2289 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Mei 2024 POLA MAKAN SEIMBANG. PERTUMBUHAN OPTIMAL: GIZI DAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN SEBAGAI LANGKAH AWAL PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA Oleh Juminten Saimin1. Nina Indriyani Nasruddin2. Arimaswati3. Saidah4. Tien5 1Prodi Profesi Dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Halu Oleo. Kota Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara. Indonesia 2,3,5Prodi Pendidikan Dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Halu Oleo. Kota Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara. Indonesia 3Prodi Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Halu Oleo. Kota Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara. Indonesia E-mail: 2ninaindriyanin@gmail. Article History: Received: 09-04-2024 Revised: 20-04-2024 Accepted: 14-05-2024 Keywords: Pola Makan Seimbang. Pemberian Makanan Tambahan. Stunting. Balita. Abstract: Kegiatan mengimplementasikan program pengabdian kepada masyarakat yang fokus pada edukasi stunting dan gizi seimbang serta pemberian makanan tambahan bagi anak balita melalui metode dari rumah ke rumah . oor-todoo. Metode pelaksanaan melibatkan kegiatan edukasi menggunakan media leaflet, pemberian makanan tambahan langsung kepada balita, serta evaluasi pengetahuan dan sikap para orang tua balita melalui pretest dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan . ari 6,7 menjadi 9,. dan sikap . ari 7,2 menjadi 9,. orang tua balita setelah mengikuti Program ini juga memberikan contoh konkret dalam pemberian makanan tambahan. Rekomendasi yang diambil adalah kelanjutan program serupa dalam skala lebih luas dengan dukungan pemerintah, lembaga kesehatan, dan kolaborasi ahli gizi. PENDAHULUAN Berisi Stunting menjadi hambatan signifikan dalam meningkatkan kualitas modal manusia di berbagai negara. Stunting mencakup gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang teramati pada anak-anak dalam usia dini, yang muncul akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan, episode infeksi berulang, dan kekurangan stimulasi psikososial. Berdasarkan data yang disediakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat catatan lebih dari 162 juta kasus stunting pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Proyeksi menunjukkan bahwa angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 127 juta anak pada tahun 2025. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia. 1 Dalam konteks Indonesia, terdapat penurunan prevalensi stunting, dengan penurunan dari 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% pada tahun 2022. Data yang tersedia juga mengungkapkan bahwa Provinsi Sulawesi http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Mei 2024 Tenggara memiliki tingkat prevalensi yang cukup tinggi, yakni mencapai 22,7% pada tahun Dampak negatif dari stunting sangat signifikan dan memerlukan perhatian segera untuk penanganannya. Selain memengaruhi perkembangan fisik, stunting juga memiliki dampak yang mencolok terhadap kesejahteraan mental dan emosional, serta kecerdasan Stunting memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi produktivitas di pasar kerja, sehingga dapat mengakibatkan penurunan sebesar 11 persen dalam Produk Domestik Bruto (GDP). Selain itu, telah terlihat bahwa stunting memiliki potensi untuk menyebabkan penurunan hingga 20 persen dalam pendapatan individu saat dewasa. Ini dapat mengontribusikan pada memperburuk ketimpangan ekonomi dan mengakibatkan pengurangan sekitar 10 persen dalam pendapatan seumur hidup individu yang terkena dampaknya. Selain itu, stunting telah ditemukan terkait dengan kesinambungan kemiskinan melalui generasi. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi prevalensi stunting pada anakanak. Faktor-faktor yang berkontribusi pada kejadian stunting antara lain pola pemberian ASI, kebiasaan makan, pemahaman orang tua tentang gizi, status kesehatan ibu dan anak, tingkat partisipasi dalam program posyandu, faktor lingkungan, dan praktik pemberian ASI Menurut Saputri . ,4 hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyoroti pengaruh berbagai faktor, termasuk riwayat kehamilan ibu, status gizi anak, praktik menyusui, pengetahuan ibu, dan pemberian ASI eksklusif, terhadap prevalensi Orang tua yang memiliki pemahaman komprehensif tentang gizi dan mengakui signifikansinya cenderung lebih memprioritaskan dan memantau asupan makanan serta penyediaan nutrisi untuk anak-anak mereka. Kepatuhan yang tidak memadai terhadap pola makan yang benar merupakan faktor kontribusi signifikan terhadap terjadinya stunting. Terjadinya gagal pertumbuhan biasanya diamati dalam seribu hari pertama kehidupan seorang anak. Tantangan gizi yang dihadapi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketersediaan makanan bernutrisi yang mendukung ketahanan pangan, praktik pemberian makan dalam konteks sosial tertentu, aksesibilitas layanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan, serta kondisi lingkungan yang melibatkan penyediaan air bersih dan sanitasi yang memadai. Intervensi gizi mencakup berbagai komponen, seperti memastikan konsumsi makanan yang cukup, menerapkan praktik pemberian makan yang sesuai, memberikan perawatan dan pengasuhan yang memadai, serta mengatasi pengobatan infeksi dan Inisiatif pemerintah untuk mengatasi stunting pada anak usia dini berfokus pada pemberian sumber protein hewani, seperti telur, ikan, unggas, daging, dan susu, kepada anak-anak usia 6 hingga 24 bulan. Menurut Saputri . ,4 Berdasarkan temuan penelitian, dapat dilihat bahwa pemahaman dan persepsi ibu tentang suplemen makanan masih kurang Tantangan gizi yang ada dihadapi oleh sebagian besar ibu di Indonesia mencakup asupan gizi yang kurang memadai, anemia, kekurangan nutrisi penting, dan defisiensi zat gizi mikro seperti vitamin A, seng, yodium, kalsium, vitamin D, dan asam folat. Para peneliti dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Abdillah dan Astria Paramashanti pada tahun Masalah ini secara signifikan berkontribusi pada faktor-faktor yang memengaruhi prevalensi kasus stunting. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Mei 2024 Implementasi nutrisi untuk mengatasi stunting dapat difasilitasi melalui penggunaan teknik brainstorming atau menggunakan alat bantu leaflet. Peningkatan pengetahuan dan sikap orang tua terhadap pemenuhan nutrisi anak melalui intervensi gizi dapat menjadi pendekatan yang layak untuk mempromosikan perilaku kesehatan dan mengurangi stunting. Menurut Naulia et al. ,9 Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang mengindikasikan bahwa intervensi yang ditujukan kepada ibu dengan anak yang mengalami stunting dapat berdampak pada sikap dan perilaku ibu dalam merawat anak. Kepedulian terhadap masyarakat lokal adalah aspek penting dari misi perguruan tinggi, yang memiliki potensi besar dalam membantu orang tua muda mengatasi masalah terkait stunting. Dengan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan ini, pendidik dan mahasiswa memiliki kesempatan untuk menunjukkan minat yang tulus terhadap tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dan untuk memberdayakan mereka secara efektif dalam meningkatkan kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan. Dalam kerangka ini, tujuan utama dari pengabdian kepada masyarakat adalah untuk memberikan pengetahuan yang komprehensif tentang stunting kepada orang tua pada tahap awal kehidupan berkeluarga. Sejalan dengan itu, itu juga melibatkan penyediaan contoh konkret suplemen yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar gizi yang seimbang untuk individu muda. Fokus pada orang tua muda dalam kerangka ini diharapkan dapat membentuk pemahaman yang lebih menyeluruh tentang stunting dan pentingnya asupan gizi yang seimbang bagi anak-anak selama fase perkembangan mereka. Strategi ini diharapkan akan menghasilkan perubahan positif dalam perilaku orang tua terkait penyediaan asupan makanan yang memadai untuk anak-anak mereka. Akibatnya, hal ini memiliki potensi untuk memberikan kontribusi yang lebih komprehensif pada upaya yang lebih luas dalam mencegah stunting. METODE Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 20 Agustus 2023, bertempat di Kelurahan Sambuli. Kecamatan Nambo. Kota Kendari. Kegiatan ini berbentuk edukasi yang ditujukan kepada orang tua balita, khususnya mengenai prinsip gizi seimbang pada balita, serta melibatkan pemberian makanan tambahan kepada balita secara langsung dengan metode door to door di rumah-rumah masyarakat. Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan kepala kelurahan Sambuli untuk izin pelaksanaan kegiatan, berkoordinasi dengan pihak puskesmas untuk mendapatkan data balita di wilayah tersebut, menyusun pre dan post test sebagai alat evaluasi pengetahuan dan sikap orang tua balita, menyusun materi edukasi dan leaflet, serta membeli bahan makanan tambahan untuk balita. Pada tahap pelaksanaan, tim akan mengunjungi rumah-rumah masyarakat yang memiliki balita berdasarkan data yang ada. Tahap awal kegiatan melibatkan evaluasi pre-test dengan menggunakan formulir pre-test, yang bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan orang tua balita mengenai stunting serta prinsip gizi yang sesuai bagi anak dalam mencegah terjadinya stunting. Apabila ada orang tua balita yang mengalami kesulitan membaca, bantuan akan diberikan oleh mahasiswa dan dosen sebagai fasilitator. Kegiatan kedua melibatkan penyampaian materi dengan menggunakan media leaflet yang berjudul "Pedoman Gizi Seimbang: Langkah Penting dalam Mencegah Stunting pada http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Mei 2024 Anak Balita". Melalui leaflet ini, informasi penting dan praktis disajikan kepada orang tua balita untuk memahami secara lebih mendalam tentang pentingnya gizi yang seimbang dalam mencegah kasus stunting, dampak gangguan gizi, dan tips menambah nafsu makan untuk balita. Dengan cara ini, diharapkan peserta dapat memperoleh panduan konkret untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara efektif. Kegiatan ketiga adalah kegiatan diskusi yang melibatkan orang tua balita, di mana mereka memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait materi yang telah disampaikan sebelumnya. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk memastikan pemahaman yang lebih mendalam serta mengklarifikasi konsep yang mungkin belum jelas bagi orangtua balita. Kegiatan terakhir melibatkan evaluasi kembali dengan memberikan lembar post-test. Tujuan dari post-test ini adalah untuk menilai sejauh mana terjadi peningkatan pengetahuan setelah penyampaian edukasi mengenai stunting dan prinsip gizi yang sesuai untuk mencegah stunting pada anak balita. Dalam situasi di mana orang tua balita mengalami kesulitan dalam membaca, dosen dan mahasiswa akan hadir sebagai fasilitator untuk memberikan bantuan yang diperlukan. Dengan pendekatan ini, diharapkan akan tercapai pemahaman yang lebih baik dan pemenuhan nutrisi yang lebih tepat bagi anak-anak dalam upaya mencegah stunting. Gambar 1. Pemberian Materi Edukasi dan Makanan Tambahan HASIL Kegiatan ini diimplementasikan dengan pendekatan langsung ke rumah-rumah penduduk yang memiliki anak balita berusia 1-5 tahun. Partisipan dalam kegiatan ini terdiri dari 30 orang tua balita. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan empat tahapan, termasuk pretest mengenai pengetahuan orang tua balita tentang stunting dan prinsip gizi seimbang sebagai langkah pencegahan stunting pada anak balita. Selanjutnya, dilakukan pemberian materi edukasi mengenai "Pedoman Gizi Seimbang: Langkah Penting dalam Mencegah Stunting pada Anak Balita". Tahap diskusi dilaksanakan untuk membahas materi yang kurang dipahami oleh orangtua balita. Terakhir, dilakukan post-test untuk mengukur pemahaman orang tua balita tentang stunting dan prinsip gizi yang tepat untuk anak sebagai upaya mencegah stunting. Dilakukan analisis menggunakan skala penilaian 0-10 untuk mengevaluasi hasil pretest dan post-test berdasarkan sejumlah pertanyaan yang telah disesuaikan dengan materi edukasi yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Mei 2024 sikap para orang tua balita sebesar 100%. Data dari hasil pre-test dan post-test pada kegiatan ini menggambarkan adanya kenaikan tingkat pengetahuan dari nilai rata-rata pre-test sebesar 6,7 menjadi 9,3 pada post-test. Sementara itu, aspek sikap juga mengalami peningkatan dari nilai rata-rata pre-test 7,2 menjadi 9,2 pada post-test. Dengan demikian, hasil dari kedua penilaian ini mengindikasikan peningkatan yang signifikan baik dalam pengetahuan maupun sikap para orang tua balita setelah mengikuti edukasi ini. post test sikap pre test sikap post test pre test Rata-rata Nilai Grafik. 1 Rata-Rata Nilai Pre Test dan Post Test DISKUSI