Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 PERAN GURU AGAMA KATOLIK DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER KERUKUNAN DAN SOLIDARITAS SISWA (STUDI KASUS DI SMA ST. ANGELA BANDUNG) Tresia Afila Eka Putri. Hendrikus Midun*). Marselus Ruben Payong Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng teresiaputry72@gmail. Penulis korenspodensi, hendrik. m2002@gmail. marselpayong@yahoo. Abstract Pastoral activity is a form of Church service to the lives of the people. Harmony and solidarity are basic attitudes necessary to live in a pluralist community. These attitudes can create social cohesion between members of the school community. However, the implementation of these attitudes depends on the policies, pedagogical models and habits carried out in schools. This study aims to describe the roles, challenges and pedagogical efforts of Catholic Religious Education teachers to increase harmony and solidarity between students. This study uses a qualitative descriptive approach. The data collection methods are interviews, observations, and The research informants included school principals. PAK teachers, parents, and students. The results of the interview were analyzed using three steps, namely data reduction, data presentation, and conclusion. The results of the analysis found three points: . The Catholic religious education teachers have a direct and indirect role in efforts to increase harmony and solidarity between students. The Catholic religious education teachers did not find any serious obstacles in the implementation of harmony and solidarity between Small obstacles occur when students have varied parents' economic backgrounds, so the process of adjusting students in school takes a relatively long time. The Catholic religious education teachers' efforts to overcome obstacles to living in harmony and solidarity are to create a variety of activities that involve many Based on these findings, suggestions for improving the implementation of The Catholic religious education learning and further research are formulated. Keywords: the Catholic religious education teacher. PENDAHULUAN Toleransi, sebagai salah satu pilar masyarakat pluralis, menjadi landasan penting dalam menciptakan harmoni dan kesatuan sosial. Pengakuan dan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 penghargaan terhadap perbedaan . uku, agama, ras, buday. menjadi pondasi utama dalam memperkuat solidaritas di sekolah dan masyarakat majemuk (Casram. Atmosfer pendidikan yang kondusif, berpusat pada nilai-nilai kebhinekaan dan kebaikan umum, memainkan peran krusial dalam membentuk sikap kerukunan dan toleransi generasi muda. Sebagai pendidik karakter, para guru berperan membimbing peserta didik untuk menumbuhkan dan mengembangkan karakter kerukuan dan toleransi peserta didik. Dalam menjalankan peran ini, para guru menjalankan lima hal, yakni: menjadi telandan dalam bersikap, bertutur kata, dan bertindak bagi peserta didik. mengintegrasikan nilai-nilai kerukunan dan toleransi dalam implementasi kurikulum baik di kelas maupun luar kelas. menciptakan komunitas pembelajaran yang inklusif dan menyenangkan. mentradisikan kebiasaan mengajar meggunakan model pembelajaran kolaboratif dan project. dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang menumbuhkan rasa empati dan solider dalam diri peserta didik (Nadler, & McMiller, 2016. Lickona, 1. Dalam menjalankan peran-peran ini tantangan dihadapi guru antara lain: latar belakang peserta didik yang bervariasi. pengaruh orangtua, keluarga, lingkungan sosial. sumber daya guru dan pelatihan . entang karakte. yang masih minim. pandangan yang stereotip dan diskriminatif di masyarakat. dan para guru tidak memiliki waktu banyak untuk membentuk karakter peserta didik (Tao & Liu, 2020. Narvaez & Lapsley, 2. Karakter kerukunan dan toleransi diwujudkan dalam bentuk saling menghargai setiap ajaran dan kewajiban yang diajarkan dalam suatu agama, tidak membeda-bedakan orang meskipun memiliki agama atau kepercayaan berbeda, saling membantu dan memahami antara satu dengan yang lain (Kusmanto & Wakhudin, 2. , saling memelihara perbedaan dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian atau menyinggung perasaan orang lain (Jannah. Sikap rukun, solider atau toleransi dapat membawa kedamaian dan keharmonisan dalam masyarakat (Heriyanti, 2020. Sari, 2. Hal itu akan terjadi jika sikap rukun dan solider muncul dari lubuk hati yang paling dalam dan terpancar dari kemauan untuk berinteraksi satu sama lain sebagai manusia tanpa tekanan dari pihak manapun (Pina, et al. , 2. Tantangan utama lembaga pendidikan adalah bagaimana menjadikan sikap rukun dan toleransi menjadi spirit bagi warga sekolah terutama siswa dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian sebelumnya (Casram, 2016. Widhaya, 2018. Aulia, 2. mengungkapkan bahwa sikap toleransi merupakan sikap yang selalu diperjuangkan dan dihayati pada setiap lembaga pendidikan. sikap toleransi menjadi semangat . dalam kehidupan di sekolah. dan kebijakan sekolah terkait sikap serta perilaku toleransi menjadi salah satu magnet tersendiri bagi orang tua siswa untuk menyekolahkan putra-putri mereka pada lembaga pendidikan. Namun demikian penelitian-penelitian itu belum mengungkap dengan jelas alasan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 sikap dan perilaku toleransi dihayati dengan baik di sekolah, serta belum mengeksplorasi lebih dalam upaya yang dilakukan sekolah, baik pada level mata pelajaran maupun kurikulum untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap toleransi di sekolah. Hal itu penting digali, sebab hingga sekarang lingkungan pendidikan memiliki peran sangat krusial dalam membentuk sikap dan praktekpraktek toleransi (Ismail, et al. , 2. Aspek-aspek ini perlu diungkap lebih jauh agar sikap toleransi dan solidaritas tetap berakar dan menjadi semangat dasar bagi setiap personil sekolah dalam merumuskan visi, misi, kurikulum dan pembelajaran, sehingga menjadi roh dalam merumuskan peraturan, tata tertib, dan kebijakan, kurikulum dan pembelajaran di sekolah, termasuk kegiatan-kegiatan pengembangan diri siswa (Midun, 2015. Novitasari et al, 2. Lembaga pendidikan pun bisa diartikan sebagai sebuah organisasi akademik tempat terjadinya transpor dan transformasi ilmu pengetahuan, sikap dan budaya terhadap individu guna mengubah tingkah laku seseorang menjadi lebih dewasa, serta memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang (Khair, 2021:. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan sangat menentukan dan mempengaruhi pembentukan sikap dan praktek toleransi Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi referensi dalam penelitian ini, antara lain: Buku berjudul Pendidikan Karakter untuk Membangun Bangsa yang ditulis oleh H. Prasetya pada tahun 2014 membahas bagaimana karakter kerukunan dan toleransi dapat diterapkan dalam pendidikan karakter di sekolahsekolah. Buku ini menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2017 menerbitkan buku berjudul Penguatan Pendidikan Karakter yang mengidentifikasi kerukunan dan toleransi sebagai dua dari lima nilai utama dalam pendidikan karakter. Buku ini bertujuan untuk membangun karakter bangsa yang damai, adil, dan makmur melalui pendekatan pendidikan yang holistik. Pusat Studi Perdamaian Universitas Gadjah Mada dalam penelitiannya yang diterbitkan pada tahun 2010 dengan judul Toleransi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara memberikan wawasan tentang pentingnya pendidikan dalam membentuk sikap toleransi. Penelitian ini menekankan bahwa toleransi berperan penting dalam membangun harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Smith dan Black . , dalam artikel ilmiah berjudul The Role of Tolerance in Social Cohesion yang dimuat dalam Journal of Social Issues volume 62, nomor 2, halaman 342Ae358, membahas peran penting toleransi dalam menjaga kohesi sosial. Artikel ini menjelaskan bahwa toleransi memiliki dampak positif baik dalam kelompok kecil maupun dalam masyarakat luas. Berangkat dari permasalah yang terjadi dan beberapa referensi dari Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 penelitian terdahulu, maka penelitian ini akan mengeksplorasi tentang bagaimana SMA Santa Angela Bandung, sebagai suatu lembaga pendidikan Katolik membelajarkan dan menghayati nilai-nilai kerukunan dan solidaritas di tengah keberagaman siswa, baik latar agama, budaya, dan sosial ekonomi. Dengan menajalankan visi dan misi AuServiamAy lembaga ini sering melakukan kegiatankegiatan yang berorientasi pada kebersamaan dan toleransi, sekaligus keunikannya, seperti meditasi bersama setiap pagi, olah raga bersama, mengunjungi teman yang sakit, memberi donasi kepada orangtua siswa yang berduka atau mengalami musibah, makan bersama pada hari-hari tertentu, dan lain sebagainya. Fokus utama penelitian ini adalah menggali lebih dalam tentang peran guru PAK dalam membentuk dan menghayati kerukunan dan solidaritas di antara siswa. Hal ini didasar pada tiga pertanyaan pokok: bagaimana peran guru PAK meningkatkan kerukunan dan solidaritas antar siswa?. apa tantangan yang dialami guru PAK dalam meningkatkan penghayatan kerukunan dan solidaritas antar siswa. bagaimana upaya yang dilakukan guru PAK dalam menanamkan, menumbuhkan dan mengembangkan nilai kerukunan dan solidaritas antar siswa? II. PEMBAHASAN Kajian Teori Karakter kerukunan dan toleransi merupakan dua nilai penting dalam kehidupan sosial yang mendukung terciptanya masyarakat yang harmonis dan Karakter ini tidak hanya mengarah pada hubungan antar individu, tetapi juga mencakup bagaimana saling berinteraksi dalam kelompok atau komunitas yang memiliki latar belakang, pandangan, dan kepercayaan yang berbeda. Deskripsi Karakter Kerukunan dan Toleransi Kerukunan merupakan kondisi di mana hubungan antarindividu atau antarkelompok dalam masyarakat berlangsung dengan baik, tanpa adanya konflik atau perpecahan. Karakter kerukunan tercermin dalam sikap saling menghormati, bekerja sama, dan saling mendukung satu sama lain demi menciptakan keharmonisan sosial. Dalam suasana yang rukun, setiap pihak berusaha menyelesaikan perbedaan secara damai dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan perpecahan. Di Indonesia, kerukunan memiliki makna yang lebih dalam karena berkaitan erat dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, yaitu semboyan yang menegaskan bahwa meskipun berbeda-beda, bangsa Indonesia tetap satu. Sementara itu, toleransi merupakan sikap yang mencerminkan penghargaan dan penerimaan terhadap perbedaan, baik dalam hal agama, suku, ras, pandangan politik, maupun kebudayaan. Karakter toleransi mengajarkan setiap individu untuk tidak memaksakan pandangan atau keyakinannya kepada orang lain, melainkan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 mendorong sikap saling memahami dan menghormati keragaman yang ada. Toleransi membangun suasana inklusif, di mana setiap orang merasa dihargai dan diterima dalam kehidupan bermasyarakat tanpa diskriminasi. Selain itu, toleransi juga mengandung makna menjaga kebebasan setiap individu dalam berkeyakinan dan berpendapat. Pentingnya Karakter Kerukunan dan Toleransi Masyarakat yang memiliki karakter kerukunan dan toleransi cenderung hidup dalam suasana yang lebih stabil, aman, dan damai. Kondisi ini dapat meminimalisir potensi konflik yang sering kali muncul akibat perbedaan latar belakang agama, budaya, atau pandangan hidup. Kerukunan dan toleransi juga mendorong terciptanya suasana yang saling menghargai, di mana keberagaman dipandang sebagai kekayaan yang harus dijaga dan dirawat bersama, bukan sebagai ancaman yang memecah belah. Selain itu, masyarakat yang hidup dalam semangat kerukunan dan toleransi akan mampu bekerja sama secara lebih efektif dalam mencapai berbagai tujuan bersama, baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun Dengan demikian, kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan akan Contoh nyata dari karakter kerukunan dapat ditemukan dalam kehidupan sebuah desa, di mana meskipun warganya berasal dari berbagai latar belakang agama, mereka tetap saling membantu dan bergotong-royong membangun fasilitas umum atau merayakan acara adat bersama. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang dalam menciptakan hubungan sosial yang harmonis. Sementara itu, toleransi terlihat ketika seseorang menghargai temannya yang memiliki agama berbeda dan tidak memaksakan keyakinan pribadinya untuk diterima oleh orang lain, bahkan menunjukkan sikap terbuka dengan mau mendengarkan dan berusaha memahami ajaran agama temannya sebagai bentuk penghormatan terhadap Implementasi Kerukunan dan Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari Kerukunan dan toleransi merupakan dua nilai karakter yang sangat penting dalam membentuk masyarakat yang inklusif dan penuh kedamaian. Mengintegrasikan kedua karakter ini dalam kehidupan sehari-hari akan membantu mengurangi konflik sosial serta menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik. Di lingkungan sekolah, guru dapat mengajarkan siswa untuk menghormati teman yang berbeda suku atau agama, serta menciptakan kegiatan yang mendorong interaksi antar kelompok dengan latar belakang yang beragam. Sementara itu, dalam kehidupan bermasyarakat, penyelenggaraan acara budaya yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman dan kerja sama lintas budaya. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Kerukunan dapat dipahami sebagai kondisi di mana hubungan antar individu atau kelompok dalam masyarakat berjalan baik, tanpa konflik atau Karakter ini mencakup sikap saling menghormati, bekerja sama, dan saling mendukung demi terciptanya keharmonisan sosial. Dalam kehidupan yang rukun, setiap individu berusaha menyelesaikan perbedaan dengan cara damai dan menghindari perpecahan. Dalam konteks Indonesia, semangat kerukunan sejalan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang mengajarkan bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetap satu. Menurut Kusmanto dan Wakhudin . , kerukunan adalah kondisi di mana semua golongan, baik dari sisi suku, agama, maupun ras, dapat hidup secara damai tanpa kehilangan identitas dan privasi masing-masing, termasuk dalam menjalankan kewajiban agama. Waruwu . menegaskan bahwa sikap saling menghormati, bekerja sama, dan mendukung satu sama lain merupakan wujud nyata dari karakter kerukunan. Dengan sikap-sikap ini, setiap individu akan menghargai perbedaan dan berupaya menyelesaikan persoalan secara damai. Maryani . menambahkan bahwa implementasi kerukunan tampak dalam bentuk penghargaan terhadap keunikan tiap individu atau kelompok, serta dalam semangat saling membantu dan menguatkan dalam keberagaman (Makalew. Sambiran, & Waworundeng, 2. Kerukunan antargolongan menjadi syarat mutlak bagi terciptanya stabilitas politik dan ekonomi yang pada akhirnya bermuara pada kehidupan masyarakat yang adil, makmur, damai, dan harmonis (Harahap et al. , 2023. Widiyansyah. Harahap. Nofianti, dan Agustia . mengemukakan bahwa beberapa faktor pendukung terciptanya kerukunan antaragama meliputi: terciptanya suasana kehidupan beragama yang kondusif sehingga mendukung pendalaman dan pengamalan agama. penanaman cinta dan kasih dalam kehidupan antarumat beragama, termasuk upaya menghapus prasangka terhadap pemeluk agama lain. dan kesadaran bahwa perbedaan merupakan realitas yang memperindah kehidupan. Sejalan dengan itu. Riza . menyatakan bahwa kerukunan mengandung tiga unsur pokok, yaitu kesediaan menerima perbedaan keyakinan, kesediaan membiarkan orang lain mengamalkan ajarannya, serta kemampuan merasakan keindahan dalam perbedaan. Toleransi merupakan sikap menghargai perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti suku, agama, ras, antar golongan, kebudayaan, maupun pandangan politik. Individu yang memiliki karakter toleran tidak akan memaksakan pandangan dan kepercayaannya kepada orang lain (Smith & Black, 2. Salah satu bentuk nyata dari kerukunan adalah sikap solider, yakni dorongan untuk keluar dari diri sendiri dan terlibat dalam kehidupan orang lain. Zaini . dan Erna . menjelaskan bahwa solidaritas adalah panggilan untuk berbela rasa dan setia kawan dengan sesama. Durkheim (Safei, 2. membagi solidaritas sosial menjadi Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dua jenis, yaitu solidaritas organik dan solidaritas mekanik. Solidaritas organik muncul dalam masyarakat yang memiliki pembagian kerja, sementara solidaritas mekanik terbentuk dalam masyarakat yang memiliki tujuan dan kepercayaan yang Dalam praktiknya, setiap individu berusaha melakukan penyesuaian sosial tanpa kehilangan identitas diri. Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan sikap Anak-anak perlu dilatih untuk menunjukkan tindakan kasih, bela rasa, kepekaan terhadap sesama, serta kebiasaan bersedekah agar terbentuk karakter yang solider (Haru, 2. Sebaliknya, sikap egoistis dan serakah dapat menghambat perkembangan karakter tersebut (Leba & Watunglawar, 2. Sikap solidaritas dapat dikembangkan melalui pembelajaran berbasis proyek maupun model pembelajaran kooperatif di kelas, yang memungkinkan peserta didik saling berinteraksi, berdiskusi, dan bekerja sama dalam kelompok. Dalam konteks Pendidikan Agama Katolik di sekolah, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengenalan ajaran iman sebagai ilmu teologi, tetapi juga menanamkan nilai kerja sama dan solidaritas sebagai wujud nyata iman Katolik (Mulyatno, 2. Sikap solider terhadap sesama yang menderita secara fisik, ekonomi, sosial, atau politik, serta upaya menegakkan keadilan dan HAM, merupakan panggilan nyata bagi setiap orang beriman (Leba & Watunglawar. Lebih dari itu, solidaritas adalah manifestasi iman Katolik, yang diwujudkan melalui keberpihakan kepada kaum miskin, pembangunan persaudaraan sejati, dan perawatan terhadap alam ciptaan. Oleh karena itu, beriman Katolik tidak hanya menyangkut relasi dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan kasih terhadap sesama dan ciptaan lainnya. Santo Yakobus pernah menyatakan bahwa Auiman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah matiAy (Yakobus 2:. Iman kepada Yesus menjadi landasan untuk menjalani panggilan hidup secara aktif dan solider. Perwujudan iman Kristiani melalui keberpihakan kepada yang lemah, pembangunan persaudaraan di tengah keberagaman, serta komitmen terhadap keadilan dan kesejahteraan bersama, merupakan bagian tak terpisahkan dari sikap solidaritas. Solidaritas, sebagai wujud iman, perlu dihidupi melalui tindakan nyata dalam pelayanan dan pewartaan Kerajaan Allah (Leba & Watunglawar, 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memberikan ruang yang luas untuk memahami fenomena secara mendalam, yang sesuai dengan tujuan penelitian ini yakni untuk menggambarkan dan menjelaskan peran guru PAK dalam konteks yang kompleks (Leavey, 2017:. Selain itu penggunaan pendekatan kualitatif karena memiliki ciriciri sebagaimana diungkap Ardianto . seperti jumlah sampel yang sedikit. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 penekanan pada pengorganisasian data yang kompleks, pengembangan teori, data yang diperoleh bersifat subjektif dan kaya akan makna, serta diperoleh melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Santa Angela Bandung dan melibatkan 10 informan, terdiri atas kepala sekolah, guru PAK, siswa, dan orang tua siswa. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan para Selanjutnya data sekunder berasal dari pelacakan dokumentasi terkait kurikulum dan pembelajaran di sekolah, serta literatur yang relevan dengan Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan Peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data, dengan fokus pada pemahaman mendalam tentang peran guru PAK dalam meningkatkan kerukunan dan solidaritas di sekolah. Selanjutnya teknik keabsahan data dilakukan dengan triangulasi dan member checking sehingga menghindari bias dan invaliditas data yang dikumpulkan (Creswell, 2. Data yang diperoleh dari wawancara dan dokumentasi dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Cewswell, 2009. Miles. Huberman, & Saldana, 2. Hasil Penelitian dan Diskusi 1 Hasil Penelitian Peran Guru PAK Meningkatkan Kerukunan dan Solidaritas Hasil wawancara dengan para informan . epala sekolah, guru PAK, orangtua siswa, dan para sisw. mendukung satu satu sama lain. SFT mengakui bahwa semua siswa . anpa kecual. menganggap bahwa mengikuti pembelajaran PAK di SMA Santa Angela Bandung merupakan sesuatu yang wajar dan Selanjutnya orang siswa percaya bahwa kedisiplinan sebagai salah satu prinsip pendidikan . di sekolah ini dapat membentuk kepribadian dan tradisi belajar anak-anak mereka. Para informan menilai bahwa rasa nyaman yang dialami anak-anak karena pola pengasuhan dan pendekatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Kondisi ini diakui oleh BYPW sebagai guru PAK. Menurutnya pembelajaran PAK selalu membelajarkan siswa untuk berprilaku baik. an setiap pembelajara. merupakan tempat yang efektif untuk mengembangkan karakter anak, terutama karakter toleransi dan solider. Sebagai orangtua siswa. GDPA menjelaskan bahwa guru PAK tidak hanya mengajarkan tentang Kitab Suci kepada siswa, tetapi juga nilai-nilai Kristen, seperti etika dan moral. Selanjutnya NE mengakui bahwa penghayatan nilai-nilai karakter yang ditunjukan guru PAK sangat nyata. NE menyaksikan, di sekolah, anak-anak telah diajarkan untuk memiliki bela rasa yang tinggi terhadap sesamanya. Pengakuan yang sama dinarasikan oleh CS, bahwa guru PAK di lembaga ini selalu berusaha menyatukan antara teori dan praktik, misalnya membiasakan siswa untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan dan solider satu sama lain. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Pembelajaran PAK di SMA Santa Angela Bandung mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, kerukunan, solidaritas, dan keberagaman (GF & RPW, 2. Informan AGFS menceritakan bahwa sejak bersekolah di Santa Angela, dirinya merasakan bahwa sekolah ini menjunjung tinggi nilai keberagaman dan tidak terjadi diskriminasi. Pembelajaran PAK bukan hanya terkait bagaimana siswa memahami isi ajaran Agama, tetapi terutama bagaimana melalui pembelajaran Agama siswa merasa lebih dekat dengan Tuhan (EDGL, 2. Selanjutnya informan ML mengakui bahwa pembelajaran PAK di SMA Santa Angela Bandung memengaruhi pandangannya tentang kerukunan dan Menurutnya salah satu materi PAK yang manarik dan terkait dengan nilai solidaritas adalah Aukesetaraan genderAy. Pada pembelajaran ini guru PAK membelajarkan siswa untuk memiliki kesadaran bahwa semua orang memiliki kedudukan dan hak yang setara apapun latar belakangnya. Kesadaran inilah yang mendorong praktik-praktik kerukunan dan solidaritas antar siswa. Berdasar hasil wawancara tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar mengungkapkan bahwa guru PAK memiliki peran signifikan untuk memperkuat kerukunan dan solidaritas di lingkungan sekolah. Guru PAK tidak hanya mengajarkan tentang ajaran-ajaran agama, tetapi juga membelajarkan nilai-nilai universal seperti toleransi, kerukunan, kesetaraan gender, dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Faktor Penghambat Kerukunan dan Solidaritas Menurut SFT, sejauh yang dialaminya tidak ada hambatan berarti dalam menghayati kerukunan dan solidaritas di sekolahnya. Dalam rangka mewujudkan kerukunan dan solidaritas antar sesama, jadwal pembelajaran mengakomodir personil sekolah beragama Islam. Potensi penghambat dalam menghayati kerukunan dan solidaritas tetap ada, misalnya, tiba-tiba seorang siswa tidak tidak berbaik hati dengan temannya, tidak saling menerima antara satu dengan yang lain dengan beragam sebab (BYPW, 2. Pengakuan yang sama diungkapkan SFT. GDPA. NE dan informan lain, ada potensi seperti perbedaan kondisi sosial ekonomi Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan hampir tidak ada faktor penghambat untuk menghayati kerukunan dan solidaritas di SMA Santa Angela Bandung. Meskipun demikian, masih terdapat kasus di mana ada siswa yang tidak baik hati dengan siswa lain dengan berbagai Namun, dengan misi Serviam Ursulin yang kuat, sekolah/guru langsung mengatasinya melalui proses penyadaran baik oleh guru mata pelajaran di kelas maupun guru BK. Atmosfer semacam ini membuat para siswa merasa senang dan betah belajar di sekolah ini, selain dukungan keluarga atau orangtua dan tradisi mutu yang telah dipraktikkan selama bertahun-tahun. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Upaya Meningkatkan Kerukunan dan Solidaritas Para informan mengungkapkan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kerukunan dan solidaritas. SFT mengakui bahwa SMA Santa Angela Bandung, tetap berkomitmen memegang teguh sifat inklusivitas. Siapapun dilayani dengan BYPW menuturkan bahwa penghayatan kerukunan dan solidaritas merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki SMA Santa Angela Bandung. Pembelajaran PAK yang dilakukannya, tidak hanya terbatas di dalam ruangan kelas, tetapi juga di luar kelas, termasuk melakukan pendampingan terhadap siswa yang memiliki perilaku yang berpotensi menghambat penghayatan nilai-nilai kerukunan dan solidaritas. GF dalam pernyataannya menilai bahwa upaya yang dilakukan SMA Santa Angela Bandung untuk meningkatkan kerukunan dan solidaritas adalah dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan yang melibatkan warga sekolah, seperti kegiatan sosial, di mana mereka mengumpulkan dana untuk membantu teman-teman yang belum/tidak berkecukupan. Memperbanyak relasi dan pergaulan dengan teman beragama lain merupakan bagian dari upaya meningkatkan keakraban, kerukunan dan solidaritas. Praktik-praktik semacam ini menghindarkan orang dari sikap Pengakuan GF, juga diakui oleh EDGL. RPW. AGFS. ML. Para informan tersebut merasakan bahwa dengan melibatkan diri pada setiap kegiatan dan perlombaan di sekolah, mereka semakin mengenal kemampuan dan karakter teman-teman, serta menghargai keunikan masing-masing. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat dikatakan bahwa SMA Santa Angela Bandung telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kerukunan dan solidaritas. Pertama, melalui kebijakan inklusivitas, di mana semua individu . ari berbagai latar belakang agama, sosial, ekonom. , merasa diterima dan tidak merasa disisihkan di lingkungan sekolah. Kedua, penggunaan metode pembelajaran PAK sebagai sarana untuk membentuk karakter dan kesadaran akan pentingnya kerukunan dan solidaritas. Ketiga, adanya program-program sekolah seperti kegiatan sosial dan perlombaan antar siswa dan antar kelas/angkatan pada perayaan hari-hari besar, baik yang sifat nasional-profan (Perayaan 17 Agustus. Hari Guru. Hari Ibu. Hari Sumpah Pemud. maupun bersifat gerejawi, seperti BKSN. Keempat, kegiatan bersama yang dirancang sekolah atau guru, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar sekolah. 2 Diskusi Peran Guru PAK dalam Meningkatkan Kerukunan dan Solidaritas Siswa Temuan penelitian mengungkapkan bahwa guru PAK secara langsung dan tak langsung berperan meningkatkan praktik kerukunan dan solidaritas antar siswa Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 di SMA Santa Angela Bandung. Sebagai bagian dari guru profesional, guru PAK menjalankan peran sebagai teladan bagi siswa (Arifin, 2. Sebagai teladan moral dan pendidik karakter siswa, guru PAK mengajarkan nilai-nilai agama Katolik yang dapat dihayati oleh semua siswa dari segala kalangan, seperti nilai kebenaran, keadilan, kesetaraan, hormat terhadap martabat manusia, dan cinta kasih (Tyas, et al, 2. Kerukunan dan solidaritas merupakan praktik dari nilai-nilai cinta kasih yang merupakan nilai dasar dalam pembelajaran PAK. Nilai-nilai dasar ini diungkap dalam beragam bentuk perbuatan kasih, seperti senang hidup bersaudara dalam suatu komunitas, bersimpati, berempati, rukun, saling menghargai satu sama lain, serta menghilangkan rasa iri dan dengki terhadap sesama (Sianipar & Telaumbanua, 2022. Wicaksono, 2. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa guru PAK di SMA Santa Angela Bandung telah menunjukkan peran sebagai motivator bagi siswa untuk selalu menghayati kerukunan dan solidaritas antar siswa. Pemberian motivasi hidup rukun dan solider kepada siswa, diberikan di kelas dan di luar kelas, terkait langsung dan tidak langsung dengan pembelajaran PAK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat tema tertentu dalam pembelajaran PAK yang terkait dengan penghayatan hidup rukun dan solider. Melalui pembelajaran, guru PAK mengajarkan dan membiasakan siswa untuk selalu menyadari makna pentingnya kehadiran sesama dalam menghayati hidup dalam masyarakat pluralis, baik dari aspek agama, budaya, ras, dan ekonomi. Singkatnya, guru PAK berperan mengembangkan potensi siswa pada berbagai aspek kepribadian (Intarti, 2. Agar peran yang dimainkan berdaya guna, maka guru PAK harus dapat menunjukkan integritas diri yang mumpuni (Usmany & Sutiono, 2. Dengan memiliki integritas diri yang kuat, seorang penata dan pendidik Agama dapat mengajar dan mendidik ajaran agama kepada siswa, membimbing, menuntun, memberi teladan dan mengarahkan anak didiknya menjadi orang yang lebih beriman, beramal saleh dan berakhlak mulia, menjadi warga masyarakat. Melalui pendidikan Agama sebagai mata pelajaran wajib . i sekolah pada semua jenjang pendidika. , siswa dididik agar menjadi pelajar Pancasila yang menghayati karakter dasar warga negara Indonesia, yakni individu beriman, berakhlak mulia, berkebhinekaan, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis (Kahfi, 2. Itu berarti guru PAK tidak hanya mengajarkan tentang keagamaan kepada siswanya, tetapi juga menjadi contoh penghayatan nilai-nilai tersebut, sehingga menjadi pengajaran yang hidup dan berdaya guna bagi siswa (Fahmi, 2. Pada konteks ini, tugas guru PAK tentu saja tidak mudah. Sebab tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama kepada siswa, tetapi juga menunjukkan teladan iman, moral dan perilaku yang baik bagi siswa dan masyarakat. Tantangan bagi pendidikan PAK dan pendidik lain adalah jika terjadi ketidaksesuaian antara nilai Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 yang diajarkan dengan praktik hidup. Pengajaran agama adalah integrasi antara teori dan praktik. Lagi pula, pengajaran agama lebih banyak ditekankan pada perilaku beriman dan bermoral daripada penguasaan pengetahuan. Pengetahuan tentang nilai-nilai akan lebih sempurna jika didukung dengan perilaku hidup yang Dalam konteks penelitian ini, guru PAK tidak hanya mendorong siswa untuk menghayati hidup rukun dan solider dengan sesama sebagai jabaran nyata dari nilainilai iman Kristiani, tetapi harus secara sadar dan rutin menghayati nilai kerukunan dan solidaritas, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Faktor Penghambat Guru PAK Meningkatkan Kerukunan dan Solidaritas Siswa Hidup pada masyarakat heterogen dengan beragam latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjadi seni tersendiri dalam relasi antar sesama manusia. Seringkali konflik terjadi karena kurangnya rasa toleransi dan saling menghargai satu sama lain (Nashrullah, 2. Dengan perkataan lain, kerukunan dan solidaritas terawat dengan baik jika toleransi menjadi kesadaran kolektif dalam suatu komunitas masyarakat (Abraham, 2. Penelitian ini menemukan bahwa siswa SMA Santa Angela Bandung tidak mengalami konflik berlatar belakang SARA, baik antar siswa maupun antara siswa dan guru. Ketiadaan konflik merupakan indikator penting kerukunan dan solidaritas dihayati dengan Walau demikian, potensi penghambat dapat terjadi kapan saja. Terdapat beberapa faktor penghambat dalam meningkatkan kerukunan dan solidaritas siswa di SMA Santa Angela Bandung. Pertama, penyesuaian jam pembelajaran. Walaupun SMA Santa Angela Bandung merupakan lembaga pendidikan Katolik, tetapi penjadwalan pembelajaran . erutama hari Juma. tetap pempertimbangkan siswa, guru dan pegawai beragama lain. Kelompok atau siswa beragama Muslim merupakan minoritas di lembaga ini. Membuat jadwal khusus untuk kepentingan ibadat agama AuminoritasAy tentu bukan perkara mudah. Hal itu membutuhkan pengertian dan respek dari seluruh warga sekolah. Narasi yang tidak sepaham tentu dapat menimbulkan konflik, antar pribadi maupun antar kelompok. Konflik interpersonal terjadi karena adanya perbedaan pendapat tentang isu, tindakan, dan tujuan tertentu dalam hidup bersama (Handayani, 2. Sebaliknya penghayatan hidup rukun dan solider justeru mengedepankan kesepahaman, respek, dan penerimaan terhadap perbedaan yang terjadi. Kedua, lingkungan pendidikan keluarga. Perbedaan lingkungan keluarga tempat anak didik pertama kali dididik tentu dapat mempengaruhi karakter siswa di Sebab keluarga memiliki pengaruh sangat kuat terhadap imajinasi, karakter dan perilaku anak (Midun, 2015. Gunadi, 2017. Wilhelmus, 2. Polapola tingkah laku anak di sekolah tidak terlepas dari pola perilaku anak di rumah Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 atau dalam keluarga. Orangtua adalah salah satu tokoh model yang sangat kuat mempengaruhi perilaku anak, sebagaimana diterangkan pada teori hereditas dari Mendel pada hampir 160 tahun silam . , meskipun sebagian dibantah oleh Arthur Schopenhauer dalam teori jati diri manusia di mana karakter atau jati diri manusia tidak bersifat statis tetapi dinamis melalui relasi sosial (Nurfajrina & Hambali, 2. Apabila orang tua berperilaku kasar dalam keluarga, maka anak cenderung akan menirunya. Begitu juga sebaliknya, orang tua yang berperilaku baik dalam keluarga, maka anak juga cenderung akan berperilaku baik pula dalam lingkungan pergaulannya. Ketidakmampuan siswa menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru . tentu berpotensi menghambat penghayatan kerukunan dan solidaritas di sekolah. Ketiga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Sekolah dan masyarakat merupakan lingkungan kedua, dimana individu dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Teori-teori sosial, misalnya konstruktivisme dari Lev Vygotsky . sikolog Rusia yang hidup pada 1896-1. menegaskan bahwa pengetahuan, karakter, dan keterampilan dikembangkan dalam dan melalui interaksi sosial antara pendidik dan peserta maupun antar peserta didik melalui tutor teman sebaya (Payong, 2. Dalam pergaulan . nteraksi sosia. itu terjadi proses belajar yang mempengaruhi perkembangan imaginasi dan emosional individu (Gunadi, 2. Penelitian ini menemukan bahwa orangtua siswa mengakui bahwa perubahan moral . ikap rukun dan solide. yang dialami putra-putrinya di rumah diyakini sebagai dampak dari pendidikan dan pengasuhan yang dilakukan para guru di sekolah, khususnya guru PAK. Sikap rukun dan solider merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai yang dibelajarkan dalam pembelajaran PAK, bahkan dirumuskan dalam kompetensi inti kurikulum PAK (Bule, 2. Oleh karena itu, guru PAK sesungguhnya bertanggung jawab secara moral untuk mengembangkan sikap rukun dan solider dalam diri peserta didik (Wilhelmus, 2. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa membiasakan sikap rukun dan solider pada diri siswa merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran PAK yang diterapkan guru PAK. Model pendidikan . semacam ini menjadi dasar bagi individu untuk bersikap dan berperilaku . matang pada usia dewasa (Utomo, et al. , 2. Akhirnya dapat dikatakan bahwa penghayatan kerukunan dan solidaritas dalam diri siswa melibatkan banyak pihak. Pelibatan itu dilakukan dalam kerjasama kolaboratif dan koordinatif antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Penelitian ini tidak menemukan faktor penghambat dalam menghayati kerukunan dan solidaritas antar siswa. Namun demikian, potensi penghambat dapat terjadi jika ketiga lingkungan pendidikan . eluarga, sekolah, masyaraka. tidak bekerjasama dan koordinasi satu sama lain dalam membelajarkan kerukunan dan solidaritas kepada Orang tua peserta didik memotivasi putra-putrinya di rumah untuk berperilaku baik, sekolah mengembangkan nilai-nilai karakter melalui proses Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pendidikan dan pembelajaran, dan masyarakat menyiapkan kebijakan, peraturan, dan tatap tertib yang benar merupakan pendidikan utuh untuk menumbuhkan dan mengembangkan kerukunan dan solidaritas dalam diri siswa (Priansa, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Kresbinol Labobar . , yang menemukan paradigma DAMAI (Dialog. Adaptasi. Mediasi. Akomodasi. Integras. merupakan pendekatan efektif dalam upaya meningkatkan sikap inklusivisme dalam masyarakat pluralis dimana komunikasi, keadilan, dan cinta kasih menjadi nilainilai dasar yang dihayati dalam suatu komunitas manusia. Upaya Guru PAK Mengatasi Hambatan dalam Menghayati Kerukunan dan Solidaritas Siswa Penelitian ini menemukan bahwa, terdapat empat upaya yang dilakukan . uru PAK) dalam meningkatkan kerukunan dan solidaritas antar siswa yakni: membuat kebijakan sekolah yang bersifat inklusif, sehingga setiap warga sekolah merasa AoditerimaAo di lingkungan sekolah. pembelajaran PAK dipakai sebagai sarana untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menghayati kerukunan dan solidaritas dalam hidup bersama. merayakan harihari raya . ekolah dan nasiona. secara kreatif dan kolaboratif. merancang dan melaksanakan beragam kegiatan sekolah yang melibatkan semua siswa. Upayaupaya tersebut bersifat holistik, baik dari aspek ruang lingkup maupun pihak yang dilibatkan di dalamnya. Seringnya mengikuti kegiatan bersama dapat menambah keakraban dan kedekatan satu sama lain. Dalam suasana seperti ini, sikap inklusif, kerukunan dan solidaritas akan mudah terwujud (Rosidah, 2019. Harahap et al, 2. Sikap rukun dan solider dalam komunitas sekolah menunjukkan bahwa suasana keluarga atau rumah sudah dibawa di sekolah. Rasa kekeluargaan dalam suatu komunitas menjadi kondisi yang memudahkan terciptanya kerukunan dan solidaritas antar individu (Hizbullah, et al. , 2. Rasa kekeluargaan identik dengan rasa dekat, akrab, dan senang satu sama lain. Ketika individu merasa dekat, akrab, dan senang dengan orang lain, maka orang lain atau sesama adalah bagian dari diri saya. Spirit yang harus dihayati di sana adalah kejujuran, yang dalam penelitian Wulandari dan kawan-kawan merupakan solusi paling utama dalam menghayati integritas akademik pada semua level pendidikan (Wulandari et al. , 2. Oleh karenanya, para pendidik, termasuk guru PAK membelajarkan siswa agar memandang yang lain . eman, guru, pegawai dan pimpinan sekola. sebagai sesama anggota keluarga komunitas sekolah. Dengan demikian, lembaga pendidikan . tidak hanya mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga karakter dan kepribadian yang kuat (Wardoyo et al, 2. Pembentukan karakter dan kepribadian yang kuat tidak hanya dilakukan melalui pengajaran berbagai mata pelajaran, tetapi juga upaya penanaman. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 penumbuhan dan penghayatan nilai-nilai estetika dan etika. Nilai estetika terkait dengan sesuatu yang dipandang indah dan disenangi manusia. Sementara nilai etika terkait dengan tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat, baik bersumber dari ajaran agama, adat istiadat, konvensi, dan Standar-standar itu merupakan nilai-nilai moral tentang tindakan mana yang baik dan mana yang buruk (Subianto, 2. Kesadaran ini diperoleh individu melalui pendampingan yang terus-menerus dengan beragam metode. Pembelajaran PAK adalah satu dari banyak cara yang dapat dilakukan guru (PAK) di lingkungan sekolah sebagaimana juga terungkap dalam penelitian Jatmiko dan Wilhelmus . Efektivitas pendidikan dan pendampingan antara dapat dilihat dari kualitas perubahan pada diri siswa (Dacholfany et al. , 2. Perubahan itu dapat bersifat langsung . irect effect. dan tidak langsung . ndirect/nurturant effect. Oleh karena itu, para pendidik, termasuk pendidik PAK perlu memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang konten materi pelajaran dan keterampilan pedagogik yang memadai (Surur & Kuswandi, 2. Pada konteks ini, seorang pendidik yang memiliki pengetahuan dan keterampilan pedagogik yang memadai dapat menggunakan cara dan teknik yang tepat untuk menjaga komunitas pembelajaran yang memiliki rasa kekeluargaan dan kebersamaan, dimana sikap rukun dan solider bertumbuh dan berkembang (Tejowibowo & Lestari, 2018. Antara et al, 2. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan tiga poin. Pertama, guru PAK memiliki peran langsung dan tak langsung dalam upaya meningkatkan kerukunan dan solidaritas antar siswa di SMA Santa Angela Bandung. Secara langsung, guru PAK mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran PAK kepada siswa, menjabarkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan nyata, dan memotivasi siswa untuk menghayati hidup rukun dan Peran tak langsung ditunjukkan guru PAK dalam bentuk ikut mendorong lembaga dalam membuat kebijakan yang mendukung praktek hidup rukun dan solider di sekolah. Kedua, guru PAK tidak menemukan hambatan berat dalam mengimplementasi kerukunan dan solidaritas antar siswa. Hambatan kecil terjadi ketika para siswa memiliki latar belakang ekonomi orang tua yang bervariasi. Perbedaan itu menyebabkan proses penyesuaian siswa di sekolah membutuhkan waktu, terutama pada awal-awal tahun akademik. Ketiga, upaya guru PAK mengatasi hambatan penghayaan hidup rukun dan solider adalah membuat beragam aktivitas yang melibatkan banyak siswa. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Saran Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, saran yang diajukan berkaitan dengan peningkatan pengajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK). Pertama, pembelajaran PAK disarankan untuk menggunakan pendekatan berbasis karakter, di mana proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan ajaran iman Katolik, tetapi lebih menekankan pada pembentukan karakter peserta Selain itu, model pembelajaran yang digunakan sebaiknya mengarah pada pembelajaran berbasis proyek agar siswa dapat belajar bekerja sama dalam membangun, mengembangkan, dan menghayati nilai-nilai karakter secara nyata. Untuk mendukung hal ini, pelaksanaan pembelajaran PAK juga perlu melibatkan berbagai pihak, seperti kepala sekolah, rekan sejawat, dan orang tua siswa, sehingga kegiatan-kegiatan yang mendukung pengembangan karakter siswa dapat dilaksanakan dengan baik dan memberikan hasil belajar yang lebih optimal dalam bentuk perubahan perilaku karakter. Kedua, mengingat bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan informan yang terbatas, maka disarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan pendekatan campuran. Pendekatan tersebut memungkinkan pelibatan responden dalam jumlah yang lebih banyak dan bervariasi, sehingga kesimpulan yang diperoleh akan lebih menyeluruh dan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai peran guru PAK dalam membina sikap kerukunan dan solidaritas di antara peserta didik. DAFTAR PUSTAKA Abraham. Solidaritas yang Menumbuhkan Toleransi dalam Moderasi Beragama: Studi pada Masyarakat Kabupaten Jember. Wasathiyah: Jurnal Studi Moderasi Beragama Indonesia, 1. , 30-42. Antara. Swadnyana. Yudiana. Arini,N. Lasmawan, . Kertih. Integrating Character Education and Social Studies in Elementary School: Prospective Professional TeachersAo Experiences. Indonesian Values And Character Education Journal, 7. DOI: https://doi. org/10. 23887/ivcej. Arifin. Menjadi Guru profesional. Isu dan Tantangan Masa Depan. Edutech, 12. , 132-155. Aulia. Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Perspektif Islam. Jurnal Ushuluddin, 25. , 18-31. Bule. Mendidik Karakter Anak Melalui Pendidikan Agama di Sekolah Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Dasar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio, 12. , 179-191. DOI: https://doi. org/10. 36928/jpkm. Casram . Membangun Sikap Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Plural. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya, 1. , 187-198. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Method Approaches (Third Editio. California: Sage Publication Dacholfany. Azis. Zulhayana. Ahmad. Bay. , & Mokodenseho. Peningkatan Kualitas Pendidikan Masyarakat Melalui Program Pelatihan dan Bimbingan Studi. Easta Journal of Innovative Community Services, 1. , 129-141. Erna. Solidaritas Kehidupan Sosial Di Korpri Raya Sukarame Bandar Lampung (Doctoral dissertation. UIN Raden Intan Lampun. Fahmi. AuPeran Guru Agama Dalam Meningkatkan Kerukunan Antar Siswa Di SMP Negeri 1 Tanah Jambo AyeAy (Doctoral dissertation. UIN ArRaniry Fakultas Ushuluddin dan Filsafa. Gunadi. Pengaruh lingkungan sosial terhadap imajinasi anak. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 7. , 95-101. Handayani. Manajemen Konflik Menuju Madrasah Efektif. Journal of Student Research, 1. , 136-156. Harahap. Nofianti. , & Nanda Rahayu Agustia. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Kerukunan Umat Antar Beragama Di Kelurahan Kwala Begumit. Kec Stabat Kab Langkat. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3. ,5858-5868. Harahap. Limbong. , & Simanjorang. The Education In Era Society 5. Jurnal Eduscience, 10. , 237-250. Haru. Peran Guru Pendidikan Agama Katolik Sebagai Gembala. Jurnal Alternatif-Wacana Ilmiah Interkulutural, 10. , 43-62. Heriyanti. Moderasi Beragama Melalui Penerapan Teologi Kerukunan. Maha Widya Duta: Jurnal Penerangan Agama. Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi, 4. , 61-69. Hizbullah. Yeltriana. Haidir. , & Saragih. Peran Dewan Kemakmuran Masjid dalam Membangun Solidaritas Umat. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 6. , 255-263. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Intarti. Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Motivator. Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 1. , 28-40. Ismail. Sihombing. Manurung. Sismudjito, & Sitorus. Understanding the Inter-Ethnic Solidarity Formation in A Plural Charismatic Community. Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, 7. , 474-490. DOI: 10. 30648/dun. Jannah. Pengaruh Peranan Keluarga Terhadap Prestasi Siswa Kelas XMA Nurul Falah Bekasi pada Masa Pandemi Covid. Arus Jurnal Pendidikan, 1. , 85-89. Jatmiko. , & Wilhelmus. Pengaruh Pengajaran Agama Katolik Terhadap Pembentukan Karakter Kristiani Kasih. Rela Berkorban Dan Damai Pada Siswa. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK), 24. ,255268. DOI: https://doi. org/10. 34150/jpak. Khair. Peran Lembaga Pendidikan Dalam Masyarakat Di Era Modern. Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan. Pendidikan Dan Kemasyarakatan, 12. , 24-36. Kusmanto. , & Wakhudin. Membangun Moderasi Beragama Perspektif Khonghucu Menuju Terwujudnya Kebhinekaan Global. Jurnal Ilmu Sosial. Pendidikan dan Humaniora (JISPENDIORA), 2. , 108-131. Labobar. DAMAI Model as a Prototype of Religious Moderation. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat, 8. , 7690. DOI: https://doi. org/10. 46445/ejti. Leavey. Quantitative. Qualitative. Mixed Methods Arts-Based and Community-Based Participatory Research Approaches. London: Guilford Press. Leba. , & Watunglawar. Solidaritas Di Masa Pandemi: Perspektif Kritikal Teologi Bisnis. JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 23. , 113. Lickona. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books Makalew. Sambiran. , & Waworundeng. Koordinasi Antara Pemerintah Dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Dalam Menciptakan Kerukunan Umat Beragama Kota Manado. Governance, 1. , 1-9. Midun. AuSekolah Ramah Anak Menuju Layanan Pendidikan Bermutu Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dan BermartabatAy, dalam Lega. & Widyawati. Kritik Pendidikan. Ruteng: STKIP Santu Paulus, pp. Miles. Huberman. , & Saldana. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. California: SAGE Publications Mulyatno. Solidaritas Dan Perdamaian Dunia dalam Sollicitudo Rei Socialis. Jurnal Teologi (Journal of Theolog. , 4. , 121-13. Nashrullah. Kholis. Mukaromah. , & Basyir. Strategies To Foster Pluralism Awareness Through Islamic Religious Education At Bumi Damai Foundation Yogyakarta. Didaktika Religia: Journal of Islamic Education, 11 . , 1-20. Narvaez. , & Lapsley. "Moral identity, moral functioning, and the development of moral character. " Human Development, 52. , 350Ae374. Novitasari. Sutama. Narimo. , & Fathoni. Promoting Literacy Culture and Character Education to form High-Level Thinking Students in Elementary School. International Journal of Innovative Science and Research Technology, 4. , 404-408. Nurfajrina. , & Hambali. A . AuKonsep Jati Diri Manusia Perspektif Arthur SchopenhauerAy. CISS 4th: Islamic Studies Across Different Perspective:Trends. Challenges and Innovation, 19, pp. Payong. Zone Of Proximal Development And Social Constructivism Based Education According To Lev Semyonovich Vygotsky. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio, 12 . , 164-178. DOI: https://doi. org/10. 36928/jpkm. Pina. Somantik. Amid. , & Putralin. Tanggung Jawab Gembala Sidang Dalam Membimbing Kerukunan Hidup Jemaat Di GSJA Anugerah SP IV Jangkang Kabupaten Sanggau. Jurnal DIKMAS, 4. , 18-35. Priansa. Menjadi Kepala Sekolah dan Guru Profesional. Bandung: Pustaka Setia