Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Internalisasi Nilai Karakter Anak Melalui Keterlibatan dalam Tari Jejumputan Luh Putu Cita Ardiyani Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Indonesia Email: citaardiyani1999@gmail. Abstrak Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa dampak signifikan terhadap pembentukan karakter anak, ditandai dengan menurunnya empati, gotong-royong, serta meningkatnya perilaku individualistis. Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter melalui pendekatan yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai karakter pada anak melalui keterlibatan mereka dalam Tari Jejumputan, sebuah tari sakral dari Desa Pedawa yang dibawakan dalam rangkaian upacara Saba Nguja Benih. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali peran elemen-elemen tari mulai dari ritual, gerak, iringan, kostum, hingga aturan pementasan sebagai media internalisasi nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, empati, serta kecintaan terhadap budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pengalaman estetis, sosial, dan spiritual dalam Tari Jejumputan, anak tidak hanya mempelajari teknik gerak, tetapi juga menghayati nilai-nilai luhur yang membentuk karakter mereka secara holistik. Keterlibatan aktif dalam proses latihan dan pementasan menjadikan tari ini sebagai sarana efektif untuk memperkuat identitas budaya dan membangun karakter anak di tengah tantangan era digital. Kata Kunci: Internalisasi Nilai Karakter. Kearifan Lokal. Tari Jejumputan. Internalization of Children's Character Values Through Involvement in the Jejumputan Dance Abstract The rapid development of digital technology has had a significant impact on the character formation of children, marked by a decline in empathy and mutual cooperation, as well as an increase in individualistic behavior. This condition emphasizes the importance of strengthening character education through a contextual approach based on local wisdom. This study aims to analyze the internalization of character values in children through their involvement in the Jejumputan Dance, a sacred dance from Pedawa Village that is performed in the Saba Nguja Benih ceremony. Using descriptive qualitative methods, this study explores the role of dance elements, ranging from rituals, movements, accompaniment, costumes, to performance rules as a medium for internalizing religious values, discipline, responsibility, cooperation, empathy, and love for local culture. The results of the study show that through aesthetic, social, and spiritual experiences in the Jejumputan Dance, children not only learn movement techniques but also internalize the noble values that shape their character Active involvement in the rehearsal and performance process makes this dance an effective means of strengthening cultural identity and building children's character amid the challenges of the digital age. Keywords: Internalization of Character Values. Local Wisdom. Jejumputan Dance. || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety PENDAHULUAN Pesatnya perkembangan teknologi digital membawa pengaruh pada dunia pendidikan yang menghadapi tantangan serius berupa melemahnya karakter peserta didik. Perubahan pola interaksi sosial yang semakin individualistis menjadi salah satu dampak negatif dari penggunaan teknologi yang tidak disertai dengan pendampingan nilai. Fenomena seperti memudarnya budaya gotong royong, berkurangnya rasa empati dan kepedulian sosial, serta meningkatnya gaya hidup konsumtif dan hedonistik menunjukkan bahwa perkembangan digital tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga berpotensi menggeser nilai-nilai moral yang selama ini dijunjung masyarakat. Kondisi ini menegaskan bahwa pendidikan karakter perlu diperkuat agar peserta didik mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri (Rahim, 2025: . Pendidikan karakter adalah upaya untuk membentuk dan membangun karakter siswa agar mereka dapat menerapkan nilai-nilai hidup dalam kehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, nilai-nilai pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini. Sebagaimana dinyatakan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan peserta didik dengan kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Pembentukan manusia yang cerdas dan berkarakter adalah hal yang sangat penting (Keban, 2022: . Pendidikan karakter merupakan elemen penting dalam pengembangan pribadi yang bertujuan menanamkan nilai moral dan etika dalam proses pembelajaran, baik melalui jalur formal maupun nonformal. Upaya ini turut membentuk sosok yang tangguh, memiliki rasa tanggung jawab, serta mampu berempati dalam kehidupan bermasyarakat. Pada era Society 5. 0 yang ditandai oleh perkembangan digital dan keterhubungan global, pendidikan karakter tidak hanya berpegang pada nilainilai tradisional, tetapi juga menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia digital dan global. Situasi ini menjadikan penyelenggaraan pendidikan semakin kompleks dan menegaskan pentingnya peran pendidikan dalam mempersiapkan individu menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang terus berlangsung (Sari, 2023: . Penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan sebagai sarana dan prasarana yang menunjang komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Integrasi teknologi tersebut dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif, namun idealnya sisi positifnya lebih dioptimalkan oleh generasi yang menggunakan teknologi pada masa sekarang. Pengaruh teknologi sangat besar apabila digunakan secara tidak tepat, teknologi dapat menimbulkan dampak negatif, terutama bagi anak-anak. Banyak konten yang bersifat tidak pantas dan tidak layak dikonsumsi oleh anak di bawah umur maupun individu yang baru memulai jenjang pendidikannya. Konten-konten yang muncul di internet tidak selalu positif serta sesuai dengan umur dan sebagian di antaranya justru berpotensi memberikan pengaruh buruk ketika ditonton oleh anak kecil. Situasi tersebut dapat mendorong anak meniru perilaku yang dilihatnya. Anak-anak usia sekolah dasar memiliki daya pikir yang mudah dipengaruhi lingkungan luar, sehingga pada tahap ini mereka perlu dibiasakan dan dibimbing agar karakter mereka berkembang dengan baik (Armayani, 2023: . Tanda-tanda darurat karakter tampak dari maraknya intoleransi, cyberbullying, penyebaran hoaks, hingga ujaran kebencian di dunia maya. Banyak anak dan remaja yang lebih mengenal tokoh digital daripada pahlawan nasional, serta lebih akrab dengan || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety fenomena viral daripada nilai-nilai Pancasila. Realitas ini mencerminkan rendahnya literasi nilai dan melemahnya identitas budaya generasi muda (Rahim, 2025: . Gejala melemahnya karakter bangsa Indonesia dapat terlihat dari berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Barnawi dan M. Arifin . alam Dalyono, 2017: . yang mengidentifikasi sepuluh indikator kemerosotan moral yang tampak pada kehidupan masa kini. Indikator tersebut mencakup meningkatnya tindakan kekerasan di kalangan remaja bahkan anak-anak, serta semakin maraknya perilaku tidak jujur yang mulai dianggap lumrah. Selain itu, muncul pula sikap fanatisme berlebihan terhadap kelompok atau geng tertentu yang memicu konflik sosial. Rasa hormat terhadap orang tua maupun guru juga mengalami penurunan, diiringi semakin kaburnya batas antara nilai moral yang baik dan buruk. Penggunaan bahasa yang kasar seperti makian, ejekan, hujatan, fitnah, dan istilah-istilah merendahkan menjadi kebiasaan baru tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Kemerosotan karakter juga terlihat dari meningkatnya perilaku menyimpang yang merusak diri, seperti penyalahgunaan narkoba, konsumsi alkohol, perjudian, serta seks bebas. Di sisi lain, tanggung jawab pribadi maupun sebagai warga negara semakin melemah. Etos kerja menurun, disertai tumbuhnya rasa saling curiga antar individu. Tidak kalah memprihatinkan, kepedulian sosial antar anggota masyarakat juga kian berkurang, menunjukkan adanya penurunan kualitas moral yang perlu segera diatasi melalui pendidikan karakter yang kuat dan konsisten (Dalyono, 2017: . Untuk menghadapi berbagai persoalan kemerosotan karakter tersebut, pendidikan tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan teoretis atau ceramah moral. Pendidikan karakter perlu kembali pada nilai-nilai mendasar yang diwariskan oleh leluhur melalui kearifan lokal. Salah satu media pendidikan karakter yang efektif adalah seni, khususnya seni tari tradisional. Tari tradisional anak berbasis kearifan lokal memiliki potensi kuat untuk menginternalisasi nilai, karena di dalamnya terdapat perpaduan antara gerak, emosi, ekspresi, dan interaksi sosial yang langsung dialami oleh peserta didik. Melalui aktivitas menari, anak tidak hanya belajar teknik gerak, tetapi juga menyerap nilai-nilai seperti disiplin, kebersamaan, penghormatan, spiritualitas, dan tanggung jawab secara alami. Hal ini didukung oleh kajian AoStrengthening Student Character with Local Cultural Metaphors: Messages Exploration from the Tiba Meka DanceAo ditemukan bahwa tarian tradisional dengan konstruksi metafora budaya membantu membangun sikap jujur, bertanggung jawab, dan disiplin pada siswa melalui pesan budaya yang diungkapkan lewat gerak dan simbol. Ay (Menggo. Pandor & Ndiung, 2019: . Dalam konteks ini. Tari Jejumputan yang berasal dari Desa Pedawa merupakan contoh yang relevan sekaligus unik. Tari ini memiliki sifat sakral yang kuat dan biasanya dibawakan oleh anak-anak sebagai bagian dari upacara adat Saba Nguja Benih atau Pujawali di Pura Desa Pedawa. Keunikan Tari Jejumputan terletak pada perpaduan unsur religius, kebersamaan, serta peran penting anak di dalam pelaksanaannya. Melalui keterlibatan aktif tersebut, anak tidak hanya berpartisipasi dalam ritual adat, tetapi juga mengalami proses internalisasi nilai secara langsung, mulai dari penghormatan terhadap leluhur, rasa tanggung jawab dalam menjaga kesakralan upacara, hingga pembentukan karakter yang berlandaskan spiritualitas dan budaya lokal (Ardiyani, 2025: . || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keterlibatan anak dalam Tari Jejumputan mampu menjadi sarana internalisasi nilai-nilai karakter esensial. Fokus analisis diarahkan pada bagaimana pengalaman estetis, sosial, dan spiritual dalam tari dapat menguatkan nilai moral, etika, dan identitas budaya anak di tengah tantangan era digital. Pendekatan ini diyakini dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sebagai jawaban atas merosotnya karakter generasi muda saat ini. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Sukmadinata dalam Partini . menyebutkan bahwa penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis sebuah fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok dan berusaha menggambarkan objek yang diteliti sesuai dengan kenyataan di lapangan, dan observasi yang dilakukan serta dilanjutkan dengan tindakan pengumpulan data (Assingkily, 2. Lokasi penelitian ini adalah di Desa Pedawa. Kecamatan Banjar. Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan Teori Pendidikan Karakter dengan jenis data berupa data Teknik penentuan informan menggunakan teknik Purposive Sampling. Teknik Purposive Sampling digunakan apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitian. Metode penentuan informan sangat penting dipergunakan mengingat yang menjadi subjek penelitian adalah individu yang beraneka ragam (Sugiyono. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Tari Tradisional Berbasis Kearifan Lokal sebagai Media Internalisasi Pendidikan Karakter Seni tari memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap keberagaman budaya, baik pada tingkat lokal maupun global. Kesadaran ini menjadi dasar penting bagi terbentuknya sikap menghargai perbedaan, bertoleransi, dan hidup rukun dalam masyarakat yang memiliki keragaman budaya. Seni tari memiliki kontribusi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak agar berkembang secara selaras dan seimbang. Melalui aktivitas pembelajaran tari, anak tidak hanya dilatih untuk menggerakkan tubuh, tetapi juga memperoleh pengalaman holistik yang merangsang aspek fisik, emosional, sosial, dan kognitif mereka. Setiap proses gerak, irama, ekspresi, dan interaksi dalam tari memberikan stimulasi yang mendorong pertumbuhan kemampuan motorik, kepekaan estetis, kemampuan mengelola emosi, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Pengalaman ini secara tidak langsung berpengaruh pada pembentukan sikap mental, seperti kedisiplinan, ketekunan, rasa percaya diri, dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya. Melalui kegiatan yang menuntut konsentrasi, pengendalian diri, dan interpretasi makna gerak, anak juga belajar mengekspresikan diri secara positif dan menghargai keberagaman ekspresi seni. Dengan demikian, pembelajaran seni tari bukan hanya berfungsi sebagai kegiatan artistik, tetapi juga sebagai sarana pendidikan kemanusiaan yang membantu || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety perkembangan untuk menjadi individu yang sensitif, berempati, serta mampu menempatkan diri secara harmonis dalam lingkungan sosialnya (Hartini, 2016: . Seni tari yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat umumnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu tari tradisional dan tari modern. Istilah tradisional merujuk pada tata cara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu komunitas etnik tertentu dan diwariskan secara turun-temurun. Dengan makna tersebut, tari tradisional dapat dipahami sebagai bentuk tari yang pola gerak, teknik, makna, serta tata penyajiannya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu kelompok masyarakat. Warisan tersebut tidak hanya mencakup gerak, tetapi juga nilai budaya, simbol, upacara, dan identitas kolektif yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks global, tari tradisional sering disebut sebagai ethnic dance, yaitu tarian yang mencerminkan karakter budaya suatu etnis atau daerah tertentu. Bentuk tari ini biasanya memiliki fungsi sosial dan spiritual yang kuat, seperti sebagai bagian dari ritual keagamaan, upacara adat, hiburan rakyat, atau sarana mempererat solidaritas komunitas (Azis, 2021: . Oleh karena itu, keberadaan tari tradisional tidak hanya menjadi aset budaya, tetapi juga menjadi penanda jati diri dan kontinuitas sejarah masyarakat pendukungnya. Tari tradisional yang berkembang di Indonesia umumnya memiliki fungsi ritual yang terkait erat dengan kepercayaan dan adat istiadat kelompok suku tertentu. Setiap gerak dalam tarian tersebut biasanya mengandung simbol atau bentuk stilisasi dari aktivitas masyarakat yang kemudian menjadi penanda identitas suatu suku (Azis, 2021: . Tari tradisional tersebut berfungsi sebagai media pembelajaran yang membantu internalisasi nilai seperti religiositas, disiplin, kerja sama, gotong royong, dan tanggung jawab pada siswa sekolah dasar. (Fitri & Puspita & Mariana, 2024: . Tari tradisional, ketika diintegrasikan dalam pendidikan berbasis etnopedagogi, membantu perkembangan kecerdasan sosial, emosional, dan kognitif remaja. Hasilnya menunjukkan pembentukan karakter seperti kemampuan regulasi diri . elf-regulatio. , tanggung jawab sosial, dan orientasi kontekstual terhadap masyarakat. (Ardiyani. Pitriani & Jemiwi, 2025: . Seni tradisional merupakan bidang yang penting untuk dikenalkan sejak usia dini. Pembelajaran seni tradisional memberikan berbagai manfaat, antara lain mengembangkan potensi diri serta menumbuhkan karakter seperti disiplin, kerja keras, tanggung jawab, rasa percaya diri, kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. Penelitian yang dilakukan oleh Pahan . 3: . menunjukkan bahwa pada awalnya sebagian besar peserta mengikuti kegiatan seni tradisional dengan motivasi untuk memperoleh keterampilan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai menumbuhkan ketertarikan dan menikmati proses pembinaan, bukan semata-mata untuk memperoleh keterampilan, tetapi karena tumbuhnya rasa cinta terhadap seni tradisional yang mereka pelajari. Tari tradisional merupakan salah satu bentuk kebudayaan daerah yang sarat dengan nilai historis serta mengandung pesan-pesan filosofis yang mencerminkan aspek spiritual, moral, dan sosial masyarakat pendukungnya. Dalam konteks perannya terhadap peningkatan minat siswa untuk mengenali dan menggali kebudayaan daerah. Apresiasi terhadap seni tari berpengaruh penting dalam membantu siswa memahami jati dirinya sekaligus mengenali identitas bangsanya. Melalui proses tersebut, siswa tumbuh menjadi individu yang lebih bangga, menghargai, dan memahami budaya sebagai bagian dari identitas nasionalnya. Rasa bangga yang muncul pada diri siswa ini menjadi salah satu || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety faktor pendorong yang membuat mereka terdorong untuk melestarikan, mempelajari, serta mendalami seni tari tradisional secara lebih serius. Dengan demikian, apresiasi terhadap seni tari tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menumbuhkan motivasi intrinsik siswa untuk berperan aktif mempertahankan warisan budaya leluhur (Ni Luh. , 2011: . Tari tradisional tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak. Salah satu contoh nyata adalah Tari Jejumputan, sebuah tarian tradisional yang berkembang di masyarakat Bali dan sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Sebagai bagian dari warisan budaya. Tari Jejumputan mengandung simbolisme gerak, pola lantai, dan ritual yang mengajarkan disiplin, ketekunan, tanggung jawab, serta rasa gotong royong. Melalui proses pembelajaran tari ini, anak-anak tidak sekadar menirukan gerak, tetapi juga memahami makna di balik setiap gerakan, sehingga internalisasi nilai karakter terjadi secara alami. Pengalaman belajar Tari Jejumputan memberikan stimulasi holistik meliputi aspek fisik, emosional, sosial, dan kognitif yang mendukung pembentukan kepribadian anak agar berkembang selaras dan seimbang (Hartini, 2016: . Misalnya, latihan yang menuntut kekompakan dan koordinasi mengajarkan kerja sama, konsentrasi, serta kemampuan mengatur diri sendiri . (Ardiyani. Pitriani & Jemiwi, 2025: . Selain itu, keterlibatan anak dalam ritual dan simbolisme Tari Jejumputan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal, menumbuhkan cinta tanah air, serta mendorong mereka untuk menghargai perbedaan dan hidup rukun dalam masyarakat (Ni Luh, 2011: . Dengan demikian. Tari Jejumputan sebagai seni tradisional berbasis kearifan lokal berperan strategis dalam internalisasi nilainilai karakter pada anak, termasuk religiositas, disiplin, kerja sama, kreatifitas, dan tanggung Tari ini menjadi sarana efektif untuk membentuk pribadi anak yang tidak hanya artistik, tetapi juga beretika, empatik, dan mampu menempatkan diri secara harmonis dalam lingkungan sosial dan budaya yang beragam. Analisis Internalisasi Nilai Karakter melalui Elemen-Elemen Tari Jejumputan Internalisasi merupakan proses seseorang menghayati, memahami secara mendalam, dan menjadikan suatu nilai sebagai bagian dari dirinya (Munif, 2017: . Dalam konteks Tari Jejumputan, internalisasi nilai karakter berarti memasukkan nilai-nilai luhur ke dalam diri penari melalui setiap elemen tari gerak, suasana, rangkaian upacara, hingga aturan Proses ini membuat nilai tersebut bukan hanya dipahami secara kognitif, tetapi benar-benar meresap ke dalam hati, sehingga sikap, perilaku, dan jiwa penari digerakkan oleh nilai-nilai mulia yang telah mereka hayati. Dengan demikian. Tari Jejumputan menjadi sarana pembentukan karakter yang hidup dalam praktik, bukan sekadar pengajaran verbal. Tari Jejumputan tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan seni, tetapi juga berperan sebagai sarana pendidikan karakter yang mendalam bagi anak-anak di Desa Pedawa. Karena sifatnya yang sakral, tarian ini mengandung nilai-nilai religius dan spiritualitas, sehingga setiap gerakan bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan bentuk pengabdian dan doa yang diwujudkan melalui tubuh penari. Tarian ini merupakan bagian integral dari ritual pemujaan Dewi Sri dalam upacara Saba Nguja Benih, yang bertujuan untuk memohon kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat Desa Pedawa. Melalui partisipasi dalam tarian ini, anak-anak belajar menghormati tradisi leluhur, melaksanakan tanggung jawab suci dengan ketulusan hati, serta memahami makna setiap gerakan sebagai wujud || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety komunikasi dengan kekuatan spiritual yang lebih tinggi. Dengan kata lain. Tari Jejumputan berfungsi sebagai medium pembelajaran nonformal yang menanamkan nilai religius secara langsung melalui pengalaman praktis, sehingga anak-anak mampu menginternalisasi ajaran spiritual sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya kesucian dan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari (Mardika, 2022: 186Ae. Proses seleksi penari dan persiapan sebelum pementasan Tari Jejumputan berperan penting dalam menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan pada anak-anak. Anak-anak yang terpilih harus menjalani serangkaian persiapan, mulai dari membersihkan diri, mematuhi berbagai pantangan, hingga mengikuti latihan rutin secara konsisten. Seluruh proses ini bukan hanya membiasakan mereka dengan kedisiplinan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan komitmen pribadi, tanggung jawab terhadap komunitas, serta pentingnya persiapan matang dalam menjalankan peran yang dipercayakan. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi media pendidikan karakter yang efektif, di mana nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial diinternalisasi melalui praktik budaya yang nyata (Elvandari, 2020: 95Ae. Gerakan dan pola lantai Tari Jejumputan yang ditampilkan secara berkelompok memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai kerja sama, kebersamaan, dan toleransi pada anak-anak. Dalam pementasan, anak-anak belajar bergerak secara selaras dengan teman-temannya, menghargai ruang gerak orang lain, serta menumbuhkan semangat gotong-royong. Pengalaman ini tidak hanya melatih kemampuan fisik, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial yang menekankan harmoni dan koordinasi dalam interaksi kelompok (Suryawan, 2020: . Selain itu, iringan gamelan yang menyertai tarian mengajarkan anak-anak untuk mengembangkan ketelitian, keteraturan, dan kepekaan terhadap musik. Para penari dituntut untuk peka terhadap irama, tempo, dan sinkronisasi gerak, sehingga kemampuan mendengarkan, menyesuaikan diri, dan bekerja sama secara harmonis dengan kelompok juga meningkat. Dengan demikian, aspek musikal ini tidak hanya memperkaya pengalaman estetis, tetapi juga mendukung pembentukan disiplin sosial dan sensitivitas kolektif pada anak-anak (Pitana, 2021: . Penggunaan atribut dan tata busana sakral dalam Tari Jejumputan, seperti gegelungan, belengker, dan kain adat . , berperan penting dalam menanamkan cinta terhadap budaya lokal dan semangat nasionalisme pada anak-anak. Melalui pemakaian dan pemahaman setiap atribut, anak-anak belajar mengenali simbol-simbol yang terkandung di dalamnya serta makna filosofis yang menyertainya. Proses ini menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya mereka, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya melestarikan tradisi dan warisan leluhur sebagai bagian dari jati diri komunitas (Ni Luh, 2011: . Intensitas latihan menumbuhkan kerja keras, kesabaran, dan pengendalian diri. Proses penguasaan gerak yang sakral memerlukan konsentrasi tinggi, ketekunan, dan latihan berulang, sehingga anak-anak belajar untuk fokus, disiplin, dan mengendalikan diri dalam mencapai kesempurnaan gerak (Ardini, 2022: . Keterlibatan anak dalam seluruh rangkaian upacara menginternalisasi empati, kesadaran sosial, dan etika kolektif. Anak-anak memahami bahwa keterlambatan, kelalaian, atau ketidakhadiran mereka dapat memengaruhi jalannya ritual dan keseimbangan alam yang diyakini memengaruhi hasil Dengan demikian, mereka belajar menghargai tanggung jawab kolektif serta || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety menumbuhkan kesadaran akan pentingnya peran individu dalam kehidupan sosial masyarakat (Kariasa, 2021: . Melalui kombinasi elemen-elemen tersebut. Tari Jejumputan berfungsi sebagai media pendidikan karakter yang komprehensif. Anak-anak tidak hanya memperoleh keterampilan menari, tetapi juga belajar nilai religius, sosial, budaya, serta etika Dengan pengalaman langsung dalam praktik budaya sakral ini, generasi muda Desa Pedawa menjadi individu yang religius, berkarakter, disiplin, berempati, dan memiliki kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan hidup. Pementasan pada malam hari biasanya berlangsung dalam suasana yang lebih hening dan sakral. Kondisi ini menuntut anak untuk menjaga sikap, tidak ribut, tidak bermain sembarangan, serta fokus pada rangkaian upacara dan gerak tari. Anak belajar untuk menahan dorongan spontan yang tidak sesuai dengan konteks ritual, seperti berlari, bercanda, atau berbicara keras. Pengalaman tampil pada waktu yang tidak biasa bagi mereka . alam har. juga melatih anak mengatur energi, mengatur emosi, serta menjaga ketenangan sepanjang prosesi. Melalui situasi nyata ini, pengendalian diri tidak hanya menjadi teori, tetapi dipraktikkan dan dialami secara langsung. Berpartisipasi dalam pementasan malam hari menuntut anak untuk menyiapkan diri dengan baik. Mereka harus mengatur waktu belajar, istirahat, dan persiapan kostum agar bisa hadir tepat waktu dengan kondisi tubuh yang siap. Anak memahami bahwa keberhasilan pementasan tidak hanya bergantung pada diri sendiri, tetapi juga mempengaruhi kelompok masyarakat yang Kesadaran bahwa mereka membawa nama desa adat, orang tua, dan keluarga memunculkan rasa tanggung jawab untuk menjalankan peran dengan sungguh-sungguh. tengah suasana religius malam hari, anak juga belajar bertanggung jawab menjaga kesakralan prosesi dan menaati aturan adat. Strategi Internalisasi dan Keterlibatan Anak Internalisasi dipahami sebagai proses menghayati, mendalami, dan menguasai suatu nilai melalui serangkaian bimbingan atau pendampingan yang berkelanjutan. Dengan kata lain, internalisasi adalah upaya menanamkan pola pikir, sikap, dan tindakan ke dalam diri seseorang melalui proses pembinaan yang terarah, sehingga individu tersebut benar-benar menguasai dan mempraktikkan nilai tersebut sesuai dengan standar yang diharapkan (Munif, 2017: . Dalam konteks Tari Jejumputan teknik pembinaan melalui proses internalisasi merupakan bentuk pembinaan yang menekankan penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai karakter yang dipadukan dengan nilai-nilai moral yang diwariskan oleh leluhur melalui kearifan lokal secara menyeluruh. Pembinaan ini bertujuan agar nilai tersebut menyatu dengan kepribadian anak, sehingga akhirnya termanifestasi dalam perilaku mereka sehari-hari. Proses internalisasi nilai dalam pembinaan karakter peserta didik berlangsung melalui tiga tahap yakni tahap transformasi nilai, tahap transaksi nilai, dan tahap transinternalisasi (Munif, 2017: . Ketiga tahap ini dapat terlihat jelas dalam proses anak mempelajari dan terlibat dalam Tari Jejumputan, sehingga nilai karakter tidak hanya disampaikan, tetapi sungguh-sungguh dihidupi oleh penari. Tahap transformasi nilai. Pada tahap awal, pelatih tari maupun orang tua memperkenalkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Tari Jejumputan, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, pengendalian diri, dan rasa hormat terhadap tradisi. Nilai- || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety nilai ini disampaikan melalui penjelasan verbal, misalnya dengan menjelaskan makna gerak, aturan pementasan malam hari, dan etika saat terlibat dalam upacara. Pada fase ini, anak baru sebatas menerima informasi mengenai mana perilaku yang baik dan mana yang perlu dihindari ketika menari. Tahap transaksi nilai. Pada tahap ini terjadi interaksi aktif antara pelatih dan anakanak yang terpilih untuk mementaskan Tari Jejumputan. Pelatih tidak hanya menjelaskan nilai, tetapi menunjukkan contoh nyata melalui sikap dan tindakan selama latihan misalnya datang tepat waktu, menjaga kesopanan dalam ruang latihan, serta mempraktikkan ketenangan sebagai bentuk pengendalian diri. Anak diminta menirukan, mempraktikkan, dan merespons nilai tersebut dalam proses latihan dan persiapan pementasan. Ketika anak belajar menjaga ketertiban saat latihan malam, mengikuti instruksi dengan penuh tanggung jawab, atau menjaga kekompakan kelompok, mereka sedang berada dalam proses transaksi nilai yang bersifat timbal balik. Tahap transinternalisasi. Pada tahap ini nilai tidak lagi muncul sebagai aturan yang harus ditaati, tetapi menjadi bagian dari sikap mental dan kepribadian anak. Ketika nilai sudah meresap, anak menampilkan pengendalian diri bukan karena diminta, tetapi karena kesadaran dalam dirinya akan kesakralan tari. Begitu pula dengan tanggung jawab anak hadir tepat waktu, mempersiapkan diri, menjaga pakaian dan perlengkapan, serta menari dengan sungguh-sungguh karena memiliki komitmen batin, bukan sekadar mengikuti perintah guru. Dalam pementasan malam hari, terlihat bahwa mereka menjaga ketenangan, kesopanan, dan kekhidmatan secara alami. Pada tahap ini, hubungan guru dan siswa tidak lagi bertumpu pada instruksi fisik, tetapi pada teladan batin dan sikap mental yang saling Proses internalisasi nilai karakter dalam pembelajaran Tari Jejumputan tidak dapat dilakukan secara cepat, tetapi membutuhkan waktu serta pelaksanaan yang konsisten dan Nilai-nilai yang terkandung dalam tari seperti disiplin, pengendalian diri, tanggung jawab, dan sikap hormat terhadap tradisi nya dapat meresap ke dalam diri anak apabila dipraktikkan terus-menerus melalui latihan dan pementasan. Berbagai ahli pendidikan telah banyak memberikan kontribusi terkait strategi internalisasi nilai dalam pembentukan karakter. Konsep-konsep tersebut menjadi rujukan penting bagi pelatih atau pendidik dalam merancang strategi internalisasi nilai melalui kegiatan seni, termasuk dalam pembelajaran dan pementasan Tari Jejumputan. Menurut Dessy . 0: . pada bukunya yang berjudul AuInternalisasi 9 Pilar Karakter Bagi Anak Usia DiniAy menjelaskan bahwa terdapat beberapa strategi yang efektif diselenggarakan oleh guru/pendidik maupun pelatih untuk anak usia dini yaitu pembiasaan rutin, pembiasaan spontan, dan pembiasaan keteladanan. Pembiasaan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan secara terjadwal dan konsisten untuk melatih anak melakukan kebaikan sebagai bagian dari kesehariannya (Dessy, 2020: . Dalam konteks Tari Jejumputan, pembiasaan ini dapat berupa jadwal pementasan tari yang tetap pada upacara suci keagamaan masyarakat Desa pedawa yaitu Saba Nguja Benih, keharusan hadir tepat waktu, membiasakan anak melakukan pemanasan sebelum latihan, merapikan perlengkapan tari, serta menjaga ketenangan setiap kali memasuki ruang latihan dalam hal ini adalah areal pura. Rutinitas tersebut, ketika dilakukan terus-menerus, menanamkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan etika berkegiatan seni. || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Ketika menjelang pementasan malam hari, pembiasaan rutin terlihat dari persiapan bersama, pengecekan kostum, hingga menjaga fokus sebelum tampil semua ini membentuk karakter melalui kegiatan yang berjalan terstruktur. Pembiasaan spontan adalah kegiatan yang muncul sesuai situasi, bertujuan membentuk respons positif secara langsung pada anak (Dessy, 2020: . Dalam pembelajaran Tari Jejumputan, guru atau pelatih dapat memberikan pujian ketika anak menunjukkan sikap fokus dan pengendalian diri, memberi nasihat saat ada yang bermainmain saat latihan, atau memberikan konsekuensi ringan ketika anak terlambat atau tidak menjaga ketertiban. Situasi latihan dan persiapan pementasan sering kali dinamis. itu, pembiasaan spontan menjadi sarana efektif untuk menanamkan pengendalian diri dan sikap bertanggung jawab melalui momen-momen kecil yang terjadi dalam keseharian Keteladanan merupakan strategi internalisasi yang paling kuat, karena anak belajar melalui contoh nyata (Dessy, 2020: . Dalam konteks Tari Jejumputan, pelatih menunjukkan disiplin dengan datang tepat waktu, menjaga bahasa tubuh yang sopan, mempraktikkan ketenangan selama prosesi latihan, serta menghormati aturan sakralitas tari. Ketika guru bersikap lembut namun tegas, menjaga konsentrasi, dan memperlakukan semua anggota kelompok dengan hormat, anak akan meniru sikap tersebut secara alami. Keteladanan ini sangat penting terutama menjelang pementasan malam hari, di mana suasana sakral menuntut pengendalian diri dan kesadaran penuh dari setiap penari. Dengan menyaksikan sikap dan perilaku baik dari pelatih, anak lebih mudah menginternalisasi nilai karakter secara mendalam. SIMPULAN Tari Jejumputan bukan hanya sebuah ekspresi seni dan bagian dari rangkaian upacara adat, tetapi juga merupakan media yang efektif dalam proses internalisasi nilai karakter pada anak. Melalui elemen-elemen tari yang sarat makna mulai dari aturan sakral, disiplin gerak, hingga suasana pementasan pada malam hari anak-anak dibimbing untuk menghayati, memahami, dan mempraktikkan nilai-nilai luhur secara bertahap dan Proses internalisasi dilakukan melalui tiga tahapan utama: transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi. Pada tahap transformasi, anak menerima pengetahuan dasar tentang nilai-nilai yang harus dijaga dalam tari. Pada tahap transaksi, mereka belajar menerapkan nilai tersebut secara langsung melalui interaksi, latihan, dan kerja kelompok. Pada tahap transinternalisasi, nilai karakter tersebut mengakar menjadi bagian dari kepribadian dan perilaku anak. Melalui rangkaian pembiasaan rutin, spontan, dan keteladanan dalam latihan dan pementasan, nilai tanggung jawab ditanamkan melalui kewajiban hadir tepat waktu, menjaga perlengkapan tari, mematuhi arahan pelatih, dan memahami perannya dalam Sementara itu, nilai pengendalian diri tumbuh melalui tuntutan menjaga ketenangan, fokus, dan sikap hormat terhadap kesakralan prosesi, terutama ketika pementasan dilakukan pada malam hari yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi. Perpaduan antara pengalaman estetis, spiritual, dan sosial inilah yang menjadikan Tari Jejumputan sebagai wahana pembinaan karakter yang menyeluruh, sehingga nilai-nilai || Luh Putu Cita Ardiyani || Internalisasi Nilai Karakter AnakA. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 3 2025, hal 541-552 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety luhur tidak hanya dipelajari secara verbal, tetapi benar-benar meresap dan membentuk perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA