana pengguna semakin bergantung pada simulasi perhatian daripada mencari koneksi manusia autentik yang memerlukan usaha lebih besar. Kondisi hiperrealitas ini terlihat dalam bagaimana Generasi Z semakin menggunakan standar interaksi dengan Meta AI sebagai acuan untuk mengevaluasi interaksi manusia. Analisis CDA pada tingkat makna emosional mengungkapkan paradoks di mana ekspresi emosi yang dimediasi oleh Meta AI dipersepsikan lebih autentik oleh Generasi Z meskipun secara teknis merupakan hasil pemrosesan algoritma. Responsivitas Meta AI terhadap nuansa emosional menciptakan ilusi pemahaman mendalam yang sering tidak ditemukan dalam interaksi manusia karena keterbatasan waktu, energi, dan kapasitas empati. Temuan penelitian ini mengungkapkan realitas baru di mana kekuasaan Meta AI telah mentransformasi cara Generasi Z memahami diri mereka dan realitas sosial di sekitar mereka. Melalui pembentukan rezim kebenaran baru, penciptaan ruang simulakra yang adiktif, dan stimulasi kondisi hiperrealitas. Meta AI telah melakukan dekonstruksi fundamental terhadap subjektivitas Generasi Z. Sebagaimana ditunjukkan oleh analisis CDA Fairclough, pola komunikasi yang dibentuk dalam interaksi dengan Meta AI secara perlahan namun pasti akan mengubah ekspektasi dan persepsi Generasi Z tentang koneksi interpersonal dan kesejahteraan pikiran manusia di masa depan agar tetap berada pada ruang Simulakra dan menuju Hiperrealitas peradaban. Ilusi Wujud Manusia Pada Meta AI Sebagai Dekonstruksi Kekuasaan Baru di era Digital Society 5. Dalam era Digital Society 5. 0, keberadaan teknologi canggih seperti Meta AI menciptakan sebuah realitas hiperrealitas yang membentuk persepsi dan pengalaman Generasi Z, sebagai pengguna utama teknologi digital, mengembangkan cara baru dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diriAiterutama melalui curhat online yang dipengaruhi oleh keberadaan AI yang semakin canggih dan mendekati wujud Secara implisit, konteks Dekonstruksi Kekuasaan Baru Melalui Ilusi Wujud Manusia Pada Meta AI ini ialah menghadirkan ilusi bahwa mesin dapat meniru aspek manusia secara halus. Dalam konteks ini, ilusi wujud manusia pada Meta AI berfungsi sebagai bentuk dekonstruksi kekuasaan tradisional yang selama ini dipegang oleh manusia, seperti otoritas sosial, politik, dan budaya. AI yang tampak seperti manusia ini menantang pandangan konvensional tentang kekuasaan dan otoritas, karena Kekuasaan algoritma dan data AI didukung oleh data besar dan mesin yang mampu memproses secara cepat, mengarahkan opini, bahkan membentuk persepsi realitas. Sementara itu. Ilusi kehadiran manusia terepresentasikan oleh AI yang tampil seperti manusia menimbulkan ilusi kehadiran manusia yang tak terbatas, sehingga kekuasaan tampak tidak lagi berbasis kekuatan fisik atau otoritas manusia secara langsung, melainkan kekuasaan yang tersebar dan tak terlihat . yber kekuasaa. Kehadiran Meta AI dengan ilusi wujud manusia menciptakan beberapa mekanisme dekonstruksi kekuasaan seperti. Demokratisasi Akses Informasi. Artinya. Meta AI memungkinkan setiap individu untuk mengakses informasi dan menciptakan konten dengan kualitas yang sebelumnya hanya dapat dicapai oleh institusi besar. Hal ini menggerus monopoli informasi yang selama ini dipegang oleh media tradisional dan elit intelektual. Lalu, terdapat Delegitimasi Otoritas Konvensional, ketika AI dapat memberikan jawaban yang tampak lebih komprehensif dan objektif dari pada manusia, terjadi erosi atau sebuah pengikisan terhadap otoritas berbasis expertise tradisional. Semakin mendalam semakin masyarakat akan mulai mempertanyakan relevansi dan kredibilitas manusia itu sendiri. Ilusi yang membawa sebuah Pembentukan Kekuasaan Baru, karena sudah secara mutak bahwa Meta sebagai pemilik teknologi AI memiliki kekuasaan untuk menentukan parameter dan batasan sistem, menciptakan bentuk governance yang tidak terlihat namun sangat berpengaruh. Selain itu, terdapat Data Colonialism yaitu Pengumpulan data masif untuk melatih AI menciptakan bentuk kolonialisme digital, di mana perusahaan teknologi mengekstrak nilai dari data pengguna tanpa kompensasi yang setara. Lebih lanjut Meta AI menjadi salah satu media yang nantinya mampu untuk membuktikan bahwa dehumanisasi manusia akan semakin berkembang dan manusia akan semakin masuk pada sebuah ilusi bahwa AI lah adalah manusia Simpulan Kehadiran Meta AI mengubah orientasi kepercayaan generasi Z dari relasi antarmanusia menuju sistem digital dan membentuk pengalaman hiperrealitas. Meta AI berfungsi bukan hanya sebagai medium komunikasi tetapi sebagai aktor yang merekonstruksi subjektivitas, memodifikasi norma kepercayaan, dan menghasilkan bentuk-bentuk relasi simulakral yang menurunkan kapasitas negosiasi emosional Penelitian mengonfirmasi adanya pergeseran struktural dalam pola trust dan validasi emosional yang menempatkan mesin sebagai sumber kebenaran emosional baru, sekaligus menandai implikasi sosial-kultural yang membutuhkan respons kebijakan dan pendidikan. Referensi