Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 6, nomor 2, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar melalui Program Kreativitas dan Inovasi Usaha Nico Kosasih*. Aulia Helmina Putri. Ros Nirwana STIE Pancasetia. Banjarmasin. Indonesia Coresponding Author: nicokosasih@gmail. Dikirim: 09-04-2026. Direvisi: 20-04-2026. Diterima: 22-04-2026 Abstrak: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan minat berwirausaha pada pelajar melalui penyuluhan kewirausahaan berbasis diskusi interaktif. Subjek kegiatan adalah pelajar tingkat SMA, dengan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan secara aktif sebanyak 6 orang. Kegiatan dilaksanakan di Heima Coffee. Jl. Gatot Subroto X. Kota Banjarmasin, selama satu hari dengan durasi pelaksanaan selama 8 jam. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan kolaboratif melalui workshop, diskusi kelompok, studi kasus, serta sesi berbagi pengalaman. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, observasi, serta wawancara singkat untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan partisipasi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 62,6 pada pre-test menjadi 74 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 11,4 poin dan terbukti signifikan secara statistik. Selain itu, peserta menunjukkan keterlibatan aktif, peningkatan kepercayaan diri, serta kemampuan yang lebih baik dalam mengemukakan ide usaha. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan dampak positif dalam menumbuhkan minat berwirausaha pada pelajar. Rekomendasi untuk kegiatan selanjutnya adalah memperluas jumlah peserta, menambah durasi pendampingan, serta mengintegrasikan praktik langsung dan pemanfaatan teknologi digital agar hasil yang dicapai lebih optimal dan berkelanjutan. Kata Kunci: Kewirausahaan. Kreatif. Inovasi. Abstract: This Community Service Program (PkM) aims to improve studentsAo knowledge, skills, and entrepreneurial interest through interactive entrepreneurship training. The participants were high school students, with six students actively involved in the program. The activity was conducted at Heima Coffee, located on Jl. Gatot Subroto X. Banjarmasin, in a one-day session with a total duration of 8 hours. The method applied was a participatory and collaborative approach, implemented through workshops, group discussions, case studies, and sharing sessions. The evaluation was carried out using pre-test and post-test, observations, and short interviews to measure changes in participantsAo knowledge, attitudes, and engagement. The results showed an improvement in participantsAo knowledge, indicated by an increase in the average score from 62. 6 in the pre-test to 74 in the post-test, with a gain 4 points, which was statistically significant. In addition, participants demonstrated active engagement, increased self-confidence, and improved ability to express business ideas more systematically. Overall, the program had a positive impact on fostering studentsAo entrepreneurial interest and readiness. It is recommended that future programs involve a larger number of participants, provide longer mentoring duration, and integrate hands-on practice and digital technology to achieve more sustainable outcomes. Keywords: Entrepreneurship. Creativity. Innovation . @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. PENDAHULUAN Perkembangan dunia usaha dan ekonomi kreatif saat ini menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan berinovasi serta berwirausaha sejak dini, karena sektor ini sangat bergantung pada kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi sebagai sumber utama penciptaan nilai tambah (Hapsari & Salima, 2023. Shantilawati et al. , 2. Namun demikian, urgensi penguatan kapasitas kewirausahaan generasi muda semakin tinggi seiring dengan meningkatnya persaingan usaha dan terbatasnya lapangan pekerjaan formal. Kondisi ini menuntut generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan Realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak muda yang memiliki potensi kreatif, tetapi belum mampu mengoptimalkan ide tersebut menjadi peluang usaha yang nyata. Permasalahan utama terletak pada keterbatasan pengetahuan kewirausahaan, kurangnya pengalaman praktis, serta minimnya akses terhadap sumber daya dan dukungan bisnis (Nabi et al. , 2. Selain itu, lemahnya pemahaman tentang manajemen usaha juga menyebabkan banyak ide kreatif tidak berkembang secara maksimal (Fayolle & Gailly, 2. Kesenjangan antara potensi dan kemampuan implementasi ini menjadi isu krusial yang perlu segera ditangani. Tanpa intervensi yang tepat, potensi ekonomi kreatif generasi muda berisiko tidak berkembang secara optimal. Untuk memahami urgensi tersebut secara lebih kontekstual, kondisi pelaku ekonomi kreatif di tingkat daerah, khususnya di Kota Banjarmasin, menjadi gambaran penting. Kota ini memiliki potensi ekonomi kreatif yang cukup besar dengan jumlah pelaku usaha yang terus berkembang di berbagai subsektor. Berdasarkan data dari Satu Data Banjarmasin, terdapat ratusan pelaku ekonomi kreatif yang berkontribusi terhadap perekonomian lokal (Satu Data Banjarmasin. Namun, besarnya jumlah pelaku usaha ini tidak selalu sejalan dengan kualitas dan daya saing yang dimiliki. Permasalahan yang sering muncul meliputi keterbatasan inovasi produk, lemahnya manajemen usaha, serta rendahnya pemanfaatan teknologi digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan tidak hanya terletak pada jumlah pelaku usaha, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas generasi muda sebagai calon pelaku ekonomi kreatif. Tanpa adanya pembinaan sejak dini, tantangan ini akan terus berulang dan menghambat pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memiliki urgensi yang tinggi sebagai bentuk intervensi awal dalam menyiapkan generasi muda yang kreatif dan berdaya saing. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengetahuan praktis, keterampilan, serta motivasi kepada pelajar agar mampu mengembangkan ide kreatif menjadi usaha yang bernilai ekonomi. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang cenderung teoritis, kegiatan ini menekankan pada pengalaman langsung dan pembelajaran kontekstual. Hal ini menjadi penting karena pembelajaran kewirausahaan yang efektif harus mampu menghubungkan teori dengan praktik nyata (Saputra et al. , 2. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi sejak dini. Dengan pendekatan yang lebih aplikatif, peserta diharapkan mampu memahami peluang usaha secara lebih realistis. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membentuk pola pikir kewirausahaan yang adaptif terhadap perubahan. Dengan @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. demikian, kegiatan ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga transformatif dalam membentuk karakter peserta. Sasaran kegiatan pengabdian ini adalah pelajar tingkat SMA yang memiliki minat dan potensi kreatif, namun belum memperoleh pembinaan kewirausahaan yang Keunikan kegiatan ini terletak pada pendekatan pembelajaran yang interaktif, partisipatif, dan berbasis pengalaman langsung. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, eksplorasi ide, serta praktik sederhana dalam merancang usaha. Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk belajar secara lebih mendalam dan kontekstual. Selain itu, kegiatan ini juga mengintegrasikan sesi berbagi pengalaman yang memberikan gambaran nyata tentang dunia usaha. Hal ini penting untuk meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi peserta dalam memulai usaha. Pembelajaran berbasis praktik terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan kewirausahaan (Fikri et , 2. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman belajar yang bermakna. Keunikan lainnya adalah penyesuaian materi dengan kondisi lokal sehingga lebih relevan dengan kebutuhan Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kewirausahaan memiliki peran penting dalam meningkatkan kapasitas generasi muda. Pelatihan yang tepat dapat meningkatkan keterampilan, pengetahuan bisnis, serta kepercayaan diri dalam menjalankan usaha (Ernawati et al. , 2. Selain itu, pendidikan kewirausahaan sejak dini juga berkontribusi dalam membentuk karakter yang kreatif, mandiri, dan inovatif (Saputra et al. , 2. Pendampingan yang berkelanjutan juga terbukti mampu mendorong keberhasilan usaha yang dijalankan oleh pemuda (Syach et al. Temuan lain menunjukkan bahwa pelatihan kewirausahaan dapat meningkatkan kesiapan individu dalam menghadapi tantangan bisnis serta memperkuat daya saing (Virianita et al. , 2. Hal ini memperkuat bahwa kegiatan pengabdian yang dilakukan memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya menjawab permasalahan yang ada, tetapi juga menawarkan pendekatan yang inovatif dan aplikatif. Diharapkan kegiatan ini mampu memberikan dampak jangka pendek maupun jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang mandiri, kreatif, dan siap berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mengacu pada pendekatan partisipatif dan kolaboratif yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam seluruh proses pembelajaran. Pendekatan partisipatif terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta secara lebih mendalam (Hestiningtyas et al. , 2. Sementara itu, pendekatan kolaboratif berperan dalam meningkatkan keterampilan serta partisipasi peserta melalui kerja sama dan interaksi antarindividu (Indrayanto et al. , 2. Pendekatan ini dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan metode konvensional dalam menciptakan proses pembelajaran yang aktif, interaktif, dan berorientasi pada pengalaman langsung. Dalam pelaksanaannya, kegiatan dirancang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada interaksi dan pengalaman belajar secara langsung. Kegiatan ini melibatkan peserta dari Divisi Kewirausahaan OSIS SMA Don Bosco Banjarmasin sebanyak 6 orang yang memiliki minat dalam bidang kewirausahaan. Peserta @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. didorong untuk aktif berpartisipasi dalam setiap sesi, baik melalui diskusi, penyampaian ide, maupun praktik sederhana. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Pendekatan ini juga memungkinkan peserta untuk belajar secara kolaboratif melalui pertukaran gagasan. Oleh karena itu, metode ini dinilai relevan dalam meningkatkan kompetensi kewirausahaan secara praktis. Pelaksanaan kegiatan PkM diawali dengan tahap persiapan yang bertujuan untuk memastikan bahwa program yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta. Tahap ini meliputi identifikasi permasalahan dan kebutuhan peserta terkait kewirausahaan, penyusunan materi pelatihan, serta penyiapan instrumen pendukung berupa modul, kuesioner, dan panduan observasi. Kegiatan identifikasi dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai tingkat pemahaman dan minat peserta terhadap kewirausahaan. Selain itu, koordinasi dengan pihak sekolah juga dilakukan untuk menentukan waktu, lokasi, serta jumlah peserta yang terlibat dalam kegiatan. Tahapan ini menjadi penting karena menentukan keberhasilan pelaksanaan program secara keseluruhan (Fauziyah & Syahada, 2024. Listiani et al. , 2. Dengan adanya persiapan yang matang, materi yang disampaikan dapat lebih tepat sasaran. Selain itu, instrumen yang disiapkan juga berfungsi untuk mendukung proses evaluasi kegiatan. Dengan demikian, tahap persiapan menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan kegiatan PkM. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan kegiatan inti yang dilakukan melalui metode workshop, diskusi kelompok, dan studi kasus. Workshop digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan materi dasar kewirausahaan, seperti konsep usaha, kreativitas, serta peluang bisnis. Diskusi kelompok bertujuan untuk mendorong peserta dalam menggali ide usaha dan bertukar gagasan secara aktif. Melalui diskusi ini, peserta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam melihat peluang usaha. Sementara itu, studi kasus digunakan untuk melatih kemampuan peserta dalam menganalisis permasalahan nyata dan merumuskan solusi yang aplikatif. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan pendampingan dalam menyusun rencana usaha sederhana berdasarkan ide yang telah dikembangkan. Pendampingan dilakukan secara langsung agar peserta dapat memahami proses secara lebih mendalam. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan peserta dalam memulai usaha secara mandiri. Tahap akhir dalam kegiatan ini adalah evaluasi dan pelaporan yang bertujuan untuk menilai efektivitas program serta pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan melalui pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi langsung, dan wawancara singkat sebelum dan sesudah kegiatan. Kuesioner digunakan untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan motivasi peserta terhadap kewirausahaan. Observasi dilakukan untuk menilai keterampilan praktik serta tingkat partisipasi peserta selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, wawancara digunakan untuk menggali pengalaman, kesan, serta kendala yang dihadapi peserta selama mengikuti kegiatan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk hasil kuesioner dan secara kualitatif untuk hasil observasi serta wawancara. Hasil analisis tersebut selanjutnya disusun dalam bentuk laporan sebagai gambaran capaian kegiatan. Selain itu, hasil evaluasi juga digunakan sebagai dasar dalam menyusun rekomendasi pengembangan program di masa mendatang. @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. Kegiatan ini dilaksanakan di Heima Coffee yang berlokasi di Jl. Gatot Subroto X. Banjarmasin, dengan durasi pelaksanaan selama satu hari. Kegiatan difokuskan pada pemberian materi dasar kewirausahaan serta sharing session mengenai pengalaman membangun usaha. Jadwal yang dirancang secara intensif bertujuan agar peserta dapat memperoleh pemahaman dan pengalaman belajar yang maksimal dalam waktu yang terbatas. Selain itu, suasana pembelajaran yang santai namun interaktif diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan dan keterlibatan peserta. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang kewirausahaan, memiliki keterampilan dalam menyusun rencana usaha sederhana, serta memiliki motivasi dan kepercayaan diri untuk memulai usaha. Secara lebih luas, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga berkontribusi dalam mendorong terbentuknya generasi muda yang kreatif, mandiri, dan produktif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata nilai peserta meningkat dari 62,6 pada pre-test menjadi 74 pada post-test dari skor maksimum 100. Peningkatan sebesar 11,4 poin tersebut setara dengan 11,4% dari skor maksimum dan 18,21% dibandingkan kondisi awal. Berdasarkan hasil uji paired sample t-test . = 0,016 < 0,. , peningkatan ini terbukti signifikan secara statistik, sehingga kegiatan dinyatakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa pelatihan berbasis pembelajaran aktif mampu meningkatkan pemahaman secara signifikan melalui keterlibatan langsung peserta dalam proses belajar (Salas et al. , 2. Selain itu, pendekatan pelatihan yang terstruktur juga terbukti meningkatkan hasil belajar dan retensi pengetahuan peserta (Noe, 2. Dengan demikian, peningkatan nilai yang terjadi menunjukkan bahwa metode yang digunakan relevan dan efektif. Temuan ini memperkuat bahwa intervensi pendidikan yang tepat dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi peserta. Tabel 1. Paired Samples Statistics Pair 1 Pre Test Post Test Mean Std. Devitation Std. Error Mean Tabel 2. Paired Samples Test Mean Pair Pre Test Ae Post Test Std. Devitat Paired Differences 95% Confiedence Interval of the Difference Std. Lower Upper Error Mean Significance One Sided Two Side Kegiatan PkM dilaksanakan melalui penyuluhan dan diskusi interaktif secara tatap muka dalam kelompok kecil yang mampu menciptakan suasana pembelajaran @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. yang komunikatif dan partisipatif. Dokumentasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta terlibat aktif dalam diskusi serta penyampaian ide usaha. Sebelum kegiatan dilaksanakan, peserta memiliki pemahaman yang masih terbatas mengenai kewirausahaan, yang tercermin dari nilai pre-test sebesar 62,6. Kondisi ini menunjukkan bahwa peserta masih membutuhkan arahan dalam memahami konsep dasar kewirausahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa kurangnya pemahaman awal menjadi hambatan dalam pengembangan kewirausahaan (Stiyo & Soepatini, 2. Selain itu, metode pembelajaran interaktif secara signifikan meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa (Bitu et al. , 2. Oleh karena itu, pendekatan diskusi interaktif menjadi strategi yang tepat dalam mengatasi keterbatasan awal peserta. Setelah kegiatan PkM dilaksanakan, terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan peserta dalam memahami serta mengemukakan ide usaha secara lebih Peserta menunjukkan keterlibatan tinggi dalam diskusi dan mampu menyampaikan gagasan dengan lebih terstruktur. Hasil post-test menunjukkan peningkatan nilai rata-rata menjadi 74, yang menandakan adanya perubahan positif. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dan praktik memberikan pengaruh signifikan terhadap kemampuan kognitif peserta. Hal ini sejalan dengan teori experiential learning yang menekankan pentingnya pengalaman langsung (Kolb, 2. Selain itu, pelatihan kewirausahaan terbukti meningkatkan kreativitas dan kemampuan inovatif peserta (Dayu et al. , 2. Dengan demikian, metode yang digunakan efektif dalam meningkatkan kualitas pemahaman peserta. Partisipasi peserta menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi, meskipun hanya 6 dari 15 peserta yang hadir. Seluruh peserta yang hadir mengikuti kegiatan hingga selesai dan aktif dalam diskusi, tanya jawab, serta praktik sederhana. Tingkat partisipasi ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran mampu meningkatkan motivasi belajar peserta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa pendekatan partisipatif dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi peserta (Jatmiko et al. , 2. Selain itu, pembelajaran kolaboratif juga meningkatkan interaksi sosial dan efektivitas belajar (Sarifah & Hanif, 2. Dengan demikian, kualitas partisipasi yang tinggi menjadi indikator keberhasilan kegiatan. Pendekatan ini terbukti mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dampak kegiatan terlihat dari meningkatnya pemahaman, kepercayaan diri, serta kesiapan peserta dalam memahami peluang berwirausaha. Peserta menunjukkan minat yang lebih besar untuk mengembangkan ide usaha sederhana sesuai dengan lingkungan mereka. Peningkatan kepercayaan diri ini menjadi indikator penting dalam kesiapan berwirausaha. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa pelatihan kewirausahaan dapat meningkatkan self-efficacy dan kesiapan individu dalam memulai usaha (Yasa & Wijaya, 2. Selain itu, peningkatan motivasi dan minat berwirausaha juga merupakan hasil dari pembelajaran yang aplikatif (Nugraha. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan dampak pada aspek kognitif dan afektif peserta. Dampak ini menjadi modal awal dalam membentuk jiwa kewirausahaan pada pelajar. Kebaruan kegiatan ini terletak pada pendekatan penyuluhan kewirausahaan berbasis diskusi interaktif yang kontekstual dan aplikatif. Pendekatan ini mengintegrasikan teori dan praktik secara langsung dalam waktu yang relatif singkat, berbeda dengan metode konvensional yang lebih teoritis. Pembelajaran kontekstual terbukti lebih efektif karena berkaitan langsung dengan pengalaman nyata (Kismatun, @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. , serta mampu meningkatkan kemampuan problem solving (Zubaidah, 2. Kelebihan kegiatan ini adalah pendekatan partisipatif dan kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta. Namun, keterbatasan terletak pada jumlah peserta dan durasi kegiatan yang singkat. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan berkelanjutan untuk mengoptimalkan hasil. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki potensi untuk dikembangkan dan direplikasi di masa mendatang. Gambar 1. Sesi Diskusi dan Penyampaian Materi Gambar 2. Sesi Foto Bersama KESIMPULAN Berdasarkan pelaksanaan kegiatan PkM yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa target kegiatan tercapai dengan baik, terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pelajar sebagai populasi sasaran yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 62,6 pada pre-test menjadi 74 pada post-test atau meningkat sebesar 11,4 poin. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kegiatan memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta mengenai Metode yang digunakan berupa penyuluhan dan diskusi interaktif secara tatap muka dinilai sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta, karena mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, serta keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran (Sagira et al. , 2. Pendekatan ini juga efektif dalam menciptakan suasana belajar yang komunikatif, interaktif, dan mudah dipahami oleh peserta. Selain itu, seluruh peserta yang hadir menunjukkan partisipasi aktif dalam setiap sesi @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Kosasih dkk. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Pelajar Melalui Program. kegiatan, baik dalam diskusi maupun praktik sederhana. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan manfaat nyata berupa peningkatan pengetahuan, tumbuhnya minat berwirausaha, serta meningkatnya kepercayaan diri pelajar dalam mengemukakan ide usaha. Dampak tersebut menjadi indikator awal terbentuknya kesiapan berwirausaha pada peserta. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi langkah awal yang strategis dalam menanamkan jiwa kewirausahaan di kalangan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan pendampingan selama pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak sekolah dan para pelajar yang telah berpartisipasi dan bekerja sama dengan baik sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lancar. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada tim pelaksana PkM yang telah berkontribusi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. DAFTAR PUSTAKA