Hasil Penelitian Diserahkan: Mei 2026 / Direvisi: Juni 2026 / Diterima: Juni 2026 Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi p-ISSN: 2716-151X e-ISSN: 2722-869X Efektivitas Model PBL terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Ekosistem di SMA The Effectiveness of the PBL Model on Student Learning Outcomes in Ecosystem-Related Material in SMA Yuliani Sueng. Masdiana Sinambela* Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Medan. Medan, 20221. Indonesia. *Penulis Koresponden: masdiana@unimed. Abstrak. Pendidikan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, proses pembelajaran di sekolah diharapkan mampu menciptakan siswa yang aktif, inovatif, dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar siswa pada materi ekosistem di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan tipe One Group PretestPosttest Design. Sampel penelitian terdiri atas 36 siswa yaitu kelas X-E yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian berupa soal pretest dan posttest untuk mengukur hasil belajar kognitif siswa. Data dianalisis menggunakan analisis ketercapaian indikator, ketuntasan belajar klasikal, uji normalitas Shapiro-Wilk, uji paired sample t-test, dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan belajar klasikal mencapai 100% dan sebanyak 11 dari 12 indikator pembelajaran berhasil mencapai ketuntasan. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga HCA ditolak dan HCa diterima. Peningkatan hasil belajar juga diperkuat dengan rata-rata nilai N-Gain sebesar 0,7005 dengan kategori tinggi, serta persentase penilaian efektivitas sebesar 70% dengan kategori cukup efektif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ekosistem. Kata Kunci: ekosistem. hasil_belajar. pembelajaran_kontekstual. problem_based_learning Abstract. Education is a vital foundation for the development of high-quality human resources in an era of scientific and technological advancement. Therefore, the learning process in schools is expected to produce students who are active, innovative, and capable of solving problems in their daily lives. This study aims to determine the effectiveness of the Problem-Based Learning (PBL) model on student learning outcomes regarding ecosystem material at SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. This study employs a quantitative method using a One-Group Pretest-Posttest Design. The research sample consists of 36 students from class X-E, selected using random sampling. The research instruments consist of pretest and posttest questions to measure studentsAo cognitive learning outcomes. Data were analyzed using indicator achievement analysis, classical learning mastery, the Shapiro-Wilk normality test, the pairedsample t-test, and the N-Gain test. The results showed that classical learning mastery reached 100%, and 11 out of 12 learning indicators achieved mastery. The results of the hypothesis test showed a significance value of 0. 000 < 0. 05, so HCA was rejected and HCa was accepted. The improvement in learning outcomes was also reinforced by an average N-Gain value of 0. 7005, which falls into the high category, as well as an effectiveness rating of 70%, classified as Aufairly effectiveAy. These results indicate that the Problem Based Learning model is effective in improving studentsAo learning outcomes on ecosystem Keywords: ecosystem. learning_outcomes. contextual_learning. problem-based_learning DOI: 10. 55241/spibio. Pendahuluan Pendidikan penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada abad ke21, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kolaborasi . C) yang diperlukan dalam pengetahuan dan teknologi . Oleh karena itu, proses pembelajaran di sekolah diharapkan mampu menciptakan siswa memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari . Biologi fenomena kehidupan yang berkaitan erat dengan lingkungan sekitar sehingga pembelajarannya menuntut siswa untuk mampu mengamati, menganalisis, dan menyimpulkan suatu permasalahan secara Namun, kajian biologi memiliki konsep yang kompleks dan banyak menggunakan istilah ilmiah yang dianggap sulit . Akibatnya, hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi masih tergolong Rendahnya hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya penggunaan model pembelajaran yang kurang optimal. Pembelajaran yang masih berpusat pada guru menyebabkan siswa kurang aktif dan kesulitan memahami konsep secara mendalam. Padahal, keterlibatan aktif siswa dalam proses pemahaman konsep dan hasil belajar . Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif melalui kegiatan pemecahan masalah. Model PBL pembelajaran yang memperkenalkan siswa pada masalah-masalah dunia nyata di awal proses pembelajaran guna mendorong keterlibatan aktif dalam proses pemecahan masalah . Model PBL yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa melalui penyajian masalah nyata sebagai dasar dalam proses belajar. Melalui model ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan menemukan solusi terhadap permasalahan yang diberikan sehingga bermakna . Pada materi ekosistem, penerapan PBL dinilai sesuai karena materi ini berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan di sekitar siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan, diketahui bahwa hasil belajar siswa pada materi ekosistem masih rendah, di mana hanya sekitar 50% siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP). Meskipun guru telah pembelajaran seperti Problem Based Learning. Project Based Learning, dan Discovery Learning, namun siswa masih Selain itu, masih ditemukan siswa yang kurang fokus, mengobrol, bermain telepon genggam, serta kurang pembelajaran . es 8, 9, . Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya pemahaman konsep dan hasil belajar Beberapa menunjukkan bahwa model PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu: . menyatakan bahwa PBL efektif Kemudian, penelitian lain yang berjudul efektivitas model Problem Based Learning terhadap hasil belajar IPA siswa kelas Vi SMP Negeri 3 Sunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PBL efektif digunakan dalam pembelajaran IPA . Namun, penelitian terdahulu, model pembelajaran PBL meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ekosistem maupun materi IPA Berdasarkan penelitian-penelitian ini. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, motivasi, keterlibatan belajar, serta hasil belajar kognitif siswa. Namun, penelitian terdahulu tersebut belum mengaitkan peningkatan hasil belajar pembelajaran dan proses pembelajaran berdasarkan sintaks Problem Based Learning pada materi ekosistem. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas model PBL secara lebih komprehensif melalui hasil belajar siswa, ketuntasan belajar klasikal, ketercapaian indikator, dan peningkatan hasil belajar pada materi ekosistem di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Metode Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2026 di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan yang beralamat di Jl. Pendidikan Pasar XII. Desa Bandar Klippa. Kecamatan Percut Sei Tuan. Kabupaten Deli Serdang. Sumatera Utara. yang diberikan sejumlah 20 soal pilihan berganda dan 4 soal essay. Prosedur Kerja Pada tahap persiapan, peneliti melakukan observasi ke lokasi penelitian untuk mengetahui kondisi sekolah dan proses pembelajaran yang berlangsung. Selanjutnya, peneliti berdiskusi dengan dosen pembimbing untuk menentukan judul penelitian serta menyusun proposal Setelah itu, peneliti menentukan mempersiapkan instrumen penelitian, serta menyusun perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses penelitian Tahap berikutnya adalah tahap pelaksanaan penelitian. Pada tahap ini, peneliti terlebih dahulu memberikan pretest kepada kelas eksperimen untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan perlakuan. Selanjutnya, proses pembelajaran dilaksanakan dengan Problem Based Learning (PBL). Setelah dilaksanakan, peneliti memberikan posttest dengan soal yang sama untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberikan Tahap terakhir adalah menganalisis data pretest dan posttest dan selanjutnya menguji hipotesis. Data hasil penelitian kemudian diolah dan dianalisis untuk Disain Penelitian Disain penelitian yang digunakan Preeksperimental designs, dengan jenis One Group Pretest-Postest. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan yang terdiri dari 9 kelas berjumlah 324 siswa. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 1 kelas, dengan digunakan adalah teknik simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel . Teknik Pengumpulan Data Tes dilakukan untuk mengukur hasil belajar siswa pada materi ekosistem. Tes akan dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum pemberian perlakuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa . dan setelah pemberian perlakuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah adanya perlakuan . Tes mengetahui perbedaan hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Selanjutnya, peneliti menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh. dengan membandingkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan dengan jumlah seluruh siswa, kemudian dikalikan 100%. Pembelajaran dinyatakan tuntas secara klasikal apabila persentase ketuntasan mencapai Ou 85% . Sebelum hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data penelitian berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel kurang dari 50 siswa. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 . Pengujian menggunakan uji paired sample t-test untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada kelas yang sama. Uji ini digunakan apabila data berdistribusi Model pembelajaran Problem Based Learning meningkatkan hasil belajar siswa apabila nilai signifikansi < 0,05. Namun, apabila data tidak berdistribusi normal, maka menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test sebagai alternatif nonparametrik. Kriteria pengambilan keputusan pada uji Wilcoxon sama, yaitu model pembelajaran PBL dinyatakan efektif apabila nilai signifikansi < 0,05 . Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan, dilakukan analisis N-Gain. Nilai N-Gain dihitung berdasarkan rumus . Analisis Data Data hasil belajar siswa diperoleh melalui pemberian pretest dan posttest pada kelas eksperimen. Skor yang diperoleh siswa kemudian dihitung menjadi nilai akhir dengan rumus: Nilai = Skor total yang diperoleh oleh siswa y 100 ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Selanjutnya, hasil belajar siswa dikategorikan ke dalam kriteria sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang berdasarkan rentang nilai yang telah ditentukan . Selain itu, penelitian ini juga Ketercapaian indikator dihitung berdasarkan persentase jumlah siswa yang menjawab benar pada soal Persentase ketercapaian indikator dihitung menggunakan rumus: OcyaA Pi= Oc ycA ycu 100% Keterangan: ycEycn = persentase ketercapaian indikator yaA= jumlah siswa yang menjawab benar pada soal indikator tersebut ycA= jumlah seluruh siswa Indikator pembelajaran dinyatakan ketercapaiannya mencapai Ou 75%, sedangkan indikator dengan persentase < 75% dinyatakan belum tercapai . Ketuntasan belajar klasikal siswa juga dianalisis dalam penelitian ini. Siswa dinyatakan tuntas apabila memperoleh nilai Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang berlaku di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan, yaitu Ou 70. Persentase ketuntasan klasikal dihitung N-gain = ycycoycuyc ycyycuycycycyceycyc Oe ycycoycuyc ycyycyceycyceycyc ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycycoOe ycycoycuyc ycyycyceycyceycyc Selanjutnya, rata-rata N-Gain kelas dihitung untuk mengetahui efektivitas penerapan model pembelajaran secara Interpretasi nilai N-Gain mengacu pada klasifikasi Hake, yaitu kategori tinggi, sedang, dan rendah. Hasil dan Pembahasan Hasil Hasil belajar setelah menerapkan model pembelajaran PBL mengalami Hasil pretest siswa dengan nilai tertinggi sebesar 64 dan nilai terendah sebesar 22, dengan rata-rata nilai pretest siswa adalah 44,4. Adapun hasil posttest menunjukkan bahwa nilai tertinggi siswa mencapai 90 dan nilai terendah sebesar 79, dengan rata-rata nilai posttest sebesar 83,64. Selisih nilai rata-rata posttest dengan pretest sebesar 39,16. Perhatikan gambar 1 dibawah ini yang menunjukkan perbandingan rata rata antara hasil pretest dan posttest: Rata-rata Pretest Posttest Gambar 1. Diagram Rata-rata Nilai Pretest dan Posttest Adapun Perbandingan Hasil pretest dan posttest siswa berdasarkan tingkat Taksonomi Bloom yang diperoleh dari nilai pretest dan posttest berbentuk soal pilihan berganda sejumlah 20 soal dan essay sejumlah 4 soal, terdapat peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada aspek Taksonomi Bloom C4. C5, dan C6 setelah diterapkan model Problem Based Learning (PBL). Pada aspek C4 nilai rata-rata meningkat dari 57,78 menjadi 87,5, pada aspek C5 meningkat dari 41,11 menjadi 81,39, dan pada aspek C6 meningkat dari 36,94 menjadi 82,43. Peningkatan nilai tersebut menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar siswa antara pretest dan posttest pada materi ekosistem. Data hasil belajar siswa berdasarkan tingkat taksonomi Bloom dapat dilihat pada gambar 2: Hasil Belajar Kognitif Nilai rata-rata Taksonomi Bloom Pretest Posttest Gambar 2. Diagram Hasil Belajar dari Aspek Taksonomi Bloom Ketercapaian indikator pembelajaran dianalisis berdasarkan hasil posttest siswa menggunakan rumus PA = (B/N) y 100%. Suatu indikator dinyatakan tercapai apabila persentase ketercapaian mencapai Ou 70% . Hasil ketercapaian indikator pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1. Hasil Ketercapaian Indikator Indikator Persentase (PA) Keterangan Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Belum Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai Berdasarkan Tabel ketercapaian indikator pembelajaran, dapat diketahui bahwa dari 12 indikator pembelajaran yang diukur, sebanyak 11 indikator dinyatakan tercapai dan 1 indikator belum tercapai yaitu Indikator 5 dengan persentase 58,33%, menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam menguasai materi yang diujikan pada soal essay nomor 22. Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk proses penguasaan siswa pada indikator tersebut dapat ditingkatkan. Untuk pembelajaran, berikut disajikan diagram perbandingan rata-rata nilai pretest dan posttest pada masing-masing indicator Pada tabel 2 dan Gambar 3. Tabel 2. Perbandingan Rata-rata Nilai Pretest dan Posttest pada Setiap Indikator Indikator Pretest Posttest Rata-rata Perbandingan indikator pretest/posttest Pretest Posttest Gambar 3. Diagram Perbandingan Rata-rata Nilai Pretest dan Posttest pada Setiap Indikator Berdasarkan diagram perbandingan indikator pretest dan posttest pada Gambar 6, terlihat bahwa seluruh indikator mengalami peningkatan dari pretest ke Peningkatan paling signifikan terjadi pada Indikator 1 dengan nilai pretest 26,85% meningkat menjadi 83,33% pada posttest, sehingga selisih peningkatannya 56,48%. Sementara Indikator 6 dengan selisih peningkatan sebesar 26,85%. 58,33%, namun indikator tersebut tetap mengalami peningkatan dibandingkan pretest yang hanya sebesar 34,44%. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan tetap memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pemahaman siswa pada seluruh indikator Adapun persentase tingkat ketuntasan belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat dilihat pada Tabel 3: Meskipun Indikator 5 belum mencapai kriteria ketuntasan pada posttest yaitu Tabel 3. Persentase Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Kategori Jumlah Siswa Persentase Tuntas . ilai Ou . Tidak Tuntas . ilai < . Jumlah Persentase Ketuntasan Klasikal Kriteria Tuntas Persentase sebesar 100% telah memenuhi standar ketuntasan klasikal yaitu Ou 85%, sehingga pembelajaran dinyatakan tuntas secara Adapun menggunakan uji Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . ,000 < 0,. , sehingga HCA ditolak dan HCa diterima. Selain itu, diperoleh nilai mean sebesar -39,194 yang menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest lebih tinggi dibandingkan nilai Dengan disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ekosistem di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Hasil N-Gain menunjukkan persentase peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti proses Adapun hasil perhitungan N-Gain dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Analisis Statistik N-Gain Ngain Minimum Maximum Mean Keterangan Tinggi Cukup Efektif Persentase Nilai rata-rata . tersebut berada pada kategori "Tinggi" berdasarkan kriteria Hake . , yang mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan setelah mengikuti proses Kemudian, persentase yang diperoleh untuk tafsiran efektivitas N-Gain yaitu 70% dengan kategori cukup efektif. ingin tahu terhadap masalah yang diberikan guru, terutama ketika materi dikaitkan dengan kondisi lingkungan nyata seperti kerusakan ekosistem dan bencana alam di Tapanuli. Menurut Budiana . pemberian masalah nyata dalam PBL dapat mendorong siswa berpikir kritis dan membangun pengetahuan secara mandiri. Pembahasan Pada tahap mengorganisasikan siswa untuk belajar, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan solusi terhadap permasalahan yang diberikan. Melalui kegiatan diskusi, siswa menjadi lebih aktif bertukar pendapat, bekerja sama, dan membantu teman kelompok yang mengalami kesulitan memahami Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kelompok dalam PBL mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan kolaboratif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X-E di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan, penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ekosistem. Peningkatan tersebut terlihat dari adanya perbedaan hasil pretest dan posttest setelah proses pembelajaran berlangsung. Penggunaan masalah kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari membuat siswa lebih tertarik dan lebih mudah memahami konsep ekosistem. Hal ini sejalan dengan pendapat . yang kontekstual dalam PBL membantu siswa memahami materi melalui masalah nyata di lingkungan sekitar. Selanjutnya, pada tahap penyelidikan individu maupun kelompok, siswa mulai mencari informasi dari berbagai sumber untuk menyelesaikan masalah yang Siswa tidak hanya bergantung pada penjelasan guru, tetapi juga berusaha membangun pemahaman konsep secara Tahap ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir sebagaimana dijelaskan oleh . Peningkatan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh tahapan pembelajaran dalam model PBL. Pada tahap orientasi masalah, siswa mulai menunjukkan rasa Tahap menyajikan hasil karya juga memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Melalui kegiatan presentasi, siswa dilatih untuk menjelaskan hasil diskusi, mempertahankan pendapat, serta memberikan tanggapan terhadap jawaban kelompok lain. Kegiatan ini membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi terhadap suatu informasi ke dalam bentuk diagram. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa Penelitian representasi visual karena konsep-konsep biologi bersifat kompleks dan abstrak, sehingga kemampuan representasi visual menjadi salah satu tantangan dalam pembelajaran biologi . Ketuntasan belajar klasikal mencapai 100%, di mana seluruh siswa memperoleh nilai posttest Ou 70 sesuai KKTP yang Perlu dipahami kondisi siswa sebelum pembelajaran. Nilai pretest yang bervariasi . menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa cukup Ada siswa yang memiliki dasar pengetahuan yang lebih baik, dan ada yang hampir tidak memiliki pengetahuan awal sama sekali. Namun setelah PBL mencapai ketuntasan. Ini menunjukkan PBL mengakomodasi perbedaan kemampuan awal siswa. Hal ini sejalan dengan karakteristik PBL yang menekankan kerja kelompok kecil . Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga HCA ditolak dan HCa Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diterapkannya model pembelajaran PBL. Dengan berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran melalui pemecahan masalah secara praktis, model PBL meningkatkan dan memperdalam pemahaman konsep mereka terhadap materi yang berkaitan dengan ekosistem . Selain itu, hasil analisis N-Gain memperoleh rata-rata sebesar 0,7005 dengan kategori tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model Problem Based Learning berbasis masalah kontekstual efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ekosistem. Dengan demikian, pembelajaran yang diterapkan mampu memberikan dampak kemampuan kognitif siswa. Selain itu. Pada tahap evaluasi, guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran dan pemecahan masalah yang telah dilakukan. Kegiatan refleksi membantu siswa memperbaiki kesalahan pemahaman serta memperkuat hubungan antar konsep dalam materi ekosistem sehingga pemahaman siswa menjadi lebih bertahan lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 indikator pembelajaran yang diukur, persentase ketercapaian Ou 85%. Indikator dengan ketercapaian tertinggi terdapat pada kemampuan memberikan ide tindakan sederhana untuk menjaga produktivitas ekosistem. Sementara itu, indikator membuat sketsa jaring-jaring makanan belum mencapai ketuntasan karena sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam merepresentasikan konsep secara visual. Rendahnya ketercapaian indikator ini diduga karena sebagian siswa merepresentasikan konsep ekologi ke dalam bentuk visual. Pada materi jaringjaring makanan, siswa tidak hanya dituntut memahami hubungan antar makhluk hidup, tetapi juga mampu menuangkan hubungan tersebut dalam bentuk gambar yang menunjukkan keterkaitan berbagai rantai makanan secara tepat. Kemampuan keterampilan yang relatif lebih kompleks karena memerlukan pemahaman konsep sekaligus kemampuan mengorganisasi berdasarkan persentase efektivitas yang diperoleh sebesar 70%, hasil tersebut berada pada kategori cukup efektif. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar tujuan pembelajaran telah tercapai, namun masih terdapat beberapa aspek yang belum Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa meskipun peningkatan hasil belajar berada pada kategori tinggi berdasarkan N-Gain, secara keseluruhan efektivitas pembelajaran berada pada kategori cukup efektif karena pencapaian belum sepenuhnya maksimal pada seluruh indikator yang diukur. Simpulan dan Saran Simpulan memperoleh rata-rata sebesar 0,7005 dengan kategori tinggi. Dengan demikian, model Problem Based Learning (PBL) pembelajaran materi ekosistem untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL pada materi ekosistem efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas X-E SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Keefektifan tersebut terlihat dari adanya peningkatan rata-rata nilai siswa dari 44,4 pada pretest menjadi 83,64 Selain peningkatan hasil belajar juga terjadi pada aspek kognitif Taksonomi Bloom tingkat C4 . C5 . , dan C6 . Ketuntasan belajar klasikal melampaui standar ketuntasan yang ditetapkan sekolah yaitu 70%. Hasil uji Paired Sample T-Test memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 yang menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran. Selain N-Gain Saran Temuan penelitian ini menunjukkan pengukuran hasil belajar kognitif siswa yang berkaitan dengan materi ekosistem. Oleh karena itu, disarankan agar penelitian selanjutnya memperluas cakupan dengan melihat bagaimana penerapan paradigma PBL dapat memengaruhi komponen afektif dan psikomotorik siswa selain hasil belajar Dengan demikian, hasil penelitian akan lebih komprehensif dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai seberapa baik siswa belajar dalam hal pengetahuan, sikap, dan kemampuan Daftar Pustaka