p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. Eksposisi Splagchnizomai Dalam Matius 14:13Ae21 Sebagai Fondasi Kepemimpinan Gereja Kontemporer Susy Tan1. Agustina Natalis2. I Gde Iwan Afredenny3 Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT. Indonesia1,2,3 Email: tan. susy@gmail. com1, ais. tobing@yahoo. com2, gdeiwan@ymail. INFO ARTIKEL Kata kunci: Splagchnizomai. Matius 14:13Ae belas kasih. ABSTRAK Artikel ini mengkaji konsep splagchnizomai dalam Matius 14:13Ae21 sebagai fondasi teologis bagi pembaruan model kepemimpinan gereja Melalui pendekatan teologi praktis dan analisis naratif terhadap struktur perikop, penelitian ini menunjukkan bahwa splagchnizomai bukan sekadar ungkapan emosional, tetapi dinamika belas kasih ilahi yang berakar pada relasi Yesus dengan Bapa dan selalu bergerak menuju tindakan pemulihan. Narasi pemberian makan lima ribu orang memperlihatkan tiga gerakan utama dalam spiritualitas kepemimpinan Yesus: melihat kebutuhan, tergerak oleh belas kasih, dan Tindakan-tindakan menghasilkan pola kepemimpinan yang menata komunitas, memeriksa sumber daya secara realistis, menghidupkan ketergantungan kepada Allah melalui syukur, serta melibatkan murid sebagai partisipan dalam karya pemeliharaan Allah. Hasil penelitian menegaskan bahwa splagchnizomai memiliki daya rekonstruktif terhadap relasi antara kasih, koinonia, restorasi, dan kepemimpinan partisipatif. Dengan demikian, konsep ini memberikan landasan teologis bagi gereja untuk mengembangkan gaya kepemimpinan yang empatik, strategis, dan transformatif, serta relevan bagi dinamika pelayanan gereja di masa Keywords: Splagchnizomai. Matthew 14:13Ae21. Compassion. ABSTRACT This article examines the concept of splagchnizomai in Matthew 14:13Ae 21 as the theological foundation for the renewal of contemporary church leadership models. Through a practical theological approach and narrative analysis of the structure of the passage, this study shows that splagchnizomai is not just an emotional expression, but a dynamic of divine mercy that is rooted in Jesus' relationship with the Father and always moves toward restorative actions. The narrative of feeding the five thousand people shows three main movements in the spirituality of Jesus' leadership: seeing the need, being moved by compassion, and acting restoratively. These actions result in a pattern of leadership that organizes the community, realistically examines resources, revives dependence on God through gratitude, and engages the disciple as participants in God's work of providence. The results of the study confirm that splagchnizomai has a reconstructive power on the relationship between love, koinonia, restoration, and participatory Thus, this concept provides a theological foundation for the church to develop an empathetic, strategic, and transformative leadership style, which is relevant to the dynamics of church ministry PENDAHULUAN Kepemimpinan gereja pada masa kini menghadapi berbagai tantangan fundamental, terutama berkaitan dengan integritas moral, kepekaan terhadap sesama, dan kemampuan untuk menjawab persoalan sosial secara relevan (Ekoprodjo & Wibowo, 2024. Halawa et al. , 2025. Susy Tan. Agustina Natalis. I Gde Iwan Afredenny Lodo et al. , 2025. Tafonao, 2. Beberapa riset internasional memperlihatkan adanya penurunan tingkat kepercayaan jemaat terhadap figur pemimpin rohani (Susilo & Baskoro. Laporan Barna . menunjukkan bahwa hanya 35% umat Kristen di Amerika Serikat yang menilai gembala mereka memiliki sensitivitas yang memadai terhadap penderitaan jemaat, sedangkan temuan Pew Research . mengonfirmasi melemahnya otoritas moral gereja dalam menyikapi isu-isu sosial yang muncul di masyarakat modern. Situasi ini tidak berdiri sendiri. realitas serupa dapat ditemukan di banyak gereja di AsiaAitermasuk IndonesiaAidi mana praktik kepemimpinan cenderung terjebak dalam pola administratif yang kaku, kehilangan kedalaman spiritual, dan tidak lagi berfungsi sebagai sarana aktualisasi kasih Allah dalam konteks pergumulan umat (Purba & Boiliu, 2025. Stenly & Hura, 2025. Subhan et , 2. Gejala tersebut mengindikasikan bahwa persoalan kepemimpinan gereja bukan sekadar masalah tata kelola organisasi, melainkan terkait erat dengan kedangkalan spiritualitas pastoral (Batilmurik, 2025. Lim, 2. Fokus pelayanan yang bergeser pada pencapaian program dan pengelolaan kelembagaan sering kali mengaburkan hakikat kasih yang seharusnya menjadi inti panggilan gerejawi (Nainggolan & Hasugian, 2. Dalam kerangka inilah, konsep splagchnizomai perlu dihadirkan kembali sebagai lensa teologis yang menolong gereja membaca ulang orientasi pelayanannya. Istilah Yunani splagchnizomai, yang berarti Audigerakkan oleh belas kasih yang paling dalam,Ay menggambarkan respons batin Yesus saat berhadapan dengan penderitaan manusia. Di dalam tradisi Injil, istilah ini tidak merujuk pada emosi sesaat, tetapi pada gerak spiritual yang memunculkan tindakan konkret: memulihkan, menyembuhkan, serta membangkitkan kembali harapan manusia (Agnes, 2024. Paraeng & Salindeho, 2025. Ruhulessin, 2. Pemilihan Matius 14:13Ae21 sebagai pusat eksposisi berangkat dari dimensi teologis yang terkandung dalam perikop tersebut. Narasi mengenai pemberian makan lima ribu orang tidak hanya mencatat suatu mukjizat, tetapi memperlihatkan bagaimana spiritualitas kepemimpinan Yesus terwujud dalam tindakan yang tertib dan memberdayakan (Lepa et al. , 2022. Sondakh & Th, 2. Dalam kisah itu. Yesus menghadirkan kasih yang mengubah keterbatasan menjadi kelimpahan, seraya mengajak para murid mengambil bagian dalam karya pemeliharaan Allah (Budiardjo, 2024. Tarumingi, 2024. Wati, 2. Dengan demikian, splagchnizomai dalam perikop ini bukan sekadar memperkenalkan karakter Allah, tetapi membentuk kerangka konseptual bagi kepemimpinan gereja yang bersifat memulihkan, solutif, dan melibatkan partisipasi umat. Atas dasar itu, penelitian ini memusatkan diri pada satu pertanyaan pokok: bagaimana konsep splagchnizomai dalam Matius 14:13Ae21 dapat dirumuskan sebagai fondasi teologis bagi kepemimpinan gereja masa kini? Pertanyaan ini mengarahkan proses penelitian untuk menautkan dinamika belas kasih Yesus dalam narasi Injil dengan kebutuhan gereja akan model kepemimpinan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga transformasional dan menata kehidupan komunitas secara utuh. Metode penelitian yang digunakan berangkat dari pendekatan teologi praktis, dengan menggabungkan analisis naratif terhadap struktur perikop dan refleksi teologis yang relevan dengan konteks gereja Indonesia. Analisis dimulai dari pengamatan terhadap dinamika tindakan Yesus sebagaimana tergambar dalam alur teks, kemudian dilengkapi dengan pemahaman leksikal serta sejumlah komentar Injil untuk memperjelas makna teologis splagchnizomai. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Eksposisi Splagchnizomai Dalam Matius 14:13Ae21 Sebagai Fondasi Kepemimpinan Gereja Kontemporer Walau demikian, fokus utama bukanlah pada eksegesis teknis, melainkan pada usaha membangun konstruksi teologis yang dapat menolong gereja memperbarui model kepemimpinan agar lebih peka, melayani, dan memulihkan kehidupan umat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode teologi praktis sebagai kerangka analisis utama. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman makna teologis dari teks Alkitab serta relevansinya terhadap praktik kepemimpinan gereja masa kini. Creswell menjelaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dikaitkan individu atau kelompok terhadap suatu fenomena sosial atau teologis. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menafsirkan data secara mendalam dan kontekstual terhadap realitas pelayanan gereja. Prosedur penelitian melibatkan tiga tahapan utama, yaitu analisis teks, refleksi teologis, dan formulasi aplikasi praktis. Analisis teks dilakukan melalui metode analisis naratif terhadap Matius 14:13Ae21 dengan menyoroti struktur perikop, penggunaan istilah kunci seperti splagchnizomai, serta konteks historis-teologisnya. Peneliti menggunakan pendekatan leksikal serta pemahaman dari komentar-komentar Alkitab dan literatur teologi guna memperkuat penafsiran makna splagchnizomai dalam konteks pelayanan Yesus. Teknik pengumpulan data mencakup studi literatur terhadap buku, jurnal akademik, kamus teologis, dan sumber digital ilmiah yang relevan. Data kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola makna, implikasi kepemimpinan, serta hubungan antara belas kasih, komunitas, restorasi, dan kepemimpinan partisipatif sebagaimana ditampilkan dalam teks Alkitab. Validitas penelitian diperkuat melalui triangulasi literatur, yakni membandingkan berbagai sumber eksegetis, teologi naratif, dan studi kepemimpinan gerejawi modern guna memastikan konsistensi interpretasi teologis. Dengan demikian, metode ini tidak hanya menghasilkan pemahaman akademik terhadap teks, tetapi juga memberikan relevansi praktis bagi pembaruan model kepemimpinan gereja masa kini. HASIL DAN PEMBAHASAN Eksposisi Splagchnizomai Dalam Matius 14:13Ae21 Istilah Yunani EAN . merupakan salah satu istilah teologis paling sarat makna dalam Injil Sinoptik. Akar katanya. EAN . , secara literal berarti Aubagian terdalam perut,Ay yang dalam antropologi Semitik dipahami sebagai pusat emosi terdalam manusia. Dalam tradisi Yahudi, konsep yang paling dekat dengan splagchnizomai adalah istilah Ibrani A( yAraua. , yang berasal dari kata AureuemAy . dan menunjuk pada belas kasih lembut, pemeliharaan maternal, dan ketergerakan batin Allah terhadap umat-Nya. Makna teologis rauam menegaskan bahwa belas kasih bukan sekadar simpati, tetapi gerak batin Allah sendiri yang menghadirkan pemulihan, sebagaimana tergambar dalam Mazmur 103:13 dan Hosea 11:8. Karena itu, banyak penafsir melihat splagchnizomai sebagai padanan teologis dari rauam, yakni kasih yang berasal dari kedalaman eksistensi dan selalu bergerak menuju tindakan pemulihan. Dalam perspektif ini, splagchnizomai berfungsi sebagai kategori yang menyingkapkan karakter Allah yang hadir dalam diri Yesus untuk memulihkan umat manusia. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Susy Tan. Agustina Natalis. I Gde Iwan Afredenny Tabel Perbandingan Splagchnizomai dan Rauam Aspek Akar Kata Makna Dasar Ranah Emosional Fokus Tindakan Subjek Utama dalam Alkitab Objek Tindakan Nuansa Metaforis Pemakaian dalam Alkitab Relasi Teologis Implikasi Teologi Pastoral EAN (Splagchnizoma. Ai Yunani EAN . = Auperut bagian dalam / batin terdalamAy Ketergerakan batin yang kuat, empati mendalam yang menggerakkan Dorongan eksistensial yang menuntut aksi pemulihan Pemulihan konkret: menyembuhkan, memberi makan, mengampuni Yesus (Inji. : tindakan belas kasih dalam pelayanan-Nya Kerumunan, orang sakit, orang berdosa, mereka yang tersisih Gerak batin ilahi yang menubuh dalam tindakan penyelamatan Mat. 9:36. 14:14. 15:32. 18:27. 20:34 Menyingkapkan hati Yesus sebagai representasi belas kasih Allah Model kepemimpinan Yesus: empatik, memulihkan, aktif A( yARaua. Ai Ibrani A( yAreue. = AurahimAy Belas kasih lembut, kasih keibuan yang lahir dari AurahimAy Kehangatan, kelembutan, pemeliharaan seperti kasih ibu Pemulihan relasional: memelihara, melindungi, mengasuh. Allah (PL): belas kasih Allah kepada Israel Umat Israel, anak-anak Allah, yang lemah dan rapuh Kasih maternal Allah yang AumenggendongAy. AumengasuhAy. AumengangkatAy Mzm. 103:13. Hos. 11:8. Yes. 49:15 Menyingkapkan karakter Allah yang penuh kesetiaan dan kehangatan Dasar belas kasih pastoral: pemeliharaan, kesetiaan, dukungan Kisah pemberian makan lima ribu orang dalam Matius 14:13Ae21 memperlihatkan karakter kepemimpinan Yesus yang berakar pada belas kasih yang aktif dan transformatif. Penempatan narasi ini segera setelah kematian Yohanes Pembaptis menunjukkan adanya tekanan emosional yang tidak kecil dalam diri Yesus. Namun alih-alih menutup diri dalam kedukaan. Yesus membuka diri terhadap kebutuhan kerumunan yang mengikuti-Nya. Respons semacam ini menyingkapkan dinamika batin seorang pemimpin rohani yang tidak dikuasai oleh kondisi internalnya, tetapi tetap berorientasi pada misi pelayanan. Dalam hal ini, belas kasih tidak sekadar dimaknai sebagai afeksi, melainkan energi spiritual yang keluar dari relasiNya dengan Bapa. Matius mencatat bahwa Yesus Autergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan terhadap merekaAy. Istilah Yunani aEANE . , bentuk aorist pasif dari splagchnizomai, secara umum dipahami para teolog Indonesia sebagai ekspresi Aubelas kasih yang muncul dari kedalaman eksistensial dan selalu menuju tindakan konkret. Ay Dengan demikian, splagchnizomai tidak memiliki ruang bagi sentimentalitas pasif. ia menandai gerak batin yang menubuh dalam tindakan pemulihan. Pembacaan ini sejalan dengan pemahaman hermeneutik naratif bahwa tindakan Yesus selalu mencerminkan karakter Allah yang Dalam perspektif kepemimpinan kontemporer, dinamika belas kasih ini selaras dengan pemikiran kepemimpinan empatik yang menekankan kapasitas seorang pemimpin untuk membaca kondisi batin orang lain. Menurut Anggraeni dan Sutoyo, kepemimpinan yang efektif terutama ditandai oleh sensitivitas interpersonal serta kemampuan merespons kebutuhan Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Eksposisi Splagchnizomai Dalam Matius 14:13Ae21 Sebagai Fondasi Kepemimpinan Gereja Kontemporer emosional komunitas secara tepat. Dalam konteks ini, respons Yesus yang penuh belas kasih merupakan cerminan kehadiran seorang pemimpin yang tidak sekadar memformulasikan solusi rasional, tetapi hadir secara empatik dan transformatif. Nuh Bathara menyebut pola kepemimpinan seperti ini sebagai Aukepemimpinan yang memulihkanAy, yaitu gaya kepemimpinan yang menghasilkan resonansi emosional dan spiritual dalam kehidupan Penafsiran terhadap Injil Matius di Indonesia menguatkan pemahaman bahwa belas kasih Yesus dalam perikop ini bukanlah aspek emosional semata, tetapi bagian integral dari tindakan penyataan Kerajaan Allah. Ch. Abineno menunjukkan bahwa splagchnizomai dalam Injil Matius hampir selalu diikuti dengan tindakan pemulihan yang konkretAipenyembuhan, pengampunan, atau pemberian makan. Sementara itu. Bambang Subandrijo menekankan bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan bentuk praksis Kerajaan Allah yang memulihkan martabat manusia. Dengan demikian, splagchnizomai merupakan landasan teologis bagi keseluruhan rangkaian tindakan dalam perikop ini: pengamatan terhadap kebutuhan, dorongan belas kasih, dan tindakan pemulihan. Ketegangan naratif tampak ketika para murid memberikan respons pragmatis: Ausuruh orang banyak itu pergi membeli makanan bagi mereka sendiri. Ay Respons ini mewakili kecenderungan pendekatan kepemimpinan yang defensif, yang memandang kebutuhan masyarakat sebagai beban, bukan sebagai panggilan. Yesus membalik orientasi tersebut melalui perintah: AuKamu harus memberi mereka makan. Ay Perintah ini menegaskan bahwa dalam kepemimpinan berdasarkan belas kasih, kebutuhan umat bukan dihadapi dengan pengalihan tanggung jawab, tetapi dengan keterlibatan aktif. Dinamika ini sejalan dengan pemahaman kepemimpinan pastoral yang melihat kebutuhan umat sebagai locus pelayanan, bukan hambatan struktural. Dorongan belas kasih itu kemudian terwujud dalam tindakan yang terstruktur. Pertanyaan Yesus. AuBerapa roti yang ada padamu?Ay, mencerminkan sebuah prinsip teologis penting: karya Allah sering dimulai dari apa yang tampak kecil dan tidak memadai. Penataan orang banyak dalam kelompok-kelompok teratur menunjukkan bahwa kasih bekerja dalam keteraturan, bukan dalam kekacauan. Sebelum membagikan roti. Yesus mengangkat dan mengucap syukur atasnya, suatu tindakan yang mengajarkan bahwa kekurangan bukan alasan untuk mundur, tetapi ruang bagi Allah untuk berkarya. Dalam kerangka naratif ini, belas kasih tidak berhenti pada empati, tetapi menghasilkan tindakan yang memulihkan dan meneguhkan martabat manusia. Melalui tiga gerakan pentingAimelihat kebutuhan, mengalami dorongan belas kasih, dan bertindak memulihkanAiperikop Matius 14:13Ae21 menghadirkan pola kepemimpinan Yesus yang utuh. Jika dibaca dalam dialog dengan pemikiran kepemimpinan rohani Indonesia, splagchnizomai berfungsi sebagai kategori moral dan spiritual yang membentuk cara seorang pemimpin gerejawi memahami pelayanan: sebagai kehadiran yang empatik, sebagai tindakan yang memulihkan, dan sebagai kesediaan untuk memberi diri. Ketiga gerakan ini membentuk struktur spiritualitas kepemimpinan Yesus, yang sekaligus menjadi model bagi kepemimpinan gereja masa kini. Pola ini menyingkapkan bahwa melihat kebutuhan tanpa tergerak hanya menghasilkan tergerak tanpa bertindak hanya melahirkan sentimentalitas. bertindak tanpa melihat Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Susy Tan. Agustina Natalis. I Gde Iwan Afredenny dan tergerak hanya berujung pada aktivisme kering. Dalam diri Yesus, ketiga gerakan tersebut menyatu menjadi pola kepemimpinan yang memulihkan dan menghidupkan. Model kepemimpinan inilah yang menjadi relevan bagi gereja Indonesia ketika menghadapi dinamika pelayanan yang kompleks dan beragam. Gambar 1. Alur Teologis Matius 14:13-21 Rekonstruksi Interaksi Splagchnizomai. Koinonia. Restorasi. Dan Kepemimpinan Partisipatif Dalam Matius 14:13Ae21 Pembacaan teologis terhadap Matius 14:13Ae21 memperlihatkan bahwa dinamika splagchnizomai tidak hanya berfungsi sebagai penanda emosional Yesus, tetapi sebagai kategori teologis yang memiliki daya hermeneutis untuk menstrukturkan relasi antara kasih, komunitas, restorasi, dan kepemimpinan partisipatif. Dalam kerangka ini, splagchnizomai dipahami sebagai modus operandi belas kasih Allah yang hadir dalam diri Yesus sehingga tindakan-Nya tidak dapat direduksi pada kepekaan moral, melainkan pada pewahyuan karakter Allah dalam sejarah. Jeremias menegaskan bahwa splagchnizomai dalam Injil Sinoptik merupakan ekspresi intens yang selalu menuju tindakan penyelamatan, sehingga memuat kualitas kristologis yang khas. Oleh karena itu, kasih yang menjadi titik berangkat bukanlah respons humanistik, tetapi partisipasi Yesus dalam kehendak penyelamatan Bapa. Dari fondasi kasih inilah komunitas . Tindakan Yesus yang menata kerumunan menjadi kelompok-kelompok kecil (Mat. memiliki makna eklesiologis yang Ia membentuk komunitas bukan sebagai massa anonim, tetapi sebagai tubuh yang tertata, di mana tiap orang diperhitungkan keberadaannya. Bonhoeffer memahami koinonia sebagai ruang kehidupan yang dipersatukan oleh kehadiran Kristus, bukan oleh kesamaan psikologis maupun homogenitas sosial. Dengan demikian, tindakan penataan tersebut merupakan gestur kristologis yang memanggil umat ke dalam bentuk persekutuan yang berakar pada kasih. Interaksi ini kemudian menghasilkan dimensi restoratif. Dalam mukjizat pemberian makan lima ribu orang. Luz menunjukkan bahwa tindakan Yesus tidak semata menjawab kebutuhan fisik, melainkan menyingkapkan tindakan Kerajaan Allah yang memulihkan keberadaan manusia secara utuh. Restorasi dalam perikop ini bukan hanya pemuasan kebutuhan biologis, tetapi pemulihan relasionalAipemulihan hubungan umat dengan Allah dan dengan sesama dalam konteks persekutuan. Oleh sebab itu, splagchnizomai dan koinonia tidak Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Eksposisi Splagchnizomai Dalam Matius 14:13Ae21 Sebagai Fondasi Kepemimpinan Gereja Kontemporer berakhir pada struktur sosial, melainkan menghasilkan realitas soteriologis yang menghidupkan kembali kehidupan bersama. Dimensi terakhir dari interaksi ini adalah kepemimpinan partisipatif. Fakta bahwa Yesus melibatkan para murid dalam proses pembagian roti . 19Ae. memperlihatkan bahwa pelayanan yang lahir dari belas kasih tidak bersifat sentralistik. Metzger menyatakan bahwa kepemimpinan gerejawi yang sejati harus bersifat eklesial, yakni melibatkan seluruh tubuh Kristus dalam proses menghadirkan karya Allah. Yesus tidak hanya bertindak bagi umat, tetapi bertindak bersama umatAikhususnya para muridAisehingga mereka menjadi partisipan dalam karya penyelamatan Allah. Dengan demikian, pola kepemimpinan Yesus merupakan kepemimpinan yang membentuk, memberdayakan, dan memperlengkapi komunitas. Keempat dimensi tersebutAikasih, koinonia, restorasi, dan kepemimpinan partisipatifAi tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk pola interaksi teologis yang saling menubuhkan. Splagchnizomai berfungsi sebagai pusat dinamikanya: kasih melahirkan komunitas, komunitas menghasilkan restorasi, dan restorasi mendorong kepemimpinan partisipatif secara organik. Dengan melihat relasi ini. Theological Interaction Map dapat dipahami sebagai sebuah kerangka hermeneutis yang menyingkapkan bahwa kepemimpinan gereja yang berakar pada belas kasih bukan sekadar fungsi administratif, tetapi tindakan eklesial yang menghadirkan kehidupan baru. Pola interaksi ini memberi landasan bagi gereja kontemporer untuk mengembangkan kepemimpinan yang transformatifAikepemimpinan yang bukan hanya mengatur, tetapi memulihkan. bukan hanya mengajar, tetapi menata persekutuan. bukan hanya memimpin, tetapi menghadirkan tanda Kerajaan Allah di tengah dunia. Implikasi Bagi Kepemimpinan Gereja Kontemporer Tindakan Yesus dalam Matius 14:15Ae21 menampilkan tahap ketiga dari dinamika splagchnizomai, yakni bertindak sebagai perwujudan kasih yang memulihkan. Jika AumelihatAy menandai kepekaan profetis dan AutergerakAy menunjukkan kedalaman belas kasih, maka AubertindakAy menjadi wujud konkret dari kasih yang menata, mengarahkan, dan menghadirkan kehidupan baru. Tindakan Yesus bukanlah reaksi impulsif dari kuasa adikodrati, melainkan langkah manajerial-pastoral yang berakar pada belas kasih. Para murid memulai dengan analisis situasi yang praktis dan realistis: AuHari sudah malamA suruhlah orang banyak pergiAy . Pembacaan mereka benar secara teknis, namun kerangka mentalnya bersifat defensif. Keterbatasan dipahami sebagai batas tanggung Yesus menolak perspektif tersebut dengan perintah langsung: AuKamu harus memberi mereka makanAy . Perintah ini memperluas horizon tanggung jawab murid, menggeser mereka dari mode bertahan menuju partisipasi aktif dalam pelayanan. Di sini tampak bahwa kepemimpinan yang dibentuk oleh belas kasih menolak pendelegasian kebutuhan umat kepada pihak lain. sebaliknya, ia mengarah pada keterlibatan transformatif. Tahap berikutnya mencerminkan prinsip servant leadership. Yesus memulai bukan dengan mencari mukjizat, tetapi dengan memeriksa sumber daya yang ada: AuBerapa roti yang ada padamu?Ay . Mrk. Hal ini sejalan dengan etika salib yang ditegaskan John Stott, bahwa pelayanan sejati selalu dimulai dengan mempersembahkan apa yang tersediaAi betapapun sedikitnyaAiuntuk dipakai Allah bagi pemulihan sesama. Di sini tampak bahwa kepemimpinan berdasarkan splagchnizomai memandang keterbatasan bukan sebagai Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Susy Tan. Agustina Natalis. I Gde Iwan Afredenny hambatan, melainkan sebagai peluang bagi partisipasi manusia dalam karya Allah yang melampaui perhitungan teknis. Sesudah itu. Yesus Aumenyuruh orang banyak duduk di atas rumputAy . Tindakan ini merupakan langkah pastoral dan manajerial sekaligus. Ia mengubah kerumunan besar yang tak teratur menjadi komunitas kecil yang tertata. Menurut Abineno, tindakan Yesus menata umat dalam kelompok-kelompok adalah simbol pastoral bahwa kasih Allah bekerja melalui keteraturan, bukan kekacauan. Ketertiban bukan bentuk birokrasi spiritual, melainkan perwujudan kasih yang memperhatikan martabat setiap pribadi. Langkah selanjutnya ialah doa syukur: AuIa menengadah ke langit dan mengucap syukurAy . Ucapan syukur menunjukkan bahwa tindakan kepemimpinan Yesus tidak bersifat otonom, melainkan berakar pada relasi filial dengan Bapa. Ia memimpin sebagai Hamba yang bergantung, bukan sebagai penyedia yang berdiri sendiri. Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang sejati mengakui ketergantungan kepada Allah sebagai pusat orientasinya. Tindakan terakhir ialah pembagian rotiAitahap di mana para murid dilibatkan sebagai mediator kasih Allah. Mukjizat terjadi bukan secara individual melalui Yesus, melainkan melalui partisipasi komunitas. Murid yang sebelumnya ragu kini justru menjadi pelayan kasih. Model ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Yesus bersifat partisipatif dan transformasional. Ia membentuk komunitas yang turut serta dalam karya Allah, bukan bergantung pada figur karismatik tunggal. Pada titik ini, refleksi Dietrich Bonhoeffer menjadi relevan. Dalam Life Together, ia menekankan bahwa persekutuan Kristen tidak dibangun oleh struktur atau ambisi manusia, tetapi oleh tindakan kasih yang konkret dan relasi yang saling menanggung. Perikop Matius 14:15Ae21 mencerminkan pola tersebut: Yesus tidak hanya memberi makan, tetapi menata komunitas, memulihkan relasi muridAeumat, serta membentuk mereka dalam solidaritas. Dengan demikian, tindakan Yesus menghadirkan koinoniaAipersekutuan kasih yang hidup dan Dengan demikian, tindakan Yesus dalam Matius 14:15Ae21 tidak dapat direduksi menjadi laporan mukjizat semata. Pola itu merupakan model kepemimpinan yang berakar pada splagchnizomai, yaitu kasih yang menata, melayani, dan memulihkan. Dalam konteks gereja kontemporer, pola ini menegaskan pentingnya kepemimpinan yang strategis namun rendah hati, yang memadukan pengelolaan komunitas dengan spirit kasih yang merendahkan diri, dan yang membangun persekutuan melalui tindakan nyata. TABEL 1 Ae Tahapan Kepemimpinan Yesus dalam Matius 14:15Ae21 Tahap Kepemimpinan Yesus Melihat kebutuhan Tergerak oleh belas . Menolak mentalitas Deskripsi Tindakan Yesus melihat kerumunan dan memahami kebutuhan Dorongan batin yang menghalau sikap pasif Yesus menolak solusi murid yang hendak membatasi tanggung jawab Ayat Matius 14:14 14:14 14:15Ae Implikasi Kepemimpinan Kepekaan profetis. pemimpin membaca Emosi spiritual yang memotivasi tindakan Pemimpin mengambil alih tanggung jawab komunitas Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Eksposisi Splagchnizomai Dalam Matius 14:13Ae21 Sebagai Fondasi Kepemimpinan Gereja Kontemporer Memeriksa sumber Menata komunitas Mengucap syukur Melibatkan komunitas Pemulihan komunitas AuBerapa roti yang ada padamu?Ay Menyuruh orang banyak duduk teratur Menengadah dan memuliakan Allah Murid membagikan roti Semua makan dan kenyang. ada kelimpahan 14:17 14:19 14:19 14:19Ae 14:20Ae Pemimpin memulai dari yang kecil dan yang ada Kepemimpinan manajerial yang pastoral Kepemimpinan berakar pada relasi dengan Allah Kepemimpinan Tanda restorasi dan karya Allah melalui KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa splagchnizomai dalam Matius 14:13Ae21 merupakan kategori teologis yang menyingkapkan identitas Yesus sebagai perwujudan belas kasih Allah yang aktif dalam sejarah, sehingga tindakan-Nya tidak hanya bersifat etis, tetapi kristologis dan Belas kasih Yesus berakar pada relasi-Nya dengan Bapa dan menjadi sarana pewartaan Kerajaan Allah yang memulihkan: Ia melihat umat sebagaimana Allah melihat, tergerak sebagaimana hati Allah tergerak, dan bertindak sebagaimana kehendak Allah dinyatakan dalam tindakan penyelamatan. Pola tiga tahapAimelihat, tergerak, bertindakAi mengungkapkan bahwa splagchnizomai adalah dinamika ilahi yang mengalir ke dalam praksis Yesus: menata komunitas, menguduskan sumber daya yang terbatas melalui ucapan syukur, serta melibatkan murid sebagai partisipan dalam karya penyelamatan. Dengan demikian, splagchnizomai bukan sekadar motivasi humanistik, melainkan prinsip teologis yang memampukan gereja untuk menghadirkan kasih Allah dalam dunia. Dalam terang itu, kepemimpinan gerejawi yang berakar pada splagchnizomai adalah kepemimpinan yang mencerminkan karakter Kristus, menata kehidupan umat sebagai koinonia yang memulihkan, dan menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah yang bekerja melalui pelayanan kasih yang REFERENSI