Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Gangguan Kejiwaan Tokoh Utama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama: Kajian Psikologi Sigmund Freud Salsabilla Anggelina Putri UIN Syekh Wasil Kediri salsabillaanggelinaputri@gmail. Dikirim:17 Desember 2025 Direvisi:22 Desember 2025 Diterima: 26 Desember 2025 Diterbitkan: 28 Februari 2025 How to Cite: Putri. Salsabilla Anggelina AuGangguan Kejiwaan Tokoh Utama Perempuan dan Ilusinya Karya Adhyra Pratama: Kajian Psikologi Sigmund FreudAy Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 27Ae36. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This article will describe the psychological state of the main character in the play "Perempuan dan Ilusinya" by Adhyra Pratama, using the concepts of id, ego, and superego based on Sigmund Freud's psychoanalytic theory. This study employed a qualitative descriptive method with an analytical critical approach. The research data consisted of dialogue excerpts reflecting aspects of Aini's personality and mental state. The data analysis technique was conducted by reading the play script, taking notes, and identifying dialogue excerpts related to Aini's mental The research findings indicate that Aini's mental state is disturbed by loneliness and her desire to feel the warmth of a complete family, leading her to create an imaginary child (AK) through her illusion. Aini's dominant id drives her to create an imaginary child (AK) through her illusion. Aini's ego is so weak that it makes her unable to resist and control her id. The superego, which appears through the Shadow Antagonist (BA), serves as a reminder to Aini that her child is merely an illusion she created. Keywords: drama. Artikel ini akan mendeskripsikan kondisi psikologi tokoh utama dalam naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama dengan konsep id, ego, dan superego berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik analitis. Data penelitian berupa kutipan-kutipan dialog yang mencerminkan aspek kepribadian dan kondisi kejiwaan Aini. Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan cara membaca naskah drama, mencatat, dan mengidentifikasi kutipan-kutipan dialog yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan Aini. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kondisi kejiwaan Aini terganggu akibat dari rasa kesepian dan keinginannya untuk merasakan kehangatan hadirnya sebuah keluarga yang utuh, sehingga ia menciptakan anak khayalan (AK) melalui ilusinya. Id Aini yang begitu mendominasi mendorongannya untuk menciptakan seorang (AK) melalui ilusinya. Ego Aini yang begitu lemah, sehingga membuatnya tidak mampu untuk melawan dan mengendalikan id. Superego yang datang melalui Bayangan Antagonis (BA) menjadi pengingat bagi Aini bahwa anaknya itu hanya sebuah ilusi yang ia ciptakan. Kata kunci: drama. 28 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 27-36 PENDAHULUAN Karya sastra merupakan representasi dari kehidupan manusia yang disampaikan dengan menggunakan bahasa serta diciptakan oleh pengarang agar pembaca dapat memahami dan memanfaatkannya (Cansrini and Herma. Salah satu contoh karya sastra yaitu naskah drama. Naskah drama adalah karya sastra yang di dalamnya terdapat dialog atau percakapan antar tokoh dan saling berkaitan sebagai sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang terkandung dalam naskah drama tersebut (Verawat. Naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama merupakan salah satu karya sastra yang mengangkat tema tentang kondisi kejiwaan seorang perempuan dalam menghadapi realita kehidupannya. merasakan kesepian, kerinduan, trauma akan kehilangan, dan keinginan untuk merasakan hangatnya kehadiran sebuah keluarga kecil yang utuh di dalam hidupnya. Aini, sebagai tokoh utama dalam naskah drama ini digambarkan sebagai sosok perempuan yang mengalami rasa kehilangan begitu mendalam setelah ditinggal meninggal suaminya pasca seminggu pernikahan. Kerinduan dan keinginannya akan kehadiran sosok anak dan keluarga kecil yang utuh mendorongnya untuk menciptakan sosok Anak Khayalan (AK) berjenis kelamin laki-laki melalui ilusinya. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bagaimana rasa kesepian dan trauma akan kehilangan dalam jangka waktu yang panjang dapat mendorong seseorang mencari pelarian secara psikologis dengan tujuan untuk menghilangkan, menghindari, atau melupakan sejenak kenyataan hidup yang mereka alami, contohnya seperti yang dilakukan oleh Aini. Secara sosial, kondisi yang dialami oleh Aini sangat relevan dengan kehidupan di masa Banyak orang yang mengalami depresi, kesepian, trauma akan kehilangan, dan kurang mendapat dukungan secara emosional baik dari keluarga maupun orang yang berada di Kondisi tersebut akhirnya menuntut mereka untuk selalu tampak kuat di depan orang lain, padahal sebenarnya mereka sedang berjuang mati-matian untuk menahan dan menutupi beban psikologis atau tekanan mental yang sedang mereka alami. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dukungan emosional dari keluarga dan orang sekitar memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Hal inilah yang menjadikan objek penelitian menarik untuk dikaji, karena kondisi psikologis yang dialami oleh tokoh Aini mencerminkan fenomena yang banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat pada saat ini. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teori psikologi sastra, khususnya psikoanalisis Sigmund Freud. Naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama menceritakan tentang kondisi kejiwaan seorang perempuan bernama. Aini, sehingga relevan jika dikaji dengan menggunakan teori psikologi sastra. Psikologi merupakan bagian dari studi sastra yang di dalamnya mengkaji psikologis manusia . yang terdapat dalam karya sastra, baik dalam perspektif karya, pengarang, maupun pembaca (Ahmad. Menurut Sigmund Freud . alam Nurul Fitriani, 2021: . yang dikutip dalam (Alam and Ramadha. , psikologi adalah studi yang mempelajari tentang kehidupan mental manusia dan berfokus pada keterkaitan antara pikiran bawah sadar dengan perilaku. Menurut (Suryabrata, 1988:145-149, dan Suyanto dkk. 1990:62-. yang dikutip dalam (Ardiansyah et al. Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga bagian, yakni id, ego, dan superego. Id adalah aspek biologis atau dunia batin manusia yang sudah ada sejak mereka dilahirkan dan berfungsi sebagai penggerak antara ego dan superego. Id cenderung berhubungan dengan kesenangan dan bertindak impulsif tanpa mempertimbangkan realita. Ego merupakan aspek psikologis yang muncul karena adanya kebutuhan atau keinginan untuk memiliki hubungan dengan realita. Ego memiliki peran sebagai penengah antara id dan superego (Sitanggang et al. Superego adalah kepribadian yang membentuk moralitas dan standar tinggi yang diakui oleh masyarakat. Dalam (Utami et al. , 2. yang juga dikutip dalam (Sitanggang et al. ) superego berfungsi untuk Salsabilla Anggelina Putri: Gangguan Kejiwaan Tokoh UtamaA mengendalikan naluri, mengarahkan ego pada tujuan yang sesuai dengan moral, mendorong seseorang menuju kesempurnaan, serta berperan sebagai mediator antara id dan ego. Dengan demikian, teori psikologi Sigmund Freud relevan jika digunakan untuk mengidentifikasi kondisi kejiwaan Aini yang terbentuk karena ketidakmampuannya dalam menghadapi realita kehidupan melalui kutipan-kutipan dialog yang terdapat dalam naskah drama. Penelitian yang membahas kondisi psikologi tokoh dalam naskah drama juga sudah banyak dilakukan sebelumnya. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh (Naura and Dev. berjudul AuUnsur Psikologis Tokoh Aini dalam Naskah Drama Perempuan dan Ilusinya Karya Adhyra PratamaAy, penelitian ini menghasilkan temuan id, ego, dan superego yang terdapat pada tokoh Aini dalam naskah drama tersebut. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh (Sadiyah and Dev. berjudul AuAnalisis Psikologi Tokoh Guru dalam Naskah Drama AoZetanAo Karya Putu Wijaya: Kajian Psikoanalisis Sigmund FreudAy, penelitian ini menyatakan bahwa kepribadian pak Guru dalam naskah drama AuZetanAy didominasi dengan unsur ego daripada unsur id dan Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh (Safitri et al. ) berjudul AuAnalisis Kejiwaan Tokoh Nuning dalam Naskah Drama Nuning Bacok Karya Andy Sri Wahyudi (Kajian Psikologi Sastr. Ay, penelitian ini mengkaji tentang struktur kepribadian tokoh Nuning . d, ego dan supereg. dan mekanisme pertahanan . epresi, sublimasi, rasionalisasi, reaksi formasi, agresi dan apati. serta konflik yang terdapat pada tokoh Nuning. Secara keseluruhan persamaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji tentang kondisi psikologi tokoh utama dalam naskah drama dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang berfokus pada struktur kepribadian id, ego, dan superego. Sementara itu, perbedaan atau yang menjadi celah antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, khususnya pada penelitian yang dilakukan oleh (Naura and Dev. terhadap tokoh Aini adalah pada penelitian ini tidak hanya mengklasifikasikan kutipan-kutipan berdasarkan id, ego, dan superego saja, tetapi juga mendeskripsikan kondisi kejiwaan tokoh Aini yang menjadi penyebab ia menciptakan Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini akan mengkaji tentang . bagaimana teori psikologi sastra menurut perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, dan . bagaimana kondisi psikologi utama dalam naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama dapat dianalisis dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Dengan demikian, tujuan dilakukannya penelitian ini adalah . untuk mendeskripsikan teori psikologi sastra menurut perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, dan . untuk menganalisis kondisi psikologi tokoh utama dalam naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama dengan konsep id, ego, dan superego berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Selain itu, melalui penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat kepada masyarakat, yaitu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak yang timbul akibat dari rasa kesepian dan tekanan mental seseorang yang kemudian dapat berkembang menjadi gangguan psikologis. Sehingga diharapkan masyarakat mampu memahami bahwa perasaan emosional yang tidak tersalurkan dengan baik serta kurangnya mendapatkan dukungan dari keluarga dan orang sekitar dapat menjadi pemicu gangguan tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik analitis. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kondisi kejiwaan tokoh Aini yang kemudian dikaitkan dengan konsep id, ego, dan superego berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud serta mendeskripsikan kondisi kejiwaan tokoh Aini. Sumber 30 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 27-36 data penelitan diperoleh dari naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama. Data-data tersebut berupa kutipan-kutipan dialog yang mencerminkan aspek kepribadian dan kondisi kejiwaan Aini. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi. Studi dokumentasi adalah teknik mengumpulkan data dengan cara mencari bukti atau informasi yang relevan dengan fokus penelitian, dapat berupa dokumen kebijakan, biografi, buku harian, surat kabar, majalah, maupun makalah (Waruw. Pada penelitian ini studi dokumentasi tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan teori psikologi sastra, khususnya teori psikoanalisis Sigmund Freud dan memiliki topik yang sama dengan penelitian Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan cara membaca naskah drama, mencatat, dan mengidentifikasi kutipan-kutipan dialog yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan Aini. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengkaji tentang kondisi psikologis atau kejiwaan tokoh Aini dalam naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy karya Adhyra Pratama dengan menggunakan teori psikologi sastra menurut Sigmund Freud yang terdiri dari id, ego, dan superego. Berikut ini adalah kutipan-kutipan dialog dalam naskah drama yang mencerminkan kondisi kejiwaan tokoh Aini. Id merupakan sebuah perwujudan biologis yang harus dipenuhi tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya (Sadiyah and Dev. Dalam teori psikoanalisis Freud, ia menyatakan bahwa id berada di alam bawah sadar dan bekerja berdasarkan prinsip kesenangan (Mindero. Id hanya dapat menciptakan bayangan atau gambaran keinginan, tetapi tidak mampu membedakan antara khayalan dengan realita (Alwiso. Id dapat muncul karena mendapatkan dorongan utama yang berasal dari hasrat, keinginan, dan kebutuhan (Alam and Ramadha. Hal ini tampak dari tokoh Aini yang memiliki keinginan begitu besar untuk memiliki seorang anak dan merasakan hangatnya sebuah keluarga yang utuh. Dorongan ini yang membuatnya untuk menciptakan Anak Khayalan (AK) melalui ilusinya. Berikut ini adalah kutipan yang menunjukkan hal tersebut: Aini (A): Darimana saja, nak! Ibu tidak bisa makan kalau kau belum datang! Kutipan di atas menunjukkan bahwa begitu besar dan kuatnya keinginan Aini untuk mempunyai seorang anak. Terbukti dari kutipan tersebut yang menunjukkan bahwa Aini tidak bisa makan jika Anak Khayalan (AK) nya itu belum datang. Id Aini bekerja untuk memberikan kesenangan dan mendapatkan kepuasan hasrat melalui ilusinya dengan menciptakan Anak Khayalan (AK) dan menjadi seorang ibu. Hal ini sesuai dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa id berada di alam bawah sadar dan bekerja berdasarkan prinsip kesenangan. Keinginannya untuk memiliki seorang anak merupakan bentuk pelarian psikologisnya akibat dari rasa kesepian dan kesendirian yang dialami, sehingga ia menciptakan khayalan untuk mengatasi kesepian dan kesendirian kehidupannya. A: Kau terlalu cepat meninggalkan ibu nak! Kutipan di atas menunjukkan bahwa Aini merasakan kesedihan dan kehilangan yang begitu mendalam, seolah-olah ia benar-benar begitu cepat ditinggalkan oleh anaknya. Padahal secara nyata ia tidak pernah mempunyai anak dalam realita kehidupannya. Hal tersebut terlihat dari bagaimana cara ia mengekspresikan kesedihannya itu, seolah memiliki ikatan batin atau emosional yang kuat dengan Anak Khayalan (AK) nya, seperti seorang ibu yang kehilangan Salsabilla Anggelina Putri: Gangguan Kejiwaan Tokoh UtamaA anaknya di dalam dunia nyata. Perasaannya itu merupakan bentuk dorongan dari id yang berasal dari hasrat dan keinginan secara emosional. Hal ini sesuai dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan. Dengan demikian, anak yang diciptakan melalui khayalannya itu merupakan bentuk pelarian psikologisnya agar dapat memenuhi hasrat dan keinginan emosionalnya untuk menjadi seorang ibu yang tidak dapat ia rasakan dalam dunia nyata. A: Aku percaya mukjizat itu nyata, kau akan menjadi nyata juga nantinya. Sama seperti mukjizat. Kutipan di atas menunjukkan bahwa Aini begitu yakin suatu saat nanti Anak Khayalan (AK) nya tidak hanya sekadar hidup di dalam ilusinya saja, tetapi juga dapat terwujudkan ke dalam dunia nyata. Pernyataan tersebut merupakan dorongan id yang berasal dari hasrat terdalamnya untuk benar-benar memiliki seorang anak di dalam dunia nyata. Hasratnya yang begitu kuat membuat ia sulit menerima kenyataan yang ada, sehingga mendorongnya untuk meyakini bahwa Anak Khayalan (AK) nya akan menjadi nyata. Padahal sudah jelas khayalannya itu tidak akan pernah bisa terwujud. Keyakinannya itu merupakan perwujudan untuk mempertahankan khayalannya agar tetap terasa masuk akal baginya dan dapat mengisi hariharinya yang kosong karena rasa kesepian dan kehilangan. Hal ini sejalan dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa id berada di alam bawah sadar dan bekerja berdasarkan prinsip kesenangan tanpa memperdulikan realitas, seperti halnya yang dilakukan oleh Aini untuk mendapatkan kebahagiaannya. A: Anakku satu-satunya. Bayu Kencana! Masih ada yang dipertanyakan? Kutipan di atas menunjukkan bahwa Aini sangat yakin dengan keberadaan Anak Khayalan (AK) nya itu. Ia tetap teguh pada pendiriannya yang menganggap anak itu sebagai anak kandungnya, sehingga ia tidak mampu membedakan antara ilusi dengan kenyataan. Hal ini sejalan dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa id berada di alam bawah sadar dan bekerja berdasarkan prinsip kesenangan tanpa memperdulikan realitas. Id Aini bekerja sebagai pemuas hasrat keinginannya untuk menjadi ibu, sehingga ia mempercayai dan mempertahankan keberadaan anak itu seolah-olah hidup dalam dunia nyata. Ego Ego sepenuhnya dipengaruhi oleh alam bawah sadar manusia dan berfungsi untuk mengenali realitas moral, mempertimbangkan untung-rugi, baik-buruk dengan diwujudkan melalui penalaran, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan (NafiAoah et al. Ego mengatur batas-batas dan menyeimbangkan keinginan individu dengan mempertimbangkan risiko dari tindakan yang diambil (Savitr. Ego merupakan penengah antara id dan superego. Ego bekerja berdasarkan pada prinsip realitas (Rachmawati and Indriyan. Pada dasarnya ego bekerja untuk memenuhi id, karena ego tidak memiliki energi sendiri maka ia mendapatkan energi dari id agar dapat berfungsi (Alwiso. Ego yang tercermin melalui tokoh Aini tampak begitu lemah dan tidak mampu dalam mengendalikan id. Berikut ini adalah kutipan yang menunjukkan hal tersebut: Aini (A): Kau mungkin memang tak nyata, anakku. Tapi apakah salah bila aku terus hidup bahagia bersama denganmu, anakku? Kutipan di atas menunjukkan bahwa sebenarnya ia sadar anaknya itu hanyalah sebuah khayalan yang ada dalam ilusinya, tetapi ia tidak mau menerima kenyataan dan tidak mampu mengontrol id yang begitu kuat, sehingga ia lebih memilih hidup bersama dengan ilusinya 32 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 27-36 Hal ini sesuai dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa ego akan menjadi lemah jika dorongan dari id begitu mendominasi, sehingga dapat membuat seseorang mencari pelarian, misalnya melalui halusinasi atau ilusi seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Aini. A: apakah aku salah karena hanya memiliki anak dari khayalanku sendiri! Kutipan di atas menunjukkan bahwa Aini menyadari keberadaan sosok yang ia anggap sebagai anak. Ia sadar bahwa anaknya itu hanyalah sekadar khayalannya sendiri. Tetapi kesadarannya itu belum terlalu stabil, karena terkadang ia masih saja menyangkal bahwa anaknya itu hanya sebatas khayalan dan ia merasa masih memiliki ikatan emosional dengan anak itu. Hal ini dapat terlihat dari ungkapan yang bertanya apakah ia salah jika memiliki anak dari khayalannya sendiri. Di sini ego Aini terlihat ketika ia menyadari keberadaan sosok yang ia anggap sebagai anak hanya sebatas khayalan. Namun, egonya terlalu lemah untuk melawan id dan superegonya. Id Aini berusaha untuk mempertahankan ilusinya, sedangkan superegonya berusaha menimbulkan perasaan bersalah dalam dirinya, sehingga ego Aini berada dalam posisi yang lemah dan tidak stabil. Hal tersebut sesuai dengan pandangan Freud yang mengatakan bahwa ego bekerja berdasarkan prinsip realitas dan menjadi penengah antara id dan superego. A: tidak! Itu tidak benar . emegang kepal. Kutipan di atas diucapkan oleh Aini sebagai bentuk penyangkalan setelah Anak Khayalan (AK) nya mengatakan bahwa Aini didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker otak, sehingga mengakibatkan semua ilusinya akan menghilang apabila penyakitnya semakin parah, termasuk ilusinya terhadap anaknya itu. Hal ini menunjukkan ego Aini bekerja melalui penyangkalannya itu. Ia menolak kenyataan yang ada, karena dengan kehilangan semua ilusinya maka ia juga akan kehilangan sosok anak yang selama ini menjadi sumber kebahagiaan untuk Penyangkalan ini merupakan bentuk usahanya untuk meredam kecemasan akibat konflik batin yang ia alami dengan realitas yang menyakitkan. Namun, di sisi lain id Aini masih sangat mendominasi, yang berusaha untuk mempertahankan kepuasan emosionalnya melalui ilusi yang ia ciptakan, sedangkan superego muncul sebagai tekanan atas rasa takut kehilangan, yang semakin memperparah keadaan. Oleh karena itu, ego Aini masih belum bekerja secara optimal dan terlalu lemah untuk melawan besarnya dorongan dari id dan superego. Hal ini sejalan dengan Freud yang mengatakan bahwa ego menjadi penengah antara id dan superego. Superego Superego merupakan kepribadian seseorang yang didasarkan pada prinsip-prinsip moralitas dan nilai-nilai sosial (Sitanggang et al. Menurut (Ishom Fuadi Fikri et al. , 2. yang dikutip dalam (Sitanggang et al. ), id dan superego dapat saling bertentangan apabila tidak dikendalikan oleh ego. Superego bersifat tidak rasional dalam menuntut kesempurnaan dan menghukum ego secara keras apabila melakukan kesalahan, baik yang telah dilakukan ataupun yang masih sebatas dalam pikiran (Alwiso. Superego berfungsi untuk mengontrol perilaku seseorang dengan menegaskan mana yang dianggap benar dan salah, mengendalikan berbagai dorongan yang berasal dari id, serta menilai apakah keputusan yang diambil oleh ego sudah selaras dengan norma moral yang berlaku (Savitr. Dalam naskah drama ini superego diwujudkan melalui tokoh Bayangan Antagonis (BA) yang selalu menghina Anak Khayalan (AK) yang diciptakan oleh Aini dan sebagai pengingat bagi Aini bahwa anaknya itu hanya sebuah ilusi. Berikut ini adalah kutipan yang menunjukkan hal tersebut: Bayangan Antagonis (BA): Anakmu? Anakmu yang mana, bu? Salsabilla Anggelina Putri: Gangguan Kejiwaan Tokoh UtamaA Kutipan tersebut menunjukkan bahwa melalui hinaan yang dilayangkan Bayangan Antagonis (BA) kepada Aini ini adalah sebuah bentuk peringatan tentang halusinasinya. Bayangan Antagonis (BA) sengaja menghina Aini seperti itu agar Aini sadar bahwa perbuatan yang dilakukan itu salah dan tidak sesuai dengan realita kehidupan. Bayangan Antagonis (BA) berusaha mengembalikan Aini pada kenyataan dengan cara yang keras, yaitu melalui hinaannya Hal ini sesuai dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa superego berfungsi untuk mengendalikan naluri, mengarahkan ego pada tujuan yang sesuai dengan moral, mendorong seseorang menuju kesempurnaan. BA: . eledak tawanya, bahkan terus tertawa hingga keluar air matany. kau yang buta! Ini foto kau sendirian! Sendirian! Lihat baik-baik! Kutipan di atas menunjukkan bahwa Bayangan Antagonis (BA) secara sengaja menghina Aini dengan menyebutkan Aini buta. Ucapan itu sengaja ia lontarkan dengan tujuan untuk menyadarkan Aini dari ilusinya bahwa yang ada di dalam foto tersebut hanya Aini seorang diri tanpa adanya seorang anak seperti yang Aini yakini selama ini. Tindakan yang dilakukan oleh Bayangan Antagonis (BA) ini merupakan bentuk perwujudan dari superego, yakni struktur kepribadian yang bertugas untuk mengawasi, mengontrol, dan menghukum apabila terdapat penyimpangan moral. Melalui hinaan yang bersifat menghukum dan merendahkan. Aini dipaksa keras oleh Bayangan Antagonis (BA) agar segera sadar untuk menghadapi kenyataan dan keluar dari ilusi yang ia ciptakan sendiri. Hal ini sejalan dengan pandangan Freud tentang superego yang menyatakan bahwa superego menghukum ego secara keras apabila melakukan kesalahan, baik yang telah dilakukan ataupun yang masih sebatas dalam pikiran. BA: Kau mengkhayal, perempuan bodoh! Kutipan di atas menunjukkan bahwa setiap kedatangan Bayangan Antagonis (BA) ini merupakan perwujudan dari tekanan psikologis bagi Aini melalui berbagai hinaan yang dilontarkan oleh Bayangan Antagonis (BA) kepada dirinya. Kalimat Aukau menghayalAy merupakan bentuk pertentangan secara langsung terhadap kondisi psikologis Aini, sedangkan kalimat Auperempuan bodohAy merupakan sebuah bentuk penghinaan dengan tujuan untuk merendahkan harga diri Aini. Selain itu, kehadiran Bayangan Antagonis (BA) juga bertujuan untuk menggoyahkan keyakinan Aini terhadap semua ilusi yang selama ini ia ciptakan untuk memenuhi kepuasan emosionalnya. Hinaan yang dilontarkan oleh Bayangan Antagonis (BA) kepada dirinya ini merupakan perwujudan dari superego. Superego Aini di sini terlihat dari tekanan verbal yang ia dapatkan melalui Bayangan Antagonis (BA) yang menuntut dan memaksanya untuk menghadapi kenyataan dan keluar dari ilusi yang ia ciptakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Freud yang menyatakan bahwa superego menuntut kesempurnaan dan menghukum ego secara keras apabila terdapat penyimpangan moral. BA: Oh, hanya itu! Baiklah, baiklah! Tapi aku bermaksud baik, jangan sampai kau terus hidup didalam ilusimu saja. Baiklah, dalam hitungan detik aku akan pergi dari Kutipan di atas menunjukkan bahwa Bayangan Antagonis (BA) tidak hanya datang menemui Aini satu atau dua kali, tetapi berulang kali. Kedatangannya itu masih dengan tujuan yang sama, yaitu untuk memberi peringatan kepada Aini bahwa ia terlalu larut hidup dalam ilusinya sendiri. Ungkapan yang dilayangkan Bayangan Antagonis (BA) itu tidak hanya sebagai bentuk penghakiman bagi Aini, tetapi juga bentuk teguran moral yang sangat keras untuk Aini dengan tujuan dapat mengguncang kesadarannya. Dalam pandangan psikoanalisis Freud, kehadiran Bayangan Antagonis (BA) dalam hidup Aini tidak hanya sekadar sebagai simbol dari 34 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 27-36 suara batin yang menghakimi, tetapi melalui tindakan yang dilakukan oleh Bayangan Antagonis (BA) ini juga merupakan perwujudan dari superego, karena ia datang kepada Aini dengan tujuan memberikan kecaman yang sangat keras agar Aini tersadar dari ilusinya. BA: Memiliki ibu seorang pengkhayal, menurutku tidak lebih baik dari pada tidak memiliki ibu sama sekali. Kutipan di atas menunjukkan bahwa kalimat yang diucapkan oleh Bayangan Antagonis (BA) kepada Aini itu jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan sebatas hinaan AubutaAy, dan AubodohAy. Kalimat tersebut sudah sampai berada di titik merendahkan harga diri Aini sebagai seorang ibu, walaupun ia menjadi ibu juga hanya sebatas dalam khayalannya sendiri. Melalui kalimat ini. Bayangan Antagonis (BA) berusaha untuk menghancurkan semua ilusinya yang merasa memiliki peran menjadi seorang ibu seperti di dalam dunia nyata. Ungkapan ini semakin memperparah konflik batin yang ia alami, karena di sisi lain id yang ada dalam dirinya terus berusaha untuk mempertahankan ilusinya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan yang ia miliki, sementara di sisi lain superego secara kejam berusaha menghancurkan ilusinya bahkan menyerang terkait identitas keibuannya. Tekanan dari superego ini akhirnya memaksa Aini untuk menghadapi kenyataan hidupnya yang pahit dan membuatnya merasa malu serta tidak berharga melalui hinaan Bayangan Antagonis (BA). Dalam pandangan psikoanalisis Freud, hal ini merupakan bentuk perwujudan superego yang memberikan hukuman melalui perasaan tidak Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka temuan penelitian ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya, khususnya penelitian yang telah dilakukan oleh (Naura and Dev. , yang juga mengkaji id, ego, dan superego pada tokoh Aini dalam naskah drama AuPerempuan dan IlusinyaAy. Apabila pada penelitian terdahulu hanya berfokus pada pengelompokan struktur kepribadian, maka pada penelitian ini memberikan kontribusi baru, yaitu dengan mendeskripsikan atau mengungkap kondisi kejiwaan yang mendorong munculnya ilusi Aini sebagai bentuk mekanisme pelarian psikologis, akibat dari kesepian, kerinduan, kesedihan, dan trauma kehilangan yang begitu mendalam. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa ilusi yang diciptakan oleh Aini tidak hanya sebagai wujud dominasi id atau pemenuhan hasrat alam bawah sadar, tetapi juga sebagai respon psikologis terhadap perasaan trauma kehilangan dan ketidakmampuannya dalam menghadapi realita kehidupan yang menyakitkan. PENUTUP Teori psikologi sastra menurut perspektif psikoanalisis Sigmund Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga bagian, yakni id, ego, dan superego. Menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud, id berada di alam bawah sadar manusia dan cenderung bekerja berdasarkan prinsip kesenangan tanpa mempertimbangkan realita. Ego merupakan penengah antara id dan superego dan bekerja berdasarkan pada prinsip realitas. Superego berfungsi untuk mengontrol perilaku seseorang dengan menegaskan mana yang dianggap benar dan salah serta menghukum ego secara keras apabila terjadi penyimpangan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa kondisi kejiwaan Aini terganggu akibat dari rasa kesepian dan keinginannya untuk merasakan kehangatan hadirnya sebuah keluarga yang utuh. Id Aini yang begitu mendominasi mendorongannya untuk menciptakan seorang Anak Khayalan (AK) melalui ilusinya sebagai bentuk pelarian psikologisnya yang menginginkan memiliki seorang anak dan menjadi seorang ibu. Ego Aini yang begitu lemah membuatnya tidak mampu untuk melawan dan mengendalikan id serta Salsabilla Anggelina Putri: Gangguan Kejiwaan Tokoh UtamaA menghadapi realita kehidupannya. Supergo yang datang melalui Bayangan Antagonis (BA) menjadi pengingat dan teguran keras bagi Aini bahwa anaknya itu hanya sebuah ilusi yang ia ciptakan sendiri. Selain itu, tekanan yang begitu kuat dari superego juga semakin memperparah konflik batin yang dialami Aini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, kondisi kejiwaan yang dialami oleh Aini muncul karena adanya ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego, sehingga mendorongnya untuk menciptakan semua ilusi tersebut sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi kesedihan, kesepian, trauma kehilangan, dan keinginan merasakan menjadi seorang ibu. DAFTAR PUSTAKA